Duh Belahan Jiwaku…..

13 10 2008

Lagi-lagi sebentuk perasaan saja. Membumbung tinggi menembus lintas batas udara dan ingin menemui Sang Pembentuk Sebongkah Hati. Ingin bersujud langsung di jemari kakiNya untuk segala sukacita dan rasa bungah.

Tatkala semua doa yang terucap adalah untuk sebuah keinginan bagaimana kelak buah hati belahan jiwanya akan menjadi manusia yang shaleh, doa itu mungkin usang semata. Usang, tapi selalu terucap di bibir tiap Ibu. Dan kadang dalam doa itu, bibir ini terhenti sesaat untuk menafsirkan makna keshalehan yang menjadi konsepnya. Terus berputar mesin kata di benak hingga akhirnya memutuskan sang Gusti sudah memahami yang dimaksudkan. Dan doa sang Ibu berlanjut untuk segala keselamatan dan masa depan.

Perjalanan ini masih panjang. Pun perjuangan untuk membentuk cita-cita dan khayalan. Entah tuntas, entah tidak. Karena masanya tak mampu terhitung dengan jari jemari yang mengacung pada langit. Karena itu perjuangan menjadi bukan apa-apa selain semangat dan niat mulia. Hasil yang tercapai kelak akan menjadi bukti dari catatan sejarah panjang alam bumi yang pernah menyimpan manusia bernama Ibu. Dan semoga manis bagi buah hatinya.

Ibu…..akankah merasakan buah perjuangannya? Wallahualam. Harapan menjadi sepanjang matahari terbit. Dan manakala di awal perjuangan ini Ibu merasakan ada gula yang terasakan di ujung lidahnya, tak bisakah dimaklumi ketika sujudnya menjadi begitu lama untuk segala syukur. Buah hati belahan jiwanya, menuntunnya menyeberangi parit kecil yang masih mampu diseberanginya seorang diri. Hanya karena tampaknya gerak si Ibu kurang leluasa. Dan ketika ibu anak itu berjalan beriring sang kekasih kecil itu bertanya,” mana jalan yang enak untuk Ibu? disini sempit…” Ketika akhirnya si Ibu memilih jalan yang lebih lapang, kekasih kecilnya berputar dan menemani langkahnya. Mata Ibu itu berkaca-kaca dan berbinar…..

Gusti……..jika Kau ijinkan aku memperpanjang doaku, maka sempurnakanlah jiwa belahan hatiku, kekasih kecilku ini…….untuk menjadi manusia yang utama….





Lebaran….Lebaran….

6 10 2008

Begitu hari libur sekolah tiba, maka terhitung hari itu juga perjalanan dimulai. Satu jam menjelang bedug buka puasa, rumah sudah terkunci rapat. Membawa serta keponakan dari kakak yang baru ditinggal pergi istrinya. Membawa juga semua bekal yang diperlukan termasuk cemilan, bantal dan selimut, film dan lagu yang akan menemani perjalanan. Bismillah……..dan roda berputar.

Lebaran masih beberapa hari ke depan, maka tidak diperlukan ketergesaan. Singgah di kota di pertengahan Jawa, beristirahat sehari dan mencari sekadar oleh-oleh untuk sanak kadang yang akan ditemui di Timur. Sekadar? Ah…sulit sekali untuk mencari yang disebut sekadar itu. Inginnya, semua menjadi istimewa. Inginnya, semua bisa merasakan.

Ya, Lebaran tahun ini memang menjadi istimewa. Karena keponakan yang kami bawa serta, karena orangtua yang harus dirawat sakitnya, karena kebingungan yang menyertai ketika anak-anak ingin berlibur ke tempat hiburan tapi tak mungkin mengingat kakeknya yang sakit, dan karena Rawon Rampal yang tak kunjung buka hingga waktu kepulangan tiba. Semua terasa asik saja ketika dinikmati. Sholat Ied di lapangan belakang seperti biasa, cium tangan di antara keluarga, dan ketupat opor yang khusus dibuat guna membuat Lebaran terasa benar kehadirannya. Ya, di kampungku tradisi ketupat memang baru akan datang seminggu setelahnya dan kami pasti sudah di rumah lagi.

Banyak ucapan di pesan singkat telepon genggam beredar sebelum takbir terdengar. Cuma siasat untuk lalu lintas komunikasi yang sudah pasti sangat padat. Sekarang….aku sudah duduk lagi disini. Untuk mengucapkan :

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA BERTEMU DENGAN LEBARAN TAHUN DEPAN





My Mood

12 09 2008

THAT’S WHAT FRIENDS ARE FOR

And I never thought I’d feel this way
And as far as I can say
I’m glad I got the chance to say
That I do believe I love you

And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember:

Reff:
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me
For sure, that’s what friends are for
For good times and bad times
I’ll be on your side for evermore, that’s what friends are for

Well you came and opened me
And life is so much I see
And so by the way I thank you
And then, for the times when we’re apart
Well then close your eyes and loving words
Are coming from my heart
And then if you can remember. . .

Just Miss You, Friends…………





Bukan Milikku Lagi

29 07 2008

Mbak Endang,…. blogspotnya kembali dihidupkan lagi yaaa???

Sapaan Jeng Iko itu mengagetkanku. Satu alasan tepat untuk merasa kaget itu adalah karena cikal bakal blog ini di perkampungan blog sebelah baru saja kututup  untuk pribadi. Dan menggunakan nama yang berbeda pula, demi mempersiapkan sebuah wajah baru. Maka, pastilah Jeng Iko tidak akan mengetahui nama baru dan statusnya yang masih dalam persiapan itu. Dan pastilah yang dia buka lembarannya adalah halaman dengan alamat yang lama : endangcinta . Lalu…..bagaimana jeng Iko bisa menangkap basah kehadirannya kembali?

Dengan rasa yang sangat tidak nyaman karena degupan jantung terlalu berdebar, maka ” kubuka album biru……penuh debu dan usang……..” Sangat berbeda……sangat menusuk kesadaran hingga beberapa waktu menjadi tidak mampu berpikir. Ah ya……sedikit terlalu dramatis penggambarannya. Tapi hal pertama yang muncul di benak ini, adalah apakah halaman biru itu menjadi halaman dewasa ataukah halaman umum? Doaku, “Aduh Tuhan….jangan Kau biarkan halaman itu jadi halaman dewasa…..plis..plis…jangan…..”

Lalu mengapa bisa begitu? Aku harus mengakui bahwa kadang kebodohan masih melingkupiku, meski  aku merasa sudah jauh lebih pandai dibandingkan dulu. Mestinya aku tahu, bahwa tak mungkin keberadaan sebuah alamat di ranah ini tidak kekal. Mestinya aku tak terlalu lugu untuk menganggap penggantian sebuah nama dan alamat akan begitu saja meniadakan yang pernah hadir. Yang terjadi kemudian adalah seperti yang saat ini ada. Kepemilikannya berpindah tangan tanpa sepenuhnya kusadari. Tanpa faktur, tanpa aku membubuhkan tanda tangan, tanpa perjanjian apalagi transfer rekening.

ENDANGCINTA itu bukan lagi milikku. Bukan lagi sesuatu yang bisa kubentuk sekehendak hati. Bahkan pintunya pun tak ada lagi untuk bisa kumasuki dan kubersihkan seperti keinginanku. Aku cuma bisa memandangnya di luar pagar, halaman yang entah siapa penghuninya. Termangu……tak tahu harus berbuat apa. Entah pemiliknya sungguh cinta nama yang bukan miliknya ataukah tidak.

Masih termangu, tepekur………..tak kulakukan sesuatu pun untuk mempersiapkan tempat baru. Aku masih blo’on sekarang…….





Cerita Pengantar Tidur Buat Ibu

9 07 2008

Bu, Ibu…..

Kemarilah mendekat. Saya cuma ingin bercerita sedikit tentang hari-hari kemarin. Panjenengan bisa sambil ngunjuk teh manis bening.

Bu, …..kemarin selesai sudah semua proses yang harus saya lakukan untuk membantu anak sulung saya mendapatkan tempat barunya belajar. Sekolah baru. Tinggal lagi hal-hal kecil yang memang baru bisa dilakukan setelah dia mulai belajar disana. Beberapa hari kemarin memang mendebarkan, karena anak-anak sekarang pintar-pintar dan punya nilai yang sangat tinggi. Si sulung itu juga tidak buruk nilainya, tapi ternyata masih kurang kuat untuk dipakai sebagai senjata bersaing sesama mereka. Sekarang sudah lewat, Bu. Anak sulung saya sudah SMA ! Sudah SMA !!! Bagaimana rasanya waktu dulu putro-putro ibu mulai masuk sekolah lanjutan itu?

Pasti ibu bahagia ya……senang bukan main. Saya juga begitu. Semua repot yang diperlukan selama proses mencari itu tidak terasa lagi sekarang.  Tapi bedanya, saya belum boleh terlalu memperlakukannya sebagai orang yang mulai dewasa. Anak saya itu masih terlalu kecil kok Bu, untuk menjadi murid SMA. Umurnya saja masih tiga belas tahun. Betul, dia sudah mulai mengerti beberapa hal yang diperlukan untuk masuk dan menjadi dewasa. Tapi coba Ibu pirsani sendiri…..kemarin dia masih minta saya pangku. Malah selama beberapa hari ini, apalagi sewaktu badannya panas karena tekanan perasaannya sendiri untuk menunggu kepastian tentang sekolah barunya, dia masih minta disuapi untuk makan. Masih sering tidak mau mengalah pada adiknya untuk soal sepele. Masih sering bermain seperti saudara-saudaranya yang lebih kecil. Karena dia memang masih sangat tanggung, Bu.

Bu, Ibu…..

perasaan saya betul-betul tidak karuan. Bukan cemas meski juga bukan sepenuhnya tenang. Masih banyak sekali hal yang membuat saya bertanya-tanya apakah anak sulung saya itu bisa melewatinya atau tidak. Memakai cara Ibu dulu mengasuh kami putro-putro, saya juga berbagi rasa dan cerita saja dengan dia. Kadang diselingi patron-patron yang memang saya tidak menginginkan dia untuk membantah. Kadang kami saling bertukar canda juga seperti teman dan mungkin saya menjelma seperti gadis seumuran dia yang sudah berpikiran lebih tahu. Tapi seringkali juga ramai dengan perbantahan sana sini karena tipikal anak-anak di eranya sekarang, membantahnya juga sudah lebih keras. Sedangkan saya adalah produk setengah modern dan setengah kuno. Bisa ibu bayangkan ndak Bu, sewaktu saya lebih cenderung ingin kekunoan itu dipertahankan, maka cerita yang mesti saya dendangkan akan lebih paaaaaanjaaaaanggg……….begitulah kira-kira.

Bu,

saya tahu Ibu juga bahagia melihat cucunya pintar. Mungkin malah bangga. Dia lebih pintar dari saya kelihatannya. Jadi, saya cuma ingin Ibu menikmati saja perasaan itu. Untuk membuat Ibu tersenyum dan tidak usah terlalu pusing dengan semua masalah yang tidak pernah hilang dari muka bumi. Tidak usah terlalu banyak menggalih yang macam-macam. Mudah-mudahan, satu demi satu prestasi dan semua hasil baik yang kami ceritakan tidak lagi membuat Ibu terlalu cemas memikirkan kami. Kami juga sudah menua, biar kami hadapi sendiri kesulitan-kesulitan yang ada, karena memang kami harus belajar terus untuk kematangan dan kebijaksanaan kami sendiri. Saya ingin, Ibu tetap senyum ketika saya nanti menemui kesulitan lagi. Karena artinya, saya mendapatkan materi baru untuk dipelajari dan supaya lebih pintar lagi. Iya, saya juga tahu perasaan seorang Ibu yang tidak pernah berhenti cemas untuk anaknya.

Bu,

sudah malam sekali sekarang. Udara Jakarta musim kemarau di waktu malam begini masih menyisakan angin, terlebih untuk wilayah pinggirannya seperti rumah ini. Sebaiknya Ibu sekarang sare saja di dekat anak-anak. Biar mereka juga lebih senang tidur dikeloni eyangnya. Besok Ibu boleh duduk saja atau memasak untuk kami jika kerso……





Kamu Yang Tercinta

16 06 2008

Our Beloved

Aku tak mengerti

Ketika Tuhan menciptamu, mungkin hatinya sangat penuh cinta

karena dirimu sangat sempurna indahnya……

Matahari mungkin tak pernah terbit sendiri tanpa ditemani sapamu

dan aku terbangun dengan sentuh dan senyummu

Mungkin kau pernah berteriak untuk segala yang memenuhi jiwamu

tapi seperti janji sang matahari untuk menghapus kabut,

jejaknya bahkan tak kulihat lagi

Dan aku pasti cinta kamu………mereka juga cinta kamu……….

Aku masih disini, kami masih disini

menatap tiap sudut yang merekam hadirmu dulu

menatap rumput hijau di atas makam yang memisahkan ragamu dari kami

membaui wangi yang punyamu, mengenangmu……..

Kulitmu tak bisa kusentuh lagi, matamu pun tak bisa kutatap

Tapi hatimu dan segalamu tak pernah pergi

Dari sudut hati, dari nadi, dari nafas ini…………..

ditulis untuk menyertai buku Yassin , mengenang 40 hari kepergianmu………





Kamboja dan Tanah Merah Basah

26 05 2008

Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin terpejam. Ada selaksa rasa lelah menggantungi kelopak mata dan sisa tetes air kehilangan. Merah muda Kamboja tak mampu  mengangkat duka yang tertinggal di sudut hati ini. Dan meski tidur beberapa lama, tak mungkin mimpi buruk itu berganti menjadi kembali indah. Karena yang pergi akan tetap pergi.

Sudut hatiku terasa kosong. Semakin terasakan ada bagiannya yang tercerabut karena sebuah Kehendak yang Maha Mutlak. Aku menghitung jumlah kumpulan kepala yang bisa kusapa kutatap kucium, tak genap lagi. Belum satu tahun dan airmata belum mengering, kini harus tertumpah lagi. Ketentuan sudah menghampiri dan tak satupun bisa mengatakan kata tidak.

Matahari yang kutatap kini, mungkinkah menyampaikan pesanku untuk bertanya apa kiranya yang paling Dia inginkan dariku. Aku tak ingin menggugat karena aku menerima. Hanya aku masih terus mencari pada siapa segala pesanNya disampaikan melalui bunga-bunga yang mulai gugur. Untukku, mungkin untukku, begitu kata hati ini. Aku tak terbebani dengan segala yang mungkin memang ditinggalkan untuk kusentuh. Tapi tak mungkin kubantah kalau aku menangisi warisan yang dia tinggalkan untukku, dan pasti menangisi kepergiannya.

Kalau kutundukkan kepala ini mengingat detik-detik akhir yang ada, napas panjangku pasti tertarik tanpa sadar. Memang pesan itu untukku karena aku yang merasakan ketika langkah kaki ini begitu saja melangkah kesana. Semua tergerakkan hanya karena rasa cintaku pada dia. Dan tatapan matanya yang terakhir merintih padaku, tak sanggup kubalas dengan sempurna. Dan kini akan terbawa dalam benakku hingga akhir nanti.

Aku masih ingin berbincang cengkerama dekat dengannya, sebelum waktunya berputar disini usai. Entah konyol, entah tak waras……..tapi aku ingin berbincang lagi untuk yang terakhir. Setelah itu, selamat jalan adalah satu-satunya kata yang kupunya untuknya dan tak akan kuganggu perjalanannya. Dan taburan bunga akan selalu ada di atas tanah yang masih merah basah ini……..

Kamboja merah muda, sampaikan salam kasihku baginya bersama embun yang menyertaimu pengganti airmataku……..





Haruskah Aku Percaya….Kenisbian ?

9 04 2008

Ada kudapati seorang ibu yang mengalami kecemasan. Tentang apa yang sedang terjadi di sebuah tempat jauh dari pandangan mata tuanya yang merabun, tempat dimana buah hatinya mengarungi hidup. Tentang hal-hal yang tak diketahuinya dengan pasti, hanya hatinya menyala. Hati tuanya mungkin terlalu mencintai dan bisa menerawang jauh pada apa yang tak tertangkap mata fisiknya. Terlalu mencintai yang bisa juga mengacaukan kebenaran karena kabut cintanya terlalu tebal dan melingkupi.

Banyak suara pernah bicara tentang segala sesuatu yang tak berkaki pada apapun selain kenisbian. Entah bagaimana jejak nisbi itu menjadi nyata dan diyakini lalu ditularkan pada benak lain yang tak pernah percaya, dididik untuk tak percaya, dan yang tak pasti. Satu hal yang pasti, kadang keterpaksaan untuk meyakini itu datang karena melihat sesuatu yang ada meski  tak pernah mempercayai. Ada dan tidak, percaya dan tidak percaya. Lalu bagaimana dengan keyakinan pada yang Esa, akankah terduakan?

Matahari pasti terbit pada waktunya, entah enggan atau tidak. Banyak isi alam yang dia bawa serta dengan kemunculannya, sebagiannya menjadi duka bagi makhluk. Pernah ada yang mendapat kabar dari sang matahari sebelum duka itu datang, lagi-lagi sebuah kenisbian. Ketidakpastian. Dan semua telinga yang mendengar kabar burung menjadi terapung dalam batas keyakinan, percaya dan tidak.

Oh ya, pasti aku bicara tentang adanya aku, sisi mana yang kupilih. Bekal cerita, banyak nilai yang ditanamkan, keberadaan dunia dewasaku, menempatkanku disini. Di tengah. Yang selalu mampu untuk ditarik ke kanan dan kiri bergantung cahaya-cahaya yang menerpa mataku. Dan aku lebih memilih untuk bergerak dengan sebuah keterpaksaan jika kabar burung itu benar. Maka jika dipertanyakan tentang menduanya aku dari yang Esa, aku lebih memilih untuk bertanya padaNya karena kebodohanku. Aku tahu, Dia akan bicara dalam hatiku. Karena aku bukan seorang ahli surga, selain hanya meyakini ajaran tentang kebaikan.

Dalam ketidakpastian yang kumiliki, entah apa membawaku bicara dengan dia yang tak bisa kutemui lagi. Dia yang membuat rindu kami tak pernah tuntas lagi. Entah bagaimana siang itu aku dan dia berbincang layaknya hari kemarin, meski segala kalimat yang ada hanya ingin menyuruhnya pergi. Berjalan terus dan tak menghentikan perjalanan keabadiannya. Dan aku hanya menginginkan kami yang disini menjalani segala kemanusiaan kami yang serba tidak tahu dan harus begitu.

Kalau aku tak percaya, karena aku tak boleh mempercayai yang tak kutahu. Kalau aku menyentuh duniamu, karena aku hanya yakin dirimu masih ada. Maka pergilah, demi dirimu ……………………….





Kembali ke Peradaban Cinta

5 04 2008

Perawakan kecil tapi liat, tegap dan gagah sebagai perempuan, membuat penampilanku tampak sangat sehat. Aminah misalnya, jika ditanya kesannya tentangku, maka biasanya dia menyebutku sehat sekali dan cenderung menjulukiku sebagai atlet. Sebagian lain mengatakanku sebagai bola bekel. Apa sajalah, muaranya tetap pada diri yang selalu tampak sehat dan segar. Maka, jangan ditanya ketika pengalaman pertama kali pingsan dahulu kala, berapa banyak yang bertanya bagaimana aku bisa sakit. Tak terkecuali guru olahraga yang mestinya lebih proporsional menilai, toh tergelincir juga dengan pertanyaan begitu. Tidak, bukan jumawa selain mencoba mengurai kesempatan langka dalam hidup.

Tapi kurun waktu sepuluh hari terakhir ini, hal yang bisa aku lakukan hanya tidur. Dan di pertengahan waktu itu bahkan harus dihabiskan di sebuah kamar yang bukan kamarku, tetapi lengkap dengan selang infus dan kunjungan suster dan dokter secara berkala. Ada rasa geli dalam dada ketika semuanya berubah serius begitu. Ada keperkasaan yang terlepas begitu saja tanpa dikehendaki. Sekaligus juga sedikit kelegaan bahwa memang aku cuma manusia biasa yang harus menyerah kalah pada teriakan tubuh sendiri.

Di luar semua itu, rasanya semakin banyak saja cinta berpendar dan kuterima. Perlakuan layak seorang suami yang mencintai istrinya, seperti yang bisa diterima semua istri di dunia dari para suami mereka, itu tak perlu dipertanyakan. Uban mengelap badanku, mengurangi waktu kerjanya di kantor, tiap sebentar memegang kepala, menggantikan pakaian yang basah, membuatkan minuman dan mencarikan makanan pembuka selera. Belum lagi dia harus bangun lebih pagi dan mempersiapkan keperluan sarapan kekasih-kekasih kecil kami berikut minuman pagiku. Apa yang bisa lebih sempurna dari cinta itu?

Atau kekasih-kekasih kecilku dengan pesan-pesannya untuk tetap beristirahat saja. Ciuman perpisahan menjelang berangkat sekolah dan kerinduan saat pulang sekolah. Si bungsu yang tak mau berjauhan danselalu menanyakan apa yang kubutuhkan, atau si sulung yang siap melakukan apa saja di tengah kesibukannya mempersiapkan berbagai ujian. Apa yang bisa lebih sempurna dari semua kasih itu?

Aku punya banyak cinta dalam kehidupanku. Mataairnya tak henti mengalir dari tiap hati orangtua, adik, kakak, keponakan dan teman yang selama ini kepada mereka sudah kuberikan hatiku. Maka, ketika perawakan kecil sehat ini harus tersungkur, semuanya bukan apa-apa selain pembuktian cinta. Ada teman yang tak bersikap layaknya teman, maka itupun pembuktian tentang cinta-cinta yang tak pernah sia-sia ditebarkan karena mampu memilihkan yang terbaik untukku.

Tubuh ini mungkin sedang lelah amat sangat dan perlu banyak waktu untuk memulihkan diri. Tapi hati ini justru makin bekerja keras untuk mencintai. Bukan untuk meminta lagi pada saat yang berbeda, tapi hanya demi sebuah hati yang damai dan penyembuh utama di kala gundah.

Pagi ini terasa lebih indah di pandangan mataku yang masih sedikit bergoyang………..





Masih Ingin Bicara

24 03 2008

Menunggu matahari yang belum menemukan jalannya untuk datang, adalah sebuah dini hari. Mata sudah nyalang untuk sebuah pemandangan yang tak tahu apa. Dan rasa dingin dari sebuah rindu yang tak mungkin selesai tuntas, hanya dilupakan sesaat untuk meredakan penat menanti tuntasnya.

Angin-angin yang berhembus selalu membawa serta pasir yang serupa  dalam butirannya. Dan kupahami sebagai aneka hiasan bumi yang selalu menyentuh dunia kemanusiaan. Marah, rindu, malu………aku bicara tentang rindu saja. Rindu, sebuah pasir yang khas butirannya, lembut mendayu namun sanggup menyayat dalam-dalam.

Hai matahari yang mulai menemukan jalan menyapa bumi, kami disini memang rindu. Tapi tak mungkin lagi terselesaikan. Tak bisa tuntas karena tak mungkin diusap. Tak mengapa, karena ketika rindu yang ini datang mengelus, menjadi alat komunikasi yang sangat layak menjembatani dunia ini dengan dunia yang sangat maya dan belum kami kenal bentuknya.

Memang, tak mudah mengartikan segala yang tak terucapkan. Tapi kasih kami yang terentang kuat tak bisa memisahkan dua dunia yang berbeda. Maka, disanalah kata-kata antara kami berpendaran untuk dimaknai dalam frekuensi yang sama. Disanalah kami mencari segala arti, yang mungkin meminta kami menggerakkan langkah dan rentangan tangan. Mungkin dia yang disana, inginkan kami tahu betapa arus air bergejolak tanpa dia ada untuk meredakannya.

Ada suara yang mengatakan mungkin kami terlalu mengingat kasih kami dan terlalu sering bicara tentang dia yang tak ada, maka dia tak mungkin pergi. Mungkin kami tak melepasnya dari buku besar kosa kata kami. Maka, itu adalah kesalahan. Tapi kau tahu, kadang dia datang tanpa diminta. Kehadirannya yang tak berujud membawa alunan nada lirih yang melingkupi dan hanya terdengar oleh hati yang terdalam. Saat ini terjadi, maka hati kami kembali bersuara bahwa pintu komunikasi terbuka untuk kami memaknai segala tanda. Dan kamu tahu, komunikasi ini hanya ada di rentang cinta yang sama kuatnya.

Tapi untuk kamu yang tak di sisi, ada waktunya bagi kami untuk tidak melakukan apa-apa selain memahami bahasamu.  Sekadar khasanah yang tertimpa sinar untuk bisa terlihat dan tak harus kami sentuh dan perbaiki letaknya. Ada tempat yang tak mungkin lagi kami jamah karena dia menolak kulit tangan kami. Maka jika demikian, kami hanya mengenangmu. Tidak membantumu. Kami mungkin saja menangisi apa yang tak bisa kami sentuh untukmu, tapi kamupun tahu kenapa.

Kami tahu, ada rindu yang tak bisa tertuntaskan dan tak mungkin. Tapi biarlah ada, untuk tak menafikan semua yang pergi tak kembali dan masih ingin bicara………….