Mengurai
9 06 2008Perasaan yang tidak terlalu terkejut dan seolah sebuah letupan kecil yang ditunggu untuk muncul manakala sebuah tanya datang. ” Hidupmu kok berada di sekitar rumah sakit? “
Melemparkan ingatan dalam perjalanan setahun terakhir, bau rumah sakit memang menjadi cukup akrab di cuping hidung ini. Keberadaan gedung yang di masa kini sudah sangat diramahkan penampakannya dengan menyerupai hotel kelas atas tetap tidak membuat perasaan menjadi lebih nyaman. Tak ada yang mampu menipu sebentuk rasa untuk mengatakan nikmat, ketika dunia yang berputar di dalamnya berdekatan dengan bentuk rasa pedih perih sakit yang lebih suka ditolak daripada diterima. Apalagi di penghujung hari berikutnya, kekalahanlah yang mesti tergenggam erat.
Jangankan harus berbilang-bilang,…. Satu saja pun, sebuah kekalahan menggenggam nyawa bukan rasa yang mudah diterima. Dan pasti tak kan pernah hilang. Dan di sini aku berdiri menggenggam dua. Melayang, karena memang harus lepas. Ikhlas ? Mungkin, begitulah iman yang terberi. Terima ? Sebuah keharusan. Sakit ? Pastikanlah itu ada dan tak bisa kutemukan cairan pembersih hebat yang mampu menghilangkan nodanya dalam dada.
Sebentuk tawa bisa ditemukan dalam hari-hari yang berjalan kemudian. Tidak usahlah dihitung bahwa waktu baru saja bangkit. Belum jauh berjalan dari tanah merah, dan kini bisa tertawa. Mengapa ada tawa, karena kembangan bibir yang membentuknya memang harus ada untuk sebuah selingan. Karena ketika bibir mengatup kembali biasanya membawa bening air di sudut mata. Maka senyum dan tawa harus terhadirkan sebagai dessert di akhir santapan yang begitu saja terhidang. Dimasak begitu sempurna oleh juru masak kehidupan yang tak tertandingi dan harus disantap dengan kelahapan yang biasa agar pertumbuhan batin semakin matang.
Detik waktu masih terus berlalu ketika kakiku sejenak berhenti berlari untuk menatap jalan yang harus ditapaki. Mencoba menatap jalan kehidupan itu dengan mata yang bukan milik diri. Maka pertanyaan seperti tadi sangat wajar ada. Mungkin bahkan ada pertanyaan yang lebih terang,” Banyak sekali masalahmu? ” Entahlah, batin ini justru tak merasakan segala yang berputar sebagai masalah. Hanya keharusan untuk menghadapi saja dengan kebaikan.
Pikiran memang sedikit membeku. Biar saja, aku menikmati. Tak ingin memaksanya bekerja selain mencerna dengan perlahan. Melepaskan diri dari lelah yang terlalu, tidak tahu kapan akhirnya. Memakan semua emosi hingga habis dan tak menyisakan kemampuan untuk mencecap rangsangan yang dulu selalu mampu menghadirkan barisan kata. Emosi kini hanya satu yang hadir dengan nada monoton. Mrongkol.
Aku ingin menguraikan semuanya…………
Komentar : 10 Komentar »
Kategori : Omong Kosong



Komentar Terakhir