Wisata Toko Oen

31 10 2006

Selama ini setiap kali kami pulang ke Malang dan berkumpul dengan keluarga besar mertua, ada satu hal yang selalu kami,para wanita, lakukan bersama-sama. Memasak. Kegiatan yang tidak ingin aku lakukan jika suasananya adalah berlibur dan ingin bersantai. Terlebih jika libur itu kembali ke kota kelahiran kami, maka hal pertama yang justru ingin aku lakukan adalah berwisata kuliner (mungkin istilah ini sebaiknya dipatenkan Pak Is, karena makin sering dipakai ya…). Masakan Rawon, Rujak Cingur, Tahu Campur Lamongan, sebenarnya sering juga kami masak sendiri di rumah. Tetapi membeli di tempat aslinya, tentu lebih afdhol rasanya. Berhubung kapasitas perut toh tidak mungkin diisi terus menerus, tentu kami harus mampu memilah makanan mana saja yang benar-benar enak dan memang ingin kami telan masuk perut. Karenanya, makanan rumahan pun rasanya tidak diperlukan lagi. Tetapi selalu saja ada alasan yang membuat aku harus melakukan sharing masak memasak ini supaya tidak ada masalah lain yang tidak perlu.

Tahun ini adalah tahun kedua keinginan wisata kulinerku tercapai. Salah satu sebab, motor penggeraknya tidak mudik. Maka aku pun sebagai urutan kedua tertua disana, bisa lebih bebas mengatur jadwal kegiatan hari-hari disana. Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi dan selalu batal adalah rumah makan sejak jaman mertua kami yang sangat sepuh itu, Toko OEN. Meski aku adalah orang Malang (aku selalu bilang akarku adalah Surabaya, Malang dan Kebumen), tetapi sejak kecil bapak ibu belum pernah mengajakku kesana. Begitu juga pak Uban. Dan aku mulai protes padanya, sehingga apa pun yang terjadi, tahun ini harus bisa kusambangi tempatnya.

Toko Oen ini lebih terkenal sebagai toko kue, roti dan es krim yang enak tempat para orang gedongan berkunjung. Sekarang, entah sejak tahun berapa, mulai berkembang menjadi restoran. Dan yang terkenal kabarnya adalah Steak Lidah Sapi. Bahkan si artis sinetron Alyssa Soebandono pun selalu mencari steak ini setiap kali pulang ke Malang. Jangan bayangkan penampilannya seperti steak di resto-resto mahal, tetapi rasanya tidak kalah enak. Kentangnya bukan french fries, tapi kentang kecil biasa yang dibelah dua dan digoreng. Tentunya dilengkapi buncis, kembang kol dan jagung manis serta brown saucenya. Menu lainnya juga banyak dan di dalam buku menunya disajikan dengan dua bahasa, terutama untuk masakan-masakan Eropa. Aku sendiri mencoba Prawn Steak yang enak sekali meski tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Dengan dua menu berbeda seperti yang kami pesan, tentunya kami bisa saling ‘tukar cicip’ tanpa takut kekenyangan dan tidak bisa berjalan lagi. Bapak ibu mertua memesan sop buntut, lalu ada adik-adik yang memesan mie goreng, nasi goreng, galantine steak, sate ayam, dan aneka es krim. Untuk es krim, ada yang disebut Sparkling Delight. Penasaran dengan namanya yang menggiurkan itu, keponakan kami pun mencoba satu porsi. Ternyata isinya adalah es krim yang diberi buah koktil dan di atasnya diberi hiasan kembang api menyala. Wow! Untuk anak-anak, tentu sangat menggugah selera, meski nyala kembang apinya tidak lebih dari lima menit. Sayangnya keterbatasan daya tampungku menghalangi niatku untuk mencicipi berbagai es krim di sana. Ingin tahu, itu pasti. Dan pasti juga menjadi obsesiku untuk mencobanya di tahun depan.

Sebenarnya, makan di sini lebih karena ingin menikmati suasananya yang khas jaman dulu. Jadi faktor emosinya lebih mengemuka untuk bernostalgia, mendengar cerita dari bapak ibu tentang masa muda mereka. Sambil mendengar cerita, pandangan diedarkan ke sekeliling ruangan. Di dinding seputar ruangan tergantung lukisan-lukisan toko Oen tempo doeloe yang menurutku tidak banyak perbedaannya dengan saat ini kecuali jalan di depan toko. Mulai dari pintu masuk, tampak sekali suasananya yang berbeda dengan bangunan-bangunan disekitarnya yang sudah modern. Lalu didalamnya ditata kursi-kursi rotan pendek dengan meja bundar kecil dan saya langsung membayangkan makan es krim di kursi-kursi itu, tentu akan lain rasanya. Di antara keja- kursi pendek itu ada juga meja makan tinggi persegi panjang yang lebih sesuai untuk makan bersama keluarga, seperti kami saat itu. Dan rupanya saat liburan seperti lebaran kemarin memang lebih banyak keluarga-keluarga yang bernostalgia di sana. Lalu ada juga piano di sudut ruangan bersebelahan dengan radio kuno indah dan mulus, yang sejak dulu ingin sekali kami miliki. Sayangnya memang tidak dijual jadi keinginan itu kami simpan lagi dalam hati. Jika memang ingin memiliki kenang-kenangan dari toko satu ini, kita bisa membeli kaos oblong bergambar Toko Oen tempo doeloe yang dijual disana. Lagi-lagi niat itu batal terlaksana karena ukurannya hanyalah XL dan L3, sementara kami berukuran maksimal M. Bayangkan jika kami memaksa memakai kaos itu, pasti sudah seperti orang-orangan sawah.

Tetapi apapun yang terjadi, tidak ada kamusnya kami boleh melewatkan kesenangan hari itu. Sehingga laksana turis mancanegara atau malah mungkin orang udik yang begitu senang mendatangi tempat baru, kami berfoto-foto terus di sekeliling ruangan. Tak peduli para waiter berbaju putih-putih itu terus memperhatikan. Mereka tentu saja senang melihat kami bertingkah begitu karena artinya Toko Oen akan terus dihargai orang sebagai ‘barang kuno’ yang abadi sepanjang masa dalam kemodernan. Mereka pun ramah dan tak segan minta maaf jika ada kekeliruan atau keterlambatan dalam menghidangkan pesanan . Lain waktu, kami akan berkunjung kembali kesana untuk memenuhi kebutuhan untuk selalu mengingat tempat-tempat yang akan terus mengikat kami kepada akar yang sebenarnya, seberapa jauh pun kami pergi mencari makan.





Semangat Setelah Lama Berselang…….

31 10 2006

Aku datang dari sebuah keluarga besar dengan ayah ibu yang beranak 5 (lima) orang dan 14 cucu. Ramainya bisa dibayangkan jika kami semua berkumpul terutama di momen-momen istimewa seperti hari Lebaran. Sungkeman pada bapak ibu yang semakin sepuh, kakak-kakak, lalu makan besar dan bercanda-canda dan terus begitu sampai malam menjelang. Suasana itu selalu ada sampai sekitar 5 tahun lalu. Semuanya mulai berubah seiring perkembangan yang terjadi di keluarga kami masing-masing serta perhatian yang harus dibagi dengan keluarga pasangan masing-masing.

Aku sendiri 5 tahun terakhir ini selalu berangkat mudik ke rumah mertua di Malang 2-3 hari sebelum Lebaran. Tidak adanya cuti yang bisa diambil suamiku untuk berlibur bersama, membuat libur Lebaran itu akhirnya digunakan juga untuk libur tahunan, berjalan-jalan dulu sebelum sampai di kampung halaman. Di keluarga kakakku, ada juga keponakanku yang sudah lama berpuasa dan berlebaran di negara Matahari Terbit karena kondisinya yang sedang studi di sana. Dan macam-macam kesulitan lainnya yang membuat keluarga besar kami akhirnya tidak bisa lengkap berkumpul. Ini membuatku sungguh kangen dengan suasana yang dulu lagi. Maka kuniatkan untuk tahun ini kuhapuskan jadwal liburan tahunan, khusus untuk berkumpul kembali sebelum mudik sore harinya. Dan aku berusaha keras agar semuanya berjalan seperti yang kurencanakan. Kebetulan meski aku adalah anak bungsu, aku terbiasa menjadi koordinator jika ada acara kumpul-kumpul begitu. Dan semua kakakku ‘manut’ dengan rencana yang kuatur. Semangat yang kupupuk mulai menjadi bara. Tetapi ternyata Allah Maha Pemurah karena lebih dari itu, kami semua mendapat kejutan manis. Wanto keponakanku tiba-tiba menyempatkan datang khusus untuk berlebaran di Indonesia. Sungguh-sungguh aku bersyukur telah berkeras hati untuk merayakan kembali hari H Idul Fitri di Jakarta.

Terus saja aku menabung suka ria di hari-hari terkhir puasa. Segalanya kupersiapkan sebaik mungkin secara fisik dan mental, baik itu untuk keluargaku sendiri maupun bapak ibuku. Mulai barang-barang keperluan mudik, rumah yang akan ditinggal beberapa hari, keperluan makan-makan di rumah ibu, hingga urusan perasaan bapak yang akan sangat kangen jika ditinggal cucu bungsunya mudik. Tidak lupa juga urusan pamitan dari dunia maya selama beberapa waktu, sebelum semuanya terlambat. Terakhir, sebelum esok paginya terlambat bangun sholat Ied, kuatur alarm seluler pukul 4.30, dan aku mulai istirahat dengan berbagai perasaan yang ada. Melupakan satu hal tentang alarm dan recurrent alarm….

Dan, krriiing….Allahu akbar…..Laa ilaha Ilallah huwallahu akbar, allahu akbar, Walilla Ilham….jebur…jebur….rreeerr….sret,sret…..,” Pak, bangun…jam 5, nanti telat sholatnya…” Pak Uban, anehnya malah memandang heran, melihat jam dan sejurus kemudian dia bertanya juga…,” Memangnya yang benar ini jam berapa? Bukannya masih jam 4?”….Kontan aku kaget dan seketika berusaha membantah. Tapi begitu kulihat semua jarum jam yang ada di rumah menunjukkan angka yang sama, aku cuma bisa melihat lagi diriku di kaca, rapi dengan dandanan dan tinggal melengkapinya dengan baju Lebaran baru. Ya ampun, ternyata aku bangun dan mandi jam 2.30 karena program recurrent alarm-ku masih program sahur. Sedangkan waktu yang kusetel untuk pagi itu, kumasukkan dalam program alarm biasa tanpa menyetel ulang recurrent-nya…walah, terlalu semangatnya aku hari itu, sampai tidak periksa-periksa lagi jam berapa saat alarm berbunyi. Tapi, semua tidak menyurutkan langkah persiapanku.

Sholat Ied pagi itu untuk pertama kalinya kulaksanakan di kompleks rumahku sendiri. Maka, memungkinkan aku bersalam-salaman langsung dengan tetangga segera setelah sholat selesai. Kembali ke rumah, aku semakin tidak sabar untuk segera pergi ke rumah ibu di Sunter. Karena aku akan berangkat mudik langsung dari Sunter, semua barang langsung kami masukkan ke mobil dan diatur agar perjalanan jauh nanti terasa nyaman. Semua kami lakukan dengan cepat, dan begitu selesai, kami pun segera mengunci rumah dan pergi ke tempat ‘perhelatan akbar’.
Disana, betapa senangnya aku karena suasana yang lama kurindukan itu kudapatkan kembali. Kami berkumpul di ruang keluarga, berfoto di teras, tahu kesempatan berkumpul lengkap seperti ini belum tentu ada lagi di tahun-tahun depan seperti yang pernah terjadi sebelum ini. Bahkan suasananys jauh lebih meriah, terutama karena kami mempunyai bahan obrolan dan candaan baru tentang rencana Wanto menyudahi kelajangannya. Semua bersahut-sahutan meledek dia sampai tidak satu kata pun mampu dia ucapkan untuk melawan selain hanya bisa tertawa dan tertawa. Kami juga terus makan apa saja yang kami rasa enak di lidah tanpa ingat lagi dengan detoksifikasi sebulan penuh sebelumnya. Sampai malam datang, satu persatu keluarga kakakku pamit pulang, aku juga pamit memulai perjalanan ke Jawa Timur. Kutitipkan kunci rumah pada kakak yang tinggal berdekatan denganku,dan…ternyata ini menyisakan kehebohan lain di akhir perjalanan Lebaranku….





Pamit Lebaran

19 10 2006

Aku mudik juga aahh….. Sampai ketemu lagi !!!





Romantisme Dapur

19 10 2006

Ini adalah cerita tentang Pak Ubanku,lagi. Dia ini orang yang tergolong pendiam, dalam arti kata sesungguhnya yang tidak banyak berkata-kata. Namun begitu, banyak juga cerita lucu tentang tingkah lakunya. Malah dalam banyak kejadian ketika ada kesempatannya mengeluarkan sebaris kalimat saja, orang bisa terkekeh, terpingkal-pingkal geli mendengarnya.Jika kesempatan itu datang, maka orang yang berada di dekatnya akan lupa bahwa biasanya dia adalah sosok yang disegani. Sebagian malah takut kepadanya, karena sikap diamnya itu. Namun bagiku yang sudah mengenalnya selama 20 tahun lebih, dia adalah sosok yang selalu membuatku kangen (aku lebih suka kata “kangen” daripada “rindu”),lengkap dengan kediaman maupun kekonyolannya. Sore ini adalah salah satu contohnya.

Kebetulan kedua kekasih kecilku tidak ada di rumah sehubungan kegiatan buka puasa bersama di tempat les bahasa Inggrisnya. Aku, yang memiliki jadwal masak sore hari khusus bulan puasa, sibuk mempersiapkan segala sayur mayur,ikan dan bumbu-bumbu di dapur. Pada saat bersamaan, Pak Uban berhasil melarikan diri dari kantornya dan sudah muncul di muka rumah satu jam menjelang buka puasa. Dari pintu dapur, kulihat Pak Uban turun mobil membuka pagar rumah. Ada yang berbeda dari penampilannya. Bukan karena dia mengenakan kemeja pengganti seragam dinasnya. Tetapi karena kemeja itu tidak pernah ada dalam lemari kami sebelumnya. Wah,.. rupanya ada acara belanja mendadak,pikirku. Benar saja, belanja kemeja itu terpaksa dilakukannya. Kegiatan kerja Pak Uban memang mengharuskannya tiba-tiba janji bertemu dengan beberapa orang di luar kantor dan selalu dilakukannya tanpa seragam dinas. Karena itu di dalam mobil selalu digantungkan pakaian ganti, dan hari ini kebiasaan itu luput dari perhatian. Kuamati kemeja baru itu, bagus juga kelihatannya. Sebagai perempuan, pertanyaan yang langsung kulontarkan adalah,” berapa harganya,Pak?” Mendadak dia tertawa dan mengomel. Katanya,” Aku nggak lihat harganya, tau-tau di kasir ditagih Rp. 800 ribu untuk 2 baju,bu…!”. ” Apaaaa…???!!!” Geleng kepala, aku cuma bisa membatin bahwa ini kemeja termahal dalam sejarah hidup kami. Dan kebobolan ini terjadi hanya karena kebiasaan jeleknya tidak pernah mau teliti sebelum membeli. Yah…kami nikmati saja cerita itu untuk hiburan sore hari di dapur, meski dengkul ini mendadak lemas. Sementara Pak Uban terus saja mengeluarkan unek-unek kejengkelannya dengan menunjukkan baju-baju yang sudah membuatnya terpaksa ‘mempertahankan harga diri menutup malu’ di muka kasir. Rasakan….

Berusaha memusatkan perhatian pada tugas utama memasak, aku terus mengupas, memotong sambil geleng kepala terus. Sekonyong-konyong, tampak kulihat ada yang menggeliat pelan di antara sayuran yang sedang kupotong. Hijau, panjang, gendut, lebih besar dari yang biasa….”Wwaaaa……..paaakk….uletnya gede bangeeettt…!!!” Pak Uban yang berdiri tidak jauh dariku, raut wajahnya berubah berkali-kali. Kaget, bingung, geli,…Kaget karena teriakan kerasku, bingung melihat reaksiku yang melompat-lompat dan lari, geli karena yang dihadapi cuma seekor ulat brokoli… Jika teman-teman SMA-ku tahu kejadian ini, pasti mereka ingat sewaktu hampir semua murid A1 da A2 mendengar kehebohan murid yang terbirit-birit menghindari praktikum biologi tentang cacing perut. Sekarang, reaksi terakhir yang diungkapkan Pak Uban halus saja. Dia cuma berkata,”Ooo…ini kan kecil, masih lebih besar kamu dari uletnya. Jangan-jangan tetangga pikir kok suamimu galak banget,istrinya sampai teriak-teriak, diapain aja tuh…” Waduh! Dia tertawa-tawa meledek aku yang dengkulnya semakin lemas. Masih di dapur, buru-buru aku lari dan menangkap lehernya untuk pura-pura kucekik dan kugelitiki. Makin terpingkal-pingkal dia melihat aku malu dan akhirnya terduduk lemah di pojok dapur untuk beristirahat.
Wah…romantisme dapur di sore hari…untung tidak ada anak-anak saat itu. Bukan apa-apa, tapi akan semakin banyak saja yang akan meledek dan menertawaiku jika mereka melihat semuanya…





Kemana Pak Supirku

17 10 2006

Dalam hidup keseharian kita tidak bisa dihindarkan adanya interaksi dengan sesama kita dalam kondisi apapun. Bersama interaksi itu juga terbawa gambaran sifat-sifat dan kepribadian masing-masing dan seringkali juga menerbitkan emosi tesendiri bagi orang lain yang sedang bersamanya . Emosi ini tentunya tidak selalu negatif dalam arti kata mengandung kemarahan, ketidaksukaan dan semacamnya. Namun bisa juga yang positif, seperti menjadi sangat tergantung atau sangat suka, terharu dan hal-hal seperti itu. Karena begitu banyaknya peristiwa dan manusia yang berlalu lalang dalam kehidupan kita, seringkali juga menjadi terlewati begitu saja. Biasanya karena terbawa waktu dan tertimbun kehadiran manusia-manusia dan peristiwa-peristiwa lain, juga agar kita tidak menjadi manusia yang terlalu melankolis dan sentimentil.

Begitu pun tetap saja kita bertemu dengan satu dua orang yang begitu berkesan tak peduli baru berapa lama berkenalan. Ini juga yang terjadi antara kami dengan Supir Antar Jemput di sekolah Rayi. Supir ini, Pak Rosady namanya, baru kenal dengan kami setahun lalu sejak Rayi masuk SD di Cijantung ini. Sebelum menjadi supir antar jemput, beliau karyawan di Matahari Group. Karena itulah kami maklum sekali ketika pertama kali tugasnya sedikit kacau di hari-hari pertama masuk sekolah. Bayangkan saja, dia sudah berdiri di pagar rumah kami jam 5 subuh, sewaktu anak jemputannya saja masih tidur lelap. Mengingat beliau sudah berdiri di muka rumah, apalagi usianya juga sudah sepuh, maka alih-alih menyalahkannya, kami ajak beliau masuk untuk sekedar menghangatkan diri dengan secangkir teh manis. Dari saat minum teh pagi hari itulah kami dapatkan ceritanya tentang pekerjaan masa lalunya. Berikutnya, kekacauan itu ternyata masih berjalan beberapa hari karena kebingungannya meladeni keinginan semua anggota jemputannya.

Tetapi sebagai orang sepuh, kelebihannya juga banyak dibandingkan supir lainnya. Selama setahun bersamanya, kami menyaksikan sendiri bagaimana telatennya beliau menangani anak-anak kecil yang dititipkan kepadanya. Tidak pernah beliau meninggalkan Rayi dan teman-temannya kebingungan di halaman sekolah. Satu persatu diantarnya ke kelas masing-masing jika mereka masih takut berjalan sendiri. Saat menjelang jam pulang sekolah pun beliau sudah berdiri menunggu di depan kelas Rayi, sementara supir lain lebih suka menunggu di mobil. Sesampai di rumah, anak-anak itu juga dituntunnya turun dan dibantu kerepotan mereka menangani tas dan bawaan lain. Bahkan jika ada anak yang tertidur di mobil, tak segan digendongnya masuk ke rumah sampai bertemu dengan pengasuh atau orangtuanya. Dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikannya kepada anak-anak, tak ada niat kami menggantikannya dengan jemputan lain yang memiliki fasilitas lebih nyaman. Bagi kami, lebih sulit mencari fasilitas atensi dan kasih sayang bagi anak-anak kami daripada sekadar Air Condition mobil terbaru.

Kini, tahun ajaran baru sudah berjalan setengahnya. Tiba-tiba kami terima berita dari Rayi bahwa selesai libur Lebaran nanti, dia akan diantar jemput oleh orang lain. Pak Rosady telah memindahkannya kepada mobil jemputan yang lain. Kecewa karena tidak diajak berunding lebih dulu, kami betul-betul menanti kemunculannya di depan kami untuk sekedar bertanya. Jawaban yang diberikannya kemudian sungguh diluar perkiraan kami. Jumlah anak jemputannya yang berkurang sehingga membuatnya tidak mampu lagi menutupi kebutuhan hidup menjadi alasannya. Beliau memilih mundur dari sekolah dan beralih menjadi supir pribadi. Aku yang mendengar langsung jawaban itu, mendadak menjadi mati kata. Tak ada yang mampu kuucapkan karena dalam dada ini berbagai perasaan berbaur jadi satu. Aku terenyuh mendengar ketidakberuntungannya di sekolah Rayi, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Aku kecewa dengan orangtua anggota jemputannya yang lain yang lebih memilih mobil masa kini dengan pendingin daripada keamanan putranya. Tapi aku juga maklum, semua memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Kami kehilangan sosok beliau untuk menitipkan anak kami, tetapi semua di dunia ini memang tidak kekal.

Aku dan suamiku semalaman membicarakan beliau. Tetapi kami juga tidak berdaya apa-apa. Dan kalau benar beliau sudah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik, semoga itu benar adanya. Ah, kami cuma bisa mendoakan semoga beliau mendapatkan apa yang dibutuhkannya dan keluarganya dan mudah-mudahan itu yang terbaik bagi beliau. Terima kasih pak Rosady, untuk semua pelajaran yang kami terima dari Bapak tentang kehidupan ini.





Ibu-ibu Membolos

12 10 2006

Setahun sekali kaum ibu-ibu di keluargaku memiliki ritual sendiri menjelang Lebaran. Sebenarnya ritual ini juga baru dijalankan secara bersama beberapa tahun belakangan. Dasar pemikirannya adalah protes kaum bapak-bapak yang tidak sanggup menemani istri masing-masing ‘ber-ritual belanja’. Maka ibu-ibu pun bersatu pendapat lebih baik pergi secara eksklusif wanita daripada terjadi keributan-keributan yang tidak perlu dan merusak mood. Bapak-bapak tinggal memberi modal dan terima hasil bersihnya saja, sambil berharap modal yang diberikan masih bersisa. Sebuah harapan yang seperti mimpi di siang bolong…

Lebaran tahun inipun, ritual belanja tidak terlewati. Sejak beberapa hari sebelumnya masing-masing anggota sudah memesan modal untuk diberikan pada hari yang disepakati, termasuk soal peminjaman kendaraan pengangkut. Maka terjadilah acara membolos secara massal dari rutinitas harian pada hari yang ditentukan, yang terjadi kemarin. Ada yang membolos masak dan memilih menyerahkan menu pada jasa food delivery. Ada yang membolos mengajar karena memang tugasnya sebagai ibu guru. Ada yang membolos dari kehadiran penuh di rumah, tapi segala keperluan berbuka orang rumah sudah disiapkan sejak sehari sebelumnya, tinggal dihangatkan. Yang terakhir itu memang aku, karena sebisanya berusaha agar rencana bisa terlaksana tanpa ada sesuatu yang kurang untuk kebutuhan orang rumah. Tapi sempat rencana itu terancam gagal karena faktor pinjaman kendaraan. Karena keperluan kantor yang mendadak, terpaksa fungsi gandaku sebagai supir pun batal. Namun niat sudah bulat dan rencana membolos pun tidak ingin terganggu oleh apa pun juga. Maka sebagai gantinya, Pak Ubanku yang bijaksana itu mengirimkan taksi disertai janji untuk menjemput sore harinya di rumah ibuku. Wah, memang sesuai dengan putihnya rambut dikepala, bijaksana dan menenangkan hati…

Akhirnya, pergilah kami dengan hebohnya ke ITC Mangga Dua nun jauh disana. Ini tempat belanja pilihan kami tahun ini. Suasananya memang ramai betul disana mendekati lebaran terlebih jika berbelanja di akhir pekan. Karena alasan itulah, kami tidak ingin terlalu dekat dengan hari H agar memiliki keleluasan bergerak dan bertawar menawar sejak pagi hingga sore. Puasa tetap berjalan tanpa gangguan, meski sebal juga setiap kali melewati gerobak penjual aneka jus buah. Teringat bagian tubuh kami yang kering kerontang dan merintih minta dibasuh. Selebihnya, genderang semangat ditabuh keras-keras sambil mata mulai liar melirik kanan kiri dan struktur kaki diperkuat untuk menuntun beban yang makin sore akan makin berat.
Di kepala kami terlintas wajah putra putri yang ditinggalkan, suami, keponakan kecil, orangtua, mertua, pembantu, itu semua inginnya diberi bagian yang rata dari tiap sudut jajahan kami siang itu. Entah berapa jam kami disana, yang kami tahu hari sudah sore. Kesadaran bahwa jam-jam itu akan menghambat perjalanan pulang karena macet yang tak tertahan dan juga isi dompet yang sudah hampir kosong, maka bersegera juga kami mencari taksi lain untuk pulang ke base camp.

Menjelang maghrib baru Pak Ubanku datang menjemput. Seperti biasa, dia hanya tersenyum melihat berserakannya kantong plastik di lantai. Dia maklum sekali, jika ibu-ibu sudah berdemo dan nekat membolos begini, sudah pasti heboh di setiap proses dan hasil akhirnya. Tapi dia tidak pernah keberatan, karena aku juga tidak pernah lupa memberikan hadiah-hadiah manis di antara tumpukan plastik itu, meskipun modalnya toh dari dia juga. Dan karena waktu berbuka semakin dekat, berbekal teko isi teh panas manis dari ibu, kami melanjutkan perjalanan, kali ini untuk pulang kandang. Kandang, tempat tangan-tangan kecil akan menyambut hadiah dari kami dengan senyum dan mata berbinar. Ibu membolos hari ini ya nak….terimakasih untuk kesabarannya menunggu dengan “heboh” juga di rumah…

Foto diambil di sini.





Antara Rayi dan Meongnya

8 10 2006

Suatu kali, kami pernah dibuat geleng kepala dan tertawa geli melihat tingkah si bungsu Rayi. Di saat kami mencoba menikmati makan siang di tengah cuaca ‘kurang nyaman’, dia melakukan hal yang berbeda. Rayi hanya berlari-lari berkeliling meja mengitari kami. Kenapa? Dia mencoba menghindari kucing yang ada di bawah meja meminta lemparan ikan. Dia takut pada kucing, sehingga merasa tidak aman jika hanya duduk diam di kursi. Tentu saja kami geli karena dia sampai merelakan tidak makan hanya karena itu. Tapi juga sekaligus kami tidak habis pikir, kok ya sampai dibela seperti itu rasa takutnya, sedangkan dia seorang anak laki-laki. Betul laki-laki juga manusia yang bisa memiliki rasa takut pada apapun. Tetapi sejarah kekerasan adat dalam keluargaku maupun bapaknya, membuat kami memiliki pakem bahwa laki-laki harus bertingkah selayaknya laki-laki. Jika takut datang pun, maka dia harus bisa mengatasi dengan cara yang “baik”.

Kesempatan lain datang. Di rumah, ketika kami sedang bersantai menonton televisi, bercanda, mengunyah cemilan dan klekaran atau leyeh-leyeh. Tiba-tiba Rayi melihat ke pintu ruang tamu dan bicara,”Heh…ngapain lo? Gak boleh masuk, pergi sana…!” Kami berpikir dia bicara dengan seseorang temannya yang ingin bermain di rumah kami. Tetapi, mengapa dia bersikap tidak ramah seperti itu? Ketika kami tanyakan siapa yang dia ajak bicara, kami kontan terbahak. Rupanya, ada seekor kucing yang mengintip dan mencoba melangkah masuk. Tapi karena dia anti-kucing, maka tidak berani mengusirnya dekat-dekat dan juga tidak tega untuk melempari dengan sandal. Jadilah dia mencoba ber’negosiasi’ seperti itu.

Banyak lagi kejadian lucu semacam itu karena memang binatang itu selalu saja berkeliaran di sekitar rumah. Kadang sedang enak bermain, dia bisa terbirit-birit lari masuk ke dalam rumah jika merasa terancam kenyamanannya oleh musuh besarnya itu. Setiap kali itu pula sambil tertawa kami selalu menyisipkan dorongan untuknya bertindak secara tepat. Berbagai motivasi kami selipkan dalam canda kami agar Rayi menyadari bahwa dia mampu melakukan yang lebih baik dari apa yang selama ini dia kerjakan. Namun memang tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan pernah sampai ada bapak-bapak Tentara yang tertawa dan meledek demi menyaksikannya tergopoh-gopoh mengangkat kaki karena kasus yang hampir sama di sebuah rumah makan, tidak membuatnya lantas melakukan apa yang kami harapkan. Rayi tetap acuh.

Namun, di dunia ini selalu akan ada keanehan dan membuat hidup lebih berwarna. Sudah beberapa kali dalam dua hari Rayi meminta ijin untuk memelihara seekor kucing. Tentu saja dia perlu menanyakannya beberapa kali kepada kami karena kami tidak bisa segera memberikan jawaban. Pertama, jika memang ingin memelihara seekor binatang, binatang satu itu tidak ada dalam daftar kami. Sifatnya yang sering mencuri ikan di rumah jika lupa menutupi sajian dengan tudung saji atau menutup pintu rumah, membuat kami malas untuk menyayanginya sebagai anggota keluarga. Kedua, dan mungkin yang paling menjadi perhatian kami, keheranan kami akan perubahan sikap Rayi yang begitu mendadak. Selayaknya ibu yang baik, demi mendorong potensi baik dalam diri putranya, tentu ingin menyetujui permintaannya saat itu juga. Tetapi, apakah bisa dia memegang komitmen sebagai seorang penyayang binatang sejati? Maka, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan pertanyaan kepadanya. “Apa adhek sudah nggak takut kucing? Lakukan apa yang menurut adhek baik dan bisa dilakukan.”

Rayi tidak pernah menjawab pertanyaanku. Mungkin dia juga tidak tahu jawabannya.Dan kubiarkan dia memutuskan sendiri tindakannya. Ketika aku sedang berkutat di depan komputer, kusadari Rayi tidak ada di rumah. Beberapa lama kemudian, Dia datang bersama si mbak, dan aku pun siap memberondongnya dengan pertanyaan tentang kepergiannya yang tanpa ijin seperti biasa. Namun aku terpaksa menghentikan niatku, ketika dia dan si mbak sibuk mempersiapkan tempat untuk menampung ‘teman baru’nya. Rupanya tadi dia pergi mengambil kucing pada seseorang yang memang memiliki banyak hewan itu di rumahnya di kampung sebelah. Sejak saat itu, hari-hari selanjutnya, ada kesibukan baru di rumah. Rayi dan kakaknya Ari, kulihat repot bertanya pada bapaknya bagaimana memberi makan kucingnya. Mereka sibuk mencari bahan makanan apa yang bisa di’comot’ sedikit untuk dibagi dengan teman kecilnya. Esoknya, mereka keluarkan bak cuci, sampo dan pengering rambutku. Kuintip keluar jendela, Ari dan Rayi sibuk memandikan dan mengeringkan bulu-bulu si meong. Kedinginan katanya menjawab pertanyaanku tentang guna pengering rambutku disana. Mereka ingin meongnya merasa nyaman. Acara memandikan selesai, Rayi membagi susu dinginnya di kulkas dan Ari mengolah makanan. Dan berbagai kesibukan lain yang tidak ingin kuganggu. Paling-paling jika terdengar meong-meong tidak berhenti, aku cuma menggoda,” Dhek…bayimu nangis tuh…”

Aku tidak tahu sampai kapan ketelatenan sebagai ‘baby meong-sitter’ ini berjalan. Dan aku juga tidak tahu bagaimana kebingungan Rayi– yang sekarang juga melibatkan si sulung– saat akan meninggalkannya mudik lebaran nanti. Yang aku tahu pasti, dia tidak pernah mampu menjawab pertanyaanku tentang keberaniannya menghadapi binatang itu. Sampai sekarang tidak pernah dijawabnya pertanyaan itu, seperti dia tidak pernah memberikan jawaban keherananku kenapa tiba-tiba dia memiliki keinginan berbagi kasih dengan meongnya. Banyak sekali pertanyaan tak terjawab saat ini. Aku juga tidak mengerti darimana datangnya panggilan KIRBY pada meong itu. Kami orang Jawa, dengan nama yang sangat khas Jawa, memiliki kucing dengan nama Barat…Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak perlu dijawab karena ribuan cinta dan kasih yang terbagi di dalamnya sudah mewakili. Aku bahagia Rayiku mampu mengatasi halangan dalam dirinya. Aku menghargai dia karena dia juga menghargaiku dengan mencegah sebisanya Kirby-nya tidak masuk ke dalam rumah. Rayi juga berbagi kasih dengan makhluk lain tanpa mengikat kebebasannya karena Kirby selalu diberinya peluang untuk sesekali kabur dari rumah. Karena dia yakin Kirby akan kembali mencari belaiannya di rumah ini….





Jangan Cuma Lihat Kemasannya….

3 10 2006

Di rumah ibuku, dulu pernah kami berlangganan air galon sebagai penyedia air minum keluarga. Rasanya dengan air itu, kami merasa sehat karena katanya memang begitulah yang didengar dari iklan-iklan air mineral. Lama kelamaan, dengan berbagai masalah yang menyertainya, langganan air galonan pun berhenti. Memang juga dasarnya kami sebenarnya tidak masalah dengan air rebusan, ya kembalilah kami pada urusan lama itu,rebus merebus air untuk minum. Lalu air rebusan itu ditempatkan di botol-botol bekas minuman soda atau air mineral yang kami beli jika di perjalanan. Tradisi itu sudah pasti menurun pada putri semata wayang ini ketika sudah berumah sendiri bersama Pak Ubanku. Di kulkasku akan selalu tampak botol-botol aneka macam ukuran dan asal muasalnya, yang sudah beralih muatan menjadi hanya air putih rebusan saja. Meskipun sekarang kebetulan aku bisa memiliki pemurni air yang memungkinkan siapa saja minum langsung dari keran khusus, tetap saja isi keran itu dipindahkan ke botol demi mendapat air es.

Persoalan isi ulang berbagai botol dengan air putih biasa ini ternyata bisa menerbitkan senyum geli dan bahkan malu, sedangkan yang lain akan puas menertawakan orang yang sedang ketiban sialnya. Bayangkan saja, kalau botol minuman soda itu adalah minuman soda tak berwarna seperti “Sprite”. Kakak, keponakan, adik, yang sering sekali berkumpul di rumahku, biasanya dengan gelap mata membuka kulkasku mencari ‘yang segar-segar’. Terlebih si Pak Uban memang senang membeli minuman semacam itu aneka warna. Melihat ada botol hijau besar dan dingin, langsung saja mereka menuangkan ke gelas. Setelahnya..”aduuuh….kok air putih seh…?!” Ada juga yang sebaliknya, sudah tahu bahwa banyak botol tipuan di dalamnya, keinginan dan mental selaras untuk minum air putih. Sejurus kemudian, “hlo…kok begini..?”sambil merem melek terkena sengatan soda. Hehehe….

Ibuku sendiri juga pernah tertipu dengan botol-botol itu. Melihat iklan di TV tentang minuman air beroksigen dan peningkat stamina “Mizone”, ternyata menerbitkan keinginannya untuk mencoba. Tetapi kesempatan membelinya memang belum ada. Dalam suatu kali kunjungannya ke rumahku, dilihatnya botol-botol biru itu berjajar rapi di kulkas. Tidak ada komentarnya pada saat itu, dan kami kira juga tidak ada pendaman perasaan apapun. Sampai salah satu keponakanku membawa botol itu yang murni baru dibelinya. Ibu yang haus lalu meminta sedikit minuman itu pada cucunya, dan tiba-tiba tercetuslah apa yang selama ini disimpannya sendiri.” Oh…ternyata enak begini ya rasanya? Lha tak kira sama dengan air mineral biasa…pantesan orang pada suka….dasar Endang!” Hahahaha….maaf ya bu….(sambil nyengir-nyengir)

Nah, yang lebih parah, beberapa waktu ini aku sedang kangen minum jamu rebusan “temulawak kunyit asem sirih” yang segar buatan ibuku. Kebetulan dua kekasih kecilku juga sariawan, dan katanya bisa disembuhkan dengan minuman itu. Ibuku memang dulunya sempat menjadi penjual jamu . Maka rasa jamunya buatku ya TeOPe BeGeTe. Apalagi yang temulawak ini, kalau sudah didinginkan di kulkas, wah…segarnya minta ampun! Tak tanggung-tanggung, ibu merebusnya sepanci besar untukku dan kakakku yang satu kompleks denganku. Setelah jamu rebusan itu matang dan hilang panasnya, ditempatkanlah oleh asisten-non-inapku ke botol-botol yang tersedia. Ada botol Mizone, ada botol Coca Cola, ada juga botol jus besar yang sering dijual di hypermart. Ternyata akibatnya bisa memakan ‘korban’ yang banyak dalam waktu berdekatan. Yang semula sudah siap mental minum air putih dari botol mizone, terkesiap ketika rasa dan baunya menjadi sangat mengagetkan. Terutama untuk Pak Uban yang dasarnya tidak suka jamu. Dia dengan semangat minum dari kemasan jus, yang dikiranya masih berupa jus apel. Seketika dia kelimpungan tetapi tidak berani bereaksi banyak di depan ibu mertuanya. Keponakanku si penggemar Mizone tersenyum kecil saat minum dari botol itu, tapi belum bisa bicara karena masih batita. Bapaknya, kakakku nomer empat, mengira anaknya tertipu air putih. Ketika ganti dia yang minum dari botol yang sama, terbahaklah dia membayangkan apa yang tadi dipikirkan anak bungsunya. Sedangkan kakak iparku, keinginannya memang minum jamu itu ketika kukeluarkan sebuah botol besar dingin dan gelasnya. Tapi dia langsung kaget, ketika ternyata botol itu masih asli berisi jus apel. Nah lo ! Malu bertanya sesat di kulkasku itu namanya. Hehehehee…..Rasanya memang cuma aku yang tahu betul apa isi sesungguhnya botol-botol itu. Makanya, ingin juga kutempelkan peringatan di pintu kulkas : “BEWARE OF YOUR DRINKS! ” Dan mungkin sebaiknya ingat kata-kata orang bijak,” Jangan memandang hanya dari kulitnya…”





Catatan Tentang Sabtu Yang Sibuk….

2 10 2006

Dimulai pagi hari dengan terlambatnya bangun untuk menyiapkan Rayi ke sekolah, hari Sabtuku kemarin sungguh tak terduga betul-betul “ramai”. Dengan jauhnya jarak rumah di Cibubur ke sekolah di Cijantung pastinya perlu persiapan yang cukup supaya terhindar dari kendala macet jalanan. Tapi dengan grubag-grubug luar biasa, waktu tersisa tinggal setengah jam dan harus betul-betul di kebut kalau tak mau dia terlambat. Bernapas sebentar setelahnya, aku berjuang berebut belanjaan ‘melawan’ mbak-mbak mengitari tukang sayur dan berusaha lebih dulu dihitung harganya. Bukan apa-apa, Sabtu pagi, aku jelas tidak mau ketinggalan acara wisata kuliner dan masak-memasak di berbagai stasiun TV. Melihat jajaran jajanan yang potensial untuk disatroni dan variasi masakan rumahan…mmm…uenaaakk!

Agak siang sebelum tengah hari, sambil menyiapkan ini dan itu untuk buka puasa atau sahur, kunyalakan komputer. Yah, sekedar memantau jagad obrolan kabel internet dan berita-berita email yang mungkin masuk ke kotak pos-ku. Ternyata, ke-sambil-anku itu malah lebih menyibukkan lagi. Kompor yang kebul-kebul dan chatting room yang memanggil-manggil dari beberapa orang, berlomba meraih perhatianku. Seharusnya, chat room itu toh bisa menunggu karena kompor bisa meleduk atau panci jadi hitam kalau tidak hati-hati. Tapi itulah penyakit…sok merasa mampu menangani semuanya. Jadilah kaki ini pegal lari sana sini biarpun jaraknya tidak jauh.Kalau dipikir-pikir,…kok ya mau-maunya yang begitu dibelain?Mbuhlah…

Lebih siang lagi, si mbak satu ini minta konfirm tentang janji kita malam sebelumnya. Aku masih bingung karena memang masih harus melihat lagi gelagat komandan di rumahku ini. Jadwal yang sudah diatur sebelumnya, bisa tiba-tiba berubah kalau beliaunya sedang kreatif. Jadi ya…sambil grogi dan deg-deg plas karena belum pernah menjalani sesuatu yang seperti rencana ini , aku akhirnya melihat bahwa segalanya bisa terlaksana denganbaik-baik saja.
Begitu waktunya tiba, menjelang berangkat, kebetulan aku kedatangan wadya bala yang kemudian sepakat bersama-sama pelesir ke tempat yang sama. Maka di meeting point itu, menyebarlah rombongan ke tempat-tempat strategis demi kepentingan masing-masing. Aku sendiri, sukses menggelar “hajatan besar” yang sumpah-sumpah tak pernah terpikir bakal menjalani yang seperti itu. Ternyata, meski cukup larut kembali ke rumah, aku belum bisa segera bertemu bantal tercinta.

Pak komandan tampak sudah lebih dulu menunggu di pondokan. Namun secara itu malam minggu (apa yang membuat bahasa jadi kacau begini?) rombongan wadya bala belum mau berpisah dan masih meneruskan obrolan menjelang tengah malam di teras. Banyak tamu begitu, toh keinginan pak Komandan untuk ber-midnite ria tidak surut. Justru kehadiran rombongan itu membawa berkah karena artinya si kecil yang sedang tak ber-kakak bisa digondol menginap di rumahnya. Kami, orangtuanya? Yah…pacaran lagi…langsung berangkat ke tempat meeting point sore tadi. Sayang…”GUARDIAN” dan Kevin Costner kekasih idamanku sudah berlalu beberapa lama. Terkadung…hwalah…terlanjur sampai sana, ya sudah, “STEP UP” pun jadilah. Apa itu? Film remaja ! Ya ampuuunn…pacaran betulan ini! Untunglah aku pernah menjadi penari dan Komandan sebagai mantan pengantar penari yang terbiasa dengan tema dance begini. Genre boleh remaja, tapi yang penting hentakannya bisa terasakan untuk dinikmati bersama coklat panas dan popcorn.

Cukup! Sudah terlalu malam untuk punya waktu tidur cukup sebelum sahur. Apapun yang terjadi, sahur itu penting, saudara-saudara….Kami tidur beberapa helaan napas, kami terjaga lagi…..Ya Tuhan……jam 8 pagi……!!!!!