Jangan Berani Lukai Anakku !

25 01 2007

Kejadian ini sebenarnya sudah lama sekali berlalu. Dan aku sendiri berusaha untuk tidak mengingatnya. Apa daya, setiap saat aku melihat tampilan EX Plaza di televisi, ingatan akan peristiwa ini muncul lagi. Dan setiap kali itu pula aku berusaha untuk segera mengganti tontonan dengan saluran lain. Ada perih dalam hati, dan jikalau ada yang memintaku untuk menceritakannya, rasanya tak sanggup mulut ini bicara. Namun aku tidak pernah ingin berputar-putar dalam situasi yang sama, dengan perasaan yang sama pula. Luka ini harus diakhiri. Sejauh yang aku tahu, cara terbaik untuk itu adalah dengan membicarakannya secara terbuka, dan tidak selalu lari dari sana. Meski bukan menjadi gayaku untuk bertutur tentang kronologi cerita, namun kuharap cerita ini akan berhasil menyembuhkan lukaku.

Aku dan anakku sangat menggemari novel dan film Harry Potter. Setiap kali buku atau filmnya diluncurkan, kami akan segera mencari, menonton dan mengkoleksinya. Tidak heran, jika kami cukup hafal dengan segala karakter hingga mantra-mantra yang sering diucapkan disana. Seperti biasa, bersamaan dengan segala peluncuran buku ataupun filmnya, akan disertai berbagai acara berkaitan dengan karakter Harry Potter itu seperti berbagai lomba mewarnai ataupun duel mantra. Merasa menguasai materi yang dilombakan, anakku dengan serta merta mendaftarkan diri pada perlombaan yang diadakan di EX Plaza Thamrin. Dalam bayangannya, tidaklah menjadi masalah jika toh tidak mendapatkan kemenangan. Dia hanya ingin sedikit merasakan kegembiraan dalam berkompetisi.

Segala persiapan dilakukan, bahkan kesabaran untuk menunggu pun disertakan. Sangat bisa dimaklumi segala keterlambatan yang terjadi mengingat banyaknya peserta lomba. Hingga akhirnya detik-detik bertempur tiba. Semua peserta diminta berkumpul di tepi panggung dan akan dipanggil satu persatu. Seiring dengan semangatnya yang begitu menggebu dan merasa badannya terhitung kecil, anakku berdiri di barisan terdepan. Semua dilakukan agar dia dapat melihat segala yang terjadi di panggung dan juga dapat segera berlari jika gilirannya tiba. Menunggu, menunggu….hingga akhir acara…..sesuatu yang tidak semestinya terjadi, ternyata terjadi juga. Anakku tidak digubris. Oleh panitia, oleh pembawa acara, tidak satupun memanggil dia ke atas panggung.

Melihat ketidakberesan yang berlangsung saat itu dan mulai memerahnya mata anakku, aku segera menghampiri panitia untuk menanyakan apa yang terjadi hingga anakku tidak diikutkan lomba. Apa jawaban yang kudapat? “Maaf bu, terlewat nomernya…maaf bu, kami tidak melihat anaknya…” Seketika dunia di sekelilingku berputar begitu cepat seiring aliran darah yang terasa panas menggapai puncak kepala ini. Bagaimana bisa terjadi seperti itu, sedangkan sejak awal anakku berdiri disana, dan panitia bahkan sempat mengajaknya berbincang. Dan tidak ada pula sesuatu yang dilakukan panitia untuk mengobati luka hatinya melihat harapannya terbang melayang. Lomba itu yang diinginkannya, bukan lomba yang lain. Berpura-pura menjadi Harry Potter untuk sesaat dengan membaca mantra sihir, dan bukan mewarnai atau yang lain….

Jangan berharap mencari aku yang diam mengalah disana. Tidak akan pernah ada diam itu, karena mendadak aku bisa berubah menjadi seorang bertenaga besar dan bersuara kencang. Perubahan yang hanya bisa terjadi jika anakku disakiti. Perubahan yang hanya bisa terjadi jika aku tahu ada seseorang membuatnya meneteskan airmata. Aku yang lebih terluka melihat bagaimana anakku tersayat hatinya. Tak pernah aku mengajarkan kecengengan dan sifat tidak mau mengalah kepada mereka. Terlebih mereka adalah laki-laki. Tetapi ketika segala harapan dan usahanya dihancurkan, dan mereka terjatuh karenanya, aku ibunya, akan ada di depan.

Betapa sulitnya bagiku melihat kembali gedung pertokoan itu. Betapa terkuncinya mulut ini untuk bertutur sebab sayatannya terlalu dalam. Betapa tidak mudahnya untuk menulis ulang cerita ini, bahkan dalam geliatku untuk terbebas dari segala sedih dan murka. Dan nyata sekali mengapa pipiku masih basah saat kata demi kata ini tersurat. Tapi aku tidak ingin mendendam. Dan aku harus membuang segala rasa tanpa maaf ini jauh-jauh, agar mampu mengajarkan kebaikan bagi kekasih-kekasih kecilku yang tercinta. Hanya satu pesanku, jangan lagi lukai putraku…jangan pernah berani ….

Iklan

Aksi

Information

19 responses

25 01 2007
dian mercury

itu mc buta apa begok sih ? kenapa kamu gak minta panggil ulang aja ?

25 01 2007
Hany

Haduh, itu panitiane gimana thooooo… Mbok dihibur dgn gimanaaaa, gitu. Mestine kan ada kompensasine. FiuH!

25 01 2007
kenny

wah..payah tuh panitia belor matanya, Buat apa ngedaftar klo gak diliat daftar pesertanya. Bisa ngerti jeng perasaanmu, memang sakit klo anak kita disakiti.

25 01 2007
endangwithnadina

Dian, gak bisa Di, krn katanya udah dpt pemenangnya….makanya jad muntab deh au
ku…

Hany, aduh, perasaan bersalah aja gak ada lo Han…

Kenny, Ya itulah yang aku ndak ngerti Jeng…kok yo ceroboh bgt!

25 01 2007
angin-berbisik

mbak, dalem sekali tulisannya :), panitianya di tutuk wae mbak, hehehe
demi anak ya mbak, sedumuk batuk, sinyari bumi 🙂

25 01 2007
-FM-

nggak profesional sekali panitianya. kalau aku jadi ibunya, tentu saja marah dan murka. karena kebegoan panitia, anak kita jadi nggak kebagian ramai-ramainya.

26 01 2007
venus ngerti

wah njaluk dikamplengi tenan. sakit rasanya liat anak kita terluka ya, ndang? 😦

wis ojo nangis. sesuk tak tukokno kopi yang paling enak ya? 😛

26 01 2007
Larasati

aku bisa ikut ngerasain mbak. Kalau anak kita disakiti daging kita ikut terasa perih.
Wes mbak…cep..cep..cep…jangan nangis lagi ya….

26 01 2007
endangwithnadina

Tia, wah Jeng…memang itu yg rasanya pengen kulakukan…nuthuk panitiane !

FM,yg jengkel, gak merasa bersalah lo…malah email obrolan intern mrk diforward ke aku,merasa gak salah…..huuhhhh !

Venus, mestine ngajak sampeyan mbak ben ono sing ngewangi ngampleng…nek wis bar yo ngombe kopi no…

Larasati, iya mbak, sakit banget rasanya….

26 01 2007
JaF

Seorang ibu yang mengamuk demi melindungi anaknya adalah pemandangan paling menakutkan hue hehehe…

*ngasih sapu tangan ke panitianya* :p

26 01 2007
endangwithnadina

Jaf, You’re absolutely right! Emang saat itu gw jadi keliatan sereem bgt…wong judulnya aja udah ngancam gini…

26 01 2007
DeLaKeke

Bangga banget punya Bunda yang memperjuangkan hak anaknya, dikala diabaikan tanpa alasan yang ga masuk akal…
kita bisa ambil hikmahnya, bahwa dinegeri kita ini, kadang mata, hati, telinga ga digunakan semestinya…
Ayo semangat Bunda…

27 01 2007
joni

hmmm.. pada saat mbaca postingan ini masih terasa kental dalamnya luka sang penulis!!! :p

memang, terkadang demi anak, kita rela melakukan apa saja untuk kebahagiaannya dan sangat2 tidak rela apabila ada seseorang yang menyakitinya…

jadi pengen nyanyi…
kasih ibu, kepada beta, tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia…
*terharu*
ps: jadi inget ibuku.

27 01 2007
de

ya, Bu, aku tak pernah akan berani. Dan aku akan melakukan hal yang sama bila itu terjadi pada anakku. Dan kau tahu? Suaraku jauh lebih keras, karena dalam keseharianpun suaraku emang menggelegar ha..ha.. Wes sabar…sabar..

28 01 2007
Tanti

Meng-iya-kan pernyataan Mbak Laras, iya say … kalo anak tersakiti hatinya meski’pun tanpa sengaja, perih rasa hati ini … yah panitianya piye sih …

Aku yakin Endang punya jurus hati mengademkan hati ananda yang terluka … lain kali, wanti2 panitianya untuk lebih jeli say …

29 01 2007
Muhammad Mufti

Namanya juga darah daging kita mbak, tentunya kalau dia kecewa kita juga pasti kecewa. Panitiane emang kudu dihajar itu…

1 02 2007
amie

mba,salam kenal dari aku.pas mampir di blog mu dan terbaca postingan ini,dadaku jadi sesak.dalam sekali lukamu.lupakan aja mba yang terpenting putramu tau kalau dia punya bunda yang hebat,yang selalu mendukungnya.jgn nangis lagi ya.

1 02 2007
endangwithnadina

*Delakeke, gak perlu bangga ke, udah seharusnya kok jadi orangtua begitu…
*Joni, gak bakal lupalah mas..
*De, lha, udah mbandingin apa ama suaraku…hehehehhe
*Tanti, gak bakal ikut lagilah Tan…
*Amie, Makasih ya dukungannya
Mufti, iya, ternyata begini ini rasanya jadi ibu…

15 02 2007
syazwarya_diary

Panitianya buta huruf kali yah, kok bisa nomor peserta ada yg kelewat. Sudah salah mereka nggak ada inisyiatif lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: