Diriku Menua

30 05 2007
Pernah satu kali waktu baru pertama menginjakkan kaki di sekolah dasar. Guru bicara di depan kelas. Semua murid mendengarkan meski tidak banyak yang serius dan benar-benar mengerti apa yang didengarnya. Pikiranku yang kecil ini justru berjalan sendiri. Menyadari bahwa aku sudah semakin besar, bukan bayi lagi.

Terus saja pikiran itu melanglang liar. Menghitung kelas-kelas berikut yang akan kulewati, 2, 3, 4, 5, 6, SMP, SMA, Kuliah,……,….,…… Aku tiba-tiba takut. Aku tahu, ada banyak tanggungjawab disana. Tidak bisa santai lagi, tidak bisa seenaknya lagi. Pasti ini hasil ramuan dari mantra orangtua dan bawaan kepribadian, mungkin juga naungan bintang. Aneh. Tidakkah itu terlalu serius dan terlalu jauh untuk anak kelas 1 SD? Ndak tahulah…

Menjadi makin besar dan menjalani apa yang harus dijalani, aku tidak pernah lupa saat-saat melantur dulu itu. Masih juga heran bagaimana pikiran itu pernah muncul begitu saja. Lalu tiba saatnya jatuh cinta. Indah, dan kadang nakal juga. Terpikir lagi, setelah semua itu terlewati artinya aku akan melangkah ke fase pernikahan. Duh Tuhan, sanggupkah kujalani?

Lalu tak terasa hidupku dikitari oleh makhluk-makhluk kecil dari rahimku. Kekasih-kekasih kecilku. Dan semua yang kucintai dan mencintaiku. Indah dan nikmat. Pernah ada waktu terburukku disini, tapi semua mampu kujalani dengan panjang napasku. Di akhir hari, selalu kumaklumi sebagai halaman pematangan jiwa. Bicaraku jadi makin tak terkira panjangnya, dan mungkin dalam.

Dan kini, setelah satu halaman hidupku tertulisi lagi. Aku tidak lagi bercanda jika berkata,
” Aku makin tua, aku adalah orangtua “.

Dulu kupikir menjadi orangtua bisa mengesalkan anak. Egois karena ingin mengatur. Paranoid karena selalu khawatir. Sok tahu karena merasa hidup lebih lama. Tak mau aku begitu. Nyatanya, omong kosong. Aku tetap terkena penyakit itu. Dan kusimpulkan dengan sadar, ” Nak….ternyata aku sudah menjadi ORANGTUA”.

Senja ini hujan lebat. Wangi tanahnya jadi penuh sensasi. Aku teringat lagi sebuah kelas, sebuah bangku di tepi kelas, dan seorang anak yang pikirannya melanglang liar. Semua yang pernah melintas di kepalanya saat dulu itu. Aku tersenyum dan menghela napas, berat. Benar, semua penuh rasa. Dan benar, semua penuh tanggungjawab. Dari darah dan rahim ini memang hanya dua. Tapi anakku bisa darimana saja. Dan cintaku tetap tak berbatas. Maka termungkinkan tertuangnya kata dan laku sebagaimana orangtua yang seharusnya.

“Kamu yang disana, sayangku…..kamu adalah anakku. Jauh sebelum aku memilikinya sendiri. Rindu ini menjadi tebal untukmu. Tatap saja mataku ini. Mungkin kamu temukan kasih Mama di dalamnya. Dan mari kuantarkan kamu melangkah, dengan doa-doaku yang sederhana saja….”





Privasi, Dewa Penyendiri ….

23 05 2007
Semakin aku dewasa, semakin sering aku mendengar orang mengucapkan kata privasi. Entah kenapa dalam sekali dua kesempatan mendengar kata ini mengudara, aku merasa itu hanya sebuah alasan untuk orang itu menyendiri. Setidaknya secara non fisik tak ingin disentuh. Bukan aku tidak memahami kebutuhan untuk menikmati sendiri urusannya, toh aku kadang juga memerlukan itu. Hanya saja ada juga yang menurutku orang itu sekedar melarikan diri dari masalah dan tidak ingin membicarakannya. Atau mungkin dia jenis orang yang tidak biasa berbagi, sehingga lebih baik memendamnya sendiri di balik kata itu. Banyak kemungkinan yang apapun itu, harus diterima dan dimengerti.

Sungguh tidak pantas jika aku atau kita semua kemudian merasa kesal dengan penolakan orang untuk berbagi dan memasang palang privasi. Karena setiap orang pasti memiliki kebutuhan ini. Dan tentu juga tidak pernah menjadi pikiranku karena memahami benar bagaimana menghormati keadaan itu. Lalu apa yang membuatku merenung sekarang? Ya…itu tadi, karena ada kalanya aku melihat bahwa penempatannya terlalu tinggi sehingga sulit untuk dipahami. Misalnya, bila itu terjadi dalam kaitan keluarga besar.

Mungkin budaya Timur atau tepatnya Indonesia, secara kasar bisa dilihat sebagai budaya yang “ingin tahu saja urusan orang” atau “ingin ikut campur segala urusan”. Negatif dan positif saja memandangnya. Tapi dalam keluarga besar disini, bukan itu saja masalahnya. Jika menyangkut sebuah urusan yang selayaknya–dalam kacamataku, sekali lagi–menjadi berita gembira untuk seluruh keluarga, tidakkah lebih baik dibicarakan, disebarkan atau apalah namanya, pada seluruh anggota keluarga? Dalam kacamata budaya Indonesia, jika ada yang berniat tidak mengabarkan kepada seluruh anggota keluarga tentang berita pernikahan sejak awal misalnya, justru akan menimbulkan perasaan lain di hati anggota keluarga yang lain. Sedih, tersinggung, atau mungkin merasa tidak dianggap sebagai orang terdekat. Terlebih di hati orang tua. Dan satu-satunya alasan saat ini untuk tidak meributkan soal perasaan tersinggung itu adalah kondisi dimana keluarga mencoba memahami soal privasi orang yang bersangkutan. Meski…..dahi ini sampai sangat berkerut dalam usaha pemahaman ini. Inilah kondisi yang sedang kurenungkan.

Pada dasarnya, aku dan keluarga besarku mencoba memahami. Berusaha keras memahami. Tapi ketika ada pertanyaan yang ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan, entah kenapa aku seperti melihat tingkah laku selebriti di infotainment yang selalu membantah, padahal sebenarnya apa yang ditanyakan itu benar adanya. Ini sebuah keluarga, bukan paparazzi dan bukan orang lain. Mengapa tak dijawab saja dengan bijak, jika bukti-bukti pun sudah di depan mata. Atau setidaknya yang kami ingnkan, janganlah sesepuh keluarga itu pun turut dibiarkan memendam rasa dan tidak terlibat dalam kebahagiaan itu sejak awal. Jangan biarkan keluarga besar menjadi sama posisinya seperti orang-orang di luar sana.

Oh….mungkin kami memang kurang bijaksana. Menginginkan yang lebih dari porsi kami. Mungkin cinta kami terlalu merepotkan baginya. Tentu, …kami akan terus mencoba mengerti meski dia begitu berbeda dengan kami. Tapi kami tak akan kehilangan cinta kami padanya dan sungguh berharap dia bisa merasakan dan mencoba memahami rasa ini. Dan sebagai bukti rasa itu, apa pun porsi yang diberikan pada kami, akan kami terima dan lahap dengan sukacita, demi melihat senyum dan tawa di bibir dan hatimu….. Selamat Berbahagia, untukmu….





Mmmmm……kalap ?

18 05 2007
Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi sejujurnya aku kurang suka pergi ke Pasar Tanah Abang. Jauh, macet, kisruh, dan sering merasa tidak aman. Tapi jika aku ditunjukkan barang-barang seperti ini :

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket , atau…. seperti ini :

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket dan yang begini :

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Lalu….diberitahu harganya Rp. 35 ribu, Rp. 40 ribu, Rp. 60 ribu saja, aku jadi pusing. Bingung untuk memutuskan. Kemudian ada rombongan sirkus yang terdiri dari kakak ipar, adik ipar, keponakan, yang semuanya perempuan. Ah….aku lupa dengan cita-cita menjadi ibu yang baik dan istri yang teladan. Yah….tiba-tiba aku tidak bertanggungjawab lagi terlebih jika makanan di rumah pun ada, dan mereka bisa ambil sendiri. Bahkan bisa terkaget sendiri mengetahui langit di luar sudah terbit bintang dan bulan. Maafkan aku, ….maafkan aku, sayang…eh….bagaimana dengan perempuan lain, akankah kalian khilaf juga?




Udah Jadi Apa?

13 05 2007

Nggak puas lihat dari bawah, aku manjat genteng lagi dan motret perkembangan prakarya pembuat debu baru di rumahku. Tapi itu si Pak Uban….rupanya juga sedang iseng cari kegiatan di hari libur. Semua tukang besi diliburkan, katanya dia mau coba pasang sendiri dan membaut-baut reng untuk atap bersama adiknya. Apa bisa ? Ah..istri yang tidak mendukung…..tapi, bukan apa-apa…aku takut dia jatuh secara trauma dulunya Uban juga pernah terjatuh dari ketinggian 3-5 meter untuk memperbaiki sesuatu di rumah sepupunya. Wah…mesti siap ambulans nih aku….?!





Anak Ibu Tanpa Syarat

12 05 2007

Memiliki anak pintar, itu idaman. Tapi tidak menjadikannya lebih istimewa. Karena untuk seorang Ibu, setiap orang anaknya memiliki keistimewaan sendiri. Kalau pun memang salah satunya atau semuanya menunjukkan prestasi yang menonjol, semuanya adalah bonus nikmat yang tiada tara.

Anak sulungku, memang termasuk dalam kelas percepatan belajar. Bangga sudah pasti, dan sekali lagi menjadi sebuah bonus dalam hidupku. Tapi, prestasi itu juga belum tentu selamanya ada, jika anakku sendiri tidak konsekuen menjalaninya. Untuk itu, prestasinya tidak membuatnya lebih istimewa dibandingkan sang adik. Hanya saja kebanggaan dan gengsi memang melekat disana, di mata orang yang memandang sulungku. Tidak terkecuali, yang namanya gengsi ini juga begitu mudah dikenali oleh kekasih kecilku yang bungsu. Maka tidak heran kalau dia juga ingin merasakan pendar cahaya kebanggaan jika bisa terjaring dalam kelas percepatan untuk tingkat sekolah dasarnya. Ini kemauannya yang asli tanpa paksaan, rekayasa, atau permohonan orangtua. Berulangkali aku menanyakan keinginannya dan berulangkali aku memberikan gambaran beratnya menjalani hari-hari dalam kelas percepatan, tidak membuat si bungsu Rayi mundur. Semangatnya tetap menggebu, dan tercetus dari mulutnya keinginan untuk seperti sang kakak.

Tidak ada hal lain yang perlu dilakukan sebagai orangtua, selain mendukung keinginan positifnya dan mempersiapkan mentalnya untuk apapun yang mungkin akan dihadapi. Kenyataannya, dia tidak seberuntung Ari kakaknya. Atau entah apa namanya, yang pasti melalui tes yang diikuti, si bungsuku tidak berhasil masuk dalam program percepatan belajar itu. Buatku, hasilnya tentu tidak perlu dirisaukan, karena kestabilan proses belajar anak usia itu memang perlu dicermati. Yang lebih menjadi perhatianku adalah mentalnya dalam menerima keputusan ini.

Memang benar….kekasih kecilku itu langsung terbenam dalam pangkuanku. Dia menangis, dia kecewa. Tanpa dia banyak bicara, aku tahu dia merasa kalah. Aku tahu dia merasa gagal membuktikan bahwa dia cukup pandai seperti kakaknya. Tapi dia tidak tahu hatiku. Hati seorang Ibu yang tidak bisa diukur dengan angka IQ mana pun. Dia tidak harus menjadi jenius untuk tetap menjadi anakku. Dia tidak perlu bintang apapun untuk membuatnya tetap bercahaya dimataku. Bahkan dia dan kesedihannya karena merasa tidak mampu membuat orangtuanya bangga, justru menjadikannya laksana intan yang takkan habis kilaunya. Karena dalam sedihnya itu, hatinya begitu murni untuk memberikan cintanya pada kami. Hati Ibu mana yang meminta syarat untuk cinta yang begitu besar diberikan buah hatinya kepadanya.

Belaian tanganku ini tak akan pernah letih untuk mengusap kepala kekasih kecilku, semuanya. Tapi Rayi, belajarlah berlaku sebagai seorang lelaki sejati. Seorang yang tidak menumpahkan tangisnya lebih dari satu helaan napas. Seorang yang tidak akan jatuh untuk setiap sandungan, tapi justru membuat sandungan itu sebagai tolakan untuk berlari lebih kencang. Dan seorang yang tidak pernah takut untuk kesulitan apapun dan menghadapi dengan senyum.

” Untuk kekasih kecilku Rayi….tetaplah tersenyum dan bergembira. Sebentar lagi akan tiba ulang tahunmu…Ibu sudah memesan kue yang kau minta itu, sayang…..sebanyak yang kau mau ! “

*untuk tante Yuli……terima kasih sebelumnya ya…*




Warisan Dalam Hati Ibu

4 05 2007
Apa yang kuwarisi dari ibuku? Wajah, kerasnya hati, beberapa sifat baik dan buruk. Yang tidak kuwarisi adalah indah rambutnya, kepandaiannya memasak yang turun hanya sebagian padaku, dan seleranya dalam menilai sesuatu. Soal selera ini memang agak repot. Maklum, setiap manusia berkembang tidak hanya dari faktor keturunan. Lingkungan pergaulan, pendidikan dan jauhnya wilayah yang dilangkahi, ikut menentukan. Dan ketika perbedaan ini muncul, sikap terbaik adalah menerima apa adanya. Hanya saja ketika perbedaan ini muncul di tengah hubungan ibu dan anak , apalagi jika menyangkut barang yang akan diwariskan, bisa cukup meresahkan hati.

Beberapa kali Ibuku sudah menyebutkan akan memberikan seperangkat barang berharga yang dicintainya sejak puluhan tahun itu untuk memenuhi rumahku. Dari kesemua kesempatan Ibu mengatakan itu, responku hanya diam berpikir. Atau sesekali aku menjawab dengan sehalus mungkin yang sebenarnya hanya alasanku untuk menolak menerima. Tapi kekerasan hati Ibu dan kecintaannya yang begitu besar padaku, membuat beliau tetap kukuh dengan niatnya itu. Tentu ini meresahkan aku. Apa yang ingin Ibu berikan padaku sangat berbeda dengan apa yang sudah kulukiskan dalam hati ini tentang angan-anganku. Alasan lainnya, ketidaksesuaian barang itu sendiri dengan tempat barunya nanti disini. Ide ini lalu timbul tenggelam sejalan waktu yang memang belum sampai pada detiknya, tapi tetap menjadi masalah laten bagiku. Sampai akhirnya detik itu semakin mendekat.

Aku tak pernah ingin melukai hati Ibu. Aku memiliki angan yang ingin sekali kuwujudkan tanpa cacat. Aku tak pernah ingin membohongi Ibu untuk sesuatu hal yang dia pasti akan melihat wujudnya. Dan jangan pernah ada kejutan mengecewakan untuknya. Sebuah catatan yang kutulis sendiri dalam hati.

Entah bagaimana, aku terbentuk menjadi perempuan yang cukup peka dalam soal hati namun kurang pandai berbasa basi. Dan ketika dua hal ini harus terjadi secara bersamaan, serasa di wajahku terpampang tembok besar yang menuliskan juklak untuk aku mengatakan apa adanya secara logis demi kesesuaian dan pemahaman. Cara ini juga yang akhirnya harus kutempuh untuk bicara pada Ibu tentang warisannya itu. Ada unsur perhitungan matematis dan bentangan peta permasalahan, ada curahan pikiran dan angan dan juga ada sisi hati yang harus kusentuh meski belaiannya pasti tak sehalus seharusnya. Laksana komandan teritorial saja mungkin.

Apa yang kemudian kulihat? Ibu menerima. Ibu memaklumi. Tapi bukan cuma itu yang ingin kulihat. Aku ingin tahu tak ada airmata milik Ibu untukku. Di hadapanku, memang tak ada. Semoga memang tidak mengalir jauh di dalamnya. Ada sedikit kecewa tersaput di wajahnya namun aliran kata-katanya yang tak tercekat menjadi penanda beliau tak terlalu terganggu. Tampaknya, Ibu justru sedang mempertimbangkan jalan keluar yang kutawarkan sebagai kompromi.

Babak berpendapat usai, pikiranku berjalan kembali. Bagaimana proses hidup manusia selalu mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya, hingga akhirnya membuat hidupnya menjadi kaya. Namun kekayaan itu pun bisa memberikan persoalan lain yang memungkinkannya untuk menjadi lebih kaya, atau lebih miskin, tergantung bagaimana dirinya sendiri mengolah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi yang kedua. Dan apapun yang terjadi, kubisikkan kata maaf untuk Ibu. Tak perlu alasan. Dan aku harus mencari cara untuk membuatnya benar-benar tersenyum.