Rumah tua itu makin cantik. Teduh dengan kehijauannya, meski kusapa pada malam kurang sinar. Tetap tidak terlalu rapi karena rapi memang bukan kebutuhan dia yang disana. Hangatnya masih, tapi gemerisik anginnya kadang masih menyisakan sembilu. Kenapa aku harus peduli dengan sayatan angin itu? Bukankah aku terbiasa menerima semua yang menyentuhku apa adanya. Aku tak tahu, selain alasan yang membuatku bicara semuanya melebihi batas yang harus ditiupkan. Mungkin karena tiupan angin dan bait-bait puisi itu lantas menyayatku pada titiknya yang mestinya tak boleh disentuh. Mungkin karena titik itu juga adalah kebanggaanku sebagai manusia yang perlu menjaga apa yang dihormati. Dan disana terpatri mantra, ” Jangan Kau Tak Hormat Pada Ibuku”. Maka sutra sehalus apapun akan mampu membuat Raksasa dalam diri ini bangkit .
Tapi rindu ini bukan tak ada. Pada segala yang bisa kulakukan di rumah itu. Pada alunan irama yang mendayu indah. Rindu yang tak ingin mewujud. Rindu yang datang dengan perih dalam darah ketika ketuk bilah kayu dan tembaga mengalun. Rindu yang tak ingin kusapa. Tak ingin kunyatakan. Tak ingin sungguh kuwujudkan. Karena aku disini. Ada disini. Dengan segala yang mampu kugenggam. Aku cukup bahagia. Dan memang bahagia disini. Puja puji yang kudengar di rumah tua itu hanya sebuah pengakuan yang terlambat. Dan tarikan untukku kembali kesana. Semua sudah cukup bagiku, tak perlu lebih.

Horeeeeeeeee pertama …. emang kalo inget2 hal yang menyakitkan bikin hati ini tersayat lagi…yg bisa di lakukan cuma “iklas”
yo weeesss, ngga usah menyesal..saiki menari di depan Uban wae..lebih bebas…gak pake baju juga boleh hehehehe…piiisssss
kata2 dalam postinganmu selalu indah…..menyentuh hati
jadi teringat rumah di kampung yang sudah kosong bertahun2 dengan ruang kelas2 lengkap dengan peralatan belajar lainnya, rumah penuh memori yang dengan ikhlas aku tinggalkan untuk mengabdi pada suami di sini, rumah yang menjadi salah satu alsan kenapa satu saat nanti aku harus ke sana dan menyelesaikan semuanya agar tak ada lagi yang terbebani dengan keberadaannya…walah…malah curhat!
fotonya cakep banget !
photonya ayu tenan
banyak ibu yang berkomentar, enaknya rumah tua buat arisan
yeah. nrimo ing pandum.
hiks T_T jd inget ma emak di rumah..
rindu akan tetap ada di hati
ko sedih ya ndang bacanya, bahasa kamu semakin apa ya…nyastra gitu.
eh itu foto kamu nari, keren oi!
kamu pinter nari ya, ajarin…waktu abg aku suka nari juga, rasanya dah berabad nggak lagi, paling goyang2 gak karuan hehehe
waduh mbak..aku jadi teringat sama rumah dikampungku nih…sampe rada menitik air mata baca tulisannya…
ayooo nari lagi, buat pemanasan tho
home sweet home yah…memory will never die…dan akan selalu lekat dalam ingatan….
pinter njoged yah ndang…pic cantik kapan tuh dibuatnya
kalo aku sedang teringat cinta di kota tua. itu lho lagunya nicky astria kkekkkkek
*tata, harus berdamai dengan hati….
*dena, dasar kowe….
*ely, gakpapa kok kalo mau curhat…makasih…heheh
*iway, hihi, jadi malu….
*aLe, pulang sana ke emak…
*cempluk, pasti itu.
*meiy, agak sedih krn inget masa lalu…dah 3th gak nari kok..
*ina, kangen banget ya, kok sampe gitu?
*kenny,nggak kok ken…gak mau..
*wieda, itu pic waktu aku msh kecil…
*innuendo,gak gitu inget lagunya nek !
iya kalo inget kampung halaman jd sedih gmn ya rasanya hampa kali namanya:( kangen pingin mudikkkk…….
bagus sekali kata2nya mbak,….dan bisa membuat saya bergetar menahan keharuan…btw, itu potonya ya mbak…waktu masih nari…cantik sekali
Seharusnya rumah itu bisa dijadikan tempat yang paling nyaman yaaa…
Biarlah kita menyimpan kisah masalalu sendiri…
saya ga pernah ngerasain kayak gitu. soalnya seumur2 saya belum pernah pindah rumah
lah…masa lalu itu khan memang seharusnya jadi bagian dalam hidup kita khan mbak??kita tak akan bisa seperti sekarang ini tanpa adanya masalalu….
sepahit apapun masa lalu, apalagi yang manis, gag bakalan ilang dari memori, gitu kah?
*mama rafi, nunggu lebaran ya?
*tia, iya waktu dulu…hihihi
*pyuriko, rumah memang tempat paling nyaman…
*rime, nanti pasti akan ngerasain
*mei, iya mei..iyaaa….
*danu, yup, bener sih pak.
kalo suatu saat para smirkers kopdaran, boleh loh nari lagiiii.
masa lalu bkn untuk dikenang walaupun bukan untuk dilupakan juga.
keren banget mbak tulisannya… terus berkarya ya mbak…
aku suka banget bacanya…