Dalam keadaan yang mulai membaik dari serangan flu, aku ingin sekali segera kembali ke ruangan olahraga itu. Untuk membuat badan ini tidak terlalu lebar, untuk membuat otot ini tidak terlalu lembek dan agar daya tahan kembali prima. Tapi beginilah rasanya memiliki
teman. Bisa jadi menyenangkan karena perhatiannya di saat sedang susah dan sakit. Tapi kadang juga menjengkelkan, ketika dia memintaku untuk
menjejaki keanehan diri. Ya, menjengkelkan karena datangnya di saat aku tidak ingin berpikir apa-apa selain makanan untuk liburan anak-anak. Ah, rupanya dia ingin aku sedikit berolahraga otak untuk membuat pekerjaan yang bisa singkat di tangannya, tapi harus ku-aransement ulang untuk bisa menjadi gayaku sendiri.
Sayang, tahukah kamu aku begitu suka warna cokelat dan hitam? Rasanya, bukan lagi hanya suka, tapi sudah bagian dari kepribadianku. Aku bisa sangat iri hati melihat perempuan lain tampil cantik dengan pakaian warna cerahnya seperti biru, pink atau hijau muda. Dan ingin kubeli juga pakaian dengan warna yang sama. Tapi ketika kaki ini sampai di toko, bagiku coklat dan hitam itu lebih indah. Maka itulah yang masuk ke lemariku nantinya, kecuali ada seseorang yang berusaha keras menggiringku untuk ingat pada rencana semula. Itupun jika aku tidak menjadi sangat keras kepala.
Lalu bagaimana dengan warna lain? Oh, aku suka sekali melihat mobil warna merah darah atau merah cabe. Terang dan sporty tampaknya. Tapi sepertinya aku tak pernah berjodoh dengan mobil warna itu. Setiap kali –dalam kesempatan yang sangat jarang dalam hidup ini– aku berada dalam posisi memilih warna mobilku, maka keinginan itu tak pernah terwujud. Dengan bermacam alasan, selalu aku dipaksa menerima apa adanya. Yah…mungkin baik untuk melatih kepribadian agar tidak mudah menuntut.
Ya memang, selalu ada hikmah dalam tiap kejadian kan? Jangan meledekku begitu, sayang…lelah aku tertawa jadinya. Sesungguhnya, aku ingin datang ke rumahmu untuk secara langsung tertawa bersama. Tapi rasanya, akan kutemui beberapa kendala untuk mewujudkannya. Selain aku akan menjadi merana karena besarnya ongkos, aku juga ragu. Apakah di rumahmu kau pasangi keset kaki yang terbuat dari perca kain atau jalinan tali seperti kebanyakan orang Indonesia gunakan? Aku tak bisa memandanginya dan tak akan kujejakkan kaki pada keset seperti itu. Entah phobia atau apa namanya, tapi aku bisa sangat jijik dan geli karenanya. Maka, kurelakan membeli keset handuk yang lebih mahal untuk rumahku, demi ketentraman batin. Dan yang sudah pernah Uban beli? Kudermakan atau kubuang saja tanpa sesal. Tolong, beri aku ketentraman ini jika akhirnya aku berhasil datang ke rumahmu.
Oh, kau tak suka berbadan sedikit gemuk? Mungkin aku juga. Tapi kau tahu sendiri betapa repotnya mengatasi keinginan makan. Tak banyak makanan yang kubenci, hingga rasanya aku seperti penyuka segala. Beruntung perut ini hanya mampu menampung sedikit. Maka, aneka kesukaan bisa kurasakan walau tak banyak. Jika perlu tanpa sesuap nasi pun, asal kutahu enaknya rasa setiap lauk yang ada. Atau sebaiknya kita berburu makanan enak bersama?
Ah, membayangkan berburu makanan enak bersamamu, entah kita akan semakin kental bersahabat, atau jadi bertengkar seperti ketika membicarakan lelaki itu. Ya….dia kini memang sudah tua. Tapi justru kini aku menyukai dia. Tampak sederhana. Asal jangan dia datang padaku membawakan setangkai mawar. Bukan apa-apa, kutakut aku kan berlari karena tak tahan ingin tertawa pada laki-laki macam itu. Mungkin laki-laki begitu, sedang merasa berperan dalam sebuah sinetron. Tapi kita sama-sama tahu, dia lebih baik membawakanku senapan untuk koleksi, toh hatinya tetap lembut dan penuh kasih.
Banyak sekali tawamu hari ini teman….mungkin kau melihatku begitu keras mendidik anak-anakku. Juga keponakan-keponakanku. Tapi entah mengapa, sejak kecil aku yang tak suka anak kecil ini selalu dipercaya untuk mengurus anak-anak kecil. Bahkan kakak iparku almarhum sempat menitipkan anak-anaknya padaku di saat aku masih jauh dari rencana menikah. Dan kini rumah ini juga dipenuhi keponakan yang ingin menginap dan sengaja dititipkan bapak ibunya jika mereka repot. Padahal, jika mereka tak disiplin sedikit saja, suaraku pasti meninggi dan mata ini membesar. Tapi mereka betah disini. Dan suka bicara denganku.
Dunia ini memang banyak keanehan, sayang….. Begitu anehnya bahkan seringkali kita tak sempat memikirkan apakah kita termasuk orang-orang aneh. Tapi biarlah kita nikmati sendiri. Masihkah kau ingin tahu keanehan orang lain? Lemparkanlah sendiri pertanyaanmu jauh-jauh, karena aku lebi suka menunggui anak-anak itu pergi berenang…
Komentar Terakhir