Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung karena sesekali masih menggerakkan tangan, mengusir nyamuk berdenging, memukul jika menggigit, atau menggaruk kalau sudah terlalu gatal. Artinya, diam ini tidak membuat hilang rasa dan kesadaran. Kopi, sudah lama habis selagi hangatnya masih ada. Jangan ditanya lagi tentang itu. Sekali waktu beranjak manakala perut bergolak tiba saatnya untuk dikosongkan. Dan duduk lagi disini.
Mungkin menunggu matahari. Memang tak bisa dipastikan munculnya akhir-akhir ini, meski tidak terlalu sering lagi menghilang. Kalau coba-coba pekerjaan tak waras, aku menebak saja perasaan matahari. Mungkin, dia sedang malas. Mungkin, dia sedang bosan dengan apa yang sudah ribuan masa dia jalani. Melanggar takdir sebenarnya, tapi apakah tak boleh merasa begitu. Dan, mungkin juga sedang menikmati sebuah kesenangan baru. Makin jauh menebak-nebak, aku jadi geli sendiri. Memang tak waras. Semuanya jadi kedengaran seperti aku. Bukan matahari. Ini bukti saja tentang kediaman yang tak bermakna tadi.
Lalu, hal yang pasti terjadi ketika diam seperti ini terlalu berlarut adalah saat semuanya menjadi rumit. Terbang pada masa hijau dulu, dimana banyak nilai berusaha dicekokkan dalam kepala. Nilai tentang kehidupan manusia Jawa, nilai tentang keberadaan diri dengan prinsip. Belum lagi nilai tentang sebuah kehormatan, sebagai pribadi, sebagai perempuan, sebagai peran apapun yang diinginkan untuk diwujudkan. Teguh yang lentur, kuat yang luwes. Mengertikah ?
Menerima apa yang ada disini hari ini, menelisik awal mula dan perjalanannya untuk menjadi begini, aku tak tahu apakah banyak kepala yang senang melakukannya. Tidak mungkin tidak ada. Tapi seberapa sering, itu yang membuatnya berbeda. Dalam waktu-waktu menelisik begini, satu dua helaan nafas terbit juga ide tentang reinkarnasi. Dan seperti khayalan seorang penulis fiksi, ide itu bisa begitu jauh berbeda dengan yang ada sebagai kenyataan. Terbentuklah sebuah pertanyaan, adakah itu ide seorang manusia, atau manusia yang penulis, yang seniman, atau semua manusia adalah seniman. Terlalu jauh kelananya dari yang ada hari ini. Lalu apa? Oh ya……mestinya diingat juga apa dan siapa saja berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian.
Kopi tadi mungkin meracuni hingga semuanya makin rumit. Gelas kedua ini isinya cuma madu dan kayumanis, hangat dan membangkitkan semangat. Dan kelana yang lahir dari sana adalah pertanyaan-pertanyaan. Berapa kali aku ingin dilahirkan, dimana, masa yang mana, rupa seperti apa. Yang terakhir adalah pertanyaan, apakah itu melanggar takdir sendiri dengan banyak bertanya yang tidak mungkin terjadi ?
Tegukan besar madu dan kayumanis. Apa bedanya dengan kopi tadi jika kelana yang ada jadi menyesatkan. Setidaknya, bisa jadi menyesatkan buat yang lain. Buatku sendiri aku sungguh merasa ada dalam rumah batin dan akal pengembaraan yang mengasikkan. Enak dan nikmat seperti ramuanku tentang kopi lalu madu dan kayumanis.
Ada kalanya aku tak mengerti apa yang diucapkan teman cakapku. Apa yang kulakukan hanyalah menikmati setiap katanya. Memasukkannya dalam kepala dan menyimpannya dalam relung hati. Pasti disana akan ada satu mesin yang membuat bisa memahami. Pada akhirnya. Pada waktu yang tepat. Pada saat bagian dalam diri menyatakan mau memahami, sekecil apapun kemauan itu. Dan yang dibutuhkan hanya ketenangan.
Ahhh, sebuah renungan sendiri yang terkadang rumit jika dilihat oleh orang lain.
ceracau. sodaraan sama cincau? wekekekeke….
hmm patut dicoba, kayumanis dan madu..enak mbak??
klo sama kinco??
boleh ceracau asal gak kacau, komen gak mutu blas yo
kopinya pahit apa manis Mba…? pake krimer ga…?
hehehe…..
idem budhe kenny, komenku yo ga mutu blas……….
matahari ga pernah ingkar janji, kalo matahari ditutupi mungkin bener
hari ini matahari muncul di kampungku Jeng
wah aku kok jadi kangen es cao ya ?
, jam buka masih lama !
Pokoke tak tagih NGOPI nya hihihihi
eh, Mbak, maksudku: mengingat siapa saja yang berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian…
Wah sama dong.. saya juga sering nyeracau sendiri di pagi hari…
matahari cuma sembunyi.
ceracau mirip kicau gak sih ndang? hehe
OOT: Pindahan..enakan di sini lho ..bener..gut lak..
gitu ya? bedanya apa sih?
Kayaknya…kalau minumnya kopi susu…baru Mak Nyuuusss……hehehe…
sit up nek, biar gak ngantuk weeeeeeeekkk
komennya lucu2. hahahahha. gue jadi inget sama pembicaraan di YM terakhir itu. bener ternyata katamu mpok…
ketika “masa hijau” kita banyak di-cekoki, macam2 khan ya, termasuk : “ini enggak boleh, pamali dst”.
aku pengin banget baca, dik Endang nulis tentang “pamali”
sedep banget renungannya mbak,…:) coba pak uban baca, pasti tambah bangga n sayang ama mbak…:)
Yup aku butuh ketenangan he..he..he..
ceracau yang indah,
gak seperti murai batu kan???? heheh