Anugerah Terbesar

29 01 2007

Pagi-pagi dingin sisa hujan semalam, membawaku untuk menikmati suasana dengan perasaan begitu suka cita dan keinginan untuk terus mengucap rasa syukur atas datangnya hari ini, lagi. Sejak membuka mata dini hari sebelum waktu subuh, kedua kekasih kecilku dan pak Uban telah menghadiahi hari ini dengan ciuman dan pelukan hangat mereka. Selebihnya, kegitan berjalan seperti biasa hingga tibalah saatnya waktu membuka bacaan pagi. Dan apa yang kubaca membuatku tertegun begitu lama.

Selain berita tentang segala penyakit musim hujan, politik yang membuat geleng kepala, juga ada berita tentang seorang Tamara Blezsinski yang cantik, tapi dijauhi putranya. Dijauhi putranya ! Apapun berita tentang selebriti yang sempat terjamah olehku, bukan urusanku sebagai pembaca dan tidak harus juga membuat aku atau kita memikirkannya dalam-dalam. Setiap orang toh memiliki masalahnya sendiri. Hanya saja kali ini menempatkanku pada posisi merasakan naluri keibuanku. Ketika hak pengasuhan anak jatuh pada tangan Bapak dan bukan pada Ibu, bisa ada banyak ragam alasannya. Namun ketika salah satu alasan itu adalah karena sang anak sungguh tidak ingin berada di dekat sang ibu, bagiku hal itu merupakan kesedihan yang tiada tara dan sulit terlukiskan rasa perihnya. Ada sesuatu yang salah disana.

Anak, memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua orangtuanya. Yakin. Namun masalah kedekatan, memang bisa saja terjadi agak berat pada salah satunya. Begitupun, bukan berarti jika seorang anak sangat dekat dengan sang Bapak, lantas tidak ingin berada bersama Ibu. Maka, ketika kenyataan itu terjadi pada sang artis, hatiku seakan ingin berteriak, apa yang telah terjadi? Apa yang telah kaulakukan pada anakmu, Tamara, sehingga dia menjauhi ibunya sendiri? Benar atau tidak, aku tak pernah tahu. Namun andai memang benar…..sebaiknya Ibu bertanya pada dirinya dan segera mencari cara untuk mendekati putranya.

Menjadi seorang Ibu adalah sebuah tugas yang harus mampu memadukan ketegasan, keteguhan hati, sekaligus kelembutan. Disana diperlukan sebuah kecerdasan, baik pikiran dan terlebih emosi, untuk menyiasati segala keinginan dan sifat-sifat pribadi yang akan mempengaruhi pikiran dan perilaku putranya. Dan melaksanakannya sangat tidak mudah. Karena hal-hal inilah maka seringkali aku bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku menjadi seorang ibu yang memenuhi kebutuhan batin kekasih-kekasih kecilku? Mengingat pada hakekatnya seorang ibu juga manusia yang menyimpan berjuta kelemahan, semestinya segala kekhilafan bisa dimaklumi. Namun jika ternyata tidak ada lagi maklum dari sang putra, bahkan ia berlari menjauh, tidakkah hal itu menjadi sebuah cermin besar untuk mengukur kadar kesalahan? Mungkin ada ibu seperti aku yang tidak terlalu perduli dengan citra diri di hadapan orang lain. Tapi tetap, sang ibu pasti ingin terlihat bernilai baik di hadapan putranya.

Tidak terbayangkan olehku, betapa gundahnya Tamara merasakan kiamat saat ini. Dan ketika tidak terasa membandingkan kondisinya denganku saat ini, kuingat lagi saat-saat tadi Ari dan Rayi mendekapku, mencium pipiku, aku lebih merasa bersyukur. Mereka adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Aku tidak boleh kehilangan mereka apalagi jika itu atas keinginan mereka sendiri. Maka, ketika para sahabat bertanya tentang hadiah terindah bagiku, aku hanya tersenyum. Karena hidup dikelilingi oleh segala cinta dan kasih sayang dari orang-orang tercinta, dan khususnya Ari dan Rayi, sudah melebihi segala yang kuinginkan didunia ini. Terima kasih sayang…dan untuk semua keluarga dan teman-teman tercinta….cintaku untuk kalian…!!





Jangan Berani Lukai Anakku !

25 01 2007

Kejadian ini sebenarnya sudah lama sekali berlalu. Dan aku sendiri berusaha untuk tidak mengingatnya. Apa daya, setiap saat aku melihat tampilan EX Plaza di televisi, ingatan akan peristiwa ini muncul lagi. Dan setiap kali itu pula aku berusaha untuk segera mengganti tontonan dengan saluran lain. Ada perih dalam hati, dan jikalau ada yang memintaku untuk menceritakannya, rasanya tak sanggup mulut ini bicara. Namun aku tidak pernah ingin berputar-putar dalam situasi yang sama, dengan perasaan yang sama pula. Luka ini harus diakhiri. Sejauh yang aku tahu, cara terbaik untuk itu adalah dengan membicarakannya secara terbuka, dan tidak selalu lari dari sana. Meski bukan menjadi gayaku untuk bertutur tentang kronologi cerita, namun kuharap cerita ini akan berhasil menyembuhkan lukaku.

Aku dan anakku sangat menggemari novel dan film Harry Potter. Setiap kali buku atau filmnya diluncurkan, kami akan segera mencari, menonton dan mengkoleksinya. Tidak heran, jika kami cukup hafal dengan segala karakter hingga mantra-mantra yang sering diucapkan disana. Seperti biasa, bersamaan dengan segala peluncuran buku ataupun filmnya, akan disertai berbagai acara berkaitan dengan karakter Harry Potter itu seperti berbagai lomba mewarnai ataupun duel mantra. Merasa menguasai materi yang dilombakan, anakku dengan serta merta mendaftarkan diri pada perlombaan yang diadakan di EX Plaza Thamrin. Dalam bayangannya, tidaklah menjadi masalah jika toh tidak mendapatkan kemenangan. Dia hanya ingin sedikit merasakan kegembiraan dalam berkompetisi.

Segala persiapan dilakukan, bahkan kesabaran untuk menunggu pun disertakan. Sangat bisa dimaklumi segala keterlambatan yang terjadi mengingat banyaknya peserta lomba. Hingga akhirnya detik-detik bertempur tiba. Semua peserta diminta berkumpul di tepi panggung dan akan dipanggil satu persatu. Seiring dengan semangatnya yang begitu menggebu dan merasa badannya terhitung kecil, anakku berdiri di barisan terdepan. Semua dilakukan agar dia dapat melihat segala yang terjadi di panggung dan juga dapat segera berlari jika gilirannya tiba. Menunggu, menunggu….hingga akhir acara…..sesuatu yang tidak semestinya terjadi, ternyata terjadi juga. Anakku tidak digubris. Oleh panitia, oleh pembawa acara, tidak satupun memanggil dia ke atas panggung.

Melihat ketidakberesan yang berlangsung saat itu dan mulai memerahnya mata anakku, aku segera menghampiri panitia untuk menanyakan apa yang terjadi hingga anakku tidak diikutkan lomba. Apa jawaban yang kudapat? “Maaf bu, terlewat nomernya…maaf bu, kami tidak melihat anaknya…” Seketika dunia di sekelilingku berputar begitu cepat seiring aliran darah yang terasa panas menggapai puncak kepala ini. Bagaimana bisa terjadi seperti itu, sedangkan sejak awal anakku berdiri disana, dan panitia bahkan sempat mengajaknya berbincang. Dan tidak ada pula sesuatu yang dilakukan panitia untuk mengobati luka hatinya melihat harapannya terbang melayang. Lomba itu yang diinginkannya, bukan lomba yang lain. Berpura-pura menjadi Harry Potter untuk sesaat dengan membaca mantra sihir, dan bukan mewarnai atau yang lain….

Jangan berharap mencari aku yang diam mengalah disana. Tidak akan pernah ada diam itu, karena mendadak aku bisa berubah menjadi seorang bertenaga besar dan bersuara kencang. Perubahan yang hanya bisa terjadi jika anakku disakiti. Perubahan yang hanya bisa terjadi jika aku tahu ada seseorang membuatnya meneteskan airmata. Aku yang lebih terluka melihat bagaimana anakku tersayat hatinya. Tak pernah aku mengajarkan kecengengan dan sifat tidak mau mengalah kepada mereka. Terlebih mereka adalah laki-laki. Tetapi ketika segala harapan dan usahanya dihancurkan, dan mereka terjatuh karenanya, aku ibunya, akan ada di depan.

Betapa sulitnya bagiku melihat kembali gedung pertokoan itu. Betapa terkuncinya mulut ini untuk bertutur sebab sayatannya terlalu dalam. Betapa tidak mudahnya untuk menulis ulang cerita ini, bahkan dalam geliatku untuk terbebas dari segala sedih dan murka. Dan nyata sekali mengapa pipiku masih basah saat kata demi kata ini tersurat. Tapi aku tidak ingin mendendam. Dan aku harus membuang segala rasa tanpa maaf ini jauh-jauh, agar mampu mengajarkan kebaikan bagi kekasih-kekasih kecilku yang tercinta. Hanya satu pesanku, jangan lagi lukai putraku…jangan pernah berani ….





Teman Tercinta dan Berbagi Kegilaan

18 01 2007

Apa yang paling membahagiakan di dunia di luar anugerah keluarga tercinta kita? Buatku adalah…kehadiran teman-teman tercinta. Dan kalau sudah menyebutkan julukan tercinta begini, sebenarnya sedikit di ambang pintu dari istilah Keluarga. Dalam banyak hal, kita bisa berbagi apa saja dengan teman-teman itu. Tawa, canda, rasa sedih, terluka, kehilangan, bahkan hingga kegilaan. Yah, benar… kegilaan ! Mengapa begitu? Karena sebagai seorang manusia dewasa, pastinya ada saat kita merasa lelah dengan segala yang harus kita hadapi di sekeliling kita. Itu karena memang di dunia ini selain manis, kita juga mengenal asin bahkan pahit. Pada saat lelah itu datang, tiba-tiba bentuk lain dari diri kita muncul begitu saja.

Entah semua menyadari atau tidak, dalam bentuk kita sebagai manusia dewasa ini, masih selalu bersemayam jiwa kekanakan. Dan inilah yang seringkali muncul sebagai bentuk lain diri kita itu. Pada saat jiwa kekanakan ini muncul, disitulah dimungkinkan juga muncul kegilaan-kegilaan seperti kukatakan sebelumnya. Dan akan mencapai puncaknya ketika kita juga menemukan ada orang lain yang bersedia berbagi saat-saat aneh itu. Rasanya dunia ini jadi indaaaah sekali.
Karena di saat yang sama, kita tidak memiliki kekhawatiran sedikitpun akan citra diri yang ingin dibangun dihadapan banyak orang. Karena sesungguhnya, kita memang tidak kehilangan diri kita pada saat itu. Kita hanya sedikit menanggalkan baju resmi untuk bersantai dengan piyama, begitu kurang lebih analoginya.

Maka, beruntung sekali ketika kita sungguh menemukan teman, sahabat, keluarga yang baru, yang bisa kita ajak berbagi saat kegilaan itu. Seperti sang Ibu Pembuat Sate yang begitu suka relanya berkeliling segala toko di negeri singa nan makmur itu. Segala jerih payahnya itu hanya demi mencarikan koleksi film yang tidak kutemukan di Jakarta ini. Membayangkan apa yang telah dilakukannya untuk itu saja, tak cukup jari-jari di kedua tangan ini menghitung ungkapan terimakasihku buatnya. Masih pula ditawarkannya seri terbaru film yang sama yang bahkan belum terbit saat ini, tapi sudah tayang di negeri Paman Sam. Tak bisa terkatakan perasaan ini.

Lalu ada teman yang hampir setiap hari, manakala seluruh kekasihku telah meninggalkan rumah, menemaniku berbincang dan tertawa bersama. Meski berbeda irama hidup, dalam sedikit waktu yang bersinggungan itu, kami bisa terpingkal untuk hal-hal remeh yang menyegarkan. Pemilik kafe kecil yang baru saja ribut mengganti alamat blog lamanya ini, sungguh membuatku merasa memiliki saudara perempuan sendiri. Minat kegilaan yang sama, benar-benar membuat kami mengekspresikan keceriaan itu dalam sebuah tempat yang bahkan menyediakan tempat muntah pun tidak. Ah..itu hanya ungkapan bagi orang-orang yang tidak cukup sekedar geleng kepala melihat tingkah kami yang kekanakan ini. Tapi, tempat ini tentu saja bukan sebuah bukti bahwa kami menjadi tidak setia lagi pada komandan kami masing-masing. Melokalisir kegilaan, mungkin lebih tepat begitu.

Ada satu lagi orang yang pernah kusebut sebagai orang hutan dalam salah satu obrolan kami. Itu julukan karena entah bagaimana, kami merasa dia memang tinggal di dalam hutan demi pekerjaannya. Tentu saja sebenarnya dia seorang ibu yang cantik dan menyenangkan dan bukan sungguh-sungguh orang hutan. Tidak sebanyak obrolan yang biasa terjadi antara aku dan sang pemilik kafe, namun kehadirannya dalam tiap SMS membuatku merasa tak ingin berhenti tertawa. Secara kebetulan, dia memang kenal dekat dengan seorang familiku di pulau Borneo itu. Maka, dengan kenyataan ini, dunia memang terasa lebih sempit sekarang.

Masih banyak teman-teman lain yang bisa kusebut sebagai orang yang kucinta, namun tentu halaman ini memiliki keterbatasan untuk menjelaskan semuanya. Satu yang ingin kuucapkan bagi mereka semua….TERIMA KASIH ! Untuk memberikan alasan bagiku tetap hadir di dunia cyber ini, meski aku tak kunjung sepandai perempuan ini. Untuk menemani hari-hariku saat tidak memiliki kesibukan yang berarti. Untuk berbagi segala rasa di dunia yang pernah dikenal manusia. Untuk semuanya……





Sifat Yang Menghancurkan

14 01 2007

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Foto-foto diambil dari sini

Mempelajari sifat manusia bisa dilakukan dari mana saja dan perlu dilakukan setiap saat. Betapapun banyaknya contoh tentang tingkah laku makhluk ini di dunia yang bisa membuat kita mengatakan sudah memahaminya, namun kita kerap kali pula melupakannya. Saat kita berpikir, merasa, bertindak atau hanya sekedar memandang dan mendengar, yang berlaku saat itu lebih banyak dikendalikan oleh ego dan keinginan pribadi, apa yang kita pilih saat itu untuk tampil di halaman muka mesin otak kita. Hal inilah yang membuat segala pengalaman dan pengetahuan tentang dunia menjadi terpinggirkan dan cenderung tidak terpikirkan. Maka, belajar dan belajar dari sekitar kita, selayaknya terus menjadi agenda keseharian agar kualitas hidup kita sebagai manusia meningkat. Ah, tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar mengingatkan diri sendiri yang masih mungkin tergolong dalam kelas ‘perlu digelengkepalai’.

Manusia, tempatnya keserakahan, terlebih menyangkut harta dan tahta. Kedua hal itu, memang mendatangkan kekuasaan terhadap segala yang seharusnya dibagi dengan orang lain. Kekuasaan berarti kekuatan. Hanya saja, ada kekuatan di dalam kekuasaan yang sering terlupakan oleh manusia. Kekuatan maha dahsyat untuk menghancurkan. Menghancurkan manusia lain, mungkin menjadi sebuah kewajaran bagi mereka yang memegang kekuasaan. Namun ketika kekuatan itu juga menghancurkan diri sendiri, mengapa begitu dahsyat pula dipertahankan. Mungkin pada saat kehancuran diri itu datang, demi sebuah kesombongan, seorang manusia masih bisa bertahan berdiri tegak. Tapi apa yang dialami pada batinnya, tidak akan dapat tergantikan.

Bagi seorang laki-laki yang berkuasa, entah pada masa apapun dia hidup, selalu membutuhkan pengakuan akan keberadaannya untuk dihormati. Kehormatan berarti juga terlaksananya segala ucapan dan perintah tanpa ada kompromi. Segala konsentrasi tercurah untuk mengkristalkan kekuatan yang dimiliki, tanpa ada yang berhak mengambilnya. Namun ketika semua usaha itu ternyata melukai orang-orang yang seharusnya disayangi, orang-orang yang menjadi belahan jiwa dan darah dagingnya, maka titik akhirnya adalah kehancuran. Kekuasaan yang masih digenggaman tidak akan menjadi kilau emas, melainkan hanya cucuran airmata tanpa arti.

Bagi seorang wanita, kehormatan yang seharusnya tidak pernah bisa dilepaskan adalah kemampuannya memilih. Apa yang ingin dilakukan, rasa manis yang boleh diteguk, kasih yang tidak egois, dendam yang tak bisa terbalaskan. Kemerdekaan mungkin tidak sepenuhnya menjadi milik wanita. Karena pada diri wanitalah kehidupan itu mendapatkan sumbernya karena kodratnya sebagai seorang ibu. Ketika seorang wanita mencoba menggugat kemerdekaannya, disana harus ada pemikiran panjang tentang gejolak yang mungkin terjadi dari tingkahnya. Dan seberapa dalam pengorbanan yang akan diberikan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan.

Menjadi seorang putra, kebanggaannya bukanlah pada jabatan yang disandang. Namun berapa banyak yang bisa dilakukan untuk menjaga kehormatan orangtua. Kecintaan yang tidak mungkin memilih antara ayah dan bunda, dan penilaian yang berimbang pada segala kesalahan yang disaksikan. Maka, jika tak mampu memilih, seringkali mengorbankan diri menjadi sebuah pilihan yang harus dilakukan. Meskipun pahit, tapi semua menjadi sangat bernilai untuk sebuah harga diri.

Belajar , tidak selalu melelahkan. Setidaknya itu yang bisa aku rasakan dari Curse of The Golden Flower. Film kolosal Cina yang begitu indah dalam lukisan yang bermakna. Tidak membuat kening ini berkerut namun sungguh mengiris hati untuk mengetahui bagaimana rapuhnya manusia. Betapa seorang manusia itu mudah sekali dilemahkan oleh kekuatan hawa nafsu. Yang lebih menyedihkan dari kelemahan itu adalah ketika mengetahui bahwa segala yang terjadi itu salah setelah semuanya hancur tak bersisa. Ah, indah sekali jika kita mendapat pencerahan dari sebuah hiburan tanpa merasa digurui.





Liputan Pelengkap

11 01 2007

Dengan begitu banyak alasan, meski tak sampai hitungan 1001, catatan hari ini terpaksa hanya berisi liputan gambar. Mungkin ini menuntaskan sedikit rasa penasaran beberapa kawan. Mohon maaf ya dengan keterlambatan penayangannya. Semua disebabkan masih tradisionalnya sarana liputanku sehingga memerlukan waktu proses yang cukup lama. Apapun, yang penting keinginan untuk berbagi suasana di tempat bulan madu itu bisa tercapai.

Sebenarnya, banyak sekali situs yang bisa menerangkan tempat ini. Tapi untuk seseorang yang ingin tahu bagaimana cara mencapai tempat itu, ada keterangan sederhana untuk itu. Kita bisa bermobil saja melalui jalur tol Cikampek ke Cipularang dan..ah, sebenarnya aku kurang memperhatikan juga. yang pasti, selanjutnya tinggal diteruskan saja arahnya menuju kota Garut dan akan banyak petunjuk yang menuntun kesana. Namun bagi para turis yang tidak bermobil pribadi atau dengan alasan lain, Kampung Sampireun sendiri menyediakan jasa jemputan untuk wilayah Garut, Bandung dan Jakarta. Ada sejumlah biaya yang harus dikorbankan tentunya. Sesampai disana, akan ada banyak fasilitas yang disediakan untuk kenyamanan para pengunjung.

Sebaiknya, aku tidak perlu bercerita lengkap agar kepenasaran kawan-kawan tetap terjaga. Dan, wah…bukankah aku sudah mengatakan ini hanya liputan gambar? Lalu 3 paragraf ini apa ya? Terserahlah….Ini dia liputan pelengkapnya yang tertunda…

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Yang penting sarapan dulu sebelum jalan-jalan. Dan para bule tidak perlu khawatir , karena
menu untuk lidah mereka juga tetap tersedia.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Kegiatan terbanyak dan paling mengasikkan adalah di seputar danau. Agak menggetarkan untuk naik dan turun dari perahu, namun tetap harus dicoba jika tak ingin rugi.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Kembali ke desa, melihat kehidupan masyarakat sekitar penginapan. Termasuk di dalamnya ada adu domba dalam artian sebenarnya. Namun sehubungan ketidak-tegaan fotografer, maka liputan gambar pun dibuat tanpa kesungguhan hati.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting
Gethek ini digunakan untuk kedatangan dan kepulangan pengunjung yang tentunya membawa serta segala macam peralatan menginap. Atau jika tetap ingin berperahu sendiri berikut segala perlengkapan juga diijinkan, sepanjang sang penumpang siap terguling bersama perahunya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ini…no comment saja..dan..sstt…sudah jelas kan mengapa aku memakai nama julukan kesayangan itu?





Bulan Madu Rombongan ?

8 01 2007

Menjadi seorang ibu, sudah sifat alamnya jika tidak bisa dan seringkali tidak boleh berlama-lama tenggelam dalam biru. Karena jika terlalu larut, dunia sekeliling bisa mendadak berhenti berputar dan wajah-wajah kecil itu mungkin bisa menarik Dinas Sosial untuk turun tangan. Di Indonesia memang tidak ada Dinas Sosial turun tangan sebagaimana dalam permainan The SIMS. Tetapi setidaknya pikiranku masih bisa berjalan untuk mengambil tindakan mengatasi liburan sekolah yang belum berakhir. Wajah-wajah kecil itu harus diselamatkan dari mendung kebosanan.

Terbayang artikel-artikel tentang kembali ke alam, minimnya pengenalan anak kota pada lingkungan desa, ingin rasanya aku mengajak kekasih-kekasih kecilku mencari pengalaman lain itu. Terlebih aku juga tidak mungkin mengajak mereka ke lokasi 900 acre Montana di kejauhan yang sempat dikasak-kusukkan dengan ibu ini. Maka, mendekatkan diri dengan rusa-rusa berbekal nasi bungkus rasanya juga tidak kalah menyenangkan. Kenyataannya, Pak Uban menyiapkan rencana lain yang lebih baik bagi kami. Maka, berangkatlah Sabtu pagi kemarin ke tempat yang lebih dikenal sebagai lokasi bulan madu dan terpaksa melupakan kunjungan pada rusa-rusa jinak itu.

Tentu saja bagi kami, bulan madu sekarang ini tidak berarti harus berdua. Karena setelah tiba disana, pilihan kami untuk bulan madu beramai-ramai seperti dalam iklan kendaraan itu juga tidak salah. Dalam banyak hal, pilihan ini justru terasa lebih mengena bagi kami yang masih terlena membiru akan kenangan suasana hangatnya malam tahun baru. Bagaimana mungkin kami tidak ingin membagi indahnya pemandangan cottage di sekeliling danau dengan kakak adik yang lain? Bagaimana bisa kami nikmati sendiri sensasi hangatnya sekoteng yang dijajakan dari atas perahu di bawah bulan purnama? Dan jelas tidak mungkin kami usir hawa dingin pegunungan hanya dengan berselimut berdua. Terlalu banyak ikan dengan mulut menganga yang menanti makanan dari tangan-tangan kami yang hanya empat. Begitu lucunya ketika seorang keponakan tercebur di kolam karena terlalu semangatnya memberi makan ikan-ikan, pengalaman yang jelas tidak mungkin kami dapatkan jika hanya berdua. Dengan banyak alasan yang kami temui disana, tiba-tiba aku ingin membuat definisi baru tentang bulan madu itu sendiri. Entah bisa atau tidak, menyalahi aturan atau bukan, setidaknya gagasan ini beberapa kali sungguh muncul di kepalaku. Dan di akhir keputusasaan tentang definisi yang mungkin tidak masuk akal itu, akhirnya aku memilih untuk sementara membenci definisi terbatas kata sakti para pengantin baru itu. Terserahlah, yang jelas aku hanya ingin mengatakan betapa indahnya menikmati alam itu bersama begitu banyaknya orang-orang yang kita cintai.

Tempat wisata ini sendiri bukan lagi tempat yang baru dikenal. Hanya saja, selalu penuhnya tempat untuk kami menginap, membuat rasa penasaran itu terus tumbuh. Dan usaha yang dibutuhkan untuk bisa sampai disana pun tidaklah sedikit, entah itu dilihat dalam ukuran tenaga ataupun dalamnya kantong. Tetapi kadang kala orang memang menafikan banyak hal ketika terlanjur jatuh cinta dan bersedia menempuh berbagai rintangan untuk mewujudkan impiannya. Bisa menjadi tidak masuk akal, seperti kasus barang titipanku yang sempat membuat kalang kabut ibu ini untuk mencarinya di tanah seberang. Tetapi apapun yang terjadi, kalau toh terpaksa dilihat dalam kacamata keegoisan, semuanya berhasil baik mengusir sedikit mendung dari kalbuku. Hari ini aku kembali dalam cuaca yang lebih cerah, dan ingin sekali berbagi dengan banyak orang bab angin segar ini.

Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting

Hanya satu kendala teknis tentang liputan gambar di lokasi liburanku yang masih kuragukan kecantikan tampilnya disini. Maka, jika aku beruntung, berita ini akan bisa lebih indah dengan beberapa lukisan amatir. Tetapi jika luput, setidaknya aku sudah berusaha memberikan jejaknya pada ruang ini.





Melayang, Membatu, Biru

3 01 2007

Sebelum berlanjut dengan rangkaian kata berikutnya, aku mohon maaf, pada siapa pun yang kebetulan ada di ruang ini. Maaf, jika mungkin kali ini kalimat-kalimatku terasa sangat tersendat atau membosankan. Karena sesungguhnya aku sedang tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Sejak hari-hari merangkak untuk mengakhiri tahun yang lalu dan berganti dengan yang baru, aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba menjadi biru. Aku malah tidak tahu benarkah apa yang terjadi ini bisa dilukiskan sebagai biru. Yang aku tahu, aku sedang mencari penyebabnya dan selalu juga dengan penyelesaiannya.

Kebanyakan orang membuat sebuah resolusi pada hari-hari seperti ini. Mungkin untuk membangkitkan semangat yang terasa mulai melemah, atau apa saja yang terlintas di benak saat itu. Aku, merasakan apa yang telah terjadi sebelum hari-hari ini, memilih untuk diam. Tiba-tiba aku ingin tahu, apa yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia jika kemudian dia memilih untuk tidak melakukan dan merencanakan apa-apa, selain melakoni saja apa yang ada di depan matanya. Sungguh-sungguh aku menghanyutkan diri dalam sebuah arus….aku membayangkannya lugas seperti itu.

Rangkaian hari-hari ini, adalah hari-hari menikmati kebersamaan. Di sekelilingku ada rentang waktu yang panjang bersama para kekasih permata hati. Hangat. Lalu ada keramaian dengan para kerabat, cengkerama, senda gurau, aneka hidangan. Indah sekali. Tapi masanya sudah selesai dan akan kembali pada rutinitas. Ada yang hilang. Aku lalu teringat bahwa rasanya aku juga kehilangan seorang teman. Harus hilang dirinya, karena semua jadi terasa menyulitkan bagi kami untuk sekedar bertukar tawa dan sapa tanpa ada kecurigaan. Bukan hal yang baru. Tapi semua jadi terasa dingin. Kehangatan yang kumiliki tidak lagi sebesar keinginanku. Bukan hal baru. Dan selalu akan ada yang begini, harus diterima. Hanya saja terasa mengiris ketika kita mencoba merenungi. Kalau sakit, kenapa harus terus kurenungi?

Disana, ada orang lain yang bahkan tidak tahu akankah mereka menemukan kembali belahan jiwanya yang tiba-tiba tercerabut oleh alam. Di sudut lain , ada yang menempati sisi-sisi dunia tanpa mereka bisa memilih kesesuaiannya dengan minat dan tidak tahu kapan akan menemukan tempat pilihannya sendiri. Maka, hawa dingin ini memang harus diterima. Tidak ada waktu untuk berlama-lama dalam kehangatan mutlak. Tidak ada tempat untuk mereka, seperti aku, yang terlena dengan peluk cium riuh rendah tawa. Dunia ini harus terus berputar. Aku harus merelakan apa yang hilang, berharap yang pergi akan kembali. Harapan akan selalu ada, tapi akankah datang jika tak kukejar? Aku ingin mencoba untuk tidak mengejar. Maafkan, untuk kau sang semangat, yang harus berlari tanpa belaianku. Meski aku tak pernah meninggalkanmu, kali ini aku hanya ingin menatapmu. Jangan takut, aku tak akan jatuh dan menangis. Hanya membutuhkan waktu untuk membuka kembali bab alam ini yang pernah terlupakan. Dan memahami apa saja yang harus terhembus angin dan melayang.

Keindahan hidup bukan pada tawa dan warna. Kegelapan bukan pada bencana yang tak tertolak. Karena aku tahu, manusia selaluingin segalanya, dan memang punya segalanya. Maka segalanya yang dalam genggaman, emas, intan, duri, api, racun dan matahari, bisa menjadi indah dalam relung kalbu. Tak ada yang lebih berat, tapi tak salah jika ingin atau terpaksa berlama-lama menimang salah satunya. Maka aku diam disini merasakan semuanya. Saat ini mungkin waktu berhenti sesaat dalam iramaku. Ingin kunikmati dulu indahnya tanpa waktu. Sudah lama aku tak ada di masa ini. Dan biarlah aku menjadi biru, atau merah, putih, atau bahkan hitam. Tak harus kau mengerti.