Sang Dewi memilih tempatnya sendiri, menyepi. Meski tak sedang berangin, tak mengapa baginya. Karena hatinya begitu penuh, karena sebuah cinta. Nikmat, terlalu nikmat rasanya, hingga menjadi begitu menyayat. Aneh, tapi amat sangat nyatanya. Karena pekat darah yang mengalir dari sayatan itu terasa manis. Dan dia cecap berulang kali.
Dia mengingat perjalanan cintanya, entah mengapa. Orang bilang unik, aneh, kadang lucu hingga tak mampu dipahami oleh mereka diluar. Satu yang begitu melekat dalam benak adalah ketika begitu sulitnya ayah ibunya menerima kenyataan kemana cintanya dia lekatkan. Banyak alasan dia dengar, tapi tak satupun yang mampu dia mengerti. Karena nafasnya telah meninggalkan catatan bahwa cinta tak pernah mudah. Tapi cinta sungguh maha luas untuk menerima semua beban, meski bukan satu-satunya. Dan itu membuatnya kuat hati menjalani segala dusta pada orang tuanya.
Cintanya terlalu tua untuknya, begitu dalam kacamata semua orang. Tapi tidak untuk sang Dewi sendiri. Caci, olok dan cemooh menjadi bagian dari udaranya. Tapi Dewi begitu yakin dengan hatinya, dibawa oleh suara nuraninya yang begitu terletak dalam. Datang dan pergi wajah muda dalam hari-harinya, sangat bisa dia nikmati. Bukan sekali dua dia mencari pengganti demi menyenangkan hati tua ibunya. Kesemuanya dia lihat secara fisik. Sampai akhirnya dia sadari apa yang dia cari secara fisik itu, juga mencari sosok yang dia cintai. Hanya secara fisik tapi semua adalah cermin wajah cintanya. Lalu bagaimana dia mampu berpaling pada lelaki lain. Jeratnya kuat mengikat hati.
Sepanjang hidupnya kemudian, yang Dewi lakukan adalah menyimak dan belajar. Lelakinya tak banyak memiliki huruf untuk diucapkan kepadanya. Tapi Dewi merasakan dengan hatinya. Dewi mencari cermin lagi untuk tahu bagaimana bicara benar sebagai perempuan. Dimana batas yang tak bisa dilampaui perempuan agar tak menyinggung kelelakian lelakinya. Dia mencari dengan keperempuanannya titik apa yang begitu menyentuh hati lelaki.
Semakin dia mencinta, semakin resah hatinya. Rasanya tak cukup apa yang dia miliki untuk diberikan. Dan begitu takutnya dia kehilangan dan tak punya lagi kesempatan untuk memberi. Ini yang menyayat. Dan sangat perih. Kata orang, jangan berikan hati perempuanmu terlalu banyak pada lelaki agar tidak hancur satu ketika. Tapi Dewi lebih senang menghadapi resiko hancur daripada membawa hati yang cuma sepotong. Dengan begitu dia merasa punya bakti. Jika ditanya apakah lelaki itu membawa cinta yang sama besarnya untuk Dewi, tak mungkin dia mampu jawab sendiri. Karena Dewi tak begitu menyimak tentang itu, tak peduli. Dan jika satu ketika itu datang, Dewi hanya ingin mengganti kulit hatinya yang tipis, dengan kepenuhan yang sama, dengan cinta yang pernah dia punya. Meski besar hati itu sudah menyusut untuk lelaki terdahulu.
Satu hal yang pasti, mengenang indahnya cinta, tak harus pada malam yang khusus……….
Komentar Terakhir