di suatu tempat, di suatu waktu………..

26 05 2009

 

Saya pikir, …….hanya sebuah bentuk bangunan bata. Yang sama saja dimana pun adanya atau bentuknya. Tempat berteduh, tempat pulang….dan melakukan apa saja. Nyawa, ada pada yang hidup dan bergerak. Maka begitulah bangunan bata itu menjadi tak berarti lagi ketika nyawa-nyawa yang tadinya disana lalu pergi. 

Saya kira……bukan hal sulit. Ketika niat itu ada dan semua terpasrahkan, maka segalanya menjadi mudah. Dunia fana, bangunan bata yang juga bisa ditemukan dimana pun…..mudah untuk ditinggalkan. Tidak sulit ketika dunia bukan pijakan kita.

Nyatanya saya tidak sepenuhnya benar. Apa yang saya pikir dan kira……..tak selalu seperti itu.
Di dalam bangunan itu, banyak sekali yang terjadi. Rumah itu menjadi hidup bersama nyawa-nyawa yang bergerak di dalamnya. Suka senang tawa dan airmata membasahi dinding-dindingnya dalam catatan yang tersembunyi. Jika saja dinding-dinding bata itu punya hati, maka catatannya juga akan sepanjang yang tersimpan dalam hatiku.

Disana……..saya tumbuh remaja dan menikmati keremajaan saya dengan segala warnanya. Menemukan cinta saya sambil masih juga menikmati siraman perhatian dari cinta yang tak pernah saya sambut. Bersama 60 buah durian sebagai saksi penentuan sikap saya tentang cinta mana yang akan saya bawa lena nanti.

Disana……. saya menikah dengan pertunjukan yang seolah terbesar tahun itu, …..melahirkan Ari dan Rayi…. membesarkan anak-anak itu tanpa pundak bapaknya. Tapi ada tangan-tangan ayah ibu menemani dengan segala pemahamannya yang tak seberapa tentang perubahan jiwa saya.

Dan tahun terus berjalan, ….Ari Rayi tumbuh di tempat lain namun rumah dinding bata kukuh ini sudah memberikan jejak sejarah yang dalam di hati mereka. Saat anak-anak ini meminta untuk datang lagi ke rumah ini, sekedar ingin melihat kekiniannya………yah, kami tidak pernah menangis. Tidak pernah ada gunanya menangisi dinding. Namun kelebat ingatan yang pernah ada sudah cukup membuat kami mengerti maknanya. Tenda, seremoni, tawa, canda, duka……….biar kami bawa bersama bentuknya yang dulu. 

Semoga, siapapun yang nantinya berdiam disana………….mampu memberikan nyawa yang rumah itu rindukan. Nyawa yang pernah kami berikan untuknya…….

 

Sunter.......kini yang kering.......

Sunter.......kini yang kering.......


Tindakan

Information

14 tanggapan

26 05 2009
wieda

horeeeee..petama oiii
Ndang kosong melompong sekarang dalem itu?

semoga doamu terkabul..soalnya sarat dengan nostalgia…
iya….kosong dan tak diurus…..entahlah, gimana nanti. kan sudah terusir….

26 05 2009
mei

loh????terusir piye mbak???

ehem…fesbukku ojo mbok bredel..aku nanti nggak kebagian tempat mejeng..okeh???

hihi

26 05 2009
ayu

Abis mudik k kamp halaman yah mba? Wahh..jd kgn kampungku neh.

27 05 2009
Mufti AM

Apapun yang sudah terjadi di sana barangkali telah menjadi masa lalu dan tak akan terulang lagi. Biar bagaimanapun kita akan terus menuju ke masa depan walaupun segala sesuatu yang ada di sekitar kita tetap dan tidak berubah. Kita yang bergerak, kita yang tumbuh dan berkembang, kita yang dinamis akan selalu berubah bukan hanya sekedar diam membisu seperti bangunan itu.

29 05 2009
lamendol

ha..!!! punya pohon durian ??? wih omahe pasti luassssss

23 08 2009
endangpurwani

endi seh pohon durian….nek mangga ono…..

1 06 2009
evi

mana durennya…? bagi… :D

5 07 2009
Ciput Mardianto

wah iki ceritane mari boyongan iki yo!

23 08 2009
endangpurwani

he eh, boyongan terpaksa…….kekekkke

8 07 2009
gakpede

bener mbak!
ndak bernyawa tapi berjiwa (opo neh iki?)
eh, dulu ari2nya diyanem di situ to?

23 08 2009
endangpurwani

ada ari2nya anak saya yang ditanam disitu….

8 07 2009
gakpede

kok’ diyanem’, maksudku ditanem
(dalane gronjalan, jadi salah pencet)

5 10 2009
susan

ceritany bagus..

5 10 2009
endang

Makasih mbak Susan..

Tinggalkan komentar