Sulit Dijelaskan

5 09 2006

Beberapa lama dengan berbagai kesibukan dan kondisi kesehatan yang sedang tidak begitu baik, membuat saya tidak banyak menghabiskan waktu dan pandangan mata ke layar komputer. Keinginan untuk membuka mata terhadap perjalanan waktu dan dunia sekitar, tinggal lagi dari majalah, koran, tabloid dan TV. Berita koran lebih banyak yang menyedihkan karena melulu soal pertengkaran politik, ego, bencana dan segala yang lebih sering bersifat merusak. Waduuh…manusia rasanya makin jauh dari tobat. Pindah ke tabloid dan TV? Hampir sama, terlebih lagi yang gosip artis, sedikit yang membuat saya ikut tersenyum karena adanya harapan tentang hari-hari yang lebih indah dari sekedar pertengkaran.
Eh, tapi…ada satu berita yang beberapa minggu ini menonjol dan membuat saya tersenyum. Yah, ada setitik cinta disana. Hehehe…maaf, buat saya soal cinta ini selalu mengandung harapan dan semangat hidup, damailah rasanya. Wah, sok-sok melow mungkin…hmm.

Yah, sayatertarik juga membaca berita pernikahan artis kondang Malaysia itu, Siti Nurhaliza. Heh ? Apa yang menarik? Apa bedanya dengan artis lain? Entahlah. Sebelum ini, saya tidak pernah menjadi penggemar si Siti ini. Tidak pula tidak suka, cuma biasa-biasa saja. Malah melihat banyaknya penggemarnya, terutama kaum adam, sering saya membahas dengan suami tentang hal apa yang menarik dari Siti sampai begitu banyak yang jatuh bangun karenanya. Suara, tidak istimewa sekali atau khas seperti Whitney Houston, Vina Panduwinata, tidak berciri khas khusus maksudnya, sehingga hanya mendengar suaranya saja sudah tahu siapa penyanyinya. Cantik, juga yang biasa saja dan tidak semenyegarkan Dian Sastrowardoyo. Santun, normallah sebagai orang Melayu dan banyak yang seperti itu. Toh begitu, membuat saya dan suami melihat di TV bagaimana sampai terbaca dari bahasa tubuhnya bahwa seorang Aa Gym pun sempat salah tingkah di dekatnya dan istrinya tampak cemburu. Hihihi…kenapa Siti Nurhaliza ini sih? Saya tidak tahu keistimewaan dia, tapi berita pernikahannyalah yang justru memberi kesan lebih buat saya. Kok, saya yang tidak pernah nge-fans sampai terharu menyaksikannya di TV?

Berita pernikahan, bagi siapapun yang melihat atau sekedar mengetahuinya, adalah berita bagus, berita gembira. Atau minimal, untuk orang-orang yang tidak ada keterkaitan apa-apa, itu bukan berita sedih. Jarang yang sebaliknya, kecuali ada kasus tertentu. Di dalam kabar gembira itu, ada unsur harapan tentang esok hari yang lebih baik, ada doa-doa baik dari orang-orang yang mencintai mereka yang menikah, ada cerita-cerita lama yang tidak perlu yang harus ditutup dan membuka halaman putih yang baru. Dan keturunan yang akan semakin meramaikan dunia yang sudah sesak ini. Hidup terasa lebih berwarna. Semua orang inginnya diundang untuk ikut berbagi tawa, berbagi sukacita, sampai tiba-tiba gigi terasa kering…
Itulah rata-rata situasi yang terjadi di kalangan biasa. Nah, untuk kalangan pesohor, orang terkenal, situasinya lebih jauh lagi.

Kebahagiaan para selebriti ketika menikah itu biasanya dibagi juga dengan para penggemarnya. Supaya para penggemar ikut merasa senang dan terus mendukung dia. Jelasnya, sebagai satu sarana marketing, berita bahagianya itu adalah sebuah promosi untuk membuat namanya tetap berkibar dan tetap dengan citra yang baik. Yang terlihat di kamera adalah senyum mengembang dan tawa lebar mereka. Beberapa malah jadi berlebihan dalam menunjukkan kegembiraan itu sehingga kesan yang didapat malah seperti orang bersandiwara. Entahlah, mungkin karena terbiasa bersinetron hingga terbawa dalam keseharian, atau memang ada yang disandiwarakan, aura itu seringkali terlihat juga di mata penontonnya.Setidaknya di mata saya. Sehingga ketika melihat para pelaku dunia hiburan itu menikah, entah bagaimana ada sebagian dari perasaan saya kadang meragukan keabadian mahligai bentukan mereka itu, tapi kadang perasaan saya juga ikut terbawa suka cita. Semua hanya karena wajah-wajah yang mereka tunjukkan di TV saat momen itu terjadi. Dan saya bukanlah dukun, ketika beberapa yang saya ragukan itu ternyata dalam hitungan umur jagung sudah berpisah lagi. Begitupun untuk pernikahan Siti Nurhaliza ini, perasaan saya juga terbawa penuh sukacita. Dan lebih dari sekedar gembira, ada titik airmata bahagia dan keharuan untuk dia. Sekali lagi, saya bukan penggemarnya. Bibir Siti hanya tersenyum dan tertawa wajar seperti biasanya dia menyambut penggemarnya. Juga senyuman Datuk K, wajar saja. Tapi disana, saya melihat ada ketulusan. Kejujuran pada perasaan cinta mereka. Ada penghayatan yang begitu dalam terhadap momen itu sebagai sebuah peristiwa besar, bersejarah dan sangat menentukan langkah hidup selanjutnya. Bukan sebagai sebuah panggung untuk membuat namanya tetap eksis. Bukan hanya sebagai sebuah proses hidup biasa yang bisa lewat begitu saja. Untuk beberapa waktu, mereka sangat tampak menjadi milik dirinya sendiri, bukan milik publik yang harus dijaga tak bercela. Dan saya mengagumi keaslian itu, bukan pada kemewahan pestanya. Kaum pesohor menikah, wajar saja jika mewah semewah-mewahnya. Wajar saja siapapun penggede lain yang hadir disana. Dan saya juga mengagumi besarnya Keagungan dan Kekuasaan Allah SWT. Betapapun sang Datuk pernah bersama orang lain, tetapi ketika Allah menghendaki dirinya menjadi milik seorang Siti Nurhaliza, maka keindahan pun tidak terelakkan. Tidak tahulah seindah bagaimana momen pernikahan pertamanya dulu. Dan saya selalu terharu dengan keindahan yang terjadi ketika seseorang memberi dan menerima cinta yang begitu besarnya dari belahan jiwanya. Auranya pasti terasakan oleh orang-orang yang melihatnya. Dan sulit sekali dijelaskan, bagaimana hal itu bisa terjadi. Pasti tidak jauh-jauh dari energi positifnya.


Tindakan

Information

3 tanggapan ke “Sulit Dijelaskan”

6 09 2006
Muhammad Mufti (01:15:00) :

Temanku juga sangat gandrung sama Siti, sampe2 layar monitor komputer and HP nya dipajang gambar Siti banyak sekali. Tahu Mbak apa yang istimewa dari Siti? Kalau menurut pandanganku sih dia itu imut-imut, senyumnya juga manis and dia cepat akrab sama orang lain (ramah). Yang sulit dijelaskan adalah pancaran aura dirinya benar2 mengandung energi positif. Penilaian orang bisa saja beda karena sifatnya relatif subjektif….

6 09 2006
endangwithnadina (14:24:00) :

orang-orang yang selalu bisa memancarkan energi positifnya itu selalu menarik untuk dipelajari spy kita juga bisa meniru.Bisa nggak ya?Demi kebaikan…

7 09 2006
Muhammad Mufti (01:11:00) :

Bisa mbak, pelatihan ESQ-nya Ary Ginanjar Agustian berupaya untuk itu. Kalau rutin mengikuti dzikirnya Arifin Ilham, Insya Allah energi kita pasti positif.

Tinggalkan komentar

kamu dapat menggunakan tag-tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>