Kemana Pak Supirku

17 10 2006

Dalam hidup keseharian kita tidak bisa dihindarkan adanya interaksi dengan sesama kita dalam kondisi apapun. Bersama interaksi itu juga terbawa gambaran sifat-sifat dan kepribadian masing-masing dan seringkali juga menerbitkan emosi tesendiri bagi orang lain yang sedang bersamanya . Emosi ini tentunya tidak selalu negatif dalam arti kata mengandung kemarahan, ketidaksukaan dan semacamnya. Namun bisa juga yang positif, seperti menjadi sangat tergantung atau sangat suka, terharu dan hal-hal seperti itu. Karena begitu banyaknya peristiwa dan manusia yang berlalu lalang dalam kehidupan kita, seringkali juga menjadi terlewati begitu saja. Biasanya karena terbawa waktu dan tertimbun kehadiran manusia-manusia dan peristiwa-peristiwa lain, juga agar kita tidak menjadi manusia yang terlalu melankolis dan sentimentil.

Begitu pun tetap saja kita bertemu dengan satu dua orang yang begitu berkesan tak peduli baru berapa lama berkenalan. Ini juga yang terjadi antara kami dengan Supir Antar Jemput di sekolah Rayi. Supir ini, Pak Rosady namanya, baru kenal dengan kami setahun lalu sejak Rayi masuk SD di Cijantung ini. Sebelum menjadi supir antar jemput, beliau karyawan di Matahari Group. Karena itulah kami maklum sekali ketika pertama kali tugasnya sedikit kacau di hari-hari pertama masuk sekolah. Bayangkan saja, dia sudah berdiri di pagar rumah kami jam 5 subuh, sewaktu anak jemputannya saja masih tidur lelap. Mengingat beliau sudah berdiri di muka rumah, apalagi usianya juga sudah sepuh, maka alih-alih menyalahkannya, kami ajak beliau masuk untuk sekedar menghangatkan diri dengan secangkir teh manis. Dari saat minum teh pagi hari itulah kami dapatkan ceritanya tentang pekerjaan masa lalunya. Berikutnya, kekacauan itu ternyata masih berjalan beberapa hari karena kebingungannya meladeni keinginan semua anggota jemputannya.

Tetapi sebagai orang sepuh, kelebihannya juga banyak dibandingkan supir lainnya. Selama setahun bersamanya, kami menyaksikan sendiri bagaimana telatennya beliau menangani anak-anak kecil yang dititipkan kepadanya. Tidak pernah beliau meninggalkan Rayi dan teman-temannya kebingungan di halaman sekolah. Satu persatu diantarnya ke kelas masing-masing jika mereka masih takut berjalan sendiri. Saat menjelang jam pulang sekolah pun beliau sudah berdiri menunggu di depan kelas Rayi, sementara supir lain lebih suka menunggu di mobil. Sesampai di rumah, anak-anak itu juga dituntunnya turun dan dibantu kerepotan mereka menangani tas dan bawaan lain. Bahkan jika ada anak yang tertidur di mobil, tak segan digendongnya masuk ke rumah sampai bertemu dengan pengasuh atau orangtuanya. Dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikannya kepada anak-anak, tak ada niat kami menggantikannya dengan jemputan lain yang memiliki fasilitas lebih nyaman. Bagi kami, lebih sulit mencari fasilitas atensi dan kasih sayang bagi anak-anak kami daripada sekadar Air Condition mobil terbaru.

Kini, tahun ajaran baru sudah berjalan setengahnya. Tiba-tiba kami terima berita dari Rayi bahwa selesai libur Lebaran nanti, dia akan diantar jemput oleh orang lain. Pak Rosady telah memindahkannya kepada mobil jemputan yang lain. Kecewa karena tidak diajak berunding lebih dulu, kami betul-betul menanti kemunculannya di depan kami untuk sekedar bertanya. Jawaban yang diberikannya kemudian sungguh diluar perkiraan kami. Jumlah anak jemputannya yang berkurang sehingga membuatnya tidak mampu lagi menutupi kebutuhan hidup menjadi alasannya. Beliau memilih mundur dari sekolah dan beralih menjadi supir pribadi. Aku yang mendengar langsung jawaban itu, mendadak menjadi mati kata. Tak ada yang mampu kuucapkan karena dalam dada ini berbagai perasaan berbaur jadi satu. Aku terenyuh mendengar ketidakberuntungannya di sekolah Rayi, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Aku kecewa dengan orangtua anggota jemputannya yang lain yang lebih memilih mobil masa kini dengan pendingin daripada keamanan putranya. Tapi aku juga maklum, semua memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Kami kehilangan sosok beliau untuk menitipkan anak kami, tetapi semua di dunia ini memang tidak kekal.

Aku dan suamiku semalaman membicarakan beliau. Tetapi kami juga tidak berdaya apa-apa. Dan kalau benar beliau sudah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik, semoga itu benar adanya. Ah, kami cuma bisa mendoakan semoga beliau mendapatkan apa yang dibutuhkannya dan keluarganya dan mudah-mudahan itu yang terbaik bagi beliau. Terima kasih pak Rosady, untuk semua pelajaran yang kami terima dari Bapak tentang kehidupan ini.


Aksi

Information

4 responses

18 10 2006
Muhammad Mufti

Kalau kita mau jujur, faktor keamanan, atensi dan kasih sayang bagi anak-anak memang lebih berharga daripada fasilitas lengkap di dalam mobil. Dan terpenting adalah adanya jalinan silaturahmi yang bisa mengikat persaudaraan antara sopir dan keluarga anak2 yang dijemput. Itu yang bisa saya tangkap dari cerita Mbak Endang, begitu khan?

18 10 2006
dian mercury

semoga pak supir mendapat pekerjaan yg lebih baik…and semoga gantinya pak supir, baik juga

18 10 2006
Larasati

Pak sopir lama itu sebenarnya yg diperlukan sama anak-anak sd. telaten n sabar.

Dulu sewaktu kelas 2 sd anakku pernah ngalami ditinggal mobil jemputan gara2 keasikan maen bola dihalaman sekolah dan sopirnya agak songong. Tega2nya anak sekecil itu ditinggal dan akhirnya naik bus umum nyambung 2x disambung lagi naek ojek. Untung dulunya pernah aku kasi tau nomer bus2 arah kerumah.

18 10 2006
endangwithnadina

M.Mufti> Betul!Gak bisa dibeli dgn uang berapa pun….

Dian Decante> Amiin…Aku berdoa buat beliau mbak…

Larasati> Lha…ya yg kayak gitu itu kan njengkelin tho mbak? Pak Supirku itu langka jaman sekarang mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: