Bulan Puasa, pastinya ditunggu-tunggu semua umat Islam. Terutama di Indonesia ini, suasana yang menyertai ibadah di bulan itu benar-benar membuat orang kangen. Menyiapkan hidangan buka puasa dan sahur yang malah menggagalkan proses detoksifikasi dan penurunan berat badan, jalan-jalan dan bersepeda pagi setelah sholat subuh, berbagai undangan buka bersama dan berbondong ke mesjid atau langgar untuk tarawih, semuanya bermuara pada peningkatan ukhuwah yang mungkin agak merenggang di bulan-bulan biasa. Belum lagi sibuknya ibu-ibu berbelanja dan membuat kue-kue lebaran, yang bahkan sudah dimulai di awal-awal puasa. Maklum, itu adalah satu kesempatan besar untuk menangguk rejeki tambahan dengan menjual kue-kue kering beraneka rupa. Bagi yang tidak ikut berbisnis, setidaknya ritual ini menjadi ajang untuk menangguk cinta yang lebih besar dari suami karena membuat kue sendiri untuk menyambut tamu-tamu dan berhalal bi halal.
Lalu, bagi ibu-ibu yang masih memiliki anak kecil yang belum mengenal puasa, pastinya juga bersiap-siap dengan kamus jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang bakal dihadapi dalam mensosialisasikan ibadah ini pada sang buah hati. Bagiku, ini sebuah medan yang cukup berat. Bukan apa-apa, tetapi aku memang perlu ekstra bersabar melakukan hal ini, terutama untuk si bungsu , Rayi. Memang, setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kita orangtuanya Dilarang Keras membandingkan apalagi berharap untuk bisa bersikap sama terhadap setiap anak. Hanya saja dengan mencermati setiap keunikan mereka adalah sebuah hal yang sesungguhnya manis sekali untuk dilakukan. Karena biasanya sambil membicarakan tingkah masing-masing anak itu, senyum bahkan tawa geli pun ikut mengembang di bibir kita.
Dulu sang sulung, Ari, menghadapi puasa dengan keseriusan seorang anak. Dia mendengarkan sungguh-sungguh ketika kami memberitahunya arti dan tujuan puasa. Juga ketika aku menceritakan pengalaman puasa di waktu kecil, kelihatan sekali dia terkesan dan berusaha menyamai kemampuan menahan lapar haus saat usia 9 tahun selama sebulan penuh tanpa bolong. Dia menyerap kata-kataku, bahwa semuanya hanya bisa terjadi kalau kita memiliki niat yang kuat. Memang pernah juga sebagai anak yang baru belajar puasa, dia beberapa kali gagal dan mengatakan, “Ibu…aku nggak kuat..”. Tapi ketika kami memotivasinya lagi, maka dia pun akan berusaha bertahan sehingga akhirnya kelas 3 SD puasanya sudah mulai sempurna (tidak memperhitungkan emosi). Lalu bagaimana dengan si bungsu?
Kemarin, selama di perjalanan ketika bepergian, dia menangis. “Ibu..aku nggak kuat…huhuhuhu..” Dengan segala daya kita kuatkan hatinya karena sebenarnya waktunya sudah tanggung, jam 15.00. Dan dari ekspresinya, dia hanya menunjukkan bahwa dirinya sedang ingin diperhatikan saja. Fisiknya sendiri cukup kuat, terlebih selama ini dia juga susah makan.Bukan menyepelekan, tapi lapar bukanlah halangan utamanya. Kami ajak dia berjalan-jalan mencari kue untuk berbuka bersama keluarga besar, J-CO Donuts and Coffee. Donat made in Indonesia ini memang selalu antre panjang untuk membelinya. Sambil antre, dia pun menggelendot padaku. Tiba-tiba, dia katakan,” kalau ibu mau bikin aku senang, ibu hibur aku dong…kita ke Time Zone !” Wiiih…itu alasan hari itu. Hari ini, dia berulah lagi. Menangis lagi, tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Sewaktu kesekian kalinya dia minta untuk membatalkan puasa, aku akhirnya menjawab, ” Ibu nggak mau mengiyakan atau melarang adhek batal puasa. Adhek bisa merasakan sendiri kebutuhan badannya, ibu nggak akan marah apa pun kebutuhan adhek”. Ya, aku memang selalu bicara lugas pada anak-anakku dan selalu diberi alasan untuk mereka menggunakan logika mencerna kata-kataku. Akhirnya, dia pun minum. Dan aku melihat alasannya batal puasa hari ini. Donatnya masih ada dan itu kesukaan dia. Salahku, kurang rapi menyimpannya. Maaf ya, dhek…
Yah…untuk Rayi, aku memang harus lebih bersabar, sesuatu yang sulit sekali buatku si Jawa Timur ini. Tapi, inilah seninya menjadi seorang ibu. Dengan segala kerepotan seperti itu, aku selalu punya cerita untuk dibagi dengan suamiku dan kami pasti tertawa bersama setelahnya. Aku juga selalu punya kesempatan untuk memutar otak, mencari cara lain memberi pengertian pada anakku. Satu hal yang pasti, anakku tidak mau berbohong dengan membatalkan puasanya di luar rumah dan pura-pura puasa di depan kami. Kalau mereka ingin batal puasa ya secara terus terang dikatakan, ” Ibu…aku nggak kuat…”

Komentar Terakhir