Selama ini setiap kali kami pulang ke Malang dan berkumpul dengan keluarga besar mertua, ada satu hal yang selalu kami,para wanita, lakukan bersama-sama. Memasak. Kegiatan yang tidak ingin aku lakukan jika suasananya adalah berlibur dan ingin bersantai. Terlebih jika libur itu kembali ke kota kelahiran kami, maka hal pertama yang justru ingin aku lakukan adalah berwisata kuliner (mungkin istilah ini sebaiknya dipatenkan Pak Is, karena makin sering dipakai ya…). Masakan Rawon, Rujak Cingur, Tahu Campur Lamongan, sebenarnya sering juga kami masak sendiri di rumah. Tetapi membeli di tempat aslinya, tentu lebih afdhol rasanya. Berhubung kapasitas perut toh tidak mungkin diisi terus menerus, tentu kami harus mampu memilah makanan mana saja yang benar-benar enak dan memang ingin kami telan masuk perut. Karenanya, makanan rumahan pun rasanya tidak diperlukan lagi. Tetapi selalu saja ada alasan yang membuat aku harus melakukan sharing masak memasak ini supaya tidak ada masalah lain yang tidak perlu.
Tahun ini adalah tahun kedua keinginan wisata kulinerku tercapai. Salah satu sebab, motor penggeraknya tidak mudik. Maka aku pun sebagai urutan kedua tertua disana, bisa lebih bebas mengatur jadwal kegiatan hari-hari disana. Salah satu tempat yang ingin kami kunjungi dan selalu batal adalah rumah makan sejak jaman mertua kami yang sangat sepuh itu, Toko OEN. Meski aku adalah orang Malang (aku selalu bilang akarku adalah Surabaya, Malang dan Kebumen), tetapi sejak kecil bapak ibu belum pernah mengajakku kesana. Begitu juga pak Uban. Dan aku mulai protes padanya, sehingga apa pun yang terjadi, tahun ini harus bisa kusambangi tempatnya.
Toko Oen ini lebih terkenal sebagai toko kue, roti dan es krim yang enak tempat para orang gedongan berkunjung. Sekarang, entah sejak tahun berapa, mulai berkembang menjadi restoran. Dan yang terkenal kabarnya adalah Steak Lidah Sapi. Bahkan si artis sinetron Alyssa Soebandono pun selalu mencari steak ini setiap kali pulang ke Malang. Jangan bayangkan penampilannya seperti steak di resto-resto mahal, tetapi rasanya tidak kalah enak. Kentangnya bukan french fries, tapi kentang kecil biasa yang dibelah dua dan digoreng. Tentunya dilengkapi buncis, kembang kol dan jagung manis serta brown saucenya. Menu lainnya juga banyak dan di dalam buku menunya disajikan dengan dua bahasa, terutama untuk masakan-masakan Eropa. Aku sendiri mencoba Prawn Steak yang enak sekali meski tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Dengan dua menu berbeda seperti yang kami pesan, tentunya kami bisa saling ‘tukar cicip’ tanpa takut kekenyangan dan tidak bisa berjalan lagi. Bapak ibu mertua memesan sop buntut, lalu ada adik-adik yang memesan mie goreng, nasi goreng, galantine steak, sate ayam, dan aneka es krim. Untuk es krim, ada yang disebut Sparkling Delight. Penasaran dengan namanya yang menggiurkan itu, keponakan kami pun mencoba satu porsi. Ternyata isinya adalah es krim yang diberi buah koktil dan di atasnya diberi hiasan kembang api menyala. Wow! Untuk anak-anak, tentu sangat menggugah selera, meski nyala kembang apinya tidak lebih dari lima menit. Sayangnya keterbatasan daya tampungku menghalangi niatku untuk mencicipi berbagai es krim di sana. Ingin tahu, itu pasti. Dan pasti juga menjadi obsesiku untuk mencobanya di tahun depan.
Sebenarnya, makan di sini lebih karena ingin menikmati suasananya yang khas jaman dulu. Jadi faktor emosinya lebih mengemuka untuk bernostalgia, mendengar cerita dari bapak ibu tentang masa muda mereka. Sambil mendengar cerita, pandangan diedarkan ke sekeliling ruangan. Di dinding seputar ruangan tergantung lukisan-lukisan toko Oen tempo doeloe yang menurutku tidak banyak perbedaannya dengan saat ini kecuali jalan di depan toko. Mulai dari pintu masuk, tampak sekali suasananya yang berbeda dengan bangunan-bangunan disekitarnya yang sudah modern. Lalu didalamnya ditata kursi-kursi rotan pendek dengan meja bundar kecil dan saya langsung membayangkan makan es krim di kursi-kursi itu, tentu akan lain rasanya. Di antara keja- kursi pendek itu ada juga meja makan tinggi persegi panjang yang lebih sesuai untuk makan bersama keluarga, seperti kami saat itu. Dan rupanya saat liburan seperti lebaran kemarin memang lebih banyak keluarga-keluarga yang bernostalgia di sana. Lalu ada juga piano di sudut ruangan bersebelahan dengan radio kuno indah dan mulus, yang sejak dulu ingin sekali kami miliki. Sayangnya memang tidak dijual jadi keinginan itu kami simpan lagi dalam hati. Jika memang ingin memiliki kenang-kenangan dari toko satu ini, kita bisa membeli kaos oblong bergambar Toko Oen tempo doeloe yang dijual disana. Lagi-lagi niat itu batal terlaksana karena ukurannya hanyalah XL dan L3, sementara kami berukuran maksimal M. Bayangkan jika kami memaksa memakai kaos itu, pasti sudah seperti orang-orangan sawah.
Tetapi apapun yang terjadi, tidak ada kamusnya kami boleh melewatkan kesenangan hari itu. Sehingga laksana turis mancanegara atau malah mungkin orang udik yang begitu senang mendatangi tempat baru, kami berfoto-foto terus di sekeliling ruangan. Tak peduli para waiter berbaju putih-putih itu terus memperhatikan. Mereka tentu saja senang melihat kami bertingkah begitu karena artinya Toko Oen akan terus dihargai orang sebagai ‘barang kuno’ yang abadi sepanjang masa dalam kemodernan. Mereka pun ramah dan tak segan minta maaf jika ada kekeliruan atau keterlambatan dalam menghidangkan pesanan . Lain waktu, kami akan berkunjung kembali kesana untuk memenuhi kebutuhan untuk selalu mengingat tempat-tempat yang akan terus mengikat kami kepada akar yang sebenarnya, seberapa jauh pun kami pergi mencari makan.



Komentar Terakhir