Mengurai

9 06 2008

Perasaan yang tidak terlalu terkejut dan seolah sebuah letupan kecil yang ditunggu untuk muncul manakala sebuah tanya datang. ” Hidupmu kok berada di sekitar rumah sakit? “

Melemparkan ingatan dalam perjalanan setahun terakhir, bau rumah sakit memang menjadi cukup akrab di cuping hidung ini. Keberadaan gedung yang di masa kini sudah sangat diramahkan penampakannya dengan menyerupai hotel kelas atas tetap tidak membuat perasaan menjadi lebih nyaman. Tak ada yang mampu menipu sebentuk rasa untuk mengatakan nikmat, ketika dunia yang berputar di dalamnya berdekatan dengan bentuk rasa pedih perih sakit yang lebih suka ditolak daripada diterima. Apalagi di penghujung hari berikutnya, kekalahanlah yang mesti tergenggam erat.

Jangankan harus berbilang-bilang,…. Satu saja pun, sebuah kekalahan menggenggam nyawa bukan rasa yang mudah diterima. Dan pasti tak kan pernah hilang. Dan di sini aku berdiri menggenggam dua. Melayang, karena memang harus lepas. Ikhlas ? Mungkin, begitulah iman yang terberi. Terima ? Sebuah keharusan. Sakit ? Pastikanlah itu ada dan tak bisa kutemukan cairan pembersih hebat yang mampu menghilangkan nodanya dalam dada.

Sebentuk tawa bisa ditemukan dalam hari-hari yang berjalan kemudian. Tidak usahlah dihitung bahwa waktu baru saja bangkit. Belum jauh berjalan dari tanah merah, dan kini bisa tertawa. Mengapa ada tawa, karena kembangan bibir yang membentuknya memang harus ada untuk sebuah selingan. Karena ketika bibir mengatup kembali biasanya membawa bening air di sudut mata. Maka senyum dan tawa harus terhadirkan sebagai dessert di akhir santapan yang begitu saja terhidang. Dimasak begitu sempurna oleh juru masak kehidupan yang tak tertandingi dan harus disantap dengan kelahapan yang biasa agar pertumbuhan batin semakin matang.

Detik waktu masih terus berlalu ketika kakiku sejenak berhenti berlari untuk menatap jalan yang harus ditapaki. Mencoba menatap jalan kehidupan itu dengan mata yang bukan milik diri. Maka pertanyaan seperti tadi sangat wajar ada. Mungkin bahkan ada pertanyaan yang lebih terang,” Banyak sekali masalahmu? ” Entahlah, batin ini justru tak merasakan segala yang berputar sebagai masalah. Hanya keharusan untuk menghadapi saja dengan kebaikan.

Pikiran memang sedikit membeku. Biar saja, aku menikmati. Tak ingin memaksanya bekerja selain mencerna dengan perlahan. Melepaskan diri dari lelah yang terlalu, tidak tahu kapan akhirnya. Memakan semua emosi hingga habis dan tak menyisakan kemampuan untuk mencecap rangsangan yang dulu selalu mampu menghadirkan barisan kata. Emosi kini hanya satu yang hadir dengan nada monoton. Mrongkol.

Aku ingin menguraikan semuanya…………





Sempurnanya Manusia Itu…..

13 05 2008

Aku memulai keisenganku pagi ini. Mencari yang tak perlu dicari, memikirkan atau terpikir sesuatu yang tidak perlu dipikir. Di tengah rutinitas keseharian dalam peran menjadi nyonya dan ibu. Aku memikirkan tentang sifat atau watak. Apakah watak itu menetap dengan memilih jenis kelamin? Rasanya tidak.

Katanya, entah siapa yang pernah berkata-kata hingga dipercaya banyak orang, wataknya manusia perempuan itu teliti, cerewet, sensitif, suka memperpanjang dan mendramitisir masalah, membuat yang sederhana jadi tidak sederhana, dan hampir semua yang kesannya rumit. Laki-laki ? Katanya sih sebaliknya. Makanya selalu terjadi perdebatan ringan, lucu, santai tapi juga menjurus emosional bahwa yang satu tidak mengerti yang satunya lagi.

Ada teman yang bisa begitu resah menunggui putranya akan dikhitan, sedangkan dia dulunya adalah subyek yang mengalami perlakuan dukun khitan. Aku tak pernah mengerti lika liku persoalan itu selain garis besarnya saja, dan dua kekasih kecil yang lahir dari rahimku harus khitan. Untuk kamu tahu, aku sontak heran ketika teringat tak ada rasa resah di dada ketika pengalaman pertama pada sulungku terjadi. Aku tak sensitif ? Tuhan saja yang tahu benar tidaknya.

Teman lain laki-laki begitu sibuknya membuat tulisan penuh emosi hanya karena merasa wewenang kecilnya terlangkahi, katanya. Aku dan satu teman perempuan, yang lebih banyak merasa dilangkahi wewenang kerja kami justru oleh teman laki-laki tadi, bingung setengah mati. Caranya teman lelaki tadi meluapkan emosi, sangat perempuan. Akhirnya, teman perempuanku tadi mengucapkan kata maaf tapi tetap tak mengerti bagaimana yang lelaki itu bisa begitu perempuan. Aku ? Karena sabar sudah tak punya lagi maka memutuskan lebih enak mengungkapkan fakta-fakta apa yang disebut langkah melangkahi dalam sebuah komunitas, dengan gaya yang lebih lelaki dan membuatnya diam.

Ada lelaki yang lebih teliti merawat barang miliknya sedangkan perempuan yang bahkan tak mengerti apa tugas perempuan di rumah juga tak sedikit. Ada banyak contoh ketidaksesuaian watak dengan sang pemilik raga. Apa yang menjadi masalah ?

Angin yang sempat membisikiku membawa pendapatnya sendiri. Yang kudengar dari bait-baitnya adalah perkara nilai yang tertanamkan dalam benak tiap kepala, manusia lain yang berlari di sekitar, halaman-halaman hidup yang pernah dibuka dan ramuan dasar yang terbentuk sendiri sebagai wadah tampung segala bekal. Sedang aku sendiri memandang betapa sempurnanya manusia dengan segala sisi hitam putihnya dalam satu raga. Tak perlu disangkal, hanya perlu diasah dan terarah baik kemana akan melesat. Dan dengan segala yang bisa terjadi pada tubuh sedari bayi yang menangis tak mengerti aksara, mungkinkah segala perlekatan itu memilah dan memilih lebih dulu tentang jenis kelamin. Yang ada hanyalah sebentuk manusia saja.

Maka, kalaulah manusia itu menjadi tidak sempurna karena sisi tak populer dalam raganya, buatku betapa sempurnanya manusia dengan segala ketidaksempurnaannya. Lengkap !





Istirahat Me-nyastra Demi Cinta

24 02 2008

Bukan…..aku bukan sedang tak berkelana alam pikir dan khayalku. Karena rasanya memang tak mungkin berhenti untuk mengkhayalkan barisan kalimat yang entah berarti entah tidak itu. Meski untuk kemudian menuliskan hasil khayalan itu persoalannya sudah sampai pada pilihan sreg atau tidak sreg, pantas atau tidak pantas, berharga atau tidak. Tapi hari ini, ibaratnya yang aku lakukan hanyalah meregangkan badan sesaat.

Aku ingin bicara tentang satu ungkapan, ” gila ya lo mpok……..kalau sudah cinta itu bisa sampai segitunya ! ” Kata segitunya, bolehlah aku sebutkan bahwasanya itu menyangkut pemikiran tentang rasa yang sangat, setia, penuh darah dan airmata dan dalam mataku bisa seolah mendatangkan hujan gerimis hingga deras yang kuciptakan sendiri. Dan pagi ini, khayalku berkelana ke daerah itu……..daerah dengan cinta yang besar tapi absurd karena tak ada haru selain hanya tawa.

Aku bicara tentang cinta pada sosok berpribadi tenang. Diam, tidak petakilan. Bukan tak ramah, tapi hanya tak begitu mudah mengucap ‘hello, apa kabar‘. Pemikirannya dalam. Tidak berotot besar ala terminator, meski siap saja terima tantangan. Sigap dan mengerti apa yang terjadi di kolong mobil, mengganti genteng bocor, mendalami lika liku kabel, tapi bukan tukang bangunan. Dan rapi bersih tanpa harus keluar masuk salon sekedar MANICURE !!

Khayalku kini berada di ambang merah, panas. Butuh gagang sapu untuk menenangkan kepala yang muncul menggoda hingga aku menjadi merah. Bukan, bukan marah. Masih beberapa level di bawah itu. Hanya tak mampu menerima bayangan tentang lelaki sederhana matang dan sangat lelaki harus menghabiskan beberapa jam dari waktunya hanya untuk membersihkan kuku. Karena yang ada bukanlah wajah yang kucinta tapi si madam.

Tapi tak mengapa………..karena yang mengatakan demikian mungkin memerlukan terapi demi memperbaiki segala material tubuhnya yang memang tak pernah akan mendapat health award. Dan meski dia juga menampilkan wajah bulat merah, mungkin dia masih lega karena toh pernah menghasilkan keturunan aneh, sehingga bisa alpa membelaku.

Matahari, tak mengapa hari ini aku menyapamu dengan cara yang tak biasa. Karena aku ingin melakukan sesuatu demi cintaku. Meski aku harus beristirahat sejenak untuk bisa berkata-kata dalam bahasa yang berbeda.





Kata, Kalimat dan Semua Alasan Yang Membuatnya Ada

13 02 2008
Masaku bersekolah dulu, hal paling menyenangkan adalah saat memulai tahun ajaran baru. Dari sekian banyak hal yang bisa terjadi untuk menyenangkan hati, aku punya perhatian khusus pada buku tulis baru. Bersampul rapi dengan lapisan plastik, halaman-halaman bergaris dan masih kosong, putih bersih. Selalu saja aku tak sabar untuk memulai pelajaran, hanya demi alasan untuk bisa menulis. Dan setiap kali akan menggoreskan pena, dalam hatiku selalu seperti bersenandung sebuah doa. Niat tentang menulis dngan baik, bagus, indah dan bersih tanpa goresan kesalahan ataupun noda cat penghapus tinta.

Beranjak makin besar, mengenal tentang sastra rumit. Kerumitan yang tak pernah ingin dikenal seorang anak hanya agar otaknya tidak harus berkerut menghafal segala gurindam, jajaran penulis, prosa sonata maupun puisi. Aku bahkan tak pernah berhasil mendefinisikan dengan baik apa itu prosa. Tapi aku suka kata-kata indah. Aku suka menuangkan hati dalam tulisan. Kadang apa yang ingin dituangkan menjadi terlalu berlimpah hingga muncul kebingungan untuk merangkaikan kata dan kalimat yang tidak berloncatan kian kemari tak tentu arah. Kelak, hal begini kumaknai sendiri sebagai isi kepala yang terlalu berisik. Mungkin tak punya arti. Sangat bisa terjadi tak saling berhubungan. Dan makin membingungkan untuk dituangkan, tapi terlalu menyesaki otak untuk dibiarkan berkelana begitu saja dalam kepala. Saat itu, muncullah tulisan-tulisan norak yang berakhir di tong sampah.

Aku masih tertarik pada keindahan rangkaian kata, tapi tak berusaha lagi menulis. Lebih baik membaca karya-karya tulisan dan mengagumi kemampuan penulisnya untuk merangkaikan ide dengan huruf-huruf bermakna. Sekaligus menikmati kesempatan dimana aku tak lagi bermain petak umpet dengan ibuku; entah karena alasan yang katanya tak cukup umur untuk membaca sebuah novel, ataupun karena alasan tak mengerjakan cucian dan masakan dan urusan rumah tangga lainnya yang sudah wajib kukerjakan sejak masih tak bisa menyisir rambut sendiri. Dan ketika mulai merangkai kebersamaan dengan Uban tersayang, meski malu-malu namun sombong karena sudah punya pacar, kesenanganku mengagumi kemampuan seseorang dalam merangkai kata seperti mendapat bensin. Menjadikan sebuah karya sebagai ajang diskusi, dan alasan lain untuk menikmati masa pacaran kami.

Aku masih tidak mengerti tentang sastra. Hanya mengagumi saja keindahan kata dan kalimat. Mengenali ciri khas manusia yang merangkainya. Dan aku punya kesempatan untuk ikut serta dan mengulangi lagi masa dulu. Merangkai kata norak yang kunekadkan untuk tidak berakhir di tempat sampah, tapi biarlah yang membaca yang meludahi kalau tak suka. Aku punya ladang bercerita, meski aku masih sering mentertawakan sendiri ide yang muncul di kepala untuk dituliskan. Kalau ini yang terjadi, maka tertawa itulah penutupnya dan bukan publish. Akhirnya, aku hanya membaca semua tulisan. Dan menonton koleksi film yang bisa membuatku berkhayal, andaikan aku adalah si penceritanya.

Hari ini, aku ingin merangkai lagi huruf-huruf yang muncul tak jelas di belantara alam khayalku. Lagi-lagi, tak berhubungan satu sama lain. Tapi aku tak punya kesempatan untuk memolesnya agar lebih sedap didengarkan jika diucapkan. Maka beginilah caraku mengeluh. Mengeluh tentang tak adanya kesempatan, itu pasti. Mengeluh tentang keinginanku yang terlalu tinggi untuk bisa menjadi seseorang yang mampu menebarkan keindahan rangkaian kata dan kalimat, entah bermakna atau tidak. Mengeluh tentang kemampuan yang tak juga bertambah dalam menghasilkan sebuah tulisan. Dan mengeluh, karena keinginanku itu membuatku berpikir tak tentu arah, makin merasakan banyak hal dan makin tak bisa dilepaskan dari sarana yang ada untuk menuangkan semuanya. Akhirnya, aku jadi mengeluh karena membingungkan banyak orang dengan apa yang ada di sini.

Mungkin ini saatnya tertawa……untuk alasan apapun, yang tak lucu, yang ironis dan macam-macam.





Nikmat Duduk Disini

26 01 2008
Entah dengan yang lain, tapi aku disini. Kutemukan tempatnya dimana diri ini bisa bersandar, menelengkan kepala atau melihat sekitaran. Menempati kursi kayu kecil yang membuat belulang di bujur ini sakit tapi tak ingin lagi beranjak. Anginnya benar kencang, dan kunikmati hingga adzan mengusirku pergi.

Tak begitu jauh yang kupandang, hanya pucuk-pucuk rumah di kampung dengan segala carut marut selera penghuninya. Asik saja…..

Tapi, lagi-lagi aneh. Seolah semua menjadi rumit. Ah, biar kuhembuskan saja dulu kesegaran keluar masuk rongga paru sebelum ceritaku berlanjut.

Ya, aku teringat tentang aku. Manusia dan kemanusiaan. Dan manusia-manusia lain. Aliran darah, detak jantung, nafas. Lambaian tangan, kibasan rambut, langkah kaki. Seringai tawa juga marah, emosi terpendam atau sudah meluap, picik dan tidak.

Biasa ? Sangat biasa…….sudah terbiasa. Kau sadari ? Mungkin tidak juga…….

Kekaguman, ketakjuban, tak pernah berhenti. Tak akan berhenti. Memang tak mungkin bisa dipahami bagaimana bisa terjadi, karena itu sebuah Maha Kuasa.
Kemarilah, kita bicara. Tentang yang sudah biasa dan bisa menjadi basi untuk diungkap. Aku hanya ingin berbisik, semoga bisikan yang kau dengar dalam bariton yang kau harap.
Semua yang kusebut, yang sudah kau tahu, seringai dan aneka macamnya tadi, bisa menghancurkan tempatmu berpijak.

Tak usahlah kudengar jawabanmu. Rona wajahmu saja bisa kumengerti.

Maka selagi bisa akan kunikmati tempat ini. Nikmat sekali duduk disini dan nikmati selagi ada.





Malam Yang Ini, Akan Terasakan Lagi Nanti…..

22 01 2008
Malam ini, aku merasa tak nyaman di pijakanku. Ketika semua makhluknya memiliki planet sendiri. Setiap manusia membeli planet untuk mereka sendiri. Baru kutahu, bumi ini terlalu luas untuk bersendiri begini. Rapuh rasa pijakanku.

Ketika cinta datang, dia memang datang dengan segenap impian. Yang ditawarkan tanpa rasa keraguan selain cinta itu sendiri, menjadi tak berlogika.

Apa arti sebuah logika, ketika mata jadi berbinar untuk bumi yang ramai disesaki untuk meriung. Memang hanya sesekali tapi hitungannya menjadi kerap. Kerap, tapi tak dalam setiap desakan waktu yang berjalan. Dan aku disini merenungi bumi yang kini kosong.

Hilir mudik kanan kiri depan belakang dan atas bawah, bumi ini, rumah ini, indah nian dalam mata. Belum sempurna, tak mungkin sempurna, keindahannya tak berkurang. Entahlah, mungkin hanya belum terbiasa dengan kenyataan yang dibangun dari mimpi dan jadi gamang.

Ingin aku tertawa tapi ada gundah juga. Menertawakan sebuah kegamangan tentang ruang-ruang kosong minim makhluknya. Ah, mungkin aku hanya harus lebih menggenapkan hitungan jari agar gamangnya hilang.

Kubuat saja agar kekasih kecil itu tak jatuh karena kegamangan mereka. Agar mereka bisa gagah berdiri dengan lenganku yang tak gemetar ketika mereka raih. Tahu, bahwa ibunya bisa diandalkan.

Cintaku……….masih lama masanya untuk kita benar sepi. Kekasih kecil kita punya detik yang tak terlalu cepat jalannya, sebelum kita nikmati malam-malam entah di bawah titik lampu mana yang kita mau, hanya berdua. Belum tiba waktunya untuk malam-malam itu.

Satu masa nanti, ketika mereka melewati gerbang itu untuk terbang ke dunianya, kita rasakan lagi gamang itu. Mungkin bisa berdua, atau benar sendiri. Entah aku, entah kamu…….





Antara Hidup dan Hidangan

27 12 2007


Pisang goreng, Kopi atau Milo panas, dan teman berbincang……sore hari, jika beruntung dihembus angin dingin, hujan rintik….

Dari sudut ini, rasanya hidup menjadi lebih mudah dan tak bermasalah………….
Atau,……setidaknya memandang hidup melalui cara ini, bisa lebih mengasikkan……
Ah……waktu berdetik untuk cerita-cerita yang akan kembali mengalir dari paduan itu….





Hanya Ekspresi …..

14 12 2007

Tak hendak banyak berkalimat, hanya berputar dalam waktu……..

SELAMAT IDUL ADHA
SELAMAT TAHUN BARU 2008
sampai bertemu lagi……





Dari Sudut Sepi Sebuah Rumah

23 11 2007
Menikmati sudut dunia tersendiri dalam satu ruang untuk berlari. Menepi. Menelisik. Sendiri. Menjadi diri sendiri. Sekadar melakukan periksa langkah, periksa pikir, sudah belum atau ingin digapai. Lucu dan aneh.

Teringat cerita Aminah, manakala dia sebagai Aminah kencur pernah membisikkan,” aku ingin jam tangan manis bertali kulit”. Bisikan yang hanya terdengar hati dan Gustinya, tapi terwujud di pergelangannya dalam hitungan hari. Bukan main ! Matanya katanya, memandang ke atas tak bertepi dan merasa begitu dekat dengan Gustinya. Selalu ke atas, karena disanalah pikirnya Gustinya itu berada.

Dimensi waktu tahun-tahun kemudian, ia mulai mengenal cinta. Bukan produser, bukan sutradara, diciptakannya sebuah film mimpi dalam angan. Film tentang ia dan cintanya, menikah dan memulai langkah kecil, dalam satu rumah sangat kecil, sederhana, kosong tanpa perabot. Lampu rumah temaram karena kemampuan yang juga kecil untuk membeli listrik. Langkah awal, rangkakan mungkin, sebelum menjadi yang lebih besar. Perempuan didikan Jawa, didekatkan pada susahnya dunia nyata, film mimpinya tak mungkin dimulai dari Hollywood. Nyatanya, film itu terproduksi sungguhan katanya…….lagi ia tengadah, tapi tertunduk lagi. Mulai mengerti rupanya, Gustinya tak selalu ada di singgasana di atas entah.

Satu kali ia pernah mempersilakan satu kakaknya membawa satu perempuan pengganti permaisuri yang mangkat. Mulutnya jelas pengucapannya, “Silakan….bawa saja jika mau”. Terbuka sangat dengan keinginan kakak. Tatkala kemudian bertemu dengan sang perempuan, ia malah tak mampu tersenyum. Tak punya kata untuk menyapa, bahkan untuk menjelaskan kenapanya. Yang dia tahu, rasanya sirene dalam dadanya meraung sangat kencang memekakkan telinga. Untuk apa, bahaya apa, sungguh tak tahu. Sirene yang membuat dia terdiam dan menjadi terdakwa karena tak mampu membuka kata. Meski Aminah sudah mengerti tak pernah ada singgasana di Atas sana, tapi menengadah selalu lebih mudah. Ia cuma mau bertanya tentang kenapa. Jawabannya dicicil seperti kredit tahunan. Perempuan tadi itu memasok rasa sakit, membuat ayah ibunya selalu menghela nafas panjang, dan kakaknya tertoreh-toreh luka. Aminah cuma membatin, ooh……it works…..sirene hati.

Aku dengar Aminah itu berkata dia pelihara yang dia punya. Yang “it works” tadi. Katanya selalu dijaganya supaya tak berkarat. Dia nyalakan saat ingin tahu sudut mana nyaman untuk ditempati, atau kemana dia seharusnya tak melangkah. Masalahnya, sulit baginya untuk membagi makna raungan itu. Seringkali dia juga jadi habis kosa kata sehingga banyak yang gelengkan kepala untuk penjelasan yang tak jelas abjadnya. Ya sudah, dia memang begitu adanya.

Lalu kenapa dia jadi gelisah sekarang? Aku dipaksanya membantu berpikir. Membantu meraba juga dengan hati. Ah, hati lagi….Katanya, dia jarang bersurat pada Gustinya lagi, tapi ingin bertandang ke tanahNya. Entah kapan. Lalu kalau tak sering bersurat, “Apa aku masih intim dengan Gustiku, ya?” Ia yang sering tengadah mempertanyakan itu, apa yang harus aku jawab. Dalam teoriku, bukan aku yang bisa menjawab kegelisahan dia. Lalu bagaimana?

Pada akhirnya aku memang tak menjawab, cuma berkalimat,

” Aminah, ……aku cuma menawarkanmu tempat di sudut sepi rumahku ini. Untuk berlari, untuk menepi, merasakan angin yang membawa tiap kabar, dan memeriksa sirenemu itu apakah masih berfungsi dengan baik…….seperti yang aku lakukan malam ini..”

Selamat berakhir pekan dan datang dengan kesegaran…….




Bicara Lewat Hati

15 11 2007
Kadang kala dalam kepala ini bisa sama sekali tidak berisik. Tak ada percakapan-percakapn konyol yang terjadi dengan sendirinya tanpa dikehendaki. Tak ada angan yang berloncatan disana, mempermainkan masa lalu dan masa nanti. Tidak berimajinasi sama sekali. Aku seringkali kehilangan jika kepala ini tidak menerbitkan barisan kata dan gambar aneh yang bermunculan entah darimana. Tapi sebaliknya, hatiku menjadi terlalu vokal. Ya sudah, biarlah demikian.

Kupandangi jalan di muka teras rumahku. Segelas kopi tak menemani. Tak ada selera. Apakah aku berduka, rasanya tidak. Senang malah mengingat kenyataan berminggu-minggu ada cengkerama dengan masa lalu. Bahkan mungkin akan terus ada. Tapi dunia terus berputar dan selalu membawa kabar baru. Entah mengapa, kebanyakan tentang pertengkaran. Miris…..

Lalu ada perjumpaan dengan seorang kawan. Hanya perjumpaan kata-kata. Tapi kami menemukan irama yang sama dalam berlagu. Maka kata-katanya menjadi panjang dan sulit berhenti. Seolah ada kesepakatan, kami selalu menyelipkan kata ‘takut’ di sela-selanya. Mungkin lucu jadinya dan kami bisa terkikik sendiri. Sedangkan yang dibicarakan sama sekali tak mungkin ditertawakan. Kami takut tak ada lagi tata krama dalam perbendaharaan pola interaksi antar manusia. Kami takut manusia seperti kami ini menjadi terlalu pandai, lalu tak punya hati dan pertengkaran semakin menjamur. Bahkan kami takut tak pernah cukup waktu untuk menitipkan pesan-pesan pada anak-anak kami, tentang segala yang tak lagi menjadi trend di udara kini. Pesan-pesan kuno. Karena kebebasan kini terlalu menjadi dewa di dunia, dalam pandangan mata kecil ini. Ya dan tidak, semua ada alasannya.

Sebenarnya segala rasa takut itu tak perlu. Pasti banyak mulut yang akan mengucap itu. Entahlah, mungkin itu hanya bahasa kami yang mengartikan sebuah keprihatinan pada banyak hal dalam satu kata. Atau dalam nada tertentu, seusia kami bisa menjadi terlalu naif jika keidealan masih didambakan. Tidak..tidak juga….kami mengerti bahwa ideal itu sangat mewah. Kami hanya sedang mimpi tentang keindahan yang tak sekedar hasil pengabadian lensa.

Tak ada yang baru di depan mata. Hanya saja kesadaran kadang tertutup sehingga melupakan yang pernah ada. Atau yang dulu berlalu dibiarkan saja berlalu tanpa sedikitpun dimaknai, dan menjadi tertegun ketika melihat semuanya melintas kembali. Mungkin juga emosi telah memainkan simpul-simpul pemaknaan menjadi begitu berbeda. Semua alasan bisa diterima. Bahkan alasan kematangan usia. Tapi memang harus menemukan orang yang tepat untuk bisa diajak duduk dan memetakan semua persoalan secara gamblang.

Kata siapa, ada tempat untuk kebebasan mutlak. Omong Kosong. Mungkin memang lebih indah begini. Selalu ada batasan tanah untuk melangkah, bahkan udara yang boleh dihirup. Sehingga aku, hanya menunjuk aku saja, tak akan mengambil tanah atau udara yang bukan milikku. Dan sekarang aku memiliki kekasih-kekasih kecil yang baru belajar bernafas, baru belajar membuka mata dan bicara. Baiklah,… aku ingin berangan sebentar, ……

Jika kekasih kecilku itu melihatku sebagai sosok yang mudah mengangkat tangan dan menunjukkan jari. Tapi jari itu selalu mengarah pada lingkaran di udara luar, maka itu yang akan dia lakukan. Dia tak mungkin mengerti bagaimana membalikkan jari itu untuk kadang menuju ke dadanya sendiri. Atau mereka mungkin tak pernah mendengar kata sayang di telinganya, maka lidahnya juga tak akan belajar mengeja. Matanya mungkin mampu mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru. Tapi yang aku tahu, dariku dan sang ayahlah dia belajar memandang untuk pertama kali dan setiap kali. Maka kami harus mengerti benar bagaimana cara memandang itu yang sesungguhnya.

Kepala ini tak berangan lagi. Hati berjalan mendahului. Ada keyakinan-keyakinan dalam genggaman. Keyakinan yang kadang berbeda dengan yang ada di genggaman yang lain. Tapi apapun itu, tak selayaknya saling meniadakan. Nafas ini terlalu pendek jika sebagiannya terfungsikan untuk meniadakan yang lain. Tak berguna…..melelahkan…..

Ah teman…….sekarang aku ingin segelas kopi.