di suatu tempat, di suatu waktu………..

26 05 2009

 

Saya pikir, …….hanya sebuah bentuk bangunan bata. Yang sama saja dimana pun adanya atau bentuknya. Tempat berteduh, tempat pulang….dan melakukan apa saja. Nyawa, ada pada yang hidup dan bergerak. Maka begitulah bangunan bata itu menjadi tak berarti lagi ketika nyawa-nyawa yang tadinya disana lalu pergi. 

Saya kira……bukan hal sulit. Ketika niat itu ada dan semua terpasrahkan, maka segalanya menjadi mudah. Dunia fana, bangunan bata yang juga bisa ditemukan dimana pun…..mudah untuk ditinggalkan. Tidak sulit ketika dunia bukan pijakan kita.

Nyatanya saya tidak sepenuhnya benar. Apa yang saya pikir dan kira……..tak selalu seperti itu.
Di dalam bangunan itu, banyak sekali yang terjadi. Rumah itu menjadi hidup bersama nyawa-nyawa yang bergerak di dalamnya. Suka senang tawa dan airmata membasahi dinding-dindingnya dalam catatan yang tersembunyi. Jika saja dinding-dinding bata itu punya hati, maka catatannya juga akan sepanjang yang tersimpan dalam hatiku.

Disana……..saya tumbuh remaja dan menikmati keremajaan saya dengan segala warnanya. Menemukan cinta saya sambil masih juga menikmati siraman perhatian dari cinta yang tak pernah saya sambut. Bersama 60 buah durian sebagai saksi penentuan sikap saya tentang cinta mana yang akan saya bawa lena nanti.

Disana……. saya menikah dengan pertunjukan yang seolah terbesar tahun itu, …..melahirkan Ari dan Rayi…. membesarkan anak-anak itu tanpa pundak bapaknya. Tapi ada tangan-tangan ayah ibu menemani dengan segala pemahamannya yang tak seberapa tentang perubahan jiwa saya.

Dan tahun terus berjalan, ….Ari Rayi tumbuh di tempat lain namun rumah dinding bata kukuh ini sudah memberikan jejak sejarah yang dalam di hati mereka. Saat anak-anak ini meminta untuk datang lagi ke rumah ini, sekedar ingin melihat kekiniannya………yah, kami tidak pernah menangis. Tidak pernah ada gunanya menangisi dinding. Namun kelebat ingatan yang pernah ada sudah cukup membuat kami mengerti maknanya. Tenda, seremoni, tawa, canda, duka……….biar kami bawa bersama bentuknya yang dulu. 

Semoga, siapapun yang nantinya berdiam disana………….mampu memberikan nyawa yang rumah itu rindukan. Nyawa yang pernah kami berikan untuknya…….

 

Sunter.......kini yang kering.......

Sunter.......kini yang kering.......





Mirip Tapi Tak Sama

22 11 2008

Aminah tak bisa tidur nyenyak, bahkan hampir tak mampu memicingkan matanya. Dia terlalu gembira meski tak sampai membuat dirinya laksana akan meledak. Memang tidak sebombastis itu. Baginya, cukup saja dengan senyuman yang seolah tak mau lepas dari bibir.

Dia pernah melakukan ini. Mengumpulkan semua teman masa lalunya yang telah lama tak ditemui sama sekali. Mereka yang entah bagaimana masih ada sedikit singgungan di kesehariannya, tapi tidak dengan Aminah. Dan ketika dia mengumpulkan semua yang tercerai berai, maka seperti semut mengerumuni gula kumpulan itu membesar. Sekarang, hal itu diulanginya lagi untuk jenis kumpulannya yang lain. Dari kelompok lain teman masa lalunya.

Lagi, mereka yang dia kumpulkan pun telah pernah bertemu, bersinggungan dalam jumlah kecil. Entah bagaimana pula selalu Aminah tak terjangkau keberadaannya saat dulu. Seolah tersembunyikan oleh alam dan halimun, tak kasat mata. Ketika kini dia muncul, alam membantunya. Kelompok kecil menyatu dan membesar menjadi keriaan yang tak pernah ingin diakhiri. Dan begitulah mengapa senyumnya enggan pergi.

Membuka pintu rumahnya, menata duduknya, Aminah pun tercenung. Dua gumpalan, dua kelompok, dua kolam. Yang satu dengan kenakalan-kenakalan tersembunyi dan tak berani ditampilkan terang benderang. Lingkaran nilai dan norma yang sangat kental menyelubungi, nilai yang disetujui oleh dirinya juga. Yang selalu hadir di setiap waktu sujud tanpa boleh terlewatkan. Halal dan haram sangat jelas garisnya.

Yang lainnya, begitu jelas goresannya. Entah nakal entah diam bukan masalah. Mereka yang nakal meminta ruang bagi kenakalannya dengan tanpa pengajuan keberatan dari yang diam. Halal dan haram menjadi isi kepala masing-masing dan tak pernah menjadi perbincangan. Sebagian yang diam tak mencerca, dan tawa dibagi rata.

Lalu dimana Aminah? Dia ada di semuanya. Dia ada di tengah mereka. Dia pernah nakal tapi semua pun mengenal dia alim.  Dia mengikuti semuanya dan tak pernah mengingkari kenyataan masing-masing. Tak pernah membohongi hatinya untuk ya dan tidak. Dia tetap dengan gaya klasiknya, kuno, yang tak sungkan dibagi pada yang hampir tak mengenal akar. Dia juga kadang berteriak tentang nilai pada yang satu untuk mewujudkan diri sebagai manusia yang selalu ingin menjadi lebih baik. Tetapi dia tak ingin bersusah payah menyerukan apa-apa yang tak pernah menjadi masalah di satu bagian.

Aminah tersenyum. Dia mensyukuri semuanya, mengamini indahnya dua dunia yang mirip tapi tak sama. Dia menikmati keberadaannya di dalam keduanya. Dia mensyukuri kekunoannya. Dan dia berdoa untuk kelangsungan persahabatannya dengan semuanya…………..





Menilaiku……..

12 11 2008

Dulu, pernah kudengar sebuah bait. Terekam di ingatan. Tetaplah kau menjadi dirimu yang tak berubah bagi orang lain, bagaimanapun sinarmu menyala. Kini, ada banyak lagu terputar,” kamu nggak berubah yaa…” Padamu kubertanya, baikkah itu….

Di waktu-waktu diamku, kutelisik kalimat itu. Entah apa kerangka mereka yang harus kumengerti untuk bisa menilai baik atau buruk tetap dan berubah itu. Jika itu adalah kelamku, maka aku akan layu. Terpukul. Di ambang senja, mungkinkah bagiku untuk melepaskan kerak kelam yang tak disuka. Api di dada mungkin juga tak jelas nyala redupnya karena angin pasti meniadakannya dalam sekejap dan hanya catatan niatan yang ada.Yang ingin kudengar terucap hanya kalimat bersedia untuk menerima hingga kulampus.

Jika itu adalah sinarku, maka aku akan menunduk. Berucap syukur untuk keberkahan yang kumiliki. Berharap untuk terus begitu hingga kemanapun aku berada. Dan kenang aku seperti itu ketika kulampus.

Bicaraku pada hati……..seringkali sudah tak kukenali lagi tindak tanduk yang ada. Dulu aku tak mampu menggeleng, kini bahkan seringkali kulakukan meski ragu. Dulu aku tak mungkin menghapus nama, kini aku akan tegak berdiri dan melambaikan tangan selamat tinggal meski air mata membanjir. Dulu, aku tak pernah lelah menerima beban. Kini rasa lelah yang menggerogoti sulit untuk terobati dan membuatku berpaling wajah. Kekinian yang paling memukul dan kusesali. Kekinian yang ingin kusembuhkan tapi semuanya kupelajari juga dari partikel di sekitarku. Kekinianku, yang tak banyak disadari mereka yang menatapku.

Aku, juga sudah ada di masa kini. Laluku, kubawa untuk menyenangkan dirimu. Tapi sebagian kiniku menghitam ketika berkali kau tusuk jantungku.

Menilaiku dengan tombak, mungkin tak mengapa untuk mempertahankan sinar………..





Lidah dan Kata-katanya

2 08 2008

Duduk dengan segelas besar kopi di balkon, setelah sekian lama………mencoba melihat alam dengan segala perangainya. Aku masih bisa menatap sore yang perlahan datang merangkak dan menjauhkan mentari dari tahtanya di muka sana. Aku percaya, dia akan berganti dengan merahnya rembulan. Aku percaya, sang rembulan akan datang dengan ditemani para bintang. Atau, jika dia ingin menjadi soliter maka tak diajaknya serta mereka para bintang itu. Aku menatap.

Alam, masih bisa kupercaya. Segala rutinitasnya tak sulit untuk diramalkan kapan pagi dan malam akan menjumpaiku. Alam masih bisa kupercaya, meski kini kadang dia juga sering ingkar untuk janjinya membawa hujan atau matahari. Dan ketika ingkarnya ada, aku harus bertanya adakah dia berdosa sendiri, salah sendiri ? Tidakkah aku pernah mencederai hadirnya dia dengan segala kesenanganku sendiri dan mengabaikan alamku ? Aku harus banyak bertanya lagi pada diri.

Maka kini, aku juga cuma berdiam ketika berhadapan dengan makhluk. Alam yang tak berindra pun mampu menunjukkan dendam yang memaksa dia berkhianat, kenapa tidak dengan makhluk. Dia bermulut, bertangan kaki telinga dan juga berkekuasaan untuk menjangkau kemana pun. Apa yang kutulis, bisa ditulis ulang. Apa yang tersebutkan mulutku, bisa terucap kembali oleh mulut lain. Mulut lain dengan lidah lain, kosa katanya berbeda dengan kosa kataku. Mungkin barisan katanya lebih kaya dan lebih panjang. Dan telinga lain, juga memiliki bulu halus berbeda yang kuasa cengkeram suaranya tak sama.

Ketika apa yang kupendam sempat kusuarakan, maka dia tak pernah lagi menjadi pendaman. Tak ada lagi urusan pribadi. Tinggal aku harus menghitung waktu kapan suratkabar mungkin menerakannya di halaman muka. Salahkah mereka? Dalam nilaiku, mungkin itu dosa besar. Dalam keyakinan mereka yang mengabarkan pada dunia, semuanya adalah harta dunia gemerlap dan menarik hati. Jika demikian, bisa apa? Tak ada. Aku cuma memiliki sesal, pelajaran dan pemakluman. Lebih baik menyematkan salah itu pada dada sendiri ketimbang harus menempuh onak duri perlawanan yang tak ada guna. Menempatkan pendaman yang terburai itu sebagai sumbangsih kata saja pada dunia, tak kurang tak lebih. Amal jariah istilah sepelenya. Dan harus kuhadapi jalan terjal di muka sebagai bayarannya.

Kopi ini masih tersisa. Aku masih memandang sore yang berganti malam. Mengingat barisan kata yang semestinya tetap menjadi pendaman, namun kini terburai. Oleh lidahku sendiri. Kalau alam mampu berkhianat di masa kini, maka lidah sudah lebih berpengalaman melakukannya. Dan aku dengan kopiku, mempersiapkan itu sekarang. Tanpa perlu penyesalan kecuali mengerti naluriahnya. Aku mampu melakukannya. Aku tahu, banyak orang juga harus mampu melakukannya. Juga KAMU………kita yakini saja kepercayaan itu sebuah kemewahan tiada tara.





Fatime……temennye Amineh

23 07 2008

Sudah beberapa waktu mengalami keraguan untuk ikut keramaian pada subjek yang sama, hari ini akhirnya keputusan kuambil. Mengikuti jejak teman-teman yang berkasak kusuk dengan cara yang berbeda-beda, salah satunya si bapak senior itu.

Tapi…..ah begini saja……..tidak enak rasanya kalau mengeksklusifkan diri dengan sengaja. Lebih baik, kuutarakan saja kenangan yang bisa dibagi dengan lebih banyak orang. Pasti banyak juga yang memiliki kenangan tentang Bapak-Bapak PSP ini, entah bagaimana caranya. Buatku, mungkin saat mengenal mereka, aku belum menjadi bagian almamater tercinta, karena belumlah setua para senior. Cukup melihat di televisi, baru kemudian menjadi berbangga karena mereka ada di almamater.

Mengutip kenangan yang terbagi dengan seorang sahabat tentang gelaran tikar di lapangan rumput, kacang rebus, bajigur menemani sembari melirik kanan kiri mencari keberadaan pujaan hati,…..apakah akhir minggu ini akan terlaksana seperti itu juga ?





Juru Masak

10 06 2008

” Cinta itu datangnya dari perut….”

” Orang-orang tua dulu itu, memilih calon menantu untuk anak laki-lakinya dari melihat gadis-gadis yang sibuk di dapur waktu ada hajatan….”

” Kamu masak apa ? “, ” Kamu pinter masak ya? “,……….

Banyak sekali komentar seputar dapur yang bisa terdengar. Mungkin sekarang justru bisa terdengar begini,

” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …”

Ini persoalan perempuan. Sangat perempuan. Bisa dilakukan lelaki dengan lebih piawai jika berminat, tetapi hanya menjadi masalah besar bagi perempuan , bukan lelaki.  Lelaki tak memasak,  siapa peduli. Perempuan tak bisa memasak jadi: ” Oh ya? Ya sudah nggak apa-apa, nanti lama-lama pasti bisa “. Atau begini :”Maafkan saya tidak bisa memasak ” diucapkan seorang perempuan dan belum terdengar lelaki minta maaf untuk itu.

Yang pasti, tak pernah terbayang di benaknya akan menjadi seperti apa ketika tumbuh dewasa.  Baunya masih sangat bau kencur muda dan lebih senang berlarian kesana kemari dengan sebaya, tetapi suara keras ibu akan memanggil ketika beliau sibuk di dapur. Tak peduli banyak teman menunggu di luar dan terheran-heran, yang penting anak gadis semata wayangnya perlu mengikuti kursus gratis memasak  dengan terkontrol ketat. Sampai tanpa disadari, teringatlah ketika di satu waktu pikiran aneh mencuat begitu saja dan dia hadapi dengan rasa geli. Pikiran semacam ” jika anakku ulangtahun, maka semua hidangan ini harus bisa hadir dari tanganku. bisa nggak yaaaaaaa…..”

Bukan…….gadis kecil itu sekarang bukannya mewujud menjadi seorang pakar masakan. Bagaimana mungkin menjadi pakar jika resep-resep yang dia lihat setiap hari di milis hanya dilewati begitu saja untuk disetujui hanya agar anggotanya bisa membaca. Ya mungkin saja satu saat nanti membutuhkan aneka resep itu, maka pelariannya adalah pada arsip pesan yang sudah bertumpuk.

Tetapi yang mengherankan adalah ketika sebuah kata meluncur begitu saja,” Sudah, sini aku masakkan buat kalian …” Begitu percaya diri, dan begitu saja terbentuk niat untuk melakukannya. Dan tiba-tiba saja dalam waktu satu bulan itu sudah tertulis jadwal berapa kali dia harus belanja dan memasak dalam jumlah besar hingga berbilang ratus, meski bukan ratusan orang. Apakah jiwa ibunya sudah merasuk, ataukah hanya menampakkan garis keturunan? Dia sendiri bingung. Dia hanya tahu bahwa hatinya sangat senang suka ria bahagia ketika banyak orang menikmati dan menyukai racikan tangannya. Dia suka ketika tangannya menghasilkan sesuatu yang rapi dan tidak kacau, meski dia sendiri ragu apakah yang dikerjakan tangannya itu sama persis dengan kursus gratis yang diterima puluhan tahun lalu. Karenanya dia membuat kalimat penghiburan bahwa memasak tidak perlu undang-undang karena yang penting adalah penerimaan lidah.

Lihatlah…….dia, perempuan itu sedang menghitung. Menghitung kegiatan yang harus dia jalani dan membaginya dengan teliti kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan peralatan perangnya dan mengatur strategi. Dia tak ingin ada kesalahan, tak ingin tertinggal dunia luar yang berputar, tak ingin kecewa.

Apakah ini awal sebuah jalan hidup baru…………pikirannya sedang mempertanyakan.





Bicara “Ora Ilok” Dengan Aminah

19 03 2008

” Ora ilok ngono kuwi…..gak ilok koyok ngono iku…”

Apa itu? Yah……kata-kata itu seringkali terdengar dalam masa nafas yang lalu. Jauh ke belakang, tempat dimana hari-hari yang kini ada dirintis. Kalau kosa katanya tak tercatat dalam kamus besarmu, maka bisa kubisikkan saja bahwa itu berarti tidak baik seperti itu atau pamali. Maka, jika kalimat itu sudah mengudara, sebaiknya tak lagi dilakukan hal-hal yang akan memicu petuah berhamburan.

Ah ya…..aku bicara saja dengan Aminah, temanku yang telah lama tak kubicarakan. Mungkin dia lebih menguasai khasanah per- ora  ilok -an itu.

Begini, kata Aminah, sekali waktu kamu ingin menghirup nafas segar yang rasanya hanya ada di sebuah ambang pintu. Tentu apa yang dirangkai oleh keinginan menghirup nafas segar itu adalah kegiatan duduk, memeluk lutut mungkin, lalu sambil melihat lalu lalang meski hanya debu dan diiringi sejumlah lalu lintas cerita. Bisa terjadi memang, semua itu dilakukan seorang diri, yang artinya tentu jadi melamun melanglang jagad tak tentu arah dan berimajinasi apa saja. Maka apa yang terjadi saat itu jika lalu tertangkap sinar mata mereka yang lanjut usia, akan menerbitkan kalimat andalan tanpa penjelasan.

Memang, selalu tanpa penjelasan. Pernah kukatakan pada Aminah bahwa aku mempertanyakan sekali saja alasan ora ilok itu. Yang kusimpan hingga bertahun kemudian adalah pandangan tajam dan seolah aku telah mempertanyakan sebuah benda kepastian yang menjadi milik Gusti secara mutlak. Menjadi aib bagi seorang makhluk kecil mempertanyakan nasehat orangtua.

Aminah tersenyum. Dia memandang lurus, sebelum mengatakan, bahwa seharusnya memang aku telan saja kata-kata itu. Tidak akan rugi buatku menelan bulat-bulat wejangan itu, selain kehilangan kesenangan kecil semata untukmelakukan apa yang menjadi keinginanku saat itu. Sewaktu lalu usia makin merambat naik, banyak pemahaman baru memasuki celah pemikiran dan logika menemukan jalannya. Ambang pintu itu, adalah tempatnya lalu lalang siapa saja yang ingin lintas ruangan. Kemungkinan yang bisa terjadi jika aku duduk disana adalah aku terinjak, tertendang atau mungkin orang itu sendiri yang urung melintas dan lalu memberi perasaan bersalah telah mengganggu kepentingan orang lain untuk sekedar melangkah. Atau, aku mungkin akan membutuhkan sentuhan koin gobang dan balsam untuk mengusir angin penghuni ambang pintu yang merasuk ke tubuh karena tempatnya telah kujajah sedemikian rupa. Aminah tersenyum lagi dan berkata, ” kamu menemukan kebaikannya buatmu”.

Lalu kenapa logika itu tak diberikan lebih awal ketika aku bertanya? Ah ya……bodoh sekali. Jamanku dan Aminah kecil , semua nasehat kebanyakan adalah warisan. Apa yang ibu kami katakan, mungkin begitu juga yang beliau dapatkan sewaktu mereka kecil dulu dulu dan dulu sekali. Tak ada keinginan mengaransemen ulang nadanya agar terdengar lebih indah di telinga kami. Tak ada modifikasi. Semua diberikan dengan nada dasar yang sama, dipertahankan harmoninya dan caranya mungkin juga sudah dalam setelan default.

Dan bukan cuma tentang duduk di ambang pintu. Tapi ada banyak jenisnya, seperti menyapu harus selesai hingga masuk pengki agar suamiku tak brewok, habiskan makanan atau ayam tetangga mati dan dewi sri menangis, atau perempuan tak bersiul dan memasak tak sambil berkacak pinggang. ” Aminah. Aminah……..kita temukan nalarnya di usia kita yang sekarang ya “. Kami tertawa kecil, tapi cukup panjang sebelum melihat kekasih-kekasih kecil kami berlarian di sekitar.

Aku menerawang berdua dengannya melihat kaki-kaki kecil berlari. Satu tak ikut berlari, sibuk menelusuri jaring pertemanan dunia maya. Dunia ini bukan satu-satunya lagi, hingga ada yang kami sebut sebagai maya. Yang katanya maya ini, mampu membawa siapapun menghubungkan yang nyata disini dengan nyata lain di entah mana. Dan kemampuan menyelusupkan benak di alam maya itu mempunyai tuntutan nalar yang tak mungkin lagi diminta menelan semuanya secara bulat dan mentah.

Kami berpandangan. Menyadari sesuatu dan akhirnya kukatakan,” aku tak pernah memakai plot seperti yang dulu kuterima. Ora ilok itu tak pernah didengar anakku dari mulutku “. Aminah mengerti. ” Tapi nilai-nilainya tetap perlu disampaikan, Minah….” Lagi Aminah mengangguk.

Memang, bukan keberadaan yang maya yang meniadakan ora ilok dengan sadar dari khasanah percakapanku dengan kekasih-kekasih kecil itu.  Semata, hanya alam bawah sadarku yang menolak untuk dipandangi dengan heran oleh mereka ketika sebuah  alasan tak mampu kuberikan. Alasan yang kutahu dengan benar logikanya. Alasan yang ketika kuutarakan sebagai jawaban pertanyaan mereka, akan langsung membuat kata ora ilok itu tak relevan lagi dan seharusnya hanya menjadi tak baik.

Ketika Aminah berujar kemudian,” kamu tahu……ketika kamu berikan  nasehatmu dengan bahasa yang bisa mereka terima dengan logikanya, kamu sudah menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan jawabannya secara nalar…..dan mereka menjadi kurang berlatih pikir karena disuapkan sesuatu yang mudah dicerna…..” , ngilu di ulu hatiku. Apakah aku salah lagi? Apakah aku membunuh, Aminah?

Sebaiknya kita berlibur saja……..dan nikmati empat hari yang indah ini.





Ceracau Pagi Untuk Membuat Kantuk Mau Pergi

28 02 2008

Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung karena sesekali masih menggerakkan tangan, mengusir nyamuk berdenging, memukul jika menggigit, atau menggaruk kalau sudah terlalu gatal. Artinya, diam ini tidak membuat hilang rasa dan kesadaran. Kopi, sudah lama habis selagi hangatnya masih ada. Jangan ditanya lagi tentang itu. Sekali waktu beranjak manakala perut bergolak tiba saatnya untuk dikosongkan. Dan duduk lagi disini.

Mungkin menunggu matahari. Memang tak bisa dipastikan munculnya akhir-akhir ini, meski tidak terlalu sering lagi menghilang. Kalau coba-coba pekerjaan tak waras, aku menebak saja perasaan matahari. Mungkin, dia sedang malas. Mungkin, dia sedang bosan dengan apa yang sudah ribuan masa dia jalani. Melanggar takdir sebenarnya, tapi apakah tak boleh merasa begitu. Dan, mungkin juga sedang menikmati sebuah kesenangan baru. Makin jauh menebak-nebak, aku jadi geli sendiri. Memang tak waras. Semuanya jadi kedengaran seperti aku. Bukan matahari. Ini bukti saja tentang kediaman yang tak bermakna tadi.

Lalu, hal yang pasti terjadi  ketika diam seperti ini terlalu berlarut adalah saat semuanya menjadi rumit. Terbang pada masa hijau dulu, dimana banyak nilai berusaha dicekokkan dalam kepala. Nilai tentang kehidupan manusia Jawa, nilai tentang keberadaan diri dengan prinsip. Belum lagi nilai tentang sebuah kehormatan, sebagai pribadi, sebagai perempuan, sebagai peran apapun yang diinginkan untuk diwujudkan. Teguh yang lentur, kuat yang luwes. Mengertikah ?

Menerima apa yang ada disini hari ini, menelisik awal mula dan perjalanannya untuk menjadi begini,  aku tak tahu apakah banyak kepala yang senang melakukannya. Tidak mungkin tidak ada. Tapi seberapa sering, itu yang membuatnya berbeda. Dalam waktu-waktu menelisik begini, satu dua helaan nafas terbit juga ide tentang reinkarnasi. Dan seperti khayalan seorang penulis fiksi, ide itu bisa begitu jauh berbeda dengan yang ada sebagai kenyataan. Terbentuklah sebuah pertanyaan, adakah itu ide seorang manusia, atau manusia yang penulis, yang seniman, atau semua manusia adalah seniman. Terlalu jauh kelananya dari yang ada hari ini. Lalu apa? Oh ya……mestinya diingat juga apa dan siapa saja berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian.

Kopi tadi mungkin meracuni hingga semuanya makin rumit. Gelas kedua ini isinya cuma madu dan kayumanis, hangat dan  membangkitkan semangat. Dan kelana yang lahir dari sana adalah pertanyaan-pertanyaan. Berapa kali aku ingin dilahirkan, dimana, masa yang mana, rupa seperti apa. Yang terakhir adalah pertanyaan, apakah itu melanggar takdir sendiri dengan banyak bertanya yang tidak mungkin terjadi ?

Tegukan besar madu dan kayumanis. Apa bedanya dengan kopi tadi jika kelana yang ada jadi menyesatkan. Setidaknya, bisa jadi menyesatkan buat yang lain. Buatku sendiri aku sungguh merasa ada dalam rumah batin dan akal pengembaraan yang mengasikkan. Enak dan nikmat seperti ramuanku tentang kopi lalu madu dan kayumanis.

Ada kalanya aku tak mengerti apa yang diucapkan teman cakapku. Apa yang kulakukan hanyalah menikmati setiap katanya. Memasukkannya dalam kepala dan  menyimpannya dalam relung hati. Pasti disana akan ada satu mesin yang membuat  bisa memahami. Pada akhirnya. Pada waktu yang tepat. Pada saat bagian dalam diri menyatakan mau memahami, sekecil apapun kemauan itu. Dan yang dibutuhkan hanya ketenangan.





Dari Sudut Sepi Sebuah Rumah

23 11 2007
Menikmati sudut dunia tersendiri dalam satu ruang untuk berlari. Menepi. Menelisik. Sendiri. Menjadi diri sendiri. Sekadar melakukan periksa langkah, periksa pikir, sudah belum atau ingin digapai. Lucu dan aneh.

Teringat cerita Aminah, manakala dia sebagai Aminah kencur pernah membisikkan,” aku ingin jam tangan manis bertali kulit”. Bisikan yang hanya terdengar hati dan Gustinya, tapi terwujud di pergelangannya dalam hitungan hari. Bukan main ! Matanya katanya, memandang ke atas tak bertepi dan merasa begitu dekat dengan Gustinya. Selalu ke atas, karena disanalah pikirnya Gustinya itu berada.

Dimensi waktu tahun-tahun kemudian, ia mulai mengenal cinta. Bukan produser, bukan sutradara, diciptakannya sebuah film mimpi dalam angan. Film tentang ia dan cintanya, menikah dan memulai langkah kecil, dalam satu rumah sangat kecil, sederhana, kosong tanpa perabot. Lampu rumah temaram karena kemampuan yang juga kecil untuk membeli listrik. Langkah awal, rangkakan mungkin, sebelum menjadi yang lebih besar. Perempuan didikan Jawa, didekatkan pada susahnya dunia nyata, film mimpinya tak mungkin dimulai dari Hollywood. Nyatanya, film itu terproduksi sungguhan katanya…….lagi ia tengadah, tapi tertunduk lagi. Mulai mengerti rupanya, Gustinya tak selalu ada di singgasana di atas entah.

Satu kali ia pernah mempersilakan satu kakaknya membawa satu perempuan pengganti permaisuri yang mangkat. Mulutnya jelas pengucapannya, “Silakan….bawa saja jika mau”. Terbuka sangat dengan keinginan kakak. Tatkala kemudian bertemu dengan sang perempuan, ia malah tak mampu tersenyum. Tak punya kata untuk menyapa, bahkan untuk menjelaskan kenapanya. Yang dia tahu, rasanya sirene dalam dadanya meraung sangat kencang memekakkan telinga. Untuk apa, bahaya apa, sungguh tak tahu. Sirene yang membuat dia terdiam dan menjadi terdakwa karena tak mampu membuka kata. Meski Aminah sudah mengerti tak pernah ada singgasana di Atas sana, tapi menengadah selalu lebih mudah. Ia cuma mau bertanya tentang kenapa. Jawabannya dicicil seperti kredit tahunan. Perempuan tadi itu memasok rasa sakit, membuat ayah ibunya selalu menghela nafas panjang, dan kakaknya tertoreh-toreh luka. Aminah cuma membatin, ooh……it works…..sirene hati.

Aku dengar Aminah itu berkata dia pelihara yang dia punya. Yang “it works” tadi. Katanya selalu dijaganya supaya tak berkarat. Dia nyalakan saat ingin tahu sudut mana nyaman untuk ditempati, atau kemana dia seharusnya tak melangkah. Masalahnya, sulit baginya untuk membagi makna raungan itu. Seringkali dia juga jadi habis kosa kata sehingga banyak yang gelengkan kepala untuk penjelasan yang tak jelas abjadnya. Ya sudah, dia memang begitu adanya.

Lalu kenapa dia jadi gelisah sekarang? Aku dipaksanya membantu berpikir. Membantu meraba juga dengan hati. Ah, hati lagi….Katanya, dia jarang bersurat pada Gustinya lagi, tapi ingin bertandang ke tanahNya. Entah kapan. Lalu kalau tak sering bersurat, “Apa aku masih intim dengan Gustiku, ya?” Ia yang sering tengadah mempertanyakan itu, apa yang harus aku jawab. Dalam teoriku, bukan aku yang bisa menjawab kegelisahan dia. Lalu bagaimana?

Pada akhirnya aku memang tak menjawab, cuma berkalimat,

” Aminah, ……aku cuma menawarkanmu tempat di sudut sepi rumahku ini. Untuk berlari, untuk menepi, merasakan angin yang membawa tiap kabar, dan memeriksa sirenemu itu apakah masih berfungsi dengan baik…….seperti yang aku lakukan malam ini..”

Selamat berakhir pekan dan datang dengan kesegaran…….




Keterlaluan !!!!!!

3 11 2007



Ya ya…….semua ini keterlaluan rasanya. Mestinya aku tidak suka kalau sudah keterlaluan. Tapi kali ini,mmmm……..mungkin di bagian-bagian tertentu keterlaluannya sangat tidak apa-apa. Sangat mau untuk diterima. Sebab rasanya terlalu menyenangkan, terlalu indah, terlalu riuh, terlalu heboh dan semuanya gara-gara terlalu kangen. Waaaaah………kalau sudah soal kangen, siapa orangnya yang lalu tidak terkunyung-kunyung (alah, bahasa apa ini?).

Begini ceritanya :
Kemarin, tepat hari Jumat di tanggal 2 November 2007 jam 18.00 WIB, bertempat di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta, berkumpul lagi orang-orang yang sudah 18 tahun berpisah. Orang-orang dari satu sekolah negeri di tengah salah satu perkampungan di Kayumanis Jakarta Timur, namanya SMAN 31, khususnya angkatan 1989 . Ini hasil usaha kerja keras dari masing-masing lulusan tahun itu untuk melacak dan saling menjaga kontak personal satu sama lain. Lalu ketika masing-masing kontak itu dipertemukan dalam surat-surat elektronik, suasana riuh pun dimulai. Tolong dicatat, itu baru dalam ranah dunia maya. Bagaimana jika bertemu secara fisik? Ini dia……

Begitu bertemu tatap muka lagi pertama kali, jangan heran ada sapaan-sapaan semacam,” Masih inget gue nggak? ” . Atau,” Elo siapa ya? Sorry ya gue lupa”. Atau,” Gilaaaaa……sukses bener lo sekarang, sampe melebar begitu tuh badan !” Tapi ada juga yang dapat sapaan,” Elo si anu kan…..inget banget gue. Gak berubah sama sekali lo ya?” Percaya deh, yang mendapat sapaan seperti yang terakhir ini hanya segelintir orang saja. Karena setelah waktu pisah selama itu, masing-masing bekerja, menikah dan merasakan kebahagiaan keluarga sendiri, tentu saja sebagian besarnya sudah menjadi LEBIH. Lebih gemuk atau bahkan sangat gemuk, lebih segar, lebih terawat, lebih cantik atau lebih tampan. Hampir semuanya berubah dan membuat pangling. Dan tentu saja menjadi jauuuuuh lebih raaaamai dari apa yang ada di tataran maya saja. Dan acara yang katanya bernama Halal Bi Halal itu tidak tampak selayaknya Halal Bi Halal. Tidak ada kata selamat Idul Fitri apalagi ucapan mohon maaf lahir batin sempat terucap. Murni kekaguman dan takjub saling melihat lagi satu sama lain dan rasanya maaf untuk segala kesalahan itu otomatis ada.

Tempat pertemuan yang dirancang di sebuah rumah makan itu rencananya untuk memfasilitasi orang-orang kelaparan pulang kantor. Makan Malam Bersama. Nyatanya, meski hidangan sudah lama tersaji di meja, dan kursi-kursi tertata rapi untuk ditempati, tak ada yang tampak berminat untuk makan. Lapar hilang. Ayam Lemon, Cumi Goreng Tepung Pulau Dua yang krispi, Kailan Cah Daging Sapi, Udang Goreng Saos Mentega dan Ikan Gurame Asam Manis juga Asinan Dermaga, tak mampu mengalihkan perhatian. Hampir 40 orang yang ada hanya berdiri tak mau duduk dan sibuk bercerita dan terus saja bercerita. Tertawa. Merokok. Bercanda. Memotret. Menelepon mereka-mereka yang tak bisa hadir. Memindahkan satu telepon jaringan internasional ke Singapore tempat jeng Hany dan mas Iwan berada, pada berbagai telinga. Pindah tempat menyapa. Dan seperti anak TK saja akhirnya ada yang sampai harus berteriak mengingatkan untuk segera duduk dan makan. Wartawan ini sendiri, juga sampai tak mampu merasakan lagi apakah makanan-makanan yang dia persiapkan bersama koleganya itu enak yummy atau tidak. Tidak penting lagi soal rasa makanan. Ini bukan wisata kuliner. Sambil makan saja masih terus bercerita. Sesekali berdiri memotret. Tertawa lagi. Kadang meneriakkan sesuatu.

Lokasi pertemuan memang dipilih sebuah lokasi yang sangat nyaman untuk kehingar bingaran yang kita buat. Tempat itu sangat luas, di tengah danau, berangin segar dan memiliki live band. Yang terpenting dari semua itu, tak akan ada pengunjung yang merasa terganggu apalagi sampai keberatan dengan kehebohan yang terjadi dari kumpulan ini. Disana semua pengunjung berhak saling mengganggu dan diganggu dengan suara sebising apapun. Dan live band itu, tentu saja dimanfaatkan. Abdel dan Etykalis, segera bernyanyi di panggung itu. Tapi tak lama setelah mendapat applause meriah dari kumpulannya, mereka berdua cuma menjadi suara nyanyian latar belakang saja. Mungkin tidak ada , setidaknya wartawan ini, yang ingat mereka berdua menyanyikan berapa lagu. Bahkan sampai lupa untuk menagih iuran dari masing-masing peserta HBH untuk keperluan kumpul-kumpul itu. Untung saja partnernya adalah orang yang memang terbiasa mengumpulkan sumbangan dari teman-teman. Maka partnernya itulah yang bergerak mengedarkan sebuah tenggok nasi dari bambu hingga terkumpul sejumlah uang yang cukup banyak. Dan undian door prize berbungkus kado dengan cap logo TPI. Ah, dia memang ibu yang baik.

Waktu makin malam, tak ada yang tampak ingin pulang. Foto bersama dengan banyak jepretan, banyak kamera. Bicara lagi. Tertawa lagi. Tak pernah sadar bahwa kali itu tempat berdiri saja sudah berpindah sangat di tengah, di muka panggung, dimana semua mata dengan mudahnya tertuju kesana. Harus ada yang memulai untuk mengakhiri keriuhan. Harus ada yang berani pamit. Atau restoran akan dengan senang hati mengusir kumpulan ini. Aaaaaarrggghhhh…………sulit untuk berhenti bicara! Sulit untuk berhenti mengungkapkan senangnya, hebohnya, dan…duh, keterlaluan ! Pokoknya keterlaluan. Sampai wartawan ini juga tak mampu menghasilkan foto yang berkualitas baik dan tak tahu lagi angle mana yang harus diabadikan. Keterlaluan !!!!

update : saking senengnya, hurufnya tercetak tebal dan besar semua dan menghasilkan komentar protes dari Amerika sana….(cepatnya dikau nak komen protes, Nek….)