Juru Masak
10 06 2008” Cinta itu datangnya dari perut….”
” Orang-orang tua dulu itu, memilih calon menantu untuk anak laki-lakinya dari melihat gadis-gadis yang sibuk di dapur waktu ada hajatan….”
” Kamu masak apa ? “, ” Kamu pinter masak ya? “,……….
Banyak sekali komentar seputar dapur yang bisa terdengar. Mungkin sekarang justru bisa terdengar begini,
” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …”
Ini persoalan perempuan. Sangat perempuan. Bisa dilakukan lelaki dengan lebih piawai jika berminat, tetapi hanya menjadi masalah besar bagi perempuan , bukan lelaki. Lelaki tak memasak, siapa peduli. Perempuan tak bisa memasak jadi: ” Oh ya? Ya sudah nggak apa-apa, nanti lama-lama pasti bisa “. Atau begini :”Maafkan saya tidak bisa memasak ” diucapkan seorang perempuan dan belum terdengar lelaki minta maaf untuk itu.
Yang pasti, tak pernah terbayang di benaknya akan menjadi seperti apa ketika tumbuh dewasa. Baunya masih sangat bau kencur muda dan lebih senang berlarian kesana kemari dengan sebaya, tetapi suara keras ibu akan memanggil ketika beliau sibuk di dapur. Tak peduli banyak teman menunggu di luar dan terheran-heran, yang penting anak gadis semata wayangnya perlu mengikuti kursus gratis memasak dengan terkontrol ketat. Sampai tanpa disadari, teringatlah ketika di satu waktu pikiran aneh mencuat begitu saja dan dia hadapi dengan rasa geli. Pikiran semacam ” jika anakku ulangtahun, maka semua hidangan ini harus bisa hadir dari tanganku. bisa nggak yaaaaaaa…..”
Bukan…….gadis kecil itu sekarang bukannya mewujud menjadi seorang pakar masakan. Bagaimana mungkin menjadi pakar jika resep-resep yang dia lihat setiap hari di milis hanya dilewati begitu saja untuk disetujui hanya agar anggotanya bisa membaca. Ya mungkin saja satu saat nanti membutuhkan aneka resep itu, maka pelariannya adalah pada arsip pesan yang sudah bertumpuk.
Tetapi yang mengherankan adalah ketika sebuah kata meluncur begitu saja,” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …” Begitu percaya diri, dan begitu saja terbentuk niat untuk melakukannya. Dan tiba-tiba saja dalam waktu satu bulan itu sudah tertulis jadwal berapa kali dia harus belanja dan memasak dalam jumlah besar hingga berbilang ratus, meski bukan ratusan orang. Apakah jiwa ibunya sudah merasuk, ataukah hanya menampakkan garis keturunan? Dia sendiri bingung. Dia hanya tahu bahwa hatinya sangat senang suka ria bahagia ketika banyak orang menikmati dan menyukai racikan tangannya. Dia suka ketika tangannya menghasilkan sesuatu yang rapi dan tidak kacau, meski dia sendiri ragu apakah yang dikerjakan tangannya itu sama persis dengan kursus gratis yang diterima puluhan tahun lalu. Karenanya dia membuat kalimat penghiburan bahwa memasak tidak perlu undang-undang karena yang penting adalah penerimaan lidah.
Lihatlah…….dia, perempuan itu sedang menghitung. Menghitung kegiatan yang harus dia jalani dan membaginya dengan teliti kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan peralatan perangnya dan mengatur strategi. Dia tak ingin ada kesalahan, tak ingin tertinggal dunia luar yang berputar, tak ingin kecewa.
Apakah ini awal sebuah jalan hidup baru…………pikirannya sedang mempertanyakan.
Komentar : 23 Komentar »
Kategori : Napak Tilas





Komentar Terakhir