What’s Going On….

30 08 2007
Baiklah….kucoba untuk tidak bermain dengan kata-kata. Mencoba mengungkap apa yang kurasa tanpa perumpamaan, kiasan atau apapun. Meski selalu akan kembali pada awalnya dan bagaimana sebuah kepribadian membentuk jalan pikir, merangkai banyak hal dalam abjad menjadi tulisan khas. Ouw………

Mengembalikan semangat yang dibutuhkan untuk bergerak ternyata tak semudah yang kubayangkan. Tak cukup hanya tonggak yang ditancapkan tiap saat dalam hati. Tak sekedar gurau aneh tanpa arah menghibur hati. Perlu kerja yang lebih keras dari itu. Aku mulai dari menata kembali jadwal harianku selama ini untuk mengisi kesendirian dalam ruang-ruang rumah ini. Tak sekedar kewajiban seorang ibu yang tertulis mati di langit sana sejak jaman batu. Tapi juga apa-apa yang mampu membuatku menikmati memiliki diri seutuhnya. Mungkin aku juga harus kembali berolahraga.

Meski bapakku seorang yang tak pernah lupa untuk mengukur jalan dini hari , tapi aku tidaklah serajin itu. Meringkuk di atas tilam tentu lebih menyenangkan. Toh aku masih mau melakukannya dan melihat perawakanku, meski kecil tapi tampaknya cukup liat. Dalam riwayatku, baru dua hitungan aku pingsan dan itu pun memalukan untukku. Tuhan mungkin cukup pandai bergurau juga, memberiku seseorang yang lebih senang mengajakku bersepeda Sunter- Ciputat dan membelikan barbel ketimbang menghadiri pertunjukan fashion, misalnya. Bahkan ketika mertuaku tertawa melihatku mengangkat tempat minum besar yang berat berisi kopi panas dengan satu tangan, dia hanya berkomentar pendek. “Latihannya angkat besi dan mendorong mobil…” Oh okelah…..aku harus kembali ke gymnasum.

Kupikir, treadmill tak mungkin bisa memberikan irama yang kubutuhkan untuk memompa semangat ini. Maka studio cycling menjadi pilihan utama. Satu jam mengayuh dengan iringan musik menghentak dalam volume keras, teriakan instruktur serta para peserta mengikuti hentakan musik dan adrenalin yang meningkat tajam, benar-benar kombinasi yang pas saat ini. Akupun ingin ikut di dalamnya, dalam teriakan-teriakan itu. “Hey..hey..hey..hey..I said hey! WHAT’S GOING ON!” Kenyataannya, aku hanya melenggok-lenggokkan badan, sedikit, di atas kayuhan. Mulut ini siap terbuka lebar, tapi tak ada suara. Tak seperti ketika datang marahku. Setengah dari satu jam itu, aku hanya bisa tertawa lebar. Maklum. Apa yang tak menjadi milikku, mungkin memang tak akan pernah kumiliki. Meski sangat ingin, meski aku suka dan sangat butuh. Sesuatu dalam diri ini yang membuatnya tak mungkin. Karena aku bisa menjadi raksasa, tapi gerak lembut serimpi adalah media yang sesuai untukku.

Lepas dari ruang itu, aku seperti terlahir kembali. Tapi aku belum puas jika belum menyusun besi-besi itu dalam kiloan yang mampu kutanggung. Sejenak saja. Sekadar mengeraskan kembali urat-urat yang mulai sangat perempuan. Dan tak kusuka. Setelah itu aku akan kembali kesini. Menarikan jari-jari merangkai huruf membentuk kalimat. Dan semuanya berjalan kembali dalam pola pikirku yang ada. Mungkin tak baik bagi yang lain. Tapi ini asli milikku.





Bola Bergulir

27 08 2007
Mendapat pesan singkat salah alamat seringkali membuat kita tersenyum dan tertawa sendiri. Kebanyakan alasan utamanya adalah karena kita sedikit mengetahui rahasia seseorang. Ini adalah naluri tukang gosip, yang aku percaya sekali semua manusia memilikinya dengan kadar berbeda. Begitu juga denganku. Rasanya seolah mendapat ide baru penyegaran diri dengan bahan ledekan bagi si pengirim pesan singkat itu. Terlebih jika terdapat kemungkinan terjadinya dukung mendukung dalam soal meledek ketika keluarga besar kembali berkumpul, metamorfosis diri menjadi seorang pembunuh karakter berdarah dingin tak disadari lagi. Sang korban, hanya bisa senyum kecut. Atau jika mentalnya kuat, terjadi juga balasan meski terkesan terlalu crispy bagi yang mendengar. Ini yang terjadi di akhir pekan lalu.

Beranjak sore, aku tak lagi senang dengan pesan singkat salah alamat tadi. Bukan lelucon lagi tampaknya. Tatkala dua manusia mencoba memadu hati dan terjadi sedikit ketegangan di antaranya, memang terbuka kemungkinan bagi lingkungannya untuk menjadikannya bahan gurauan agar keduanya justru kembali hangat. Tetapi ketika ketegangan itu tampaknya tak segera mencair, tiba-tiba hati ini menjadi sangat tua, khas orang tua. Begitu kerasnyakah hati sang perjaka? Mengapa dewiku menjadi lemah untuk hal yang tak seharusnya? Bagaimana hubungan itu mungkin berlanjut nanti jika tiba waktunya disatukan? Tapi mengapa aku harus khawatir…..aku mungkin mewakili dua rambut memutih pemilik sang dewi.

Sudut lain rumah bapakku, memaku dua hati lagi yang baru dilingkari bahagia. Mereka memulai jalan hubungan yang sesungguhnya dan tidak akan selalu manis. Mereka akan mulai memasuki perjudian halal. Ya, karena menikah adalah sama dengan berjudi, menurut kamusku. Tak akan pernah tahu apa yang mungkin terjadi. Tapi kami yang mulai menua ini turut menyemai harapan besar di ladang cinta mereka, agar tak ada kemarau yang akan menghancurkan ladang itu. Selalu akan mucul asa dalam sebuah kesadaran, begitulah dulu kami memulai kehidupan yang tak mau mengerti hati tua yang mengawasi langkah kami. Karena hidup mereka bukan lagi milik kami. Mereka mulai dewasa dan mengikuti jejak yang kami tinggalkan.

Tapi selalu lebih menyenangkan melihat kehidupan baru. Karena tangisnya pastilah manis. Tak seperti ketika datang titik, penanda akhir kalimat. Maka kumpul-kumpul kemarin menjadi segar. Banyak tawa dan gurau. Dan kami mulai lagi menggelindingkan bola-bola, saling bersaing menjatuhkan pin-pin putih dalam satu guliran. Tangan teracung untuk menang, bertepuk tangan, atau berteriak girang di tengah kekalahan yang lain. Masalah selalu ada, tapi biarlah berlalu dengan waktu. Kita bermain saja selagi bisa………





Doa dalam Sepiring Jenang Sengkolo

20 08 2007

Gambar dari sini

Hari-hari terus berjalan. Kembali pada iramanya. Melanjutkan yang sudah ada. Kadang juga membuat bentuk baru dalam bidang lukis yang sama. Mengisi jika ada lubang-lubang kosong yang terbentuk oleh waktu. Dalam perputaran napas selalu seperti itu karena rodanya juga masih berputar.

Begitulah niatan terbentuknya ruang luas di rumah ini, arena kongkow dimana jam dinding lebih hanya sebagai petunjuk waktu dan tak terlalu nyata berfungsi untuk pembatas gerak dan perpindahannya. Dan akhirnya tanpa disadari, banyak waktu disana kami lalui untuk selalu membuat lukisan dunia dengan sapuan tawa. Jika kini tawa itu kadang terasa getir, itu hanya sebuah usaha mentertawakan diri dan mencoba sudut pandang lain sebuah kehilangan. Satu sama lain saling mengusap luka dan mencoba bijak menyikapi permainan sang dalang.

Mata hati kami lalu mencari apa yang tidak kami tahu. Jika lalu banyak kisah pilu dimainkan sang dalang atas kami, naluri terdalam mereka-reka mencoba untuk menghentikannya dengan menelisik asalnya. Entah benar entah tidak. Dan ada upacara kecil, tradisi, yang selalu dilakukan di kampung kami. Jenang sengkolo bubur merah bubur putih segera dibuat. Disuap dengan iringan doa panjang. Jujur aku tak tahu salah benarnya atau syirik tidaknya. Tak terlalu kuhayati benar jalannya tradisi selain keinginan menjaga adat. Bagiku doa selalu utama dalam kesempatan apapun. Dan jika dilakukan diluar sajadah panjang yang terbentang di ruang kecil, selalunya baik saja dilanjutkan untuk selalu mengingat sang Khalik. Maka ruang pendopo ini mencatat fungsi lain keberadaannya.

Tangis itu hanya sejenak saja. Karena kami sudah mampu tertawa lagi. Pedihnya tak hilang tetap tersimpan dalam dada. Tapi tawa tetap harus hadir. Karena hidup ini memang sangat lucu, jika kita mampu menterjemahkannya begitu. Seperti saat kami melihat lagi gundukan tanah itu di hari ketujuh. Tanah kosong di sekitarnya masih dimanfaatkan warga kampung sekitar untuk bermain bola. Kami tertawa melihatnya, karena yang kami tahu almarhum sedang merokok melihat permainan bola di pinggir lapangan. Mungkin bahkan bercanda dengan paman yang sudah lama menanti teman bergurau di dunianya sana.

Jenang sengkolo masih ada satu mangkuk hari ini. Nanti akan kusuap lagi waktu sarapan. Dan berbincang dengan ayah ibu mertua tentang apa saja. Dan suapan-suapan jenang sengkolo itu akan tertelan dengan pengharapan besar untuk berhentinya ujian-ujian besar yang akhir-akhir ini selalu datang berurutan. Hanya itu, tak ada niat ingin menduakan sang Gusti . Semoga Gustiku mendengar dan memahami tradisi kami.





Senyum dan Tangis

14 08 2007

Gambar dari sini

Satu hari, kami tersenyum dan tertawa
untuk satu pasangan anak manusia yang bersukacita

Satu hari berikutnya,
ketika satu senyum pergi untuk selamanya
dan tak mungkin kami temui lagi di dunia ini,
kami cuma bisa menangis,
tanpa berkata-kata





Belum Lupa, Belum Lulus

4 08 2007
Selalu tak pernah habis lidah ini menari. Semua tentang hati manusia. Hati yang ingin bersih, sedangkan debu di dalamnya tak segera disapu. Dan mulai berkerak. Dan makin sulit untuk bersih. Menyedihkan untuk kemanusiaan kita. Tapi toh selalu terjadi.

Aku tak menangis untuk milikku. Karena sebesar apapun dunia ini kugenggam, tak akan pernah abadi dan dibawa mati. Gustiku selalu punya cara untuk mengambilnya. Dan selalu kuingatkan diri tentang mantra ini. Namun aku tak pernah ingin dikhianati. Kesetiaan dan kejujuran selalu ingin lebih banyak menyentuh sisi terdalam. Semua tahu. Banyak yang ingin menggangguk, banyak juga yang kesadarannya memintanya untuk menolak entah kenapa. Dan jika khianat serta jujur itu dihujamkan ke dada, teriak kesakitan dan mata tajam kita tak mau lepas dari mereka yang menusukkannya.

Sebuah hati yang kuimpikan adalah bak cermin besar untukku. Dan sejuk bagai aliran mata air untuk memuaskan dahaga siapa pun. Yang kusesali kini, tak kunjung kudapatkan sepotong hati itu. Masih kurindu, masih kuperjuangkan. Karena kini aku belum lupa peristiwa lalu. Tentang jujur dan khianat. Dan hatiku masih lebih kotor dari itu kala aku merasa yakin dengan sesuatu yang aku tak tahu pasti. Masih ingin kutatap tajam matanya untuk menarik lidahnya mengaku. Masih ada bait-bait setan yang dilantunkan mulut ini. Dan aku duduk di sudut ini, mengakui kekalahan. Aku belum lulus……





Dari Gelas Kopi dan Raket Nyamuk

1 08 2007

Duduk bercengkrama di tengah ruang pendopo ditemani angin dan nyamuk, banyak hal yang melintas dalam canda tawa dan diskusi aneka persoalan. Gelas kopi besar menemani masing-masing dari kami, sebagai penanda nyamannya hati dalam aliran kata yang ada. Sesekali raket nyamuk beraksi memberi sentuhan wangi dan suara bak rangkaian irama orkestra sebagai ilustrasi. Makin dalam saja kami menempatkan diri pada bangku dan bale-bale empuk. Lalu apa yang membuat kalimat-kalimat kami mampu mencetuskan tawa?

Sesungguhnya, tanpa kami inginkan, segala kalimat itu bermuara pada kenyataan tentang dua jenis manusia. Berlawanan, tapi sesungguhnya berpasangan dan saling tarik menarik. Utara-Selatan, kanan-kiri, dan laki-perempuan. Tak bisa dunia ini indah jika hanya diciptakan satu saja dari masing-masingnya. Banyak masalah memang, muncul dalam keseharian kehidupan ini dalam hubungan diantaranya. Karena itulah maka menjelma menjadi indah meski kadang juga perang. Hanya jika masing-masing dari kita menyadari bahwa seharusnya semua itu diterima apa adanya, maka lidah ini mampu menyebutnya keajaiban. Dan bila kita sanggup menempatkan diri dengan bijak, maka indah itu memang ada.

Bagaimana seorang perempuan berkeras menyimpan dalam-dalam sebuah pundi keluarga tanpa mau menyentuh, mungkin menjadi keheranan bagi sang lelaki. Tapi jika tidak demikian, maka sia-sialah keringat para lelaki itu membanjir. Bagaimana kemudian lelaki kecil diajarkan berbenah oleh sang bunda, pasti sanggup membuat taring lelaki terasah tajam. Namun jika ditabukan, apa yang bisa ditemui ketika lelaki kecil itu seorang diri di tempat yang jauh dari sang bunda, hanyalah sebuah kotak berdinding yang penuh debu dan bau meracuni otak. Masing-masing punya alasan untuk menjawab dan berdalih.

Lalu menjadi makin riuh canda tawa itu, ketika harus mengurai darah siapa yang memberikan aliran baik pada keturunannya. Masing-masing kutub bersaing ingin menyatakan diri sebagai pihak yang memberikan andilnya. Padahal ketika dirinya diminta menyuarakan potensi pribadi, seringkali hanya senyum malu yang ditampilkan di wajah seolah itu barang langka. Maka pewaris selalu mampu mengubah peta berolah pikir tiap makhluk. Begitu lucu menyadari betapa anehnya manusia dan kemanusiaannya. Tak ada kecuali. Lalu mengapa ketika tak satupun sempurna, harus berujung pada perang memperebutkan nama dan segala atribut semu. Semakin lucu dan aneh untuk kita telan.

Gelas kopi besar ini makin tandas isinya. Raket nyamuk sudah menjadi senjata pembunuh tak berampun dan banyak menjatuhkan korban. Tapi kalimat demi kalimat tak kunjung habis disuarakan. Mungkin ini kelucuan lain yang harus sering-sering kita amini. Karena memang jika suara itu tentang makhluk yang bernama manusia, mata airnya tak akan pernah kering.