Cinta Pada Berpotong-potong Roti

25 03 2009

Pada dasarnya, di awalnya, saya tidak begitu menyukai makanan pokok saya sendiri, nasi. Dulu saya tak banyak memiliki pilihan dan setelah dewasa, saya tetap tak memiliki pilihan ketika harus berhadapan dengan sambel terasi. Selebihnya, saya tidak mencari nasi saat berjumpa dengan aneka roti, kue, sayur dan makanan lain yang mandiri tanpa nasi.

Kenyataan itu, sekarang diwarisi oleh sulung saya. Selera makannya lebih mem’bule’ dibanding adiknya yang lebih tradisional. Maka pernah ada masa sulung saya itu harus bertemu roti dan meisjes minimal dua tangkap roti sehari. Setiap hari. Saya saja dibuat bergidik dengan kemonotonan itu. Tapi dia sehati dengan eyang kakungnya. Sedangkan si ragil, kadar kegemarannya pada roti meisjes ini tidak segila kakaknya.

Beranjak remaja, kebosanan mulai bisa dirasakan oleh sulung saya itu. Dia masih makan roti meisjes itu, tetapi tidak lagi setiap hari. Pertama kali menyadari kebosanan itu adalah saat bekal rotinya tidak dimakan habis di sekolah. Saya mulai leluasa memberinya menu sarapan yang berganti-ganti dan memberinya makan siang dengan catering yang ditawarkan sekolah.

Sekarang, roti tawar dan meisjes itu sendiri sudah berbalik menjadi seperti momok di rumah ini. Kenapa menjadi terdengar menyeramkan? Semuanya karena sang eyang kakung menjadi tetangga kami.

Pengetahuan eyang kakung tentang kesukaan cucunya, tidak terbarui dengan benar. Bisa jadi karena saya, Uban dan anak-anak tidak merasa perlu terus mengumumkan apa yang sedang disukai oleh cucu-cucunya. Bisa jadi juga, beliau sengaja tidak ingin mendengar perkembangan itu karena merasa gembira ada keturunannya yang mewarisi kegemarannya itu. Dan ketika akhirnya tinggal berdekatan seperti saat ini, tampak kisahnya seperti humor yang akan dikenang sepanjang masa.

Setiap sore, si eyang kakung akan membuat beberapa lembar roti meisjes dan menunggu cucunya datang. Pagi hari, sudah ada beberapa lembar roti meisjes dimasukkan bungkusan plastik. Yang terjadi, dua anak saya, juga saya sendiri, akan saling mengingatkan giliran siapa hari itu yang akan membawa ‘trophy’ ke sekolah. Terserah bagaimana caranya roti itu bisa habis, meski artinya banyak teman mereka akan bersorak mendapat bekal gratis. Begitupun, beberapa kali saya masih harus membuang bekal itu karena terlupakan dan akhirnya basi.

Tidak hanya sekali anak-anak saya berusaha bicara pada eyangnya untuk tidak setiap hari membuatkan mereka hidangan wajib. Pesan diterima, dan hasilnya adalah menjadi dua hari sekali secara tepat. Luar biasa! Dan meski sesekali eyang ini terlambat bangun dan cucu-cucunya sudah berangkat sekolah, hidangan wajib itu toh masih diantar ke rumah saya. Seperti pagi ini.

Kami tidak tahu bagaimana menenangkan ‘tembakan roti’ ini. Tampaknya bagi eyang, itu adalah passion. Tak ada juga rasa tega di hati untuk menolak ataupun mengingatkan lagi. Tetapi pikiran saya, seperti biasa, melayang jauh ke depan. Ke masa nanti yang entah kapan. Pasti, akan ada masa bagi kami membicarakan humor ini dengan penuh cinta dan airmata kerinduan. Pasti kami akan selalu merindukan pensiunan tentara yang setia menembakkan mitraliur roti meisjesnya. Kami akan tahu, roti meisjes bisa dibuat oleh siapapun. Tetapi kehadirannya akan selalu dikenang secara berbeda. Dan semua alasan itulah yang membuat kami tidak cukup punya hati untuk berkata TIDAK. Roti meisjes itu hadir hanya karena cinta.





api unggun

3 03 2009

Saya sedang membayangkan………

gelap, alam,
gelisah, teman, api unggun, keretak kayu,percikan abu,
kata, kalimat, tenang, damai, berbagi
long lasting…………

tidak, tidak ada sesuatu yang terjadi………tapi gambaran itu begitu memenuhi benak saya dan tak bisa padam dengan berlalunya malam…..





Wajah Dalam Pigura

25 02 2009

Cappucino saya pagi ini terasa agak berbeda manisnya. Dia tidak membawakan saya suara-suara desiran angin yang mendayu seperti biasa dan melanglang buana tak tentu arah. Dia justru menemani alam pikiran saya yang dengan senang hati berderap berlari menembus belasan tahun di belakang, di saat diri ini merasa menjadi orang penting di dunia kecilnya, dunia kampus. Saat ada seseorang yang entah bagaimana awalnya bisa begitu khilaf mencalonkan saya dan dua teman lagi untuk menjadi salah satu anggota legislatif Badan Perwakilan Mahasiswa. Lalu satu teman saya menandai bahwa periode kami itu adalah periode terseru sepanjang sejarah kampus yang pernah kami dengar. Dengan segala idealisme kami. Mungkin berlebihan…..biarlah, karena kenyataannya kami toh sang penembus kenangan rimba raya benak kami.

Lalu cappuccino itu benar-benar mengantar awal hari ini dengan sesuatu yang menuntut saya mengorek kembali kemampuan otak yang pernah ada di dewan rakyat itu dalam menanggapi sebuah kabar, adanya seorang sutradara andalan pemirsa yang ingin menjadi ujung tombak kepemimpinan negeri.

Derapan pemikiran saya seringkali memang menjalar ke ranah yang bagi sebagian orang sangat tak berkaitan. Sebagian menyebutnya sebagai sedikit cipratan darah seni yang akhirnya mengotori logika hingga ke akar-akar hati dan rasa. Maka begitulah kenangan sebagai mantan anggota legislatif kampus itu juga tercemari oleh haru biru kenyataan saat ini dimana posisi saya adalah sebagai wakil presiden rumahtangga. Ibu, yang tidak membagi tugas kerumahtanggaannya dengan urusan kantor milik pengusaha lain. Memasak, mengurusi pakaian dan kebersihan serta kesejahteraan anggota keluarga, begitu mewarnai hari-hari saya tanpa jeda. Hingga saya bertemu dengan dunia tulis menulis, saya merasakan betapa dedikasi saya tak penuh lagi dipersembahkan pada rumah dan seisinya ini. Belantara pengembaraan imajinasi dan angan dan keinginan saya betul-betul terpecah. Ketika kepala saya begitu berisiknya dengan rentetan huruf yang mengelompokkan diri begitu saja menjadi kalimat-kalimat panjang, seketika itu hasrat saya pada cabe bawang daging tomat pun lenyap tak berbekas. Jika kemudian api kompor masih menyala, maka itu semata hanya persoalan tanggungjawab tanpa hati lagi. Lalu di tengah aliran air membilas cucian piring dan wajan, terbersit tanya yang entah bagaimana menjawabnya. Jika kapasitas hati dan pemikiran saya begitu terbatasnya dalam lingkup keluarga kecil ini, apakah keterbatasan ini hanya menjadi milik saya semata? Ataukah begitulah semua manusia diciptakan? Beruntung pertanyaan ini menguar di saat piring terakhir telah saya sandarkan di tempatnya hingga tak perlu pecah sia-sia.

Yah, saya sedikit lelah. Beberapa hari ini saluran kabel yang biasanya mampu mengalihkan perhatian saya dari sinetron airmata dan kebengisan tak berfungsi dengan layak. Dan sudut hati saya begitu merindukan Para Pencari Tuhan. Oase bagi kelelahan saya yang ingin mencari nilai cinta yang semestinya. Bukan cinta yang hanya senilai dengan coklat. Saya merindukan episode lain, atau serial lain dari bidannya. Bidan yang mampu berpikir kreatif dan mencerminkan hatinya yang halus, dan menenangkan saya dari sebuah kegelisahan dan kejemuan.

Ternyata jeritan kerinduan saya kini meruncing menjadi sayatan. Salah saya sendiri karena saya berandai dalam sebuah kabut yang bisa saja hilang dalam hujan. Karena saya berandai menjadi sutradara andal yang pernah menawarkan warna baru pada warna pelangi yang hanya mejikuhibiniu. Dan saya lalu dielukan sebagai manusia bijak bestari yang bahkan artinya tidak saya ketahui dengan tepat. Dan saya terlena pada belaian sayang semua orang, hingga menempatkan wajah saya sendiri di sebuah pigura berlatar bendera suci . Wajah saya yang dalam pigura itu lalu berkerut karena hasrat hati untuk melukis warna-warna baru pelangi itu tak mungkin terpuaskan. Juga berkerut ketika memaksakan diri untuk melukis lalu banyak mulut ternganga karena terlupa saya berikan ciuman. Saya hanya berkerut. Tetapi mulut yang menganga itu mungkin bahkan akan mengalirkan liur beratus liter tanpa henti selama satu periode. Ada yang menganga karena rindu akan warna, dan ada yang menganga karena suaranya dibiarkan berlalu tanpa bau.

Ah……itu mungkin pengandaian dalam kapasitas saya yang hanya sepetak kecil. Mungkin, kapasitas seorang sutradara andal yang sebenarnya, jauh lebih luas dari saya. Begitupun, saya masih memiliki angan tentang sebuah wajah dalam pigura……….





Mendidik tanpa konsep, tetapi……

3 02 2009

Ketika empatbelas tahun yang lalu saya melahirkan untuk yang pertamakalinya, tidak ada satu kalimat pun mampu mewakili keterpanaan saya. Terpana karena pada akhirnya saya sampai juga di titik itu, dimana seluruh tubuh dan hidup saya berada dalam wujudnya yang sama sekali baru meski tampaknya sama saja. Ajaib, adalah kata berikutnya yang juga bisa dikatakan klise yang mungkin bisa didaftarkan dalam benak saya sebagai rekomendasi untuk diucapkan. Tetap saja semuanya berlarut dalam bidang rasa dan saya hanya membiarkan orang-orang di sekeliling saya untuk mengucapkan apa saja yang mereka inginkan.

Belum sampai saya pulang dari rumah sakit dan mulai menghayati peran saya sebagai ibu yang harus melakukan sesuatu untuk bayinya, sebuah kalimat mencuat dari sebuah bibir yang saya kenal. ” Tinggal mendidik saja tugas berikutnya”. Kalimat yang secara otomatis saya beri anggukan kepala dan ulangi secara tepat. Apa artinya itu? Bagi saya, yang pertama tentu menjadi sebuah alarm pengingat bahwa mengandung dan melahirkan adalah pekerjaan mudah. Yang terberat adalah tugas mendidik bayi ini menjadi seorang MANUSIA. Makna kedua, adalah pertanda bahwa masa-masa berikutnya adalah bulan madu antara ibu dan anak yang tak boleh disia-siakan jika tak ingin menyesal hingga mati.

Apa bekal saya sebagai seorang pendidik? Saya mempunyai keahlian merawat bayi dengan pengalaman keikutsertaan merawat dan mengasuh anak-anak kakak-kakak saya. Secara fisik. Tetapi mendidik, tidak sedikit pun saya bayangkan akan mampu saya lakukan. Ditambah dengan ketidaksabaran asli dan tidak tergila-gilanya pada anak kecil, kegagalan membayang di pelupuk mata. Menjalani saja apa yang diyakini, akhirnya adalah langkah pertama yang saya ambil. Dan kemudian diperkaya dengan pengalaman sebagai seorang anak yang menerima semua perlakuan ayah ibu dengan paduan rasa suka dan tidak suka. Yang tidak saya sukai sebisanya tidak saya terapkan pada pola didikan saya, dan sebaliknya dengan yang saya sukai. Apa yang saya yakini harus tetap ada suka atau tidak seiring trend yang ada, akan saya terapkan dengan modifikasi kreatif saya. Dan lain-lain sesuai naluri membisiki.

Hingga kini saya kemudian mempunyai dua anak, saya masih sering memikirkan tentang bekal ketrampilan mendidik itu. Saya melakukan ini dan itu, mengatakan ya dan tidak, mengajak bermain dan memarahi, semuanya memakai referensi yang pernah ada. Dari keluarga, dari nilai sosial dan agama, dari pengalaman sebagai manusia, dan mungkin juga dari pendidikan yang pernah saya lalui. Sudahkah baik dan benar, tidak tahu. Terlebih jika melihat dan membandingkan dengan bagaimana orang lain mendidik anak mereka, baik dan benar itu tidak pernah saya temukan. Hasilnya suatu hari nanti, juga tidak mutlak menunjukkan hal itu.

Pada akhirnya, saya lebih memilih memusatkan perhatian pada ada dan tidaknya hubungan batin ibu dan anak yang tidak hanya terberi secara alamiah tetapi juga harus dibina dengan kesungguhan. Kedekatan. Keterbukaan yang tetap memberi peluang adanya privasi. Dan kemampuan untuk saling mengungkap rasa dan pikiran. Berkomunikasi dengan lancar. Maka saat suatu hari kami duduk berhadapan, menceritakan segala ganjalan dengan tenang hingga di satu titik bahkan menerbitkan airmata haru di masing-masing kami, di sudut hati saya muncul setitik sinar. Apa yang saya inginkan dari sebuah hubungan ibu dan anak mewujud nyata. Bersama dengan waktu yang akan semakin mendewasakan mereka, saya tahu di ujung jalannya nanti mereka akan mengenang saat-saat itu dan menjadikannya bekal mendidik anak-anak mereka.





Tanah dan Akar

17 11 2008

Beranjak tua, aku makin melihat begitu banyak temanku yang tersebar di seluruh dunia. Teman kecil, teman remaja di masa lalu dan teman-teman baru yang kutemui di tengah jalanku meniti kemodernan gaya hidup. Mereka dengan kehidupan mereka, mereka dengan kesulitan mereka, dan mereka dengan segala kerinduan mereka akan segala sesuatu yang mereka miliki di tanah air. Memberiku potret, memberiku pertanyaan, memberiku nuansa sebuah kekuatan yang mungkin tidak kumiliki.

Dalam perjalanan meniti hari-hari kemanusiaanku, melihat dan menghirup udara yang asing memang beberapa kali aku lakukan. Menanamkan kesan indah tentang sebuah kemewahan hidup ketika seorang manusia mampu melihat belahan dunia lain yang begitu jauh dan akan membutuhkan banyak pengorbanan untuk bisa mewujudkannya. Tak banyak merubah apapun, karena perjalanan itu hanyalah sebuah perpanjangan jangkauan pandangan mata. Kaki, masih di bumi tercinta. Tapi menanamkan jejak sepatu di negara orang dengan artian lugas tinggal dan menetap dan hidup dan mencari penghidupan disana, adalah sebuah ide yang selalu seperti gumpalan kapas di hadapanku. Tipis, rapuh, kadang mengandung bahaya jika terhirup hidung dan mengganggu pernapasan.

Aku selalu menyisakan sebuah gambaran atau pertanyaan, bagaimana mereka sampai disana. Bagaimana mereka bisa bertahan disana. Bagaimana mereka bisa memutuskan hal itu. Bagaimana mereka memiliki keberanian itu, sesuatu yang tampak luarnya aku miliki tapi sebenarnya tidak sama sekali.

Ada kelebat bayangan yang seringkali mengganggu. Aku hidup di sebuah negara yang jauh bersama dengan kekasih-kekasih hatiku. Menetap meski tidak selamanya. Mencari penghidupan. Bertahan hidup. Jauh dari akar. Sebuah potret tentang bertahan hidup yang sesungguhnya, bagiku. Karena bertahan hidup di sini tidaklah terlalu mencengangkan dan mengagumkan mengingat akarku selalu ada. Di kejauhan itu……..kemana berlari jika akar yang aku rindukan dan mengerti diri ini tak bisa digapai dalam kesulitan. Aku, nyata-nyata manusia yang tak bisa jauh dari akar. Dan karena itulah aku membayangkan untuk menjauh, untuk mencari keberanian dalam diriku. Atau mungkin untuk menumbuhkannya karena sebelumnya kerdil. Tapi tentu aku tak pernah ingin menghilangkan cinta pada tanahku. Tanahku adalah tanahku, meski tak wangi bahkan busuk kata orang.

Tepuktanganku bagi mereka yang jauh namun terus menggenggam lagu cinta tanah ini di dadanya. Tunduk hormatku bagi mereka yang asing namun ingin menjadi bagian dari tanah yang katanya busuk. Tapi tangis dan penyesalanku bagi mereka yang tinggal di tanah ini namun hidungnya sibuk membaui wangi tanah asing. Tanah busuk ini, tidak membutuhkan mereka. Dan seharusnya tak perlu aku tangisi karena memang mereka tak berguna.

Maka, aku mungkin ingin menjauh hanya untuk melapisi cintaku lebih tebal lagi. Kepada akar, kepada tanah…….kepada segala yang aku kenal sejak aku hidup.





Tua

11 09 2008

Mengakui bahwa sejarah pergaulan, pertemanan dan perbincangan sewaktu kecil dulu adalah lebih banyak bersama mereka yang bilangan usianya jauh di atasku, tidak berarti bisa ikut menjelaskan kenapanya. Semua terjadi begitu saja. Kalau toh tetap harus mengucapkan, sangat mungkin tidak karena satu perkara. Yang pasti, kenyamanan dengan keadaan itu bukan tak ada. Bahkan aku sangat menikmatinya sebagai sebuah wawasan baru ketika mendengarkan pembicaraan yang tak mungkin ada di kalangan sebayaku. Baik dan buruknya setelah itu, pastilah tidak terelakkan.

Gosip semacam A yang poligami misalnya, tidaklah menjadi perhatianku. Tetapi emosi yang terungkap pada saat kaum tua itu bicara, memberikan sebuah kesimpulan yang selanjutnya memunculkan nilai-nilai yang aku pegang sebagai pedoman berpikir dan merasa. Pada waktu yang lain ketika usia menanjak dan berjumpa lagi dengan pembicaraan yang sama, aku akan menggali kumpulan file kesimpulanku dan menganalisanya dengan caraku, dengan perkembangan cara berpikir dari usia yang sudah terupdate. Ada yang kudisposisikan untuk terus tersimpan ke dalam file, ada pula yang harus dirombak dan modifikasi dulu sebelum kusimpan sebagai keyakinan.

Tidak ada yang menolak kehadiranku saat itu ke dalam lingkungan pembicaraan kaum tua. Mungkin karena aku tak pernah memotong bicara atau ikut saja dalam bagian yang bukan menjadi hakku. Tetapi bukan juga tak pernah bertanya tentang hal-hal yang tidak aku mengerti, dan biasanya selalu tentang nilai-nilai kehidupan. Tentu saja mereka justru dengan senang hati menjelaskan. Hanya sekali aku merasa ditolak, ketika bertanya tentang bagian tubuh apa yang terbentuk lebih dulu dari seorang bayi ketika di perut ibu. Sejak itu aku tak pernah ingin bertanya pada wilayah rawan. Cukup buatku mengerti bahwa tidak semua kaum tua siap untuk menjawab dengan baik pertanyaan yang muncul begitu saja di kepala kecil anak-anak.

Yang aku pelajari kemudian adalah kenyataan bahwa banyak dari kaum yang merasa memiliki usia lebih banyak lalu merasa usia mereka adalah sebuah kemewahan. Kemewahan untuk merasa lebih pandai, kemewahan untuk merasa bisa menggurui, untuk membentak, untuk melarang, bahkan untuk merasa tersinggung. Tersinggung ketika telinganya mendengar ada barisan kata bijak yang meluncur dari bibir usia muda manakala mereka justru tidak terpikir tentang hal-hal yang dibicarakan. Atau manakala mereka justru sedang menabrak nilai-nilai yang lazim  dianut banyak orang. Katanya, bibir muda itu menjadi nyinyir, menjadi sok tua, atau bahkan menghakimi.

Aku yang sekarang, rasanya belum terlalu tua tetapi sudah menjadi orang tua yang sebenarnya. Kemewahan yang tadi kusebutkan, membuatku kadang merasa harus menanamkan nilai kepada anak-anakku dalam sebuah kalimat. Bukan membiarkan mereka menangkap sendiri makna di balik perbincangan seperti yang dulu kulakukan. Seolah mereka tak mungkin bisa mengambil kesimpulan, dan ini hanya karena sebuah ketidakyakinan . Apakah ini salah, tak mungkin bisa kujawab segera.

Satu yang ingin kulakukan, menjadi teman bicara. Tidak sebagai teman yang sesungguhnya hingga mereka mampu bersikap tidak sopan. Tetap sebagai orangtua mereka. Yang bisa berbincang tentang apa saja, tetapi mereka tahu batas. Yang membebaskan tapi tak ragu untuk melarang dan memaksa. Yang bisa tertawa bersama tetapi tidak membuat mereka kehilangan rasa sungkan.

Rasanya, aku harus lebih banyak menciptakan pembicaraan kaum tua yang bebas dimasuki anak-anakku, sehingga aku tak perlu harus menanamkannya dengan sengaja. ……..





Siapa dan Terkenang Apa?

8 09 2008

Membaca banyak tulisan yang serupa. Tentang sebuah buku. Buku biasa dengan isi yang mengurai aneka bahan, ukuran dan tatacara menyajikan pemanja lidah. Dikumpulkan dari seorang manusia yang pernah ada, yang mungkin juga tidak dia ciptakan tapi dia dapatkan dari orang lain. Banyak buku seperti itu, lalu mengapa yang ini beda? Katakanlah disana diselipkan cerita. Katakanlah disana disisipkan puisi. Katakan juga disana tertuang banyak kesaksian. Tetap saja buku biasa. Tapi tentang SIAPA, mungkin itu pembedanya. SIAPA yang melakukan banyak hal yang sama, siapa yang pernah berbagi banyak hal yang bisa dibagi yang lain. Perempuan ini,  bagaimana dia bisa begitu istimewa untuk banyak orang?

Belum pernah hilang dari ingatan banyak orang tentang teriakannya. Banyak yang mengulangnya untuk menunjukkan setia. Banyak yang menempelkan wajahnya di tembok-rumah sebagai pengingat dan menunjukkan penghuni rumah itu adalah pengagumnya. Tak sedikit yang menjadi berlebihan ketika ingin membandingkan dengan penerusnya. Teriakannya bisa diteriakkan orang lain. Kursinya bisa diduduki silih berganti. Lelaki ini, tak pernah pudar oleh masa hidupnya yang habis berpuluhtahun lalu.

Kesibukan mempersiapkan sebuah acara, tersebut perannya dalam setiap kesempatan semacam. Memindahtangankan apa yang dipunyai pada orang lain, tak pernah lupa untuk menyebut namanya. Seakan tak ada orang lain pernah melakukannya. Membeli pernik kecil dan sepele, tidak mungkin tidak menyebut namanya, ketika dulu kerepotan itu tidak perlu ada. Semua hanya hal sepele dan remeh yang bisa dilakukan banyak orang. Tapi perempuan kerabatku itu, membuat segalanya menjadi bermakna.

Kata orang, semua menjadi berarti ketika jauh. Rasa cinta menjadi nyata ketika tak bisa dirasakan lagi dalam keseharian. Dan ketika perpisahan yang mutlak dan tak pernah kembali itu tiba. Apakah semua akan dirindukan? Apakah semua akan diharap untuk kembali? Ataukah hanya untuk orang yang terberkati dan membawa kharisma sejak lahir? Dan apakah semua hanya tentang kebaikan? Atau kebaikan dan ketidakbaikan harus menjadi luar biasa untuk menjadi kenangan masa?

Mungkin kita akan tahu setelah kita tidak bisa kembali. ……..





Ucapan Sayang Untukku, Kasih Bagimu

22 12 2006

Pagi hari tepat di tanggal 22 Desember ini, aku tidak banyak berpikir tentang hari ini saat bangun mempersiapkan rutinitas harian. Aku tahu hari ini tentang apa. Satu-satunya alasan aku tidak menganggapnya istimewa, adalah karena hari ini diperuntukkan wanita-wanita istimewa. Wanita-wanita dengan segudang prestasi, dengan segudang kasih dan pengorbanan bagi keluarganya, dengan banyak perbuatan besar yang nyata terlihat. Dan aku, tidak ada di daftar itu. Ketika aku menunjukkan rasa lelah pada suami dan anak-anak, aku selalu berpikir, tidak selayaknya hal itu terjadi. Ketika aku menyatakan kekecewaan untuk sebuah harapan yang dibangun bersama, aku selalu berpikir seharusnya aku punya rasa maklum yang lebih dari yang diharapkan. Atau ketika aku kurang suka dengan tingkah anak-anak yang kurang bertanggungjawab pada tugas, aku berpikir seharusnya aku punya hati seluas samudra untuk bersabar. Maka, aku merasa belum banyak berbuat untuk buah hatiku, permata hati dan kekasihku. Maka, hari ini bukan untukku.

Kenyataannya, pagi ini aku disodori sebentuk surat dalam amplop putih. Di bagian muka amplop itu tertulis:

Dari : Ari
Untuk : Ibuku Tersayang

Kepada Ibuku yang mengasuhku selama ini, kuucapkan selamat hari ibu. Semoga sehat selalu dan tak pernah lupa padaku dan kenangan selama ini bersama keluarga. Maafkan aku yang selama ini belum mengucapkan terima kasih, maka bersama surat ini aku mengucapkan terima kasih atas jasamu selama ini. Mungkin hanya ini yang bisa kuberi sampai saat ini untuk berterima kasih karena semua jasa orang tuaku tak akan terbalas olehku sampai kapanpun. Dengan penuh rasa sayang dan terimakasih kuucapkan lagi, Selamat Hari Ibu.

Bukan cara menulis surat yang benar, karena surat itu ditempel , sekali lagi, di bagian depan amplop. Tapi ini menjelaskan hal lain, yaitu bahwa di dalam amplop itu terlipat kertas putih berisikan puisi ungkapan perasaan , seperti ini :

Jasa Ibuku

BERTAHUN-TAHUN IBU MENGASUHKU
BERTAHUN-TAHUN PULA AKU TAK BERTERIMA KASIH
AKU TELAH LUPA AKAN JASA IBUKU
AKU TELAH LUPA SEMUA DOSAKU PADA IBUKU

IBU….
SEMBILAN BULAN ENGKAU BERJUANG MENGANDUNGKU
LALU ENGKAU BERTARUH NYAWA MELAHIRKANKU
PERJUANGANMU SUNGGUH BERAT IBUKU
MAAFKAN AKU IBUKU….
AKU TAK PERNAH BERTERIMA KASIH ATAS JASAMU

IBU,
MAAFKAN ANAKMU YANG BANYAK BERDOSA PADAMU INI
SEKARANG, AKU AKAN BERTERIMA KASIH PADAMU
ATAS SEGALA JASAMU YANG TAKKAN BISA KUBALAS

SAMPAI KAPANPUN

Lalu, ada foto kami berdua di bagian bawahnya. Apa yang kulakukan dengan itu semua? Tak mampu satupun, baik berkata atau melangkah, untuk waktu sekian menit. Ari, sudah sejak tadi pergi ke kamar mandi mempersiapkan harinya dan meninggalkanku sendiri di dapur. Aku bukan jenis orang cengeng yang akan segera mengalirkan air mata. Tapi jelas, semua yang kubaca memberikan irama lain dalam debar jantungku. Dan airmata itu mungkin mengalir di setiap sendi tulang dan bersama aliran darahku, karena mendadak terasa dingin badan ini.
Dan kerongkongan yang sakit karena tercekat keharuan.

Ketika akhirnya kami akan berjalan ke ruang makan, aku cuma mengucapkan terima kasih untuk perhatiannya dan kucium puncak kepalanya. Adiknya, melingkarkan lengannya di pinggangku dan menyembunyikan kepalanya di perutku.
Satu yang aku tahu, betapapun aku tidak merasa punya banyak arti atau belum banyak berbuat untuk mereka, tapi tidak begitu di mata kekasih-kekasih kecilku. Dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari aku lalu memiliki energi besar untuk percaya diri bahwa aku ada di daftar para ibu. Dan membuatku kemudian bergirang hati untuk saling mengucapkan selamat untuk ibu-ibu lain, baik melalui SMS ataupun sapaan dalam shoutbox.

Dan inilah yang ingin kuucapkan :

“Untuk semua wanita,
yang selalu memiliki cinta kasih,
yang tak akan pernah habis untuk dibagi,
SELAMAT HARI IBU….”