Meretas Rindu Duka Lara

30 07 2007

Menelusuri rumah tua yang tak kujamah lagi dalam rentang cukup lama, membawa pikiran ini turut menari-nari. Ada lagu-lagu rindu dikidungkan menggema di hati, meski selarik perih lara tak tertolak ikut tercoret kembali. Hanya batas-batas nilai membawa bait-bait kata yang semuanya tercipta demi damainya hati, aku dan dia…dia yang kutinggalkan dalam sepi. Dan bait-bait itu tercipta karena aku membutuhkan sebuah perlindungan, sebuah alasan. Alasan agar aku tak perlu menyakiti dia, cukup luka itu milikku.

Rumah tua itu makin cantik. Teduh dengan kehijauannya, meski kusapa pada malam kurang sinar. Tetap tidak terlalu rapi karena rapi memang bukan kebutuhan dia yang disana. Hangatnya masih, tapi gemerisik anginnya kadang masih menyisakan sembilu. Kenapa aku harus peduli dengan sayatan angin itu? Bukankah aku terbiasa menerima semua yang menyentuhku apa adanya. Aku tak tahu, selain alasan yang membuatku bicara semuanya melebihi batas yang harus ditiupkan. Mungkin karena tiupan angin dan bait-bait puisi itu lantas menyayatku pada titiknya yang mestinya tak boleh disentuh. Mungkin karena titik itu juga adalah kebanggaanku sebagai manusia yang perlu menjaga apa yang dihormati. Dan disana terpatri mantra, ” Jangan Kau Tak Hormat Pada Ibuku”. Maka sutra sehalus apapun akan mampu membuat Raksasa dalam diri ini bangkit .

Tapi rindu ini bukan tak ada. Pada segala yang bisa kulakukan di rumah itu. Pada alunan irama yang mendayu indah. Rindu yang tak ingin mewujud. Rindu yang datang dengan perih dalam darah ketika ketuk bilah kayu dan tembaga mengalun. Rindu yang tak ingin kusapa. Tak ingin kunyatakan. Tak ingin sungguh kuwujudkan. Karena aku disini. Ada disini. Dengan segala yang mampu kugenggam. Aku cukup bahagia. Dan memang bahagia disini. Puja puji yang kudengar di rumah tua itu hanya sebuah pengakuan yang terlambat. Dan tarikan untukku kembali kesana. Semua sudah cukup bagiku, tak perlu lebih.





Mencoba Berdialog

19 07 2007

Duh Gusti…..
Sungguh luar biasa Agungnya diriMu
Begitu bijaknya Engkau,
Kau begitu bergaya jika ingin bicara
Dan tak seorangpun mampu meniru.
Aneka rasa yang kau berikan di waktu-waktu ini,
masih lahap kunikmati
Apakah itu lebih terasa perih daripada sakit?
Sama sekali tak kupikirkan itu.
Yang kutahu, kami hanya harus berhati-hati menjalani
Lebih luas dalam bidang dada ini
Karena memang kami tahu,
bahu kami masih sanggup memikulnya
seperti yang selalu Kau janjikan.
Tak ada yang harus kupandang lagi
dan mata kami justru perlu terpejam lebih lama
mengamini dan memahami semua maknanya
dan ucapkan terima kasih masih diberi kesempatan untuk merasakan
Karena Engkau wahai Sang Agung……..
begitu bijak dan penuh gaya untuk bicara.





Omong Kosong

18 07 2007
Yang sudah lalu dan akan kulalui, memang sederhana dan kecil saja. Tapi cukup membuat penat. Tak ingin aku hilang arah, maka kulakukan apapun untuk tetap fokus. Dan satu teman dari banyak temanku memberiku permainan ini. Tanpa dia sadari, dia memberi senyum buatku. Cukup menyenangkan. Benar atau tidak, entah…tak kupikir. Yang penting aku bisa lebih lebar tersenyum.

You Are A Green Girl

You feel most at home in a world of ideas.
You’re curious and logical - and enjoy a good intellectual challenge.
You’re super cool, calm, and collected. Very little tries your patience.
Your only fear? People not realizing how smart and able you are!

Nah…yang ini memang sedikit membingungkanku. Kupikir malah aku lebih maskulin, tapi…ah, kan tak kupikir juga…

You Are 62% Feminine, 38% Masculine

You are in touch with your feminine side.
Sensitive, intuitive, and caring are all words that describe you.
And you’re just masculine enough to relate to both men and women.




Arus Airku

16 07 2007
Aku ingin bernapas disini. Setelah minggu yang penuh dan penat. Karena hari ini, belumlah jadi tanda untuk selesai. Hari ini, kulewati satu ujian diantara coba yang lain yang masih terpampang jelas di mataku.

Bagi seseorang dengan posisi sepertiku, salah satu kebahagiaan adalah ketika mata ini melihat permata-permata hatinya berkilau, kekasih-kekasihnya merah merekah di pipi. Tapi satu permata dan kekasihku baru saja terbaring kalah. Demam Berdarah ini banyak yang mengalami, seringkali bahkan hanya beberapa hari saja waktu untuk rebah. Tapi tetap bukan satu kondisi yang bagus untuk diterima. Pasti ada rasa gundah melihat Uban layu. Begitu berat beban dia sebagai lelaki hingga akhirnya harus tumbang. Maka tak mungkin bagiku saat itu untuk beranjak pergi.

Lalu kualitas kemanusiaanku harus lebih diuji. Manakala Uban harus kalah, dan aku masih memiliki tanggungjawab untuk andil menciptakan satu sisi yang bisa membahagiakan orang lain. Mana yang harus kupilih, ego kasihku pada permata hatiku ataukah kebahagiaan gadis yang ingin melangkahi hidup baru? Meresahkanku kala pilihan ini begitu sulit. Tapi manusia memang harus menunduk dan banyak bertanya pada PemilikNya. Karena dari Dia lah banyak ditemukan jawaban. Kudapatkan bantuan untuk menuntaskan tanggungjawabku pada sang calon pengantin. Dan aku masih bisa merawat Uban sepenuh waktu hingga kembali ke rumah hari ini .

Aku tahu, ini belum selesai. Baru satu batu kulalui. Masih menunggu ujian lain yang menuntutku untuk ikhlas. Masih ada halaman-halaman hariku yang mempertanyakan ketakwaan hati dan segala pasrah untuk dunia yang tak abadi. Siang tadi mataku bertumbuk dengan mata Uban. Kami tahu kami hanya perlu tersenyum untuk semua rasa yang kami sesap. Karena Sang Pangeran sungguh Maha Pengasih.

Aku tak ingin memperhitungkan kemampuanku untuk melalui semua ujian. Karena nilai itu ada di Buku Besar di Sana. Aku hanya harus menjalani dalam arusnya yang tercipta untukku. Terlebih karena ujian ini hanya kecil saja. Tak sebanding dengan apa yang dialami Taufik Savalas dan keluarga yang ditinggalkan, kesedihan yang sangat dan manakala kesedihan mereka justru menjadi ladang uang bagi yang lain. Maka aku justru harus berkaca dari ketakwaan mereka meski tak kuinginkan ujian seperti itu.

Yang kubutuhkan sekarang hanya waktu untuk menyesapi dan memilah tiap rasa yang hadir. Lalu mengikuti kemana air hidup ini mengalir. Agar tawaku tak hambar dan kalimatku berarah.





Kubutuh Waktu Ini !

11 07 2007





Menjejaki Keanehan Diri

5 07 2007
Dalam keadaan yang mulai membaik dari serangan flu, aku ingin sekali segera kembali ke ruangan olahraga itu. Untuk membuat badan ini tidak terlalu lebar, untuk membuat otot ini tidak terlalu lembek dan agar daya tahan kembali prima. Tapi beginilah rasanya memiliki teman. Bisa jadi menyenangkan karena perhatiannya di saat sedang susah dan sakit. Tapi kadang juga menjengkelkan, ketika dia memintaku untuk menjejaki keanehan diri. Ya, menjengkelkan karena datangnya di saat aku tidak ingin berpikir apa-apa selain makanan untuk liburan anak-anak. Ah, rupanya dia ingin aku sedikit berolahraga otak untuk membuat pekerjaan yang bisa singkat di tangannya, tapi harus ku-aransement ulang untuk bisa menjadi gayaku sendiri.

Sayang, tahukah kamu aku begitu suka warna cokelat dan hitam? Rasanya, bukan lagi hanya suka, tapi sudah bagian dari kepribadianku. Aku bisa sangat iri hati melihat perempuan lain tampil cantik dengan pakaian warna cerahnya seperti biru, pink atau hijau muda. Dan ingin kubeli juga pakaian dengan warna yang sama. Tapi ketika kaki ini sampai di toko, bagiku coklat dan hitam itu lebih indah. Maka itulah yang masuk ke lemariku nantinya, kecuali ada seseorang yang berusaha keras menggiringku untuk ingat pada rencana semula. Itupun jika aku tidak menjadi sangat keras kepala.

Lalu bagaimana dengan warna lain? Oh, aku suka sekali melihat mobil warna merah darah atau merah cabe. Terang dan sporty tampaknya. Tapi sepertinya aku tak pernah berjodoh dengan mobil warna itu. Setiap kali –dalam kesempatan yang sangat jarang dalam hidup ini– aku berada dalam posisi memilih warna mobilku, maka keinginan itu tak pernah terwujud. Dengan bermacam alasan, selalu aku dipaksa menerima apa adanya. Yah…mungkin baik untuk melatih kepribadian agar tidak mudah menuntut.

Ya memang, selalu ada hikmah dalam tiap kejadian kan? Jangan meledekku begitu, sayang…lelah aku tertawa jadinya. Sesungguhnya, aku ingin datang ke rumahmu untuk secara langsung tertawa bersama. Tapi rasanya, akan kutemui beberapa kendala untuk mewujudkannya. Selain aku akan menjadi merana karena besarnya ongkos, aku juga ragu. Apakah di rumahmu kau pasangi keset kaki yang terbuat dari perca kain atau jalinan tali seperti kebanyakan orang Indonesia gunakan? Aku tak bisa memandanginya dan tak akan kujejakkan kaki pada keset seperti itu. Entah phobia atau apa namanya, tapi aku bisa sangat jijik dan geli karenanya. Maka, kurelakan membeli keset handuk yang lebih mahal untuk rumahku, demi ketentraman batin. Dan yang sudah pernah Uban beli? Kudermakan atau kubuang saja tanpa sesal. Tolong, beri aku ketentraman ini jika akhirnya aku berhasil datang ke rumahmu.

Oh, kau tak suka berbadan sedikit gemuk? Mungkin aku juga. Tapi kau tahu sendiri betapa repotnya mengatasi keinginan makan. Tak banyak makanan yang kubenci, hingga rasanya aku seperti penyuka segala. Beruntung perut ini hanya mampu menampung sedikit. Maka, aneka kesukaan bisa kurasakan walau tak banyak. Jika perlu tanpa sesuap nasi pun, asal kutahu enaknya rasa setiap lauk yang ada. Atau sebaiknya kita berburu makanan enak bersama?

Ah, membayangkan berburu makanan enak bersamamu, entah kita akan semakin kental bersahabat, atau jadi bertengkar seperti ketika membicarakan lelaki itu. Ya….dia kini memang sudah tua. Tapi justru kini aku menyukai dia. Tampak sederhana. Asal jangan dia datang padaku membawakan setangkai mawar. Bukan apa-apa, kutakut aku kan berlari karena tak tahan ingin tertawa pada laki-laki macam itu. Mungkin laki-laki begitu, sedang merasa berperan dalam sebuah sinetron. Tapi kita sama-sama tahu, dia lebih baik membawakanku senapan untuk koleksi, toh hatinya tetap lembut dan penuh kasih.

Banyak sekali tawamu hari ini teman….mungkin kau melihatku begitu keras mendidik anak-anakku. Juga keponakan-keponakanku. Tapi entah mengapa, sejak kecil aku yang tak suka anak kecil ini selalu dipercaya untuk mengurus anak-anak kecil. Bahkan kakak iparku almarhum sempat menitipkan anak-anaknya padaku di saat aku masih jauh dari rencana menikah. Dan kini rumah ini juga dipenuhi keponakan yang ingin menginap dan sengaja dititipkan bapak ibunya jika mereka repot. Padahal, jika mereka tak disiplin sedikit saja, suaraku pasti meninggi dan mata ini membesar. Tapi mereka betah disini. Dan suka bicara denganku.

Dunia ini memang banyak keanehan, sayang….. Begitu anehnya bahkan seringkali kita tak sempat memikirkan apakah kita termasuk orang-orang aneh. Tapi biarlah kita nikmati sendiri. Masihkah kau ingin tahu keanehan orang lain? Lemparkanlah sendiri pertanyaanmu jauh-jauh, karena aku lebi suka menunggui anak-anak itu pergi berenang…





…………..uhuk-uhuk….

2 07 2007
Pernah berjalan-jalan di sebuah tempat yang membutuhkan ketahanan fisik baik karena begitu luasnya? Atau di tempat yang membutuhkan kesiapan mental untuk mengendalikan keinginan anak-anak bermain sepanjang hari? Lalu, bagaimana jadinya jika fisik kita tidak mendukung semuanya? Itu yang terjadi denganku di akhir pekan lalu. Dalam kondisi fisik yang melemah dan stamina sangat menurun karena influenza, menemani anak-anak yang ingin mengisi liburannya seasyik mungkin, mendadak menjadi tugas yang amat berat. Hasilnya, bisa jadi tipu sana sini, bujuk sana sini, dan sogok sana sini pula.

Di sebelah bahuku, bergantung tali tas kecil berisi dompet dan pernik-pernik yang dalam beberapa jam bisa membuat leher pegal. Di kedua bahu dan bergantung di punggung, sebuah ransel berisi pakaian ganti jika sore tiba anak-anak itu sudah tidak wajar lagi bentuk penampakannya. Mata terasa panas dan selalu berair, hidung pun mulai mengalirkan cairan yang sulit untuk dibendung. Lalu ada lagi luas lahan permainan yang entah berapa hektar (carilah sendiri di google berapa luasnya Dunia Fantasi itu) dengan isinya yang pasti dipenuhi manusia dari berbagai sumber. Belum lagi pulang dan pergi rumah dan tempat tujuan harus siap dan waspada di belakang setir. Sungguh sebuah kombinasi hebat dan menarik.

Maka, beginilah buruknya seorang ibu pada saat itu, ” Naik itu saja, antriannya tidak panjang,… yang ini saja tidak berbahaya dan bisa sendiri….tau jalan kan, biar Ibu duduk menunggu disini…..” Atau, ” Ah ibu kurang suka ikut main kalau penuh orang….”
Baru dua jam terlewati, rasanya sudah seperti sepanjang hari disana. Lemas dan kalau bisa cepat saja anak-anak itu merasa lelah supaya bisa segera pulang. Tapi anak-anak tetaplah seperti mesin yang baru di-tune up. Kencang. Kecuali dia mendapati kekecewaan.

Apakah akhirnya ada kecewa? Sedikit. Karena keinginannya menantang kerja jantung dan adrenalinnya tak tersalurkan, dia merasa semua permainan sudah tak menarik lagi. Dan ini bisa menjadi penyelamat bagi ibunya. Maka sejak malam hari itu hingga pagi ini, sang ibu memilih peran ibu Ratu yang banyak tidur . Bisakah? Tidak sepenuhnya. Karena rumah ini di saat libur, selalu saja menjadi ramai dan markas untuk bersenda gurau bercengkrama.