Duduk dengan segelas besar kopi di balkon, setelah sekian lama………mencoba melihat alam dengan segala perangainya. Aku masih bisa menatap sore yang perlahan datang merangkak dan menjauhkan mentari dari tahtanya di muka sana. Aku percaya, dia akan berganti dengan merahnya rembulan. Aku percaya, sang rembulan akan datang dengan ditemani para bintang. Atau, jika dia ingin menjadi soliter maka tak diajaknya serta mereka para bintang itu. Aku menatap.
Alam, masih bisa kupercaya. Segala rutinitasnya tak sulit untuk diramalkan kapan pagi dan malam akan menjumpaiku. Alam masih bisa kupercaya, meski kini kadang dia juga sering ingkar untuk janjinya membawa hujan atau matahari. Dan ketika ingkarnya ada, aku harus bertanya adakah dia berdosa sendiri, salah sendiri ? Tidakkah aku pernah mencederai hadirnya dia dengan segala kesenanganku sendiri dan mengabaikan alamku ? Aku harus banyak bertanya lagi pada diri.
Maka kini, aku juga cuma berdiam ketika berhadapan dengan makhluk. Alam yang tak berindra pun mampu menunjukkan dendam yang memaksa dia berkhianat, kenapa tidak dengan makhluk. Dia bermulut, bertangan kaki telinga dan juga berkekuasaan untuk menjangkau kemana pun. Apa yang kutulis, bisa ditulis ulang. Apa yang tersebutkan mulutku, bisa terucap kembali oleh mulut lain. Mulut lain dengan lidah lain, kosa katanya berbeda dengan kosa kataku. Mungkin barisan katanya lebih kaya dan lebih panjang. Dan telinga lain, juga memiliki bulu halus berbeda yang kuasa cengkeram suaranya tak sama.
Ketika apa yang kupendam sempat kusuarakan, maka dia tak pernah lagi menjadi pendaman. Tak ada lagi urusan pribadi. Tinggal aku harus menghitung waktu kapan suratkabar mungkin menerakannya di halaman muka. Salahkah mereka? Dalam nilaiku, mungkin itu dosa besar. Dalam keyakinan mereka yang mengabarkan pada dunia, semuanya adalah harta dunia gemerlap dan menarik hati. Jika demikian, bisa apa? Tak ada. Aku cuma memiliki sesal, pelajaran dan pemakluman. Lebih baik menyematkan salah itu pada dada sendiri ketimbang harus menempuh onak duri perlawanan yang tak ada guna. Menempatkan pendaman yang terburai itu sebagai sumbangsih kata saja pada dunia, tak kurang tak lebih. Amal jariah istilah sepelenya. Dan harus kuhadapi jalan terjal di muka sebagai bayarannya.
Kopi ini masih tersisa. Aku masih memandang sore yang berganti malam. Mengingat barisan kata yang semestinya tetap menjadi pendaman, namun kini terburai. Oleh lidahku sendiri. Kalau alam mampu berkhianat di masa kini, maka lidah sudah lebih berpengalaman melakukannya. Dan aku dengan kopiku, mempersiapkan itu sekarang. Tanpa perlu penyesalan kecuali mengerti naluriahnya. Aku mampu melakukannya. Aku tahu, banyak orang juga harus mampu melakukannya. Juga KAMU………kita yakini saja kepercayaan itu sebuah kemewahan tiada tara.
jadi inget lagunya marcel. ‘alam pun berbahasa, ada makna di balik semua pertanda. firasat ini, rasa rindukah ataukah tanda bahaya…’ hehehe…
bah, kau..masih saja minum kopi.
cuma sekali sehari koooooooook………
sudah baca keseluruhan kok belum ngeh ya maksudnya,harus mbaca berapa kali ya, biar mudeng ?
yang ada dipikiranku cuma tentang copypaste , *nebakdotcom*
alam tak pernah berkhianat, dia hanya minta yang sewajarnya
tapi tak bisa diduga lagi spt dulu…..
alam tak berkhianat, hanya manusia, menurutku. mereka hanya menuruti sunatullah.
pa kabar jeng? maaf nih lama gak kesini, baru ke luar rimba
Lidah memang kecil dan tak bertulang, namun ia bisa menuliskan sesuatu yang besar, bahkan menyombongkannya. Bahkan lidah juga mampu memutarbalikkan fakta dan kata-kata sehingga banyak orang yang celaka karenanya.
setahu ik sih lidah ya tak bertulang… tapi tajemmm banget,…
apa kabarnya jeung…?
Lidah memang tidak bertulang,
dan lebih parah lagi ga akan bisa merasakan kenikmatan kopi tadi
dan jika bertulang bukan Lidah namanya
kemewahan tiada tara itu sperti apa sih bu?
ah,, diriku kangen juga padamu
bagaimana kalo kapan nanti, kita habiskan kopi itu bersama ^^
lidah & kopi, fuihh perpaduan yang klop. biarkan alam bekerja dengan caranya dan qt duduk manis menikmati pergantian hari tanpa perlu banyak kata, biarkan saja lidah menikmati secangkir kopi panas. srupuutttt…..
rumput hanya bisa bergoyang! semut hanya bisa merayap dan manusia hanya bisa berusaha! kopinya mak sruput