Jelas-jelas aku tidak akan pernah berani berkata pada dunia, bahwa kualitasku sebagai manusia adalah baik. Apalagi yang tergolong jempolan dan menjadi salah satu orang-orang langka dan terpilih. Menjadi orang yang cukup mengerti batas kapan orang lain akan menjadi sakit hati karena lidahku saja, itu sudah harta bagiku. Padahal, siapa yang tahu jika ternyata aliran ungkapan yang mengalir dari mulut ini bisa mengiris perasaan sesamaku. Tapi ternyata, aku masih bisa selalu dibuat terperangah oleh orang-orang yang justru memiliki niat kuat untuk mengeluarkan kata sambil menebarkan sembilu-sembilu tajam. Dan dia merasa hebat karenanya. Kok bisa ya?
Belum lagi siaran-siaran warta berita made-in orang tipe ini yang menuntut kita menjadi pendengar yang sangat cerdas. Cerdas memutuskan untuk mendengar atau tidak. Cerdas untuk berani mempercayai isi berita atau tidak. Cerdas untuk menolak dijerumuskan dalam sebuah konflik karena warta berita itu atau tidak. Dan hal-hal yang semacam itu. Kecerdasan-kecerdasan ini menuntut stamina kita dalam kondisi yang juga prima. Bisa terbayangkan, jika kita sedang dalam keadaan lelah, pusing oleh suatu masalah, dan emosi yang sedang tidak baik. Pasti kecerdasan itu akan dirampas oleh tangan-tangan setan yang sangat-sangat usil.
Aku bukan orang yang selalu ingin bermanis-manis pada orang lain jika hasilnya justru tidak bisa manis. Tapi memberi kenyamanan pada orang lain agar bisa duduk tenang, rasanya sebuah keharusan. Kecuali sangat terpaksa, itupun tetap dalam koridor untuk tidak keterlaluan. Tapi ternyata ada juga yang memilih untuk tidak memberi rasa tenang dan nyaman pada sesamanya, entah berwajah manis ataupun tidak. Jika boleh mengklasifikasikan jenis manusia, aku sendiri tidak tahu harus mengklasifikasikan jenis ini pada kelompok yang mana. Lebih lagi karena ini menjadi semacam hobi baginya, mengapa ada hobi yang begitu aneh seperti ini. Bagaimana cara dia mengisi formulir yang harus mencantumkan data diri? Haruskah tertulis :
Hobi, menyakiti orang lain. Opo tumon ?
Banyak sekali di sekitar kusaksikan orang-orang yang tidak beruntung untuk bisa disebut pintar. Mungkin karena memang dia tak memiliki kesempatan bersahabat dengan sekolah. Biasanya mereka sangat bersedih untuk ini. Sebagian lain yang agak lebih pandai secara emosional, maka sedikitnya mereka akan beelajar bagaimana hidup bermasyarakat dengan tata aturan yang pantas. Hingga akhirnya kembali pada naluri hidup berkelompok, orang lain akan mampu menerimanya sebagai teman tanpa ingat jenjang belajarnya. Lalu, apa yang terjadi pada jenis orang yang aneh? Kebodohan ini justru bisa menjadi sebuah senjata. Digunakan untuk melawan orang lain dan sekaligus menguji sudut pandang orang agar menerima dia sebagai yang teraniaya. Setelah itu, dia bisa bebas menganiaya hati orang. Kok bisa? Bagaimana mungkin menjadi bodoh lalu bangga, lalu meneror orang, lalu meletakkan kesalahan pada orang lain?
Aku kehilangan kata untuk menyebut jenis ini. Tapi temanku menyebutnya tarantula, entah darimana ide itu muncul. Kusetujui saja tanpa pikir panjang. Menerima jenis ini dalam kehidupan, adalah hal yang harus dihadapi sebagai warna saja. Menentukan sikap seperti yang dilakukan temanku itu, bisa jadi pilihan. Pergi, adalah pilihan terakhir. Tapi jika orang ini ada dalam garis yang tidak bisa kita tinggal pergi, pilihannya mungkin hanya bengong atau banyak berzikir. Kenapa zikir? Karena meski bukan kaum langka dan terpilih, aku juga tidak mau tiba-tiba sakit jantung karenanya atau malah menjadi orang jenis ini. Cukup dengan mengeluh “kok dia bisa gitu ya?”. Cukup dengan bengong saja mungkin, Fit. Asal dia jangan membangunkan raksasaku saja……….karena aku bisa sama sekali tidak cerdas !
*tertuang karena sebuah obrolan cukup panjang dan membuat kami heran sendiri, mungkin berguna untuk periksa diri menjelang puasa*
Komentar Terakhir