Untuk Bapak Ibu Kami

28 11 2006

Pada saat bicara tentang orangtua, kita akan selalu mengenang kembali masa kecil kita. Setidaknya kalau aku yang bicara tentang bapak ibuku. Di masa itu, ingatan tentang bagaimana nakalnya kami sebagai anak-anak, tentang kerja keras bapak ibu menafkahi dan mendidik kami, menjadi bagian terbesarnya. Kadang mengenang semua masa lalu itu membuat tertawa, menangis haru atau kami lantas berpikir tentang apa yang kita lakukan sekarang pada anak-anak kami. Bisa jadi kami mencoba mencontoh hal baik yang kami terima dari bapak ibu untuk diterapkan pada anak keturunan. Bisa juga kami mencoba menghilangkan apa yang dulu tidak bisa kami terima. Namun di akhir kenangan itu, toh ada sudut hati kami yang mencoba menelisik apakah kemudian kami sudah bisa membalas semua kebaikan dan jasa bapak ibu dengan semampunya . Seberapa banyak yang bisa kami lakukan untuk bapak ibu.

Photobucket - Video and Image Hosting

Melihat bapak ibu di masa sekarang, seharusnya mereka sudah menjalani hidup tenang dan bahagia. Lima putra-putrinya sudah berumahtangga dan memberikan cucu-cucu yang beraneka ragam tingkah polahnya. Banyak kenalan menilai mereka adalah orang yang patut diteladani dan kami bersyukur dengan apa yang terlihat baik oleh banyak orang. Tetapi nyatanya akhir-akhir ini aku mendadak sedih untuk mereka. Di masa tuanya kini, seperti halnya akan selalu dialami setiap manusia, mereka masih harus merasakan adanya hambatan menikmati hidup tenang. Ketika hasil kerja keras mengumpulkan setiap tetes keringat muda mereka tidak dihargai orang bahkan akan dirampas. Ketika mereka harus mulai berpikir untuk menyerah pada kemungkinan adanya orang yang iri dengan apa yang telah mereka capai.

Tidak sulit bagi kami putra-putrinya untuk menerima mereka di rumah kami, yang mana saja mereka sukai untuk tinggal bersama. Tidak ada keberatan sama sekali untuk menolak kebahagiaan bersama lagi dengan bapak ibu dalam satu atap. Datanglah, bapak ibu, kami akan siapkan kamar. Kami akan sangat senang. Tapi jangan lagi bicara tentang rumah bapak ibu, rumah masa kecil kami. Karena kalau terjadi, kami akan menangis mengenang kerja bapak ibu yang akan terampas. Aku sebagai putri satu-satunya, mengerti benar sakitnya hati bapak ibu melihat itu.Tapi mungkin ini saatnya menetapkan hati.

Bagi kami, jika memang segala upaya mempertahankan milik bapak ibu hanya membentur dinding tebal, kami akan mundur. Kami masih memiliki energi untuk berjuang, tapi lebih suka menggunakannya untuk membahagiakan bapak ibu di rumah kami. Tembok itu tidak penting lagi untuk dihancurkan jika akan memperpanjang ketidakpastian dalam masa tua bapak ibu. Mungkin lebih baik jika kita titipkan segala milik kita pada Yang Kuasa untuk menjaganya. Di sini, cucu-cucu bapak ibu akan bisa ditemui setiap hari. Bapak ibu akan bisa melihat segala trik kecil mereka menolak bangun pagi, segala kegiatan mereka sejak pagi hingga petang, dan kapan kami orangtuanya akan harus menghukum mereka untuk ketidakpantasan yang mereka lakukan. Hingga waktu bapak ibu nantinya akan tiba, tidak seujung kukupun apa yang kami lakukan akan mampu menyaingi segala yang bapak ibu perjuangkan untuk anak-anak. Hanya sedikit yang mungkin bisa kami lakukan. Kami ingin membuat bapak ibu hanya memiliki tawa dan senyum, bukan air mata. Jangan teteskan airmata bapak ibu di masa tua ini. Karena disinilah kami, anak dan cucu, akan ada bersama bapak ibu.


Aksi

Information

10 responses

29 11 2006
Muhammad Mufti

Beda orang beda pula jamannya. Demikian juga dengan orang tua, berbeda caranya mendidik anak. Setiap keluarga mempunyai ciri khas masing2 dalam mendidik anak2nya.

29 11 2006
dian mercury

sama kita, ndang..5 bersaudara juga. ibuku itu orangnya sabaaar banget. and cuma ibu rumah tangga yg taunya ngurus anak ama suami. aku kasi hp, lamaaa banget belajarnya hahha

btw, picsnya gak bisa dibuka. x doank

29 11 2006
Larasati

sudah sepantasnya orang tua tinggal menikmati hasil benih yang ditanam, cukup dengan melihat anak-anaknya berhasil menjadi manusia berguna orang tua akan sangat berbahagia. Aku turut prihatin jika ada orang tua yang masih
ikut kemrungsung plus repot atas kehidupan anaknya yg sudah berumah tanggga.

30 11 2006
venus

jadi kangen bapak ibuku, ndang..hiks…

30 11 2006
Tanti

Tante Endang, terima kasih untuk ucapan dan doanya untuk Rayhan ya … 🙂

Wahhh say, orang tuamu pasti sangat tersentuh apabila membaca ungkapan perasaanmu di sini. Pada prakteknya beliau2 tahu kalau anak2 menghargai mereka dan jerih payah yang ada selama ini … dalam torehan tinta ehhhh ketikan … terasa semakin menyentuh *terharu biru*

1 12 2006
Yanti Wyant

Hiks..jadi inget ama alm ortuku.
“The tears in your parents eyes is the tears of happiness”
They must be proud of you 🙂

2 12 2006
dian mercury

nah..yg ini bisa diliat picnya…

5 12 2006
JaF

Welehh.. jadi diambil ya bu? Tega banget.. Wish I can help.. which I can’t..

Insya Allah ditunjukin jalan, Ndang.. Insya Allah.. Nyerah secara fisik, jangan membuat doa putus..

Salam sama Bapak Ibu. Melihat beliau, terutama Ibu, rasanya semua kenangan jaman kita seneng2 dulu tersedot muncul kembali 😀

5 12 2006
endangwithnadina

Buat semua yg ngasih komen, makasih ya, tapi saya lagi gak bisa bicara byk disini, maaf bgt deh…

Jaf, kbar terakhir, hasil maksimal yg bisa kita raih adalah rumah itu boleh ditempati sampai akhir hayat bapak aja.

6 12 2006
Anonymous

Kampret.. akhir hayat.. nyumpahin apa..? Eh.. maap.. jadi ngomel disini..

I still hope things turns out for the best..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: