Lagi-lagi sebentuk perasaan saja. Membumbung tinggi menembus lintas batas udara dan ingin menemui Sang Pembentuk Sebongkah Hati. Ingin bersujud langsung di jemari kakiNya untuk segala sukacita dan rasa bungah.
Tatkala semua doa yang terucap adalah untuk sebuah keinginan bagaimana kelak buah hati belahan jiwanya akan menjadi manusia yang shaleh, doa itu mungkin usang semata. Usang, tapi selalu terucap di bibir tiap Ibu. Dan kadang dalam doa itu, bibir ini terhenti sesaat untuk menafsirkan makna keshalehan yang menjadi konsepnya. Terus berputar mesin kata di benak hingga akhirnya memutuskan sang Gusti sudah memahami yang dimaksudkan. Dan doa sang Ibu berlanjut untuk segala keselamatan dan masa depan.
Perjalanan ini masih panjang. Pun perjuangan untuk membentuk cita-cita dan khayalan. Entah tuntas, entah tidak. Karena masanya tak mampu terhitung dengan jari jemari yang mengacung pada langit. Karena itu perjuangan menjadi bukan apa-apa selain semangat dan niat mulia. Hasil yang tercapai kelak akan menjadi bukti dari catatan sejarah panjang alam bumi yang pernah menyimpan manusia bernama Ibu. Dan semoga manis bagi buah hatinya.
Ibu…..akankah merasakan buah perjuangannya? Wallahualam. Harapan menjadi sepanjang matahari terbit. Dan manakala di awal perjuangan ini Ibu merasakan ada gula yang terasakan di ujung lidahnya, tak bisakah dimaklumi ketika sujudnya menjadi begitu lama untuk segala syukur. Buah hati belahan jiwanya, menuntunnya menyeberangi parit kecil yang masih mampu diseberanginya seorang diri. Hanya karena tampaknya gerak si Ibu kurang leluasa. Dan ketika ibu anak itu berjalan beriring sang kekasih kecil itu bertanya,” mana jalan yang enak untuk Ibu? disini sempit…” Ketika akhirnya si Ibu memilih jalan yang lebih lapang, kekasih kecilnya berputar dan menemani langkahnya. Mata Ibu itu berkaca-kaca dan berbinar…..
Gusti……..jika Kau ijinkan aku memperpanjang doaku, maka sempurnakanlah jiwa belahan hatiku, kekasih kecilku ini…….untuk menjadi manusia yang utama….


Komentar Terakhir