Dalam kegiatan harian kami di rumah, menyangkut mobilitas Pak Uban dan kekasih-kekasih kecilku ke tempat tugas masing-masing, kami mendapat bantuan satu tenaga. Sebenarnya bantuan tenaga sopir ini tidak begitu kami perlukan karena kami sangat lebih nyaman melakoninya sendiri. Juga, karena kami bukan potongan juragan namun termasuk para pekerja kasar, rasanya aneh jika kami hanya ongkang kaki dan terkantuk-kantuk dalam perjalanan. Namun ketika suatu hari datang sebuah permintaan untuk kami sedikit berbagi rejeki pada yang membutuhkan, rasanya kami berkewajiban untuk mencoba. Siapa tahu dengan sarana ini dosa-dosa kami sedikit tercuci.
Dalam kenyataannya kemudian, niat baik memang selalu menghadapi berbagai ujian. Begitu pula dengan hal ini, kami harus melihat bahwa sang sopir tidak pernah melengkapi tugasnya dalam 5 hari kerja secara penuh. Selalu ada alasan untuk dia tidak datang. Jika kemudian dia bertugas, maka setiba di kantor, yang dia lakukan adalah mencari tempat nyaman untuk tidur, padahal mobilitas Pak Uban cukup tinggi. Artinya, dia harus banyak meninggalkan mejanya dan pergi ke suatu tempat tugas yang lain. Akhirnya, sang sopir ini akan digantikan sopir kantor dan dia ditinggalkan dalam keasyikannya bermimpi. Bagi kami, tindakan meninggalkannya tetap tidur ini sudah menjadi sentilan halus yang tidak perlu lagi diwujudkan dalam kata. Namun mungkin yang bersangkutan tidak merasa bersalah karena berikutnya selalu saja terulang kejadian itu. Dan kami hanya membatin saja, digantikan teman-teman yang justru pro aktif untuk menegur secara langsung. Dan banyak lagi kemalasan dia yang lain, yang selalu kami berusaha tegur dengan sebaik-baiknya cara yang tak membuatnya sakit hati.
Ujian masih belum berhenti. Hal terakhir yang membuat kami tercenung adalah keberaniannya menipuku. Tidak aku sangka dia memanfaatkan ketidakpulangan Pak Uban di suatu malam, dan kepercayaan kami padanya, untuk memanipulasi ketidaktegaan kami melihat keadaannya. Materi sangat mudah dicari, namun apa yang dilakukannya saat itu sungguh mencederai rasa percaya kami padanya. Pada titik ini, pilihan yang tersedia sebenarnya sangatlah jelas tentang apa yang harus kami putuskan terhadap keberadaannya membantu kami. Namun berulangkali kami menelan kembali kata-kata sakti itu. Sampai saat ini, kami selalu tercenung mengingat kembali tentang pelajaran Haji Romli dan pelajaran tua lain dari leluhur. Seberapa besar Ilmu Ikhlas sudah kami mengerti. Seberapa jauh toleransi untuk menjalankannya. Adakah celah untuk tindakan lain yang bisa kami upayakan tanpa kami merasa berdosa. Ah, tanpa dibicarakan pun dosa itu sudah begitu banyaknya.
Lagi-lagi kami banyak menghela napas. Kami banyak mendengar saran. Dan kami terheran sendiri mengetahui kontradiksi ketidakmampuan kami memutuskan tindakan saat ini dengan sifat dasar kami yang begitu kerasnya. Kami sangat keras pada diri kami, namun jika menyangkut nasib orang lain……doakan kami mampu menemukan jalan yang terbaik….
nek jareku, iku dudu gak tego, tapi gak teges!! (maap saya bicara jujur) Ciri khas wong jowo. Podo karo bojoku. Yang penting kan bagaimana cara kita menyampaikan, dan orang spt itu mmg hrs diberi ‘pelajaran’. Dengan catatan niat kita bukan untuk mencelakakan atau menjerumuskan dia. Gampang aja, PHK beri pesangon yang cukup. Beres. Dari pada nggerundel mburi. (lagi, cirine wong jowo) Piye Ndang. *kapok tak seneni*
hmmmm, ilmu yg ini kale gak bisa diajarkan, kudu dilakoni jeng, sabar trima konsekuensinya….
aku sendiri juga masih harus banyak belajar ikhlas, mbak. juga belajar sabar. tapi, kalau kasusnya sudah sampai pada tahap “kasih hati minta rempela”, tidak ada kata lain selain “no way” dan segera menindaknya.
Bilang aja dah gak perlu jasane lagi, Endang.
mudah mudahan bisa tegas sekaligus bijak…
ya dikasi taulah…atau dibangunin aja kalo dia tidur. wong muka tembok ditegur secara halus…kirim makhluk halus aja !
mbakyu, kowe kuri ra bijak!!!apaan itu, dia kerja sama kita, kita baik sama dia harusnya ya dia juga baik dong sama kita…
ingat mbakyu, kita ini boleh nolong orang yang memang layak ditolong, kalau emang dia udah kita tolong tapi malah kek gt..kelaut ajee!!!
udah, setuju aku ma dena…pecat kasih pesangon saktomprok…beres khan, daripada makan ati…beeehh kuru ngganggur..!!
kejujuran adlh paling utama, tp kalo kasihan coba dulu diajak ngomong ybs, apa sebab dia berbuat itu, kalo dia insyaf ga ada salahnya diberi kesempatan kedua, eh ini hanya saran, aku pernah ngalami hal yg sama dg staf downlineku, tapi yg tahu situasinya yg persis endang sendiri ya…:)
trvklo pake ilmu management itu masuk kategori managerial problem solving, tibake pertimbangane akeh mbak, misale di kasih probition, trus di tawarin parti time yo di cari win-win solution, emang ga mudah tp klo di kerasi org dg posisi spt itu juga bisa bikin heboh yo mbak…? repot pancen
ditegur aja mbak, kalo sudah sering dan berulang.. mungkin dia gak nyadar.. ada orang yang gak ngerti dengan cara halus.
Buat semuanya: yah…mungkin benar, kadang ketidaktegaan bisa dilihat sebagai ketidaktegasan. Saat ini, kami masih melakukan teguran2 sedikit sambil melihat ada tidaknya perubahan. Juga melihat sampai dimana batas kesabaran kami. Dan saya yakin Uban memiliki cara yang lebih bijaksana daripada yang sudah saya usulkan. Terimakasih semua untuk sumbang sarannya…
mbak, ajarin saya untuk bisa ikhlas dung, susah sekali…
Ilmu ikhlas itu kalau sama ilmu hakekat susah mana ya, Mbak?
Wah kalau aku dah nggak suka aja kalau dikasih kepercayaan terus seenaknya. Satu kali mungkin bisa di toleransi, tapi kalau dah diingatkan masih terus aja, nggak ada kata lain selain keputusan yg tegas harus diambil untuk selanjutnya. Menurutku ini beda antara ikhlas dan tanggung jawab
*tia, itu pelajaran seumur hidup dan hanya bisa dipelajari sendiri jeng..
*kang kombor, hla….ngertinya aja susah, apalagi mbandingin….
*hery, makasih mas pertimbangannya…
Iklsh, adalah semua, APAPUN yg kita kerjakan TANPA n TIDAK punya pengharapan apapun, kecuali ridhlo Alloh, jadi semua hanya karena rasa bakti dan cinta kita kepada Alloh, sol pahala bukan urusan n porsi agenda kita.