Dia panggil aku : “Gombal”

14 03 2011

Gombaaaallllllllll…………….”

Dia berteriak tidak lantang, tapi cukup terdengar. Satu tangannya menggenggam tas kantor dan yang satunya lagi menutup pintu lorong. Ya, dia selalu masuk dari pintu lorong dan bukannya pintu depan. Aku lupa kenapa, mungkin hanya karena pintu itu yang selalu tak terkunci dan tak perlu menunggu ada yang membukakan pintu.

 

Panggilan itu, “Gombal”, ditujukan buatku. Aku tidak pernah protes, seingatku. Bahkan juga tidak pernah bertanya alasannya memanggilku dengan nama itu. Yang kuingat, setelah itu aku berlari ke lorong rumah Imam Bonjol itu dan kemudian mendarat dalam gendongannya…..Bapakku. Tas kantor sudah berpindah ke tangan ibu. Umurku masih 4-5 tahun mungkin. Karena setelahnya, tak ada lagi ritual itu karena berat badanku bertambah seiring usia. Tapi nama panggilannya untukku, justru mulai melegenda di komunitas menari-ku. Ibu yang membawa dan mempopulerkannya disana. Hingga sekarang, teman-temanku dari kalangan penari masih selalu memanggilku begitu.

 

Bapak sendiri sudah berhenti memanggilku Gombal. Tebakanku, dia berhenti memanggilku begitu karena aku makin dewasa dan sudah tidak lucu lagi di hadapannya. Dia memang bijaksana. Dalam pikirannya, aku mungkin membutuhkan nama panggilan yang sebenarnya agar tidak malu dihadapan orang lain. Dia menghormatiku sebagai pribadi yang mulai dewasa meski aku tidak pernah memintanya memanggil dengan cara berbeda dan tidak juga keberatan.

 

Sekarang, buatku panggilan itu lebih terasa monumental dibandingkan sebelumnya. Dia- Bapakku-yang sudah mencoretkan sejarah nama panggilanku di komunitas tari, sudah pergi. Pergi memenuhi takdirNya. Dan Kamis, 10 maret 2011 ( Jumat Pon dalam hitungan Jawa, tepat hari kelahirannya ) adalah hari terakhirnya di dekatku. Setelah kuselesaikan bacaan Yassin untuknya sambil menggenggam tangannya yang bengkak, aku bisikkan La illahaillallah. Airmatanya menitik dan kuusap.  Meski dia tahu bahwa aku tahu itu saatnya, dia menunggu aku pergi menemui dokter dan menelepon kakak-kakakku hingga tidak kusaksikan lepasnya nafas terakhirnya. Dia pergi dengan tenang dan sangat perlahan………..

 

Pak, mungkin sudah suratan pula…..Gombal ini, anak bungsumu, yang ada disampingmu di saat-saat terakhir…………..dan itu adalah momen yang paling berharga buat Gombal……………….


Tindakan

Information

5 tanggapan

15 03 2011
Iko

Innalillahi wa innaillahi rojiun.
Turut berduka cita yaa mbak.

Iko mengerti gimana perasaan mbak Endang saat ini, tetapi mbak Endang adalah perempuan kuat…. Mbak Endang bisa melalui ini semua dengan baik.

Bapak sudah berada di tempat yang terbaik, mbak.
Percayalah :)

Kenangan akan bapak selalu terpatri di hati mbak Endang dan keluarga.

3 04 2011
ciput

Turut berbelangsungkawa bu, semoga bapaknya ibu, mendapat tempat yang mulia disisiNya, amin.

10 05 2011
tas etnik

turut berduka cita atas kepulangan ayahnya ke sisi-Nya. semoga beliau diterima disisi_nya dan mendapat tempat yang mulia disisi-Nya. Amin…..

28 05 2011
ario saja

turut ber belasungkawa

28 10 2011
Intan Bayduri

bacanya mbrebes mili mbak :( … kangen bapak ku juga… :(

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.