Doa dalam Sepiring Jenang Sengkolo

20 08 2007

Gambar dari sini

Hari-hari terus berjalan. Kembali pada iramanya. Melanjutkan yang sudah ada. Kadang juga membuat bentuk baru dalam bidang lukis yang sama. Mengisi jika ada lubang-lubang kosong yang terbentuk oleh waktu. Dalam perputaran napas selalu seperti itu karena rodanya juga masih berputar.

Begitulah niatan terbentuknya ruang luas di rumah ini, arena kongkow dimana jam dinding lebih hanya sebagai petunjuk waktu dan tak terlalu nyata berfungsi untuk pembatas gerak dan perpindahannya. Dan akhirnya tanpa disadari, banyak waktu disana kami lalui untuk selalu membuat lukisan dunia dengan sapuan tawa. Jika kini tawa itu kadang terasa getir, itu hanya sebuah usaha mentertawakan diri dan mencoba sudut pandang lain sebuah kehilangan. Satu sama lain saling mengusap luka dan mencoba bijak menyikapi permainan sang dalang.

Mata hati kami lalu mencari apa yang tidak kami tahu. Jika lalu banyak kisah pilu dimainkan sang dalang atas kami, naluri terdalam mereka-reka mencoba untuk menghentikannya dengan menelisik asalnya. Entah benar entah tidak. Dan ada upacara kecil, tradisi, yang selalu dilakukan di kampung kami. Jenang sengkolo bubur merah bubur putih segera dibuat. Disuap dengan iringan doa panjang. Jujur aku tak tahu salah benarnya atau syirik tidaknya. Tak terlalu kuhayati benar jalannya tradisi selain keinginan menjaga adat. Bagiku doa selalu utama dalam kesempatan apapun. Dan jika dilakukan diluar sajadah panjang yang terbentang di ruang kecil, selalunya baik saja dilanjutkan untuk selalu mengingat sang Khalik. Maka ruang pendopo ini mencatat fungsi lain keberadaannya.

Tangis itu hanya sejenak saja. Karena kami sudah mampu tertawa lagi. Pedihnya tak hilang tetap tersimpan dalam dada. Tapi tawa tetap harus hadir. Karena hidup ini memang sangat lucu, jika kita mampu menterjemahkannya begitu. Seperti saat kami melihat lagi gundukan tanah itu di hari ketujuh. Tanah kosong di sekitarnya masih dimanfaatkan warga kampung sekitar untuk bermain bola. Kami tertawa melihatnya, karena yang kami tahu almarhum sedang merokok melihat permainan bola di pinggir lapangan. Mungkin bahkan bercanda dengan paman yang sudah lama menanti teman bergurau di dunianya sana.

Jenang sengkolo masih ada satu mangkuk hari ini. Nanti akan kusuap lagi waktu sarapan. Dan berbincang dengan ayah ibu mertua tentang apa saja. Dan suapan-suapan jenang sengkolo itu akan tertelan dengan pengharapan besar untuk berhentinya ujian-ujian besar yang akhir-akhir ini selalu datang berurutan. Hanya itu, tak ada niat ingin menduakan sang Gusti . Semoga Gustiku mendengar dan memahami tradisi kami.

About these ads

Aksi

Information

23 tanggapan

20 08 2007
venus

mudah2an keluarga diparingi kekuatan ya, ndang..
saatnya melanjutkan hidup :)

dan jenang sengkolonya, Tuhan pasti tau itu bukan niat menduakan Dia.

20 08 2007
TaTa

jenang sengkolo itu makanan ?? dan ada artinya ??

20 08 2007
Innuendo

jenang sengkolo itu kayak takir ya ? makanan buat kenduri ?

20 08 2007
mei

Tuhan itu maha tau khok, yang penting niat kita dalam melantunkan doa-doa…semoga keluarga diberi kekuatan mbak…

20 08 2007
-Fitri Mohan-

semoga setelah ini semuanya akan lancar kembali ya mpok.

20 08 2007
ely meyer

jenang sengkolo itu sama dengan bubur abang ireng ya?

20 08 2007
kenny

jadi kangen bubur abang putih ki.

seneng denger kamu dah kembali spt biasa jeng, memang hidup mesti diteruskan.

21 08 2007
Muhammad Mufti

Kehidupan bukan hanya satu warna, seperti jenang sengkolo itu. Ada merah dan putih, sedangkan warna merahnya bisa menjadi luntur dan hilang. Jangan sampai patah semangat, tetaplah tegar dalam mengisi kehidupan yang telah digariskan olehNya.

21 08 2007
NiLA Obsidian

To TATA…:dooohhh tataaaaaa…..:-)

mba N….yg penting NIAT nya di dalam hati…krn adat itu kadang juga bisa menjadi ‘peringatan’ kita akan keberadaan Nya

21 08 2007
endang

*venus, makasih ya mbak…..memang ada aja yg memandangnya berbeda soal jenang sengkolo.
*tata, ya bisa diliat di pic itu..
*innuendo, buat slametan, ya kayak pic itu..
*mei, memang…tp ada aja yg bisa memandang salah…
*fitri, itu pengharapan kami sekarang yg terbesar..
*ely, bubur abang putih…
*kenny, iya harus berlanjut terus..
*mufti, makasih mas..
*Nila, iya Nil…

21 08 2007
Mama Rafi

aku ga gt ngerti ttg ritual2 adat gt tp yg jelas jenang sengkolo atau apapun pasti hanya sebagai simbol menghormati leluhur dan tradisikan.
seperti kata mba nila yg penting niatnya baik itu aja dah cukup:)

21 08 2007
aLe

aLe bantu dengan doa saja.
Semoga Tuhan memberi yg terbaik.
aMin..

21 08 2007
Putirenobaiak

dari tulisan ini keliatn betapa tabah dan ikhlasnya kamu ndang…moga always begitu

bubur kah itu, ko bikin ngiler hehe..blm sarapan nih aku, tar sekalian sm lunch aja, kirim ya! :D

21 08 2007
doyan jenang

hhhmmmm jenangnya yamiiiiiii

21 08 2007
isnuansa_maharani

moga tabah ya Mbak. hidup musti terus berlanjut kan…

22 08 2007
ely meyer

mau bilang bubur putih nglantur dadi bubur ireng ^_^

22 08 2007
endang

*mama rafi, iya memang niatnya baik…
*aLe, amiin..makasih Le..
*meiy, iya nanti kubikinin…mudah2an aku terus kuat meiy..
*dena, bikin deh..
*isnuansa, makasih ya…
*ely, hehehe…slip of the fingers…

22 08 2007
amethys

“semua yg ada didunia ini bertasbih memuja Allah” jadi (ini menurutku ya) kalau engkau berdoa dan memakan bubur senkolo mu itu, ya pasti akan membawa hikmah, bukankan setiap makanan yg kita doain Insya Allah akan melangkahkan seluruh anggota tubuh kita kearah yg benar??? hihihi…itu kata pak guru ngajiku loooh

22 08 2007
angin-berbisik

mbak, saya baru tau kalau bubur merah putih itu jenang sengkolo?

24 08 2007
Ina

baru denger aku mbak..thanksn infonya ya, ceritanya juga..:)

25 08 2007
Iko

Apapun itu,… Tuhan mengerti bahwa sama sekali tak ada maksud utk menduakannya.

Bubur merah putih, hanya sebagian kecil dari adat Jawa, yang masih di pakai beberapa orang. Untuk selamatan, dll…

26 08 2007
aroengbinang

kalau ujian sudah slese, biasanya kan ada liburan jeng untuk dinikmati, trus sekolah lagi, dan ujian lagi deh… smoga terus naik kelas di sekolah kehidupan jeng…

27 08 2007
just Endang

*wieda, Ya soalnya ada aja yg ngeliatnya beda siih.
*tia, itu nama kalo di jawa timur…aku gakngerti kalo jawa tengah..
*ina, sama-sama…
*iko, bener Ko..
*aroengbinang, iya mas…amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: