Akhirnya, diam kami membuahkan hasil. Diam yang bukan sekadar diam, tapi menghayati semua yang terjadi hanya sebagai sebuah episode perjalanan hidup yang harus dijalani dengan segala rasanya. Dengan semua luka bernanahnya. Yang pahit, apalagi yang manis. Tak ada perlawanan yang perlu kami lakukan. Hanya kerja keras selama ini yang menjadi panglimanya dan memunculkan orang-orang dengan perhatian besar berdiri di depan kami untuk bersuara. Dan disinilah lagi, di rumah kami…..berkumpul lagi. Meski bukan keadaan yang paling kami inginkan, tetapi selalu ada bagian yang layak kami syukuri.
Lalu, kemarin sore saya menyadari lagi semuanya. Ketika mendengar deru mesin mobil yang sangat akrab di telinga mendekati pagar rumah, dan saya bergegas membuka pintu. Lalu segera menjerang air untuk meyeduh teh bagi dia dan kopi bagi saya. Sapaan dan pertanyaan ringan sambil lalu hilir mudik ruangan tengah dan dapur atau ruangan tengah dan rak sepatu. Semua itulah yang paling saya rindukan selama ini. Semua itulah yang hilang selama satu bulan lalu. Dan yang membuat saya tersadar kemarin adalah betapa ternyata saya sangat menikmati ritual itu hingga ada pekik girang terlontar dari mulut saya. ” Waaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh…………..!! ” Hanya begitu, dan bayangkanlah apa yang tertera di dada saya pasti ada berjuta kalimat melengkapi.
Dan kemudian perbincangan dengan anak-anak menjadi lebih hidup. Tidak kesulitan lagi melukiskan apa yang terjadi pada mereka melalui jendela chatting yang semaksimal apapun emoticonnya toh tidak pernah mampu mewakili yang kita ingin tampilkan. Semua suasana itu, sesungguhnya cuma berbentuk percikan-percikan kecil, tapi nyalanya seperti kembang api di malam hari yang memeriahkan suasana. Tidak perlu menjadi matahari karena toh hangatnya jusru sesuai dengan yang kami butuhkan.
Apakah perubahan tugas kembali disini lebih baik, kami tidak pernah tahu. Karena biasanya setiap tugas adalah pedang bermata dua. Tetapi itulah yang terberi untuk kami saat ini. Seperti juga tugas yang lalu memisahkan kami berempat dan memberikan kenyamanan di sudut lain, kembalinya kami disini juga selayaknya kami terima. Terlebih ketika keutuhan fisik kami terjaga, maka kekurangan yang lain akan kami hadapi saja. Dan itulah yang terutama hingga tulisan ini akan terdengar lebih ceria dibandingkan yang lain
Luka kami yang kemarin belum kering benar…..tapi tak mengapa………kami hanya perlu waktu untuk sembuh tanpa perlu merutuk keras-keras……….

Komentar Terakhir