Saya kira……bukan hal sulit. Ketika niat itu ada dan semua terpasrahkan, maka segalanya menjadi mudah. Dunia fana, bangunan bata yang juga bisa ditemukan dimana pun…..mudah untuk ditinggalkan. Tidak sulit ketika dunia bukan pijakan kita.
Nyatanya saya tidak sepenuhnya benar. Apa yang saya pikir dan kira……..tak selalu seperti itu.
Di dalam bangunan itu, banyak sekali yang terjadi. Rumah itu menjadi hidup bersama nyawa-nyawa yang bergerak di dalamnya. Suka senang tawa dan airmata membasahi dinding-dindingnya dalam catatan yang tersembunyi. Jika saja dinding-dinding bata itu punya hati, maka catatannya juga akan sepanjang yang tersimpan dalam hatiku.
Disana……..saya tumbuh remaja dan menikmati keremajaan saya dengan segala warnanya. Menemukan cinta saya sambil masih juga menikmati siraman perhatian dari cinta yang tak pernah saya sambut. Bersama 60 buah durian sebagai saksi penentuan sikap saya tentang cinta mana yang akan saya bawa lena nanti.
Disana……. saya menikah dengan pertunjukan yang seolah terbesar tahun itu, …..melahirkan Ari dan Rayi…. membesarkan anak-anak itu tanpa pundak bapaknya. Tapi ada tangan-tangan ayah ibu menemani dengan segala pemahamannya yang tak seberapa tentang perubahan jiwa saya.
Dan tahun terus berjalan, ….Ari Rayi tumbuh di tempat lain namun rumah dinding bata kukuh ini sudah memberikan jejak sejarah yang dalam di hati mereka. Saat anak-anak ini meminta untuk datang lagi ke rumah ini, sekedar ingin melihat kekiniannya………yah, kami tidak pernah menangis. Tidak pernah ada gunanya menangisi dinding. Namun kelebat ingatan yang pernah ada sudah cukup membuat kami mengerti maknanya. Tenda, seremoni, tawa, canda, duka……….biar kami bawa bersama bentuknya yang dulu.
Semoga, siapapun yang nantinya berdiam disana………….mampu memberikan nyawa yang rumah itu rindukan. Nyawa yang pernah kami berikan untuknya…….

Sunter.......kini yang kering.......
horeeeee..petama oiii
Ndang kosong melompong sekarang dalem itu?
semoga doamu terkabul..soalnya sarat dengan nostalgia…
iya….kosong dan tak diurus…..entahlah, gimana nanti. kan sudah terusir….
loh????terusir piye mbak???
ehem…fesbukku ojo mbok bredel..aku nanti nggak kebagian tempat mejeng..okeh???
hihi
Abis mudik k kamp halaman yah mba? Wahh..jd kgn kampungku neh.
Apapun yang sudah terjadi di sana barangkali telah menjadi masa lalu dan tak akan terulang lagi. Biar bagaimanapun kita akan terus menuju ke masa depan walaupun segala sesuatu yang ada di sekitar kita tetap dan tidak berubah. Kita yang bergerak, kita yang tumbuh dan berkembang, kita yang dinamis akan selalu berubah bukan hanya sekedar diam membisu seperti bangunan itu.
ha..!!! punya pohon durian ??? wih omahe pasti luassssss
endi seh pohon durian….nek mangga ono…..
mana durennya…? bagi…
wah iki ceritane mari boyongan iki yo!
he eh, boyongan terpaksa…….kekekkke
bener mbak!
ndak bernyawa tapi berjiwa (opo neh iki?)
eh, dulu ari2nya diyanem di situ to?
ada ari2nya anak saya yang ditanam disitu….
kok’ diyanem’, maksudku ditanem
(dalane gronjalan, jadi salah pencet)
ceritany bagus..
Makasih mbak Susan..