you got your points, son…..

27 09 2010

Sapuan pagi ini, secara khusus kulewatkan dengan berpikir tentang sebuah “tanaman”.  Laksana pokok pohon yang ditanam di pekarangan, pohon itu makin membesar kini. Tumbuh alami, hanya sedikit pupuk yang sengaja ditaburkan di sekitar akarnya. Selebihnya, mereka tumbuh  bersama hujan deras, angin kencang, debu kering dan kadang sampah yang tak sengaja tersangkut. Cabang-cabangnya yang kadang tumbuh tak beraturan, sesekali kupangkas karena merusak keindahan pohon itu sendiri. Ada doa saat itu, semoga cabang seperti itu tak tumbuh lagi.

Tanaman itu, adalah kekasih-kekasih kecilku….yang hingga dunia berhenti berputar pun dalam usia tua mereka kelak, akan selalu menjadi kekasih kecil bagi hati ini. Mereka kini makin pandai melihat jalan yang lurus dan berkelok. Mereka tahu, hidup tidak mulus. Mereka makin mengerti mengelola rasa, pikir dan ucapan yang layak untuk disaksikan dunia dan memilih mana yang harus disimpan sendiri. Dan pekerjaan itu masih terus berlangsung…..pekerjaan sepanjang nafas ada….

Pagi ini, satu dari mereka meminta ijin untuk pulang terlambat meski sekolah pun usai sudah senja. Pasalnya, dia dan teman-teman organisasi OSIS yang sedang mengkader pengurus baru akan menghadapi sidang Guru bidang kesiswaan. Terkejut, itu pasti. Ibu mana di dunia ini akan senang dan rela mendengar kabar buah hatinya menghadapi sidang guru. Menekan rasa, kutanyakan duduk perkaranya. Persoalannya adalah bagaimana mempertanggungjawabkan protes seorang siswa atas sebuah keputusan untuk tidak menerima siswa bersangkutan menjadi anggota OSIS baru.

Dia lalu menjelaskan, karakter siswa yang melakukan protes itu. Siswa itu adalah seorang siswa yang pandai dan cakap, dan dirinya menyadari penuh segala kemampuannya itu. Namun, kesadarannya cenderung berlebihan sehingga siswa itu lalu mulai tampak bersikap mengecilkan teman-teman lainnya dan tampil sebagai single fighter. Dia dinilai tidak mampu bekerjasama dalam sebuh tim kerja dan akan menimbulkan keresahan dalam kelompok pengurus itu selama setahun penuh. Terlebih lagi jika yang bersangkutan akan menjadi pemimpin kelompok.

Anakku lalu berkata,” Dia bahkan nggak mampu menerima dan menanggung kegagalan waktu ditolak itu. Dia berteriak kencang dan histeris sampai terdengar ke penjuru sekolah . Dia nggak mampu menguasai dan mengelola emosinya. Gimana nantinya dia mampu menghadapi kegagalan kerja kelompok? Mosok dia sampai ngajak orangtuanya protes ke Kepala Sekolah sedangkan hal itu adalah masalah pribadinya, bukan masalah orangtuanya”…….

Waktu yang semakin sempit untuk bisa berdiskusi panjang karena harus segera berangkat sekolah, membuatku tak punya banyak waktu untuk mencerna dan berpikir tentang anak mbarep ini. Jauh lebih penting saat itu adalah memberikan dukungan padanya untuk berani menghadapi sidang itu. Mempertahankan pendapatnya jika benar dan tidak takut berdebat dengan dewan pembina kesiswaan, dengan tetap menjaga kesantunan sebagai seorang murid di hadapan guru yang notabene orangtua mereka di sekolah. Mendorongnya untuk menularkan semangat itu pada teman-teman seperjuangannya, dan memancingnya untuk mengajukan argumentasi-argumentasi yang berproyeksi jauh ke depan sebagai cikal bakal pembentukan sebuah pribadi dan manusia yang utuh. Manusia yang tidak mendewakan kepandaian dan kemampuan intelektualitas semata, tetapi juga harus memiliki kesadaran sosial untuk bertenggarasa dan bergaul baik dengan teman-temannya.

Saat dia sudah berangkat sekolah, barulah kucoba rasa dan pikirkan semuanya. Kusadari sesungguhnya, apa yang kupompakan dalam semangatnya tadi dan semua hal yang kukatakan sebagai bahan argumentasi, sudah dia ketahui. Anakku sudah mengerti bagaimana menjadi seorang pemimpin, seorang anggota kelompok dan seorang teman. Anakku sudah menilai kemanusiaan seseorang tidak dari satu sisi saja. Anakku sudah menerapkan pengetahuannya dalam memilah sebuah persoalan, mana yang harus diselesaikan sendiri dan mana yang masih membutuhkan bantuan orangtua.

Lalu aku ingat, bagaimana kadangkala kegundahan datang menyembul ketika mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan ranking seperti yang selalu dipamerkan banyak orangtua. Angka akademisnya sangat biasa. Dan sekarang satu hal lagi diantara banyak hal dia berikan padaku, dia tunjukkan bahwa dia mulai tahu bagaimana harus menjalani hidup di tingkat awal. Dia tahu harus bagaimana menjadi seorang MANUSIA.

Nak, kamu pasti juga mengerti bagaimana seorang ibu terhadap anaknya………


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.