KENANGAN

12 12 2008

Satu menit berlalu, maka semuanya menjadi kenangan. Mungkin sepanjang sisa umur kemudian, atau malah tak berarti. Kepastiannya, tak mungkin lagi dijumput sejangkau tangan mengacung. Atau sekeras niat mengkristal. Bahkan semesra rindu mendayu…..yang telah lalu maka berlayar sudah. Dan rindu hanya bisa menggantung sendu dalam halimun.

Waktu adalah maharaja absolut yang membentengi menit,jam,hari,minggu,bulan dan tahun yang berlalu. Terlalu keras dan disiplin hingga tak diijinkannya siapapun mengambil kembali bentuk-bentuk yang telah direnggutnya dari setiap yang terjadi. Ingin marah tak guna. Menyesali pun untuk apa. Mengulang keriaannya pun tak mungkin. Maka biarlah sang maharaja menyelesaikan tugasnya. Karena begitulah keadilan yang sesungguhnya dia ciptakan demi kekinian dan nanti.

Ketika yang berlalu adalah pedih perih dan mengumbar tangis, manusia seolah tak merasa perlu melirik lagi benteng waktu yang membentang. Ingin semua terbang tak bersisa bahkan tak setitik juga dalam gas. Entah mengapa, ketika benteng waktu itu membawa seruas saja suka bahagia tawa pesona…..benteng itu ingin dibuat runtuh berkeping. Hingga semua mencair dan diteguk rindu yang memabukkan. Sedang semua tak mungkin lagi. Udara menit ini berbeda dengan yang sudah lalu, mestinya suara tawa yang ada pun tak seirama lagi. Tak mungkin menjadi harmoni peri kerinduan.

Dan begitulah maharaja absolut itu berkata,”….maka biarkanlah…..dan tembuslah waktu di hadapan. benteng ini benteng kabut tipis. tapi kekuatannya tak satu menandingi. pandangi saja di kejauhanmu dan nikmati semua sari rasa yang tersisa. mungkin kamu temukan berlian jika tak kau sentuh yang pernah menjadi duri di nafasmu, dan kau hirup busuknya yang kini mewangi. mungkin menjadi pedang yang menusukmu, jika kau coba raih kilau emas yang telah lalu. karena kilau itu akan melalui ribuan mesin pengasah dan tetap tak mampu menempatkan dirinya dalam kekinian.”

Disini….tangan halus membelai . Menggamit dan menuntun….ini jalan kecil dan berliku penuh misteri. Tapi ini adalah jalan yang kini……….





Repot

26 10 2008

Seringkali terjadi. Ketika sang ayah selalu berada di luar rumah untuk bekerja, dan sang ibu berkutat di rumah. Yang satu berpikir keras mencari rejeki, merasakan kaki pegal menekan kopling di tengah jalan macet dan mungkin berdebat dengan orang lain tentang berkas-berkas. Yang di rumah berpikir keras tentang menu, noda pakaian dan hitungan hari yang harus dipenuhi oleh sisa gaji di tangan. Seorang ingin menghabiskan akhir pekan dengan berselonjor di depan televisi, dan memuaskan kantuk seharian. Seorang lagi ingin melihat kota dan carut marutnya meski macet tak mengenal akhir pekan.

Entah…..tapi berada di rumah terus menerus juga bukan hal yang indah meski bukan sesuatu yang tidak bisa dinikmati.  Ketika memiliki keleluasaan kapan ingin tidur, karaoke, memutar aneka film atau menikmati HBO, sulit untuk mengatakan semua itu bukan kenyamanan. Tetapi ketika semua dijalani sepanajng tahun, percayalah bahwa dirimu akan sangat merindukan dunia luar bahkan yang tak cantik sekalipun.

Pada saat-saat begitulah, konflik mudah terjadi. Antara dia yang ingin mengatupkan mata membayar kelelahannya selama seminggu dan dia yang ingin menghirup debu jalanan membayar hutang pandangan pada tembok-tembok dingin. Ketika meletus, tak jarang salah satunya merasa perlu tampil bak seorang dewi sinetron dengan airmata bercucuran dan kalimat-kalimat menghiba. Dan lucu sekali ketika hal itu dilakukan oleh seorang wanita yang sesungguhnya memiliki badan tegap sehat sentausa laksana atlit. Dan lebih menggetarkan dada lagi sewaktu kemudian dia pergi ke balik tembok dan mampu meringis membaca sms kocak sahabatnya.

Bagaimana yang ingin mengatupkan mata tadi? Kadang dengan suksesnya dia lakukan apa yang menjadi impiannya. Artinya, memang hanya itu yang mampu dia lakukan dan dipahami benar oleh nyonya drama queennya. Tetapi dia akan tidak tahan ketika mendengar kalimat,” tidakkah kasihan denganku yang hanya menjadi penunggu setia bla bla………” Sandiwara adalah sandiwara. Bukan bertujuan menipu, tetapi mungkin memanipulasi sedemikian rupa sebuah kebutuhan sehingga menjadi terkesan begitu penting dan darurat. Setelahnya, semua diperbaiki dengan sebuah doa terimakasih untuk segala nikmat yang tak mungkin didustai lagi.Yang terpenting sebuah pemahaman diperoleh, meski harus diremix lagi di lain kesempatan. Dan pemahaman ini juga bukannya tidak penting mengingat semuanya membutuhkan keseimbangan.

Keesokan harinya, segalanya akan berjalan tanpa hambatan. Ganjalan tak perlu dipersoalkan karena tidak semua perlu dijabarkan panjang lebar. Selama pengertian selalu ada dan komunikasi berjalan entah bagaimanapun caranya, bisa diharapkan untuk menemui akhir yang memuaskan. Dan pada titik ini, silakan kembali pada resep-resep baru yang menantang kemampuan dan ketrampilan tangan, jendela-jendela sapaan yang bisa ditunggui atau ditinggal hilir mudik menyelesaikan aneka pernik. Dan belajar kembali hal baru yang bisa dilakukan atau disaksikan dari mana saja sebelum rodanya berputar kembali pada fase sandiwara episode berikutnya.

Bagaimana dengan anda : mana yang lebih menarik dari semua hal yang ditawarkan untuk dilakukan pada tiap akhir pekan?





Perjalanan Untuk Sujud

22 09 2008

Perasaan apa ini namanya, aku tidak bisa merumuskan. Sebentar ingin duduk disini, sebentar kemudian menyesali dan merasa semuanya hanya membuang waktu percuma. Turun kembali memandangi layar televisi, mengganti semua saluran. Cuma berharap ada sesuatu yang menarik hati hingga membuatku jenak duduk menyimak, tapi lalu berakhir di keluhan.

Aku memilih untuk menatap pada koper-koper di atas lemari. Yaah…mungkin semuanya berasal dari sana. Ada kesadaran bahwa dalam hitungan hari, tanganku akan menggapai koper-koper itu untuk diisi lipatan-lipatan pakaian.
Tujuannya sudah jelas setiap tahun, hanya ada satu rumah tempat berhenti. Kegiatannya sudah tergambar karena tak akan banyak perubahan. Tidak antusias? Tidak juga. Bergairah? Tidak juga. Membingungkan sekali. Ingin di rumah saja juga tidak.

Perlahan, aku bisa menyimpulkan. Perjalanan panjangnya yang sungguh kurindukan. Persiapannya. Dan gembar-gembornya semakin mengilik relung hati bahwa perjalanan panjang ke kampung halaman itu harus terjadi. Bagaimana membuat kopi di waktu yang tepat sebagai bekal perjalanan, memperkirakan waktu yang nyaman untuk mulai meninggalkan rumah, mengucapkan pamit pada kerabat untuk perpisahan beberapa waktu, mengingatkan para kekasih kecil dan bapaknya tentang apa yang tak boleh terlupa. Kesibukan yang benar ada dan yang hanya dibuat sibuk sendiri. Mengikuti arus sekian ribu orang dan tak ingin tertinggal dalam cerita.

Aku tak nyenyak lagi tidur. Aku tak ingin lagi ke dapur dan membuat hidangan lezat. Aku ingin ini dan itu. Dan aku hanya perempuan yang selalu memenuhi benaknya dengan hal-hal yang tak ingin kupikir tetapi tetap saja terpikir. Aku menjadi ingin sekali mendermakan kata-kata karena tiba-tiba menjadi sangat penuh kata-kata. Menggamit banyak orang untuk diajak bicara meski akhirnya pembicaraan itu sangat tidak penting. Semuanya cuma sekedar untuk meluapkan rasa, antara suka senang dan galau.
Karena ayah ibuku diam disini…….dan aku rindu untuk menemani mereka menggelar sajadah bersama di Hari Besar dan mencium lutut mereka sepenuh hati.

Ayah ibu……anakmu tak akan lama pergi, sujudku mungkin tertunda…….dan terimakasih untuk berjuta rasa mengertimu………….





Mencari Kata Bersuara

25 08 2008

Ada sesuatu hal yang membuatku menjadi gelisah, gamang, ….menyita pemikiran. Dalam kisaran waktu dua tahunan mencumbui internet, masih saja aku mengaduk-aduk isi kepala dengan berbagai pertanyaan selayaknya orang yang takjub akan kebaruan. Masih membahas dengan diri sendiri tentang apa yang ada disini. Masih sering menggelengkan kepala.

Sesuatu tampaknya menggerogoti diri. Kemauan untuk berlisan, yang semakin hari semakin memudar. Dan keakraban dengan huruf yang makin menjadi. Ketika aku sanggup menerbitkan gagasan cemerlang untuk menimbulkan keriaan dari masa lalu, pangkal tolaknya adalah juga disana. Barisan huruf dan kontak. Permasalahan yang kemudian timbul di dalamnya, terselesaikan juga dengan huruf. Menata hati lebih baik untuk bisa menghasilkan isi ungkapan yang bermakna dan minim emosi. Jika kemudian harus bertemu? Tampaknya masalah lalu hilang dan tidak nyata karena tak satu katapun terucap untuk membuat segalanya lebih baik. Hanya senyum dan mimik muka yang kemudian mengartikan sebuah jawaban,” Lupakan saja…”

Berkutat di dalam dinding-dinding ini seorang diri, menghadapi panas api dan segala peralatan elektronika pengusir jenuh. Kabel telepon tidak lagi menarik minat karena tak mampu kutulis huruf disana. Mungkin satu yang kutakut ketika harus bercakap, aku habis kata sedang wajahku tak bisa terbaca. Akankah kubiarkan hening menjalar di arus itu?

Bukan aku tak mau berkata. Tapi satu hal yang tak bisa kulakukan, aku tak pandai merangkai kata manis. Hanya kepada mereka yang mampu menangkap lugaskulah lidah ini suka menari. Jika dulu aku sedih, kini aku masygul. Ngeri dengan kecenderungan yang makin mengentalkan diam ini.

Apakah memang begini sifat dunia kata ini? Mestinya juga tidak, ketika kita memiliki hal lain yang membuat kaki melangkah keluar sana. Mestinya tidak, ketika kita memiliki kebijaksanaan untuk memilah hal yang mengancam kemanusiaan kita dari hal lain yang menutupinya dengan dunia. Mestinya juga tidak, karena kusaksikan banyak celoteh masih terlontar dengan bebas, dan aku akupun masih senang menemui sesama.

Tapi apa yang kurasakan menggerogoti dan membuatku sedikit menjauh ini mungkin sebuah pertanda. Ketika aku  menyadari  harus menciptakan lagi hal lain. Memikirkan lagi kegiatan lain yang tidak membuatku terlalu intim dengan huruf saja. Mungkin ini saatnya kakiku melangkah lagi di pintu yang lain, yang mampu mengusir kegundahanku akan kesendirian. Dan membuatku berkata-kata dalam suara lagi, bukan hanya bersembunyi di belantara huruf.





Lidah dan Kata-katanya

2 08 2008

Duduk dengan segelas besar kopi di balkon, setelah sekian lama………mencoba melihat alam dengan segala perangainya. Aku masih bisa menatap sore yang perlahan datang merangkak dan menjauhkan mentari dari tahtanya di muka sana. Aku percaya, dia akan berganti dengan merahnya rembulan. Aku percaya, sang rembulan akan datang dengan ditemani para bintang. Atau, jika dia ingin menjadi soliter maka tak diajaknya serta mereka para bintang itu. Aku menatap.

Alam, masih bisa kupercaya. Segala rutinitasnya tak sulit untuk diramalkan kapan pagi dan malam akan menjumpaiku. Alam masih bisa kupercaya, meski kini kadang dia juga sering ingkar untuk janjinya membawa hujan atau matahari. Dan ketika ingkarnya ada, aku harus bertanya adakah dia berdosa sendiri, salah sendiri ? Tidakkah aku pernah mencederai hadirnya dia dengan segala kesenanganku sendiri dan mengabaikan alamku ? Aku harus banyak bertanya lagi pada diri.

Maka kini, aku juga cuma berdiam ketika berhadapan dengan makhluk. Alam yang tak berindra pun mampu menunjukkan dendam yang memaksa dia berkhianat, kenapa tidak dengan makhluk. Dia bermulut, bertangan kaki telinga dan juga berkekuasaan untuk menjangkau kemana pun. Apa yang kutulis, bisa ditulis ulang. Apa yang tersebutkan mulutku, bisa terucap kembali oleh mulut lain. Mulut lain dengan lidah lain, kosa katanya berbeda dengan kosa kataku. Mungkin barisan katanya lebih kaya dan lebih panjang. Dan telinga lain, juga memiliki bulu halus berbeda yang kuasa cengkeram suaranya tak sama.

Ketika apa yang kupendam sempat kusuarakan, maka dia tak pernah lagi menjadi pendaman. Tak ada lagi urusan pribadi. Tinggal aku harus menghitung waktu kapan suratkabar mungkin menerakannya di halaman muka. Salahkah mereka? Dalam nilaiku, mungkin itu dosa besar. Dalam keyakinan mereka yang mengabarkan pada dunia, semuanya adalah harta dunia gemerlap dan menarik hati. Jika demikian, bisa apa? Tak ada. Aku cuma memiliki sesal, pelajaran dan pemakluman. Lebih baik menyematkan salah itu pada dada sendiri ketimbang harus menempuh onak duri perlawanan yang tak ada guna. Menempatkan pendaman yang terburai itu sebagai sumbangsih kata saja pada dunia, tak kurang tak lebih. Amal jariah istilah sepelenya. Dan harus kuhadapi jalan terjal di muka sebagai bayarannya.

Kopi ini masih tersisa. Aku masih memandang sore yang berganti malam. Mengingat barisan kata yang semestinya tetap menjadi pendaman, namun kini terburai. Oleh lidahku sendiri. Kalau alam mampu berkhianat di masa kini, maka lidah sudah lebih berpengalaman melakukannya. Dan aku dengan kopiku, mempersiapkan itu sekarang. Tanpa perlu penyesalan kecuali mengerti naluriahnya. Aku mampu melakukannya. Aku tahu, banyak orang juga harus mampu melakukannya. Juga KAMU………kita yakini saja kepercayaan itu sebuah kemewahan tiada tara.





Memaksa atau Berlari Menjauh

21 07 2008

Sejak dulu aku termasuk orang yang tidak percaya bahwa ketika sebuah hubungan dalam kondisi yang kurang baik maka diperlukan tindakan mengambil jarak dari hubungan itu untuk perenungan. Aku tidak percaya teori itu. Bukan menyalahkan mereka yang mempercayai teori itu, tetapi ini adalah soal kepercayaan saja. Dalam logika dan perasaan yang berlaku di diriku, justru hal sebaliknya yang terjadi. Ketika mereka yang sedang bermasalah lalu mengambil jarak dengan hubungan itu sendiri, mundur sejenak atau apapun namanya, apa yang kemudian terjadi? Pasti rasa nyaman. Nyaman karena katanya tidak terlibat lagi dalam konflik yang mungkin terjadi hampir tiap waktu. Nyaman karena dalam keadaan kesal hati, tak perlu lagi melihat wajah yang menimbulkan rasa sebal di hati. Nyaman karena untuk beberapa saat, dunia terasa sangat tenang.Ketika nyaman, jalan arah mana yang begitu memanggil untuk disusuri, berbalik atau pergi makin jauh……

Aku lebih mempercayai kedekatan fisik mampu mengalahkan kegalauan hati terhadap sebuah hubungan. Betul sebal itu lebih merajai. Betul jengkel itu menutup rasa ingin memahami. Tapi hati punya lelah. Lelah untuk terus merasa sebal hingga memilih tak berkomentar. Lalu amarah menjadi tak ada lagi, tak punya rasa, tapi lebih siap bicara. Ini teori ? Mungkin benar teori, tapi datang dari pengalaman. Dan melihat para selebriti yang dalihnya ingin menjauh untuk merenung, namun akhirnya malah berlari makin jauh. Yang aku tahu, kemarahan dan keengganan harus dibunuh dengan kasih sayang kecuali kita memang tak ingin lagi atau menilai hubungan itu tak berarti banyak untuk kehidupan.

Aku…..sedang dalam keinginan untuk membunuh dengan kasih sayang. Membunuh sebuah keengganan, membunuh kata perceraian terhadap sebuah hubungan. Dengan kasih sayang yang saat ini masih dalam rasa dipaksakan. Awalnya pasti begitu, sedikit memaksakan diri. Berbeda dengan ketika dulu baru jatuh cinta. Cinta yang dituangkan berlebihan hingga jenuh dan terlalu membebani. Hingga sesaat tak ingin kembali dan terpikir untuk berlari menjauh .

Hubunganku dengan dunia blog. Oh hohohohoho…………..pasti tadi banyak yang sudah salah sangka.

Tapi betul, jika tak kupaksakan diri hadir disini, aku mungkin akan semakin menjauh. Terlalu nyaman sudah dengan jarak yang tercipta di hari lalu.  Dan tiba-tiba, aku sadari bahwa kehadiran di dalam tulisan, milikku atau milik siapapun, adalah sebuah hubungan. Memerlukan kasih sayang untuk mempertahankan, dan memerlukan cinta yang lebih untuk mampu membunuh rasa enggan. Tak ingin kupertanyakan dulu jiwa yang kubawa ke dalamnya, karena menancapkan cinta untuk membunuh dan menggantikan enggan itu adalah sebuah energi tak terlukiskan. Dan disinilah aku dengan energi itu. Memang rumit sekali, memandang sebuah blog laksana sebuah hubungan antarmanusia. Tetapi aku akan sangat tak pandai jika mengira barisan tulisan yang merajalela di ranah ini tak mengenal kemanusiaan. Lagipula, mestinya tak mengapa menjadi rumit jika nanti kutemukan permata.

Perlahan saja……..biar kuselingi dengan nyanyian meski tak merdu…..biar kusaingi para tetangga yang juga sedang bernyanyi, jangan sampai dia menyanyi lebih fals dariku……..lho?





Mengurai

9 06 2008

Perasaan yang tidak terlalu terkejut dan seolah sebuah letupan kecil yang ditunggu untuk muncul manakala sebuah tanya datang. ” Hidupmu kok berada di sekitar rumah sakit? “

Melemparkan ingatan dalam perjalanan setahun terakhir, bau rumah sakit memang menjadi cukup akrab di cuping hidung ini. Keberadaan gedung yang di masa kini sudah sangat diramahkan penampakannya dengan menyerupai hotel kelas atas tetap tidak membuat perasaan menjadi lebih nyaman. Tak ada yang mampu menipu sebentuk rasa untuk mengatakan nikmat, ketika dunia yang berputar di dalamnya berdekatan dengan bentuk rasa pedih perih sakit yang lebih suka ditolak daripada diterima. Apalagi di penghujung hari berikutnya, kekalahanlah yang mesti tergenggam erat.

Jangankan harus berbilang-bilang,…. Satu saja pun, sebuah kekalahan menggenggam nyawa bukan rasa yang mudah diterima. Dan pasti tak kan pernah hilang. Dan di sini aku berdiri menggenggam dua. Melayang, karena memang harus lepas. Ikhlas ? Mungkin, begitulah iman yang terberi. Terima ? Sebuah keharusan. Sakit ? Pastikanlah itu ada dan tak bisa kutemukan cairan pembersih hebat yang mampu menghilangkan nodanya dalam dada.

Sebentuk tawa bisa ditemukan dalam hari-hari yang berjalan kemudian. Tidak usahlah dihitung bahwa waktu baru saja bangkit. Belum jauh berjalan dari tanah merah, dan kini bisa tertawa. Mengapa ada tawa, karena kembangan bibir yang membentuknya memang harus ada untuk sebuah selingan. Karena ketika bibir mengatup kembali biasanya membawa bening air di sudut mata. Maka senyum dan tawa harus terhadirkan sebagai dessert di akhir santapan yang begitu saja terhidang. Dimasak begitu sempurna oleh juru masak kehidupan yang tak tertandingi dan harus disantap dengan kelahapan yang biasa agar pertumbuhan batin semakin matang.

Detik waktu masih terus berlalu ketika kakiku sejenak berhenti berlari untuk menatap jalan yang harus ditapaki. Mencoba menatap jalan kehidupan itu dengan mata yang bukan milik diri. Maka pertanyaan seperti tadi sangat wajar ada. Mungkin bahkan ada pertanyaan yang lebih terang,” Banyak sekali masalahmu? ” Entahlah, batin ini justru tak merasakan segala yang berputar sebagai masalah. Hanya keharusan untuk menghadapi saja dengan kebaikan.

Pikiran memang sedikit membeku. Biar saja, aku menikmati. Tak ingin memaksanya bekerja selain mencerna dengan perlahan. Melepaskan diri dari lelah yang terlalu, tidak tahu kapan akhirnya. Memakan semua emosi hingga habis dan tak menyisakan kemampuan untuk mencecap rangsangan yang dulu selalu mampu menghadirkan barisan kata. Emosi kini hanya satu yang hadir dengan nada monoton. Mrongkol.

Aku ingin menguraikan semuanya…………





Sempurnanya Manusia Itu…..

13 05 2008

Aku memulai keisenganku pagi ini. Mencari yang tak perlu dicari, memikirkan atau terpikir sesuatu yang tidak perlu dipikir. Di tengah rutinitas keseharian dalam peran menjadi nyonya dan ibu. Aku memikirkan tentang sifat atau watak. Apakah watak itu menetap dengan memilih jenis kelamin? Rasanya tidak.

Katanya, entah siapa yang pernah berkata-kata hingga dipercaya banyak orang, wataknya manusia perempuan itu teliti, cerewet, sensitif, suka memperpanjang dan mendramitisir masalah, membuat yang sederhana jadi tidak sederhana, dan hampir semua yang kesannya rumit. Laki-laki ? Katanya sih sebaliknya. Makanya selalu terjadi perdebatan ringan, lucu, santai tapi juga menjurus emosional bahwa yang satu tidak mengerti yang satunya lagi.

Ada teman yang bisa begitu resah menunggui putranya akan dikhitan, sedangkan dia dulunya adalah subyek yang mengalami perlakuan dukun khitan. Aku tak pernah mengerti lika liku persoalan itu selain garis besarnya saja, dan dua kekasih kecil yang lahir dari rahimku harus khitan. Untuk kamu tahu, aku sontak heran ketika teringat tak ada rasa resah di dada ketika pengalaman pertama pada sulungku terjadi. Aku tak sensitif ? Tuhan saja yang tahu benar tidaknya.

Teman lain laki-laki begitu sibuknya membuat tulisan penuh emosi hanya karena merasa wewenang kecilnya terlangkahi, katanya. Aku dan satu teman perempuan, yang lebih banyak merasa dilangkahi wewenang kerja kami justru oleh teman laki-laki tadi, bingung setengah mati. Caranya teman lelaki tadi meluapkan emosi, sangat perempuan. Akhirnya, teman perempuanku tadi mengucapkan kata maaf tapi tetap tak mengerti bagaimana yang lelaki itu bisa begitu perempuan. Aku ? Karena sabar sudah tak punya lagi maka memutuskan lebih enak mengungkapkan fakta-fakta apa yang disebut langkah melangkahi dalam sebuah komunitas, dengan gaya yang lebih lelaki dan membuatnya diam.

Ada lelaki yang lebih teliti merawat barang miliknya sedangkan perempuan yang bahkan tak mengerti apa tugas perempuan di rumah juga tak sedikit. Ada banyak contoh ketidaksesuaian watak dengan sang pemilik raga. Apa yang menjadi masalah ?

Angin yang sempat membisikiku membawa pendapatnya sendiri. Yang kudengar dari bait-baitnya adalah perkara nilai yang tertanamkan dalam benak tiap kepala, manusia lain yang berlari di sekitar, halaman-halaman hidup yang pernah dibuka dan ramuan dasar yang terbentuk sendiri sebagai wadah tampung segala bekal. Sedang aku sendiri memandang betapa sempurnanya manusia dengan segala sisi hitam putihnya dalam satu raga. Tak perlu disangkal, hanya perlu diasah dan terarah baik kemana akan melesat. Dan dengan segala yang bisa terjadi pada tubuh sedari bayi yang menangis tak mengerti aksara, mungkinkah segala perlekatan itu memilah dan memilih lebih dulu tentang jenis kelamin. Yang ada hanyalah sebentuk manusia saja.

Maka, kalaulah manusia itu menjadi tidak sempurna karena sisi tak populer dalam raganya, buatku betapa sempurnanya manusia dengan segala ketidaksempurnaannya. Lengkap !





Istirahat Me-nyastra Demi Cinta

24 02 2008

Bukan…..aku bukan sedang tak berkelana alam pikir dan khayalku. Karena rasanya memang tak mungkin berhenti untuk mengkhayalkan barisan kalimat yang entah berarti entah tidak itu. Meski untuk kemudian menuliskan hasil khayalan itu persoalannya sudah sampai pada pilihan sreg atau tidak sreg, pantas atau tidak pantas, berharga atau tidak. Tapi hari ini, ibaratnya yang aku lakukan hanyalah meregangkan badan sesaat.

Aku ingin bicara tentang satu ungkapan, ” gila ya lo mpok……..kalau sudah cinta itu bisa sampai segitunya ! ” Kata segitunya, bolehlah aku sebutkan bahwasanya itu menyangkut pemikiran tentang rasa yang sangat, setia, penuh darah dan airmata dan dalam mataku bisa seolah mendatangkan hujan gerimis hingga deras yang kuciptakan sendiri. Dan pagi ini, khayalku berkelana ke daerah itu……..daerah dengan cinta yang besar tapi absurd karena tak ada haru selain hanya tawa.

Aku bicara tentang cinta pada sosok berpribadi tenang. Diam, tidak petakilan. Bukan tak ramah, tapi hanya tak begitu mudah mengucap ‘hello, apa kabar‘. Pemikirannya dalam. Tidak berotot besar ala terminator, meski siap saja terima tantangan. Sigap dan mengerti apa yang terjadi di kolong mobil, mengganti genteng bocor, mendalami lika liku kabel, tapi bukan tukang bangunan. Dan rapi bersih tanpa harus keluar masuk salon sekedar MANICURE !!

Khayalku kini berada di ambang merah, panas. Butuh gagang sapu untuk menenangkan kepala yang muncul menggoda hingga aku menjadi merah. Bukan, bukan marah. Masih beberapa level di bawah itu. Hanya tak mampu menerima bayangan tentang lelaki sederhana matang dan sangat lelaki harus menghabiskan beberapa jam dari waktunya hanya untuk membersihkan kuku. Karena yang ada bukanlah wajah yang kucinta tapi si madam.

Tapi tak mengapa………..karena yang mengatakan demikian mungkin memerlukan terapi demi memperbaiki segala material tubuhnya yang memang tak pernah akan mendapat health award. Dan meski dia juga menampilkan wajah bulat merah, mungkin dia masih lega karena toh pernah menghasilkan keturunan aneh, sehingga bisa alpa membelaku.

Matahari, tak mengapa hari ini aku menyapamu dengan cara yang tak biasa. Karena aku ingin melakukan sesuatu demi cintaku. Meski aku harus beristirahat sejenak untuk bisa berkata-kata dalam bahasa yang berbeda.





Kata, Kalimat dan Semua Alasan Yang Membuatnya Ada

13 02 2008
Masaku bersekolah dulu, hal paling menyenangkan adalah saat memulai tahun ajaran baru. Dari sekian banyak hal yang bisa terjadi untuk menyenangkan hati, aku punya perhatian khusus pada buku tulis baru. Bersampul rapi dengan lapisan plastik, halaman-halaman bergaris dan masih kosong, putih bersih. Selalu saja aku tak sabar untuk memulai pelajaran, hanya demi alasan untuk bisa menulis. Dan setiap kali akan menggoreskan pena, dalam hatiku selalu seperti bersenandung sebuah doa. Niat tentang menulis dngan baik, bagus, indah dan bersih tanpa goresan kesalahan ataupun noda cat penghapus tinta.

Beranjak makin besar, mengenal tentang sastra rumit. Kerumitan yang tak pernah ingin dikenal seorang anak hanya agar otaknya tidak harus berkerut menghafal segala gurindam, jajaran penulis, prosa sonata maupun puisi. Aku bahkan tak pernah berhasil mendefinisikan dengan baik apa itu prosa. Tapi aku suka kata-kata indah. Aku suka menuangkan hati dalam tulisan. Kadang apa yang ingin dituangkan menjadi terlalu berlimpah hingga muncul kebingungan untuk merangkaikan kata dan kalimat yang tidak berloncatan kian kemari tak tentu arah. Kelak, hal begini kumaknai sendiri sebagai isi kepala yang terlalu berisik. Mungkin tak punya arti. Sangat bisa terjadi tak saling berhubungan. Dan makin membingungkan untuk dituangkan, tapi terlalu menyesaki otak untuk dibiarkan berkelana begitu saja dalam kepala. Saat itu, muncullah tulisan-tulisan norak yang berakhir di tong sampah.

Aku masih tertarik pada keindahan rangkaian kata, tapi tak berusaha lagi menulis. Lebih baik membaca karya-karya tulisan dan mengagumi kemampuan penulisnya untuk merangkaikan ide dengan huruf-huruf bermakna. Sekaligus menikmati kesempatan dimana aku tak lagi bermain petak umpet dengan ibuku; entah karena alasan yang katanya tak cukup umur untuk membaca sebuah novel, ataupun karena alasan tak mengerjakan cucian dan masakan dan urusan rumah tangga lainnya yang sudah wajib kukerjakan sejak masih tak bisa menyisir rambut sendiri. Dan ketika mulai merangkai kebersamaan dengan Uban tersayang, meski malu-malu namun sombong karena sudah punya pacar, kesenanganku mengagumi kemampuan seseorang dalam merangkai kata seperti mendapat bensin. Menjadikan sebuah karya sebagai ajang diskusi, dan alasan lain untuk menikmati masa pacaran kami.

Aku masih tidak mengerti tentang sastra. Hanya mengagumi saja keindahan kata dan kalimat. Mengenali ciri khas manusia yang merangkainya. Dan aku punya kesempatan untuk ikut serta dan mengulangi lagi masa dulu. Merangkai kata norak yang kunekadkan untuk tidak berakhir di tempat sampah, tapi biarlah yang membaca yang meludahi kalau tak suka. Aku punya ladang bercerita, meski aku masih sering mentertawakan sendiri ide yang muncul di kepala untuk dituliskan. Kalau ini yang terjadi, maka tertawa itulah penutupnya dan bukan publish. Akhirnya, aku hanya membaca semua tulisan. Dan menonton koleksi film yang bisa membuatku berkhayal, andaikan aku adalah si penceritanya.

Hari ini, aku ingin merangkai lagi huruf-huruf yang muncul tak jelas di belantara alam khayalku. Lagi-lagi, tak berhubungan satu sama lain. Tapi aku tak punya kesempatan untuk memolesnya agar lebih sedap didengarkan jika diucapkan. Maka beginilah caraku mengeluh. Mengeluh tentang tak adanya kesempatan, itu pasti. Mengeluh tentang keinginanku yang terlalu tinggi untuk bisa menjadi seseorang yang mampu menebarkan keindahan rangkaian kata dan kalimat, entah bermakna atau tidak. Mengeluh tentang kemampuan yang tak juga bertambah dalam menghasilkan sebuah tulisan. Dan mengeluh, karena keinginanku itu membuatku berpikir tak tentu arah, makin merasakan banyak hal dan makin tak bisa dilepaskan dari sarana yang ada untuk menuangkan semuanya. Akhirnya, aku jadi mengeluh karena membingungkan banyak orang dengan apa yang ada di sini.

Mungkin ini saatnya tertawa……untuk alasan apapun, yang tak lucu, yang ironis dan macam-macam.