Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, hanya sebuah hari yang baru dan akan berganti tepat dini hari nanti. Hingga pesan singkat seluler masuk,” Selamat Hari Ibu bagi semua ibu di Indonesia”. Dari seorang perempuan, seorang ibu.
Saya tertegun. Membalas pesan singkat,” Selamat Hari Ibu juga” …tanpa rasa. Tak ada bungah apalagi bangga. Tak ingin apa-apa. Apalagi ingin diistimewakan sesaat. Di sudut benak tercetus tanya,” apakah memang istimewa?”
Surat elektronik dengan bahasa bunga berbunga, puitis, ungkapan selamat. Dari para adam. Satu teman perempuan dan ibu menjawab,” Waaah….hari ini betul merasa tersanjung…”. Saya, tertunduk malu. Bertanya-tanya sendiri tentang bagian mana yang harus disanjung. Tersipu mengingat apa yang sudah terasakan di setiap menit. Beragam jenis cinta dari lelaki yang sama, dan terlalu banyak lagi yang tak mungkin tersebutkan agar tak terkesan pamer. Makin malu.
Lelaki ini, yang selalu memberi……..dia memberi lebih banyak. Saya, tak ada yang istimewa, tetap begitu. Keseharian, keharusan, bertahun namun masih juga tak pernah sempurna. Rasanya tak menandingi apa yang lelaki ini berikan. Maka begitulah mengapa saya malu, amat malu.
Saya perempuan, dan saya ibu. Maka begitulah nafas saya akan terhembuskan seperti setapak yang tergariskan. Tergariskan maka tak ada alasan untuk mengelak . Dan itulah mengapa tak istimewa. Ada atau tidak hari ini, begitulah kewajarannya. Dan memberi seharusnya membandingkan dengan dia yang memberi lebih banyak. Bukan menerima lebih besar. Dan semakin memikirkannya, maka semakin kuranglah rasanya bagian saya dalam memberi. Itulah mengapa malu.
Saya, cukup saja memahami dari sorot mata yang begitu mencintai……….



Komentar Terakhir