Hari Ibu dan Saya

22 12 2008

Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, hanya sebuah hari yang baru dan akan berganti tepat dini hari nanti. Hingga pesan singkat seluler masuk,” Selamat Hari Ibu bagi semua ibu di Indonesia”. Dari seorang perempuan, seorang ibu.

Saya tertegun. Membalas pesan singkat,” Selamat Hari Ibu juga” …tanpa rasa. Tak ada bungah apalagi bangga. Tak ingin apa-apa. Apalagi ingin diistimewakan sesaat. Di sudut benak tercetus tanya,” apakah memang istimewa?”

Surat elektronik dengan bahasa bunga berbunga, puitis, ungkapan selamat. Dari para adam. Satu teman perempuan dan ibu menjawab,” Waaah….hari ini betul merasa tersanjung…”. Saya, tertunduk malu. Bertanya-tanya sendiri tentang bagian mana yang harus disanjung. Tersipu mengingat apa yang sudah terasakan di setiap menit. Beragam jenis cinta dari lelaki yang sama, dan terlalu banyak lagi yang tak mungkin tersebutkan agar tak terkesan pamer. Makin malu.

Lelaki ini, yang selalu memberi……..dia memberi lebih banyak. Saya, tak ada yang istimewa, tetap begitu.Ā Keseharian, keharusan, bertahun namun masih juga tak pernah sempurna. Rasanya tak menandingi apa yang lelaki ini berikan. Maka begitulah mengapa saya malu, amat malu.

Saya perempuan, dan saya ibu. Maka begitulah nafas saya akan terhembuskan seperti setapak yang tergariskan. Tergariskan maka tak ada alasan untuk mengelak . Dan itulah mengapa tak istimewa. Ada atau tidak hari ini, begitulah kewajarannya. Dan memberi seharusnya membandingkan dengan dia yang memberi lebih banyak. Bukan menerima lebih besar. Dan semakin memikirkannya, maka semakin kuranglah rasanya bagian saya dalam memberi. Itulah mengapa malu.

Saya, cukup saja memahami dari sorot mata yang begitu mencintai……….





KENANGAN

12 12 2008

Satu menit berlalu, maka semuanya menjadi kenangan. Mungkin sepanjang sisa umur kemudian, atau malah tak berarti. Kepastiannya, tak mungkin lagi dijumput sejangkau tangan mengacung. Atau sekeras niat mengkristal. Bahkan semesra rindu mendayu…..yang telah lalu maka berlayar sudah. Dan rindu hanya bisa menggantung sendu dalam halimun.

Waktu adalah maharaja absolut yang membentengi menit,jam,hari,minggu,bulan dan tahun yang berlalu. Terlalu keras dan disiplin hingga tak diijinkannya siapapun mengambil kembali bentuk-bentuk yang telah direnggutnya dari setiap yang terjadi. Ingin marah tak guna. Menyesali pun untuk apa. Mengulang keriaannya pun tak mungkin. Maka biarlah sang maharaja menyelesaikan tugasnya. Karena begitulah keadilan yang sesungguhnya dia ciptakan demi kekinian dan nanti.

Ketika yang berlalu adalah pedih perih dan mengumbar tangis, manusia seolah tak merasa perlu melirik lagi benteng waktu yang membentang. Ingin semua terbang tak bersisa bahkan tak setitik juga dalam gas. Entah mengapa, ketika benteng waktu itu membawa seruas saja suka bahagia tawa pesona…..benteng itu ingin dibuat runtuh berkeping. Hingga semua mencair dan diteguk rindu yang memabukkan. Sedang semua tak mungkin lagi. Udara menit ini berbeda dengan yang sudah lalu, mestinya suara tawa yang ada pun tak seirama lagi. Tak mungkin menjadi harmoni peri kerinduan.

Dan begitulah maharaja absolut itu berkata,”….maka biarkanlah…..dan tembuslah waktu di hadapan. benteng ini benteng kabut tipis. tapi kekuatannya tak satu menandingi. pandangi saja di kejauhanmu dan nikmati semua sari rasa yang tersisa. mungkin kamu temukan berlian jika tak kau sentuh yang pernah menjadi duri di nafasmu, dan kau hirup busuknya yang kini mewangi. mungkin menjadi pedang yang menusukmu, jika kau coba raih kilau emas yang telah lalu. karena kilau itu akan melalui ribuan mesin pengasah dan tetap tak mampu menempatkan dirinya dalam kekinian.”

Disini….tangan halus membelai . Menggamit dan menuntun….ini jalan kecil dan berliku penuh misteri. Tapi ini adalah jalan yang kini……….