Antara Rayi dan Meongnya

8 10 2006

Suatu kali, kami pernah dibuat geleng kepala dan tertawa geli melihat tingkah si bungsu Rayi. Di saat kami mencoba menikmati makan siang di tengah cuaca ‘kurang nyaman’, dia melakukan hal yang berbeda. Rayi hanya berlari-lari berkeliling meja mengitari kami. Kenapa? Dia mencoba menghindari kucing yang ada di bawah meja meminta lemparan ikan. Dia takut pada kucing, sehingga merasa tidak aman jika hanya duduk diam di kursi. Tentu saja kami geli karena dia sampai merelakan tidak makan hanya karena itu. Tapi juga sekaligus kami tidak habis pikir, kok ya sampai dibela seperti itu rasa takutnya, sedangkan dia seorang anak laki-laki. Betul laki-laki juga manusia yang bisa memiliki rasa takut pada apapun. Tetapi sejarah kekerasan adat dalam keluargaku maupun bapaknya, membuat kami memiliki pakem bahwa laki-laki harus bertingkah selayaknya laki-laki. Jika takut datang pun, maka dia harus bisa mengatasi dengan cara yang “baik”.

Kesempatan lain datang. Di rumah, ketika kami sedang bersantai menonton televisi, bercanda, mengunyah cemilan dan klekaran atau leyeh-leyeh. Tiba-tiba Rayi melihat ke pintu ruang tamu dan bicara,”Heh…ngapain lo? Gak boleh masuk, pergi sana…!” Kami berpikir dia bicara dengan seseorang temannya yang ingin bermain di rumah kami. Tetapi, mengapa dia bersikap tidak ramah seperti itu? Ketika kami tanyakan siapa yang dia ajak bicara, kami kontan terbahak. Rupanya, ada seekor kucing yang mengintip dan mencoba melangkah masuk. Tapi karena dia anti-kucing, maka tidak berani mengusirnya dekat-dekat dan juga tidak tega untuk melempari dengan sandal. Jadilah dia mencoba ber’negosiasi’ seperti itu.

Banyak lagi kejadian lucu semacam itu karena memang binatang itu selalu saja berkeliaran di sekitar rumah. Kadang sedang enak bermain, dia bisa terbirit-birit lari masuk ke dalam rumah jika merasa terancam kenyamanannya oleh musuh besarnya itu. Setiap kali itu pula sambil tertawa kami selalu menyisipkan dorongan untuknya bertindak secara tepat. Berbagai motivasi kami selipkan dalam canda kami agar Rayi menyadari bahwa dia mampu melakukan yang lebih baik dari apa yang selama ini dia kerjakan. Namun memang tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan pernah sampai ada bapak-bapak Tentara yang tertawa dan meledek demi menyaksikannya tergopoh-gopoh mengangkat kaki karena kasus yang hampir sama di sebuah rumah makan, tidak membuatnya lantas melakukan apa yang kami harapkan. Rayi tetap acuh.

Namun, di dunia ini selalu akan ada keanehan dan membuat hidup lebih berwarna. Sudah beberapa kali dalam dua hari Rayi meminta ijin untuk memelihara seekor kucing. Tentu saja dia perlu menanyakannya beberapa kali kepada kami karena kami tidak bisa segera memberikan jawaban. Pertama, jika memang ingin memelihara seekor binatang, binatang satu itu tidak ada dalam daftar kami. Sifatnya yang sering mencuri ikan di rumah jika lupa menutupi sajian dengan tudung saji atau menutup pintu rumah, membuat kami malas untuk menyayanginya sebagai anggota keluarga. Kedua, dan mungkin yang paling menjadi perhatian kami, keheranan kami akan perubahan sikap Rayi yang begitu mendadak. Selayaknya ibu yang baik, demi mendorong potensi baik dalam diri putranya, tentu ingin menyetujui permintaannya saat itu juga. Tetapi, apakah bisa dia memegang komitmen sebagai seorang penyayang binatang sejati? Maka, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan pertanyaan kepadanya. “Apa adhek sudah nggak takut kucing? Lakukan apa yang menurut adhek baik dan bisa dilakukan.”

Rayi tidak pernah menjawab pertanyaanku. Mungkin dia juga tidak tahu jawabannya.Dan kubiarkan dia memutuskan sendiri tindakannya. Ketika aku sedang berkutat di depan komputer, kusadari Rayi tidak ada di rumah. Beberapa lama kemudian, Dia datang bersama si mbak, dan aku pun siap memberondongnya dengan pertanyaan tentang kepergiannya yang tanpa ijin seperti biasa. Namun aku terpaksa menghentikan niatku, ketika dia dan si mbak sibuk mempersiapkan tempat untuk menampung ‘teman baru’nya. Rupanya tadi dia pergi mengambil kucing pada seseorang yang memang memiliki banyak hewan itu di rumahnya di kampung sebelah. Sejak saat itu, hari-hari selanjutnya, ada kesibukan baru di rumah. Rayi dan kakaknya Ari, kulihat repot bertanya pada bapaknya bagaimana memberi makan kucingnya. Mereka sibuk mencari bahan makanan apa yang bisa di’comot’ sedikit untuk dibagi dengan teman kecilnya. Esoknya, mereka keluarkan bak cuci, sampo dan pengering rambutku. Kuintip keluar jendela, Ari dan Rayi sibuk memandikan dan mengeringkan bulu-bulu si meong. Kedinginan katanya menjawab pertanyaanku tentang guna pengering rambutku disana. Mereka ingin meongnya merasa nyaman. Acara memandikan selesai, Rayi membagi susu dinginnya di kulkas dan Ari mengolah makanan. Dan berbagai kesibukan lain yang tidak ingin kuganggu. Paling-paling jika terdengar meong-meong tidak berhenti, aku cuma menggoda,” Dhek…bayimu nangis tuh…”

Aku tidak tahu sampai kapan ketelatenan sebagai ‘baby meong-sitter’ ini berjalan. Dan aku juga tidak tahu bagaimana kebingungan Rayi– yang sekarang juga melibatkan si sulung– saat akan meninggalkannya mudik lebaran nanti. Yang aku tahu pasti, dia tidak pernah mampu menjawab pertanyaanku tentang keberaniannya menghadapi binatang itu. Sampai sekarang tidak pernah dijawabnya pertanyaan itu, seperti dia tidak pernah memberikan jawaban keherananku kenapa tiba-tiba dia memiliki keinginan berbagi kasih dengan meongnya. Banyak sekali pertanyaan tak terjawab saat ini. Aku juga tidak mengerti darimana datangnya panggilan KIRBY pada meong itu. Kami orang Jawa, dengan nama yang sangat khas Jawa, memiliki kucing dengan nama Barat…Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak perlu dijawab karena ribuan cinta dan kasih yang terbagi di dalamnya sudah mewakili. Aku bahagia Rayiku mampu mengatasi halangan dalam dirinya. Aku menghargai dia karena dia juga menghargaiku dengan mencegah sebisanya Kirby-nya tidak masuk ke dalam rumah. Rayi juga berbagi kasih dengan makhluk lain tanpa mengikat kebebasannya karena Kirby selalu diberinya peluang untuk sesekali kabur dari rumah. Karena dia yakin Kirby akan kembali mencari belaiannya di rumah ini….


Aksi

Information

5 responses

9 10 2006
Larasati

kebalikan sama keluargaku yg cinta banget sama kucing, dulu waktu anakku 2tahuan tiap diajak jalan-jaln sekitar komplek hobinya mungut kucing kecil jalanan. Pernah kucing cilik kurus rembes juga dicomot dibawa pulang, aku buang diambil lagi katanya kasian..weh lha aku yg ketempuhan jadi baby meong sitter..

9 10 2006
Ndut

Aku enjoy banget baca tulisan2 mu Ndang.. Nicely written.. 🙂

Salam buat Rayi..

10 10 2006
Muhammad Mufti

Aku juga pernah pelihara kucing, tapi kapok gara-gara itu kucing muntah2 di dalam rumah entah karena sakit atau keracunan. Pernah juga perabotan rumah berantakan gara-gara kucing mengejar tikus yang masuk rumah.

10 10 2006
Ely

walaupun belum pernah melihat secara langsung, adik ipar saya katanya punya sekitar 20 ekor kucing !!! saya sendiri nggak bisa membayangkan dengan acara makan dan ke “belakang” !

10 10 2006
endangwithnadina

Larasati> ya gitu itu ya anak2 mbak..buntutnya yg ketempuhan yo mboknya..
Ndut> Thanks, alhamdulillah kalo bisa dinikmati.Salam juga dari anak2ku untuk putrimu.
M.Mufti> Nah…itu dia kenapa aku gak pernah mau pelihara kucing…
Ely> Wah, El..itu kalo nggak peternakan ya panti asuhan kucing namanya…repotnya rek!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: