Terus saja pikiran itu melanglang liar. Menghitung kelas-kelas berikut yang akan kulewati, 2, 3, 4, 5, 6, SMP, SMA, Kuliah,……,….,…… Aku tiba-tiba takut. Aku tahu, ada banyak tanggungjawab disana. Tidak bisa santai lagi, tidak bisa seenaknya lagi. Pasti ini hasil ramuan dari mantra orangtua dan bawaan kepribadian, mungkin juga naungan bintang. Aneh. Tidakkah itu terlalu serius dan terlalu jauh untuk anak kelas 1 SD? Ndak tahulah…
Menjadi makin besar dan menjalani apa yang harus dijalani, aku tidak pernah lupa saat-saat melantur dulu itu. Masih juga heran bagaimana pikiran itu pernah muncul begitu saja. Lalu tiba saatnya jatuh cinta. Indah, dan kadang nakal juga. Terpikir lagi, setelah semua itu terlewati artinya aku akan melangkah ke fase pernikahan. Duh Tuhan, sanggupkah kujalani?
Lalu tak terasa hidupku dikitari oleh makhluk-makhluk kecil dari rahimku. Kekasih-kekasih kecilku. Dan semua yang kucintai dan mencintaiku. Indah dan nikmat. Pernah ada waktu terburukku disini, tapi semua mampu kujalani dengan panjang napasku. Di akhir hari, selalu kumaklumi sebagai halaman pematangan jiwa. Bicaraku jadi makin tak terkira panjangnya, dan mungkin dalam.
Dulu kupikir menjadi orangtua bisa mengesalkan anak. Egois karena ingin mengatur. Paranoid karena selalu khawatir. Sok tahu karena merasa hidup lebih lama. Tak mau aku begitu. Nyatanya, omong kosong. Aku tetap terkena penyakit itu. Dan kusimpulkan dengan sadar, ” Nak….ternyata aku sudah menjadi ORANGTUA”.
Senja ini hujan lebat. Wangi tanahnya jadi penuh sensasi. Aku teringat lagi sebuah kelas, sebuah bangku di tepi kelas, dan seorang anak yang pikirannya melanglang liar. Semua yang pernah melintas di kepalanya saat dulu itu. Aku tersenyum dan menghela napas, berat. Benar, semua penuh rasa. Dan benar, semua penuh tanggungjawab. Dari darah dan rahim ini memang hanya dua. Tapi anakku bisa darimana saja. Dan cintaku tetap tak berbatas. Maka termungkinkan tertuangnya kata dan laku sebagaimana orangtua yang seharusnya.
“Kamu yang disana, sayangku…..kamu adalah anakku. Jauh sebelum aku memilikinya sendiri. Rindu ini menjadi tebal untukmu. Tatap saja mataku ini. Mungkin kamu temukan kasih Mama di dalamnya. Dan mari kuantarkan kamu melangkah, dengan doa-doaku yang sederhana saja….”






Komentar Terakhir