Hitungan di langit tak banyak lagi. Jika jari-jemarinya dia mainkan sesuai hitungan itu, maka tak akan melebihi jari jemari dari satu tangan. Saat jemari itu selesai menghitung, maka hari baru telah tiba. Idul Fitri. Hari yang membuat semua makhluk bumi ini tersenyum, bahkan mereka yang tak merayakannya sekalipun. Bagi mereka yang tidak memiliki Idul Fitri, setidaknya untuk sementara tersenyum karena bisa sementara berhenti untuk bertanya, mengapa perut dan leher manusia mesti diikat sebulan penuh lamanya.
Rani memilih tempat di sudut musholla kecil itu. Dilemparkannya pandang teliti pada buah hati semata wayangnya yang asyik berlarian di tanah lapang sebelah musholla. Rahmat memang belum terlalu mengerti. Dan sudah sifat khas anak-anak balita usianya, memandang waktu khotbah sebelum Witir sebagai jeda istirahat selayaknya di sekolah. Tapi Rani menjadi makin pilu. Telinganya mendengar sang Khatib bicara tentang hidayah dan kesabaran.
Tujuh tahun ia menanti. Batin Rani selalu mengulang bait-bait lagu tentang panjang sabar. Entah dia pahami entah tidak maknanya. Hanya saja baginya panjang sabar seolah tak mengenal titik. Ketika ia menanti, sujud-sujud khusuk tak lagi dia lakukan sendiri. Tatkala ia begitu merindukan seorang imam yang menuntunnya untuk bersujud bersama. Dan manakala tak lagi harus dijawabnya pertanyaan-pertanyaan Rahmat mengapa ayahnya tak bersujud bersama mereka.
Untaian kalimat lirih memohon sang Gusti membalikkan sebuah hati, laksana nyanyi sumbang pita kaset yang terlalu sering dia putar ulang. Hatinya mulai lelah. Tasbih ini makin usang. Tapi hati itu masih tertelungkup. Rani tak mengerti, adakah dia yang tak menyanyikannya dengan merdu karena begitu banyak noda dalam hidupnya. Ataukah Gusti memang tak ingin menengadahkan hati telungkup itu untuk menerima tetes embun yang Dia turunkan. Tapi Rani memang mulai lelah. Sangat lelah.
Dahana, suaminya, memang tak pernah menyertai dia dan Rahmat bersujud dalam keseharian. Hanya jika waktunya memaksa Dahana untuk menyentuhkan dahi di tanah maka Rani memiliki kemewahan melihat kecintaannya berdiri bersanding dengan Rahmat di atas sajadah panjang. Tapi hari makin senja dan malam akan segera menjelang. Malam gulita itu tak pernah jelas kapan ingin datang. Ketika tiba nanti, semestinya mereka yang dijemput telah mengucapkan salam serta mengirimkan doa-doa pengampunan untukNya. Betapa mengerikan jika doa-doa itu tak sempat lagi diucapkan.
Rani masih di sudut mushollah kecil itu. Dia bersimpuh dalam rakaatnya yang terakhir. Dan ketika semua orang beranjak pulang, tangannya masih terangkat terbuka menghantarkan kalimat-kalimat usang itu lagi. Airmatanya mengalir. Rahmat menantinya di sudut pintu mushollah. Matanya lekat pada ibunya.
“ Ibu, kenapa setiap kali ibu nangis? “
“ Karena Ibu bersyukur, sayang….Allah Maha Baik. Dia memberi kita segalanya. Kita sehat, Rahmat bisa sekolah di tempat yang bagus, kita bisa makan enak.” Rani berusaha tersenyum, sadar Rahmat masih memperhatikannya.
“ Ibu, kita bolehkan minta terus sama Tuhan ? “
“ Boleh….” , agak ragu Rani menjawab….,” Rahmat mau minta apa ? “
“ Cuma pengen kita bisa sholat sama Ayah…”
Rani tak mampu berkata. Airmatanya susah payah dia hentikan. Buru-buru dia persiapkan tidur anaknya itu agar nyaman. Agar mimpi yang paling indah. Agar dia punya kesibukan yang menghentikan tangisnya. Sebuah telinga lain mendengar di balik dinding, berawal dari lintasan tak disengaja yang terhenti tiba-tiba.
*****
Hitungan langit jadi genap di ufuk Timur. Sang Fitri telah datang memenuhi janjinya. Tanah lapang, mesjid berkubah emas, keramik, alumunium, dan semua mushollah penuh orang. Wajah-wajah tersaput wudhu, bersih dan segar, berhias lagi senyum setahun sekali. Yang berkeriput penuh bahkan merasa tak khawatir untuk menambahnya lagi dengan guratan tawa. Hari yang ditunggu yang seolah menebarkan banyak keajaiban.
Tangan-tangan yang tua menjadi harum. Berpadu dengan lutut menerima sembah maaf dari siapa yang ingin menciumnya. Dahana tak duduk menyediakan lutut. Hanya tangannya yang diperuntukkan bagi Rani dan Rahmat. Dan mereka saling mengucap maaf memberi cium sayang. Dan saat semua usai, Rani ingin berbalik melakukan banyak hal setelah ritual Fitri selesai.
“ Rani…..”, satu suara menggantung menghentikan dia. Wibawanya masih terasa di dada Rani ketika mendengar.
“ Ini adalah hari baru dari semua hari yang akan datang. Kau akan lihat”.
Rani berbalik dan memandang langsung pada mata suara itu. Mencari makna disana.
“ Aku juga punya rasa takut……..”
Airmata Rani mengalir lagi. Kini maknanya berbeda dengan yang selalu tumpah di sudut musholla.
———————————————–
PERMATA HATI mengucapkan :
Komentar Terakhir