Perjalanan Untuk Sujud

22 09 2008

Perasaan apa ini namanya, aku tidak bisa merumuskan. Sebentar ingin duduk disini, sebentar kemudian menyesali dan merasa semuanya hanya membuang waktu percuma. Turun kembali memandangi layar televisi, mengganti semua saluran. Cuma berharap ada sesuatu yang menarik hati hingga membuatku jenak duduk menyimak, tapi lalu berakhir di keluhan.

Aku memilih untuk menatap pada koper-koper di atas lemari. Yaah…mungkin semuanya berasal dari sana. Ada kesadaran bahwa dalam hitungan hari, tanganku akan menggapai koper-koper itu untuk diisi lipatan-lipatan pakaian.
Tujuannya sudah jelas setiap tahun, hanya ada satu rumah tempat berhenti. Kegiatannya sudah tergambar karena tak akan banyak perubahan. Tidak antusias? Tidak juga. Bergairah? Tidak juga. Membingungkan sekali. Ingin di rumah saja juga tidak.

Perlahan, aku bisa menyimpulkan. Perjalanan panjangnya yang sungguh kurindukan. Persiapannya. Dan gembar-gembornya semakin mengilik relung hati bahwa perjalanan panjang ke kampung halaman itu harus terjadi. Bagaimana membuat kopi di waktu yang tepat sebagai bekal perjalanan, memperkirakan waktu yang nyaman untuk mulai meninggalkan rumah, mengucapkan pamit pada kerabat untuk perpisahan beberapa waktu, mengingatkan para kekasih kecil dan bapaknya tentang apa yang tak boleh terlupa. Kesibukan yang benar ada dan yang hanya dibuat sibuk sendiri. Mengikuti arus sekian ribu orang dan tak ingin tertinggal dalam cerita.

Aku tak nyenyak lagi tidur. Aku tak ingin lagi ke dapur dan membuat hidangan lezat. Aku ingin ini dan itu. Dan aku hanya perempuan yang selalu memenuhi benaknya dengan hal-hal yang tak ingin kupikir tetapi tetap saja terpikir. Aku menjadi ingin sekali mendermakan kata-kata karena tiba-tiba menjadi sangat penuh kata-kata. Menggamit banyak orang untuk diajak bicara meski akhirnya pembicaraan itu sangat tidak penting. Semuanya cuma sekedar untuk meluapkan rasa, antara suka senang dan galau.
Karena ayah ibuku diam disini…….dan aku rindu untuk menemani mereka menggelar sajadah bersama di Hari Besar dan mencium lutut mereka sepenuh hati.

Ayah ibu……anakmu tak akan lama pergi, sujudku mungkin tertunda…….dan terimakasih untuk berjuta rasa mengertimu………….





My Mood

12 09 2008

THAT’S WHAT FRIENDS ARE FOR

And I never thought I’d feel this way
And as far as I can say
I’m glad I got the chance to say
That I do believe I love you

And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember:

Reff:
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me
For sure, that’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side for evermore, that’s what friends are for

Well you came and opened me
And life is so much I see
And so by the way I thank you
And then, for the times when we’re apart
Well then close your eyes and loving words
Are coming from my heart
And then if you can remember. . .

Just Miss You, Friends…………





Tua

11 09 2008

Mengakui bahwa sejarah pergaulan, pertemanan dan perbincangan sewaktu kecil dulu adalah lebih banyak bersama mereka yang bilangan usianya jauh di atasku, tidak berarti bisa ikut menjelaskan kenapanya. Semua terjadi begitu saja. Kalau toh tetap harus mengucapkan, sangat mungkin tidak karena satu perkara. Yang pasti, kenyamanan dengan keadaan itu bukan tak ada. Bahkan aku sangat menikmatinya sebagai sebuah wawasan baru ketika mendengarkan pembicaraan yang tak mungkin ada di kalangan sebayaku. Baik dan buruknya setelah itu, pastilah tidak terelakkan.

Gosip semacam A yang poligami misalnya, tidaklah menjadi perhatianku. Tetapi emosi yang terungkap pada saat kaum tua itu bicara, memberikan sebuah kesimpulan yang selanjutnya memunculkan nilai-nilai yang aku pegang sebagai pedoman berpikir dan merasa. Pada waktu yang lain ketika usia menanjak dan berjumpa lagi dengan pembicaraan yang sama, aku akan menggali kumpulan file kesimpulanku dan menganalisanya dengan caraku, dengan perkembangan cara berpikir dari usia yang sudah terupdate. Ada yang kudisposisikan untuk terus tersimpan ke dalam file, ada pula yang harus dirombak dan modifikasi dulu sebelum kusimpan sebagai keyakinan.

Tidak ada yang menolak kehadiranku saat itu ke dalam lingkungan pembicaraan kaum tua. Mungkin karena aku tak pernah memotong bicara atau ikut saja dalam bagian yang bukan menjadi hakku. Tetapi bukan juga tak pernah bertanya tentang hal-hal yang tidak aku mengerti, dan biasanya selalu tentang nilai-nilai kehidupan. Tentu saja mereka justru dengan senang hati menjelaskan. Hanya sekali aku merasa ditolak, ketika bertanya tentang bagian tubuh apa yang terbentuk lebih dulu dari seorang bayi ketika di perut ibu. Sejak itu aku tak pernah ingin bertanya pada wilayah rawan. Cukup buatku mengerti bahwa tidak semua kaum tua siap untuk menjawab dengan baik pertanyaan yang muncul begitu saja di kepala kecil anak-anak.

Yang aku pelajari kemudian adalah kenyataan bahwa banyak dari kaum yang merasa memiliki usia lebih banyak lalu merasa usia mereka adalah sebuah kemewahan. Kemewahan untuk merasa lebih pandai, kemewahan untuk merasa bisa menggurui, untuk membentak, untuk melarang, bahkan untuk merasa tersinggung. Tersinggung ketika telinganya mendengar ada barisan kata bijak yang meluncur dari bibir usia muda manakala mereka justru tidak terpikir tentang hal-hal yang dibicarakan. Atau manakala mereka justru sedang menabrak nilai-nilai yang lazim  dianut banyak orang. Katanya, bibir muda itu menjadi nyinyir, menjadi sok tua, atau bahkan menghakimi.

Aku yang sekarang, rasanya belum terlalu tua tetapi sudah menjadi orang tua yang sebenarnya. Kemewahan yang tadi kusebutkan, membuatku kadang merasa harus menanamkan nilai kepada anak-anakku dalam sebuah kalimat. Bukan membiarkan mereka menangkap sendiri makna di balik perbincangan seperti yang dulu kulakukan. Seolah mereka tak mungkin bisa mengambil kesimpulan, dan ini hanya karena sebuah ketidakyakinan . Apakah ini salah, tak mungkin bisa kujawab segera.

Satu yang ingin kulakukan, menjadi teman bicara. Tidak sebagai teman yang sesungguhnya hingga mereka mampu bersikap tidak sopan. Tetap sebagai orangtua mereka. Yang bisa berbincang tentang apa saja, tetapi mereka tahu batas. Yang membebaskan tapi tak ragu untuk melarang dan memaksa. Yang bisa tertawa bersama tetapi tidak membuat mereka kehilangan rasa sungkan.

Rasanya, aku harus lebih banyak menciptakan pembicaraan kaum tua yang bebas dimasuki anak-anakku, sehingga aku tak perlu harus menanamkannya dengan sengaja. ……..





Siapa dan Terkenang Apa?

8 09 2008

Membaca banyak tulisan yang serupa. Tentang sebuah buku. Buku biasa dengan isi yang mengurai aneka bahan, ukuran dan tatacara menyajikan pemanja lidah. Dikumpulkan dari seorang manusia yang pernah ada, yang mungkin juga tidak dia ciptakan tapi dia dapatkan dari orang lain. Banyak buku seperti itu, lalu mengapa yang ini beda? Katakanlah disana diselipkan cerita. Katakanlah disana disisipkan puisi. Katakan juga disana tertuang banyak kesaksian. Tetap saja buku biasa. Tapi tentang SIAPA, mungkin itu pembedanya. SIAPA yang melakukan banyak hal yang sama, siapa yang pernah berbagi banyak hal yang bisa dibagi yang lain. Perempuan ini,  bagaimana dia bisa begitu istimewa untuk banyak orang?

Belum pernah hilang dari ingatan banyak orang tentang teriakannya. Banyak yang mengulangnya untuk menunjukkan setia. Banyak yang menempelkan wajahnya di tembok-rumah sebagai pengingat dan menunjukkan penghuni rumah itu adalah pengagumnya. Tak sedikit yang menjadi berlebihan ketika ingin membandingkan dengan penerusnya. Teriakannya bisa diteriakkan orang lain. Kursinya bisa diduduki silih berganti. Lelaki ini, tak pernah pudar oleh masa hidupnya yang habis berpuluhtahun lalu.

Kesibukan mempersiapkan sebuah acara, tersebut perannya dalam setiap kesempatan semacam. Memindahtangankan apa yang dipunyai pada orang lain, tak pernah lupa untuk menyebut namanya. Seakan tak ada orang lain pernah melakukannya. Membeli pernik kecil dan sepele, tidak mungkin tidak menyebut namanya, ketika dulu kerepotan itu tidak perlu ada. Semua hanya hal sepele dan remeh yang bisa dilakukan banyak orang. Tapi perempuan kerabatku itu, membuat segalanya menjadi bermakna.

Kata orang, semua menjadi berarti ketika jauh. Rasa cinta menjadi nyata ketika tak bisa dirasakan lagi dalam keseharian. Dan ketika perpisahan yang mutlak dan tak pernah kembali itu tiba. Apakah semua akan dirindukan? Apakah semua akan diharap untuk kembali? Ataukah hanya untuk orang yang terberkati dan membawa kharisma sejak lahir? Dan apakah semua hanya tentang kebaikan? Atau kebaikan dan ketidakbaikan harus menjadi luar biasa untuk menjadi kenangan masa?

Mungkin kita akan tahu setelah kita tidak bisa kembali. ……..