Amat Dalam

29 09 2007
Sang Dewi memilih tempatnya sendiri, menyepi. Meski tak sedang berangin, tak mengapa baginya. Karena hatinya begitu penuh, karena sebuah cinta. Nikmat, terlalu nikmat rasanya, hingga menjadi begitu menyayat. Aneh, tapi amat sangat nyatanya. Karena pekat darah yang mengalir dari sayatan itu terasa manis. Dan dia cecap berulang kali.

Dia mengingat perjalanan cintanya, entah mengapa. Orang bilang unik, aneh, kadang lucu hingga tak mampu dipahami oleh mereka diluar. Satu yang begitu melekat dalam benak adalah ketika begitu sulitnya ayah ibunya menerima kenyataan kemana cintanya dia lekatkan. Banyak alasan dia dengar, tapi tak satupun yang mampu dia mengerti. Karena nafasnya telah meninggalkan catatan bahwa cinta tak pernah mudah. Tapi cinta sungguh maha luas untuk menerima semua beban, meski bukan satu-satunya. Dan itu membuatnya kuat hati menjalani segala dusta pada orang tuanya.

Cintanya terlalu tua untuknya, begitu dalam kacamata semua orang. Tapi tidak untuk sang Dewi sendiri. Caci, olok dan cemooh menjadi bagian dari udaranya. Tapi Dewi begitu yakin dengan hatinya, dibawa oleh suara nuraninya yang begitu terletak dalam. Datang dan pergi wajah muda dalam hari-harinya, sangat bisa dia nikmati. Bukan sekali dua dia mencari pengganti demi menyenangkan hati tua ibunya. Kesemuanya dia lihat secara fisik. Sampai akhirnya dia sadari apa yang dia cari secara fisik itu, juga mencari sosok yang dia cintai. Hanya secara fisik tapi semua adalah cermin wajah cintanya. Lalu bagaimana dia mampu berpaling pada lelaki lain. Jeratnya kuat mengikat hati.

Sepanjang hidupnya kemudian, yang Dewi lakukan adalah menyimak dan belajar. Lelakinya tak banyak memiliki huruf untuk diucapkan kepadanya. Tapi Dewi merasakan dengan hatinya. Dewi mencari cermin lagi untuk tahu bagaimana bicara benar sebagai perempuan. Dimana batas yang tak bisa dilampaui perempuan agar tak menyinggung kelelakian lelakinya. Dia mencari dengan keperempuanannya titik apa yang begitu menyentuh hati lelaki.

Semakin dia mencinta, semakin resah hatinya. Rasanya tak cukup apa yang dia miliki untuk diberikan. Dan begitu takutnya dia kehilangan dan tak punya lagi kesempatan untuk memberi. Ini yang menyayat. Dan sangat perih. Kata orang, jangan berikan hati perempuanmu terlalu banyak pada lelaki agar tidak hancur satu ketika. Tapi Dewi lebih senang menghadapi resiko hancur daripada membawa hati yang cuma sepotong. Dengan begitu dia merasa punya bakti. Jika ditanya apakah lelaki itu membawa cinta yang sama besarnya untuk Dewi, tak mungkin dia mampu jawab sendiri. Karena Dewi tak begitu menyimak tentang itu, tak peduli. Dan jika satu ketika itu datang, Dewi hanya ingin mengganti kulit hatinya yang tipis, dengan kepenuhan yang sama, dengan cinta yang pernah dia punya. Meski besar hati itu sudah menyusut untuk lelaki terdahulu.

Satu hal yang pasti, mengenang indahnya cinta, tak harus pada malam yang khusus……….





Catat Dalam Hati

27 09 2007
Wanita itu tak duduk sendiri. Mestinya dia tidak merasakan kesendirian. Tapi memang hati manusia tak mudah dikendalikan. Bahkan keberadaannya juga tak selalu bersama tubuhnya. Terbang menikmati angin dimana ia ingin berada. Terbang kemana ia suka.

Matanya lurus pada apa yang dihadapinya. Tak berpusat, tapi setengah mati ia pusatkan. Tak ingin terganggu, tak ingin dicampuri urusannya. Bagai cicak di dinding siap menyantap mangsa mendekat, matanya bergerak lincah mencari pengganggu yang ingin memasuki dunianya. Tapi ia bukan yang berkuasa. Tak mungkin dirubahnya diri menjadi laksana. Segala aturan resmi harus dia turuti.

Tak ada pikiran yang bisa dia pusatkan pada tugasnya. Dia hanya ingin menghibur dua teman. Yang katanya sedang menangis berdua. Tapi mereka biasa bicara bertiga. Dan dia jauh disini. Hatinya berdegup kencang. Semenit dua, lima, hingga hitungan menit ke sepuluh. Seluruh nadinya mencoba segala upaya. Segala perhatian yang dipunya dicurahkan. Semua akhirnya hancur karena mereka tak sungguh menderita. Hanya sebuah rasa ingin. Hanya karena sebuah berita yang tertiup jauh.

Tapi wanita itu tak merasakan hancurnya. Dia hidup, bahkan sangat hidup. Dan hidupnya menit-menit itu ingin mengenyahkan semua yang di sekitarnya. Karena ada yang tak tertahankan. Begitu hebat terasa akan meledakkan dada. Dan bermuara pada mulut kecilnya.

Tingkahnya menjadi mencurigakan. Menimbulkan tanya. Menimbulkan amarah pada yang berkuasa disana. Mulutnya tak henti menyuarakan ledakan tertahan. Karena dia begitu lemah untuk mampu menyimpan semua. Tangannya harus membantu sang mulut. Mendekap, melindungi dan sekuatnya menjaga agar ledakan itu tak semakin menguat. Semua ini karena sang teman. Dan salahnya terlalu cepat menanggapi berita. Terlalu mudah jantungnya berdegup.

Kriiiing……..ah, mengapa pula telepon itu harus memperjelas semuanya. Di ujung sana dia tahu pasti, temannya juga meledak bersama dia. Tapi lebih bebas darinya. Dan membuat diri sang teman itu sendiri basah airmata. Mungkin bisa menjalar padanya. Tak sekedar airmata, mungkin juga air seni. Dia amat sangat menyesal harus begitu. Pertama kali dalam hidupnya, dia menyesali berbicara dengan sang teman. Membuat dia begitu ingin, lebih ingin terbang. Agar yang berkuasa di sekitarnya tak memberinya tindakan yang lebih disesalinya. Dan dia cata dalam hati semuanya……catat dalam hati…..

Hallo Tata……jangan terus kau sesali dirimu…….PRmu kuganti dengan ini saja ya?





Menikmati Puasa

25 09 2007

Lokasi: Pasar Ramadhan,
Bendungan Hilir
Waktu : Saat rindu sensasi Ramadhan

Kerinduan yang kurasakan, mungkin menjadi kerinduan semua orang. Kerinduan dalam banyak dimensinya dan kerinduan pada banyak hal. Kerinduan yang tak dapat digapai karena hanya sebuah kenangan, atau kerinduan karena keinginan yang masih bisa dikejar. Tidak…..aku tidak berbicara tentang perasaan rindu mendalam yang lebih bersifat spiritual. Rindu semacam itu hanya bisa kuungkapkan di malam-malam dingin dan sepi menggigit nadi. Sedangkan aku kini hanya ingin mencari tawa. Dari angin yang cuma tipis dan mungkin juga tidak menyegarkan, tapi bisa membuat banyak orang merelakan diri untuk menjerumuskan diri ke dalamnya. Seperti angin sebuah pasar.

Aku bukan temanku, yang berkawan dengan segala tanah becek tak menggairahkan dari kelaziman definisi pasar. Memang, mungkin ada yang salah kumengerti dari ajaran ibuku tentang arti kata bersih. Terlalu ekstrem menjadi rasa jijik yang seharusnya mampu ditanggulangi seorang Ibu sepertiku. Biarlah, selama aku mampu menempuh cara lain untuk selalu menghindari yang kubenci itu. Apalagi jika sebenarnya disana, pasar itu, mampu memberikan kesenangan lain bagiku. Di sisi lain wajahnya untuk kutatap. Seperti wajahnya di bulan ini yang hanya datang setahun sekali.

Bertahun lalu, aku datang pada kembarannya di seberang lautan. Di pasar Mandonga, Kendari. Ah, sedikit bergeser mungkin, di muka sebuah masjid besar yang aku lupa namanya. Dengan tenda besar dan meja-meja ala bazar, menyajikan aneka warna, rupa dan rasa hidangan. Untuk orang-orang yang tak terlalu banyak makan seperti kami, ketertarikan memang lebih banyak pada tatapan mata. Lidah hanya mencecap sedikit. Selebihnya sensasi hanya pada sebuah momen . Gambarannya mulai kabur di kepalaku, dan membuatku ingin kembali mencari. Maka kudatangi lagi apa yang kurindu itu di Pasar Bendungan Hilir.

Tentu saja, Jakarta jauh lebih sesak dari Kendari. Dan anginnya di Pasar itu lebih tipis untuk singgah di sekeliling kulit dan hidung. Tapi gairahnya jauh lebih besar dan mengasyikkan. Apa yang cuma sering kusaksikan di berita ringan layar kaca, bisa kusentuh. Desakan bahu, injakan kaki dan berpuluh kata maaf saling susul tak henti. Belum lagi lengan mengempit dan membuka dompet yang kesekian kali tak juga membuat jera selain hanya tawa. Bubur kampiun, pastel, ongol-ongol, tempe mendoan, dan teman-temannya. Lemang Medan yang menggiurkan tapi meragukan untuk mampu disantap hingga ku masih menjadikannya sebuah sasaran tembak di masa depan. Dan hidangan ala India yang mulai merajai lidah Jakarta, roti canai kari kambing juga kebab. Oh……berapa sentimeter persegi luas lambung yang dibutuhkan untuk semua itu?

Cuma butuh satu akal sehat untuk mengalahkan ganasnya tatapan mata yang mampu ditampung sebuah lambung pada keindahan Pasar Ramadhan. Dan kesadaran waktu yang mendekat pada saat berbuka. Tetap saja akal sehatku hanya menang tipis. Karena ibuku toh sudah berjanji memanjakan lidah dengan lontong balapnya yang nikmat. Satu, dua, tiga…….berapa yang mampu kutanggung? Setengah ongol-ongol, sepotong mendoan, seseruput es campur dan setengah mangkok balap tanpa lontong. Jauh lebih banyak dari biasa dan mampu memenuhi perut hingga esok harinya, dialasi segelas susu saat sahur.

Manusia memang rakus. Seperti aku. Dan jelas tidak memenuhi sunnah Rasul untuk berhenti makan sebelum kenyang. Tapi mungkin ada pemakluman. Karena aku merindukan hiburan cantik macam itu. Sekadar untuk menambah pengalaman hidup dan nikmatnya bersyukur memiliki mata dan lidah yang berfungsi baik.





Ibu Itu Adalah……..

19 09 2007
Tak pernah terbayangkan pada masaku masih sekolah dulu hingga memakai rok abu-abu, tentang bagaimana menjadi seorang ibu. Melihat kerja ibuku sendiri menangani seisi rumah, meski memiliki pembantu pun, aku selalu menggelengkan kepala. Antara heran dan tidak mau. Bagaimana beliau selalu melihat seluruh barang di tiap sudut rumah seolah tak pernah berada di tempatnya dengan benar, sedangkan mata ini bahkan merasa tidak melihat pergerakan benda-benda itu satu senti pun. Tampaknya seluruh rumah hanya berisi debu dalam sinar bola matanya mengingat perintah-perintah beliau padaku untuk selalu mencari kain pembersihnya. Dan dapur itu seolah adalah ruang kantornya dimana sebagian besar waktu yang dihabiskan di dalamnya akan menentukan peningkatan karir. Dan peningkatan karir itu, di dalamnya termasuk mencetak seorang penerus yang mumpuni, dengan pemberian training tiada henti tak peduli sang gadis kecil merintih masih ingin bersepeda dan bermain-main dengan teman-teman yang bahkan kurang mengerti fungsi sapu sama sekali.

Apa yang kulihat di masa kecil dulu, hingga aku dewasa dan akhirnya sekarang berada pada posisi yang sama, ternyata tidak pernah berhenti. Berkurang porsi memang, tapi tidak pernah berhenti. Dan tidak terbatas di ruang-ruang kediaman sendiri, tapi kadang juga masih merasa perlu menjadi relawan di rumah anak dan menantunya. Terlebih padaku sebagai gadis tunggalnya. Sedikit saja terdengar kicau burung adanya proyek lebih di rumah ini, maka bisa dipastikan di muka rumah akan berhenti taksi membawa perempuan tua dengan segudang bawaan berikut tenaga tua yang tak pernah ingin beristirahat. Maka kadang aku harus berbohong atau melambatkan sedikit dari waktu yang seharusnya agar beliau tidak perlu repot lagi seperti dulu. Toh pelatihanku sudah kujalani sejak terlalu dini. Kecuali aku sedang sangat kangen dan manja, maka memang kuminta beliau memasakkan menu yang kuinginkan. Aku cukup sebagai petugas kebersihan yang selalu membuat mata beliau melotot membesar karena kerja beliau memang belum selesai dan petugas kebersihannya terlalu rajin.

Mengingat semua yang ibuku dan kebanyakan ibu-ibu kita dulu lakukan hingga kini, tidak mungkin kita mengatakan selain pujian. Ibu yang baik, bahkan luar biasa. Kategorinya pastilah memastikan semua kebutuhan di rumah siap dan tidak membuat orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya kebingungan. Bingung mencari pakaian, bingung makan apa, dan bingung mencari ini itu. Tapi, kebutuhan pribadi mereka sendiri mungkin terlupakan. Ibuku, Ibumu dan Ibu semua orang tetap manusia. Rasa nyaman, rasa senang, perhatian, cinta, hiburan, airmata, menjadi anak-anak barang sekejap, potensi diri yang terungkapkan ….tetap dibutuhkan. Jika tak terasa penuh skalanya, mungkin lingkungan hanya akan mendapati rasa marah dan raut muka tak bening saja. Tapi lingkungan tak pernah bisa mengerti, kecuali Ibu itu sendiri mencarinya.

Aku pernah mempertanyakan ketika ada ungkapan bagaimana ibu seseorang tak terdengar mengeluh sedikitpun dan selalu menyediakan diri untuk anak dan lelakinya sepenuh hati. Darimana datangnya Ibu itu? Bagaimana dia bisa berbeda dari manusia biasa? Lalu di tempat lain ada teman yang merasa bukan seorang ibu yang baik hanya karena belum berada di rumah menjelang jam makan malam yang berarti kebingungan bagi mulut-mulut di rumah tentang apa yang akan disuapkan. Aku termangu. Apakah keluh adalah sebuah pantangan bagi seorang Ibu? Dan haruskah hidupnya ditentukan oleh setiap detik waktu ? Dan aku disini juga disebut Ibu…..berharap segala yang terbaik dari keibuanku. Dan aku sangat tahu, seorang Ibu bisa membuat dunia ini damai penuh cinta dan keindahan. Atau bahkan hancur tak berwujud.

Masa yang terus berputar, melahirkan persoalan baru tanpa menghapus persoalan lama. Otak yang hanya segumpal dan hati yang cuma sepotong, harus mengolah semua yang ada. Kesalahan yang terjadi tanpa sadar menjadi mutlak adanya. Dan yang bisa dilakukan hanya mencoba mengerti bagaimana bisa terjadi. Bicaralah Ibu dengan nurani, mungkin bisa menyelamatkan dari cibir yang tak perlu. Cinta Ibu mestinya begitu luas dan akan sempurna dengan nurani. Maka, mungkin tak perlu takut dengan nilai baik buruk yang tak jelas gelas pengukurnya. Rasa nyaman, rasa senang, perhatian, cinta, hiburan, airmata, menjadi anak-anak barang sekejap, potensi diri yang terungkapkan ……bukan sebuah kemewahan. Tidak boleh menjadi sebuah kemewahan. Karena itu milik manusia. Dan Ibu tidaklah dari planet lain yang berbeda yang tak bisa memiliki semua kebutuhan itu. Seharusnya jabatan inilah yang menjadi barang mewah. Karena disana ada sepotong hati dan nurani yang lebih peka dan lebih cantik untuk dipelihara. Dan senyum tiap Ibu selalu penuh cinta, bagi sang buah hati. Karena Ibu itu adalah ……….





Nakalnya Anak-anak

18 09 2007
Lepas waktu berbuka dan aku menjadi sendiri. Pak Uban masih belum tiba di rumah, dan dua kekasih kecilku telah pergi bertarawih. Tak ada yang suka berada sendiri di rumah di hari-hari puasa begini, seperti juga aku tadi malam. Duduk sendiri di beranda, kaki kulipat melekat di dada. Angin sedikit, selalunya terasa dingin meski cuaca panas. Seharusnya kutempelkan iPod di telinga biar bisa menjadi temanku. Hanya saja diam seperti itu sudah mendatangkan rasa malas untuk sekedar berjalan dan nantinya mengatur kembali posisi badan di bangku depan. Lebih nikmat tengadah menatap malam, dan dalam sekejap sudah terbang pada masa kecil.

Menghabiskan waktu enam dan tiga tahun di satu sekolah Katolik terkenal di Menteng masa itu, aku menjalani semua kewajiban di sekolah itu tanpa penghayatan. Jika memang waktunya semua murid harus duduk dan menyanyi dalam gereja, maka aku juga disana. Lagu-lagu itu tak berarti apa-apa bagiku selain hanya sebuah lagu yang kujadikan ajang berlatih vokal. Memang tidak berarti suaraku lalu menjadi indah, tapi lalu bisa lebih lantang berteriak dalam bangunan yang begitu besar. Kemampuanku membaca lancar, intonasi jelas dan tepat dalam pemenggalan kata, membuatku seringkali tampil sebagai pembaca kitab di altar. Entah apa artinya karena di saat yang sama aku sedang berpuasa Ramadhan. Setiba di rumah, maka huruf-huruf yang kubaca adalah huruf arab dalam Al Quran dengan seorang Ustad membimbing. Rasanya lucu, aku menjalani dua kebiasaan yang berbeda. Penghayatan mungkin belum ada, tapi yang pasti aku tahu posisi keduanya. Satu sebagai peraturan dan yang lainnya adalah akar. Berdampingan saja.

Anganku mengembara, mencoba mengingat lagi bagaimana tingkahku saat itu. Aku sulit menemukan kenakalanku sendiri. Sedangkan teman-teman kumpulanku selalu dihukum di muka kelas untuk berbagai hal, aku hanya menyaksikan di bangkuku tanpa mengerti mengapa mereka mau dihukum begitu. Kadang mereka sendiri berkata,” Elo doang yang gak distrap, curang !” Lalu aku harus apa? Maka kucoba saja tak mengerjakan PR, dan selanjutnya memutuskan bahwa berdiri di muka kelas bukan hal yang brillian. Paula terkekeh melihatku dan membantuku menentukan posisi untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah. Di rumahnya, di Restoran Le Bistro. PR Paula memang selesai, tapi oma Non Kawilarang malah mengusirku pulang karena mengganggu tidur siang cucunya. Lalu esoknya mama Rima Melati menelpon meminta maaf dan mengajakku untuk tidak jera bermain disana. Aku membatin, kenakalanku saat itu adalah mengganggu tidur siang seorang teman? Aneh. Mungkin seharusnya aku ikut gerombolan kakakku saja, yang setiap minggu akan menyebabkan ibuku datang ke sekolah karena sebuah panggilan kejengkelan guru. Rasanya lebih asyik untuk dikenang di saat tua sekarang.

Tapi apakah aku harus menyesali yang lalu, hanya karena kurang seru untuk diceritakan? Mestinya tidak. Entah bagaimana, Tuhan kini memberiku kekasih-kekasih kecil yang sulit juga untuk bisa kuceritakan kenakalannya. Tak ada dalam ceritaku, rasa geli melihat mereka mencuri-curi minum saat tak kuat berpuasa. Pasti ada tanya meminta ijinku untuk meneguk air dingin di kulkas. Di awal usia mereka mulai mengerti fungsi pensil, hanya sekali coretan mendarat di dinding rumahku. Ketika aku lalu memperkenalkan fungsi dinding dan kertas, maka kesalahan itu tak ada lagi. Jika dindingku lalu ternoda spidol, maka keponakan-keponakan kecil adalah pelukisnya. Rasanya mudah sekali merawat mereka. Entah ini karma baik, atau hadiah, atau sekedar pengertian Gusti akan ketidaksukaanku pada kategori anak nakal. Yang pasti aku pernah mengulang kalimat ibu padaku dulu, pada mereka,” hanya ibu bapakmu yang sayang kalau kamu nakal”. Mungkin ini kalimat sakti, entahlah…..

Aku sedang tersenyum sendiri ketika akhirnya Pak Uban memasuki garasi rumah. Lamunanku menerawang masa kecil harus berhenti. Dia mungkin sempat melirik senyumanku saat tadi memasukkan mobil, karena begitulah dia bertanya. Aku cuma menjawab singkat, teringat celetuk kakakku tempo hari,” …anak laki kok nggak ada nakal-nakalnya….” Biar saja Pak Uban bingung dengan jawaban itu sekarang. Karena aku sedang berpikir, mungkin mereka justru bandel saat sudah kuliah, sepertiku dulu. Menitip absen untuk menonton film….ah, tidak seberapa mungkin…





Dari Dapur Yang Hanya Secuil

15 09 2007
Malam ini hitungan kami, berdasarkan cara hitungan Jawa, memasuki saat untuk duduk melingkar dan mengenang 40 hari perginya satu anggota. Belum tepat 40 memang. Namun tepat atau tidak, sangat tidak penting bagi kami. Karena yang pasti, hingga hari ini napas kami masih sering tersengal mengingat semuanya. Kenyataan ini jauh lebih bermakna dari apapun juga. Ibu di kampung, rabun dan hanya berdua bapak yang sudah lemas dimakan gula, juga sibuk menari di dapurnya, untuk mendiang putra tercinta. Aku dan adik-adik, mencoba menyatukan hasrat mengharu biru dalam satu lokasi saja, tak peduli diterima atau tidak oleh wanita pendamping mendiang. Sebab nyatanya tak ada suaranya menyapa kami. Jika ini nantinya tak berhasil, mungkin memang dia harus dikenang secara berbeda di tiga tempat.

Maka, dalam dua hari ini aku harus lebih lama berada di dapurku yang hanya berbentuk huruf I, yang hanya secuil. Mengiris lebih banyak, menggoreng lebih banyak, berpuluh kali mengelap meja yang toh akan dikotori lagi. Pekerjaan lebih dari sekedar menyiapkan buka puasa dan sahur. Stamina yang prima hasil asahan hidup lebih sehat, membuat semangat menjadi berlebih. Bekal celana pendek, kaos menyerap keringat, rambut terikat, tangan berlumur bumbu memang tak sempat terabadikan lensa. Hati dan otak terpusat pada ruang dan tungku. Apapun yang diinginkan, pasti bisa dilaksanakan jika kendalinya adalah konsentrasi pikiran, kekuatan hati dan ijin dari Yang Kuasa. Dua pasang tangan dan beberapa pasang lagi yang bersifat on-off. Jumlah berapapun yang dimau tak menjadi masalah.

Kadang tarian kami ditingkahi celoteh , mengapa begini mengapa begitu. Tak hendak bergunjing, tapi kesedihan ditinggal pergi seringkali jadi membawa lemah iman. Kesadaran berpuasa harus berperang sekaligus disatukan dengan kesiapan mental menghadapi si tarantula. Tinggal mana yang lebih dewasa, lebih menghayati makna puasa dan lebih waras yang akan menang. Demi kenangan. Demi ketenangan. Demi kekeluargaan. Karena memang cintaku, cinta kami, tak ingin memilah. Dan pisau serta sendok suthil masih terus bermain. Pikiran masih mengenang. 160 box harus sudah siap di tengah hari. Telinga, entah apa yang kan didengar nanti.

Mungkin kami, aku, tidak benar-benar tak bersalah. Mungkin benarnya dia karena memang hanya itu yang mampu diberikan oleh pola berpikirnya. Tapi banyak cara bisa ditempuh untuk bertemu. Dan tidak harus selalu dibawa panas. Sedangkan dapur secuil ini toh masih mampu melakukan tugas yang lebih berat dari kesehariannya. Mestinya masih lebih baik daripada harus mencabut banyak ratu dari dapur mereka sendiri untuk terlibat pada yang bukan bagiannya. Mas, maafkan jika terasa kurang baik dalam mengenangmu. Tapi aku tahu, semua hanya berebut kasihmu yang hanya bisa dikenang dan selalu mengasihimu. Tetaplah bahagia, tidak perlu lagi menguatirkan apapun……

* terimakasih untuk pinjaman gambar dari sini





Kok Dia Bisa Gitu Ya?

10 09 2007
Jelas-jelas aku tidak akan pernah berani berkata pada dunia, bahwa kualitasku sebagai manusia adalah baik. Apalagi yang tergolong jempolan dan menjadi salah satu orang-orang langka dan terpilih. Menjadi orang yang cukup mengerti batas kapan orang lain akan menjadi sakit hati karena lidahku saja, itu sudah harta bagiku. Padahal, siapa yang tahu jika ternyata aliran ungkapan yang mengalir dari mulut ini bisa mengiris perasaan sesamaku. Tapi ternyata, aku masih bisa selalu dibuat terperangah oleh orang-orang yang justru memiliki niat kuat untuk mengeluarkan kata sambil menebarkan sembilu-sembilu tajam. Dan dia merasa hebat karenanya. Kok bisa ya?

Belum lagi siaran-siaran warta berita made-in orang tipe ini yang menuntut kita menjadi pendengar yang sangat cerdas. Cerdas memutuskan untuk mendengar atau tidak. Cerdas untuk berani mempercayai isi berita atau tidak. Cerdas untuk menolak dijerumuskan dalam sebuah konflik karena warta berita itu atau tidak. Dan hal-hal yang semacam itu. Kecerdasan-kecerdasan ini menuntut stamina kita dalam kondisi yang juga prima. Bisa terbayangkan, jika kita sedang dalam keadaan lelah, pusing oleh suatu masalah, dan emosi yang sedang tidak baik. Pasti kecerdasan itu akan dirampas oleh tangan-tangan setan yang sangat-sangat usil.

Aku bukan orang yang selalu ingin bermanis-manis pada orang lain jika hasilnya justru tidak bisa manis. Tapi memberi kenyamanan pada orang lain agar bisa duduk tenang, rasanya sebuah keharusan. Kecuali sangat terpaksa, itupun tetap dalam koridor untuk tidak keterlaluan. Tapi ternyata ada juga yang memilih untuk tidak memberi rasa tenang dan nyaman pada sesamanya, entah berwajah manis ataupun tidak. Jika boleh mengklasifikasikan jenis manusia, aku sendiri tidak tahu harus mengklasifikasikan jenis ini pada kelompok yang mana. Lebih lagi karena ini menjadi semacam hobi baginya, mengapa ada hobi yang begitu aneh seperti ini. Bagaimana cara dia mengisi formulir yang harus mencantumkan data diri? Haruskah tertulis :
Hobi, menyakiti orang lain. Opo tumon ?

Banyak sekali di sekitar kusaksikan orang-orang yang tidak beruntung untuk bisa disebut pintar. Mungkin karena memang dia tak memiliki kesempatan bersahabat dengan sekolah. Biasanya mereka sangat bersedih untuk ini. Sebagian lain yang agak lebih pandai secara emosional, maka sedikitnya mereka akan beelajar bagaimana hidup bermasyarakat dengan tata aturan yang pantas. Hingga akhirnya kembali pada naluri hidup berkelompok, orang lain akan mampu menerimanya sebagai teman tanpa ingat jenjang belajarnya. Lalu, apa yang terjadi pada jenis orang yang aneh? Kebodohan ini justru bisa menjadi sebuah senjata. Digunakan untuk melawan orang lain dan sekaligus menguji sudut pandang orang agar menerima dia sebagai yang teraniaya. Setelah itu, dia bisa bebas menganiaya hati orang. Kok bisa? Bagaimana mungkin menjadi bodoh lalu bangga, lalu meneror orang, lalu meletakkan kesalahan pada orang lain?

Aku kehilangan kata untuk menyebut jenis ini. Tapi temanku menyebutnya tarantula, entah darimana ide itu muncul. Kusetujui saja tanpa pikir panjang. Menerima jenis ini dalam kehidupan, adalah hal yang harus dihadapi sebagai warna saja. Menentukan sikap seperti yang dilakukan temanku itu, bisa jadi pilihan. Pergi, adalah pilihan terakhir. Tapi jika orang ini ada dalam garis yang tidak bisa kita tinggal pergi, pilihannya mungkin hanya bengong atau banyak berzikir. Kenapa zikir? Karena meski bukan kaum langka dan terpilih, aku juga tidak mau tiba-tiba sakit jantung karenanya atau malah menjadi orang jenis ini. Cukup dengan mengeluh “kok dia bisa gitu ya?”. Cukup dengan bengong saja mungkin, Fit. Asal dia jangan membangunkan raksasaku saja……….karena aku bisa sama sekali tidak cerdas !

*tertuang karena sebuah obrolan cukup panjang dan membuat kami heran sendiri, mungkin berguna untuk periksa diri menjelang puasa*





Ibu-Ibu Rumpi

8 09 2007

Petuah orangtua mengatakan, jangan suka iseng jadi orang. Mmmm…..entahlah, mungkin maksudnya pasti baik. Tapi buatku, jika iseng membuat kita awet muda dan bisa merasa hidup lebih hidup, ya itu bagus. Maaf, bu….iya, harus dengan dosis tepat ya. Mirip dengan minum obat memang. Sudahlah, yang penting selamat, menurut apa kata orangtua. Lalu, apa hubungan iseng dengan wajah-wajah di atas?Begini…

Setiap kali kunjungan ke tiap blog, memberi komentar, apalagi yang sifatnya mendukung dan menghibur, biasanya akhir komentar itu ada passwordnya sebelum titik terakhir. ” Kita ngopi-ngopi aja yuuuk…” Kadang aku berpikir, pemberi komentar ini seorang ibu ataukah satpam, peronda malam atau sejenisnya? Mungkin gabungan dari semuanya. Istimewanya, mereka bisa nggembol bayi di perutnya. Hanya itu. Nah, kalimat yang terucap itu ternyata bukan lagi sekedar iseng. Ini bisa jadi bakteri yang membuat mereka-mereka tega melarikan diri dari rumah, dari anak…menghalalkan segala cara supaya keinginan terwujud. Persis suami-suaminya, yang seolah ada rapat penting dan harus hadir. Bahaya? Tolong, jangan bocorkan ini pada ibuku. Informasi ini akan membuatku kembali ke puluhan tahun (lho, tua sekali?) silam. Duduk diam mendengar radio siaran nasehat.

Mungkin yang paling bandel memang mereka berempat…oh, aku di dalamnya juga ya? Karena dari beberapa yang kabarnya akan turut serta, rontok satu persatu oleh seleksi alam. Maksudku, karena sakit, atau ada keperluan lain yang tak tertangani lagi. Tidak lama pertemuan ini berlangsung, karena untungnya akal sehat masih mereka bawa serta. Batas jam main bagi ibu-ibu. Meski begitu, tetap saja ramai. Bukan, bukan model ibu-ibu arisan. Sedikit nakal saja dari kodratnya.

Kepentingan berbeda, butuh tempat berbeda. Ada yang memang nalurinya minum kopi, maka duduklah di warung kopi. Ada yang nalurinya mengisi perut, maka setelah kopi habis duduk pun berpindah ke tempat makan. Ada yang bisa membuat dugaan, mana penggemar kopi dan mana yang penggemar makan? Hati-hati tertipu dengan penampilan, itu saja saranku. Karena memang tak selamanya tampak luar menggambarkan isi dalamnya. Tapi juga tak selamanya salah.

Oh ya….satu lagilah pesanku. Hati-hati dengan komentar anda di tulisan teman. Bisa jadi pemicu huru hara !





Mimpi

6 09 2007
Untuk kata satu ini, orang bisa berkata aneka macam. Bisa berarti sesungguhnya, sebuah gambaran yang muncul di kala lelap. Dan ketika lelap ini, aneka macam pula kita menafsirkannya. Tapi bisa juga manusia mengucap kata mimpi, untuk sesuatu yang tidak ada, belum ada di dirinya, dan ingin digenggamnya. Konon, memancangkan mimpi macam ini dalam pikiran dengan penyertaan sebuah kerja keras, mampu membuatnya tidak lagi menjadi mimpi. Dan begitulah kebanyakan orang bekerja, membutuhkan tenaga pendorong sekalipun tak berwujud nyata.

Semasa menjadi anak sekolah yang sudah sedikit lebih dewasa, entah kenapa aku bermimpi secara berbeda dari teman-teman. Memang, selalu ada keinginan memakmurkan diri dengan tetes peluh tubuhku sendiri. Namun sifatnya tak pernah memadat. Cair saja. Yang tercetus di bibir justru, ” ..aku mau jadi ibu di rumah, melihat anakku tumbuh dan membuat mereka jadi orang..” Kira-kira seperti itu isinya. Seketika seniorku, Ign. Hariyanto ( Kumkum ), menghardik dan tampaknya dengan sepenuh hatinya. ” Buat apa loe sekolah sampai tinggi? Sia-sia amat usaha loe jadi anak UI ! ” Uuuhh……itu terucap begitu saja, tanpa mengingat bahwa meski aku bukan paranormal tapi 85% ucapanku seringkali menjadi nyata. Biasalah, semua mungkin bisa begitu jika berlatih mendengar suara nuraninya. Lalu tentang peluhku, meski bukan hal besar tapi pernah ada kesempatanku mengkristalkannya dalam wujud yang kumau. Dan kini, mimpi yang terucapkan itu yang kujalani.

Jika tentang mimpi yang datang dalam tidur, rasanya terlalu manis bagiku untuk memperhatikannya. Untuk diceritakan kembali pada teman tidurku. Hanya saja ada mimpi-mimpi yang hadir pada detik waktu istimewa. Yang riwayat lama membukukan bahwa detik itu membuat yang kita impikan adalah sesuatu yang akan nyata. Atau menjadi sebuah isyarat dan pertanda. Ini yang terjadi padaku, lagi, semalam. Aku tahu detiknya karena tak lama sesudahnya adalah waktuku untuk menggeliat rutin. Tak perlu arloji dan jam dinding hadir di mimpi.

Aku bermimpi, aku mengandung…….anak bayi yang aneh, tidak selayaknya bayi. Dan hanya aku dan Uban yang mengetahui bayi apa itu. Tak biasa Uban menafsir mimpi. Bukan sesuatu yang menjadi kegemaran dia. Tapi dia menafsirkan mimpiku sekarang. Dan sama dengan yang terlukis di batok kepala ini. Tak bisa kuhindari titik air di mataku. Gustiku, aku terima jika itu pertanda bagiku. Karena memang doaku padaMu selalu meminta ridho dariMu agar semua bahagia. Meski tentu jalan yang kulalui akan makin sulit.

Dan untuk kau yang sudah pergi, kuterima pesanmu…………





¡¡¡˙˙˙llıʇs˙˙˙˙uıɐd ǝɥʇ ǝsɐǝ

1 09 2007

˙˙˙ıuɐɯǝuǝɯ ɐıp ɐʎuɹıɥʞɐ

¡dn ʇnɥs˙˙˙˙˙˙˙˙˙”uɐʞʇodǝɹǝɯ nɐɯ ʞɐƃ ” ƃuɐlıq ıuɐɹǝq ıɐdɯɐs ‘ıuı ʇıʞɐs nɯɐʞ ɐdɐ nɐʇ ¿ɐƃuılǝʇ ıp ɐʎuɐɹɐns uɐƃuǝp uodǝlǝʇɹǝq ıdɯıɯ ¿snɹǝuǝɯ snɹǝʇ pƃn ƃuɐnɹ uɐƃǝpɐ uɐƃuɐʎɐq uɐƃuǝp ıɹɐɥ dɐıʇ ıʇɐʍǝlǝɯ ɥɐpnɯ ɐɹıʞ nɯɐʞ ¡ ʞɐqɯ˙˙˙˙˙˙˙@***^%$#@

˙˙˙˙ıɹıpuǝs uoʇuou ‘ıɹıpuǝs uɐʞɐɯ˙˙˙˙ıɹıpuǝs ɐɹɐɔ ıɹɐɔ ɐsıq nʞɐ

˙˙˙˙˙˙˙ʇʇʇʇʇʇnnnnnʇ˙˙˙˙˙ʞılʞ

˙˙˙˙˙˙˙ɐpɐ ɥısɐɯ ‘ɐʎuʞɐʎɐʞ ɐsıq ʞɐƃ -
˙˙˙ʞnʎ ɐɾɐ ıuısǝʞ ƃuɐıs uɐʞɐɯ˙˙˙˙ıpuɐɯ nɐɯ ‘ɯʎƃ ıʇuɐƃ ƃuɐnɹ *
¿ɐuɐɯıp ıuı˙˙˙uıɐɯ
ɐsıq ɯnlǝq ɥısɐɯ ıdɐʇ˙˙˙ɐloq uɐƃuɐdɐl ıp ɥısɐɯ -
¿ʞɐd ‘ɐuɐɯıp *

Note : terinspirasi seorang teman lama dan teman baru, kali ini memang aku berniat untuk out of the box…….