Kamu Yang Tercinta

16 06 2008

Our Beloved

Aku tak mengerti

Ketika Tuhan menciptamu, mungkin hatinya sangat penuh cinta

karena dirimu sangat sempurna indahnya……

Matahari mungkin tak pernah terbit sendiri tanpa ditemani sapamu

dan aku terbangun dengan sentuh dan senyummu

Mungkin kau pernah berteriak untuk segala yang memenuhi jiwamu

tapi seperti janji sang matahari untuk menghapus kabut,

jejaknya bahkan tak kulihat lagi

Dan aku pasti cinta kamu………mereka juga cinta kamu……….

Aku masih disini, kami masih disini

menatap tiap sudut yang merekam hadirmu dulu

menatap rumput hijau di atas makam yang memisahkan ragamu dari kami

membaui wangi yang punyamu, mengenangmu……..

Kulitmu tak bisa kusentuh lagi, matamu pun tak bisa kutatap

Tapi hatimu dan segalamu tak pernah pergi

Dari sudut hati, dari nadi, dari nafas ini…………..

ditulis untuk menyertai buku Yassin , mengenang 40 hari kepergianmu………





Kamboja dan Tanah Merah Basah

26 05 2008

Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin terpejam. Ada selaksa rasa lelah menggantungi kelopak mata dan sisa tetes air kehilangan. Merah muda Kamboja tak mampu  mengangkat duka yang tertinggal di sudut hati ini. Dan meski tidur beberapa lama, tak mungkin mimpi buruk itu berganti menjadi kembali indah. Karena yang pergi akan tetap pergi.

Sudut hatiku terasa kosong. Semakin terasakan ada bagiannya yang tercerabut karena sebuah Kehendak yang Maha Mutlak. Aku menghitung jumlah kumpulan kepala yang bisa kusapa kutatap kucium, tak genap lagi. Belum satu tahun dan airmata belum mengering, kini harus tertumpah lagi. Ketentuan sudah menghampiri dan tak satupun bisa mengatakan kata tidak.

Matahari yang kutatap kini, mungkinkah menyampaikan pesanku untuk bertanya apa kiranya yang paling Dia inginkan dariku. Aku tak ingin menggugat karena aku menerima. Hanya aku masih terus mencari pada siapa segala pesanNya disampaikan melalui bunga-bunga yang mulai gugur. Untukku, mungkin untukku, begitu kata hati ini. Aku tak terbebani dengan segala yang mungkin memang ditinggalkan untuk kusentuh. Tapi tak mungkin kubantah kalau aku menangisi warisan yang dia tinggalkan untukku, dan pasti menangisi kepergiannya.

Kalau kutundukkan kepala ini mengingat detik-detik akhir yang ada, napas panjangku pasti tertarik tanpa sadar. Memang pesan itu untukku karena aku yang merasakan ketika langkah kaki ini begitu saja melangkah kesana. Semua tergerakkan hanya karena rasa cintaku pada dia. Dan tatapan matanya yang terakhir merintih padaku, tak sanggup kubalas dengan sempurna. Dan kini akan terbawa dalam benakku hingga akhir nanti.

Aku masih ingin berbincang cengkerama dekat dengannya, sebelum waktunya berputar disini usai. Entah konyol, entah tak waras……..tapi aku ingin berbincang lagi untuk yang terakhir. Setelah itu, selamat jalan adalah satu-satunya kata yang kupunya untuknya dan tak akan kuganggu perjalanannya. Dan taburan bunga akan selalu ada di atas tanah yang masih merah basah ini……..

Kamboja merah muda, sampaikan salam kasihku baginya bersama embun yang menyertaimu pengganti airmataku……..





Haruskah Aku Percaya….Kenisbian ?

9 04 2008

Ada kudapati seorang ibu yang mengalami kecemasan. Tentang apa yang sedang terjadi di sebuah tempat jauh dari pandangan mata tuanya yang merabun, tempat dimana buah hatinya mengarungi hidup. Tentang hal-hal yang tak diketahuinya dengan pasti, hanya hatinya menyala. Hati tuanya mungkin terlalu mencintai dan bisa menerawang jauh pada apa yang tak tertangkap mata fisiknya. Terlalu mencintai yang bisa juga mengacaukan kebenaran karena kabut cintanya terlalu tebal dan melingkupi.

Banyak suara pernah bicara tentang segala sesuatu yang tak berkaki pada apapun selain kenisbian. Entah bagaimana jejak nisbi itu menjadi nyata dan diyakini lalu ditularkan pada benak lain yang tak pernah percaya, dididik untuk tak percaya, dan yang tak pasti. Satu hal yang pasti, kadang keterpaksaan untuk meyakini itu datang karena melihat sesuatu yang ada meski  tak pernah mempercayai. Ada dan tidak, percaya dan tidak percaya. Lalu bagaimana dengan keyakinan pada yang Esa, akankah terduakan?

Matahari pasti terbit pada waktunya, entah enggan atau tidak. Banyak isi alam yang dia bawa serta dengan kemunculannya, sebagiannya menjadi duka bagi makhluk. Pernah ada yang mendapat kabar dari sang matahari sebelum duka itu datang, lagi-lagi sebuah kenisbian. Ketidakpastian. Dan semua telinga yang mendengar kabar burung menjadi terapung dalam batas keyakinan, percaya dan tidak.

Oh ya, pasti aku bicara tentang adanya aku, sisi mana yang kupilih. Bekal cerita, banyak nilai yang ditanamkan, keberadaan dunia dewasaku, menempatkanku disini. Di tengah. Yang selalu mampu untuk ditarik ke kanan dan kiri bergantung cahaya-cahaya yang menerpa mataku. Dan aku lebih memilih untuk bergerak dengan sebuah keterpaksaan jika kabar burung itu benar. Maka jika dipertanyakan tentang menduanya aku dari yang Esa, aku lebih memilih untuk bertanya padaNya karena kebodohanku. Aku tahu, Dia akan bicara dalam hatiku. Karena aku bukan seorang ahli surga, selain hanya meyakini ajaran tentang kebaikan.

Dalam ketidakpastian yang kumiliki, entah apa membawaku bicara dengan dia yang tak bisa kutemui lagi. Dia yang membuat rindu kami tak pernah tuntas lagi. Entah bagaimana siang itu aku dan dia berbincang layaknya hari kemarin, meski segala kalimat yang ada hanya ingin menyuruhnya pergi. Berjalan terus dan tak menghentikan perjalanan keabadiannya. Dan aku hanya menginginkan kami yang disini menjalani segala kemanusiaan kami yang serba tidak tahu dan harus begitu.

Kalau aku tak percaya, karena aku tak boleh mempercayai yang tak kutahu. Kalau aku menyentuh duniamu, karena aku hanya yakin dirimu masih ada. Maka pergilah, demi dirimu ……………………….





Kembali ke Peradaban Cinta

5 04 2008

Perawakan kecil tapi liat, tegap dan gagah sebagai perempuan, membuat penampilanku tampak sangat sehat. Aminah misalnya, jika ditanya kesannya tentangku, maka biasanya dia menyebutku sehat sekali dan cenderung menjulukiku sebagai atlet. Sebagian lain mengatakanku sebagai bola bekel. Apa sajalah, muaranya tetap pada diri yang selalu tampak sehat dan segar. Maka, jangan ditanya ketika pengalaman pertama kali pingsan dahulu kala, berapa banyak yang bertanya bagaimana aku bisa sakit. Tak terkecuali guru olahraga yang mestinya lebih proporsional menilai, toh tergelincir juga dengan pertanyaan begitu. Tidak, bukan jumawa selain mencoba mengurai kesempatan langka dalam hidup.

Tapi kurun waktu sepuluh hari terakhir ini, hal yang bisa aku lakukan hanya tidur. Dan di pertengahan waktu itu bahkan harus dihabiskan di sebuah kamar yang bukan kamarku, tetapi lengkap dengan selang infus dan kunjungan suster dan dokter secara berkala. Ada rasa geli dalam dada ketika semuanya berubah serius begitu. Ada keperkasaan yang terlepas begitu saja tanpa dikehendaki. Sekaligus juga sedikit kelegaan bahwa memang aku cuma manusia biasa yang harus menyerah kalah pada teriakan tubuh sendiri.

Di luar semua itu, rasanya semakin banyak saja cinta berpendar dan kuterima. Perlakuan layak seorang suami yang mencintai istrinya, seperti yang bisa diterima semua istri di dunia dari para suami mereka, itu tak perlu dipertanyakan. Uban mengelap badanku, mengurangi waktu kerjanya di kantor, tiap sebentar memegang kepala, menggantikan pakaian yang basah, membuatkan minuman dan mencarikan makanan pembuka selera. Belum lagi dia harus bangun lebih pagi dan mempersiapkan keperluan sarapan kekasih-kekasih kecil kami berikut minuman pagiku. Apa yang bisa lebih sempurna dari cinta itu?

Atau kekasih-kekasih kecilku dengan pesan-pesannya untuk tetap beristirahat saja. Ciuman perpisahan menjelang berangkat sekolah dan kerinduan saat pulang sekolah. Si bungsu yang tak mau berjauhan danselalu menanyakan apa yang kubutuhkan, atau si sulung yang siap melakukan apa saja di tengah kesibukannya mempersiapkan berbagai ujian. Apa yang bisa lebih sempurna dari semua kasih itu?

Aku punya banyak cinta dalam kehidupanku. Mataairnya tak henti mengalir dari tiap hati orangtua, adik, kakak, keponakan dan teman yang selama ini kepada mereka sudah kuberikan hatiku. Maka, ketika perawakan kecil sehat ini harus tersungkur, semuanya bukan apa-apa selain pembuktian cinta. Ada teman yang tak bersikap layaknya teman, maka itupun pembuktian tentang cinta-cinta yang tak pernah sia-sia ditebarkan karena mampu memilihkan yang terbaik untukku.

Tubuh ini mungkin sedang lelah amat sangat dan perlu banyak waktu untuk memulihkan diri. Tapi hati ini justru makin bekerja keras untuk mencintai. Bukan untuk meminta lagi pada saat yang berbeda, tapi hanya demi sebuah hati yang damai dan penyembuh utama di kala gundah.

Pagi ini terasa lebih indah di pandangan mataku yang masih sedikit bergoyang………..





Masih Ingin Bicara

24 03 2008

Menunggu matahari yang belum menemukan jalannya untuk datang, adalah sebuah dini hari. Mata sudah nyalang untuk sebuah pemandangan yang tak tahu apa. Dan rasa dingin dari sebuah rindu yang tak mungkin selesai tuntas, hanya dilupakan sesaat untuk meredakan penat menanti tuntasnya.

Angin-angin yang berhembus selalu membawa serta pasir yang serupa  dalam butirannya. Dan kupahami sebagai aneka hiasan bumi yang selalu menyentuh dunia kemanusiaan. Marah, rindu, malu………aku bicara tentang rindu saja. Rindu, sebuah pasir yang khas butirannya, lembut mendayu namun sanggup menyayat dalam-dalam.

Hai matahari yang mulai menemukan jalan menyapa bumi, kami disini memang rindu. Tapi tak mungkin lagi terselesaikan. Tak bisa tuntas karena tak mungkin diusap. Tak mengapa, karena ketika rindu yang ini datang mengelus, menjadi alat komunikasi yang sangat layak menjembatani dunia ini dengan dunia yang sangat maya dan belum kami kenal bentuknya.

Memang, tak mudah mengartikan segala yang tak terucapkan. Tapi kasih kami yang terentang kuat tak bisa memisahkan dua dunia yang berbeda. Maka, disanalah kata-kata antara kami berpendaran untuk dimaknai dalam frekuensi yang sama. Disanalah kami mencari segala arti, yang mungkin meminta kami menggerakkan langkah dan rentangan tangan. Mungkin dia yang disana, inginkan kami tahu betapa arus air bergejolak tanpa dia ada untuk meredakannya.

Ada suara yang mengatakan mungkin kami terlalu mengingat kasih kami dan terlalu sering bicara tentang dia yang tak ada, maka dia tak mungkin pergi. Mungkin kami tak melepasnya dari buku besar kosa kata kami. Maka, itu adalah kesalahan. Tapi kau tahu, kadang dia datang tanpa diminta. Kehadirannya yang tak berujud membawa alunan nada lirih yang melingkupi dan hanya terdengar oleh hati yang terdalam. Saat ini terjadi, maka hati kami kembali bersuara bahwa pintu komunikasi terbuka untuk kami memaknai segala tanda. Dan kamu tahu, komunikasi ini hanya ada di rentang cinta yang sama kuatnya.

Tapi untuk kamu yang tak di sisi, ada waktunya bagi kami untuk tidak melakukan apa-apa selain memahami bahasamu.  Sekadar khasanah yang tertimpa sinar untuk bisa terlihat dan tak harus kami sentuh dan perbaiki letaknya. Ada tempat yang tak mungkin lagi kami jamah karena dia menolak kulit tangan kami. Maka jika demikian, kami hanya mengenangmu. Tidak membantumu. Kami mungkin saja menangisi apa yang tak bisa kami sentuh untukmu, tapi kamupun tahu kenapa.

Kami tahu, ada rindu yang tak bisa tertuntaskan dan tak mungkin. Tapi biarlah ada, untuk tak menafikan semua yang pergi tak kembali dan masih ingin bicara………….





Seputar Degupan Jantung

13 03 2008

Mungkin karena terbiasa berada di kalangan mereka-mereka yang berusia jauh di atas usiaku, beginilah yang sering terjadi di pengucapan dan pemikiran kepala kecil ini. Kebanyakan dari apa yang kudengar adalah pembicaraan tentang nilai. Nilai seorang manusia, nilai sebuah kata dan tindakan, dan nilai tentang apa saja yang kita semua hadapi. Dulu, aku selalu mendengar. Asik saja rasanya telinga ini menangkap orang-orang tua bicara  seputar hal-hal pelik itu. Dan sudah pasti kemudiannya tertanam dalam-dalam di kepala dan lubuk hati. Kadang telan begitu saja untuk mendapatkan pemahamannya pada waktu yang tepat. Kadang juga sudah menjadi bahan proses mencerna sejak pembicaraan itu tertangkap radar sadarku.

Menjadi menua sekarang ini, aku tak pernah mencari-cari sparing partner untuk sekedar bicara kesana kemari persoalan yang sebangun dengan yang dulu sering kudengar. Karena memang tak perlu dicari. Satu dua kali pertemuan, entah temu wajah dan kata atau hanya kata saja, alarmku sudah bisa memberikan petunjuk mana-mana saja kaumku yang suka dan tidak suka berpartner bicara hal-hal begitu denganku, atau yang benar-benar  berbeda jalan dan hanya sapaan manis yang diperlukan. Dan dengan mereka yang buatku seperti ‘tumbu ketemu tutup’ itu, kalimat-kalimat yang mengalir bisa secara alami tanpa disetel berlebihan mengarah pada pengupasan makna.

Bicara makna, yang sederhana tapi juga tidak sederhana, biasanya berujung pada sebuah akhir. Tidak heran seringkali tersirat dan tersurat rasa takut disana. Karena siapapun menyadari adanya sebuah akhir, memaklumi, memahami sekaligus ingin menjauhi akhir itu. Bukan apa-apa, sungguh bukan apa-apa jika pembicaraan itu ada. Maksud sebenarnya hanyalah untuk mengingatkan tentang ketidakkekalan dan apa saja yang bisa ada, terjadi dan harus dilakukan selama menjalani ketidakkekalan ini.

Tapi, beberapa hari ini aku menjadi lelah ketika menghadapi dan mendengarkan kalimat-kalimat seputar masa akhir itu dari mulut seseorang yang dekat. Yang degupan dirinya sedang bermasalah. Yang selalu menunjukkan seolah ketidakkekalan yang telah dia jalani lebih banyak dari yang pernah ada di sekitarnya, meski dia tahu tak ada yang tahu berapakah banyak itu. Dan di antara semuanya, selalu diselipkan cerita tentangku.

Kalau tuduhan yang bisa datang padaku adalah ketidaksukaan untuk memberikan rasa kasih yang dibutuhkan, boleh kukatakan dengan suara lantang bahwa kamu tak tahu aku. Kelelahanku, hanya berpangkal pada ketidakrelaan tentang sebuah waktu akhir yang mungkin datang pada darah dagingku, sesuatu yang kupahami benar kepastiannya. Memang, lukisan yang bisa kucoretkan untuk kau lihat hanya semacam keluhan tak suka. Padahal aku hanya tak punya keahlian melukiskan. Semua yang ingin kulukiskan hanyalah apa yang tak bisa kupandangi dengan senyum.

Satu kali aku pernah membutuhkan lima menit terlama dalam hidup untuk mencoba menangkap sebuah gerakan dada yang begitu halus, hanya karena pintu yang terkunci dengan sengaja itu memisahkanku dengan apa yang kupandangi. Sampai akhirnya kutegakan membangunkan sebuah kelelapan untuk lebih memastikan semuanya baik-baik saja, sebelum airmata menjadi deras. Dan disitulah awalnya kelelahan itu.

Aku tak suka menangisi sesuatu yang tak pasti. Maka, memiliki teman yang mengerti benar apa yang kau bicarakan, adalah sebuah kemewahan. Aku katakan bahwa aku memiliki kemewahan itu kemarin, di saat lelahku. Mungkin dia sudah kembali pada kesehariannya kini, tapi sentuhan keberadaannya  tetap terasa kental.

Kalau ini adalah sebuah catatan harian terbuka, ……..entahlah. Matahari memang bersinar dan segalanya menjadi lebih baik. Tapi apa yang sudah terjadi tak bisa terhapuskan. Karena aku takut pada sebuah akhir, aku selalu mencari asa bersamaan matahari yang mulai bersinar. Selayaknya, menjadi lebih cerah dan kelelahan perlahan memudar dengan memejamkan mata beberapa saat lalu.

Aku ingin, hujan masih akan lama lagi datang…………………KAU dengarkan aku, kan?





Cinta Pertama Lelaki Kecil

3 03 2008

” Kau mau duduk sebentar bersamaku sebelum kau rebahkan badan? Ada satu cerita untukmu..”

Aku hanya ingin bicara tentang satu dari kekasih kecil kami.  Masa ini baginya, adalah masa memiliki  pandangan tentang dunia baru. Dunia yang indah dan penuh bunga-bunga untuk dinikmati dalam kesederhanaannya. Ketika dia mengenal bentuk lain manusia yang tidak hanya dia saksikan berbeda alat-alat tubuhnya, tapi bisa menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. Percikan-percikan hangat yang berbeda dari apa yang bisa aku, ibunya, berikan.

Ya, sayang……masa-masa ini kelembutan tanganku bukan lagi satu-satunya kelembutan yang bisa dia kenal. Ada lagi kelembutan lain yang baru dan dia tahu ingin dirasakannya, dengan penuh ketersipuan. Tapi kekasih kecilmu ini adalah makhluk tak banyak kata sepertimu. Maka segala ketersipuan yang terpapar di rona merah pipinya, hanya bisa kurasakan auranya. Dari apa yang tak biasa dia lakukan. Bukan barisan kata panjang jika aku tak mendekati dan membisikkan kesediaanku menjadi tempatnya meluapkan rasa.

Aku perempuan dan dia lelaki. Tapi apa yang bisa kubisikkan pada lelaki kekasih kecilku itu, adalah apa yang mungkin ingin dilihat perempuan-perempuan kecil seumurnya. Dan bagaimana kamu dulu mendekatiku, sayang…….

Dia sungguh menikmati masa ini. Dia tahu dari mulutku, ada jalan bercabang di mukanya. Jalan yang bisa membawa makin banyak cerita indah dan jalan yang bisa memberi kedukaan. Dan bagaimana dia bisa punya lembaran hati yang berlapis tebal untuk menerima salah satu kemungkinan jalan itu, menjadi tugas kita. Tak perlu dia berada dalam pesta tak bertepi ketika dia terima bunga-bunga dan tak harus dia tebarkan duri-duri terlalu banyak jika dia berada di  jalan buntu. Dan tugas kemanusiaannya masih sangat banyak dalam perjalanan waktu yang belum dia lalui di depan nanti. Semua tugas itu toh tetap ada di pundaknya dan tak bisa terganggu.

Dan aku termangu sendiri setelah kau pergi. Tidak, aku tidak galau. Semua itu pasti ada waktunya. Dan waktu ini pasti akan datang kapanpun dia siap dengan hatinya untuk menatap kecantikan bunga yang dipilihnya. Bohong kalau aku tak punya khawatir dengan luka yang mungkin dia rasakan. Atau tentang bagaimana langkah yang paling elegan yang bisa dia buat. Tapi biarkan dia memilih seperti kepribadiannya menuntunnya. Pasti akan ada kecantikan yang sesuai untuk setiap langkahnya. Tapi yang pasti, ada senyum tergaris di bibirku. Untuk jejak baru yang bisa ada dalam sejarah kehidupan kekasih kecilku, dan memberi warna lain dalam khayalan benaknya.

Lelaki kecil, nikmati saja masa-masa ini. Pahitnya mungkin ada, tapi satu saat nanti kamu hanya akan mengecap sisa manisnya saja. Tak akan pernah hilang rasanya………karena begitulah orang pernah bilang: CINTA PERTAMA TAK PERNAH MATI.





Lelaki Yang Merasa Perih

16 01 2008
Kudengar dia bersuara. Mengatakan tentang satu rasa, ” kurindu dia yang tak ada lagi ! ” Tak ada getar gemetar, apalagi isak. Hanya suara, tak kulihat wajahnya. Tampaknya dia tak tahan rasa perihnya. Suaranya datar khas lelaki, tapi aku yang merasakan getarnya. Mungkin dia menangis diam-diam tak bersuara, hanya air mengalir. Begitu yang kulihat dalam kepalaku.

Tak malu dia mengaku perih. Tak menjadi cengeng juga karena tidak sekalipun meratap. Dia hanya tak munafik atau sekedar menunjukkan kelelakian dengan berpura-pura. Dari jauh perihnya bisa kurasakan. ” Kau mau datang pada tanah tergunduk itu ? Biar kutemani……”, begitu saja jawabku. Tak kubelai, tidak juga kurapatkan pelukan padanya.

Bukan….bukan karena dia tak sedang kutatap. Tapi hanya itu yang dia butuh. Memang cuma itu. Dia butuh seorang teman, bukan seorang perempuan.

Berhitung tahun yang pernah terbagi, aku tahu kapan tanganku harus terulur untuk dia dengan identitas sebagai perempuan atau sebagai teman. Ada lebih dari satu kesempatan perih hinggap pada hatinya. Kadang dia perlu banyak kata. Lain waktu dia ingin tanganku di pundaknya. Atau mungkin hanya diam tak bersuara selain duduk bersisian dan merasa.

Lelaki ini merasa perih, bagaimana bisa kuungkapkan bagaimana aku mengerti. Dia bersuara kala tak biasanya dia bicara, mungkin. Atau dari kalimatnya, itu lebih menggambarkan dengan jelas. Pendek saja. Aku pernah mengajarinya bicara tentang rasa hatinya, bukan hanya diam. Tak akan mengubah kekerasan hatinya kan ? Aku pernah tunjukkan bagaimana mengungkap rasa tanpa harus menjadi lemah dan menangis. Dan beginilah dia sekarang.

Sebagai lelaki, siang yang ada membuatnya meneruskan langkah. Suaranya tetap sama datar atau bergegas keras. Kamu tahu, aku cinta lelaki begini. Lelaki yang perihnya tak menghiba, tidak juga berpura-pura tak ada……….





Untuk Kau Ingat, Anakku……..

13 01 2008
Kemarilah, Nak………..duduk dekat ibumu, sangat dekat. Memang hawanya panas setelah siang yang sangat terik. Jaga saja hatimu di dalam sana, agar tak mudah panas dan membara. Atau panas membara asalkan kau mengerti bagaimana membuatnya kembali sejuk dan tak menulari hati yang lain.

Disinilah sayang………ibumu ingin bersamamu menikmati angin semilir beserta segala nuansa yang dia bawa. Sambil kita bercerita tentang dunia yang menua terlalu cepat. Nikmati segala nuansa yang kau rasakan karena begitulah kau akan menikmati dunia ini. Rasakan dengan segala indera yang kau punyai dan selaraskan dengan hatimu. Ketika terlalu tak nyaman, maka kau bisa belajar bertanya pada hatimu itu. Jika terbiasa kau ajak berbincang, maka dia akan menjawabmu dengan segala yang dia tahu. Dialah tempat kau menimbang, setelah kau bertanya pada otak dan sebelum kau mengadu pada Gustimu.

Letakkan sejenak buku-buku pengasah kepandaianmu. Letakkan pensil yang kau gunakan mencoret hitungan-hitungan angka. Angka-angka itu menajamkan ingatan. Tapi jangan kau bawa ketika kau melihat dunia, karena hasilnya akan mengacaukan. Jika kau paksakan, jalan di depanmu mungkin akan menyesatkan. Akan ada waktunya yang tepat, kau pergunakan lagi perhitungan matematis.

Engkau adalah lelaki-lelaki dimana kelak tanganmu menggenggam dunia. Bagaimana kau mainkan apa yang ada dalam tanganmu itu?

Lelaki memang terlahir keras. Jika hatimu lembut, tak berarti dunia tak bisa kau taklukkan. Jika halus perasaanmu, tak membuatmu memerlukan pakaian wanita. Karena dirimu adalah manusia.

Tetaplah disini dulu, anakku…….matahari pergi untuk hari ini. Panas tadi perlahan menjadi dingin. Tapi jangan kau biarkan hatimu dingin saat kau sentuh dunia. Nanti yang berdiam disana hanya batu.

Aku tak punya banyak untukmu…….tapi apapun yang indah dariku, ambillah untukmu. Tinggalkan satu hal yang memang tak kuingin untuk kau miliki dariku. Kebencian. Harta tergelap yang dimiliki manusia termasuk aku, tak perlu kau tumpuk lagi dalam dirimu. Pendam saja dalam-dalam kebencian yang kau punya, agar hatimu tumbuh besar dan lapang. Dan tak membuatmu sulit untuk mencintai.

Ingat saja sore ini, anakku……..saat kita nikmati kebersamaan ini.





Pada Sebuah Rasa

11 01 2008
Kalian yang diluar sana…..pernahkah kau genggam rasa takut? Ya, aku tahu, itu pertanyaan bodoh. Hatimu kan masih hati manusia, yang dibuat oleh Penciptanya yang Satu. Pertanyaan itu tak perlu dijawab, tapi coba dengarkan ini.

Ketika sebuah rasa datang pada hatimu, ada berapa tingkatan yang mungkin kau lewati. Ketika kau senang, bisa kau lalui dari keinginan secuil untuk tersenyum, lalu hilang duka dan gundahmu, hingga akhirnya dadamu bergetar karena ledakannya. Tak cukup senyum, kau bisa meringis lebar, lantas tertawa lepas dan akhirnya terbahak. Itu, jika kau senang, sangat senang dan sangat sangat senang.

Lalu kau punya takut disisi yang lainnya. Kau khawatir, itu sudah berarti takut. Kau merinding dan berdiri bulu romamu untuk sesuatu, takutmu sudah nyata dan pilihanmu yang terbuka adalah lari. Bagaimana ketika kau berkeringat dingin, tersengal, dadamu sakit dan sesak hingga airmatamu bahkan tak mampu mengalir saat menghadapi sesuatu. Yang tersisa adalah lemas. Apa ini namanya…….mungkin ketakutan yang tak lagi terkatakan.

Saat kita hanya melihat sebuah gambar tentang sebuah kehilangan, mana yang mungkin hadir mengisi ruang batin. Atau bayangkan saja tentang jantung yang berhenti berdetak. Jangan bicara tentang rasa pasrah dan keharusan berserah diri untuk segala yang terbaik. Kenyataannya, kepasrahan tidak selalu cukup menghalau segala keringat dingin yang terlanjur membasahi busana.

Bayangkan tentang cinta. Muara hidupmu, pusaran waktumu, dan pusat motivasimu. Hilang. Tak bisa kau cium, tak mungkin kau belai dan tak ada untuk kau peluk. Sedang katanya, kau sudah pasrah. Dukamu tak terbagi di tempatnya. Sukamu hanya kau nikmati sendiri. Ceritamu tak ada yang mendengar. Apa kabar busanamu? Basah? Katanya kau pasrah…………

Aku tak menggenggam silet. Tapi dengan segala rasa yang ada, satu yang pasti. Perih. Basah busanaku. Airmataku tak sanggup untuk mengalir. Salah? Mungkin saja, karena sikapku seolah hari itu tak pernah akan datang.

Bisakah memilih, siapa yang harus didera takut yang seperti itu………………Tahu, tapi seolah tak tahu hingga harus bertanya lagi.