Semangat Setelah Lama Berselang…….

31 10 2006

Aku datang dari sebuah keluarga besar dengan ayah ibu yang beranak 5 (lima) orang dan 14 cucu. Ramainya bisa dibayangkan jika kami semua berkumpul terutama di momen-momen istimewa seperti hari Lebaran. Sungkeman pada bapak ibu yang semakin sepuh, kakak-kakak, lalu makan besar dan bercanda-canda dan terus begitu sampai malam menjelang. Suasana itu selalu ada sampai sekitar 5 tahun lalu. Semuanya mulai berubah seiring perkembangan yang terjadi di keluarga kami masing-masing serta perhatian yang harus dibagi dengan keluarga pasangan masing-masing.

Aku sendiri 5 tahun terakhir ini selalu berangkat mudik ke rumah mertua di Malang 2-3 hari sebelum Lebaran. Tidak adanya cuti yang bisa diambil suamiku untuk berlibur bersama, membuat libur Lebaran itu akhirnya digunakan juga untuk libur tahunan, berjalan-jalan dulu sebelum sampai di kampung halaman. Di keluarga kakakku, ada juga keponakanku yang sudah lama berpuasa dan berlebaran di negara Matahari Terbit karena kondisinya yang sedang studi di sana. Dan macam-macam kesulitan lainnya yang membuat keluarga besar kami akhirnya tidak bisa lengkap berkumpul. Ini membuatku sungguh kangen dengan suasana yang dulu lagi. Maka kuniatkan untuk tahun ini kuhapuskan jadwal liburan tahunan, khusus untuk berkumpul kembali sebelum mudik sore harinya. Dan aku berusaha keras agar semuanya berjalan seperti yang kurencanakan. Kebetulan meski aku adalah anak bungsu, aku terbiasa menjadi koordinator jika ada acara kumpul-kumpul begitu. Dan semua kakakku ‘manut’ dengan rencana yang kuatur. Semangat yang kupupuk mulai menjadi bara. Tetapi ternyata Allah Maha Pemurah karena lebih dari itu, kami semua mendapat kejutan manis. Wanto keponakanku tiba-tiba menyempatkan datang khusus untuk berlebaran di Indonesia. Sungguh-sungguh aku bersyukur telah berkeras hati untuk merayakan kembali hari H Idul Fitri di Jakarta.

Terus saja aku menabung suka ria di hari-hari terkhir puasa. Segalanya kupersiapkan sebaik mungkin secara fisik dan mental, baik itu untuk keluargaku sendiri maupun bapak ibuku. Mulai barang-barang keperluan mudik, rumah yang akan ditinggal beberapa hari, keperluan makan-makan di rumah ibu, hingga urusan perasaan bapak yang akan sangat kangen jika ditinggal cucu bungsunya mudik. Tidak lupa juga urusan pamitan dari dunia maya selama beberapa waktu, sebelum semuanya terlambat. Terakhir, sebelum esok paginya terlambat bangun sholat Ied, kuatur alarm seluler pukul 4.30, dan aku mulai istirahat dengan berbagai perasaan yang ada. Melupakan satu hal tentang alarm dan recurrent alarm….

Dan, krriiing….Allahu akbar…..Laa ilaha Ilallah huwallahu akbar, allahu akbar, Walilla Ilham….jebur…jebur….rreeerr….sret,sret…..,” Pak, bangun…jam 5, nanti telat sholatnya…” Pak Uban, anehnya malah memandang heran, melihat jam dan sejurus kemudian dia bertanya juga…,” Memangnya yang benar ini jam berapa? Bukannya masih jam 4?”….Kontan aku kaget dan seketika berusaha membantah. Tapi begitu kulihat semua jarum jam yang ada di rumah menunjukkan angka yang sama, aku cuma bisa melihat lagi diriku di kaca, rapi dengan dandanan dan tinggal melengkapinya dengan baju Lebaran baru. Ya ampun, ternyata aku bangun dan mandi jam 2.30 karena program recurrent alarm-ku masih program sahur. Sedangkan waktu yang kusetel untuk pagi itu, kumasukkan dalam program alarm biasa tanpa menyetel ulang recurrent-nya…walah, terlalu semangatnya aku hari itu, sampai tidak periksa-periksa lagi jam berapa saat alarm berbunyi. Tapi, semua tidak menyurutkan langkah persiapanku.

Sholat Ied pagi itu untuk pertama kalinya kulaksanakan di kompleks rumahku sendiri. Maka, memungkinkan aku bersalam-salaman langsung dengan tetangga segera setelah sholat selesai. Kembali ke rumah, aku semakin tidak sabar untuk segera pergi ke rumah ibu di Sunter. Karena aku akan berangkat mudik langsung dari Sunter, semua barang langsung kami masukkan ke mobil dan diatur agar perjalanan jauh nanti terasa nyaman. Semua kami lakukan dengan cepat, dan begitu selesai, kami pun segera mengunci rumah dan pergi ke tempat ‘perhelatan akbar’.
Disana, betapa senangnya aku karena suasana yang lama kurindukan itu kudapatkan kembali. Kami berkumpul di ruang keluarga, berfoto di teras, tahu kesempatan berkumpul lengkap seperti ini belum tentu ada lagi di tahun-tahun depan seperti yang pernah terjadi sebelum ini. Bahkan suasananys jauh lebih meriah, terutama karena kami mempunyai bahan obrolan dan candaan baru tentang rencana Wanto menyudahi kelajangannya. Semua bersahut-sahutan meledek dia sampai tidak satu kata pun mampu dia ucapkan untuk melawan selain hanya bisa tertawa dan tertawa. Kami juga terus makan apa saja yang kami rasa enak di lidah tanpa ingat lagi dengan detoksifikasi sebulan penuh sebelumnya. Sampai malam datang, satu persatu keluarga kakakku pamit pulang, aku juga pamit memulai perjalanan ke Jawa Timur. Kutitipkan kunci rumah pada kakak yang tinggal berdekatan denganku,dan…ternyata ini menyisakan kehebohan lain di akhir perjalanan Lebaranku….

Iklan

Aksi

Information

One response

1 11 2006
Ely

seneng ya kalo bisa kumpul dengan seluruh keluarga, apalagi di hari lebaran!.

kehebohannya apa hayoo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: