Jendela depan masih menampakkan titik-titik basah siraman hujan yang menempel. Matanya cuma menerawang sekilas.
“Ayo nak…..mandi. Badanmu sudah bau begini, kamu ngompol lagi semalam”
” Papa ana ?…….Papa ana, ma ????? “
” Ya ayo mandi dulu, nanti kita telpon papa. Kalau belum mandi, telponnya nggak nyambung”
Anaknya diam, pandangan matanya berusaha mencerna kalimat yang mampir di telinga. Tapi dia tak menampik gandengan tangan ibunya membawanya ke kamar mandi.
Ini hari ke sembilan perempuan itu berdiam di rumah itu. Rumah dimana dia diam sementara bersama anaknya, entah sulung entah akan terus semata wayang. Pikiran berkelana seperti penunggang kuda tak tentu arah, melintasi padang yang di matanya hampir tak bertepi.
Rumah ini tak asing, tapi keterasingan toh selalu menyelinap berindap diam dalam keterusterangan di setiap relung kalbu. Semua menampakkan ruang kosong, sejauh yang bisa dilihat mata batinnya.
Tangannya terus bergerak secara naluriah, membilas menyabuni menggosok sampai mengelap kering lagi badan si kecil. Apa yang berderap di balik kulit dadanya, tak berirama sama dengan perlakuan sang tangan.
” Nanti kita telpon papa, kapan pulang ya sayang….”
Anaknya memang tak banyak bicara. Belum banyak simpanan aksara yang dimiliki. Tapi perempuan itu bisa melihat kebingungan, kerinduan dan jutaan pertanyaan yang tersimpan di dalam kepala dan hati kecil anaknya. Hhhhhhhh…….helaan nafasnya jadi sangat panjang, mengagetkan telinga si kecil di hadapannya.
Rumah ini tak asing baginya. Dan pemiliknya berhubungan erat dalam darah mereka, suami dan anaknya. Segalanya telah ada untuk membuatnya bisa tenang diam di situ. Tapi sembilan hari………..terlalu panjang untuknya diam sendiri tak berketetapan.
Bisikan yang pernah dia dengar tentang sebuah masa nanti yang harus diraih. Energi yang harus dibuat untuk menghadirkan masa yang dinanti. Dan kata-kata spiritual yang harus selalu dia ulang untuk memperpanjang sabar. Semua menjadi miliknya. Apa yang dilakukan bapak anak itu, hanya perlu doa. Langkah pencarian memang perlu dipanjangkan ke tiap sudut yang mungkin untuk dijangkau, kemana pun kesempatan ada. Dan kesendirian ini, mau atau tidak, harus siap langsir di tenggorokan sempitnya.
kalau aku sabar sekarang, aku bisa senang kelak……………
angel-angele wong urip golek penguripan………
Perempuan itu senang sekali duduk di tepi jendela. Di situ, cerminnya membawanya beterbangan kemana dia suka. Tepi-tepi kusennya jadi tak berarti, tak mampu membatasi pengembaraannya yang begitu kaya dengan bayangan. Di situ juga dia selalu menunggu setiap janji yang dia dengar. Disitu juga dia berharap menatap tubuh kurus lelakinya, bapak anaknya, berjalan membawa matahari, atau setitik bintang………….
” Aku sudah akan datang, tunggulah………”
Dan dia menunggu. Jauh di luar penglihatannya, hatinya meraba hati lelakinya. Gundah, lebih dari gundahnya. Karena dia lelaki.
Di ambang jendela ini, perempuan itu selalu ingin menatap sinar meski basah……….
Pengharapan tak ber-tepi kah ? Aku rasa bukan, sebab masih tampak harapan2, kapan segenggam bintang kan dibawa pulang.
bagus mbak,…sastra banget…
Aduh aku sampe merinding bacanya bagus banget
berharap… apakah yang diharapkan itu pasti, atau hanya pelangi membias kala telah usai hujan.
ya lain no comment deh…. dalem soalnya…
dibukukan aja, keren
ini masih iseng, mas……gak pede
wah emangnya bapaknya kemana??? selingkuh??? ato jgn2 meninggal??? duuuhh ribet degh
buset deh……semangat menggosip neh ! hahahaha
knp kalo crita bgs endingnya srg ngegantung ya
heh ????? begitu ya?
hadoooh, dirimu ini emang deh juragan kata-kata penuh arti dan pesona.
juragan bakwan…..hihihihi
ps. tararenkyu ya mpok buat ucapannyaaaa. mwah mwah. btw, gue nggak tau soal barking-an di YM. kemaren lagi di tengah2 chat sama depoy eh matek tek. gue melihat YM-mu dengan palang. kalo enggak masak pasti mandi deh tuh.
wakakakakak………..kok bisa pas……..
janganlah nek bikin novel. bangkrut nanti aku asyik beliin novel para blogger mulu.
lol
eh eluuuu………….cadangkan budget khusus doooong……ya, ya, yaa…..*wink wink*
Dan hanya dalam mimpi ku
Kaulah yang tak melihatnya,
Bagaimana bisa aku bersedih
Bersamamu adalah semua yang ku butuhkan
*ugh, jg inget ama mantan neh* ^^
kalo yayank chelsea……masih cita-cita ya?hihihih
smoga penantiannya gak sia-sia, pak..pak…inget anak istri dirumah pak…
udah aku pasang tuh sedotannya
ya, nanti aku liat lagi kesana……..
bot-bote golek pangan nggo anak bojo lho iku mbak
*papa pasti pulang kok nak hiks… (terharu)
jaman sekarang mas…..
yup, smoga aLe tetep smangat menuju cita2 itu
maju terus pantang mundur…..!!!
pro dengan yang lain, langsung aja ke penerbit mbak
maaf baru blogwalking mbak..pa kabar mbak ??
kabar baik, Pluk…….santai aja deeh……
kemana tatapannya diarahkan setelah sampai diambang jendela??
bahasanya indah banget, gimana ya biar bisa nulis cantik begini.. lam kenal mba’! Semoga nanti jari ambang jendela terdengan suara
“mbokk!! bapake mulihhh”;)
Mbak, itulah, sejak kecil orang tua sudah sering melakukan “pembodohan” terhadap anaknya sendiri. Mana ada ya, hubungannya antara telepon yang nggak nyambung, jika yang menelepon belom mandi…
Berarti henponku nggak pernah bisa dipake dong, wong yang megang jarang banget mandi
hahahahha……….
siapakah perempuan itu ?
alah, kok mbok pikiri sih jeng? heheheh
Semoga masa penantiannya itu membuahkan hasil yg manis…
Kembali lagi mereka bersama-sama.
aku seneng sing iki . . . kelasku jik sakmene bek’e . . . .
akeh dialog’e . . . . . tapi kok tetap ga ngerti ya . . . ibunya mayangsari bukan
halah……sampeyan iki dadi jatuh cinta karo ibu-e mayangsari …
nyastra banget euy! tapi sedih ndang ceritanya…hiks…hiks…