Ayat Kursi
27 05 2008Dengarkan saja………….atau ikuti….
Komentar : 22 Komentar »
Kategori : menunduk
Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin terpejam. Ada selaksa rasa lelah menggantungi kelopak mata dan sisa tetes air kehilangan. Merah muda Kamboja tak mampuĀ mengangkat duka yang tertinggal di sudut hati ini. Dan meski tidur beberapa lama, tak mungkin mimpi buruk itu berganti menjadi kembali indah. Karena yang pergi akan tetap pergi.
Sudut hatiku terasa kosong. Semakin terasakan ada bagiannya yang tercerabut karena sebuah Kehendak yang Maha Mutlak. Aku menghitung jumlah kumpulan kepala yang bisa kusapa kutatap kucium, tak genap lagi. Belum satu tahun dan airmata belum mengering, kini harus tertumpah lagi. Ketentuan sudah menghampiri dan tak satupun bisa mengatakan kata tidak.
Matahari yang kutatap kini, mungkinkah menyampaikan pesanku untuk bertanya apa kiranya yang paling Dia inginkan dariku. Aku tak ingin menggugat karena aku menerima. Hanya aku masih terus mencari pada siapa segala pesanNya disampaikan melalui bunga-bunga yang mulai gugur. Untukku, mungkin untukku, begitu kata hati ini. Aku tak terbebani dengan segala yang mungkin memang ditinggalkan untuk kusentuh. Tapi tak mungkin kubantah kalau aku menangisi warisan yang dia tinggalkan untukku, dan pasti menangisi kepergiannya.
Kalau kutundukkan kepala ini mengingat detik-detik akhir yang ada, napas panjangku pasti tertarik tanpa sadar. Memang pesan itu untukku karena aku yang merasakan ketika langkah kaki ini begitu saja melangkah kesana. Semua tergerakkan hanya karena rasa cintaku pada dia. Dan tatapan matanya yang terakhir merintih padaku, tak sanggup kubalas dengan sempurna. Dan kini akan terbawa dalam benakku hingga akhir nanti.
Aku masih ingin berbincang cengkerama dekat dengannya, sebelum waktunya berputar disini usai. Entah konyol, entah tak waras……..tapi aku ingin berbincang lagi untuk yang terakhir. Setelah itu, selamat jalan adalah satu-satunya kata yang kupunya untuknya dan tak akan kuganggu perjalanannya. Dan taburan bunga akan selalu ada di atas tanah yang masih merah basah ini……..
Kamboja merah muda, sampaikan salam kasihku baginya bersama embun yang menyertaimu pengganti airmataku……..
Pertanyaan yang kau ajukan kemudian, membuatku paham akhirnya. Bahwa kau memikirkanku, dengan segala perubahan pada raut wajahku di minggu-mingu terakhir ini. Dengan segala desahku di malam-malam sepi yang tak kusangka kau dengarkan. Kau, memperhatikanku.
Kau tahu…….aku gelisah dengan bau yang meruap diudara kini. Penuh gas yang merusak dada dan mendatangkan kebencian yang tak pernah berujung. Aku gundah ketika semua makhluk seperti berlomba mengeluarkannya pada udara bebas, tanpa ingin menguranginya sedikit pun. Tapi pada saat yang sama, mereka yang mengeluarkan udara kebencian itu mencerca udara benci yang memancar dari cerobong lain. Bagaimana dengan aku ?
Aku tak tahu. Hanya saja memang ingatanku sedang mengenang lagi apa yang dulu dibisikkan kakek. Nduk, tidak pernah ada orang yang merasa bahwa dia salah…….yang dia lihat dalam kacamatanya hanyalah kebenarannya sendiri.
Kau,
Kau tentu tahu bahwa apa yang kita lihat salah, boleh diucapkan. Tapi mengapa tak kau jelaskan, seberapa banyak kita boleh berucap. Kenapa tak kau ingatkan aku, ketika aku mengatakan tentang kesalahan mereka bukan berarti aku benar……
Ah, kau sekarang hanya tersenyum. Apakah aku sudah mengerti makna yang ingin kau ungkapkan?
Kusisir rambut panjangnya dengan kasih, kuberi jepit pemanis. Kupupuri wajah lembutnya tipis-tipis agar tak kusam. Kuajak dia berkaca dan tunjukkan betapa cantik dia. Bagiku.
Kupangku dia di bangku tua muka rumah sambil bercerita. Konon nduk sayangku, seorang perempuan akan selalu diperhatikan kecantikannya. Rambut, kulit, alis, tangan, perut hingga betis dan kuku jari kaki. Sedikit saja dia lalai membelai tubuh dan wajahnya, setiap mata hanya melihatnya sebagai salah satu benda pengisi bumi.
Dan segala tentang kecantikan perempuan, kuisikan dalam kepalanya. Kuceritakan padamu nduk, bahwa perempuan adalah pelabuhan seorang lelaki. Di pelukanmu bisa kau temui segala keluhnya, penatnya, kasih dan cintanya, juga bukan tak mungkin bisa-bisa yang mematikan otak segarmu. Rasakan dengan nurani apa yang kau terima dari lelakimu.
Itu sudah berpuluh tahun berlalu. Anak perempuan tumbuh makin cantik akhirnya.
Aku melihat terus apa yang dia lalui. Tidak secara kasat mata setiap saat, kebanyakan hanya insting. Lalu dia dapatkan lelakinya. Tampan, wibawa, bersedia membahagiakan dan hormat padaku. Tapi dia sedang dimiliki perempuan lain.
Apakah kau tahu rasa hatiku?
Anak perempuanku, dia sudah dewasa. Pikirannya tak bisa selalu kumasuki semudah dulu dalam pangkuan. Dia punya arti cinta sendiri. Dia punya arti bahagianya sendiri.
Kulemparkan ingatan pada masa-masa itu. Pernahkah aku bicara tentang sebuah pagar ayu padanya? Pernahkah aku bicara tentang lelaki mana yang boleh menyentuh keperempuanannya? Pernahkah aku bicara tentang hati perempuan lain?
Tak bisa kutarik waktu untuk memastikan aku tidak melewatkan apapun yang perlu kuceritakan. Aku harus memilih dengan hati tuaku, apa yang boleh kulakukan kini padanya. Ketika dia sudah mampu menentukan. Ketika dia menentukan tanpa ingin aku ada bersamanya.
Anak perempuanku cantik sekali. Tapi semua mata tak kagum padanya. Tapi hatinya didera banyak cacian orang. Tapi dia seolah tak berharga untuk dipandang dengan penuh kedua mata. Tapi dia tak menjadi intan berkilau, hanya dipandang sebagai kotoran.
Apa kau tahu rasa hatiku?
Beritahu aku, dimana aku harus berdiri sekarang.
Beritahu aku, apa jawaban terbaik yang harus kuberi untuk semua pertanyaan yang datang.
Beritahu aku, seberapa tinggi aku boleh mengangkat wajahku sekarang.
Kamu, …..beritahu aku, apa yang akan kau lakukan jika kamu berdiri di tempatku.
Apakah kamu tahu rasa hatiku, seorang ibu………
Ada sekantong lagi di sudut pendingin ini. Permen-permen coklat yang masih cukup banyak isinya. Jika gegabah yang terjadi dan menyamakan saja nasib kantong itu dengan yang dua tadi, pasti ada yang akan menangis. Menangisi sang permen, bukan kantongnya. Ah……..yakin aku, ….pasti tentang permennya. Kantongnya…….pasti bukan apa-apa. Gantikan saja dengan kotak penyimpan, tak ada masalah yang muncul.
Tiba-tiba aku terbatuk. Teringat sebuah kantong lain. Elastis tapi rapuh juga, tak semua punya kemewahan mendapatkannya. Apakah bisa sama dengan semua yang terbuang tadi……….mestinya tidak. Satu ini sangat istimewa. Dia ajaib. Intan berlian tak sanggup menakar harganya, juga untuk apa yang sanggup ditampung di dalamnya. Sebuah kehidupan.
Mungkin duduk lebih baik. Guncangan rasanya kembali melanda. Bungah. Melonjak. Dan melemparku lagi dalam kebisuan yang memang tak bisa punya kata. Rasa bungah dan lonjakan girang untuk berlian-berlian yang mampu dihadirkan kantong milikku. Tapi kebisuan yang ada ketika perempuan yang sama sepertiku tak tahu untuk berkata. Dia ……melepas tak hendak. Dia kehilangan. Tak mungkin ada berlian di tangannya, di pangkunya, apalagi menyesap air surga darinya.
Aku dan semua perempuan. Kadang kilau nama kami hanya karena kantong kecil ini. Banyak cinta akan diberikan di kehidupan kami. Tapi ketika hitungan waktu berjalan makin tua dan tak sebuah pun berlian muncul dari kantong kecil kami ini, nama kami bisa jadi tak berkilau lagi. Cinta kami bisa pergi jika yang memberi terlalu meminta upah.
Di sudut kota ini, ada satu cerita dari banyak yang pernah tersiar. Perempuan yang belum dihampiri cinta, tapi sudah tak menggendong lagi sang kantong. Bukan dia yang mau. Yang dia tahu, kantong miliknya seolah diperlakukan sama dengan kantong roti, kantong cabai, kantong permen. Mungkin di tempat sampah entah dimana. Tak mungkin ada lagi berlian yang diciptakannya dengan nafas kasih dan bakal menyesap air surganya. Entah cinta, apa masih mau datang padanya tanpa meminta.
Memang cuma sebuah kantong. Lihat saja begitu. Tapi semua bisa ada karenanya. Cinta, kehidupan, harga diri, harga uang, rasa bangga, nama baik nama buruk, akar penyakit, ….terlalu banyak yang bisa ada. Tapi jika lalu koyak, harus ada airmata yang dihormati untuk melayangkannya entah kemana. Karena kantong ini berbeda. Karena kantong ini…………suci……..
Teringat cerita Aminah, manakala dia sebagai Aminah kencur pernah membisikkan,” aku ingin jam tangan manis bertali kulit”. Bisikan yang hanya terdengar hati dan Gustinya, tapi terwujud di pergelangannya dalam hitungan hari. Bukan main ! Matanya katanya, memandang ke atas tak bertepi dan merasa begitu dekat dengan Gustinya. Selalu ke atas, karena disanalah pikirnya Gustinya itu berada.
Dimensi waktu tahun-tahun kemudian, ia mulai mengenal cinta. Bukan produser, bukan sutradara, diciptakannya sebuah film mimpi dalam angan. Film tentang ia dan cintanya, menikah dan memulai langkah kecil, dalam satu rumah sangat kecil, sederhana, kosong tanpa perabot. Lampu rumah temaram karena kemampuan yang juga kecil untuk membeli listrik. Langkah awal, rangkakan mungkin, sebelum menjadi yang lebih besar. Perempuan didikan Jawa, didekatkan pada susahnya dunia nyata, film mimpinya tak mungkin dimulai dari Hollywood. Nyatanya, film itu terproduksi sungguhan katanya…….lagi ia tengadah, tapi tertunduk lagi. Mulai mengerti rupanya, Gustinya tak selalu ada di singgasana di atas entah.
Satu kali ia pernah mempersilakan satu kakaknya membawa satu perempuan pengganti permaisuri yang mangkat. Mulutnya jelas pengucapannya, “Silakan….bawa saja jika mau”. Terbuka sangat dengan keinginan kakak. Tatkala kemudian bertemu dengan sang perempuan, ia malah tak mampu tersenyum. Tak punya kata untuk menyapa, bahkan untuk menjelaskan kenapanya. Yang dia tahu, rasanya sirene dalam dadanya meraung sangat kencang memekakkan telinga. Untuk apa, bahaya apa, sungguh tak tahu. Sirene yang membuat dia terdiam dan menjadi terdakwa karena tak mampu membuka kata. Meski Aminah sudah mengerti tak pernah ada singgasana di Atas sana, tapi menengadah selalu lebih mudah. Ia cuma mau bertanya tentang kenapa. Jawabannya dicicil seperti kredit tahunan. Perempuan tadi itu memasok rasa sakit, membuat ayah ibunya selalu menghela nafas panjang, dan kakaknya tertoreh-toreh luka. Aminah cuma membatin, ooh……it works…..sirene hati.
Aku dengar Aminah itu berkata dia pelihara yang dia punya. Yang “it works” tadi. Katanya selalu dijaganya supaya tak berkarat. Dia nyalakan saat ingin tahu sudut mana nyaman untuk ditempati, atau kemana dia seharusnya tak melangkah. Masalahnya, sulit baginya untuk membagi makna raungan itu. Seringkali dia juga jadi habis kosa kata sehingga banyak yang gelengkan kepala untuk penjelasan yang tak jelas abjadnya. Ya sudah, dia memang begitu adanya.
Lalu kenapa dia jadi gelisah sekarang? Aku dipaksanya membantu berpikir. Membantu meraba juga dengan hati. Ah, hati lagi….Katanya, dia jarang bersurat pada Gustinya lagi, tapi ingin bertandang ke tanahNya. Entah kapan. Lalu kalau tak sering bersurat, “Apa aku masih intim dengan Gustiku, ya?” Ia yang sering tengadah mempertanyakan itu, apa yang harus aku jawab. Dalam teoriku, bukan aku yang bisa menjawab kegelisahan dia. Lalu bagaimana?
Pada akhirnya aku memang tak menjawab, cuma berkalimat,
” Aminah, ……aku cuma menawarkanmu tempat di sudut sepi rumahku ini. Untuk berlari, untuk menepi, merasakan angin yang membawa tiap kabar, dan memeriksa sirenemu itu apakah masih berfungsi dengan baik…….seperti yang aku lakukan malam ini..”

Satu hari, kami tersenyum dan tertawa
untuk satu pasangan anak manusia yang bersukacita
Satu hari berikutnya,
ketika satu senyum pergi untuk selamanya
dan tak mungkin kami temui lagi di dunia ini,
kami cuma bisa menangis,
tanpa berkata-kata
Aku tak menangis untuk milikku. Karena sebesar apapun dunia ini kugenggam, tak akan pernah abadi dan dibawa mati. Gustiku selalu punya cara untuk mengambilnya. Dan selalu kuingatkan diri tentang mantra ini. Namun aku tak pernah ingin dikhianati. Kesetiaan dan kejujuran selalu ingin lebih banyak menyentuh sisi terdalam. Semua tahu. Banyak yang ingin menggangguk, banyak juga yang kesadarannya memintanya untuk menolak entah kenapa. Dan jika khianat serta jujur itu dihujamkan ke dada, teriak kesakitan dan mata tajam kita tak mau lepas dari mereka yang menusukkannya.
Sebuah hati yang kuimpikan adalah bak cermin besar untukku. Dan sejuk bagai aliran mata air untuk memuaskan dahaga siapa pun. Yang kusesali kini, tak kunjung kudapatkan sepotong hati itu. Masih kurindu, masih kuperjuangkan. Karena kini aku belum lupa peristiwa lalu. Tentang jujur dan khianat. Dan hatiku masih lebih kotor dari itu kala aku merasa yakin dengan sesuatu yang aku tak tahu pasti. Masih ingin kutatap tajam matanya untuk menarik lidahnya mengaku. Masih ada bait-bait setan yang dilantunkan mulut ini. Dan aku duduk di sudut ini, mengakui kekalahan. Aku belum lulus……
Rumah tua itu makin cantik. Teduh dengan kehijauannya, meski kusapa pada malam kurang sinar. Tetap tidak terlalu rapi karena rapi memang bukan kebutuhan dia yang disana. Hangatnya masih, tapi gemerisik anginnya kadang masih menyisakan sembilu. Kenapa aku harus peduli dengan sayatan angin itu? Bukankah aku terbiasa menerima semua yang menyentuhku apa adanya. Aku tak tahu, selain alasan yang membuatku bicara semuanya melebihi batas yang harus ditiupkan. Mungkin karena tiupan angin dan bait-bait puisi itu lantas menyayatku pada titiknya yang mestinya tak boleh disentuh. Mungkin karena titik itu juga adalah kebanggaanku sebagai manusia yang perlu menjaga apa yang dihormati. Dan disana terpatri mantra, ” Jangan Kau Tak Hormat Pada Ibuku”. Maka sutra sehalus apapun akan mampu membuat Raksasa dalam diri ini bangkit .
Tapi rindu ini bukan tak ada. Pada segala yang bisa kulakukan di rumah itu. Pada alunan irama yang mendayu indah. Rindu yang tak ingin mewujud. Rindu yang datang dengan perih dalam darah ketika ketuk bilah kayu dan tembaga mengalun. Rindu yang tak ingin kusapa. Tak ingin kunyatakan. Tak ingin sungguh kuwujudkan. Karena aku disini. Ada disini. Dengan segala yang mampu kugenggam. Aku cukup bahagia. Dan memang bahagia disini. Puja puji yang kudengar di rumah tua itu hanya sebuah pengakuan yang terlambat. Dan tarikan untukku kembali kesana. Semua sudah cukup bagiku, tak perlu lebih.
Bagi seseorang dengan posisi sepertiku, salah satu kebahagiaan adalah ketika mata ini melihat permata-permata hatinya berkilau, kekasih-kekasihnya merah merekah di pipi. Tapi satu permata dan kekasihku baru saja terbaring kalah. Demam Berdarah ini banyak yang mengalami, seringkali bahkan hanya beberapa hari saja waktu untuk rebah. Tapi tetap bukan satu kondisi yang bagus untuk diterima. Pasti ada rasa gundah melihat Uban layu. Begitu berat beban dia sebagai lelaki hingga akhirnya harus tumbang. Maka tak mungkin bagiku saat itu untuk beranjak pergi.
Lalu kualitas kemanusiaanku harus lebih diuji. Manakala Uban harus kalah, dan aku masih memiliki tanggungjawab untuk andil menciptakan satu sisi yang bisa membahagiakan orang lain. Mana yang harus kupilih, ego kasihku pada permata hatiku ataukah kebahagiaan gadis yang ingin melangkahi hidup baru? Meresahkanku kala pilihan ini begitu sulit. Tapi manusia memang harus menunduk dan banyak bertanya pada PemilikNya. Karena dari Dia lah banyak ditemukan jawaban. Kudapatkan bantuan untuk menuntaskan tanggungjawabku pada sang calon pengantin. Dan aku masih bisa merawat Uban sepenuh waktu hingga kembali ke rumah hari ini .
Aku tahu, ini belum selesai. Baru satu batu kulalui. Masih menunggu ujian lain yang menuntutku untuk ikhlas. Masih ada halaman-halaman hariku yang mempertanyakan ketakwaan hati dan segala pasrah untuk dunia yang tak abadi. Siang tadi mataku bertumbuk dengan mata Uban. Kami tahu kami hanya perlu tersenyum untuk semua rasa yang kami sesap. Karena Sang Pangeran sungguh Maha Pengasih.
Aku tak ingin memperhitungkan kemampuanku untuk melalui semua ujian. Karena nilai itu ada di Buku Besar di Sana. Aku hanya harus menjalani dalam arusnya yang tercipta untukku. Terlebih karena ujian ini hanya kecil saja. Tak sebanding dengan apa yang dialami Taufik Savalas dan keluarga yang ditinggalkan, kesedihan yang sangat dan manakala kesedihan mereka justru menjadi ladang uang bagi yang lain. Maka aku justru harus berkaca dari ketakwaan mereka meski tak kuinginkan ujian seperti itu.
Yang kubutuhkan sekarang hanya waktu untuk menyesapi dan memilah tiap rasa yang hadir. Lalu mengikuti kemana air hidup ini mengalir. Agar tawaku tak hambar dan kalimatku berarah.
Komentar Terakhir