Seputar Degupan Jantung
13 03 2008Mungkin karena terbiasa berada di kalangan mereka-mereka yang berusia jauh di atas usiaku, beginilah yang sering terjadi di pengucapan dan pemikiran kepala kecil ini. Kebanyakan dari apa yang kudengar adalah pembicaraan tentang nilai. Nilai seorang manusia, nilai sebuah kata dan tindakan, dan nilai tentang apa saja yang kita semua hadapi. Dulu, aku selalu mendengar. Asik saja rasanya telinga ini menangkap orang-orang tua bicara seputar hal-hal pelik itu. Dan sudah pasti kemudiannya tertanam dalam-dalam di kepala dan lubuk hati. Kadang telan begitu saja untuk mendapatkan pemahamannya pada waktu yang tepat. Kadang juga sudah menjadi bahan proses mencerna sejak pembicaraan itu tertangkap radar sadarku.
Menjadi menua sekarang ini, aku tak pernah mencari-cari sparing partner untuk sekedar bicara kesana kemari persoalan yang sebangun dengan yang dulu sering kudengar. Karena memang tak perlu dicari. Satu dua kali pertemuan, entah temu wajah dan kata atau hanya kata saja, alarmku sudah bisa memberikan petunjuk mana-mana saja kaumku yang suka dan tidak suka berpartner bicara hal-hal begitu denganku, atau yang benar-benar berbeda jalan dan hanya sapaan manis yang diperlukan. Dan dengan mereka yang buatku seperti ‘tumbu ketemu tutup’ itu, kalimat-kalimat yang mengalir bisa secara alami tanpa disetel berlebihan mengarah pada pengupasan makna.
Bicara makna, yang sederhana tapi juga tidak sederhana, biasanya berujung pada sebuah akhir. Tidak heran seringkali tersirat dan tersurat rasa takut disana. Karena siapapun menyadari adanya sebuah akhir, memaklumi, memahami sekaligus ingin menjauhi akhir itu. Bukan apa-apa, sungguh bukan apa-apa jika pembicaraan itu ada. Maksud sebenarnya hanyalah untuk mengingatkan tentang ketidakkekalan dan apa saja yang bisa ada, terjadi dan harus dilakukan selama menjalani ketidakkekalan ini.
Tapi, beberapa hari ini aku menjadi lelah ketika menghadapi dan mendengarkan kalimat-kalimat seputar masa akhir itu dari mulut seseorang yang dekat. Yang degupan dirinya sedang bermasalah. Yang selalu menunjukkan seolah ketidakkekalan yang telah dia jalani lebih banyak dari yang pernah ada di sekitarnya, meski dia tahu tak ada yang tahu berapakah banyak itu. Dan di antara semuanya, selalu diselipkan cerita tentangku.
Kalau tuduhan yang bisa datang padaku adalah ketidaksukaan untuk memberikan rasa kasih yang dibutuhkan, boleh kukatakan dengan suara lantang bahwa kamu tak tahu aku. Kelelahanku, hanya berpangkal pada ketidakrelaan tentang sebuah waktu akhir yang mungkin datang pada darah dagingku, sesuatu yang kupahami benar kepastiannya. Memang, lukisan yang bisa kucoretkan untuk kau lihat hanya semacam keluhan tak suka. Padahal aku hanya tak punya keahlian melukiskan. Semua yang ingin kulukiskan hanyalah apa yang tak bisa kupandangi dengan senyum.
Satu kali aku pernah membutuhkan lima menit terlama dalam hidup untuk mencoba menangkap sebuah gerakan dada yang begitu halus, hanya karena pintu yang terkunci dengan sengaja itu memisahkanku dengan apa yang kupandangi. Sampai akhirnya kutegakan membangunkan sebuah kelelapan untuk lebih memastikan semuanya baik-baik saja, sebelum airmata menjadi deras. Dan disitulah awalnya kelelahan itu.
Aku tak suka menangisi sesuatu yang tak pasti. Maka, memiliki teman yang mengerti benar apa yang kau bicarakan, adalah sebuah kemewahan. Aku katakan bahwa aku memiliki kemewahan itu kemarin, di saat lelahku. Mungkin dia sudah kembali pada kesehariannya kini, tapi sentuhan keberadaannya tetap terasa kental.
Kalau ini adalah sebuah catatan harian terbuka, ……..entahlah. Matahari memang bersinar dan segalanya menjadi lebih baik. Tapi apa yang sudah terjadi tak bisa terhapuskan. Karena aku takut pada sebuah akhir, aku selalu mencari asa bersamaan matahari yang mulai bersinar. Selayaknya, menjadi lebih cerah dan kelelahan perlahan memudar dengan memejamkan mata beberapa saat lalu.
Aku ingin, hujan masih akan lama lagi datang…………………KAU dengarkan aku, kan?
berjuang sampai batas kita mampu bertahan, karena pada akhirnya kita pasti bangga dengan kekuatan kita bertahan..
ho oh, exactly ! dan mudah2an bertahannya itu tetap dengan jujur mengakui apa yg kita rasakan sesungguhnya…
sabar mbak sabar
omongan yang ga enak dilewatin aja, ngomong emang paling gampang, apalagi kalo ga pake mikir apa akibat dari omongan tersebut
makasih Way…….memang butuh ekstra segalanya….
ya…aku dengar kok Mba
tapi bukankah semua memang ada akhirnya, ndang?
ooh, itu benar sekali, siapa yg menyangkal hal itu? aku juga tau kok…..tapi kita akan merasakan tidak ingin dekat2 dgn kata akhir ketika hal itu terdengar dari mulut orang yg kita cintai dan dalam keadaan sakit pula. Kalau sampeyan belum merasakan berdekatan dan merawat org yg kita cintai dalam keadaan sakit spt kmrn, percaya deh……sampeyan akan selalu dengan tegar mengatakan ” hidup kan memang akan berakhir “………..
kehidupan memang akan selalu berputar..
Yang sabar mbak….
Seharusnya dia merasa beruntung bisa berdekatan dengan seorang seperti mbak. Coretkan saja segala rasa di kanvas putihmu ini, mbak ^_^
Dan sebagai seorang Ibu, beliaulah yang lebih mengetahui tentang darah dagingnya itu.
beliau pasti tahu aku sayang banget……tapi mungkin tidak tahu betapa yg dia bicarakan meninggalkan ketakutan dan kesedihan…..
masa seperti yang sekarang dirimu jalani memang adalah episode yang terlalu susah dicerna dengan rasa biasa. lelah yang sudah berusaha dipahamipun masih tidak bisa menghilangkan lelah itu sendiri. takut yang sudah berusaha dihadapi pun masih tidak bisa menghilangkan rasa takut itu sendiri.
disini, kata “sabar” selalu berkejar-kejaran dengan kekhawatiran. saat aku berada di episode ini, barulah aku tahu betul yang namanya ikhlas itu, masya allah, lebih gampang diucapkan daripada dipraktekkan.
yang sabar ya sayang.
you have a step ahead for this lessons…….thanks, dear……
dengan sabar menanti akhir dng bekerja keras…*ngawur..mode on*
akhir, adalah kata yg menakutkan utk sesuatu yg kita cintai. aku selalu menghibur diri dg…”akhir adalah awal untuk sesuatu yg lebih baik,” entahlah….
akan kucatat, Meiy…..
semoga tetap sabar endangku…
bener kata mba’ meiy akhir memang kata yg menakutkan utk sesuatu yg kita cintai,karna didalam akhir itu kita tdk tau akan ada sesuatu yg buruk atau baik tp bukankah kita harus tetap melakukan yg terbaik agar akhir itu minimal mjd sesuatu yg baik utk kedepannya . . *maaf mba kl malah bikin bingung*
nggak kok jeng……makasih yaaa…..
ketika sabar tak lagi bertepi… (halah sok puitis nih :d)… dia tak pernah tidur dan pasti mendengarnya…
hiks…….
harus di chatting nih …biar jelas hihihih
yg gak konsen tiduuuurr……!!!
percayalah bahwa semuanya akan berakhir dengan kebaikan, yang penting selalu sabar dan ikhlas saja ya mbak
makasih mas…..
i’ve been there. and bisanya cuma berdoa ama ikhlas. meski ada sesal
gue gak mau sesalnyaaaaaa……
waduh bersedih-sedih… sabar mbak, semoga semua akan baik-baik saja.
memang iklas adalah kuncinya
nah…klo ada benturan gitu, selalu saja kita butuh teman……teman untuk bicara, yg……diluar “orang2 dekat” kita….
tapi keikhlasan itu yg akan menamengi semua….(hiks sok banget oiii akunya)
mbak..gimana keadaan bundanya? aku sekarang ga bisa tiap hari ol…jadi baru tau beritanya…semoga cepet sembuh ya mbak….amin
sekarang sudah membaik, jeng……tapi bener2 harus dijaga jgn mikir yg berat, tapi ya itu juga yg paling susaaaaah…..makasih yaa!
SEMANGAT!!!!!
butuh ketegaran di atas rata rata ya mbak, buat membangunkan ketegaran orang lain.. :l
yoii…..lha kitanya aja ngos2an juga buat tegar…….
be strong yach !
dalam satu degupan jantung bisa berjuta rasa,
dalam satu degupan jantung bisa melarai gundah,
dalam satu degupan jantung bisa menghentikan fana dan kembali ke kekalNya.
namun dari sedetik picingan mata dan kembali terbuka bisa mengalihkan pandangan lama kepada anyarnya warna depan yang merona kepada kata-kata dari mbak endang ini.
uhhh… apa sih gw, hehehehe
berdoa aja…oke
Nilai seorang manusia, nilai sebuah kata dan tindakan
antara kata dan tindakan ituh . . . . masih ada musik ndang . . . !
ayoooo . . . . . belajar menyanyi lagi . . . . . .
aku cm bisa mendoakan smg diberikan yg terbaik buat semuanya ya mbak.
sampai sekarang, saya pun takut akan sebuah akhir mba, makanya terkadang suatu jalan tidak berani untuk saya ambil. padahal sesuatu hal yang diinginkan atau tidak kelak pasti akan terjadi ^^
smangadh mba!!!
Mbak, kadang bercerita dengan orang lain juga mengurangi beban di hati
maaf:
sebagaimana aku telah diantarnya
demikian pula aku ingin mengantarnya
dengan senyum sedih
penuh kasih
(pengalaman yang terindukan, semoga dapat membuat sedikit lebih tegar)
Endang, tulisanmu indah! As always …