Repot

26 10 2008

Seringkali terjadi. Ketika sang ayah selalu berada di luar rumah untuk bekerja, dan sang ibu berkutat di rumah. Yang satu berpikir keras mencari rejeki, merasakan kaki pegal menekan kopling di tengah jalan macet dan mungkin berdebat dengan orang lain tentang berkas-berkas. Yang di rumah berpikir keras tentang menu, noda pakaian dan hitungan hari yang harus dipenuhi oleh sisa gaji di tangan. Seorang ingin menghabiskan akhir pekan dengan berselonjor di depan televisi, dan memuaskan kantuk seharian. Seorang lagi ingin melihat kota dan carut marutnya meski macet tak mengenal akhir pekan.

Entah…..tapi berada di rumah terus menerus juga bukan hal yang indah meski bukan sesuatu yang tidak bisa dinikmati.  Ketika memiliki keleluasaan kapan ingin tidur, karaoke, memutar aneka film atau menikmati HBO, sulit untuk mengatakan semua itu bukan kenyamanan. Tetapi ketika semua dijalani sepanajng tahun, percayalah bahwa dirimu akan sangat merindukan dunia luar bahkan yang tak cantik sekalipun.

Pada saat-saat begitulah, konflik mudah terjadi. Antara dia yang ingin mengatupkan mata membayar kelelahannya selama seminggu dan dia yang ingin menghirup debu jalanan membayar hutang pandangan pada tembok-tembok dingin. Ketika meletus, tak jarang salah satunya merasa perlu tampil bak seorang dewi sinetron dengan airmata bercucuran dan kalimat-kalimat menghiba. Dan lucu sekali ketika hal itu dilakukan oleh seorang wanita yang sesungguhnya memiliki badan tegap sehat sentausa laksana atlit. Dan lebih menggetarkan dada lagi sewaktu kemudian dia pergi ke balik tembok dan mampu meringis membaca sms kocak sahabatnya.

Bagaimana yang ingin mengatupkan mata tadi? Kadang dengan suksesnya dia lakukan apa yang menjadi impiannya. Artinya, memang hanya itu yang mampu dia lakukan dan dipahami benar oleh nyonya drama queennya. Tetapi dia akan tidak tahan ketika mendengar kalimat,” tidakkah kasihan denganku yang hanya menjadi penunggu setia bla bla………” Sandiwara adalah sandiwara. Bukan bertujuan menipu, tetapi mungkin memanipulasi sedemikian rupa sebuah kebutuhan sehingga menjadi terkesan begitu penting dan darurat. Setelahnya, semua diperbaiki dengan sebuah doa terimakasih untuk segala nikmat yang tak mungkin didustai lagi.Yang terpenting sebuah pemahaman diperoleh, meski harus diremix lagi di lain kesempatan. Dan pemahaman ini juga bukannya tidak penting mengingat semuanya membutuhkan keseimbangan.

Keesokan harinya, segalanya akan berjalan tanpa hambatan. Ganjalan tak perlu dipersoalkan karena tidak semua perlu dijabarkan panjang lebar. Selama pengertian selalu ada dan komunikasi berjalan entah bagaimanapun caranya, bisa diharapkan untuk menemui akhir yang memuaskan. Dan pada titik ini, silakan kembali pada resep-resep baru yang menantang kemampuan dan ketrampilan tangan, jendela-jendela sapaan yang bisa ditunggui atau ditinggal hilir mudik menyelesaikan aneka pernik. Dan belajar kembali hal baru yang bisa dilakukan atau disaksikan dari mana saja sebelum rodanya berputar kembali pada fase sandiwara episode berikutnya.

Bagaimana dengan anda : mana yang lebih menarik dari semua hal yang ditawarkan untuk dilakukan pada tiap akhir pekan?





Duh Belahan Jiwaku…..

13 10 2008

Lagi-lagi sebentuk perasaan saja. Membumbung tinggi menembus lintas batas udara dan ingin menemui Sang Pembentuk Sebongkah Hati. Ingin bersujud langsung di jemari kakiNya untuk segala sukacita dan rasa bungah.

Tatkala semua doa yang terucap adalah untuk sebuah keinginan bagaimana kelak buah hati belahan jiwanya akan menjadi manusia yang shaleh, doa itu mungkin usang semata. Usang, tapi selalu terucap di bibir tiap Ibu. Dan kadang dalam doa itu, bibir ini terhenti sesaat untuk menafsirkan makna keshalehan yang menjadi konsepnya. Terus berputar mesin kata di benak hingga akhirnya memutuskan sang Gusti sudah memahami yang dimaksudkan. Dan doa sang Ibu berlanjut untuk segala keselamatan dan masa depan.

Perjalanan ini masih panjang. Pun perjuangan untuk membentuk cita-cita dan khayalan. Entah tuntas, entah tidak. Karena masanya tak mampu terhitung dengan jari jemari yang mengacung pada langit. Karena itu perjuangan menjadi bukan apa-apa selain semangat dan niat mulia. Hasil yang tercapai kelak akan menjadi bukti dari catatan sejarah panjang alam bumi yang pernah menyimpan manusia bernama Ibu. Dan semoga manis bagi buah hatinya.

Ibu…..akankah merasakan buah perjuangannya? Wallahualam. Harapan menjadi sepanjang matahari terbit. Dan manakala di awal perjuangan ini Ibu merasakan ada gula yang terasakan di ujung lidahnya, tak bisakah dimaklumi ketika sujudnya menjadi begitu lama untuk segala syukur. Buah hati belahan jiwanya, menuntunnya menyeberangi parit kecil yang masih mampu diseberanginya seorang diri. Hanya karena tampaknya gerak si Ibu kurang leluasa. Dan ketika ibu anak itu berjalan beriring sang kekasih kecil itu bertanya,” mana jalan yang enak untuk Ibu? disini sempit…” Ketika akhirnya si Ibu memilih jalan yang lebih lapang, kekasih kecilnya berputar dan menemani langkahnya. Mata Ibu itu berkaca-kaca dan berbinar…..

Gusti……..jika Kau ijinkan aku memperpanjang doaku, maka sempurnakanlah jiwa belahan hatiku, kekasih kecilku ini…….untuk menjadi manusia yang utama….





Lebaran….Lebaran….

6 10 2008

Begitu hari libur sekolah tiba, maka terhitung hari itu juga perjalanan dimulai. Satu jam menjelang bedug buka puasa, rumah sudah terkunci rapat. Membawa serta keponakan dari kakak yang baru ditinggal pergi istrinya. Membawa juga semua bekal yang diperlukan termasuk cemilan, bantal dan selimut, film dan lagu yang akan menemani perjalanan. Bismillah……..dan roda berputar.

Lebaran masih beberapa hari ke depan, maka tidak diperlukan ketergesaan. Singgah di kota di pertengahan Jawa, beristirahat sehari dan mencari sekadar oleh-oleh untuk sanak kadang yang akan ditemui di Timur. Sekadar? Ah…sulit sekali untuk mencari yang disebut sekadar itu. Inginnya, semua menjadi istimewa. Inginnya, semua bisa merasakan.

Ya, Lebaran tahun ini memang menjadi istimewa. Karena keponakan yang kami bawa serta, karena orangtua yang harus dirawat sakitnya, karena kebingungan yang menyertai ketika anak-anak ingin berlibur ke tempat hiburan tapi tak mungkin mengingat kakeknya yang sakit, dan karena Rawon Rampal yang tak kunjung buka hingga waktu kepulangan tiba. Semua terasa asik saja ketika dinikmati. Sholat Ied di lapangan belakang seperti biasa, cium tangan di antara keluarga, dan ketupat opor yang khusus dibuat guna membuat Lebaran terasa benar kehadirannya. Ya, di kampungku tradisi ketupat memang baru akan datang seminggu setelahnya dan kami pasti sudah di rumah lagi.

Banyak ucapan di pesan singkat telepon genggam beredar sebelum takbir terdengar. Cuma siasat untuk lalu lintas komunikasi yang sudah pasti sangat padat. Sekarang….aku sudah duduk lagi disini. Untuk mengucapkan :

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA BERTEMU DENGAN LEBARAN TAHUN DEPAN