Juru Masak

10 06 2008

” Cinta itu datangnya dari perut….”

” Orang-orang tua dulu itu, memilih calon menantu untuk anak laki-lakinya dari melihat gadis-gadis yang sibuk di dapur waktu ada hajatan….”

” Kamu masak apa ? “, ” Kamu pinter masak ya? “,……….

Banyak sekali komentar seputar dapur yang bisa terdengar. Mungkin sekarang justru bisa terdengar begini,

” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …”

Ini persoalan perempuan. Sangat perempuan. Bisa dilakukan lelaki dengan lebih piawai jika berminat, tetapi hanya menjadi masalah besar bagi perempuan , bukan lelaki.  Lelaki tak memasak,  siapa peduli. Perempuan tak bisa memasak jadi: ” Oh ya? Ya sudah nggak apa-apa, nanti lama-lama pasti bisa “. Atau begini :”Maafkan saya tidak bisa memasak ” diucapkan seorang perempuan dan belum terdengar lelaki minta maaf untuk itu.

Yang pasti, tak pernah terbayang di benaknya akan menjadi seperti apa ketika tumbuh dewasa.  Baunya masih sangat bau kencur muda dan lebih senang berlarian kesana kemari dengan sebaya, tetapi suara keras ibu akan memanggil ketika beliau sibuk di dapur. Tak peduli banyak teman menunggu di luar dan terheran-heran, yang penting anak gadis semata wayangnya perlu mengikuti kursus gratis memasak  dengan terkontrol ketat. Sampai tanpa disadari, teringatlah ketika di satu waktu pikiran aneh mencuat begitu saja dan dia hadapi dengan rasa geli. Pikiran semacam ” jika anakku ulangtahun, maka semua hidangan ini harus bisa hadir dari tanganku. bisa nggak yaaaaaaa…..”

Bukan…….gadis kecil itu sekarang bukannya mewujud menjadi seorang pakar masakan. Bagaimana mungkin menjadi pakar jika resep-resep yang dia lihat setiap hari di milis hanya dilewati begitu saja untuk disetujui hanya agar anggotanya bisa membaca. Ya mungkin saja satu saat nanti membutuhkan aneka resep itu, maka pelariannya adalah pada arsip pesan yang sudah bertumpuk.

Tetapi yang mengherankan adalah ketika sebuah kata meluncur begitu saja,” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …” Begitu percaya diri, dan begitu saja terbentuk niat untuk melakukannya. Dan tiba-tiba saja dalam waktu satu bulan itu sudah tertulis jadwal berapa kali dia harus belanja dan memasak dalam jumlah besar hingga berbilang ratus, meski bukan ratusan orang. Apakah jiwa ibunya sudah merasuk, ataukah hanya menampakkan garis keturunan? Dia sendiri bingung. Dia hanya tahu bahwa hatinya sangat senang suka ria bahagia ketika banyak orang menikmati dan menyukai racikan tangannya. Dia suka ketika tangannya menghasilkan sesuatu yang rapi dan tidak kacau, meski dia sendiri ragu apakah yang dikerjakan tangannya itu sama persis dengan kursus gratis yang diterima puluhan tahun lalu. Karenanya dia membuat kalimat penghiburan bahwa memasak tidak perlu undang-undang karena yang penting adalah penerimaan lidah.

Lihatlah…….dia, perempuan itu sedang menghitung. Menghitung kegiatan yang harus dia jalani dan membaginya dengan teliti kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan peralatan perangnya dan mengatur strategi. Dia tak ingin ada kesalahan, tak ingin tertinggal dunia luar yang berputar, tak ingin kecewa.

Apakah ini awal sebuah jalan hidup baru…………pikirannya sedang mempertanyakan.





Bicara “Ora Ilok” Dengan Aminah

19 03 2008

” Ora ilok ngono kuwi…..gak ilok koyok ngono iku…”

Apa itu? Yah……kata-kata itu seringkali terdengar dalam masa nafas yang lalu. Jauh ke belakang, tempat dimana hari-hari yang kini ada dirintis. Kalau kosa katanya tak tercatat dalam kamus besarmu, maka bisa kubisikkan saja bahwa itu berarti tidak baik seperti itu atau pamali. Maka, jika kalimat itu sudah mengudara, sebaiknya tak lagi dilakukan hal-hal yang akan memicu petuah berhamburan.

Ah ya…..aku bicara saja dengan Aminah, temanku yang telah lama tak kubicarakan. Mungkin dia lebih menguasai khasanah per- ora  ilok -an itu.

Begini, kata Aminah, sekali waktu kamu ingin menghirup nafas segar yang rasanya hanya ada di sebuah ambang pintu. Tentu apa yang dirangkai oleh keinginan menghirup nafas segar itu adalah kegiatan duduk, memeluk lutut mungkin, lalu sambil melihat lalu lalang meski hanya debu dan diiringi sejumlah lalu lintas cerita. Bisa terjadi memang, semua itu dilakukan seorang diri, yang artinya tentu jadi melamun melanglang jagad tak tentu arah dan berimajinasi apa saja. Maka apa yang terjadi saat itu jika lalu tertangkap sinar mata mereka yang lanjut usia, akan menerbitkan kalimat andalan tanpa penjelasan.

Memang, selalu tanpa penjelasan. Pernah kukatakan pada Aminah bahwa aku mempertanyakan sekali saja alasan ora ilok itu. Yang kusimpan hingga bertahun kemudian adalah pandangan tajam dan seolah aku telah mempertanyakan sebuah benda kepastian yang menjadi milik Gusti secara mutlak. Menjadi aib bagi seorang makhluk kecil mempertanyakan nasehat orangtua.

Aminah tersenyum. Dia memandang lurus, sebelum mengatakan, bahwa seharusnya memang aku telan saja kata-kata itu. Tidak akan rugi buatku menelan bulat-bulat wejangan itu, selain kehilangan kesenangan kecil semata untukmelakukan apa yang menjadi keinginanku saat itu. Sewaktu lalu usia makin merambat naik, banyak pemahaman baru memasuki celah pemikiran dan logika menemukan jalannya. Ambang pintu itu, adalah tempatnya lalu lalang siapa saja yang ingin lintas ruangan. Kemungkinan yang bisa terjadi jika aku duduk disana adalah aku terinjak, tertendang atau mungkin orang itu sendiri yang urung melintas dan lalu memberi perasaan bersalah telah mengganggu kepentingan orang lain untuk sekedar melangkah. Atau, aku mungkin akan membutuhkan sentuhan koin gobang dan balsam untuk mengusir angin penghuni ambang pintu yang merasuk ke tubuh karena tempatnya telah kujajah sedemikian rupa. Aminah tersenyum lagi dan berkata, ” kamu menemukan kebaikannya buatmu”.

Lalu kenapa logika itu tak diberikan lebih awal ketika aku bertanya? Ah ya……bodoh sekali. Jamanku dan Aminah kecil , semua nasehat kebanyakan adalah warisan. Apa yang ibu kami katakan, mungkin begitu juga yang beliau dapatkan sewaktu mereka kecil dulu dulu dan dulu sekali. Tak ada keinginan mengaransemen ulang nadanya agar terdengar lebih indah di telinga kami. Tak ada modifikasi. Semua diberikan dengan nada dasar yang sama, dipertahankan harmoninya dan caranya mungkin juga sudah dalam setelan default.

Dan bukan cuma tentang duduk di ambang pintu. Tapi ada banyak jenisnya, seperti menyapu harus selesai hingga masuk pengki agar suamiku tak brewok, habiskan makanan atau ayam tetangga mati dan dewi sri menangis, atau perempuan tak bersiul dan memasak tak sambil berkacak pinggang. ” Aminah. Aminah……..kita temukan nalarnya di usia kita yang sekarang ya “. Kami tertawa kecil, tapi cukup panjang sebelum melihat kekasih-kekasih kecil kami berlarian di sekitar.

Aku menerawang berdua dengannya melihat kaki-kaki kecil berlari. Satu tak ikut berlari, sibuk menelusuri jaring pertemanan dunia maya. Dunia ini bukan satu-satunya lagi, hingga ada yang kami sebut sebagai maya. Yang katanya maya ini, mampu membawa siapapun menghubungkan yang nyata disini dengan nyata lain di entah mana. Dan kemampuan menyelusupkan benak di alam maya itu mempunyai tuntutan nalar yang tak mungkin lagi diminta menelan semuanya secara bulat dan mentah.

Kami berpandangan. Menyadari sesuatu dan akhirnya kukatakan,” aku tak pernah memakai plot seperti yang dulu kuterima. Ora ilok itu tak pernah didengar anakku dari mulutku “. Aminah mengerti. ” Tapi nilai-nilainya tetap perlu disampaikan, Minah….” Lagi Aminah mengangguk.

Memang, bukan keberadaan yang maya yang meniadakan ora ilok dengan sadar dari khasanah percakapanku dengan kekasih-kekasih kecil itu.  Semata, hanya alam bawah sadarku yang menolak untuk dipandangi dengan heran oleh mereka ketika sebuah  alasan tak mampu kuberikan. Alasan yang kutahu dengan benar logikanya. Alasan yang ketika kuutarakan sebagai jawaban pertanyaan mereka, akan langsung membuat kata ora ilok itu tak relevan lagi dan seharusnya hanya menjadi tak baik.

Ketika Aminah berujar kemudian,” kamu tahu……ketika kamu berikan  nasehatmu dengan bahasa yang bisa mereka terima dengan logikanya, kamu sudah menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan jawabannya secara nalar…..dan mereka menjadi kurang berlatih pikir karena disuapkan sesuatu yang mudah dicerna…..” , ngilu di ulu hatiku. Apakah aku salah lagi? Apakah aku membunuh, Aminah?

Sebaiknya kita berlibur saja……..dan nikmati empat hari yang indah ini.





Ceracau Pagi Untuk Membuat Kantuk Mau Pergi

28 02 2008

Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung karena sesekali masih menggerakkan tangan, mengusir nyamuk berdenging, memukul jika menggigit, atau menggaruk kalau sudah terlalu gatal. Artinya, diam ini tidak membuat hilang rasa dan kesadaran. Kopi, sudah lama habis selagi hangatnya masih ada. Jangan ditanya lagi tentang itu. Sekali waktu beranjak manakala perut bergolak tiba saatnya untuk dikosongkan. Dan duduk lagi disini.

Mungkin menunggu matahari. Memang tak bisa dipastikan munculnya akhir-akhir ini, meski tidak terlalu sering lagi menghilang. Kalau coba-coba pekerjaan tak waras, aku menebak saja perasaan matahari. Mungkin, dia sedang malas. Mungkin, dia sedang bosan dengan apa yang sudah ribuan masa dia jalani. Melanggar takdir sebenarnya, tapi apakah tak boleh merasa begitu. Dan, mungkin juga sedang menikmati sebuah kesenangan baru. Makin jauh menebak-nebak, aku jadi geli sendiri. Memang tak waras. Semuanya jadi kedengaran seperti aku. Bukan matahari. Ini bukti saja tentang kediaman yang tak bermakna tadi.

Lalu, hal yang pasti terjadi  ketika diam seperti ini terlalu berlarut adalah saat semuanya menjadi rumit. Terbang pada masa hijau dulu, dimana banyak nilai berusaha dicekokkan dalam kepala. Nilai tentang kehidupan manusia Jawa, nilai tentang keberadaan diri dengan prinsip. Belum lagi nilai tentang sebuah kehormatan, sebagai pribadi, sebagai perempuan, sebagai peran apapun yang diinginkan untuk diwujudkan. Teguh yang lentur, kuat yang luwes. Mengertikah ?

Menerima apa yang ada disini hari ini, menelisik awal mula dan perjalanannya untuk menjadi begini,  aku tak tahu apakah banyak kepala yang senang melakukannya. Tidak mungkin tidak ada. Tapi seberapa sering, itu yang membuatnya berbeda. Dalam waktu-waktu menelisik begini, satu dua helaan nafas terbit juga ide tentang reinkarnasi. Dan seperti khayalan seorang penulis fiksi, ide itu bisa begitu jauh berbeda dengan yang ada sebagai kenyataan. Terbentuklah sebuah pertanyaan, adakah itu ide seorang manusia, atau manusia yang penulis, yang seniman, atau semua manusia adalah seniman. Terlalu jauh kelananya dari yang ada hari ini. Lalu apa? Oh ya……mestinya diingat juga apa dan siapa saja berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian.

Kopi tadi mungkin meracuni hingga semuanya makin rumit. Gelas kedua ini isinya cuma madu dan kayumanis, hangat dan  membangkitkan semangat. Dan kelana yang lahir dari sana adalah pertanyaan-pertanyaan. Berapa kali aku ingin dilahirkan, dimana, masa yang mana, rupa seperti apa. Yang terakhir adalah pertanyaan, apakah itu melanggar takdir sendiri dengan banyak bertanya yang tidak mungkin terjadi ?

Tegukan besar madu dan kayumanis. Apa bedanya dengan kopi tadi jika kelana yang ada jadi menyesatkan. Setidaknya, bisa jadi menyesatkan buat yang lain. Buatku sendiri aku sungguh merasa ada dalam rumah batin dan akal pengembaraan yang mengasikkan. Enak dan nikmat seperti ramuanku tentang kopi lalu madu dan kayumanis.

Ada kalanya aku tak mengerti apa yang diucapkan teman cakapku. Apa yang kulakukan hanyalah menikmati setiap katanya. Memasukkannya dalam kepala dan  menyimpannya dalam relung hati. Pasti disana akan ada satu mesin yang membuat  bisa memahami. Pada akhirnya. Pada waktu yang tepat. Pada saat bagian dalam diri menyatakan mau memahami, sekecil apapun kemauan itu. Dan yang dibutuhkan hanya ketenangan.





Dari Sudut Sepi Sebuah Rumah

23 11 2007
Menikmati sudut dunia tersendiri dalam satu ruang untuk berlari. Menepi. Menelisik. Sendiri. Menjadi diri sendiri. Sekadar melakukan periksa langkah, periksa pikir, sudah belum atau ingin digapai. Lucu dan aneh.

Teringat cerita Aminah, manakala dia sebagai Aminah kencur pernah membisikkan,” aku ingin jam tangan manis bertali kulit”. Bisikan yang hanya terdengar hati dan Gustinya, tapi terwujud di pergelangannya dalam hitungan hari. Bukan main ! Matanya katanya, memandang ke atas tak bertepi dan merasa begitu dekat dengan Gustinya. Selalu ke atas, karena disanalah pikirnya Gustinya itu berada.

Dimensi waktu tahun-tahun kemudian, ia mulai mengenal cinta. Bukan produser, bukan sutradara, diciptakannya sebuah film mimpi dalam angan. Film tentang ia dan cintanya, menikah dan memulai langkah kecil, dalam satu rumah sangat kecil, sederhana, kosong tanpa perabot. Lampu rumah temaram karena kemampuan yang juga kecil untuk membeli listrik. Langkah awal, rangkakan mungkin, sebelum menjadi yang lebih besar. Perempuan didikan Jawa, didekatkan pada susahnya dunia nyata, film mimpinya tak mungkin dimulai dari Hollywood. Nyatanya, film itu terproduksi sungguhan katanya…….lagi ia tengadah, tapi tertunduk lagi. Mulai mengerti rupanya, Gustinya tak selalu ada di singgasana di atas entah.

Satu kali ia pernah mempersilakan satu kakaknya membawa satu perempuan pengganti permaisuri yang mangkat. Mulutnya jelas pengucapannya, “Silakan….bawa saja jika mau”. Terbuka sangat dengan keinginan kakak. Tatkala kemudian bertemu dengan sang perempuan, ia malah tak mampu tersenyum. Tak punya kata untuk menyapa, bahkan untuk menjelaskan kenapanya. Yang dia tahu, rasanya sirene dalam dadanya meraung sangat kencang memekakkan telinga. Untuk apa, bahaya apa, sungguh tak tahu. Sirene yang membuat dia terdiam dan menjadi terdakwa karena tak mampu membuka kata. Meski Aminah sudah mengerti tak pernah ada singgasana di Atas sana, tapi menengadah selalu lebih mudah. Ia cuma mau bertanya tentang kenapa. Jawabannya dicicil seperti kredit tahunan. Perempuan tadi itu memasok rasa sakit, membuat ayah ibunya selalu menghela nafas panjang, dan kakaknya tertoreh-toreh luka. Aminah cuma membatin, ooh……it works…..sirene hati.

Aku dengar Aminah itu berkata dia pelihara yang dia punya. Yang “it works” tadi. Katanya selalu dijaganya supaya tak berkarat. Dia nyalakan saat ingin tahu sudut mana nyaman untuk ditempati, atau kemana dia seharusnya tak melangkah. Masalahnya, sulit baginya untuk membagi makna raungan itu. Seringkali dia juga jadi habis kosa kata sehingga banyak yang gelengkan kepala untuk penjelasan yang tak jelas abjadnya. Ya sudah, dia memang begitu adanya.

Lalu kenapa dia jadi gelisah sekarang? Aku dipaksanya membantu berpikir. Membantu meraba juga dengan hati. Ah, hati lagi….Katanya, dia jarang bersurat pada Gustinya lagi, tapi ingin bertandang ke tanahNya. Entah kapan. Lalu kalau tak sering bersurat, “Apa aku masih intim dengan Gustiku, ya?” Ia yang sering tengadah mempertanyakan itu, apa yang harus aku jawab. Dalam teoriku, bukan aku yang bisa menjawab kegelisahan dia. Lalu bagaimana?

Pada akhirnya aku memang tak menjawab, cuma berkalimat,

” Aminah, ……aku cuma menawarkanmu tempat di sudut sepi rumahku ini. Untuk berlari, untuk menepi, merasakan angin yang membawa tiap kabar, dan memeriksa sirenemu itu apakah masih berfungsi dengan baik…….seperti yang aku lakukan malam ini..”

Selamat berakhir pekan dan datang dengan kesegaran…….




Keterlaluan !!!!!!

3 11 2007



Ya ya…….semua ini keterlaluan rasanya. Mestinya aku tidak suka kalau sudah keterlaluan. Tapi kali ini,mmmm……..mungkin di bagian-bagian tertentu keterlaluannya sangat tidak apa-apa. Sangat mau untuk diterima. Sebab rasanya terlalu menyenangkan, terlalu indah, terlalu riuh, terlalu heboh dan semuanya gara-gara terlalu kangen. Waaaaah………kalau sudah soal kangen, siapa orangnya yang lalu tidak terkunyung-kunyung (alah, bahasa apa ini?).

Begini ceritanya :
Kemarin, tepat hari Jumat di tanggal 2 November 2007 jam 18.00 WIB, bertempat di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta, berkumpul lagi orang-orang yang sudah 18 tahun berpisah. Orang-orang dari satu sekolah negeri di tengah salah satu perkampungan di Kayumanis Jakarta Timur, namanya SMAN 31, khususnya angkatan 1989 . Ini hasil usaha kerja keras dari masing-masing lulusan tahun itu untuk melacak dan saling menjaga kontak personal satu sama lain. Lalu ketika masing-masing kontak itu dipertemukan dalam surat-surat elektronik, suasana riuh pun dimulai. Tolong dicatat, itu baru dalam ranah dunia maya. Bagaimana jika bertemu secara fisik? Ini dia……

Begitu bertemu tatap muka lagi pertama kali, jangan heran ada sapaan-sapaan semacam,” Masih inget gue nggak? ” . Atau,” Elo siapa ya? Sorry ya gue lupa”. Atau,” Gilaaaaa……sukses bener lo sekarang, sampe melebar begitu tuh badan !” Tapi ada juga yang dapat sapaan,” Elo si anu kan…..inget banget gue. Gak berubah sama sekali lo ya?” Percaya deh, yang mendapat sapaan seperti yang terakhir ini hanya segelintir orang saja. Karena setelah waktu pisah selama itu, masing-masing bekerja, menikah dan merasakan kebahagiaan keluarga sendiri, tentu saja sebagian besarnya sudah menjadi LEBIH. Lebih gemuk atau bahkan sangat gemuk, lebih segar, lebih terawat, lebih cantik atau lebih tampan. Hampir semuanya berubah dan membuat pangling. Dan tentu saja menjadi jauuuuuh lebih raaaamai dari apa yang ada di tataran maya saja. Dan acara yang katanya bernama Halal Bi Halal itu tidak tampak selayaknya Halal Bi Halal. Tidak ada kata selamat Idul Fitri apalagi ucapan mohon maaf lahir batin sempat terucap. Murni kekaguman dan takjub saling melihat lagi satu sama lain dan rasanya maaf untuk segala kesalahan itu otomatis ada.

Tempat pertemuan yang dirancang di sebuah rumah makan itu rencananya untuk memfasilitasi orang-orang kelaparan pulang kantor. Makan Malam Bersama. Nyatanya, meski hidangan sudah lama tersaji di meja, dan kursi-kursi tertata rapi untuk ditempati, tak ada yang tampak berminat untuk makan. Lapar hilang. Ayam Lemon, Cumi Goreng Tepung Pulau Dua yang krispi, Kailan Cah Daging Sapi, Udang Goreng Saos Mentega dan Ikan Gurame Asam Manis juga Asinan Dermaga, tak mampu mengalihkan perhatian. Hampir 40 orang yang ada hanya berdiri tak mau duduk dan sibuk bercerita dan terus saja bercerita. Tertawa. Merokok. Bercanda. Memotret. Menelepon mereka-mereka yang tak bisa hadir. Memindahkan satu telepon jaringan internasional ke Singapore tempat jeng Hany dan mas Iwan berada, pada berbagai telinga. Pindah tempat menyapa. Dan seperti anak TK saja akhirnya ada yang sampai harus berteriak mengingatkan untuk segera duduk dan makan. Wartawan ini sendiri, juga sampai tak mampu merasakan lagi apakah makanan-makanan yang dia persiapkan bersama koleganya itu enak yummy atau tidak. Tidak penting lagi soal rasa makanan. Ini bukan wisata kuliner. Sambil makan saja masih terus bercerita. Sesekali berdiri memotret. Tertawa lagi. Kadang meneriakkan sesuatu.

Lokasi pertemuan memang dipilih sebuah lokasi yang sangat nyaman untuk kehingar bingaran yang kita buat. Tempat itu sangat luas, di tengah danau, berangin segar dan memiliki live band. Yang terpenting dari semua itu, tak akan ada pengunjung yang merasa terganggu apalagi sampai keberatan dengan kehebohan yang terjadi dari kumpulan ini. Disana semua pengunjung berhak saling mengganggu dan diganggu dengan suara sebising apapun. Dan live band itu, tentu saja dimanfaatkan. Abdel dan Etykalis, segera bernyanyi di panggung itu. Tapi tak lama setelah mendapat applause meriah dari kumpulannya, mereka berdua cuma menjadi suara nyanyian latar belakang saja. Mungkin tidak ada , setidaknya wartawan ini, yang ingat mereka berdua menyanyikan berapa lagu. Bahkan sampai lupa untuk menagih iuran dari masing-masing peserta HBH untuk keperluan kumpul-kumpul itu. Untung saja partnernya adalah orang yang memang terbiasa mengumpulkan sumbangan dari teman-teman. Maka partnernya itulah yang bergerak mengedarkan sebuah tenggok nasi dari bambu hingga terkumpul sejumlah uang yang cukup banyak. Dan undian door prize berbungkus kado dengan cap logo TPI. Ah, dia memang ibu yang baik.

Waktu makin malam, tak ada yang tampak ingin pulang. Foto bersama dengan banyak jepretan, banyak kamera. Bicara lagi. Tertawa lagi. Tak pernah sadar bahwa kali itu tempat berdiri saja sudah berpindah sangat di tengah, di muka panggung, dimana semua mata dengan mudahnya tertuju kesana. Harus ada yang memulai untuk mengakhiri keriuhan. Harus ada yang berani pamit. Atau restoran akan dengan senang hati mengusir kumpulan ini. Aaaaaarrggghhhh…………sulit untuk berhenti bicara! Sulit untuk berhenti mengungkapkan senangnya, hebohnya, dan…duh, keterlaluan ! Pokoknya keterlaluan. Sampai wartawan ini juga tak mampu menghasilkan foto yang berkualitas baik dan tak tahu lagi angle mana yang harus diabadikan. Keterlaluan !!!!

update : saking senengnya, hurufnya tercetak tebal dan besar semua dan menghasilkan komentar protes dari Amerika sana….(cepatnya dikau nak komen protes, Nek….)





Amat Dalam

29 09 2007
Sang Dewi memilih tempatnya sendiri, menyepi. Meski tak sedang berangin, tak mengapa baginya. Karena hatinya begitu penuh, karena sebuah cinta. Nikmat, terlalu nikmat rasanya, hingga menjadi begitu menyayat. Aneh, tapi amat sangat nyatanya. Karena pekat darah yang mengalir dari sayatan itu terasa manis. Dan dia cecap berulang kali.

Dia mengingat perjalanan cintanya, entah mengapa. Orang bilang unik, aneh, kadang lucu hingga tak mampu dipahami oleh mereka diluar. Satu yang begitu melekat dalam benak adalah ketika begitu sulitnya ayah ibunya menerima kenyataan kemana cintanya dia lekatkan. Banyak alasan dia dengar, tapi tak satupun yang mampu dia mengerti. Karena nafasnya telah meninggalkan catatan bahwa cinta tak pernah mudah. Tapi cinta sungguh maha luas untuk menerima semua beban, meski bukan satu-satunya. Dan itu membuatnya kuat hati menjalani segala dusta pada orang tuanya.

Cintanya terlalu tua untuknya, begitu dalam kacamata semua orang. Tapi tidak untuk sang Dewi sendiri. Caci, olok dan cemooh menjadi bagian dari udaranya. Tapi Dewi begitu yakin dengan hatinya, dibawa oleh suara nuraninya yang begitu terletak dalam. Datang dan pergi wajah muda dalam hari-harinya, sangat bisa dia nikmati. Bukan sekali dua dia mencari pengganti demi menyenangkan hati tua ibunya. Kesemuanya dia lihat secara fisik. Sampai akhirnya dia sadari apa yang dia cari secara fisik itu, juga mencari sosok yang dia cintai. Hanya secara fisik tapi semua adalah cermin wajah cintanya. Lalu bagaimana dia mampu berpaling pada lelaki lain. Jeratnya kuat mengikat hati.

Sepanjang hidupnya kemudian, yang Dewi lakukan adalah menyimak dan belajar. Lelakinya tak banyak memiliki huruf untuk diucapkan kepadanya. Tapi Dewi merasakan dengan hatinya. Dewi mencari cermin lagi untuk tahu bagaimana bicara benar sebagai perempuan. Dimana batas yang tak bisa dilampaui perempuan agar tak menyinggung kelelakian lelakinya. Dia mencari dengan keperempuanannya titik apa yang begitu menyentuh hati lelaki.

Semakin dia mencinta, semakin resah hatinya. Rasanya tak cukup apa yang dia miliki untuk diberikan. Dan begitu takutnya dia kehilangan dan tak punya lagi kesempatan untuk memberi. Ini yang menyayat. Dan sangat perih. Kata orang, jangan berikan hati perempuanmu terlalu banyak pada lelaki agar tidak hancur satu ketika. Tapi Dewi lebih senang menghadapi resiko hancur daripada membawa hati yang cuma sepotong. Dengan begitu dia merasa punya bakti. Jika ditanya apakah lelaki itu membawa cinta yang sama besarnya untuk Dewi, tak mungkin dia mampu jawab sendiri. Karena Dewi tak begitu menyimak tentang itu, tak peduli. Dan jika satu ketika itu datang, Dewi hanya ingin mengganti kulit hatinya yang tipis, dengan kepenuhan yang sama, dengan cinta yang pernah dia punya. Meski besar hati itu sudah menyusut untuk lelaki terdahulu.

Satu hal yang pasti, mengenang indahnya cinta, tak harus pada malam yang khusus……….





Nakalnya Anak-anak

18 09 2007
Lepas waktu berbuka dan aku menjadi sendiri. Pak Uban masih belum tiba di rumah, dan dua kekasih kecilku telah pergi bertarawih. Tak ada yang suka berada sendiri di rumah di hari-hari puasa begini, seperti juga aku tadi malam. Duduk sendiri di beranda, kaki kulipat melekat di dada. Angin sedikit, selalunya terasa dingin meski cuaca panas. Seharusnya kutempelkan iPod di telinga biar bisa menjadi temanku. Hanya saja diam seperti itu sudah mendatangkan rasa malas untuk sekedar berjalan dan nantinya mengatur kembali posisi badan di bangku depan. Lebih nikmat tengadah menatap malam, dan dalam sekejap sudah terbang pada masa kecil.

Menghabiskan waktu enam dan tiga tahun di satu sekolah Katolik terkenal di Menteng masa itu, aku menjalani semua kewajiban di sekolah itu tanpa penghayatan. Jika memang waktunya semua murid harus duduk dan menyanyi dalam gereja, maka aku juga disana. Lagu-lagu itu tak berarti apa-apa bagiku selain hanya sebuah lagu yang kujadikan ajang berlatih vokal. Memang tidak berarti suaraku lalu menjadi indah, tapi lalu bisa lebih lantang berteriak dalam bangunan yang begitu besar. Kemampuanku membaca lancar, intonasi jelas dan tepat dalam pemenggalan kata, membuatku seringkali tampil sebagai pembaca kitab di altar. Entah apa artinya karena di saat yang sama aku sedang berpuasa Ramadhan. Setiba di rumah, maka huruf-huruf yang kubaca adalah huruf arab dalam Al Quran dengan seorang Ustad membimbing. Rasanya lucu, aku menjalani dua kebiasaan yang berbeda. Penghayatan mungkin belum ada, tapi yang pasti aku tahu posisi keduanya. Satu sebagai peraturan dan yang lainnya adalah akar. Berdampingan saja.

Anganku mengembara, mencoba mengingat lagi bagaimana tingkahku saat itu. Aku sulit menemukan kenakalanku sendiri. Sedangkan teman-teman kumpulanku selalu dihukum di muka kelas untuk berbagai hal, aku hanya menyaksikan di bangkuku tanpa mengerti mengapa mereka mau dihukum begitu. Kadang mereka sendiri berkata,” Elo doang yang gak distrap, curang !” Lalu aku harus apa? Maka kucoba saja tak mengerjakan PR, dan selanjutnya memutuskan bahwa berdiri di muka kelas bukan hal yang brillian. Paula terkekeh melihatku dan membantuku menentukan posisi untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah. Di rumahnya, di Restoran Le Bistro. PR Paula memang selesai, tapi oma Non Kawilarang malah mengusirku pulang karena mengganggu tidur siang cucunya. Lalu esoknya mama Rima Melati menelpon meminta maaf dan mengajakku untuk tidak jera bermain disana. Aku membatin, kenakalanku saat itu adalah mengganggu tidur siang seorang teman? Aneh. Mungkin seharusnya aku ikut gerombolan kakakku saja, yang setiap minggu akan menyebabkan ibuku datang ke sekolah karena sebuah panggilan kejengkelan guru. Rasanya lebih asyik untuk dikenang di saat tua sekarang.

Tapi apakah aku harus menyesali yang lalu, hanya karena kurang seru untuk diceritakan? Mestinya tidak. Entah bagaimana, Tuhan kini memberiku kekasih-kekasih kecil yang sulit juga untuk bisa kuceritakan kenakalannya. Tak ada dalam ceritaku, rasa geli melihat mereka mencuri-curi minum saat tak kuat berpuasa. Pasti ada tanya meminta ijinku untuk meneguk air dingin di kulkas. Di awal usia mereka mulai mengerti fungsi pensil, hanya sekali coretan mendarat di dinding rumahku. Ketika aku lalu memperkenalkan fungsi dinding dan kertas, maka kesalahan itu tak ada lagi. Jika dindingku lalu ternoda spidol, maka keponakan-keponakan kecil adalah pelukisnya. Rasanya mudah sekali merawat mereka. Entah ini karma baik, atau hadiah, atau sekedar pengertian Gusti akan ketidaksukaanku pada kategori anak nakal. Yang pasti aku pernah mengulang kalimat ibu padaku dulu, pada mereka,” hanya ibu bapakmu yang sayang kalau kamu nakal”. Mungkin ini kalimat sakti, entahlah…..

Aku sedang tersenyum sendiri ketika akhirnya Pak Uban memasuki garasi rumah. Lamunanku menerawang masa kecil harus berhenti. Dia mungkin sempat melirik senyumanku saat tadi memasukkan mobil, karena begitulah dia bertanya. Aku cuma menjawab singkat, teringat celetuk kakakku tempo hari,” …anak laki kok nggak ada nakal-nakalnya….” Biar saja Pak Uban bingung dengan jawaban itu sekarang. Karena aku sedang berpikir, mungkin mereka justru bandel saat sudah kuliah, sepertiku dulu. Menitip absen untuk menonton film….ah, tidak seberapa mungkin…





Meretas Rindu Duka Lara

30 07 2007

Menelusuri rumah tua yang tak kujamah lagi dalam rentang cukup lama, membawa pikiran ini turut menari-nari. Ada lagu-lagu rindu dikidungkan menggema di hati, meski selarik perih lara tak tertolak ikut tercoret kembali. Hanya batas-batas nilai membawa bait-bait kata yang semuanya tercipta demi damainya hati, aku dan dia…dia yang kutinggalkan dalam sepi. Dan bait-bait itu tercipta karena aku membutuhkan sebuah perlindungan, sebuah alasan. Alasan agar aku tak perlu menyakiti dia, cukup luka itu milikku.

Rumah tua itu makin cantik. Teduh dengan kehijauannya, meski kusapa pada malam kurang sinar. Tetap tidak terlalu rapi karena rapi memang bukan kebutuhan dia yang disana. Hangatnya masih, tapi gemerisik anginnya kadang masih menyisakan sembilu. Kenapa aku harus peduli dengan sayatan angin itu? Bukankah aku terbiasa menerima semua yang menyentuhku apa adanya. Aku tak tahu, selain alasan yang membuatku bicara semuanya melebihi batas yang harus ditiupkan. Mungkin karena tiupan angin dan bait-bait puisi itu lantas menyayatku pada titiknya yang mestinya tak boleh disentuh. Mungkin karena titik itu juga adalah kebanggaanku sebagai manusia yang perlu menjaga apa yang dihormati. Dan disana terpatri mantra, ” Jangan Kau Tak Hormat Pada Ibuku”. Maka sutra sehalus apapun akan mampu membuat Raksasa dalam diri ini bangkit .

Tapi rindu ini bukan tak ada. Pada segala yang bisa kulakukan di rumah itu. Pada alunan irama yang mendayu indah. Rindu yang tak ingin mewujud. Rindu yang datang dengan perih dalam darah ketika ketuk bilah kayu dan tembaga mengalun. Rindu yang tak ingin kusapa. Tak ingin kunyatakan. Tak ingin sungguh kuwujudkan. Karena aku disini. Ada disini. Dengan segala yang mampu kugenggam. Aku cukup bahagia. Dan memang bahagia disini. Puja puji yang kudengar di rumah tua itu hanya sebuah pengakuan yang terlambat. Dan tarikan untukku kembali kesana. Semua sudah cukup bagiku, tak perlu lebih.





Menjejaki Keanehan Diri

5 07 2007
Dalam keadaan yang mulai membaik dari serangan flu, aku ingin sekali segera kembali ke ruangan olahraga itu. Untuk membuat badan ini tidak terlalu lebar, untuk membuat otot ini tidak terlalu lembek dan agar daya tahan kembali prima. Tapi beginilah rasanya memiliki teman. Bisa jadi menyenangkan karena perhatiannya di saat sedang susah dan sakit. Tapi kadang juga menjengkelkan, ketika dia memintaku untuk menjejaki keanehan diri. Ya, menjengkelkan karena datangnya di saat aku tidak ingin berpikir apa-apa selain makanan untuk liburan anak-anak. Ah, rupanya dia ingin aku sedikit berolahraga otak untuk membuat pekerjaan yang bisa singkat di tangannya, tapi harus ku-aransement ulang untuk bisa menjadi gayaku sendiri.

Sayang, tahukah kamu aku begitu suka warna cokelat dan hitam? Rasanya, bukan lagi hanya suka, tapi sudah bagian dari kepribadianku. Aku bisa sangat iri hati melihat perempuan lain tampil cantik dengan pakaian warna cerahnya seperti biru, pink atau hijau muda. Dan ingin kubeli juga pakaian dengan warna yang sama. Tapi ketika kaki ini sampai di toko, bagiku coklat dan hitam itu lebih indah. Maka itulah yang masuk ke lemariku nantinya, kecuali ada seseorang yang berusaha keras menggiringku untuk ingat pada rencana semula. Itupun jika aku tidak menjadi sangat keras kepala.

Lalu bagaimana dengan warna lain? Oh, aku suka sekali melihat mobil warna merah darah atau merah cabe. Terang dan sporty tampaknya. Tapi sepertinya aku tak pernah berjodoh dengan mobil warna itu. Setiap kali –dalam kesempatan yang sangat jarang dalam hidup ini– aku berada dalam posisi memilih warna mobilku, maka keinginan itu tak pernah terwujud. Dengan bermacam alasan, selalu aku dipaksa menerima apa adanya. Yah…mungkin baik untuk melatih kepribadian agar tidak mudah menuntut.

Ya memang, selalu ada hikmah dalam tiap kejadian kan? Jangan meledekku begitu, sayang…lelah aku tertawa jadinya. Sesungguhnya, aku ingin datang ke rumahmu untuk secara langsung tertawa bersama. Tapi rasanya, akan kutemui beberapa kendala untuk mewujudkannya. Selain aku akan menjadi merana karena besarnya ongkos, aku juga ragu. Apakah di rumahmu kau pasangi keset kaki yang terbuat dari perca kain atau jalinan tali seperti kebanyakan orang Indonesia gunakan? Aku tak bisa memandanginya dan tak akan kujejakkan kaki pada keset seperti itu. Entah phobia atau apa namanya, tapi aku bisa sangat jijik dan geli karenanya. Maka, kurelakan membeli keset handuk yang lebih mahal untuk rumahku, demi ketentraman batin. Dan yang sudah pernah Uban beli? Kudermakan atau kubuang saja tanpa sesal. Tolong, beri aku ketentraman ini jika akhirnya aku berhasil datang ke rumahmu.

Oh, kau tak suka berbadan sedikit gemuk? Mungkin aku juga. Tapi kau tahu sendiri betapa repotnya mengatasi keinginan makan. Tak banyak makanan yang kubenci, hingga rasanya aku seperti penyuka segala. Beruntung perut ini hanya mampu menampung sedikit. Maka, aneka kesukaan bisa kurasakan walau tak banyak. Jika perlu tanpa sesuap nasi pun, asal kutahu enaknya rasa setiap lauk yang ada. Atau sebaiknya kita berburu makanan enak bersama?

Ah, membayangkan berburu makanan enak bersamamu, entah kita akan semakin kental bersahabat, atau jadi bertengkar seperti ketika membicarakan lelaki itu. Ya….dia kini memang sudah tua. Tapi justru kini aku menyukai dia. Tampak sederhana. Asal jangan dia datang padaku membawakan setangkai mawar. Bukan apa-apa, kutakut aku kan berlari karena tak tahan ingin tertawa pada laki-laki macam itu. Mungkin laki-laki begitu, sedang merasa berperan dalam sebuah sinetron. Tapi kita sama-sama tahu, dia lebih baik membawakanku senapan untuk koleksi, toh hatinya tetap lembut dan penuh kasih.

Banyak sekali tawamu hari ini teman….mungkin kau melihatku begitu keras mendidik anak-anakku. Juga keponakan-keponakanku. Tapi entah mengapa, sejak kecil aku yang tak suka anak kecil ini selalu dipercaya untuk mengurus anak-anak kecil. Bahkan kakak iparku almarhum sempat menitipkan anak-anaknya padaku di saat aku masih jauh dari rencana menikah. Dan kini rumah ini juga dipenuhi keponakan yang ingin menginap dan sengaja dititipkan bapak ibunya jika mereka repot. Padahal, jika mereka tak disiplin sedikit saja, suaraku pasti meninggi dan mata ini membesar. Tapi mereka betah disini. Dan suka bicara denganku.

Dunia ini memang banyak keanehan, sayang….. Begitu anehnya bahkan seringkali kita tak sempat memikirkan apakah kita termasuk orang-orang aneh. Tapi biarlah kita nikmati sendiri. Masihkah kau ingin tahu keanehan orang lain? Lemparkanlah sendiri pertanyaanmu jauh-jauh, karena aku lebi suka menunggui anak-anak itu pergi berenang…





Kami Sudah Di Rumah Lagi

25 06 2007


Ada keuntungan tambahan ketika akhirnya kami memutuskan menyusul kekasih kecil kami Ari

ke Bali. Tentu saja kami bisa melihat dia bersenang-senang disana. Urusan yang lainnya, kami juga bisa memberikan kesenangan yang sama untuk adiknya, memberikan waktu liburan bagi Uban, dan pasti aku sendiri yang ikut menikmati segala kebersamaan itu.

Ari sendiri bergabung dengan kami di malam terakhirnya disana, ketika di pagi harinya rombongan sekolah akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Dan dia tidak harus terikat lagi dengan jam-jam yang ditentukan pimpinan rombongan sejak bangun tidur hingga malam hari. Kebanyakan waktu yang ada, tentu dia bergurau dengan adiknya, aku dan Uban. Bermain ping pong dan bola sodok bersama, meski kadarnya adalah sekedar pukul dan sodok. Berpuas-puas mencandai aku dan Uban, hingga menceburkan kami berdua ke tengah laut saat menaiki banana boat. Oh ya, soal yang satu ini…dia berdalih tidak sengaja. Tapi sikap tubuhnya yang sengaja dimiringkan ketika boat berbelok kencang dan teriakan-teriakannya, menunjukkan hal sebaliknya. Dan tampaknya dia puas sekali melihat kami berhasil masuk dalam jebakannya. Kalau toh kami tidak suka berbasah-basah di awal perjalanan dimana perjalanan masih akan berlanjut hingga petang, maka itu menjadi masalah kami. Ari dan Rayi hanya butuh tertawa. Dan mereka dapatkan apa yang mereka mau.

Satu saja yang kadang tidak klop antara generasi tua dan muda ini dalam waktu liburan di awal musim libur kemarin. Yang muda, masih suka tempat-tempat modern yang bisa dijumpai dimana pun. Sedangkan yang tua, ingin menunjukkan karakteristik Pulau Dewata yang penuh dengan ikon seni, berikut segala pertunjukan tarinya. Selalu ada diskusi dan negosiasi, salah satu pihak pasti kalah untuk berkompromi, hingga aku sempat berpikir sedang seminar dengan mengusung tema tentang ” Mempertemukan isi kepala tua dan muda dalam berlibur “. Hhhh….. Tapi semua toh terlewati dan tidak ada yang tidak bergembira.

Sisi lain dari sebuah perjalanan liburan, tentu saja tidak boleh melupakan bentuk dokumentasi. Gambar-gambar yang bisa ditangkap kamera, entah dari perangkat serius untuk kebutuhan itu ataupun melalui bonus dari gadget yang dimiliki. Sebagiannya, bisa dilihat di halaman lain yang memiliki fasilitas lebih mengasikkan untuk keperluan pemuatan gambar. Sebagian lainnya, tentu kusimpan sendiri, terlebih jika terdapat cacat dalam hasilnya.

Setelah ini, liburan kami akan kembali diisi dengan urusan pembenahan rumah yang semakin lama sebenarnya justru mengancam keberadaan kantor blogging-ku sampai terbentuk kembali tempat yang aman dan permanen. Hingga waktu itu tiba, kegiatan menulis ala kadarnya dan silaturahim dunia maya lainnya bisa tiba-tiba terhenti untuk alasan yang sangat jelas. Dan ketika kegiatan menulis itu nantinya akan harus menunggu waktunya, mungkin kami akan bersepeda saja keliling perumahan atau….entahlah apalagi. Sementara itu, kami akan menikmati dulu hari-hari tanpa bangun pagi ini. Hmmmmm…..