Ayat Kursi

27 05 2008

Dengarkan saja………….atau ikuti….





Kamboja dan Tanah Merah Basah

26 05 2008

Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin terpejam. Ada selaksa rasa lelah menggantungi kelopak mata dan sisa tetes air kehilangan. Merah muda Kamboja tak mampuĀ  mengangkat duka yang tertinggal di sudut hati ini. Dan meski tidur beberapa lama, tak mungkin mimpi buruk itu berganti menjadi kembali indah. Karena yang pergi akan tetap pergi.

Sudut hatiku terasa kosong. Semakin terasakan ada bagiannya yang tercerabut karena sebuah Kehendak yang Maha Mutlak. Aku menghitung jumlah kumpulan kepala yang bisa kusapa kutatap kucium, tak genap lagi. Belum satu tahun dan airmata belum mengering, kini harus tertumpah lagi. Ketentuan sudah menghampiri dan tak satupun bisa mengatakan kata tidak.

Matahari yang kutatap kini, mungkinkah menyampaikan pesanku untuk bertanya apa kiranya yang paling Dia inginkan dariku. Aku tak ingin menggugat karena aku menerima. Hanya aku masih terus mencari pada siapa segala pesanNya disampaikan melalui bunga-bunga yang mulai gugur. Untukku, mungkin untukku, begitu kata hati ini. Aku tak terbebani dengan segala yang mungkin memang ditinggalkan untuk kusentuh. Tapi tak mungkin kubantah kalau aku menangisi warisan yang dia tinggalkan untukku, dan pasti menangisi kepergiannya.

Kalau kutundukkan kepala ini mengingat detik-detik akhir yang ada, napas panjangku pasti tertarik tanpa sadar. Memang pesan itu untukku karena aku yang merasakan ketika langkah kaki ini begitu saja melangkah kesana. Semua tergerakkan hanya karena rasa cintaku pada dia. Dan tatapan matanya yang terakhir merintih padaku, tak sanggup kubalas dengan sempurna. Dan kini akan terbawa dalam benakku hingga akhir nanti.

Aku masih ingin berbincang cengkerama dekat dengannya, sebelum waktunya berputar disini usai. Entah konyol, entah tak waras……..tapi aku ingin berbincang lagi untuk yang terakhir. Setelah itu, selamat jalan adalah satu-satunya kata yang kupunya untuknya dan tak akan kuganggu perjalanannya. Dan taburan bunga akan selalu ada di atas tanah yang masih merah basah ini……..

Kamboja merah muda, sampaikan salam kasihku baginya bersama embun yang menyertaimu pengganti airmataku……..





Sempurnanya Manusia Itu…..

13 05 2008

Aku memulai keisenganku pagi ini. Mencari yang tak perlu dicari, memikirkan atau terpikir sesuatu yang tidak perlu dipikir. Di tengah rutinitas keseharian dalam peran menjadi nyonya dan ibu. Aku memikirkan tentang sifat atau watak. Apakah watak itu menetap dengan memilih jenis kelamin? Rasanya tidak.

Katanya, entah siapa yang pernah berkata-kata hingga dipercaya banyak orang, wataknya manusia perempuan itu teliti, cerewet, sensitif, suka memperpanjang dan mendramitisir masalah, membuat yang sederhana jadi tidak sederhana, dan hampir semua yang kesannya rumit. Laki-laki ? Katanya sih sebaliknya. Makanya selalu terjadi perdebatan ringan, lucu, santai tapi juga menjurus emosional bahwa yang satu tidak mengerti yang satunya lagi.

Ada teman yang bisa begitu resah menunggui putranya akan dikhitan, sedangkan dia dulunya adalah subyek yang mengalami perlakuan dukun khitan. Aku tak pernah mengerti lika liku persoalan itu selain garis besarnya saja, dan dua kekasih kecil yang lahir dari rahimku harus khitan. Untuk kamu tahu, aku sontak heran ketika teringat tak ada rasa resah di dada ketika pengalaman pertama pada sulungku terjadi. Aku tak sensitif ? Tuhan saja yang tahu benar tidaknya.

Teman lain laki-laki begitu sibuknya membuat tulisan penuh emosi hanya karena merasa wewenang kecilnya terlangkahi, katanya. Aku dan satu teman perempuan, yang lebih banyak merasa dilangkahi wewenang kerja kami justru oleh teman laki-laki tadi, bingung setengah mati. Caranya teman lelaki tadi meluapkan emosi, sangat perempuan. Akhirnya, teman perempuanku tadi mengucapkan kata maaf tapi tetap tak mengerti bagaimana yang lelaki itu bisa begitu perempuan. Aku ? Karena sabar sudah tak punya lagi maka memutuskan lebih enak mengungkapkan fakta-fakta apa yang disebut langkah melangkahi dalam sebuah komunitas, dengan gaya yang lebih lelaki dan membuatnya diam.

Ada lelaki yang lebih teliti merawat barang miliknya sedangkan perempuan yang bahkan tak mengerti apa tugas perempuan di rumah juga tak sedikit. Ada banyak contoh ketidaksesuaian watak dengan sang pemilik raga. Apa yang menjadi masalah ?

Angin yang sempat membisikiku membawa pendapatnya sendiri. Yang kudengar dari bait-baitnya adalah perkara nilai yang tertanamkan dalam benak tiap kepala, manusia lain yang berlari di sekitar, halaman-halaman hidup yang pernah dibuka dan ramuan dasar yang terbentuk sendiri sebagai wadah tampung segala bekal. Sedang aku sendiri memandang betapa sempurnanya manusia dengan segala sisi hitam putihnya dalam satu raga. Tak perlu disangkal, hanya perlu diasah dan terarah baik kemana akan melesat. Dan dengan segala yang bisa terjadi pada tubuh sedari bayi yang menangis tak mengerti aksara, mungkinkah segala perlekatan itu memilah dan memilih lebih dulu tentang jenis kelamin. Yang ada hanyalah sebentuk manusia saja.

Maka, kalaulah manusia itu menjadi tidak sempurna karena sisi tak populer dalam raganya, buatku betapa sempurnanya manusia dengan segala ketidaksempurnaannya. Lengkap !





Dari Sebuah Perjalanan Kecil

7 05 2008

Kata orang, melihat sesuatu dengan berbekal sebuah stereotip itu tidak bijaksana. Tentu saja maknanya mudah untuk dipahami. Bagaimanapun selalu tersimpan keinginan kita untuk bisa menjadi orang baik dan memaknai segala sesuatu sesuai dengan porsi yang ada. Tidak ada penyamarataan yang berlaku mutlak karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada di bumi ini unik, selama kita memandang denga kejelian. Ah ya…..mungkin ini juga pemaknaanku sendiri ketika merenung-renungkan sesuatu.

Dalam satu helaan nafas yang sama dengan kesadaran untuk berlaku bijak, aku sendiri seringkali justru menghadap pada tembok yang mungkin kurang bijaksana. Berstereotip. Nyata sudah, kepala dan dada ini sungguh sempit. Meski degup-degup jantung begitu riuh menggetarkan dan bersuara lantang ,”mengapa harus tembok itu?” …….kadang sulit untuk menghindar. Jika harus mencari sebuah kesahihan proses pemaknaan, maka kusodorkan saja apa yang tertangkap bola mataku.

Ini tentang perjalanan kecil ke bagian Utara sebuah pulau di bagian Barat negara, kota Medan. Sejak masih di loket pendaftaran ulang tiket di kota ini hingga tiba di kota tujuan, apa yang kudapat selalu membuatku menghadap ke tembok sempit pemaknaan. Oh, aku sudah pergi ke beberapa kota seberang di negara ini, tetapi tidak menjumpai yang seperti ini. Itu dulu, entah sekarang…..siapa tahu semua sudah serupa saja. Senggol serobot tergesa dan tak perlu barisan. Aku tertawa kecil dan berpikir, “beginikah dirimu ?”

Troli didorong kencang dalam kesesakan pencarian barang dan tumit yang bisa saja menjadi korban aksi ngebut, mungkin saja sebuah seni dan bagian dirimu juga. Jangan tumitku ya, Bang………….aku masih menikmati keramahan dalam kotamu.

Tak banyak waktuku disana, hanya hingga esok pagi datang dan aku memasukkan diri kembali dalam barisan daftar ulang tiket. Barisan yang ditunjukkan lelaki berseragam, tetapi dibuat kopi paste tak resminya di kanan kiri. Siapa cepat melangkah, siapa tiba di depan lebih dulu. Dan aku setelah lama berdiri di barisan resmi, berdiri mengangsurkan tiket. Yang terjadi kemudian,

” Ibu seharusnya di kiri ! “, ……ini yang bertugas mendaftar ulang .

” Lho ? Lha saya disuruh di barisan ini tadi. Yang kiri kan adanya belakangan….”

” Nggak….Harusnya di kiri sini ! “

” Sudahlah pak….biarkan ibu ini disini, kan sudah sampai di depan. Memang disini tadi”……..ini suara di samping yang mungkin merasa sedikit tidak enak.

” Ini MEDAN !!!!! “………..suara teriakan di bagian belakang. Menyudahi, menyimpulkan dan membuatku tertawa. Sadar diri. Dan semua bisa menjadi benar.

Andai itu terjadi di tempat dimana sebuah stereotip tidak berlaku, tentu aku menjadi sangat jumawa dengan kebenaran. Tetapi ini sebuah keunikan. Khas. Semua bisa benar, tinggal bagaimana memakluminya. Dan ketika tiba waktuku duduk menunggu panggilan terbang, ada suara dalam hatiku. Entah bagaimana, aku tidak ingin mereka berubah. Biarkan lestari karena inilah saudaraku. Negeriku. Aku tidak perlu memandangnya dengan etika, tetapi dengan cinta. Dan dunia ini memang tidak pernah sempurna.