Perasaan apa ini namanya, aku tidak bisa merumuskan. Sebentar ingin duduk disini, sebentar kemudian menyesali dan merasa semuanya hanya membuang waktu percuma. Turun kembali memandangi layar televisi, mengganti semua saluran. Cuma berharap ada sesuatu yang menarik hati hingga membuatku jenak duduk menyimak, tapi lalu berakhir di keluhan.
Aku memilih untuk menatap pada koper-koper di atas lemari. Yaah…mungkin semuanya berasal dari sana. Ada kesadaran bahwa dalam hitungan hari, tanganku akan menggapai koper-koper itu untuk diisi lipatan-lipatan pakaian.
Tujuannya sudah jelas setiap tahun, hanya ada satu rumah tempat berhenti. Kegiatannya sudah tergambar karena tak akan banyak perubahan. Tidak antusias? Tidak juga. Bergairah? Tidak juga. Membingungkan sekali. Ingin di rumah saja juga tidak.
Perlahan, aku bisa menyimpulkan. Perjalanan panjangnya yang sungguh kurindukan. Persiapannya. Dan gembar-gembornya semakin mengilik relung hati bahwa perjalanan panjang ke kampung halaman itu harus terjadi. Bagaimana membuat kopi di waktu yang tepat sebagai bekal perjalanan, memperkirakan waktu yang nyaman untuk mulai meninggalkan rumah, mengucapkan pamit pada kerabat untuk perpisahan beberapa waktu, mengingatkan para kekasih kecil dan bapaknya tentang apa yang tak boleh terlupa. Kesibukan yang benar ada dan yang hanya dibuat sibuk sendiri. Mengikuti arus sekian ribu orang dan tak ingin tertinggal dalam cerita.
Aku tak nyenyak lagi tidur. Aku tak ingin lagi ke dapur dan membuat hidangan lezat. Aku ingin ini dan itu. Dan aku hanya perempuan yang selalu memenuhi benaknya dengan hal-hal yang tak ingin kupikir tetapi tetap saja terpikir. Aku menjadi ingin sekali mendermakan kata-kata karena tiba-tiba menjadi sangat penuh kata-kata. Menggamit banyak orang untuk diajak bicara meski akhirnya pembicaraan itu sangat tidak penting. Semuanya cuma sekedar untuk meluapkan rasa, antara suka senang dan galau.
Karena ayah ibuku diam disini…….dan aku rindu untuk menemani mereka menggelar sajadah bersama di Hari Besar dan mencium lutut mereka sepenuh hati.
Ayah ibu……anakmu tak akan lama pergi, sujudku mungkin tertunda…….dan terimakasih untuk berjuta rasa mengertimu………….
Komentar Terakhir