Selamat Jalan Untuk Lilin Kecil….

30 03 2007
Gambar diambil dari sini

….dan kau lilin-lilin kecil,
sanggupkah kau berpijar,
sanggupkah kau memberi,
seberkas cahaya…

Mungkin tak perlu ditanyakan lagi, apakah dia sanggup. Karena seorang Chrisye, sudah hidup dalam setiap relung hati mereka yang terlena akan keindahan liriknya. Dia akan selalu menjadi kenangan yang pernah mewarnai kisah cinta tiap insan yang membutuhkan lagunya untuk bertutur. Dan dia juga akan selalu dirindukan oleh mereka yang pernah mendengar legenda perjalanannya namun belum sempat merasakan syahdu tiap baitnya.
Setidaknya, begitulah bagiku.

Hari ini kutinggalkan semua yang ingin kulakukan, untuk meratapi dan mengenang. Kuingat episode-episode hidupku yang selalu ditemani nada-nada indahnya. Tak akan kutemui lagi.

Hari ini Jumat, hari yang suci untuk seorang Chrisye berpulang. Ditemani hujan dan angin dingin, kuharap pulangmu dalam keindahan. Indah dunia yang belum pernah kami pandang. Dan buatlah lagu-lagu indah disana dengan suara tipismu, agar bisa kunikmati suatu saat nanti. Juga bagi mereka yang dalam hidupnya diindahkan oleh lagu-lagu cantikmu.

Selamat Jalan……





Aku Butuh Dia….

27 03 2007
Sebenarnya, aku semula tidak terlalu banyak memikirkan soal lamanya aku beriringan bersama Pak Uban. Sejak mengenal, hingga bergaul erat lalu meningkat menjadi hubungan khusus dan akhirnya menikah, memang waktu yang terentang di dalamnya sangat lama. Mungkin sudah melebihi hitungan perak, walau tentu saja yang diresmikan belum selama itu. Dulu sekali, jika kudengarkan komentar dari teman-teman sekolahku, seharusnya untuk pemikiran anak seusiaku aku akan mengundurkan diri untuk berdekat-dekat terus dengan Uban. Tapi anehnya aku tidak pernah malu, mungkin malah tidak tahu malu, untuk meneruskan langkah. Belum lagi komentar para tetua yang nadanya selalu mengkhawatirkan keutuhan diriku, meskipun mereka mengerti Uban bukanlah jenis orang yang bakal muncul di sebuah harian dengan mata tertutup bidang hitam.

Semakin dewasa aku, pertanyaan dan komentar yang datang pun menjadi lebih jelas membutuhkan jawabanku. Biasanya, seperti juga terhadap pasangan-pasangan yang berpacaran bertahun-tahun, pertanyaan itu seputar bosan atau tidaknya kami menjalani hubungan itu. Jawaban yang kuberikan selalu tergantung suasana hati saat itu, ingin serius atau tidak, berupa jawaban lurus atau berbentuk novel. Tapi satu yang selalu aku tanyakan lagi terhadap diriku sendiri, sempatkah aku berpikir tentang bosan ?

Mengikuti trend anak muda yang di masa sekolah banyak berganti pacar ataupun sekedar menghabiskan waktu bersama, sempat terpikir olehku untuk seperti teman-teman lainnya. Maka, beberapa kali memang aku sempat menghabiskan waktu dengan lelaki selain Uban. Motivasinya hanyalah rasa penasaran tentang seperti apa rasanya kencan dengan orang lain. Tentu yang menjadi korban adalah mereka-mereka yang cukup khilaf untuk mengajakku kencan. Karena dalam kencan itu, mereka akan selalu tahu bahwa Uban telah bersamaku. Uban sendiri, memilih untuk membebaskanku mengalami manisnya masa muda meski mata dan wajahnya sudah berubah merah.

Hingga akhirnya pada percakapan Minggu pagi dengan seorang teman baru, yang aku rasa dalam dirinya tersimpan kerumitan yang hampir sama denganku, aku bisa merumuskan jawaban yang lebih baik.

” Apakah aku bosan? Yang aku tahu, aku butuh dia……”
Sejak kecil, sulit bagiku benar-benar mempercayai seorang sahabat. Aku memiliki banyak sahabat, dan masih berhubungan hingga sekarang meski kadarnya berkurang seiring perjalanan waktu dan kesibukan masing-masing. Tapi aku sangat sadar, jika sesuatu yang buruk terjadi di antara aku dan sahabat-sahabat itu, tanpa kedewasaan dan kebijaksanaan yang memadai, maka semuanya tinggallah sejarah. Tapi laki-laki ini, Pak Ubanku….dari matanya aku melihat sebuah janji. Apapun yang terjadi, aku masih bisa mempercayainya. Maka, disanalah bank dataku tersimpan. Yang baik dan seburuk-buruknya aku, ada disana. Meski perjalanan terburuk kami juga pernah terjadi, kami mampu memperbaiki.

Aku tahu, dia tidak akan abadi. Satu ketika nanti, dia akan hilang, tak peduli aku sempat menyaksikannya hilang atau tidak. Tapi andai kusaksikan nanti, aku hanya berharap kaki ini cukup kuat untuk berdiri. Dan memang harus kuat…..





N A I F

21 03 2007

Warna warni dunia…
hitam, putih, abu-abu
kadang, kala kau tempatkan kaki pada putih
kau tak tahu disana ada hitam
kala kau tak memilih, sesungguhnya kau dalam putih
cakrawala di matamu bukan panorama kehidupannya
dan semburat aneka rasa di lidahnya
menjadi racun tubuhmu

katakanlah kau lihat putih itu
tapi yang terdengar baginya adalah hitam
dan menuangkan merah di raganya
maka kaupun menjadi hitam atau putihmu kotor
maka apa yang mengalir dalam nadimu kemudian ?

kau paham segala angka dan warna yang terhampar
tapi sapuan angin membuatnya tak teraba kulitmu
kau baca barisan kata
kadang tak bermakna
kau nyanyikan kidung cinta
tak semua hati mengerti
lalu apa yang akan kau dapatkan
kakimu harus terus melangkah
jauh dimuka masih banyak pendar
dengan wajah serupa tapi liriknya beraneka bagimu
dan memang itulah maksud Dia
agar selalu ada riak
tak peduli berapa banyak jalan kau lalui

karena aku tak menemukan bahasa lugas hari ini….





Menakar Porsi Kontrol

20 03 2007
Keterlibatan emosi antara orangtua dan anak, rasanya seperti belitan udara di sekeliling kita. Pasti ada cukup banyak untuk kita hirup dan hembus, dan tak mungkin bisa putus. Tak ada masa kedaluwarsa untuk berlakunya hubungan emosi dan perhatian sejak terlahir ke dunia hingga kembali lagi tiada. Bahkan seringkali, hubungan ini pun meluas ke lingkup paman bibi keponakan dan kakek nenek cucu, jika diantaranya selalu terjalin komunikasi yang erat.

Eratnya komunikasi dan hubungan emosi ini ketika masa pertumbuhan dan perkembangannya, seringkali tidak diimbangi dengan takaran perhatian yang seharusnya diberikan. Maksudnya, ketika seorang anak beranjak dewasa dan sudah menjalankan proses berpikirnya sendiri secara lebih matang, pada saat yang sama orangtua di sekelilingnya seharusnya juga mulai mengurangi porsi kontrol terhadap anak tersebut. Selayaknyalah, anak itu sudah mendapatkan sikap orangtua yang lebih menghargai penentuan sikap anak itu sendiri terhadap keberlangsungan kehidupannya. Hal ini justru menjadi masalah terbesar yang seringkali bahkan tidak ingin disadari, dengan dalih pengalaman yang lebih mumpuni dari yang muda.

Aku melihat dua hal ini sedang terjadi pada kehidupan di sekitarku. Ada yang merasa boleh melarang seorang anak dan cucunya untuk menikah muda. Di pihak lain, sang anak merasa telah memiliki segala pertimbangan yang memang seharusnya diperhitungkan ketika akan melangkah pada kehidupan baru pernikahan. Tentu di dalamnya tidak termasuk kepastian kelanggengan pernikahannya, karena menikah adalah sama dengan perjudian, tidak peduli berapapun usianya saat itu. Ssetidaknya begitulah menurut penilaianku. Dan banyak sekali faktor yang menentukan kemenangannya diluar kekuatan komitmen mengikat janji itu sendiri. Selebihnya setelah seluruh peta jelas terhampar, siapa yang berwenang memutuskan, menjadi sebuah wilayah rawan konflik.

Ada lagi anak yang sedang mengurus proses perceraian. Kaum tua merasa perlu berbicara tentang segala sesuatunya karena kemungkinan yang tidak terpikirkan oleh yang bersangkutan akibat tertutup emosi dan dendam tingkat akut. Segala pagar tata etika dan norma umum yang sangat terbuka untuk diinjak-injak sang pelaku perceraian digambarkan di hadapannya. Namun ketika kakinya tetap melangkah tak beraturan, masihkah besar porsi kaum tua disana untuk menitahnya laksana dia baru belajar melangkah.

Ada yang akan pedih terasakan di dada kami ketika kaki mereka terluka oleh jalan yang ditempuhnya. Banyak riak dan sungai mengalir di pipi-pipi mengeriput ini untuk apa saja yang berada di luar garis rencana mereka. Tapi kesedihan dan kebahagiaan yang kami punya nanti belum tentu menjadi punya mereka. Karena kacamata kami dan mereka tak mungkin ditukar. Dan kami tak bisa memastikan jika kami hanya menggenggam perih untuk sebuah perjalanan, mereka juga menggenggam yang sama. Jika mereka telah menuai pohon bijaknya, maka di genggamannya mungkin ada luka dan senyum sekaligus. Seharusnya kami tahu karena senyum itu pertanda mereka bahagia untuk kedewasaan barunya.

Sampai di persimpangan ini, aku bergenggaman tangan dengan Pak Uban. Mata dan hati kami pada kekasih kecil kami. Jika perasaan kami sekarang sama dengan para saudara untuk anak-anak mereka, maka perasaan ini akan muncul lebih dalam bagi kekasih kami nanti. Dan jika perjalanan mereka tiba di titik kritis, kami selayaknya menilik lagi seberapa banyak porsi yang bisa ditawarkan untuk mereka santap. Dan untuk sekarang, tabungan kami adalah bibit-bibit yang harus disemaikan di benak kekasih-kekasih kami agar bisa tumbuh menjadi pohon bijak yang lebih subur dari miik kami.





Thank God Its Friday

17 03 2007

Sekian lama berkutat di bidang seni panggung, aku sedikit mengerti seluk beluk kesulitan memasarkan sebuah produk yang akan dipentaskan. Meski ada yang bernasib baik seperti teater Koma, tapi kebanyakan pasti akan kesulitan untuk menjaring penonton dan dana. Karena semuanya menuntut manajemen yang kuat dan plus minus tentang idealisme menyangkut produknya sendiri. Kurang lebihnya seperti itu, dan aku malas untuk menjelaskannya lebih jauh.
Maka, menjadi sebuah nasib baik pula ketika salah seorang dalam sebuah produksi memiliki kenalan orang-orang berpunya ataupun berpengaruh yang dapat melancarkan niatan menggelar sebuah pementasan. Maka, tak heran jika beberapa hari lalu Pak Uban membawa pulang 2 tiket undangan teater dengan harga khusus. Logika sebab musababnya hingga perwujudannya pasti sama sebangun dengan sanggar tempatku dulu bergabung.

Dan Jumat malam kemarin adalah hari yang telah diatur untuk kami memenuhi tiket undangan itu. Pementasan Sanggar Pelakon Pimpinan Mutiara Sani dengan judul MAHKAMAH, dalamrangka memperingati 3 tahun meninggalnya mendiang Asrul Sani. Tiket ini hanya untuk 2 orang, maka tak mungkin kekasih kecil kami untuk ikut. Tak mungkin pula kami belikan lagi tiket karena harganya saja sudah khusus dalam tanda kutip, maka pengeluaran pun harus dibatasi atau kalau tidak lebih baik kubawa lari ke tempatnya mas Jack Bauer. Maka kekasih kami harus menerima nasibnya untuk dititipkan, di tempat yang bisa mereka sukai tentunya. Dan bapak ibunya, pergi melenggang berkencan sendiri.

Datang ke gedung pertunjukan kesenian sangat menggugah semangatku. Ada De javu. Dan merasa seperti orang yang paling beradab. Semangatku juga masih sama, dengan berbagai aturan yang seharusnya dimiliki jika sudah duduk manis di kursi penonton. Nyatanya…aku harus menepuk dahi setelah berkali-kali kudengar deringan aneka seluler. Deringan itu seharusnya tidak boleh ada untuk beberapa jam di ruang pertunjukan atau akan sangat mengganggu hasrat pemain dan penonton sepertiku. Tidak cukup ribut, ternyata gedung itu berubah seperti tempat pertunjukan kesenian rakyat dimana orang bebas bicara, mengunyah dan berkomentar yang tidak perlu ada. Tandukku berdiri. Rasaku hilang, dan kantuk pun datang. Kehadiran para pembesar di kursi VIP termasuk dari kantor Pak Uban saja yang mencegahku untuk tidak benar-benar terkapar. Semua menjadi salah dan sangat tempelan. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Tapi sejak lama aku belajar untuk mencari sisi terang sebuah hal, meski sulit dan kadang juga gagal. Apa yang kudapat? Lapar. Dan kencan berlanjut hingga ke halaman Pasar Hias Rias Cikini dengan semangkuk bubur ayam dan nasi uduk. Jam 23.00. Diiringi suara nyanyi pengamen tak biasa, dengan dandanan rapi berikut gitar dan bass besar beserta mikroponnya, serta suara yang harus membuat kami merogoh lembaran jauh melebihi seribu rupiah. Sesuatu hal yang dulu sulit kami lakukan di tengah malam karena ibuku beraliran kuno. Inilah yang aku cari dulu, salah satu alasan kenapa aku bersedia menikah muda. Untuk menikmati kemesraan tanpa harus membayangkan adanya wajah tak menyenangkan dan menyeramkan di depan pintu sepulangnya nanti.

Angin malam mungkin tidak sehat. Namun jika bersanding dengan belahan jiwa, aneka cerita mengalir dalam irama tak dipercepat, dan nyanyian …”Don’t forget…to remember me…….” maka aku tidak akan memerlukan dokter apapun juga. Jam 00.00? Biarkan sajalah…..anak-anak aman, dan tak mengapa kami harus melompat pagar lagi untuk mencari kunci yang disembunyikan Ari untuk kami. Yah…..kami memang lupa lagi untuk membawanya.

Laju mobil pun perlahan saja membawa kami, menikmati kencan itu. Aku merasa beruntung karena kemarin hari Jumat. Hari ini anak-anak berangkat sekolah agak siang hanya untuk ekstra hingga tak harus bangun mendahului ayam jago. Dan meski seolah malam Minggu, tapi beruntung juga itu Jumat. Karena jika esok paginya sungguh libur, jangan-jangan kami malah tidak pulang……
Beruntung, kami masih dibebani tanggungjawab, meski bukan wajah menyeramkan untuk dijawab terbata….tenang…santai….





Berhenti Sejenak

15 03 2007

Setiap hari berjalan begitu cepatnya, seringkali kita tak begitu menyadari apa artinya. Terlarut pada segala kewajiban yang ditentukan oleh diri sendiri atau orang lain atau keadaan. Hanya rutin. Membuka mata, menyadari sejenak bahwa kita masih diberikan satu hari lagi untuk menikmati jungkir baliknya dunia, lalu mulailah kita berlari lagi hingga malam menjelang.

Ada rasa lelah saat menjalani hari-hari yang ada, tapi kita tak bisa berhenti. Ada rasa bosan mendengung di kepala, namun seringkali tak mampu menyerah. Semua terasa seperti menjadi satu kata, HARUS……Sesuatu yang mau tidak mau kita jalankan berdasarkan pada tuntutan peran yang kita pilih sendiri. Dan mungkin juga karena pilihan tempat tinggal kita yang melarutkan pada sebuah irama yang begitu cepat berputar.

Namun adakalanya kita menjadi terlalu lelah hingga napas pun seolah tersengal untuk terus berlari. Maka, kemarin menjadi sangat istimewa. Dia begitu lelahnya sehingga perjalanannya tak pernah tiba di tempat tugas meski sudah lengkap terbalut pakaian kedinasan. Aku tertawa menyaksikannya muncul kembali di pintu pagar, karena pakaian itu hanya dikenakannya untuk mengantar jagoan-jagoan kami. Mungkin dia berniat ingin meneruskan niat berlari karena masih disentuhnya laptop dan melihat jadwal hari itu. Hanya saja, akhirnya dia berketetapan hati untuk mengganti sosok kedinasannya dengan celana pendek. Aku hanya memandang dari bangku depan televisi. Tak banyak pertanyaan ingin kuajukan.

Tiba-tiba, waktu seolah berhenti berdetak bagi kami. Dengan suasana mendung di langit dan tanpa warna di dada, kami berdua hanya bersahabat dengan layar kaca, remote dan cemilan. Berbagai film ganti berganti, entah dari cakram ataupun saluran yang ada. Sesekali ditingkahi dering seluler dan pesan pendek mencari sang petugas, namun semua berakhir dengan penolakan atau permohonan maklum. Dan lebih banyak yang mundur teratur tanpa mendapat jawaban. Sungguh tak ada lagi yang kami lakukan dan inginkan. Bahkan seringkali film-film itu seolah tanpa penonton, karena kami sibuk bermimpi dalam arti sesungguhnya.

Hingga kekasih-kekasih kami datang di sore hari, waktu pun berdetak kembali. Semua menjadi rutin kembali dengan berbagai pengawasan pada mereka untuk tugas-tugas esok hari. Tapi laksana mesin yang baru usai disetel ulang, pagi ini kami lebih siap menghadapi lintasan-lintasan kehidupan berikutnya. Apa yang kami butuhkan hanyalah waktu. Waktu yang bisa kami hentikan sesaat untuk kehidupan harian ini. Tak harus bergerak, tak perlu berpikir, tak mesti tersenyum dan tanpa khawatir. Waktu yang entah kapan bisa kami beli lagi. Tak pernah bisa direncanakan.

Apa kabar dunia ?????





Pertama…..Mendebarkan !

13 03 2007

Aku memiliki 2 situasi : memegang teguh janji-janji–yang penting dan yang tidak begitu penting–sekuat mungkin, dan aku harus menyediakan logistik untuk tenaga-tenaga sewaan yang merawat bayinya Pak Uban. Hari ini, kedua situasi itu membuatku agak berkeringat dingin meski sebenarnya juga tidak harus seperti itu.

Oh ya…bayi milik Pak Uban ini sekarang sedang mengalami transplantasi organ dalam, dari keluarganya yang lebih mentereng. Jelasnya, body tua CJ7 yang dicangkoki organ injection sang Cherokee, entah impor dari kaki tangannya yang mana. Sudah hampir seminggu ini operasi besar itu dilakukan di rumah, mungkin sambil berusaha menarik perhatian calon konsumen yang ingin meng-operasi tunggangannya di tempat ini.Yah, setidaknya itu salah satu rencana pensiunnya nanti. Tapi aku menjadi ikut repot karenanya. Sudah menjadi kebiasaan Ubanku tersayang itu untuk menjamu para tenaga sewaan dengan sebaik-baiknya, entah hasil olahan tanganku sendiri atau import dari dapur orang lain.

Tenaga sewaan makan banyak, namun pemilik graha obrak-obrik pasti kelimpungan jika toh masih ada sisa lauk untuk disimpan. Karena usia simpanan ini juga belum tentu habis dalam satu hari. Maka hari ini aku meminta asistenku untuk membeli saja beberapa bungkus nasi uduk untuk makan siang keluarga kami dan mereka, berikut pelengkapnya.

My creation

Masalah pelengkap inilah yang kemudian membuatku terkaget-kaget. Bersama aneka gorengan tempe, ternyata tak kutemui ayam goreng seperti pesananku. Sebagai gantinya…..seporsi jengkol yang dimasak bumbu kari.

Janjiku, aku tak akan menyentuh makanan satu ini. Janji yang selalu kutepati karena kupegang teguh dalam hati. Semakin banyak yang merekomendasikan tentang nikmatnya–kata yang merekomendasi–jengkol, semakin aku teguh memegang janji. Cukuplah petai saja dalam kamusku. Masalahnya, meski porsiku tidak besar, tapi aku termasuk sangat omnivora. Jika sempat aku mencicipi sekali saja dan enak, maka masa depan akan tampak jelas bagiku. Dan masalah kedua, jika para bengkelers itu tak ada yang menyentuh jengkol seporsi itu…maka seharusnya menjadi tugasku untuk…..ah !

Kurencanakan kemana akan kualihkan bulatan-bulatan di mangkok itu jika tak laku disini,….kulirik…memang aku gelisah. berkeringat dingin. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, kusentuh dan kuletakkan sebuah bulatan saja di atas nasi hangat di tanganku. Betul-betul mendebarkan. Berdebar karena pelanggaran janji ini bisa berakibat fatal bagi ke-omnivora-anku. Berdebar, karena memang yang pertama selalu mendebarkan. Maka, akhirnya aku memiliki sebuah kesimpulan religius…jika janji ini saja aku langgar dengan sadar, maka kata terakhir yang kuucapkan akan semakin mengerikan….It’s Really Not Bad, But Delicious !





Ilmu Ikhlas Susah Sekali

11 03 2007
Waktu aku melihat adegan sinetron Kiamat Sudah Dekat tentang sebuah tantangan yang diberikan Haji Romli pada calon menantunya, tidak pernah menduga bahwa adegan itu akan menimbulkan pemikiran terus menerus. Adegan tentang penguasaan Ilmu Ikhlas, yang pak Haji Romli pun masih terus belajar. Ilmu ini sudah tua umurnya, dalam arti sejak kecil kita sering mendengar orangtua dan banyak orang mendengung-dengungkan untuk dijalankan setiap manusia dalam beramal. Tapi sedikit sekali yang kita lihat sukses mendalami dan mempraktekkannya dalam keseharian. Bicara tentu saja semudah membalik telapak tangan, tapi tidak demikian pelaksanaannya.

Dalam kegiatan harian kami di rumah, menyangkut mobilitas Pak Uban dan kekasih-kekasih kecilku ke tempat tugas masing-masing, kami mendapat bantuan satu tenaga. Sebenarnya bantuan tenaga sopir ini tidak begitu kami perlukan karena kami sangat lebih nyaman melakoninya sendiri. Juga, karena kami bukan potongan juragan namun termasuk para pekerja kasar, rasanya aneh jika kami hanya ongkang kaki dan terkantuk-kantuk dalam perjalanan. Namun ketika suatu hari datang sebuah permintaan untuk kami sedikit berbagi rejeki pada yang membutuhkan, rasanya kami berkewajiban untuk mencoba. Siapa tahu dengan sarana ini dosa-dosa kami sedikit tercuci.

Dalam kenyataannya kemudian, niat baik memang selalu menghadapi berbagai ujian. Begitu pula dengan hal ini, kami harus melihat bahwa sang sopir tidak pernah melengkapi tugasnya dalam 5 hari kerja secara penuh. Selalu ada alasan untuk dia tidak datang. Jika kemudian dia bertugas, maka setiba di kantor, yang dia lakukan adalah mencari tempat nyaman untuk tidur, padahal mobilitas Pak Uban cukup tinggi. Artinya, dia harus banyak meninggalkan mejanya dan pergi ke suatu tempat tugas yang lain. Akhirnya, sang sopir ini akan digantikan sopir kantor dan dia ditinggalkan dalam keasyikannya bermimpi. Bagi kami, tindakan meninggalkannya tetap tidur ini sudah menjadi sentilan halus yang tidak perlu lagi diwujudkan dalam kata. Namun mungkin yang bersangkutan tidak merasa bersalah karena berikutnya selalu saja terulang kejadian itu. Dan kami hanya membatin saja, digantikan teman-teman yang justru pro aktif untuk menegur secara langsung. Dan banyak lagi kemalasan dia yang lain, yang selalu kami berusaha tegur dengan sebaik-baiknya cara yang tak membuatnya sakit hati.

Ujian masih belum berhenti. Hal terakhir yang membuat kami tercenung adalah keberaniannya menipuku. Tidak aku sangka dia memanfaatkan ketidakpulangan Pak Uban di suatu malam, dan kepercayaan kami padanya, untuk memanipulasi ketidaktegaan kami melihat keadaannya. Materi sangat mudah dicari, namun apa yang dilakukannya saat itu sungguh mencederai rasa percaya kami padanya. Pada titik ini, pilihan yang tersedia sebenarnya sangatlah jelas tentang apa yang harus kami putuskan terhadap keberadaannya membantu kami. Namun berulangkali kami menelan kembali kata-kata sakti itu. Sampai saat ini, kami selalu tercenung mengingat kembali tentang pelajaran Haji Romli dan pelajaran tua lain dari leluhur. Seberapa besar Ilmu Ikhlas sudah kami mengerti. Seberapa jauh toleransi untuk menjalankannya. Adakah celah untuk tindakan lain yang bisa kami upayakan tanpa kami merasa berdosa. Ah, tanpa dibicarakan pun dosa itu sudah begitu banyaknya.

Lagi-lagi kami banyak menghela napas. Kami banyak mendengar saran. Dan kami terheran sendiri mengetahui kontradiksi ketidakmampuan kami memutuskan tindakan saat ini dengan sifat dasar kami yang begitu kerasnya. Kami sangat keras pada diri kami, namun jika menyangkut nasib orang lain……doakan kami mampu menemukan jalan yang terbaik….





Sop atau Sup ?

7 03 2007

Dianugrahi 2 kekasih kecil yang semuanya jagoan, biasanya rata-rata orang akan tergoda untuk memperlakukannya secara sama. Aku pun kadang masih kerap tergelincir melakukan tindakan tidak bijaksana ini. Padahal kenyataannya tidak mungkin demikian dan tidak sepatutnya seperti itu. Namun disinilah salah satu letak keajaiban menjadi seorang ibu, memiliki pekerjaan rumah seumur hidup untuk selalu mencari cara mendidik dan berkomunikasi secara berbeda pada tiap buah hatinya.

Rayi, memang sangat berbeda dengan Ari. Dia lebih banyak bicara, lebih teliti dalam mengamati orang dan lingkungannya, seringkali mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat kami terhenyak hingga tertawa terpingkal-pingkal, lebih memperhatikan masalah dandanannya, dan lebih mudah untuk panik. Untuk soal panik, saat-saat dia dalam keadaan seperti inilah saat tersulit untuk bicara dengannya. Telinganya seolah tertutup dan tidak mendengar solusi apa yang ditawarkan padanya. Dia akan sibuk berkutat dengan segala persoalannya saat itu tanpa penyelesaian yang jelas. Jika sudah begitu, biasanya aku akan memberi dia tawaran ekstrim tentang beberapa solusi yang bisa dia pilih. Dan satu diantaranya adalah dia tetap menangis sepanjang waktu, jika perlu di tengah lapangan agar bisa dilihat banyak orang, namun masalahnya tak akan pernah terpecahkan. Memang bukan cara yang seharusnya dilakukan seorang ibu yang baik, tapi setidaknya masih bisa diterima oleh logika Rayi sehingga dia akhirnya terdiam dan memilih solusi lain yang bisa dia piih.

Namun ciri khas ini kadang menggelitikku untuk sedikit menggodanya, seperti yang kulakukan baru-baru ini. Akhir bulan ini Rayi akan mengikuti program outbond bersama sekolahnya di suatu tempat di Sukabumi. Namun sejak awal bulan dia sudah sibuk ini dan itu, dan selalu membicarakannya karena terlalu bersemangat. Satu kali, dia meletakkan edaran sekolah secara tak bertanggungjawab, dimana disana tertulis tentang kebutuhan apa saja yang harus dibawa. Kami akhirnya menyimpannya di suatu tempat, namun juga bertanya pada Rayi tentang hilangnya edaran itu yang bisa berakibat tidak enak bagi persiapan keberangkatannya. Maka kami pun selama sehari itu melihatnya sibuk berpikir bagaimana cara mendapatkan kembali edarannya, entah fotokopi sampai merasa harus menelan malu meminta lagi pada gurunya. Entahlah, tapi kami hanya ingin melatihnya lebih bertanggungjawab terhadap barang miliknya dan lebih tenang dalam menghadapi sesuatu masalah.

Semalam, aku membuatkan sepanci kecil cream soup. Ari dan Rayi memang sangat suka pada jenis makanan ini, namun mereka tidak akan menyentuh sayur sop jika ibunya ini tidak sedikit memaksa. Aku menawarkan pada mereka untuk sarapan pagi ini disertai beberapa lembar roti kering dan susu hangat. Sebenarnya tidak kuperhatikan benar apa yang kuucapkan, namun Rayi adalah seorang pengamat yang baik. Maka beginilah dia akhirnya berkomentar,
” Ibu bilangnya ini SUP. Tapi kadang ibu bilang SOP. Mana yang benar sih? Oh…aku tau…aku bakal makan kalau ibu bilang SUP, soalnya artinya sup krim ini. Kalau SOP artinya sop sayurnya orang Jawa itu, aku gak mau ah….” Kakaknya setengah tersedak karena menahan tawa saat akan menelan sarapannya, sedangkan aku dan Pak Uban hanya nyengir tanpa suara.

Yah…secara nilai akademis mungkin dia tidak atau belum sehebat kakaknya. Namun kemampuannya mengkritik dan menyentil kesalahan orangtuanya, bagiku sangat mengagumkan. Kami tidak menjadi tersinggung soal gengsi keorangtuaan namun sebaliknya malah malu karena tidak menyadari kekhilafan kami. Dan kami justru bisa ikut menertawakan kebodohan-kebodohan orangtua. Bukan main !





Duluan Naik Kelas

5 03 2007
Ari, hari Sabtu kemarin sudah menerima raport kenaikan kelasnya. Maka, Senin ini dia sudah belajar di kelas VIII atau kelas 2 SMP. Pada tingkatan reguler, memang saat ini belum lagi saatnya untuk menerima raport, apalagi naik kelas. Namun kebetulan anak sulungku ini, kekasih kecilku, termasuk pada jaringan Program Percepatan Belajar atau Akselerasi. Program ini sendiri memfasilitasi murid-murid yang memiliki sebuah bakat sehingga dapat menempuh waktu belajar yang lebih cepat dari waktu belajar normal. Maka, untuk tingkat SMP ini, Insya Allah akan mampu ditempuhnya dalam waktu 2 tahun, dengan waktu tempuh tiap tingkatnya selama 8 bulan.

Sebenarnya, menurutku ini bukanlah sebuah bakat yang terlalu istimewa. Diibaratkan porsi makan seseorang, ada yang memiliki porsi kecil, sedang dan sangat besar. Begitu pula dengan porsi belajar dan penyerapan materi pelajaran, maka anak-anak yang terjaring dalam program ini terdeteksi mampu belajar secara cepat dan lebih banyak daripada teman-teman regulernya. Dan memang ketika dulu dia sempat merasakan belajar pada kelas reguler, yang dia lakukan di kelas adalah tidur. Benar-benar tidur! Alasannya, dia bosan dengan cara belajar yang terkesan lambat dan hanya mengulang apa yang tertulis di buku, yang seharusnya bisa dilakukan sendiri di rumah. Selebihnya biasa saja, karena sebagai seorang anak diapun masih bisa malas , memiliki keinginan bermain yang sangat besar dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menonton film-film kartun.

Karena teman-teman reguler masih belum sampai pada fase kenaikan kelas, anak-anak aksel ini akhirnya tidak mendapat waktu libur dan mereka harus terus bekerja hingga tiba waktu libur secara bersamaan. Untuk menghibur dan memberi penghargaan atas kerja keras mereka selama ini, maka pihak sekolah berbaik hati mengadakan sebuah acara syukuran. Mereka bisa tampil di hadapan orangtua dan guru-guru, untuk menampilkan sisi lain dari kemampuan mereka selain bidang akademis.

Secara kualitas, jika mereka bernyanyi tentu tidak bisa digolongkan pada jenis yang akan laku di pasaran kaset. Namun, ternyata kemarin mereka bernyanyi dengan hati. Dengan sepenuh kemampuan, tulus dipersembahkan untuk orangtua dan para guru, dan menikmati apa yang mereka lakukan. Dan ketulusan serta keluguan mereka ini justru sungguh mengena di hati kami, menyeruak dan memunculkan keharuan yang sangat dalam. Seingatku, aku pernah mengatakan bahwa aku bukan tipe wanita cengeng. Tapi kemarin airmataku berderai tanpa dapat dibendung menyaksikan mereka bernyanyi dengan penuh cinta. Dan aku berdua Pak Uban dengan begitu relanya kemudian memberikan apa yang menjadi kesukaannya. Sekeranjang besar buku-buku komik yang mungkin akan habis dibacanya dalam waktu 2 hari, sebelum akhirnya dia toh juga akan membaca buku-buku milik kami semacam Digital Fortress karya Dan Brown itu.