Pak Uban yang terkasih

1 08 2006
Pak Uban?…Hehehe,iya,…ini julukan kami buat dia. Jelas banget, ini menunjukkan rambutnya yang berwarna putih mengkilat dan hampir memenuhi seluruh kepalanya. Kalau ada yang mau coba menghitung, maka hitunglah berapa rambut hitamnya yang masih tersisa. Yakinlah,itu lebih mudah dilakukan daripada sebaliknya (oops…hihihi..) . Apakah menunjukkan usianya? Bisa iya,bisa juga tidak. Kalau untuk sekarang, ya bisa jadi jawabannya iya,karena memang mulai mendekati setengah abad untuk tahun depan. Tapi sebenarnya keistimewaannya sudah dimulai sejak luaamaa sekali, jadi ya tidak bisa dikatakan itu menunjukkan usia kan?

Buatku, yang memulai langkah hidup bersamanya sejak 20-an tahun lalu, rambut ubannya itu tidak menjadi masalah sama sekali. Aku tidak pernah malu berjalan bersamanya saat dulu, meskipun banyak komentar dan ejekan yang datang. Mungkin kalau aku artis dan dulu sudah ada infotainment, wartawan akan selalu mengungkit masalah ini. Masalah rambutnya ini malah menguntungkan,lo…Bayangkan jika aku sedang berbelanja di hypermart dan terpisah darinya, maka tidak sulit kan mencari dia? Selain memang dia juga cukup tinggi, aku tinggal mencari kepala warna putihnya itu. Bisa saja itu orang lain memang, tapi tetap lebih mudah kan…

Persoalan rambut ini pun, kerap jadi lelucon dan membuat kami justru mentertawakan orang lain. Pernah satu kali, ketika kami baru punya satu anak dan masih bayi pula. Saat itu, kami perlu mempersiapkan pernikahan kakak dan mencari kain seragam kebaya keluarga. Ketika aku, kakak dan ibuku memilih-milih kain, dia yang kebagian tugas menggendong Ari kecilku. Saat itulah pemilik toko yang menemaninya berdiri bertanya,” Cucunya ya pak?” Sebelum menjawab, pak Uban yang suka guyon ini langsung berpaling ke kaca di belakangnya dan melihat bayangan diri dan Ari dalam cermin itu. Barulah dia bertanya balik pada pemilik toko itu, ” Emang keliatannya ini cucu saya? Ini kebetulan masih anak saya “. Pak Uban cengar-cengir, giliran si pemilik toko yang kebingungan dan salah tingkah. Gubrak! Tertipu dia….

Tapi, tidak satu pun dari kami pernah terpikir untuk mengecat rambut itu. Bahkan waktu kami menikah dulu pun, kami menolak untuk melakukan hal itu. Hanya sekali rambut itu disemprot hairspray hitam, karena kebutuhan peragaan pengantin yang menggunakan kami sebagai modelnya. Pertimbangannya karena penilaian pemirsa adalah pada sang perias, sehingga kami perlu sekali menjaga nama beliau. Kami senang tampil apa adanya, dan tidak rikuh menempatkan diri kami dimana pun sepanjang perilaku kami sesuai dengan norma. Kami menilai sesama kami dari tingkahlaku dan budi bahasanya, bukan penampilan fisiknya. Dan dengan cara itu pula kami ingin diterima.

Kembali bicara tentang Pak Uban, dia benar-benar soulmate bagiku. Kepadanya, aku berbagi hidup, yang senang dan susah. Meski kadang masing-masing kami tetap menjaga privasi kami sendiri. Dengan dia, batin ini tersambung erat meski kami berjauhan. Aku bisa mendengar suaranya tepat di telingaku, ketika dia rindu dan memanggilku di puluhan kilometer jauhnya. Darinya, aku belajar untuk memiliki kepribadian yang kuat, santun dan bersahaja. Bersamanya, aku menciptakan keluarga yang utuh dan dilengkapi segala emosi dan kekurangan sebagai manusia yang harus kami terima.

Jangan pernah tanyakan cintaku padanya. Cukup saja kalau kami bisa saling mengerti lewat tatapan mata. Cukup saja kalau kami merasa tidak perlu berpisah apapun masalah yang datang pada kami. Dan lebih dari apapun pembuktiannya, kalau kami tahu wajah-wajah diantara keluarga kami banyak yang mirip dengan kami. Jika masing-masing kami masih bisa tercekat keharuan saat napak tilas perjalanan hidup kami, maka ikatan ini masih terus menumbuhkan akar kasihnya di hati kami. Cukuplah itu membuat kami tidak perlu menghadirkan orang lain dalam spasi diantara kami.

Iklan

Aksi

Information

4 responses

2 08 2006
Muhammad Mufti

Saya punya teman yang ubannya buanyak, padahal usianya baru sekitar 35 th. Di SMA dulu juga ada yang sudah ubanan. Salam kenal…

2 08 2006
endangwithnadina

Salam kenal mas…yah,memang kemajuan teknologi rambut sekarang ini bisa punya efek samping seperti uban yg tumbuh di usia muda ya…beruntung mgkn org dulu yang blm kenal byk merek shampoo..

2 08 2006
Sukma

Waaah….. saat membaca cerita tante endang dan om bambang kojek ada 2 yang kepikiran : 1. Semoga tante endang dan om bambang awet selalu, sebagai salah satu contoh bagi kami para ponakan. 2. Mudah2an aku bisa menemukan Tante Endang ku, dan baginya aku adalah om bambangnya…. Amiiin

2 08 2006
endangwithnadina

Aminn….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: