Anugerah Terbesar
29 01 2007Pagi-pagi dingin sisa hujan semalam, membawaku untuk menikmati suasana dengan perasaan begitu suka cita dan keinginan untuk terus mengucap rasa syukur atas datangnya hari ini, lagi. Sejak membuka mata dini hari sebelum waktu subuh, kedua kekasih kecilku dan pak Uban telah menghadiahi hari ini dengan ciuman dan pelukan hangat mereka. Selebihnya, kegitan berjalan seperti biasa hingga tibalah saatnya waktu membuka bacaan pagi. Dan apa yang kubaca membuatku tertegun begitu lama.
Selain berita tentang segala penyakit musim hujan, politik yang membuat geleng kepala, juga ada berita tentang seorang Tamara Blezsinski yang cantik, tapi dijauhi putranya. Dijauhi putranya ! Apapun berita tentang selebriti yang sempat terjamah olehku, bukan urusanku sebagai pembaca dan tidak harus juga membuat aku atau kita memikirkannya dalam-dalam. Setiap orang toh memiliki masalahnya sendiri. Hanya saja kali ini menempatkanku pada posisi merasakan naluri keibuanku. Ketika hak pengasuhan anak jatuh pada tangan Bapak dan bukan pada Ibu, bisa ada banyak ragam alasannya. Namun ketika salah satu alasan itu adalah karena sang anak sungguh tidak ingin berada di dekat sang ibu, bagiku hal itu merupakan kesedihan yang tiada tara dan sulit terlukiskan rasa perihnya. Ada sesuatu yang salah disana.
Anak, memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua orangtuanya. Yakin. Namun masalah kedekatan, memang bisa saja terjadi agak berat pada salah satunya. Begitupun, bukan berarti jika seorang anak sangat dekat dengan sang Bapak, lantas tidak ingin berada bersama Ibu. Maka, ketika kenyataan itu terjadi pada sang artis, hatiku seakan ingin berteriak, apa yang telah terjadi? Apa yang telah kaulakukan pada anakmu, Tamara, sehingga dia menjauhi ibunya sendiri? Benar atau tidak, aku tak pernah tahu. Namun andai memang benar…..sebaiknya Ibu bertanya pada dirinya dan segera mencari cara untuk mendekati putranya.
Menjadi seorang Ibu adalah sebuah tugas yang harus mampu memadukan ketegasan, keteguhan hati, sekaligus kelembutan. Disana diperlukan sebuah kecerdasan, baik pikiran dan terlebih emosi, untuk menyiasati segala keinginan dan sifat-sifat pribadi yang akan mempengaruhi pikiran dan perilaku putranya. Dan melaksanakannya sangat tidak mudah. Karena hal-hal inilah maka seringkali aku bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku menjadi seorang ibu yang memenuhi kebutuhan batin kekasih-kekasih kecilku? Mengingat pada hakekatnya seorang ibu juga manusia yang menyimpan berjuta kelemahan, semestinya segala kekhilafan bisa dimaklumi. Namun jika ternyata tidak ada lagi maklum dari sang putra, bahkan ia berlari menjauh, tidakkah hal itu menjadi sebuah cermin besar untuk mengukur kadar kesalahan? Mungkin ada ibu seperti aku yang tidak terlalu perduli dengan citra diri di hadapan orang lain. Tapi tetap, sang ibu pasti ingin terlihat bernilai baik di hadapan putranya.
Tidak terbayangkan olehku, betapa gundahnya Tamara merasakan kiamat saat ini. Dan ketika tidak terasa membandingkan kondisinya denganku saat ini, kuingat lagi saat-saat tadi Ari dan Rayi mendekapku, mencium pipiku, aku lebih merasa bersyukur. Mereka adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Aku tidak boleh kehilangan mereka apalagi jika itu atas keinginan mereka sendiri. Maka, ketika para sahabat bertanya tentang hadiah terindah bagiku, aku hanya tersenyum. Karena hidup dikelilingi oleh segala cinta dan kasih sayang dari orang-orang tercinta, dan khususnya Ari dan Rayi, sudah melebihi segala yang kuinginkan didunia ini. Terima kasih sayang…dan untuk semua keluarga dan teman-teman tercinta….cintaku untuk kalian…!!
Komentar : 15 Komentar »
Kategori : Ngeresensi dan Nggosip, Sepenuh Cinta

























Komentar Terakhir