Anak Emak…….

24 04 2008

” Mas, minggir…aku yang disitu, deket ibu….maaaasssss…”
” Apa sih, disitu kan juga bisa…….aku duluan yang disini…”
” Nggak mau…..aku mau deket ibu….nggak bisa tidur kalo nggak deket ibu !”

BLESSSS………..NYEESSSSS……*suara nancep dan adem di dada, dan bikin makin males lama-lama depan komputer….*

( aaaaah…aku harus bikin bulletin…mestinya nulis……”adheeek….main sini yuk ama ibu”….)





Istirahat Me-nyastra Demi Cinta

24 02 2008

Bukan…..aku bukan sedang tak berkelana alam pikir dan khayalku. Karena rasanya memang tak mungkin berhenti untuk mengkhayalkan barisan kalimat yang entah berarti entah tidak itu. Meski untuk kemudian menuliskan hasil khayalan itu persoalannya sudah sampai pada pilihan sreg atau tidak sreg, pantas atau tidak pantas, berharga atau tidak. Tapi hari ini, ibaratnya yang aku lakukan hanyalah meregangkan badan sesaat.

Aku ingin bicara tentang satu ungkapan, ” gila ya lo mpok……..kalau sudah cinta itu bisa sampai segitunya ! ” Kata segitunya, bolehlah aku sebutkan bahwasanya itu menyangkut pemikiran tentang rasa yang sangat, setia, penuh darah dan airmata dan dalam mataku bisa seolah mendatangkan hujan gerimis hingga deras yang kuciptakan sendiri. Dan pagi ini, khayalku berkelana ke daerah itu……..daerah dengan cinta yang besar tapi absurd karena tak ada haru selain hanya tawa.

Aku bicara tentang cinta pada sosok berpribadi tenang. Diam, tidak petakilan. Bukan tak ramah, tapi hanya tak begitu mudah mengucap ‘hello, apa kabar‘. Pemikirannya dalam. Tidak berotot besar ala terminator, meski siap saja terima tantangan. Sigap dan mengerti apa yang terjadi di kolong mobil, mengganti genteng bocor, mendalami lika liku kabel, tapi bukan tukang bangunan. Dan rapi bersih tanpa harus keluar masuk salon sekedar MANICURE !!

Khayalku kini berada di ambang merah, panas. Butuh gagang sapu untuk menenangkan kepala yang muncul menggoda hingga aku menjadi merah. Bukan, bukan marah. Masih beberapa level di bawah itu. Hanya tak mampu menerima bayangan tentang lelaki sederhana matang dan sangat lelaki harus menghabiskan beberapa jam dari waktunya hanya untuk membersihkan kuku. Karena yang ada bukanlah wajah yang kucinta tapi si madam.

Tapi tak mengapa………..karena yang mengatakan demikian mungkin memerlukan terapi demi memperbaiki segala material tubuhnya yang memang tak pernah akan mendapat health award. Dan meski dia juga menampilkan wajah bulat merah, mungkin dia masih lega karena toh pernah menghasilkan keturunan aneh, sehingga bisa alpa membelaku.

Matahari, tak mengapa hari ini aku menyapamu dengan cara yang tak biasa. Karena aku ingin melakukan sesuatu demi cintaku. Meski aku harus beristirahat sejenak untuk bisa berkata-kata dalam bahasa yang berbeda.





Catat Dalam Hati

27 09 2007
Wanita itu tak duduk sendiri. Mestinya dia tidak merasakan kesendirian. Tapi memang hati manusia tak mudah dikendalikan. Bahkan keberadaannya juga tak selalu bersama tubuhnya. Terbang menikmati angin dimana ia ingin berada. Terbang kemana ia suka.

Matanya lurus pada apa yang dihadapinya. Tak berpusat, tapi setengah mati ia pusatkan. Tak ingin terganggu, tak ingin dicampuri urusannya. Bagai cicak di dinding siap menyantap mangsa mendekat, matanya bergerak lincah mencari pengganggu yang ingin memasuki dunianya. Tapi ia bukan yang berkuasa. Tak mungkin dirubahnya diri menjadi laksana. Segala aturan resmi harus dia turuti.

Tak ada pikiran yang bisa dia pusatkan pada tugasnya. Dia hanya ingin menghibur dua teman. Yang katanya sedang menangis berdua. Tapi mereka biasa bicara bertiga. Dan dia jauh disini. Hatinya berdegup kencang. Semenit dua, lima, hingga hitungan menit ke sepuluh. Seluruh nadinya mencoba segala upaya. Segala perhatian yang dipunya dicurahkan. Semua akhirnya hancur karena mereka tak sungguh menderita. Hanya sebuah rasa ingin. Hanya karena sebuah berita yang tertiup jauh.

Tapi wanita itu tak merasakan hancurnya. Dia hidup, bahkan sangat hidup. Dan hidupnya menit-menit itu ingin mengenyahkan semua yang di sekitarnya. Karena ada yang tak tertahankan. Begitu hebat terasa akan meledakkan dada. Dan bermuara pada mulut kecilnya.

Tingkahnya menjadi mencurigakan. Menimbulkan tanya. Menimbulkan amarah pada yang berkuasa disana. Mulutnya tak henti menyuarakan ledakan tertahan. Karena dia begitu lemah untuk mampu menyimpan semua. Tangannya harus membantu sang mulut. Mendekap, melindungi dan sekuatnya menjaga agar ledakan itu tak semakin menguat. Semua ini karena sang teman. Dan salahnya terlalu cepat menanggapi berita. Terlalu mudah jantungnya berdegup.

Kriiiing……..ah, mengapa pula telepon itu harus memperjelas semuanya. Di ujung sana dia tahu pasti, temannya juga meledak bersama dia. Tapi lebih bebas darinya. Dan membuat diri sang teman itu sendiri basah airmata. Mungkin bisa menjalar padanya. Tak sekedar airmata, mungkin juga air seni. Dia amat sangat menyesal harus begitu. Pertama kali dalam hidupnya, dia menyesali berbicara dengan sang teman. Membuat dia begitu ingin, lebih ingin terbang. Agar yang berkuasa di sekitarnya tak memberinya tindakan yang lebih disesalinya. Dan dia cata dalam hati semuanya……catat dalam hati…..

Hallo Tata……jangan terus kau sesali dirimu…….PRmu kuganti dengan ini saja ya?





Kok Dia Bisa Gitu Ya?

10 09 2007
Jelas-jelas aku tidak akan pernah berani berkata pada dunia, bahwa kualitasku sebagai manusia adalah baik. Apalagi yang tergolong jempolan dan menjadi salah satu orang-orang langka dan terpilih. Menjadi orang yang cukup mengerti batas kapan orang lain akan menjadi sakit hati karena lidahku saja, itu sudah harta bagiku. Padahal, siapa yang tahu jika ternyata aliran ungkapan yang mengalir dari mulut ini bisa mengiris perasaan sesamaku. Tapi ternyata, aku masih bisa selalu dibuat terperangah oleh orang-orang yang justru memiliki niat kuat untuk mengeluarkan kata sambil menebarkan sembilu-sembilu tajam. Dan dia merasa hebat karenanya. Kok bisa ya?

Belum lagi siaran-siaran warta berita made-in orang tipe ini yang menuntut kita menjadi pendengar yang sangat cerdas. Cerdas memutuskan untuk mendengar atau tidak. Cerdas untuk berani mempercayai isi berita atau tidak. Cerdas untuk menolak dijerumuskan dalam sebuah konflik karena warta berita itu atau tidak. Dan hal-hal yang semacam itu. Kecerdasan-kecerdasan ini menuntut stamina kita dalam kondisi yang juga prima. Bisa terbayangkan, jika kita sedang dalam keadaan lelah, pusing oleh suatu masalah, dan emosi yang sedang tidak baik. Pasti kecerdasan itu akan dirampas oleh tangan-tangan setan yang sangat-sangat usil.

Aku bukan orang yang selalu ingin bermanis-manis pada orang lain jika hasilnya justru tidak bisa manis. Tapi memberi kenyamanan pada orang lain agar bisa duduk tenang, rasanya sebuah keharusan. Kecuali sangat terpaksa, itupun tetap dalam koridor untuk tidak keterlaluan. Tapi ternyata ada juga yang memilih untuk tidak memberi rasa tenang dan nyaman pada sesamanya, entah berwajah manis ataupun tidak. Jika boleh mengklasifikasikan jenis manusia, aku sendiri tidak tahu harus mengklasifikasikan jenis ini pada kelompok yang mana. Lebih lagi karena ini menjadi semacam hobi baginya, mengapa ada hobi yang begitu aneh seperti ini. Bagaimana cara dia mengisi formulir yang harus mencantumkan data diri? Haruskah tertulis :
Hobi, menyakiti orang lain. Opo tumon ?

Banyak sekali di sekitar kusaksikan orang-orang yang tidak beruntung untuk bisa disebut pintar. Mungkin karena memang dia tak memiliki kesempatan bersahabat dengan sekolah. Biasanya mereka sangat bersedih untuk ini. Sebagian lain yang agak lebih pandai secara emosional, maka sedikitnya mereka akan beelajar bagaimana hidup bermasyarakat dengan tata aturan yang pantas. Hingga akhirnya kembali pada naluri hidup berkelompok, orang lain akan mampu menerimanya sebagai teman tanpa ingat jenjang belajarnya. Lalu, apa yang terjadi pada jenis orang yang aneh? Kebodohan ini justru bisa menjadi sebuah senjata. Digunakan untuk melawan orang lain dan sekaligus menguji sudut pandang orang agar menerima dia sebagai yang teraniaya. Setelah itu, dia bisa bebas menganiaya hati orang. Kok bisa? Bagaimana mungkin menjadi bodoh lalu bangga, lalu meneror orang, lalu meletakkan kesalahan pada orang lain?

Aku kehilangan kata untuk menyebut jenis ini. Tapi temanku menyebutnya tarantula, entah darimana ide itu muncul. Kusetujui saja tanpa pikir panjang. Menerima jenis ini dalam kehidupan, adalah hal yang harus dihadapi sebagai warna saja. Menentukan sikap seperti yang dilakukan temanku itu, bisa jadi pilihan. Pergi, adalah pilihan terakhir. Tapi jika orang ini ada dalam garis yang tidak bisa kita tinggal pergi, pilihannya mungkin hanya bengong atau banyak berzikir. Kenapa zikir? Karena meski bukan kaum langka dan terpilih, aku juga tidak mau tiba-tiba sakit jantung karenanya atau malah menjadi orang jenis ini. Cukup dengan mengeluh “kok dia bisa gitu ya?”. Cukup dengan bengong saja mungkin, Fit. Asal dia jangan membangunkan raksasaku saja……….karena aku bisa sama sekali tidak cerdas !

*tertuang karena sebuah obrolan cukup panjang dan membuat kami heran sendiri, mungkin berguna untuk periksa diri menjelang puasa*





¡¡¡˙˙˙llıʇs˙˙˙˙uıɐd ǝɥʇ ǝsɐǝ

1 09 2007

˙˙˙ıuɐɯǝuǝɯ ɐıp ɐʎuɹıɥʞɐ

¡dn ʇnɥs˙˙˙˙˙˙˙˙˙”uɐʞʇodǝɹǝɯ nɐɯ ʞɐƃ ” ƃuɐlıq ıuɐɹǝq ıɐdɯɐs ‘ıuı ʇıʞɐs nɯɐʞ ɐdɐ nɐʇ ¿ɐƃuılǝʇ ıp ɐʎuɐɹɐns uɐƃuǝp uodǝlǝʇɹǝq ıdɯıɯ ¿snɹǝuǝɯ snɹǝʇ pƃn ƃuɐnɹ uɐƃǝpɐ uɐƃuɐʎɐq uɐƃuǝp ıɹɐɥ dɐıʇ ıʇɐʍǝlǝɯ ɥɐpnɯ ɐɹıʞ nɯɐʞ ¡ ʞɐqɯ˙˙˙˙˙˙˙@***^%$#@

˙˙˙˙ıɹıpuǝs uoʇuou ‘ıɹıpuǝs uɐʞɐɯ˙˙˙˙ıɹıpuǝs ɐɹɐɔ ıɹɐɔ ɐsıq nʞɐ

˙˙˙˙˙˙˙ʇʇʇʇʇʇnnnnnʇ˙˙˙˙˙ʞılʞ

˙˙˙˙˙˙˙ɐpɐ ɥısɐɯ ‘ɐʎuʞɐʎɐʞ ɐsıq ʞɐƃ -
˙˙˙ʞnʎ ɐɾɐ ıuısǝʞ ƃuɐıs uɐʞɐɯ˙˙˙˙ıpuɐɯ nɐɯ ‘ɯʎƃ ıʇuɐƃ ƃuɐnɹ *
¿ɐuɐɯıp ıuı˙˙˙uıɐɯ
ɐsıq ɯnlǝq ɥısɐɯ ıdɐʇ˙˙˙ɐloq uɐƃuɐdɐl ıp ɥısɐɯ -
¿ʞɐd ‘ɐuɐɯıp *

Note : terinspirasi seorang teman lama dan teman baru, kali ini memang aku berniat untuk out of the box…….