Harus aku…ah, tahun baru mengganti sebutan mungkin lebih enak…mmm, harus saya akui bahwa saya memang sangat mungkin digolongkan pada jenis manusia yang tidak suka untuk sering bersosialisasi. Ingatan saya menunjuk pada keengganan untuk melakukan kopi darat kegemaran para blogger. Belum lagi pada kemalasan saya untuk bicara. Ah ya….di satu sisi gen pendiam ini sangat jelas menurun dari bapak. Saya hanya mampu bicara banyak pada orang-orang yang sudah sangat akrab. Maka, telpon pun tentu tidak terlalu akrab bagi saya.
Tahun Baru 2009 sudah datang satu minggu. Anginnya lebih sering dingin, dan ini membuat saya lebih senang lagi bergelung di rumah dengan rumah keong ini. Tetangga, biarlah bertukar senyum saja atau sebaris kalimat di kala saya sedang ingin duduk di teras atau belanja bersama. Jangan pernah membayangkan saya duduk di teras tetangga saya berbagi matahari sore jika tidak sedang waktu arisan- yang bahkan sering saya lupakan tanpa pernah berniat melupakannya. Terjadi begitu saja, hilang dari ingatan. Dalam persoalan satu ini, mungkin ibu saya andil dalam kesalahan karena ajaran beliau yang mengatakan, ” Ojo sok nonggo “.
Hampir saya percayai bahwa saya tidak akan pernah melakukan kegiatan nenangga, hingga tahun baru ini datang. Tahun baru, tetangga baru, tiga rumah di samping kiri saya. Entah sudah berapa kali saya bertandang kesana, duduk di teras dan ruang tamu bahkan dapurnya yang hanya selebar rentangan tangan. Tidak setiap hari memang, tapi rasanya rumah itu akan terbuka dua puluh empat jam sehari bagi saya. Dan anak-anak saya.
Kadang, kami berbagi roti atau singkong. Atau….memasak bersama dengan posisi saya sebagai pencicip dan pencuci piring. Lalu masakan itu kami bagi secara tidak adil. Tetangga baru itu terlalu pengalah dengan alasan jarang makan hingga hanya membutuhkan satu mangkok sayur dan sepiring kecil lauk saja untuk dibawa pulang. Tentunya dengan posisi yang sangat tidak adil begitu, saya akan lebih senang membayari setiap bahan makanan yang kami beli di tukang sayur. Semuanya ini, tidak pernah terjadi bahkan bisa dimasukkan kategori ‘haram’ bagi Pak Uban untuk berbagi antar tetangga. Maksud saya adalah, kami boleh membagi makanan pada tetangga tetapi haram untuk sekedar meminta daun jeruk apalagi semangkok sayur. Artinya, tentu ini sebuah perkecualian amat besar.
Perubahan lain, adalah pagi hari . Manakala saya ingin bermimpi lagi sepeninggal ketiga kekasih hati ke tempat rutinitas, maka kebebasan itu tak saya peroleh lagi. Karena di saat angan sudah hampir menembus kabut yang paling melenakan, tiba-tiba pagar rumah dibuka begitu saja. Dan lampu-lampu di pendopo rumah dia matikan tanpa merasa perlu menanyakan alasan mengapa saya belum mematikannya saat itu. Satu dua hari pertama, saya akan begitu lintang-pukang keluar dan berbasa basi serta membuatkan eyang-eyang tetangga ini kopi. Hari-hari berikutnya, tentu menjadi terbiasa. Terbiasa untuk meneruskan mimpi pemalas saya atau mematikan lampu-lampu pendopo lebih awal daripada jadwal waktu yang saya tetapkan sebelumnya. Harus salah satu dari dua hal itu, sebab ini akan berlangsung bertahun-tahun seiring begitu pedulinya tetangga baru itu pada kehidupan saya.
Hari ini, saya bahkan rela menodai kelembutan cuaca sejuk sekitar rumah dengan kemasaman kata-kata saya demi terpasangnya sambungan telepon di rumah tetangga baru itu. Maklumlah, berhubungan dengan manusia-manusia yang tak pernah ingin berkoordinasi hulu dan hilir demi kepuasan pelanggan memang cenderung membuat kita ingin sekali menaikkan nada suara. Setelah semuanya selesai saya tidak merasa perlu melaporkannya ke rumah itu, menunggu hingga semuanya benar-benar berjalan baik dan siap berfungsi normal. Saya hanya ingin mereka, eyang-eyang berdua itu, tidak perlu repot berpikir dan hanya menikmati indahnya lingkungan berdekatan dengan saya dan Ari dan Rayi serta Pak Uban. Anak, cucu dan menantu mereka.
Oh ya….jika ada yang bertanya lagi apakah dunia menjadi lebih nikmat untuk ditinggali atau sebaliknya dengan suasana bertetangga seperti saya….sebenarnya semua orang bisa membayangkan jawabannya. Pertanyaan itu, mungkin hanya ingin mengulik kepribadian saya lebih dalam saja.












Komentar Terakhir