Thank God Its Friday

17 03 2007

Sekian lama berkutat di bidang seni panggung, aku sedikit mengerti seluk beluk kesulitan memasarkan sebuah produk yang akan dipentaskan. Meski ada yang bernasib baik seperti teater Koma, tapi kebanyakan pasti akan kesulitan untuk menjaring penonton dan dana. Karena semuanya menuntut manajemen yang kuat dan plus minus tentang idealisme menyangkut produknya sendiri. Kurang lebihnya seperti itu, dan aku malas untuk menjelaskannya lebih jauh.
Maka, menjadi sebuah nasib baik pula ketika salah seorang dalam sebuah produksi memiliki kenalan orang-orang berpunya ataupun berpengaruh yang dapat melancarkan niatan menggelar sebuah pementasan. Maka, tak heran jika beberapa hari lalu Pak Uban membawa pulang 2 tiket undangan teater dengan harga khusus. Logika sebab musababnya hingga perwujudannya pasti sama sebangun dengan sanggar tempatku dulu bergabung.

Dan Jumat malam kemarin adalah hari yang telah diatur untuk kami memenuhi tiket undangan itu. Pementasan Sanggar Pelakon Pimpinan Mutiara Sani dengan judul MAHKAMAH, dalamrangka memperingati 3 tahun meninggalnya mendiang Asrul Sani. Tiket ini hanya untuk 2 orang, maka tak mungkin kekasih kecil kami untuk ikut. Tak mungkin pula kami belikan lagi tiket karena harganya saja sudah khusus dalam tanda kutip, maka pengeluaran pun harus dibatasi atau kalau tidak lebih baik kubawa lari ke tempatnya mas Jack Bauer. Maka kekasih kami harus menerima nasibnya untuk dititipkan, di tempat yang bisa mereka sukai tentunya. Dan bapak ibunya, pergi melenggang berkencan sendiri.

Datang ke gedung pertunjukan kesenian sangat menggugah semangatku. Ada De javu. Dan merasa seperti orang yang paling beradab. Semangatku juga masih sama, dengan berbagai aturan yang seharusnya dimiliki jika sudah duduk manis di kursi penonton. Nyatanya…aku harus menepuk dahi setelah berkali-kali kudengar deringan aneka seluler. Deringan itu seharusnya tidak boleh ada untuk beberapa jam di ruang pertunjukan atau akan sangat mengganggu hasrat pemain dan penonton sepertiku. Tidak cukup ribut, ternyata gedung itu berubah seperti tempat pertunjukan kesenian rakyat dimana orang bebas bicara, mengunyah dan berkomentar yang tidak perlu ada. Tandukku berdiri. Rasaku hilang, dan kantuk pun datang. Kehadiran para pembesar di kursi VIP termasuk dari kantor Pak Uban saja yang mencegahku untuk tidak benar-benar terkapar. Semua menjadi salah dan sangat tempelan. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Tapi sejak lama aku belajar untuk mencari sisi terang sebuah hal, meski sulit dan kadang juga gagal. Apa yang kudapat? Lapar. Dan kencan berlanjut hingga ke halaman Pasar Hias Rias Cikini dengan semangkuk bubur ayam dan nasi uduk. Jam 23.00. Diiringi suara nyanyi pengamen tak biasa, dengan dandanan rapi berikut gitar dan bass besar beserta mikroponnya, serta suara yang harus membuat kami merogoh lembaran jauh melebihi seribu rupiah. Sesuatu hal yang dulu sulit kami lakukan di tengah malam karena ibuku beraliran kuno. Inilah yang aku cari dulu, salah satu alasan kenapa aku bersedia menikah muda. Untuk menikmati kemesraan tanpa harus membayangkan adanya wajah tak menyenangkan dan menyeramkan di depan pintu sepulangnya nanti.

Angin malam mungkin tidak sehat. Namun jika bersanding dengan belahan jiwa, aneka cerita mengalir dalam irama tak dipercepat, dan nyanyian …”Don’t forget…to remember me…….” maka aku tidak akan memerlukan dokter apapun juga. Jam 00.00? Biarkan sajalah…..anak-anak aman, dan tak mengapa kami harus melompat pagar lagi untuk mencari kunci yang disembunyikan Ari untuk kami. Yah…..kami memang lupa lagi untuk membawanya.

Laju mobil pun perlahan saja membawa kami, menikmati kencan itu. Aku merasa beruntung karena kemarin hari Jumat. Hari ini anak-anak berangkat sekolah agak siang hanya untuk ekstra hingga tak harus bangun mendahului ayam jago. Dan meski seolah malam Minggu, tapi beruntung juga itu Jumat. Karena jika esok paginya sungguh libur, jangan-jangan kami malah tidak pulang……
Beruntung, kami masih dibebani tanggungjawab, meski bukan wajah menyeramkan untuk dijawab terbata….tenang…santai….

Iklan

Aksi

Information

17 responses

17 03 2007
DenaDena

Wah bakat maling juga rupanya hahahahaha.. Manjat pagar euy… napa ngga naek genteng aja sekalian wakakakakak

18 03 2007
venus

thank god it’s saturday night. ga nyambung sm isi postingan kan? 😛

18 03 2007
Innuendo

tega loe mak nyebut2x nasi uduk…(nambah lagi daftar makanan hehehe)

orang kita kenapa yak, susaaaah banget otaknya diajak pengertian. mbokya nonton itu matiin hp.

18 03 2007
hery

Jangankan di pertunjukan, di ruang rapat aja HP berdering terus, dan kadang malah mainan HP diwaktu rapat :).
Cerita berduaannya jadi membuatku pengen cepet pulang ketemu keluarga nih heuhuhuhu, 3 bulan lagiiiiii

19 03 2007
Hedi

ada anekdot, orang indonesia dilarang nonton orkestra, drama broadway, atau konser resital, karena seneng bikin suara sendiri 😛

19 03 2007
kenny

walah…bar kencan tho jebule, emang susah banget org kita ngikuti aturan yg sederhana…kurang pengertian.

wah, pesen bubur ayame..

19 03 2007
Evy

aku pernah nonton konser mozart di salzburg, austria, padahal cuman nonton di lapangan pake layar tancep, eeh temenku org indo juga ngajak ngomong, trus kita berdua di marahin sm orang bule di sebelah… malu ati :(, aciik mbak jalan2 pacaran nie yee…

19 03 2007
angin-berbisik

wah kencan yg romantis….nonton teater, makan berdua, ugh pengennn

20 03 2007
Iman Brotoseno

memang paling menyebalkan kalau orang tidak bisa mengapreasiasi seni baik film atau pertunjukan…cekakak cekikik, terima telpon, makanlah..
memang urusan seperti ini bangsa kita belum bisa,,

20 03 2007
joni

hehehe.. pengen tahu? gimana muka mbak endang waktu tanduknya mulai berdiri 😛

yup, emang betul kesadaran seperti itu emang masih kurang di masyarakat kita.

20 03 2007
-FM-

hehehehe, dimana sih mbak? di gkj apa di tim? eh, tapi nggak ngaruh dink.

sekarang nonton apa aja di dua tempat itu berasa nonton misbar…

20 03 2007
Yanti Wyant

Gitu dong..sekali kali romantisan …sering2 aja bawa tiket nonton 🙂

20 03 2007
endangwithnadina

*dena, lo, baru tau tho?hehehe
*venus, hahahah…pa kabar bu?
*dian, lho, blm ada di daftar tho?
*hery, wah, dah mau lulus ya?
*hedi, hehhe….iya, reseh sendiri.
*kenny, jengkel aku jeng…
*evy, nah kan….sampe dimarahin…iya, acik jeng…
*tia, pengen doang? gak asiik…
*iman, padahal kan sebelum acara pasti sudah diperingatkan ya mas…
*joni, wa…nepuk2 jidatnya diperjelas om, biar yg reseh ngeliat…sangaar…
*fm, kalo gue berwenang, pasti gue damprat tuh fit..
*yanti, hehehe….asik ya?

20 03 2007
Ely

wah romantisnya, pacaran lagi ^_^

21 03 2007
mei

huhui.. harusnya d lanjutkan dengan kencan semalam mbak..wuahh makin menambah cinta yang udah bertumpuk2 tuh…..garansi uang kembali*halah

22 03 2007
Larasati

weh kencane mbikin iri!! belum pernaahh…
Dulu waktu masih belum nikah alias masih pacaran, jam 9 malam mantan pacarku ini sudah harus tahu diri pamitan pulang jadi pas banget dengan siaran berita jam 9 malam itu..dong..dong…dong…
eh..komene gak nyambung
to..mang’aapp….

23 03 2007
meiy

duh yg kencan…asyik ya bisa beduaan aja ga bw2 buntut hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: