Apa Yang Mampu Dilakukannya?
27 06 2007
Ada cerita tentang orang yang merasa hidup sendiri di dunia ini. Tidak cuma itu, ia juga merasa disepelekan, tidak dihargai dan tidak diperhitungkan dalam drama kehidupan ini. Di saat itu, orang ini dalam situasi yang sangat apa adanya. Dia mampu membeli makan hanya untuk satu kali waktu makan. Dia mengobati penyakit yang datang dari obat murah yang mampu ditanggung isi kantongnya. Ada orang-orang yang mendekati dia menawarkan bantuan uang segar. Tapi seringkali ditolaknya, karena tak mau lalu kebebasannya menentukan sendiri langkah hidupnya jadi tergadaikan. Dan dibiarkannya saja orang-orang yang memandang sebelah mata padanya. Bertahun kemudian, ketika keringat yang diperasnya mulai menunjukkan hasil. Dan tangan Tuhan memberikan restuNya untuk dia menjadi lebih sejahtera, banyak sekali perubahan dia terima. Semua membelalakkan mata dan berbinar memandangnya. Apa yang dia katakan diamini. Tapi dia tetap tak ingin tengadah. Dia harus menghela napas berulang kali untuk perubahan ini. Satu saja yang dia pikir begitu baik terasakan. Dia bisa dekat dengan orang-orang yang dulu agak sulit dijangkaunya, dengan tidak meniru apa yang mereka-mereka dulu lakukan padanya.
Rasanya menyedihkan, ketika uang ini lalu mampu begitu kuasanya mendekatkan kutub-kutub yang semula sulit bersentuhan. Menyakitkan ketika kebahagiaan yang dirasanya ketika dekat dengan banyak orang, salah satu alatnya adalah uang. Orang tadi, tak ingin mengakui kenyataan ini. Sayangnya, di akhir pencariannya dia tetap menemukan jawaban yang ingin dihindarinya. Maka dia lalu bertanya sendiri, adakah dia memang dicintai? Atau dia hanya dicintai karena kekuasaan barunya? Atau orang baru bisa melihat apa yang mampu dia lakukan untuk mereka ketika dia memegang lembaran-lembaran ini? Tak pernah tahu persis. Tapi satu yang dia tahu, betapapun kerasnya dia menyangkal, sosok inilah yang mampu membantunya menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ketika dia tidak menghitung berapa lembar dia keluarkan hari ini untuk kebahagiaan orang lain, tanpa bingung untuk menyimpannya sendiri demi hari tuanya. Karena apa yang dilihatnya, semua bisa terjadi atas ijin PenciptaNya. Dan akan menjadi senjata macam apa uang itu, tergantung tangan yang menggenggamnya.
Aku sendiri, belum pernah menghasilkan uang sendiri. Belum dalam arti dari hasil kerja kantoran yang bertahun-tahun dijalani layaknya temen-teman dan orang di sekitarku. Karena aku memang tidak seberuntung mereka yang mampu dengan bangganya mengatakan memeras keringat demi kehidupan dunia. Dan demi menunjukkan hasil kerja keras orangtua menyekolahkan aku untuk kemudian bekerja secara formal. Jangan. Tidak perlu dibahas lagi apa arti sekolah bagi manusia yang cuma memandang dari sisi kelanjutannya untuk bekerja. Tapi aku kini….menjadi seorang istri. Yang harus kulakukan hanya mendukung kerja keras suamiku dalam menghidupi aku dan anak-anak. Dan mendukung keinginan apapun darinya jika ingin membahagiakan keluarga besarnya. Aku tak harus risau untukku sendiri. Karena dia melakukan yang sama untukku. Maka, secangkir kopi panas di pagi hari dan sepiring sarapan, pelukan hangat ketika kelelahan membayang di wajahnya, dan permintaan pengaturan waktu serta nada bicara yang enak terdengar, tak perlu kukeluhkan. Karena dari sanalah rejeki kami akan datang. Betapa pun kami tidak mendewakan uang itu, tapi kami butuh dia untuk hidup di dunia nyata.
Komentar : 16 Komentar »
Kategori : Ngeresensi dan Nggosip



Komentar Terakhir