Nikmat Duduk Disini

26 01 2008
Entah dengan yang lain, tapi aku disini. Kutemukan tempatnya dimana diri ini bisa bersandar, menelengkan kepala atau melihat sekitaran. Menempati kursi kayu kecil yang membuat belulang di bujur ini sakit tapi tak ingin lagi beranjak. Anginnya benar kencang, dan kunikmati hingga adzan mengusirku pergi.

Tak begitu jauh yang kupandang, hanya pucuk-pucuk rumah di kampung dengan segala carut marut selera penghuninya. Asik saja…..

Tapi, lagi-lagi aneh. Seolah semua menjadi rumit. Ah, biar kuhembuskan saja dulu kesegaran keluar masuk rongga paru sebelum ceritaku berlanjut.

Ya, aku teringat tentang aku. Manusia dan kemanusiaan. Dan manusia-manusia lain. Aliran darah, detak jantung, nafas. Lambaian tangan, kibasan rambut, langkah kaki. Seringai tawa juga marah, emosi terpendam atau sudah meluap, picik dan tidak.

Biasa ? Sangat biasa…….sudah terbiasa. Kau sadari ? Mungkin tidak juga…….

Kekaguman, ketakjuban, tak pernah berhenti. Tak akan berhenti. Memang tak mungkin bisa dipahami bagaimana bisa terjadi, karena itu sebuah Maha Kuasa.
Kemarilah, kita bicara. Tentang yang sudah biasa dan bisa menjadi basi untuk diungkap. Aku hanya ingin berbisik, semoga bisikan yang kau dengar dalam bariton yang kau harap.
Semua yang kusebut, yang sudah kau tahu, seringai dan aneka macamnya tadi, bisa menghancurkan tempatmu berpijak.

Tak usahlah kudengar jawabanmu. Rona wajahmu saja bisa kumengerti.

Maka selagi bisa akan kunikmati tempat ini. Nikmat sekali duduk disini dan nikmati selagi ada.





Malam Yang Ini, Akan Terasakan Lagi Nanti…..

22 01 2008
Malam ini, aku merasa tak nyaman di pijakanku. Ketika semua makhluknya memiliki planet sendiri. Setiap manusia membeli planet untuk mereka sendiri. Baru kutahu, bumi ini terlalu luas untuk bersendiri begini. Rapuh rasa pijakanku.

Ketika cinta datang, dia memang datang dengan segenap impian. Yang ditawarkan tanpa rasa keraguan selain cinta itu sendiri, menjadi tak berlogika.

Apa arti sebuah logika, ketika mata jadi berbinar untuk bumi yang ramai disesaki untuk meriung. Memang hanya sesekali tapi hitungannya menjadi kerap. Kerap, tapi tak dalam setiap desakan waktu yang berjalan. Dan aku disini merenungi bumi yang kini kosong.

Hilir mudik kanan kiri depan belakang dan atas bawah, bumi ini, rumah ini, indah nian dalam mata. Belum sempurna, tak mungkin sempurna, keindahannya tak berkurang. Entahlah, mungkin hanya belum terbiasa dengan kenyataan yang dibangun dari mimpi dan jadi gamang.

Ingin aku tertawa tapi ada gundah juga. Menertawakan sebuah kegamangan tentang ruang-ruang kosong minim makhluknya. Ah, mungkin aku hanya harus lebih menggenapkan hitungan jari agar gamangnya hilang.

Kubuat saja agar kekasih kecil itu tak jatuh karena kegamangan mereka. Agar mereka bisa gagah berdiri dengan lenganku yang tak gemetar ketika mereka raih. Tahu, bahwa ibunya bisa diandalkan.

Cintaku……….masih lama masanya untuk kita benar sepi. Kekasih kecil kita punya detik yang tak terlalu cepat jalannya, sebelum kita nikmati malam-malam entah di bawah titik lampu mana yang kita mau, hanya berdua. Belum tiba waktunya untuk malam-malam itu.

Satu masa nanti, ketika mereka melewati gerbang itu untuk terbang ke dunianya, kita rasakan lagi gamang itu. Mungkin bisa berdua, atau benar sendiri. Entah aku, entah kamu…….





Gadis, Nyonya, Eyang Putri

18 01 2008
Dia perempuan. Wujudnya demikian, secara ilmu anatomi tubuh yang ada, memang sempurna demikian. Secara tidak demikian anatomi, yang bisa diartikan sebagai batin dan segala jeroan dalam dada, juga perempuan. Jadi lengkap dan sempurnalah keperempuanannya, tidak diragukan lagi. Tinggal lagi kalau orang lain mau memandang kata sempurna itu sebagai apa, ini yang bisa berbeda. Maksudku adalah, perempuan itu akan digolongkan sebagai anak-anak, gadis, ibu-ibu, atau eyang putri. Nah, perempuan ini……bisa punya semua level itu, bukan cuma melewati masanya, tapi punya di segala masanya.

Dia menjadi anak-anak, kala satu saat kebutuhan batinnya untuk berlega-lega begitu mendesak. Mungkin dia sedang merasa perih, mungkin dia jenuh, atau apa saja yang kau bayangkan. Bertransfigurasi sejenak menjadi anak-anak adalah kebutuhannya saat itu. Yang sebenarnya, dia sudah bersisian dengan lelaki. Sudah disentuh kedewasaan perempuannya. Alamiahnya yang seharusnya adalah dia lalu akan menjelma menjadi seorang ibu. Nyatanya dia masih gadis, sepanjang definisi itu terbatas dari ada tidaknya janin yang mewujud sebagai bayi dari rahimnya. Sebagian orang memandang sisi ini sebagai tidak sempurnanya penyebutan kata Perempuan tadi. Kenyataannya, ibu bisa ada dalam bentuknya yang tidak kasat mata. Dalam bentuk rasa, pengertian, dan konsep tentang anak. Ini ada pada diri perempuan ini. Lebih lengkap lagi saat kemudian dia seolah seperti ibu tua alias eyang putri ketika dia bicara tentang hidup. Bukan dalam arti sok tahu, tapi ini soal pemahaman.

Kenyataan kemudian membawa langkahnya jauh seperti ditiup angin. Melanglang ke tempat yang tak pernah kujumpai dan tak pernah terbayang bisa kulakukan. Lelakinya selalu di sisinya, tapi jika mesti kesendirian yang bisa ada, maka konsep itu mereka terima apa adanya.

Aku membayangkan sebuah sudut kecil dunia ini, meski dunia tak pernah bersudut. Postcard yang kupunyai dalam kepala memperlihatkan gambar yang dingin. Dingin karena putihnya salju tebal di semua ruas jalan. Dengan pohon tak berdaun yang mempertegas rasa dingin. Dan dingin karena sebuah kesendirian.

Jujur, tak kumengerti adakah postcard-ku itu menyerupai aslinya. Tapi kopi hangat di tanganku, bersandar pada tiang rumah,….ah, seolah itu nyata. Kopi ini tak mungkin dia sesap karena tak mungkin. Tapi lihatlah…..hatinya berjalan kemana dia suka. Bukan tak tentu arah, hanya ingin memperkaya jiwa.

“Kadang aku terisolir, mbak………”, begitu kira-kira ujarmu.

Tidak….kata itu tidak selalu buruk. Hanya saja, jika itu bicara tentang jendela dunia yang harus selalu bisa dibuka tiap waktu, kebutuhannya memang mutlak. Dan saat jendela itu tak selalu bisa dia buka, itu hampir berarti sebuah kesia-siaan untuk impiannya atau langkahnya.

” Beruntung lelakiku adalah lelaki pilihan dari surga. Dia berikan kesendirianku dengan cinta, hingga tak mungkin aku tak kembali…..”

” Lalu apa yang kau cari di sana………apa yang kau lakukan, sulit untuk menjadi gagasan besarku. Aku mengikat sendiri kakiku pada akar, entahlah……mungkin terlalu kecil hatiku. Atau merasa dunia terlalu luas sehingga bisa melelahkanku “

Tiba-tiba kusadari sesuatu. Sesuatu yang sudah kuucapkan seolah menyorongkan wajah ini pada sebuah halaman yang sangat jelas terbaca. Hati. Hatiku dan hati perempuan itu…………miliknya jauh lebih besar daripadaku. Lebih luas, meski kadang dia kurang menyadarinya hingga kebijakan pemahamannya belum sampai pada terminalnya. Yang pasti, dia bernyali dan aku lebih suka membungkus milikku di balik alasan adat.

Jari-jari ini menjadi lebih lentur mengingat gadis ini. Nyonya ini, atau mungkin eyang putri ini. Cermin yang dia berikan padaku melemaskan jari-jariku. Aku bisa bersolek, aku bisa menggoreng, aku bisa meninju, dengan menatap cermin itu. Cermin dunia. Jari-jari yang menulis.

Hai Gadis, Nyonya, Eyang Putri,……hai adik kecil……………belum terlambat aku menatapmu hari ini.





Lelaki Yang Merasa Perih

16 01 2008
Kudengar dia bersuara. Mengatakan tentang satu rasa, ” kurindu dia yang tak ada lagi ! ” Tak ada getar gemetar, apalagi isak. Hanya suara, tak kulihat wajahnya. Tampaknya dia tak tahan rasa perihnya. Suaranya datar khas lelaki, tapi aku yang merasakan getarnya. Mungkin dia menangis diam-diam tak bersuara, hanya air mengalir. Begitu yang kulihat dalam kepalaku.

Tak malu dia mengaku perih. Tak menjadi cengeng juga karena tidak sekalipun meratap. Dia hanya tak munafik atau sekedar menunjukkan kelelakian dengan berpura-pura. Dari jauh perihnya bisa kurasakan. ” Kau mau datang pada tanah tergunduk itu ? Biar kutemani……”, begitu saja jawabku. Tak kubelai, tidak juga kurapatkan pelukan padanya.

Bukan….bukan karena dia tak sedang kutatap. Tapi hanya itu yang dia butuh. Memang cuma itu. Dia butuh seorang teman, bukan seorang perempuan.

Berhitung tahun yang pernah terbagi, aku tahu kapan tanganku harus terulur untuk dia dengan identitas sebagai perempuan atau sebagai teman. Ada lebih dari satu kesempatan perih hinggap pada hatinya. Kadang dia perlu banyak kata. Lain waktu dia ingin tanganku di pundaknya. Atau mungkin hanya diam tak bersuara selain duduk bersisian dan merasa.

Lelaki ini merasa perih, bagaimana bisa kuungkapkan bagaimana aku mengerti. Dia bersuara kala tak biasanya dia bicara, mungkin. Atau dari kalimatnya, itu lebih menggambarkan dengan jelas. Pendek saja. Aku pernah mengajarinya bicara tentang rasa hatinya, bukan hanya diam. Tak akan mengubah kekerasan hatinya kan ? Aku pernah tunjukkan bagaimana mengungkap rasa tanpa harus menjadi lemah dan menangis. Dan beginilah dia sekarang.

Sebagai lelaki, siang yang ada membuatnya meneruskan langkah. Suaranya tetap sama datar atau bergegas keras. Kamu tahu, aku cinta lelaki begini. Lelaki yang perihnya tak menghiba, tidak juga berpura-pura tak ada……….





Untuk Kau Ingat, Anakku……..

13 01 2008
Kemarilah, Nak………..duduk dekat ibumu, sangat dekat. Memang hawanya panas setelah siang yang sangat terik. Jaga saja hatimu di dalam sana, agar tak mudah panas dan membara. Atau panas membara asalkan kau mengerti bagaimana membuatnya kembali sejuk dan tak menulari hati yang lain.

Disinilah sayang………ibumu ingin bersamamu menikmati angin semilir beserta segala nuansa yang dia bawa. Sambil kita bercerita tentang dunia yang menua terlalu cepat. Nikmati segala nuansa yang kau rasakan karena begitulah kau akan menikmati dunia ini. Rasakan dengan segala indera yang kau punyai dan selaraskan dengan hatimu. Ketika terlalu tak nyaman, maka kau bisa belajar bertanya pada hatimu itu. Jika terbiasa kau ajak berbincang, maka dia akan menjawabmu dengan segala yang dia tahu. Dialah tempat kau menimbang, setelah kau bertanya pada otak dan sebelum kau mengadu pada Gustimu.

Letakkan sejenak buku-buku pengasah kepandaianmu. Letakkan pensil yang kau gunakan mencoret hitungan-hitungan angka. Angka-angka itu menajamkan ingatan. Tapi jangan kau bawa ketika kau melihat dunia, karena hasilnya akan mengacaukan. Jika kau paksakan, jalan di depanmu mungkin akan menyesatkan. Akan ada waktunya yang tepat, kau pergunakan lagi perhitungan matematis.

Engkau adalah lelaki-lelaki dimana kelak tanganmu menggenggam dunia. Bagaimana kau mainkan apa yang ada dalam tanganmu itu?

Lelaki memang terlahir keras. Jika hatimu lembut, tak berarti dunia tak bisa kau taklukkan. Jika halus perasaanmu, tak membuatmu memerlukan pakaian wanita. Karena dirimu adalah manusia.

Tetaplah disini dulu, anakku…….matahari pergi untuk hari ini. Panas tadi perlahan menjadi dingin. Tapi jangan kau biarkan hatimu dingin saat kau sentuh dunia. Nanti yang berdiam disana hanya batu.

Aku tak punya banyak untukmu…….tapi apapun yang indah dariku, ambillah untukmu. Tinggalkan satu hal yang memang tak kuingin untuk kau miliki dariku. Kebencian. Harta tergelap yang dimiliki manusia termasuk aku, tak perlu kau tumpuk lagi dalam dirimu. Pendam saja dalam-dalam kebencian yang kau punya, agar hatimu tumbuh besar dan lapang. Dan tak membuatmu sulit untuk mencintai.

Ingat saja sore ini, anakku……..saat kita nikmati kebersamaan ini.





Pada Sebuah Rasa

11 01 2008
Kalian yang diluar sana…..pernahkah kau genggam rasa takut? Ya, aku tahu, itu pertanyaan bodoh. Hatimu kan masih hati manusia, yang dibuat oleh Penciptanya yang Satu. Pertanyaan itu tak perlu dijawab, tapi coba dengarkan ini.

Ketika sebuah rasa datang pada hatimu, ada berapa tingkatan yang mungkin kau lewati. Ketika kau senang, bisa kau lalui dari keinginan secuil untuk tersenyum, lalu hilang duka dan gundahmu, hingga akhirnya dadamu bergetar karena ledakannya. Tak cukup senyum, kau bisa meringis lebar, lantas tertawa lepas dan akhirnya terbahak. Itu, jika kau senang, sangat senang dan sangat sangat senang.

Lalu kau punya takut disisi yang lainnya. Kau khawatir, itu sudah berarti takut. Kau merinding dan berdiri bulu romamu untuk sesuatu, takutmu sudah nyata dan pilihanmu yang terbuka adalah lari. Bagaimana ketika kau berkeringat dingin, tersengal, dadamu sakit dan sesak hingga airmatamu bahkan tak mampu mengalir saat menghadapi sesuatu. Yang tersisa adalah lemas. Apa ini namanya…….mungkin ketakutan yang tak lagi terkatakan.

Saat kita hanya melihat sebuah gambar tentang sebuah kehilangan, mana yang mungkin hadir mengisi ruang batin. Atau bayangkan saja tentang jantung yang berhenti berdetak. Jangan bicara tentang rasa pasrah dan keharusan berserah diri untuk segala yang terbaik. Kenyataannya, kepasrahan tidak selalu cukup menghalau segala keringat dingin yang terlanjur membasahi busana.

Bayangkan tentang cinta. Muara hidupmu, pusaran waktumu, dan pusat motivasimu. Hilang. Tak bisa kau cium, tak mungkin kau belai dan tak ada untuk kau peluk. Sedang katanya, kau sudah pasrah. Dukamu tak terbagi di tempatnya. Sukamu hanya kau nikmati sendiri. Ceritamu tak ada yang mendengar. Apa kabar busanamu? Basah? Katanya kau pasrah…………

Aku tak menggenggam silet. Tapi dengan segala rasa yang ada, satu yang pasti. Perih. Basah busanaku. Airmataku tak sanggup untuk mengalir. Salah? Mungkin saja, karena sikapku seolah hari itu tak pernah akan datang.

Bisakah memilih, siapa yang harus didera takut yang seperti itu………………Tahu, tapi seolah tak tahu hingga harus bertanya lagi.





Wangi Yang Itu

8 01 2008
” Bagaimana kau atur rumahmu ” , pernah satu kali pertanyaan itu muncul. Lupa darimana datangnya. Yang diingat perempuan itu hanya bagaimana dia bereaksi pada pertanyaannya. Perempuan itu termangu diam dalam masa yang tak tahu berapa putaran. Begitu reaksi pertamanya.

Bukan tak ada yang berkelebat dalam benak. Terlalu banyak justru. Dan selalu sampai pada bentuk-bentuk rumah yang selalu ia bongkar lagi dan bentuk lagi yang baru seperti anaknya memainkan Lego di kamar. Begitu cepatnya bongkar dan pasang imajiner itu terjadi di sebuah pemandangan pribadinya. Tak ada yang cukup memuaskan. Sampai ia lelah. Pembongkaran itu terjadi tanpa dia ingini, seperti arus air yang tiba-tiba datang tak terbendung. Maka bukan dari dia.

Perempuan itu melangkah. Apa yang dilakukan kedua tangannya sudah biasa terjadi. Tapi hari, minggu, dan bulan-bulan ini lebih kerap terjadi. ” Aku semprotkan wangi ocean blue ini banyak-banyak saja…..biar hilang citroen-nya…..” Tak ada yang pernah memilih citroen disini. Aku melati, dan dia ocean blue. Tapi selalu tercium citroen itu di hidungnya di bulan-bulan akhir ini.

” …tak ada…..tak mengerti tepatnya, wangi apa ini…..”, begitu temannya pernah mengatakan satu kali. ” Kau selalu suka melati, tapi setiap kau berlalu selalu kau bawa serta ocean blue. Wanginya berpadu dalam ramuanmu dan unik. Kini aku tak mengenali lagi. “

Dia tak mengenaliku lagi. Temannya itu tak mengenalinya lagi dari wangi yang ada bersamaku. Cuma aku yang mendapati citroen di hidungku, setiap saat. Citroen itu telah mengacaukan penciuman dan aku tak bisa dikenali lagi, gaung suaranya bergema di sudut hati.

Perempuan itu termangu lagi. Hidung tak bisa memilih apa yang mau dia cium. Ketika di rumah ini telah diberinya tempat untuk hidungnya memilih apa yang bisa dicium tiap kali, tiba-tiba saja datang wangi yang lain, dari kisi entah yang mana. Wangi yang datang pada hidungnya sendiri, hingga dia tak mampu mengenali lagi ocean blue-nya. Dan menjadikan hidung lain tak mampu mengenali wangi yang biasa ada. Maka sesuatu telah hilang.

” Ini memang penipuan. Pengkhianatan. Meski dia tak tahu adanya citroen, tapi jika kau jadi tak mencium apa-apa, mungkin dia juga jadi tak mencium apa-apa. Kasihan dia “.
” Lalu…….bagaimana? “
” Apanya bagaimana ? Akankah kunikmati sendiri, maksudmu? “
” Tidak juga. Karena toh kau sudah menikmatinya bulan-bulan ini “
” Lalu ? “
” Apa yang akan kau lakukan kemudian…….terus menikmatinya atau apa….”
” Menikmati memang sungguh luar biasa. Citroen ini toh datang sendiri. Tapi apa artinya jika dia lalu tak mencium apa-apa. Jika kau saja bertanya, dia pasti bertanya juga dalam
hatinya apa yang membuat wangi ramuanku jadi tak tercium. Tak seharusnya aku diam
saja. Tak semestinya kubiarkan citroen merajalela merajai hidungku. Memabukkan. Akan membuatku lebih merindukan citroen itu daripada ocean blue-ku dulu. Maka tak akan
sama lagi ramuan wanginya nanti. “
” Jadi……..? “

Perempuan itu tak merasa perlu menjawab apa-apa. Terus disebarkannya ocean blue di tiap ruang kecil rumahnya, berganti-ganti dengan melatinya. Tidak satu hari, harus terus setiap hari. Agar ramuannya mewujud. Agar kembali wanginya yang dulu. Dan dia tahu, bagaimanapun bentuk bangunan di benaknya akan tetap bongkar pasang seperti mainan anaknya. Tapi dia bisa menjawab pertanyaan yang dulu.

” Bagaimanapun bongkar pasang itu terjadi, aku akan selalu mengatur rumahku dengan wangi yang itu, yang hanya aku bisa membuat ramuannya “.

Rumah ini terlalu sesak udaranya untuk ditempati wangi yang lain……………………





Hari yang ( katanya ) Baru

3 01 2008
Hari ini rasanya masih berbeda. Entah apa yang membuat semua orang merasakannya berbeda demikian. Jika nafas manusia masih ada, selayaknya terbit matahari adalah hal biasa dan selalu dinanti. Detik waktunya mengganti hitungan angka sang almanak bersama sinar hangat di Timur, dan tiap mulut menamainya secara berulang setiap 7 hitungan. Selayaknya tidak istimewa, karena siang dan malam selalu menepati janjinya untuk bertamu. Tapi entah mengapa, rasa beda itu terus bergaung di tiap relung hati. Mungkin karena datang sang siang diiringi tiupan terompet dan kembang api……

Ya ya ya……kembang api malam tahun baru ! Kembang api yang katanya begitu ingin dilihat oleh sepasang mata dan untuk terakhir kalinya, sebagai oleh-oleh cerita bagi Gustinya yang mungkin bisa ditatapnya langsung. Ah……sulit sekali kalimat-kalimat ini meluncur tanpa mengingat betapa kembang api itu jadi berarti sangat untuk dia.

Selayaknya matahari kemarin bisa sangat cerah jika tidak karena hujan yang tak henti dari segala sumbernya. Hujan alam, hujan doa dan airmata………tak dapat ditolak begitu saja telah membuat sinar-sinar meredup. Tapi hai embun di daun, aku tahu betapa senyum itu adalah cahaya. Betapa senyum itu sungguh kuat mengangkat seluruh jiwa-jiwa luruh untuk berdiri lagi dan melangkah lebih jauh. Karena suratannya memang tak mengijinkan semua jiwa untuk diam. Maka tiap bibir yang ada tak boleh kehilangan senyumnya.

Aku tak tahu adakah kunang-kunang itu masih akan datang menerangi sudut-sudut temaram disini. Aku ingin dia terus datang agar bisa saling membagi aneka kisah tawa atau juga luka yang mendewasakan. Dia masih setia kini, meski aku lebih banyak bicara daripada mendengar keluhnya jika dia sedang redup. Sungguh kuingin kunang-kunangku terus hadir di hari-hariku dan memberiku kesempatan untuk bisa membelainya juga.

Mungkin pernah ada angin yang menerbangkan cintaku pada dia yang selalu mengajakku tertawa. Kukira cinta itu takkan kembali karena anginnya terlalu kencang. Lembaran daun kecillah yang lalu membawanya kembali hadir meski tak lagi utuh. Mungkin aku masih bisa mencintainya dengan cara yang berbeda dan tak perlu digantikan oleh cintaku pada kunang-kunangku. Keduanya berbeda. Lalu masih banyak bunga, kicau burung dan kupu-kupu yang akan datang di halaman usiaku. Maka untuk apa aku risau, ya embun ?

Lembar kerja ini masih kosong. Dua halamannya sudah terlewati, tanpa coretan rencana yang pasti. Hanya warna-warna yang tersapukan angin dalam aliran waktu. Mungkin tak mengapa jika coretannya bukan rencana, yang dibutuhkan adalah maknanya. Makna selalu penting untuk mengisi nafas yang sudah dihembus dan agar kita punya oleh-oleh jika kelak kembali pulang.

Embun di daun terasa dingin dan sejuk, mampukah mengikis segala benci yang menyeruak tak terkira ? Jika pagi ini terasa berbeda, benci harusnya bisa terhapuskan. Agar bedanya nyata menandai setiap pagi dari pagi yang dulu. Jika ingin rasa beda ini tetap ada, tiap nafas layaknya lebih berirama.

Aneka warna di hari pertama tahun baru ini, meminta tiap hati untuk lebih siap………..