Sebuah Dokumentasi

17 08 2006

“NASKAH KILAS BALIK 50 TAHUN PERNIKAHAN ORANGTUAKU”


Bedhol Kayon
( Dibuka tembangan Dandhang Gulo )
( Suara narasi : MC masuk suara setelah kurang lebih 3 baris Dhandang Gulo )
Ketika perbedaan disanggupi untuk diterima
dan segala kesulitan disepakati untuk dihadapi bersama
maka rencana untuk berjalan beriringan diwujudkan
kebahagiaan menjadi tujuan
keluarga Kartosuwarno almarhum serta keluarga Sidhi Sastromihardjo almarhum pun menjadi kerabat
( penceritaan dengan wayang tentang pertemuan Bapak Ibu, diisi ‘dialog wayang’ oleh dalang
( penceritaan dengan wayang tentang pembicaraan antara 3 bersahabat mengenai pernikahan)
latar belakang gendher dan slenthem
Dua manusia itu,
Bambang Ramelan dan Soediati, tidak hanya sendiri
Kerabat tidak harus hanya bertalian darah, tetapi juga didapat dari kentalnya persahabatan
Sungguh kebesaran Allah yang diterima
Ketika sahabat mereka, Suryani dan Ismunardi, pun memiliki rencana yang sama
Dalam waktu berdekatan mereka masing-masing menikah

Pasangan Bambang Ramelan dan Soediati, sejak 31 Juli 1954, membentuk rumahtangga…
( diberikan ilustrasi musik/wayang/tembang lirih)

Dalam kehidupan pasangan Bambang Ramelan dan Soediati,
tidak pernah jauh dari perjuangan dan persahabatan

Selingan pencair suasana dengan dialog punakawan oleh dalang
(narasi MC digantikan dengan penceritaan oleh seorang putra)

Mengawali kehidupan keluarga di tahun-tahun pertama
adalah sebuah cerita yang sarat dengan kepedihan
Ekonomi minim, kerapnya berpisah jarak karena tugas, dan berbagai cobaan
Mereka menyikapinya dengan perjuangan tak kenal putus asa
Hati dan mulut mereka selalu melantunkan doa
demi kehidupan anak-anak titipan Allah
Di setiap kesempatan saat tampak anak-anaknya merasakan kesedihan,
tak pernah lupa dibisikkan segala nasehat tentang kehidupan,
ketiadaan kesedihan yang abadi, keberanian, kejujuran,
juga kesuksesan yang mungkin membuat hati lumpuh
karena lahirnya kesombongan

Dalam sakit yang parah,
bukan sikap menyerah yang diberikan Bapak kepada keluarga
Beliau gantikan keputusasaan yang tampak di mata kami
dengan sebuah janji dalam keyakinan
bahwa anak-anaknya akan mampu mengecap pendidikan tinggi
dengan kondisi yang sangat layak.
Di tengah kepiluannya saat itu,
Ibu juga tidak memperkenalkan sikap cengeng
Beliau melakukan segala yang mampu diperbuat seorang wanita sederhana
Anak-anaknya diajak bahu membahu mendapatkan uang pengobatan Bapak
dengan berjualan jamu buatan sendiri tanpa malu,
meskipun dengan memakai seragam sekolah
Anak-anaknya,bahkan sampai kepada yang terkecil yang tidak turut dalam masa sulit itu disadarkan…
bahwa kelahiran anak dalam keluarga, dalam urutannya, mengemban tugasnya masing-masing
Kami tahu, pemimpin kami dalam keluarga setelah Bapak Ibu,
adalah anak pertamanya
yang harus berusaha menyatukan adik-adiknya,
memberi contoh bagaimana membela kehormatan orangtua dan keluarga
Anak pertama itu tidak pernah ragu ketika dia dibutuhkan untuk mencari dokter
di tengah malam sekalipun,padahal usianya belum lagi akil baliq
Kegelapan malam diterjang demi obat untuk kesembuhan Bapak,
Tindakan yang menjadi pemersatu keluarga.
(Diselingi semacam mocopat/tembang dan olah wayang dengan dialog dalang yang menggambarkanpetuah orangtua kepada anaknya. Suasana yang ingin dicapai : kedalaman batin orang yang menderita tapi menerima dengan kepasrahan tanpa harus kehilangan semangat hidup)

(narasi MC)
Kekuatan dan semangat untuk keluar dari segala kesulitan
mendapatkan energinya dari uluran tangan tulus pak Suryani,
sahabat yang tidak pernah menghilang dalam kondisi terburuk sekalipun
Hanyalah dari rasa persahabatan sejati,
semua yang beliau berikan untuk nyawa Bapak Bambang Ramelan
Suatu pelajaran amat berharga dalam kehidupan keluarga selanjutnya
bahwa kesemuanya itu juga berarti sebuah kesetiaan
Ketika kaki yang melangkah itu menjadi semakin kuat,
kesetiaan dan persahabatan selalu mendasari pekerjaan apapun yang dilakukan.
Ini dibuktikan dengan pengabdian bertahun-tahun kepada seorang sosok agung
Sosok yang tidak dapat dipungkiri, sungguh mengangkat hampir segala kesulitan yang sebelumnya membelenggu
Mengikat erat sejarah kehidupan keluarga masa lalu

(kembali penceritaan oleh putra)
Bapak Ali Said adalah sosok yang sangat mewarnai sejarah hidup kami
Mengangkat Bapak sebagai seorang Ajudan semenjak masih di KODAM VIII Brawijaya Surabaya
Setiap perpindahan penugasan Pak Ali Said sampai masa pensiun beliau
sebagai Ketua MA, Bapak tidak pernah ditinggalkan
Banyak orang merasa kagum dengan kenyataan ini
Dimana Pak Ali Said menjabat di sebuah lembaga,
pasti Bapak mendampingi sebagai ajudan
Rasanya telah tercipta sebuah pemahaman tersendiri di antara keduanya
Dan tentu, Bapak pun memberikan pengabdian terbaiknya
hingga detik-detik akhir kehidupan Pak Ali Said
Sebagai wujud kesetiaan dan persahabatan seperti yang telah Bapak pelajari di masa sulitnya
Bapak dan Pak Ali Said saling mengisi, dalam susah dan senang
Maka tidak heran, ketika akhirnya Bapak mulai menikahkan putra-putrinya satu persatu,
Pak Ali Said dan keluarga selalu mendapatkan tempat khusus diantara undangan yang lain, terlebih di hati kami

(ilustrasi dengan wayang/gending/tembang tentang hubungan Bapak dan pak Ali Said)
(masuk ilustrasi yang menghubungkan cerita tentang pak Ali Said dengan kisah penutup)

(kembali pada narasi MC)
Hidup keluarga Bapak Bambang Ramelan dan Ibu Soediati terus bergulir
Semakin hari semakin baik
Meski dalam setiap nafas manusia selalu diiringi dengan cobaan dan rintangan
Tetapi dengan kebersamaan keluarga dan bekal perjalan selama 50 tahun
Segala rintangan terasa menjadi lebih ringan

(ilustrasi musik/tembang, mengiringi prosesi cium tangan dan potong tumpeng. Suasana bahagia, tetap dalam kedalaman memaknai semuanya dengan rasa syukur tanpa harus berlebihan)
Dan kini, inilah mereka, putra-putri, menantu dan cucu-cucu…
ingin bersujud dan berterimakasih, untuk semua yang Bapak Bambang Ramelan dan Ibu Soediati lalui selama ini…

Mereka berterimakasih karena Bapak Ibu senantiasa mendidik mereka menjadi orang yang bisa menitipkan diri pada masyarakat,
dengan nilai-nilai yang baik,
dan Insya Allah semakin baik
Sejarah sebuah keluarga tertulis dalam kehidupan yang tidak mungkin terlupakan
menjadi pelajaran dalam diri putra-putri yang telah membentuk keluarga sendiri
dan menjadi kenangan manis sepanjang masa

(iringan gending terus mengalun lirih sebagai latar belakang acara cium tangan)
(penyampaian ucapan selamat dan terimakasih diwakili seorang putra kepada Bapak Ibu sambil bersiap menyerahkan tumpeng untuk dipotong)

Bapak, Ibu, matur nuwun…
Kami sudah mendapat sebuah pelajaran
Yang menjadi bekal dalam perjalanan rumahtangga kami
Kami akan berusaha meneladani dari apa yang kami saksikan
Selalu ada kata setia dalam setiap nafas Bapak Ibu
Saling mengisi dalam setiap langkah beriring
Saling percaya dalam setiap ketidaktahuan
Dan ketulusan dalam setiap alasan yang membuat tangan bapak Ibu terulur…
Semua…semua, adalah sebuah keteguhan janji yang telah dibuktikan
Janji untuk membawa satu kapal berlayar kuat selama 50 tahun ini
Dan yang masih akan berlayar terus,
Dengan Ridha Allah yang memberikan usia untuk mengiringinya

(Tumpeng diserahkan untuk dipotong Bapak Ibu,dikelilingi keluarga.Potongan tumpeng diserahkan kepada sahabat Bapak yang hadir (Bp.Suryani), dengan sebelumnya MC mempersilakan BP.Suryani dan Ibu naik panggung)

” Ditulis oleh putri bungsu dan putri satu-satunya dari Bapak Ibu Bambang Ramelan, yang akhirnya menikah dengan putra kedua Bp. Suryani,sahabatnya, tanpa melalui perjodohan oleh para orangtua. Ini sebagai wujud kecintaan seorang putri kepada orangtuanya, tidak lebih tidak kurang.”





Kekasih Kecilku

16 08 2006

Dalam kehidupanku yang sekarang rasanya banyak sekali kenikmatan yang menyertai setiap langkahku. Aku tidak mungkin melakukan hal lain selain selalu bersyukur kepada Sang Khalik yang memberikan semua ini. Bayangkan saja, dengan pak Uban yang komplit kelebihan dan kekurangannya beserta jagoan-jagoan yang mengelilingi irama hidupku setiap hari, rasanya lengkap yang kumiliki. Apalagi jika mengingat ‘calon-calon bodyguard’-ku yang selalu ramai setiap hari dengan ocehan, canda dan keributan mereka…wah…sulit dibandingkan dengan apa pun.

Bagas Rayi Prabowo, anakku yang kedua, kekasihku yang terkecil… Kalau kemarin-kemarin aku pernah ‘bergosip’ tentang Ari dan bakatnya yang baru kutemukan, kini untuk Rayi aku belum yakin benar apa harta terpendam yang dia punya. Yang kuinginkan adalah kami orangtuanya, tidak salah mendeteksi dan bisa segera menggosoknya menjadi permata yang akan selalu indah kilaunya bagi kami. Maka setiap tingkahlakunya, seperti yang dilakukan setiap orangtua, akan selalu menjadi perhatian kami. Memang disitulah nikmatnya memiliki keturunan, ketika kita harus terus memantau dan mengarahkan bibit unggul itu tumbuh menjadi manusia-manusia yang berpotensi besar dalam kebaikan hidup.

Sejak dalam kandungan, sudah terasa dia adalah calon bayi yang selalu aktif. Tidak heran jika sebab tingkahnya itu, maka dia masih berbalik arah menjelang kelahirannya dan ‘terpaksa’ merasakan terlilit tali pusar yang menyulitkan proses kelahirannya ( Kelahiran Para Putra Mahkota. ) . Nyatanya setelah menjadi bayi dalam pelukan kami pun kegesitannya semakin tampak. Dalam usia 3 bulan, karena dia selalu ingin bergerak bebas, suatu kali kepalanya pernah hampir terjepit tepian boks bayi portable tempatnya tidur. Beruntung aku selalu mengontrol keadaannya setiap beberapa waktu. Dan setelah mampu berjalan dan berlari pun, tidak ada waktu kosongnya yang berlalu tanpa dia melakukan gerakan-gerakan semacam silat sambil mengkhayalkan dirinya sebagai seorang jagoan. Sampai kami seringkali perlu bertanya padanya, kapan dia akan beristirahat dari gerakannya yang tampak melelahkan itu. Jawabannya hanya tawa kecil dan sudah bisa dipastikan dia akan melanjutkan kegiatannya itu selang beberapa detik kemudian. Adakalanya memang dia lalu duduk terdiam bersama kami, tetapi biasanya dilanjutkan dengan matanya yang terpejam karena tertidur lelah. Pernah juga ketika kakaknya ikut latihan silat di rumah, dia hanya menjadi penonton setia karena usianya belum mencukupi untuk bergabung dengan olahraga keras itu. Yang mengherankan, meskipun hanya menjadi penonton tetapi justru dialah yang lebih dahulu hafal jurus yang diajarkan sang pelatih ketimbang si kakak. Apa yang bisa kami perbuat mengetahui hal itu selain tertawa? Syukur, itu hanya menjadi kegemarannya saja dan tidak sekali pun dia pernah memukul orang lain untuk menunjukkan sifat jagoannya.

Dalam berkomunikasi verbal, anak-anak kami memang termasuk sangat terampil baik dalam bicara ataupun mengerti pembicaraan normal. Begitu pula Rayi. Namun khusus dia, ‘kreatifitas’ nya berbicara seringkali juga membuat kami terbahak-bahak. Bahkan yang semula ingin memarahinya karena suatu kesalahan, berbalik menjadi kekikukkan karena desakan untuk tertawa tetapi kami merasa harus tetap menunjukkan wibawa sebagai orangtua yang sedang mengarahkan anaknya. Misalnya satu kali saat usia 4 tahun, dia pernah menjatuhkan sebungkus susu segar pesanan kami hingga pecah karena ketidak hati-hatiannya dalam membawa susu tersebut sambil berlari. Tentu kami mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya adalah kecerobohan. Bersamaan waktu-waktu itu, kami juga sedang mengajarinya mengenal huruf dan membaca. Biasanya itu bisa kami lakukan sambil bepergian dengan memperhatikan tulisan-tulisan apa saja yang ditemui di jalanan. Saat sedang melatihnya membaca seperti itu, kami memberi tebakan bagaimana membaca huruf ” s-u-s-u”. Entah bagaimana, dia teringat dengan kesalahannya memecahkan sebungkus susu. Jadilah bukan dia membaca apa huruf yang kami diktekan, malah berkata,” Balik lagi deh soal itu, masih belum dimaafkan juga salahku tadi mecahin susu..”, sambil dia tertawa-tawa. Tentu saja kami terkejut dengan hal itu, juga dengan bagaimana caranya dia menghubungkan sesuatu hal dengan hal lain yang terasa tidak nyaman baginya. Kontan kami hanya tertawa dan ‘mati kata’ menghadapinya. Banyak lagi pengalaman-pengalaman bersamanya yang selalu berbicara apa adanya tanpa terduga oleh kami. Buat kami, hal tersebut sudah mengajarkan bahwa Rayi adalah seorang pengamat yang baik, sehingga kami harus berhati-hati bicara dan melakukan sesuatu.

Mungkin, Rayi belum menunjukkan prestasi yang menonjol sebagaimana sang kakak. Tetapi dia tetap kekasih kecilku. Apa yang dimilikinya saat ini sudah berarti banyak bagi kami. Ketika dia mampu menghibur kelelahan dan kesedihan kami dengan ciuman, pelukan dan ocehannya yang segar, rasanya kami sudah diberikan sekarung emas permata yang begitu indah. Kami harus menggosok dan menatahnya baik-baik agar kilaunya semakin indah dan bisa bersinar terang bagi banyak orang. Barangkali dengan berbuat begitu kami bukan hanya tidak menyia-nyiakan harta yang ada pada kami, tetapi juga bisa mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan yang akan datang.





Harta Karunku

8 08 2006


WANTED ! Hehehe…nggak ding…tapi ya ada benarnya juga sih. Kalau buatku ya dia wanted by me ajah. Ini dia harta karunku yang nomer satu. Kan aku punya dua harta karun. Yang satunya nanti kapan-kapan aku ceritakan juga. Sekarang yang ini dulu.

Namanya Ari. Sekarang mulai ABG, 11 tahun umurnya. Dia betul-betul anak yang mudah sekali mengerti apa yang diinginkan orangtuanya. Bukan berarti nggak ada sifat jeleknya juga sih, tapi buat kami apa yang ada padanya itu sudah cukup jadi kekayaan kami. Ari ini lahir di saat kami belum bisa berkumpul jadi satu keluarga utuh. Jadi, bapaknya telat absen lah waktu itu. Sekaligus jarang juga ketemu tentunya. Kasihaaannn deh…nggak kenal bapaknya..

Dalam ke-berdua-an ( kalau eyangnya di rumah itu gak dihitung) itulah, aku banyak menemukan keistimewaannya. Dia ini anak yang tidak cengeng. Jarang sekali kedengaran dia menangis, apalagi jika kebutuhannya untuk ganti popok dan minum susu terpenuhi dengan baik. Karena itu, kalaulah dia sekali waktu menangis untuk sekedar bermanja atau ada sedikit yang kurang pas baginya, maka ibuku suka sekali menenangkannya. “Cup cup …sayang…kenapa sih?”Dan itu dilakukan sambil digendong. Ternyata, dalam usianya yang saat itu baru 4 bulan, hal itu dia pelajari dan terekam baik di kepalanya. Suatu ketika, saat maghrib tiba, aku hanya berdua dengan Ari di ruang keluarga. Biasanya jika maghrib, menurut kebiasaan orang Jawa, bayi selalu digendong. Seperti hari lainnya, hari itu aku tidak ikut seperti kebiasaan itu, karena menurutku saat itu Ari belum perlu disusui atau ditidurkan. Tapi Ari rupanya ingin digendong. Sehingga dia menangislah tanpa alasan yang jelas. Serta merta aku ucapkan ,” Cup cup…sayang..”sambil kuambil dia dalam gendonganku. Apa yang terjadi? Ari tertawa terpingkal-pingkal kesenangan. Sesaat kemudian dia mencoba menangis lagi, dan kuucapkan lagi ‘mantra’ itu. Eh, dia terpingkal-pingkal lagi. Sampai beberapa kali seperti itu dan kami tertawa bersama. Dia sudah bisa menggodaku dan mengajak bercanda.

Kali lain, waktu usianya masih 7 bulan. Karena kami masih belum hidup mandiri di sebuah rumah, seringkali kami pun menginap di rumah kakak untuk sekedar berlibur. Kami bisa bercengkerama bersama kakak dan membicarakan berbagai hal yang ringan untuk kami bagi bersama. Salah satu topiknya adalah perkembangan anak. Kebetulan kami memiliki anak dengan usia yang hampir sama dan sedang lucu-lucunya. Ketika membicarakan tingkahlaku Ari yang lucu, dan mudah untuk diurus, Ari berada diam di sampingku. Diamnya itu ternyata dia mendengarkan pembicaraan kami. Dan tidak disangka, dia mengerti apa yang kami bicarakan. Bagaimana aku bisa tahu bahwa dia mengerti ? Saat itu kontan Ari mencubiti lenganku sambil tersenyum dan pandangannya memintaku untuk berhenti membicarakannya. Dia tampak malu. Yah…layaknya anak dengan usia yang lebih besar dan malu jika mengetahui dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Aku juga tidak habis pikir bagaimana ia mampu seperti itu. Kenyataan seperti itu membuatku mengerti bahwa apa yang aku ingin ajarkan kepadanya, bisa aku katakan langsung kepadanya dengan bahasaku yang lugas. Dan aku tidak boleh meremehkan pemahaman dan kemampuannya berkomunikasi.

Hari-hari berlalu, Ari bertambah besar. Dia kemudian memiliki adik. Sebagai anak laki-laki dan sebagai anak pertama, kami mulai mengajarinya sebuah tanggungjawab baru. Bahwa dia nantinya adalah wakil dari orangtuanya dalam membimbing adiknya. Dia adalah contoh bagi adiknya. Dan dia harus menyayangi dan melindungi adiknya lebih dari apapun. Ari mengerti. Usia sekolah dasar, sekitar 8-9 tahun. Mereka berdua sudah memiliki teman sendiri di kompleks rumah kami. Sore adalah waktu bermain, tapi sebelum masuk waktu maghrib, mereka sudah harus pulang. Sore itu, Ari pulang bermain seperti biasa. Dia tidak melihat adiknya di rumah. Saat itu aku tugas keluar kota dan anak-anak di rumah bersama eyangnya. Tentu tidak mungkin bagi eyangnya untuk berkeliling kompleks mencari adiknya. Seketika Ari mengambil sepedanya dan dia berkeliling, bertanya ke rumah-rumah temannya dan teman adiknya. Sampai akhirnya dia temukan adiknya sedang diajak berjalan-jalan sore bersama teman dan pengasuh temannya itu. Tanggungjawab sudah dia sandang dan laksanakan dengan baik, mewakili orangtuanya dan berusaha melindungi adiknya, yang kebetulan sedikit lebih bandel dari Ari.

Tahun ini, aku baru tersadar. Ari memiliki kemampuan lebih dari itu semua. Dan bodohnya kami, tidak mengetahui banyak tentang ini. Ari mulai masuk SMP sekarang. ( Dari usianya, memang lebih cepat setahun karena dia hanya menjalani masa TK kecil saja lalu langsung masuk SD dan alhamdulillah selalu dalam ranking tiga besar) . Pada saat test masuk SMP itulah, kami mengetahui bahwa IQ nya cukup tinggi dan sangat di luar dugaan kami. Dengan bekal itu, psikolog dan kepala sekolahnya merekomendasikan dia untuk mengikuti program akselerasi. Sebagai orangtua, perasaan kami selalu diliputi kecemasan. Cemas, karena biasanya orangtua cenderung terlalu bangga dengan kenyataan semacam itu dan justru bisa menyulitkan anak kami sendiri. Kami takut dia begitu tertekan dengan konsekuensi yang dihadapi kemudian. Sebab itu kami ingin bersikap adil padanya. Kontrak belajar itu kami serahkan padanya lebih dulu untuk dibaca dan dipahami. Jika dia tidak suka, maka kami harus mau mengikuti keinginannya. Nyatanya, dia merasa sangat siap dengan segala konsekuensinya. Dia tahu resikonya jika prestasi itu tidak bisa dia pertahankan. Dan dia tetap merasa lebih nyaman di kelas akselerasi. Duhai permata ibu…apa pun untuk kebaikanmu akan kami perjuangkan untukmu. Gantungkan impian setinggi-tingginya dan nikmati kesempatan yang ada di hadapanmu, sayangku…Bagi kami, memiliki putra sepertimu adalah sebuah kenikmatan Allah yang tak terkatakan, tak cukup halaman-halaman ini melukiskannya. Dan kami titipkan segala yang terbaik bagimu kepadaNya.





Senandung Sunyi

3 08 2006

Putaran waktu yang sama
Berdentang denting terngiang-ngiang
Menuntun langkah berirama
Dalam ingatan sang Penunggu Waktu

Duhai kekasih-kekasihku….
Sarat sungguh bebanmu tergantung
Tanpa surut sang waktu mengajakmu berlari
Lelah bukan karibmu yang kau kenal
Walau sang waktupun bukan yang kau cinta
Gelap awan kau melangkah
Renta senja kau gayut pulang
Maka bolehlah kau berteriak wahai kasih…
Rindumu masih ada

Disini mataku sebagai saksi
Panjangnya hari kau lalui
Disini sunyiku menyapa
Bersama senandungnya yang lirih
Tapi taman hatiku masih ada
Mekar, bersemi bersiram cinta
Tak pantang kau singgahi
Rela kau rebahkan diri padanya
Hanya ini yang kupunya, sayangku…
Mungkin cukup membasuh luka peluhmu





Kelahiran Para Putra Mahkota

2 08 2006
Kalau di setiap kerajaan lazimnya memiliki putra mahkota, maka kuibaratkan rumahku kini sebagai kerajaanku. Toh, tidak perlu mengurus IMB atau perijinan apapun atau melaporkannya kepada pemerintah setempat. Sepanjang tidak hendak ikut serta dalam proses pemerintahan yang sesungguhnya, semua bebas menyebut rumahnya adalah kerajaannya. Soalnya, aku sendiri tidak berani membandingkannya dengan surga yang aku sendiri belum pernah tahu seperti apa. Tapi Surga, pastilah tidak ada yang dapat menandingi keindahan dan kebahagiaan di dalamnya. Itu yang kupelajari dari keyakinanku.

Kerajaanku, juga ada Raja dan Ratunya dengan dua orang Putra Mahkota. Aku pernah bercerita tentang Rajanya, Pak Uban , yang bekerja di pemerintahan. Ratunya….aku belum ingin bercerita tentangnya, tentangku sendiri. Aku ingin sekali bercerita tentang dua laki-laki kecilku. Ya…anakku memang laki-laki semua. Dulu, ingin juga aku punya anak perempuan. Tapi nampaknya rejekiku adalah yang ada bersamaku saat ini. Dan aku tidak pernah meminta pada Tuhan untuk tetap diberikan seorang anak perempuan. Cukuplah mereka saja asalkan aku sanggup mendidik dan merawat keduanya dengan seluruh cinta dan kemampuanku. Jika tiba waktunya nanti, mereka berdua akan membawakan kami dua orang putri yang akan menjadi anakku juga.
Anak pertamaku lahir delapan bulan hampir sembilan bulan setelah pernikahanku. Tentang ini, semua adalah nikmat Allah. Aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan anak karena semuanya mudah sekali bagi kami. Yah, walaupun bagi sebagian orang hal ini menjadi peluang bagi mereka untuk mengejek dan menertawaiku. Tapi aku tidak memusingkannya sama sekali selama Allah mengetahui kami tidak melanggar laranganNya. Proses kelahirannya sendiri sangatlah mudah dan jauh lebih cepat dari perkiraan dokter. Kebetulan bapaknya masih tugas di seberang pulau, jadi yang menemaniku adalah orangtua serta iparku. Kondisi itu membuat kami, aku dan bayiku, ‘merasa’ sangat tahu diri untuk tidak terlalu merepotkan mereka. Kebetulan saat itu bulan puasa. Anakku lahir secara normal menjelang waktu makan sahur dengan begitu mudah dan cepat . Sehingga setelah semua proses selesai, dokternya bisa pamit untuk santap sahur. Ibadahnya tidak terganggu. Alhamdulillah.
Berbeda lagi dengan adiknya. Pada saat kehamilan hingga melahirkan, kami sudah berkumpul menjadi sebuah keluarga yang utuh di ‘pondok’ kami. Tetapi dasar bapaknya bukanlah jenis orang yang romantis mendayu-dayu, jelas tidak mungkin kudapatkan perilaku darinya untuk mengelus buncit perutku apalagi sampai mencium. Porsiku, adalah perhatiannya untuk meluangkan waktu mengantarku periksa ke dokter. Menemaniku menemui dokter tusuk jarum yang men-terapi agar posisi bayi yang sungsang bisa kembali sebagaimana seharusnya. Dan menjagaiku di luar ruangan saat melahirkan. Apalagi, ternyata bayiku terlilit tali pusar sehingga proses kelahirannya sangat lama. Aku tidak pernah ingin operasi caesar, maka sakit yang kurasakan untuk sampai bayi itu benar-benar lahir, memakan waktu sekitar 17 jam. Luar biasa!

Bertahun kemudian, kini mereka tumbuh menjadi anak-anak yang dahsyat bagi kami. Anak pertamaku, kini mulai ABG. Usianya sebelas tahun . Adiknya sudah tujuh tahun. Tidak satupun dari mereka berbadan gemuk, karena memang porsi makannya hanya sedikit, layaknya orangtuanya. Tetapi mereka tumbuh sehat, cerdas, normal dan insyaAllah tidak menyimpan penyakit berat. Aku bukanlah ibu yang bisa menyesuaikan diri dengan gaya bicara anak-anak. Mereka aku biasakan bicara secara apa adanya, dengan cara biasa. Saat masih balita, tidak cadel dan tidak dilembutkan bahasanya. Alhamdulillah, kekuranganku ini juga tidak menyesatkan mereka. Gaya bicara mereka lugas, tidak juga menjadi kasar. Mereka mudah sekali mengerti jika diajak bicara. Ketika berbantahan pun, mereka bisa mengutarakan pendapatnya dengan baik. Tetapi di atas semua itu, mereka adalah anak-anak yang berperilaku sopan dan sudah mampu membawakan dirinya dengan baik saat bersama orang lain. Maha besar Allah yang sudah memberiku karunia sedahsyat itu. Anak-anak yang begitu mudah mendidik dan merawatnya.

Apa yang harus kami lakukan berikutnya? Para putra mahkota ini perlu siap menapaki kehidupannya yang membentang luas. Jika masalahnya adalah prestasi akademik, itu persoalan mudah. Tinggal kami memberinya fasilitas belajar semampu kami, dan mereka melakukan tugasnya belajar sebaik-baiknya. InsyaAllah nilai-nilainya akan baik. Tetapi yang lebih sulit adalah bagaimana mereka menjadi laki-laki yang berakhlak baik, tidak cengeng menghadapi kesulitan hidup dan peka terhadap lingkungan serta kesulitan orang lain. Semua berpulang kepada kami berdua. Dalam keterbatasan kami sebagai manusia, baik secara akhlak, kepandaian maupun materi, kami memohon. Semoga kami tidak salah menitipkan dua laki-laki, putra mahkota kami, pada dunia ini . Agar mereka bisa memberikan sedikit sumbangan kebaikan bagi kemanusiaan.




Pak Uban yang terkasih

1 08 2006
Pak Uban?…Hehehe,iya,…ini julukan kami buat dia. Jelas banget, ini menunjukkan rambutnya yang berwarna putih mengkilat dan hampir memenuhi seluruh kepalanya. Kalau ada yang mau coba menghitung, maka hitunglah berapa rambut hitamnya yang masih tersisa. Yakinlah,itu lebih mudah dilakukan daripada sebaliknya (oops…hihihi..) . Apakah menunjukkan usianya? Bisa iya,bisa juga tidak. Kalau untuk sekarang, ya bisa jadi jawabannya iya,karena memang mulai mendekati setengah abad untuk tahun depan. Tapi sebenarnya keistimewaannya sudah dimulai sejak luaamaa sekali, jadi ya tidak bisa dikatakan itu menunjukkan usia kan?

Buatku, yang memulai langkah hidup bersamanya sejak 20-an tahun lalu, rambut ubannya itu tidak menjadi masalah sama sekali. Aku tidak pernah malu berjalan bersamanya saat dulu, meskipun banyak komentar dan ejekan yang datang. Mungkin kalau aku artis dan dulu sudah ada infotainment, wartawan akan selalu mengungkit masalah ini. Masalah rambutnya ini malah menguntungkan,lo…Bayangkan jika aku sedang berbelanja di hypermart dan terpisah darinya, maka tidak sulit kan mencari dia? Selain memang dia juga cukup tinggi, aku tinggal mencari kepala warna putihnya itu. Bisa saja itu orang lain memang, tapi tetap lebih mudah kan…

Persoalan rambut ini pun, kerap jadi lelucon dan membuat kami justru mentertawakan orang lain. Pernah satu kali, ketika kami baru punya satu anak dan masih bayi pula. Saat itu, kami perlu mempersiapkan pernikahan kakak dan mencari kain seragam kebaya keluarga. Ketika aku, kakak dan ibuku memilih-milih kain, dia yang kebagian tugas menggendong Ari kecilku. Saat itulah pemilik toko yang menemaninya berdiri bertanya,” Cucunya ya pak?” Sebelum menjawab, pak Uban yang suka guyon ini langsung berpaling ke kaca di belakangnya dan melihat bayangan diri dan Ari dalam cermin itu. Barulah dia bertanya balik pada pemilik toko itu, ” Emang keliatannya ini cucu saya? Ini kebetulan masih anak saya “. Pak Uban cengar-cengir, giliran si pemilik toko yang kebingungan dan salah tingkah. Gubrak! Tertipu dia….

Tapi, tidak satu pun dari kami pernah terpikir untuk mengecat rambut itu. Bahkan waktu kami menikah dulu pun, kami menolak untuk melakukan hal itu. Hanya sekali rambut itu disemprot hairspray hitam, karena kebutuhan peragaan pengantin yang menggunakan kami sebagai modelnya. Pertimbangannya karena penilaian pemirsa adalah pada sang perias, sehingga kami perlu sekali menjaga nama beliau. Kami senang tampil apa adanya, dan tidak rikuh menempatkan diri kami dimana pun sepanjang perilaku kami sesuai dengan norma. Kami menilai sesama kami dari tingkahlaku dan budi bahasanya, bukan penampilan fisiknya. Dan dengan cara itu pula kami ingin diterima.

Kembali bicara tentang Pak Uban, dia benar-benar soulmate bagiku. Kepadanya, aku berbagi hidup, yang senang dan susah. Meski kadang masing-masing kami tetap menjaga privasi kami sendiri. Dengan dia, batin ini tersambung erat meski kami berjauhan. Aku bisa mendengar suaranya tepat di telingaku, ketika dia rindu dan memanggilku di puluhan kilometer jauhnya. Darinya, aku belajar untuk memiliki kepribadian yang kuat, santun dan bersahaja. Bersamanya, aku menciptakan keluarga yang utuh dan dilengkapi segala emosi dan kekurangan sebagai manusia yang harus kami terima.

Jangan pernah tanyakan cintaku padanya. Cukup saja kalau kami bisa saling mengerti lewat tatapan mata. Cukup saja kalau kami merasa tidak perlu berpisah apapun masalah yang datang pada kami. Dan lebih dari apapun pembuktiannya, kalau kami tahu wajah-wajah diantara keluarga kami banyak yang mirip dengan kami. Jika masing-masing kami masih bisa tercekat keharuan saat napak tilas perjalanan hidup kami, maka ikatan ini masih terus menumbuhkan akar kasihnya di hati kami. Cukuplah itu membuat kami tidak perlu menghadirkan orang lain dalam spasi diantara kami.