Sekian lama berkutat di bidang seni panggung, aku sedikit mengerti seluk beluk kesulitan memasarkan sebuah produk yang akan dipentaskan. Meski ada yang bernasib baik seperti teater Koma, tapi kebanyakan pasti akan kesulitan untuk menjaring penonton dan dana. Karena semuanya menuntut manajemen yang kuat dan plus minus tentang idealisme menyangkut produknya sendiri. Kurang lebihnya seperti itu, dan aku malas untuk menjelaskannya lebih jauh.
Maka, menjadi sebuah nasib baik pula ketika salah seorang dalam sebuah produksi memiliki kenalan orang-orang berpunya ataupun berpengaruh yang dapat melancarkan niatan menggelar sebuah pementasan. Maka, tak heran jika beberapa hari lalu Pak Uban membawa pulang 2 tiket undangan teater dengan harga khusus. Logika sebab musababnya hingga perwujudannya pasti sama sebangun dengan sanggar tempatku dulu bergabung.
Dan Jumat malam kemarin adalah hari yang telah diatur untuk kami memenuhi tiket undangan itu. Pementasan Sanggar Pelakon Pimpinan Mutiara Sani dengan judul MAHKAMAH, dalamrangka memperingati 3 tahun meninggalnya mendiang Asrul Sani. Tiket ini hanya untuk 2 orang, maka tak mungkin kekasih kecil kami untuk ikut. Tak mungkin pula kami belikan lagi tiket karena harganya saja sudah khusus dalam tanda kutip, maka pengeluaran pun harus dibatasi atau kalau tidak lebih baik kubawa lari ke tempatnya mas Jack Bauer. Maka kekasih kami harus menerima nasibnya untuk dititipkan, di tempat yang bisa mereka sukai tentunya. Dan bapak ibunya, pergi melenggang berkencan sendiri.
Datang ke gedung pertunjukan kesenian sangat menggugah semangatku. Ada De javu. Dan merasa seperti orang yang paling beradab. Semangatku juga masih sama, dengan berbagai aturan yang seharusnya dimiliki jika sudah duduk manis di kursi penonton. Nyatanya…aku harus menepuk dahi setelah berkali-kali kudengar deringan aneka seluler. Deringan itu seharusnya tidak boleh ada untuk beberapa jam di ruang pertunjukan atau akan sangat mengganggu hasrat pemain dan penonton sepertiku. Tidak cukup ribut, ternyata gedung itu berubah seperti tempat pertunjukan kesenian rakyat dimana orang bebas bicara, mengunyah dan berkomentar yang tidak perlu ada. Tandukku berdiri. Rasaku hilang, dan kantuk pun datang. Kehadiran para pembesar di kursi VIP termasuk dari kantor Pak Uban saja yang mencegahku untuk tidak benar-benar terkapar. Semua menjadi salah dan sangat tempelan. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Tapi sejak lama aku belajar untuk mencari sisi terang sebuah hal, meski sulit dan kadang juga gagal. Apa yang kudapat? Lapar. Dan kencan berlanjut hingga ke halaman Pasar Hias Rias Cikini dengan semangkuk bubur ayam dan nasi uduk. Jam 23.00. Diiringi suara nyanyi pengamen tak biasa, dengan dandanan rapi berikut gitar dan bass besar beserta mikroponnya, serta suara yang harus membuat kami merogoh lembaran jauh melebihi seribu rupiah. Sesuatu hal yang dulu sulit kami lakukan di tengah malam karena ibuku beraliran kuno. Inilah yang aku cari dulu, salah satu alasan kenapa aku bersedia menikah muda. Untuk menikmati kemesraan tanpa harus membayangkan adanya wajah tak menyenangkan dan menyeramkan di depan pintu sepulangnya nanti.
Angin malam mungkin tidak sehat. Namun jika bersanding dengan belahan jiwa, aneka cerita mengalir dalam irama tak dipercepat, dan nyanyian …”Don’t forget…to remember me…….” maka aku tidak akan memerlukan dokter apapun juga. Jam 00.00? Biarkan sajalah…..anak-anak aman, dan tak mengapa kami harus melompat pagar lagi untuk mencari kunci yang disembunyikan Ari untuk kami. Yah…..kami memang lupa lagi untuk membawanya.
Laju mobil pun perlahan saja membawa kami, menikmati kencan itu. Aku merasa beruntung karena kemarin hari Jumat. Hari ini anak-anak berangkat sekolah agak siang hanya untuk ekstra hingga tak harus bangun mendahului ayam jago. Dan meski seolah malam Minggu, tapi beruntung juga itu Jumat. Karena jika esok paginya sungguh libur, jangan-jangan kami malah tidak pulang……
Beruntung, kami masih dibebani tanggungjawab, meski bukan wajah menyeramkan untuk dijawab terbata….tenang…santai….
Komentar Terakhir