Ibu…Aku Nggak Kuat..!!

25 09 2006

Bulan Puasa, pastinya ditunggu-tunggu semua umat Islam. Terutama di Indonesia ini, suasana yang menyertai ibadah di bulan itu benar-benar membuat orang kangen. Menyiapkan hidangan buka puasa dan sahur yang malah menggagalkan proses detoksifikasi dan penurunan berat badan, jalan-jalan dan bersepeda pagi setelah sholat subuh, berbagai undangan buka bersama dan berbondong ke mesjid atau langgar untuk tarawih, semuanya bermuara pada peningkatan ukhuwah yang mungkin agak merenggang di bulan-bulan biasa. Belum lagi sibuknya ibu-ibu berbelanja dan membuat kue-kue lebaran, yang bahkan sudah dimulai di awal-awal puasa. Maklum, itu adalah satu kesempatan besar untuk menangguk rejeki tambahan dengan menjual kue-kue kering beraneka rupa. Bagi yang tidak ikut berbisnis, setidaknya ritual ini menjadi ajang untuk menangguk cinta yang lebih besar dari suami karena membuat kue sendiri untuk menyambut tamu-tamu dan berhalal bi halal.

Lalu, bagi ibu-ibu yang masih memiliki anak kecil yang belum mengenal puasa, pastinya juga bersiap-siap dengan kamus jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang bakal dihadapi dalam mensosialisasikan ibadah ini pada sang buah hati. Bagiku, ini sebuah medan yang cukup berat. Bukan apa-apa, tetapi aku memang perlu ekstra bersabar melakukan hal ini, terutama untuk si bungsu , Rayi. Memang, setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kita orangtuanya Dilarang Keras membandingkan apalagi berharap untuk bisa bersikap sama terhadap setiap anak. Hanya saja dengan mencermati setiap keunikan mereka adalah sebuah hal yang sesungguhnya manis sekali untuk dilakukan. Karena biasanya sambil membicarakan tingkah masing-masing anak itu, senyum bahkan tawa geli pun ikut mengembang di bibir kita.

Dulu sang sulung, Ari, menghadapi puasa dengan keseriusan seorang anak. Dia mendengarkan sungguh-sungguh ketika kami memberitahunya arti dan tujuan puasa. Juga ketika aku menceritakan pengalaman puasa di waktu kecil, kelihatan sekali dia terkesan dan berusaha menyamai kemampuan menahan lapar haus saat usia 9 tahun selama sebulan penuh tanpa bolong. Dia menyerap kata-kataku, bahwa semuanya hanya bisa terjadi kalau kita memiliki niat yang kuat. Memang pernah juga sebagai anak yang baru belajar puasa, dia beberapa kali gagal dan mengatakan, “Ibu…aku nggak kuat..”. Tapi ketika kami memotivasinya lagi, maka dia pun akan berusaha bertahan sehingga akhirnya kelas 3 SD puasanya sudah mulai sempurna (tidak memperhitungkan emosi). Lalu bagaimana dengan si bungsu?

Kemarin, selama di perjalanan ketika bepergian, dia menangis. “Ibu..aku nggak kuat…huhuhuhu..” Dengan segala daya kita kuatkan hatinya karena sebenarnya waktunya sudah tanggung, jam 15.00. Dan dari ekspresinya, dia hanya menunjukkan bahwa dirinya sedang ingin diperhatikan saja. Fisiknya sendiri cukup kuat, terlebih selama ini dia juga susah makan.Bukan menyepelekan, tapi lapar bukanlah halangan utamanya. Kami ajak dia berjalan-jalan mencari kue untuk berbuka bersama keluarga besar, J-CO Donuts and Coffee. Donat made in Indonesia ini memang selalu antre panjang untuk membelinya. Sambil antre, dia pun menggelendot padaku. Tiba-tiba, dia katakan,” kalau ibu mau bikin aku senang, ibu hibur aku dong…kita ke Time Zone !” Wiiih…itu alasan hari itu. Hari ini, dia berulah lagi. Menangis lagi, tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Sewaktu kesekian kalinya dia minta untuk membatalkan puasa, aku akhirnya menjawab, ” Ibu nggak mau mengiyakan atau melarang adhek batal puasa. Adhek bisa merasakan sendiri kebutuhan badannya, ibu nggak akan marah apa pun kebutuhan adhek”. Ya, aku memang selalu bicara lugas pada anak-anakku dan selalu diberi alasan untuk mereka menggunakan logika mencerna kata-kataku. Akhirnya, dia pun minum. Dan aku melihat alasannya batal puasa hari ini. Donatnya masih ada dan itu kesukaan dia. Salahku, kurang rapi menyimpannya. Maaf ya, dhek…

Yah…untuk Rayi, aku memang harus lebih bersabar, sesuatu yang sulit sekali buatku si Jawa Timur ini. Tapi, inilah seninya menjadi seorang ibu. Dengan segala kerepotan seperti itu, aku selalu punya cerita untuk dibagi dengan suamiku dan kami pasti tertawa bersama setelahnya. Aku juga selalu punya kesempatan untuk memutar otak, mencari cara lain memberi pengertian pada anakku. Satu hal yang pasti, anakku tidak mau berbohong dengan membatalkan puasanya di luar rumah dan pura-pura puasa di depan kami. Kalau mereka ingin batal puasa ya secara terus terang dikatakan, ” Ibu…aku nggak kuat…”





Ya Sudah…Asal Kamu Bahagia,Nak…

21 09 2006

Sejak kecil, sebagai perempuan tunggal dalam keluarga, ibu mendidikku dengan keras tentang ketrampilan wanita di rumah. Nomer satu, rumah harus bersih, makanan tersedia dan enak rasanya, pakaian tercuci bersih dan tersetrika rapi. Selebihnya, menjahit dan berkebun tidak diletakkan sebagai doktrin dan hanya sebagai ‘ekstra kurikuler’ saja. Karenanya, aku bisa sangat stress dengan keadaan rumah yang kotor dan berantakan dan bisa langsung memicu pelatuk untuk mengomel panjang pendek pada anggota rumahku. Meskipun akhirnya pada perjalanan waktu, dengan penyesuaian pada kebiasaan ‘ sang tulang rusuk ‘ yang tidak terlalu rapi, seringkali aku mengalah juga. Mengalah pada lelahnya mulut dengan menjadi ‘ sapu jagad ‘ alias terus membereskan yang tidak pada tempatnya. Juga kadang mengalah pada lelahnya fisik sehingga lebih baik pura-pura tutup mata dan membereskannya nanti jika sudah lebih segar. Tetapi, penyesuaian itu tetap tidak menghilangkan kebiasaanku yang asli.

Kebetulan aku mempunyai dua anak yang semuanya laki-laki, sehingga apa pun yang aku ajarkan tentang kerapihan rumah, sepertinya tidak banyak meninggalkan jejak. Sebab, banyaknya teman-teman mereka yang selalu siap memanggil sejak jam 7 pagi hingga sore jika datang waktu libur. Sehingga, segala permainan bisa keluar dari sarangnya tanpa sempat membereskan dengan baik yang sebelumnya. Yah…tentu saja, menurut mereka sudah dibereskan. Tapi yang terlihat adalah terlemparnya begitu saja segala ‘ senjata liburan ‘ di dekat keranjang penyimpannya. Yang penting judulnya sudah di dekat keranjang, artinya sudah tidak di sembarang tempat. Oalah,le…

Nah.. sudah sejak 3 tahun lalu kami membuat pendopo di samping rumah. Fungsinya tentu untuk bersantai dan kumpul keluarga besar dan siap menampung orang banyak. Di sana, kami lengkapi juga dengan lemari buku karena si bapak dan si sulung sama-sama ‘ jagoan ‘ membaca. Untuk si sulung, koleksi komiknya entah berapa karena setiap kali ke toko selalu memborong seperti dalam kiloan. Di dekatnya, diletakkan Play Station yang hanya boleh dioperasikan jika akhir pekan atau libur. Disitulah kelihatan masalah yang sering kurasakan membuatku pusing. Ya itu tadi, karena esmosi…eh, emosi mumbul…Teman-temannya yang datang ada yang membongkar lemari buku, banyak juga yang antre jadi jagoan PS. Teman si sulung adalah teman si bungsu juga, ditambah teman si bungsu yang sulit jadi teman si sulung karena perbedaan usia. Maka bisa dibayangkan, ada yang geletakan di bale-bale ‘home made’ membaca setumpuk komik, ada yang bertanding dan menonton PS, ada yang lari-larian, ada yang bertanding kartu digimon…riuh sekali !!! 1 jam, 2 jam, 3 jam,….lho, sudah sore dan itu belum ada tanda-tanda bakal reses atau bosan. Giliran akhirnya para ibu mulai memanggil mereka mandi sore, plaass….Waduh, ini rumah seperti kena angin puyuh saja. Botol dan gelas minum berserakan berikut cecerannya, tebaran kartu, komik, kaset PS, seliweran kabel, bangku-bangku tidak jelas arah hadapnya…Sulung dan bungsu merasa bertanggung jawab juga dengan kekacauan itu, tetapi kemampuan mereka toh masih terbatas. Aku ibunya, yang tidak ber-asisten inap, mulai melenggok dengan gerakan sapu jagadnya, wess….

Sambil mencuci gelas-gelas dan mengelap segala sisa ‘unjuk rasa’, tak urung aku merenungkan lagi omelan-omelanku yang sempat keluar tadi. Dari sekian banyak tumah tetangga dengan anak-anak kecilnya, rumahkulah yang menjadi markas. Mereka juga memiliki PS, tapi dilarang sering dimainkan. Akhir bulan tagihan PLN bisa membengkak, mungkin begitu pikiran orangtuanya. Di depan rumahku jalanannya sungguh lebar untuk berlari-larian, tetapi mereka pilih di dalam. Dan disini air minum dan cemilan bisa setiap saat dihidangkan…Aku tarik saja kesimpulan yang menenangkan. Tetanggaku semua merasa tenang karena ada semacam tempat penitipan anak yang sudah pasti Insya Allah aman. Karena memang mereka bisa santai pamit pergi, sementara anaknya pun santai bermain di pendopoku.Teman-teman sulung dan bungsu merasa rumah ini adalah rumahnya. Terbukti, meskipun anakku sedang ke rumah sepupunya, mereka santai saja rebahan di amben sambil baca komik. “Numpang baca ya, tante…”, begitu kata mereka. Lalu yang lebih penting lagi, anak-anakku tidak pergi jauh dari pengawasanku serta mereka juga disukai oleh teman-temannya. Nyata makhluk sosial, begitu maksudku…

Mungkin sebagai penghiburanku, kesimpulan itu lebih baik untuk modalku bersyukur. Daripada mengomel Krawang-Bekasi, bersyukur itu pasti lebih bermanfaat. Mudah-mudahan, rumah kami membawa berkah dengan banyaknya orang hadir disini. Nyatanya ada tetangga yang sekali waktu bertandang dan mengobrol denganku, mulai memaklumi kenapa anak-anaknya betah berlama-lama di pendopo itu. Dan sewaktu Piala Dunia 2006 kemarin, malah ada tetangga yang jam 2 malam menumpang nonton pertandingan gara-gara saluran TVnya bermasalah. Ya sudah..monggo….asalkan aku bisa melihat anak-anak terutama sulung dan bungsu tertawa bahagia…ngomelku kutahan ya!





Reuni……

19 09 2006

Cerita ini sebenarnya sudah agak terlambat, malah terbitan versi lain sudah beredar lebih dulu di halaman singapore. Maklum, terkena banyak kendala yang membuat ku tak bisa menyentuh komputer lama-lama. Tapi…karena ceritanya sungguh menakjubkanku, maka seterlambat apa pun tetap akan kutulis. Mungkin saja yang membaca bisa merasakan senangnya hati ini.

Blogku ini masih terhitung bayi dan sambil menjalankannya,aku belajar terus dari blog orang lain.Satu kali aku melihat satu halaman blog favorit semua blogger –kuketahui belakangan dengan penilaian subyektifku. Disana, kutemukan nama yang membuatku teringat teman SMA-ku dulu. Bagiku, rasanya aneh sekali kalau nama dua orang berbeda bisa sama persis titik komanya. Maka, kukejar terus untuk kuselidiki siapa “dia” ini. Mulanya agak kesulitan juga, karena yang kucari pertama-tama adalah tampilan wajahnya. “Dia” ini rupanya sangat memperhatikan kesehatan lidah, sehingga lebih banyak tampilan makanan mengundang selera didalamnya. Wah, rasa penasaranku terus saja membuntuti, terutama karena diikuti segala kerinduan pada teman-teman lama yang sulit kutemukan di friendster–yang memang sudah kulupakan juga…

Mungkin Tuhan kasihan juga denganku yang begitu penasarannya,akhirnya aku dibukakan jalan untuk tahu lebih banyak targetku ini. Dalam kesedihan atas meninggalnya sang pemilik blogger favorit tadi, aku ingin menyampaikan rasa dukacitaku kepada orang-orang yang dekat dengan beliau. Maka, kutulis sebuah pesan turut berdukacita kepada si “Dia” termasuk kesanku tentang mendiang yang belum kukenal itu. “Dia” akhirnya berkunjung juga ke halaman blogku berikut segala pesan dan keramahan perkenalannya. satu dua kali berkomunikasi via blog, kuberanikan diri memintanya untuk bisa bicara langsung dengan Messenger. Tentunya ini dengan keyakinanku yang semakin menebal, meskipun informasi tentangnya tidak bertambah banyak.Dan untungnya, ajakanku bersambut siang itu juga.

Di saat ber-chatting ria itu, rupanya “Dia” ini agak jengah dengan panggilanku kepadanya yang seolah menempatkannya sebagai orang yang lebih tua dariku. Padahal, itu hanya untuk bersopan santun semata sebagaimana layaknya orang Jawa yang belum mengenal dekat teman komunikasinya. Dari urutan umur yang ditanyakannya, memang nyata aku lebih tua darinya. Rupanya “Dia” juga kena penyakit yang sama, yaitu penasaran akibat ingatan tentang file masa lalu. Ditanyakannya Universitasku, kujawab lengkap berikut jurusan dan angkatanku. Mulailah dia semakin curiga dan dinyatakannya bahwa dia berasal dari sebuah SMA di Jakarta Timur.GONG!!! Ya, bagiku pernyataannya tentang SMA asalnya itu sudah gong alias petunjuk yang suangaat terang benderang. Langsung saja kuhantam dia dengan pertanyaan pamungkas tentang nama sang suami. Naaahhh…..itu dia….Maka semuanya pun ‘habis mendung panaslah sudah’….

Wah, rasanya saat itu indaaahh sekali. “Dia” minta waktu untuk menikmati keindahan sebuah pertemuan, aku pun merasa merinding karena bahagianya bertemu kawan lama. Bayangkanlah…dulu aku datang ke pernikahannya, dulu aku sering bertanya fisika pada (calon) suaminya, dulu kami sering saling berkunjung tempat kost….indahnya dunia! Kesibukan dunia yang membawa kami sudah memisahkan kami begitu jauh, Jakarta-Singapura. Beruntung ada ‘dunia blog’ yang memungkinkan setiap orang bertemu siapa saja, mulai yang kenalan baru hingga kasus sepertiku ini. Akhirnya,aku berjanji untuk bisa mengunjunginya secara fisik jika terbuka kesempatan untuk berjalan-jalan ke negeri seberang.

*terimakasih Inong…karenamu, dua kawan lama bisa bertemu….





Monolog: Ada yang Lebih Berarti

14 09 2006

Apa yang sudah atau pernah kita jalani dengan kecintaan dan ketulusan selama hampir separuh umur kita, biasanya memiliki arti yang sama dengan separuh nyawa kita. Sulit sekali untuk mampu membiasakan diri hidup tanpanya ketika itu sudah kita jadikan bagian dari sejarah. Itulah kenyataan yang terjadi dan kumengerti selama beberapa waktu ini. Tidak mengada-ada kalau kusebutkan disanalah,di dunia tari, separuh hidup dan nyawaku pernah mengalir sejak usia kecilku. Dan seluruhnya itu benar-benar kuhentikan dua tahunan yang lalu. Sekarang aku disini, di rumahku yang nyaman . Tidak pernah disibukkan lagi dengan jadwal sanggar yang bisa setiap saat berubah mengikuti kompromi seluruh anggota ataupun kunjungan-kunjungan beberapa hari keluar kota tanpa suami dan anak-anak. Apa yang hilang dan apa yang kudapat dari keputusanku?

Selama berminggu-minggu pertama setelah keputusan itu, yang sudah kupikirkan lama sebelumnya, tidurku ditemani banyak mimpi menyakitkan. Banyak telepon teman-temanku mempertanyakan hal itu, kenapa–bagi mereka–begitu mendadak terjadinya. Tawaran-tawaran pertunjukan juga masih sering datang membujuk dan menggoyahkan iman. Tetapi sebuah resolusi sudah kutancapkan tanpa emosi berlebihan. Tidak ingin kuubah untuk apapun meskipun bukan tabu karena perasaan selalu bisa dimengerti. Di luar itu semua, ada juga keanehan yang muncul. Dalam keseharianku sebagai sepenuhnya ibu rumahtangga, tidak kurindukan segala kegiatan yang dulu menyibukkan itu. Aku merasakan kedamaian lain dan tidak ingin mengoyaknya lagi. Kubayangkan jika saja aku menerima sebuah tawaran pementasan, banyak hal harus aku lakukan dan rasanya sudah malas menjalani segala keribetan itu. Di benakku, sedikitnya keheranan itu menyeruak juga. Sungguh di luar perkiraanku dan justru membuatku bertanya sendiri mengapa bisa terjadi seperti itu mengingat besarnya waktu hidup yang kucurahkan kesana sebelumnya.

Aku menikmati keberadaanku sekarang yang setia menunggu kekasih-kekasihku kembali dari tugas-tugasnya. Dengan tetap menjalin komunikasi dengan teman-teman sanggar dan menghadiri pementasan-pementasan yang melibatkan mereka sebagai peraga, aku merasakan bahwa hidup ini sudah cukup berarti tanpa ingin menengok pada jalan di belakangku. Aku hanya perlu meneruskan hidup ini berbekal apa yang kudapat sebelumnya tanpa harus memungut apa yang tercecer di belakang.
Tetapi manusia selalu unik dengan segala yang melengkapi pikiran dan perasaannya. Tiba-tiba aku merasakan hal yang lain ketika suatu hari dalam minggu yang lalu menghadiri undangan peristiwa ruwatan seorang kerabat suamiku. Selayaknya upacara ruwatan, selalu dipentaskan wayang kulit yang berkaitan ceritanya dengan inti upacara itu sendiri. Ceritanya tidak penting bagiku, tetapi pertunjukan wayang itu sendiri yang memberikan kesan khusus bagiku. Wayang kulit dengan gamelannya, pocapan dalang, sabetan wayang, semuanya memberikan selarik puisi perih dan segores luka dalam kalbuku. Titik bening menyembul di sudut mataku tanpa kuinginkan dan entah untuk alasan apa. Kelebatan sosok diriku di atas pentas dengan segala atribut dan gerak yang mengalir seiring gamelan mengalun, mengapa jelas terpampang di hadapan mata ini? Namun kehadiranku disana tidak untuk mengorek harta sejarah yang sudah kupendam. Maka dengan kemampuan seorang makhluk dewasa di tengah khalayak ramai, pentas puisi hati tanpa skenario itu bisa berakhir. Dan aku pulang ke rumah dengan merindukan ketenangan pondok yang kumiliki, tempatku memperoleh jawaban dari pertanyaan yang mungkin belum tuntas kuselesaikan.

Hari ini setelah kudapatkan waktu beberapa hari menghabisi gundahku, akhirnya kuinginkan dramaku sendiri tercetak untuk kenangan. Aku mungkin kehilangan nikmatnya rasa ‘hilangnya diri dalam alunan gamelan’, seperti yang dulu selalu terjadi ketika aku menari. Aku menyadari bahwa aku sungguh cinta pada tari itu sendiri dan tidak bisa hilang dengan sebuah keputusan besar yang sudah aku buat. Aku mungkin akan selalu rindu untuk bergerak mengikuti rasaku ketika mendengar suara gamelan. Tetapi aku mengerti, keputusanku tidak salah. Aku tidak menyesal. Airmataku mungkin akan mengalir ketika kerinduan itu datang, tetapi aku tidak ingin kembali kesana. Hidup harus berjalan dan memang kudapatkan apa yang dulu selalu dikalahkan jadwal bertumpuk. Aku bahagia memiliki waktu lebih untuk berlibur, bercengkerama dan tertawa bersama suami dan anak-anakku. Tak perlu aku bingung mencari alasan ketidakhadiranku pada jadwal yang telah disepakati atau mengorbankan senyum anak-anak untuk bermain bersamaku. Meningkatnya prestasi anak-anakku kini, adalah lebih karena kelegaan mereka untuk tahu bahwa aku ada saat mereka kembali ke rumah. Maka ‘rasa’ku sudah memiliki rumahnya yang sebenarnya. Dan yang kukenang dulu, tak akan pernah hilang oleh rasa sakit apa pun. Semuanya justru terus meninggalkan jejaknya dalam setiap hal yang kulakukan saat ini. Ada yang lebih berarti buatku saat ini dibandingkan sebuah rasa sejarah. Karena yang sekarang ada bersamaku hanya ada karena yang dulu pernah hadir sebagai nyawaku. Mungkin nantinya akan kuberikan rasa ini pada siapa saja yang ingin menikmatinya, meskipun kualifikasiku bukan disana. Tetapi setidaknya bisa dicoba.





Menjadi Yang Baik dan Dicintai

7 09 2006

Beberapa hari ini hati saya tersentuh oleh sebuah berita yang sudah berlalu lebih dari sepekan. Tetapi saya tidak bisa langsung menuliskan apa yang tercatat dalam kalbu ini karena ingin benar-benar meresapkan dulu segala kesan yang saya dapat dari berita itu. Beritanya sendiri tentang seseorang yang sama sekali tidak saya kenal. Tetapi saya beruntung ketika pertama kali berniat untuk ikut-ikutan meramaikan dunia para blogger, blog beliau ini adalah salah satu yang saya baca dan pelajari. Jadi ya saya mengetahui sosoknya hanya dari blog miliknya yang beberapa kali saya baca itu : zidansyifa.blogspot.com Pemiliknya dipanggil dengan nama Inong. Yang membuat saya kaget adalah berita meninggalnya beliau ini. Sempat tidak percaya, apalagi berita itu saya dapat melalui ketidaksengajaan. Tapi setelah berkunjung ke beberapa blog lain untuk mencari tahu, ternyata memang benar. Inong masih muda, setidaknya lebih muda dari saya. Tapi tampaknya dia dikenal sebagai seseorang yang memiliki kualitas kepribadian yang bisa memberi kesan baik, menyenangkan, dan layak untuk dikenang. Jika berkaitan dengan usia yang saya katakan tadi, maksudnya adalah, kepribadian itu juga layak untuk diteladani bahkan oleh mereka yang usianya lebih tua darinya.

Kepribadian setiap manusia itu unik, sebagiannya sudah terbawa sejak manusia itu dilahirkan dan sulit diubah. Tapi sebagian lagi saya percaya bisa dibentuk. Untuk yang bisa dibentuk ini tentunya memerlukan proses belajar dari kepribadian manusia-manusia lain di sekeliling kita dan juga niat sungguh-sungguh untuk selalu meningkatkan kualitas kepribadian kita. Untuk saya, salah satunya adalah seperti kepribadian Inong yang saya tangkap kesan baiknya dari apa yang saya baca di tulisan-tulisan para blogger.

Inong adalah ibu rumahtangga biasa seperti saya. Kesibukannya yang utama pastilah mengurusi suami, anak-anak yang dua orang itu dan urusan pekerjaan rumah lainnya. Dalam pekerjaan rumah, Inong tampaknya menonjol di bidang masak-memasak termasuk kue-kue. Dan kepandaian itu diperkuat lagi dengan membuat Dapur Bunda yang tampaknya menjadi usaha bisnis juga. Bersama DB itu Inong menerima pesanan-pesanan makanan dan juga memberikan kursus memasak kepada siapa saja yang berminat. Resep-resepnya juga dibagikannya melalui dunia maya ini. Untuk soal anak-anaknya, Inong selalu menjadi ibu dan pengamat yang baik dalam setiap perkembangan buah hatinya. Dan dituliskannya segala kelucuan anak-anaknya di dalam blognya itu. Hal ini banyak juga yang melakukannya karena memang dunia kaum ibu terpusat pada tumbuh kembang keluarga terutama anak-anaknya. Dan tentu saja setiap ibu memiliki kebanggaan tersendiri terhadap buah hatinya yang selalu ingin dibagikan ceritanya kepada orang lain. Inong juga masih menyempatkan berkumpul dengan teman-temannya sehingga jauh dari kesan ibu rumahtangga yang kuper. Lalu, kalau semua itu juga banyak dilakukan oleh kaum ibu, apa yang membuatnya berbeda sehingga meninggalkan kesan yang dalam bagi orang lain.

Dari apa yang saya baca, Inong adalah pribadi yang hangat dan terbuka. Artinya, beliau ini suka berteman dengan siapa saja. Tidak membatasi diri untuk orang-orang yang mungkin tidak sesuai dengan minat dan pembawaan dirinya. Bahasa sederhananya adalah ramah. Untuk kepandaiannya, Inong juga sangat bersedia berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Rumahnya tampaknya juga terbuka untuk siapa pun yang mau berteman dan berkunjung kesana. Dengan hal-hal seperti itu, saya duga, tidak banyak kedukaan yang ingin dia bagi bersama orang-orang yang mengenalnya. Hanya senyum dan kebahagiaan yang ingin dia lihat di wajah-wajah sahabat-sahabatnya. Inong bisa melakukan semua itu, pastilah karena memiliki cinta yang begitu besar dan tak habis untuk dibagikan. Cinta kepada suami, kepada anak-anaknya, keluarga besarnya, sahabat, kepada kehidupan yang dijalani dan juga Sang Khalik. Maka, cinta yang begitu besar juga yang didapatkannya sebagai imbalannya. Kepergiannya ditangisi banyak orang hingga mereka-mereka yang belum sempat mengenalnya secara pribadi, menjadi pembuktian yang sangat sulit dielakkan. Bahkan saya yang juga sama sekali tidak mengenalnya, memiliki kesan yang sulit dikatakan terhadapnya. Subhanallah.

Mempelajari Inong, tidakkah kita semua ingin mendapatkan seperti apa yang didapatkannya? Tidakkah kita ingin dicintai dan dikenang oleh begitu banyak orang? Mungkin kita harus bertanya lagi, apa yang sudah kita perbuat untuk keinginan itu? Tidak ada gunanya kepergian Inong kita tangisi, jika apa yang sudah diberikannya kepada kita tidak kita pergunakan sebaik-baiknya. Lebih dari sekedar resep, tawa ceria dan cerita-cerita indah yang sebenarnya dia bagikan. Teladannya untuk kita ikuti rasanya lebih pantas untuk mengenang Inong, sehingga masing-masing kita juga bisa menjadi sosok-sosok yang selalu dirindukan. Semakin banyak sosok seperti Inong, semakin indah bumi ini.





Sulit Dijelaskan

5 09 2006

Beberapa lama dengan berbagai kesibukan dan kondisi kesehatan yang sedang tidak begitu baik, membuat saya tidak banyak menghabiskan waktu dan pandangan mata ke layar komputer. Keinginan untuk membuka mata terhadap perjalanan waktu dan dunia sekitar, tinggal lagi dari majalah, koran, tabloid dan TV. Berita koran lebih banyak yang menyedihkan karena melulu soal pertengkaran politik, ego, bencana dan segala yang lebih sering bersifat merusak. Waduuh…manusia rasanya makin jauh dari tobat. Pindah ke tabloid dan TV? Hampir sama, terlebih lagi yang gosip artis, sedikit yang membuat saya ikut tersenyum karena adanya harapan tentang hari-hari yang lebih indah dari sekedar pertengkaran.
Eh, tapi…ada satu berita yang beberapa minggu ini menonjol dan membuat saya tersenyum. Yah, ada setitik cinta disana. Hehehe…maaf, buat saya soal cinta ini selalu mengandung harapan dan semangat hidup, damailah rasanya. Wah, sok-sok melow mungkin…hmm.

Yah, sayatertarik juga membaca berita pernikahan artis kondang Malaysia itu, Siti Nurhaliza. Heh ? Apa yang menarik? Apa bedanya dengan artis lain? Entahlah. Sebelum ini, saya tidak pernah menjadi penggemar si Siti ini. Tidak pula tidak suka, cuma biasa-biasa saja. Malah melihat banyaknya penggemarnya, terutama kaum adam, sering saya membahas dengan suami tentang hal apa yang menarik dari Siti sampai begitu banyak yang jatuh bangun karenanya. Suara, tidak istimewa sekali atau khas seperti Whitney Houston, Vina Panduwinata, tidak berciri khas khusus maksudnya, sehingga hanya mendengar suaranya saja sudah tahu siapa penyanyinya. Cantik, juga yang biasa saja dan tidak semenyegarkan Dian Sastrowardoyo. Santun, normallah sebagai orang Melayu dan banyak yang seperti itu. Toh begitu, membuat saya dan suami melihat di TV bagaimana sampai terbaca dari bahasa tubuhnya bahwa seorang Aa Gym pun sempat salah tingkah di dekatnya dan istrinya tampak cemburu. Hihihi…kenapa Siti Nurhaliza ini sih? Saya tidak tahu keistimewaan dia, tapi berita pernikahannyalah yang justru memberi kesan lebih buat saya. Kok, saya yang tidak pernah nge-fans sampai terharu menyaksikannya di TV?

Berita pernikahan, bagi siapapun yang melihat atau sekedar mengetahuinya, adalah berita bagus, berita gembira. Atau minimal, untuk orang-orang yang tidak ada keterkaitan apa-apa, itu bukan berita sedih. Jarang yang sebaliknya, kecuali ada kasus tertentu. Di dalam kabar gembira itu, ada unsur harapan tentang esok hari yang lebih baik, ada doa-doa baik dari orang-orang yang mencintai mereka yang menikah, ada cerita-cerita lama yang tidak perlu yang harus ditutup dan membuka halaman putih yang baru. Dan keturunan yang akan semakin meramaikan dunia yang sudah sesak ini. Hidup terasa lebih berwarna. Semua orang inginnya diundang untuk ikut berbagi tawa, berbagi sukacita, sampai tiba-tiba gigi terasa kering…
Itulah rata-rata situasi yang terjadi di kalangan biasa. Nah, untuk kalangan pesohor, orang terkenal, situasinya lebih jauh lagi.

Kebahagiaan para selebriti ketika menikah itu biasanya dibagi juga dengan para penggemarnya. Supaya para penggemar ikut merasa senang dan terus mendukung dia. Jelasnya, sebagai satu sarana marketing, berita bahagianya itu adalah sebuah promosi untuk membuat namanya tetap berkibar dan tetap dengan citra yang baik. Yang terlihat di kamera adalah senyum mengembang dan tawa lebar mereka. Beberapa malah jadi berlebihan dalam menunjukkan kegembiraan itu sehingga kesan yang didapat malah seperti orang bersandiwara. Entahlah, mungkin karena terbiasa bersinetron hingga terbawa dalam keseharian, atau memang ada yang disandiwarakan, aura itu seringkali terlihat juga di mata penontonnya.Setidaknya di mata saya. Sehingga ketika melihat para pelaku dunia hiburan itu menikah, entah bagaimana ada sebagian dari perasaan saya kadang meragukan keabadian mahligai bentukan mereka itu, tapi kadang perasaan saya juga ikut terbawa suka cita. Semua hanya karena wajah-wajah yang mereka tunjukkan di TV saat momen itu terjadi. Dan saya bukanlah dukun, ketika beberapa yang saya ragukan itu ternyata dalam hitungan umur jagung sudah berpisah lagi. Begitupun untuk pernikahan Siti Nurhaliza ini, perasaan saya juga terbawa penuh sukacita. Dan lebih dari sekedar gembira, ada titik airmata bahagia dan keharuan untuk dia. Sekali lagi, saya bukan penggemarnya. Bibir Siti hanya tersenyum dan tertawa wajar seperti biasanya dia menyambut penggemarnya. Juga senyuman Datuk K, wajar saja. Tapi disana, saya melihat ada ketulusan. Kejujuran pada perasaan cinta mereka. Ada penghayatan yang begitu dalam terhadap momen itu sebagai sebuah peristiwa besar, bersejarah dan sangat menentukan langkah hidup selanjutnya. Bukan sebagai sebuah panggung untuk membuat namanya tetap eksis. Bukan hanya sebagai sebuah proses hidup biasa yang bisa lewat begitu saja. Untuk beberapa waktu, mereka sangat tampak menjadi milik dirinya sendiri, bukan milik publik yang harus dijaga tak bercela. Dan saya mengagumi keaslian itu, bukan pada kemewahan pestanya. Kaum pesohor menikah, wajar saja jika mewah semewah-mewahnya. Wajar saja siapapun penggede lain yang hadir disana. Dan saya juga mengagumi besarnya Keagungan dan Kekuasaan Allah SWT. Betapapun sang Datuk pernah bersama orang lain, tetapi ketika Allah menghendaki dirinya menjadi milik seorang Siti Nurhaliza, maka keindahan pun tidak terelakkan. Tidak tahulah seindah bagaimana momen pernikahan pertamanya dulu. Dan saya selalu terharu dengan keindahan yang terjadi ketika seseorang memberi dan menerima cinta yang begitu besarnya dari belahan jiwanya. Auranya pasti terasakan oleh orang-orang yang melihatnya. Dan sulit sekali dijelaskan, bagaimana hal itu bisa terjadi. Pasti tidak jauh-jauh dari energi positifnya.