Ceracau Pagi Untuk Membuat Kantuk Mau Pergi

28 02 2008

Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung karena sesekali masih menggerakkan tangan, mengusir nyamuk berdenging, memukul jika menggigit, atau menggaruk kalau sudah terlalu gatal. Artinya, diam ini tidak membuat hilang rasa dan kesadaran. Kopi, sudah lama habis selagi hangatnya masih ada. Jangan ditanya lagi tentang itu. Sekali waktu beranjak manakala perut bergolak tiba saatnya untuk dikosongkan. Dan duduk lagi disini.

Mungkin menunggu matahari. Memang tak bisa dipastikan munculnya akhir-akhir ini, meski tidak terlalu sering lagi menghilang. Kalau coba-coba pekerjaan tak waras, aku menebak saja perasaan matahari. Mungkin, dia sedang malas. Mungkin, dia sedang bosan dengan apa yang sudah ribuan masa dia jalani. Melanggar takdir sebenarnya, tapi apakah tak boleh merasa begitu. Dan, mungkin juga sedang menikmati sebuah kesenangan baru. Makin jauh menebak-nebak, aku jadi geli sendiri. Memang tak waras. Semuanya jadi kedengaran seperti aku. Bukan matahari. Ini bukti saja tentang kediaman yang tak bermakna tadi.

Lalu, hal yang pasti terjadi  ketika diam seperti ini terlalu berlarut adalah saat semuanya menjadi rumit. Terbang pada masa hijau dulu, dimana banyak nilai berusaha dicekokkan dalam kepala. Nilai tentang kehidupan manusia Jawa, nilai tentang keberadaan diri dengan prinsip. Belum lagi nilai tentang sebuah kehormatan, sebagai pribadi, sebagai perempuan, sebagai peran apapun yang diinginkan untuk diwujudkan. Teguh yang lentur, kuat yang luwes. Mengertikah ?

Menerima apa yang ada disini hari ini, menelisik awal mula dan perjalanannya untuk menjadi begini,  aku tak tahu apakah banyak kepala yang senang melakukannya. Tidak mungkin tidak ada. Tapi seberapa sering, itu yang membuatnya berbeda. Dalam waktu-waktu menelisik begini, satu dua helaan nafas terbit juga ide tentang reinkarnasi. Dan seperti khayalan seorang penulis fiksi, ide itu bisa begitu jauh berbeda dengan yang ada sebagai kenyataan. Terbentuklah sebuah pertanyaan, adakah itu ide seorang manusia, atau manusia yang penulis, yang seniman, atau semua manusia adalah seniman. Terlalu jauh kelananya dari yang ada hari ini. Lalu apa? Oh ya……mestinya diingat juga apa dan siapa saja berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian.

Kopi tadi mungkin meracuni hingga semuanya makin rumit. Gelas kedua ini isinya cuma madu dan kayumanis, hangat dan  membangkitkan semangat. Dan kelana yang lahir dari sana adalah pertanyaan-pertanyaan. Berapa kali aku ingin dilahirkan, dimana, masa yang mana, rupa seperti apa. Yang terakhir adalah pertanyaan, apakah itu melanggar takdir sendiri dengan banyak bertanya yang tidak mungkin terjadi ?

Tegukan besar madu dan kayumanis. Apa bedanya dengan kopi tadi jika kelana yang ada jadi menyesatkan. Setidaknya, bisa jadi menyesatkan buat yang lain. Buatku sendiri aku sungguh merasa ada dalam rumah batin dan akal pengembaraan yang mengasikkan. Enak dan nikmat seperti ramuanku tentang kopi lalu madu dan kayumanis.

Ada kalanya aku tak mengerti apa yang diucapkan teman cakapku. Apa yang kulakukan hanyalah menikmati setiap katanya. Memasukkannya dalam kepala dan  menyimpannya dalam relung hati. Pasti disana akan ada satu mesin yang membuat  bisa memahami. Pada akhirnya. Pada waktu yang tepat. Pada saat bagian dalam diri menyatakan mau memahami, sekecil apapun kemauan itu. Dan yang dibutuhkan hanya ketenangan.


Tindakan

Information

21 tanggapan

28 02 2008
Iko

Ahhh, sebuah renungan sendiri yang terkadang rumit jika dilihat oleh orang lain.

28 02 2008
venus

ceracau. sodaraan sama cincau? wekekekeke….

28 02 2008
mei

hmm patut dicoba, kayumanis dan madu..enak mbak??

28 02 2008
kenny

klo sama kinco??
boleh ceracau asal gak kacau, komen gak mutu blas yo :D

28 02 2008
evi

kopinya pahit apa manis Mba…? pake krimer ga…?
hehehe….. :D
idem budhe kenny, komenku yo ga mutu blas………. :P

28 02 2008
iway

matahari ga pernah ingkar janji, kalo matahari ditutupi mungkin bener :D

28 02 2008
Elys Welt

hari ini matahari muncul di kampungku Jeng ;)

wah aku kok jadi kangen es cao ya ? :D , jam buka masih lama !

28 02 2008
tata

Pokoke tak tagih NGOPI nya hihihihi

28 02 2008
isnuansa

saya selalu mencoba menerapkan hal itu agar tidak seperti Kacang Yang Lupa Kulitnya…

28 02 2008
isnuansa

eh, Mbak, maksudku: mengingat siapa saja yang berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian…

29 02 2008
Domba Garut!

Wah sama dong.. saya juga sering nyeracau sendiri di pagi hari… :D

29 02 2008
meiy

matahari cuma sembunyi.
ceracau mirip kicau gak sih ndang? hehe

29 02 2008
danu

kalo gak tenang susah mikir ya bu :d

29 02 2008
cewektulen

OOT: Pindahan..enakan di sini lho ..bener..gut lak..

gitu ya? bedanya apa sih?

29 02 2008
kopisusu

Kayaknya…kalau minumnya kopi susu…baru Mak Nyuuusss……hehehe…

29 02 2008
mercuryfalling

sit up nek, biar gak ngantuk weeeeeeeekkk

1 03 2008
Fitri Mohan

komennya lucu2. hahahahha. gue jadi inget sama pembicaraan di YM terakhir itu. bener ternyata katamu mpok…

1 03 2008
GusKoko

ketika “masa hijau” kita banyak di-cekoki, macam2 khan ya, termasuk : “ini enggak boleh, pamali dst”.
aku pengin banget baca, dik Endang nulis tentang “pamali” :)

1 03 2008
Tia

sedep banget renungannya mbak,…:) coba pak uban baca, pasti tambah bangga n sayang ama mbak…:)

2 03 2008
Landy

Yup aku butuh ketenangan he..he..he..

16 03 2008
ichal

ceracau yang indah,
gak seperti murai batu kan???? heheh

Tinggalkan komentar