Menakar Porsi Kontrol

20 03 2007
Keterlibatan emosi antara orangtua dan anak, rasanya seperti belitan udara di sekeliling kita. Pasti ada cukup banyak untuk kita hirup dan hembus, dan tak mungkin bisa putus. Tak ada masa kedaluwarsa untuk berlakunya hubungan emosi dan perhatian sejak terlahir ke dunia hingga kembali lagi tiada. Bahkan seringkali, hubungan ini pun meluas ke lingkup paman bibi keponakan dan kakek nenek cucu, jika diantaranya selalu terjalin komunikasi yang erat.

Eratnya komunikasi dan hubungan emosi ini ketika masa pertumbuhan dan perkembangannya, seringkali tidak diimbangi dengan takaran perhatian yang seharusnya diberikan. Maksudnya, ketika seorang anak beranjak dewasa dan sudah menjalankan proses berpikirnya sendiri secara lebih matang, pada saat yang sama orangtua di sekelilingnya seharusnya juga mulai mengurangi porsi kontrol terhadap anak tersebut. Selayaknyalah, anak itu sudah mendapatkan sikap orangtua yang lebih menghargai penentuan sikap anak itu sendiri terhadap keberlangsungan kehidupannya. Hal ini justru menjadi masalah terbesar yang seringkali bahkan tidak ingin disadari, dengan dalih pengalaman yang lebih mumpuni dari yang muda.

Aku melihat dua hal ini sedang terjadi pada kehidupan di sekitarku. Ada yang merasa boleh melarang seorang anak dan cucunya untuk menikah muda. Di pihak lain, sang anak merasa telah memiliki segala pertimbangan yang memang seharusnya diperhitungkan ketika akan melangkah pada kehidupan baru pernikahan. Tentu di dalamnya tidak termasuk kepastian kelanggengan pernikahannya, karena menikah adalah sama dengan perjudian, tidak peduli berapapun usianya saat itu. Ssetidaknya begitulah menurut penilaianku. Dan banyak sekali faktor yang menentukan kemenangannya diluar kekuatan komitmen mengikat janji itu sendiri. Selebihnya setelah seluruh peta jelas terhampar, siapa yang berwenang memutuskan, menjadi sebuah wilayah rawan konflik.

Ada lagi anak yang sedang mengurus proses perceraian. Kaum tua merasa perlu berbicara tentang segala sesuatunya karena kemungkinan yang tidak terpikirkan oleh yang bersangkutan akibat tertutup emosi dan dendam tingkat akut. Segala pagar tata etika dan norma umum yang sangat terbuka untuk diinjak-injak sang pelaku perceraian digambarkan di hadapannya. Namun ketika kakinya tetap melangkah tak beraturan, masihkah besar porsi kaum tua disana untuk menitahnya laksana dia baru belajar melangkah.

Ada yang akan pedih terasakan di dada kami ketika kaki mereka terluka oleh jalan yang ditempuhnya. Banyak riak dan sungai mengalir di pipi-pipi mengeriput ini untuk apa saja yang berada di luar garis rencana mereka. Tapi kesedihan dan kebahagiaan yang kami punya nanti belum tentu menjadi punya mereka. Karena kacamata kami dan mereka tak mungkin ditukar. Dan kami tak bisa memastikan jika kami hanya menggenggam perih untuk sebuah perjalanan, mereka juga menggenggam yang sama. Jika mereka telah menuai pohon bijaknya, maka di genggamannya mungkin ada luka dan senyum sekaligus. Seharusnya kami tahu karena senyum itu pertanda mereka bahagia untuk kedewasaan barunya.

Sampai di persimpangan ini, aku bergenggaman tangan dengan Pak Uban. Mata dan hati kami pada kekasih kecil kami. Jika perasaan kami sekarang sama dengan para saudara untuk anak-anak mereka, maka perasaan ini akan muncul lebih dalam bagi kekasih kami nanti. Dan jika perjalanan mereka tiba di titik kritis, kami selayaknya menilik lagi seberapa banyak porsi yang bisa ditawarkan untuk mereka santap. Dan untuk sekarang, tabungan kami adalah bibit-bibit yang harus disemaikan di benak kekasih-kekasih kami agar bisa tumbuh menjadi pohon bijak yang lebih subur dari miik kami.

Iklan

Aksi

Information

10 responses

20 03 2007
DenaDena

i have 2 learn a lot from u, bu guru

20 03 2007
Hany

Bgitu deh jadi ortu ya, Ndang. Mudah2n kita selalu dikasih kemudahan sama Allah.

20 03 2007
Evy

Susah emang ya mbak menakar porsi kontrol ini, anak2 khan musti diajak ngomong, tapi kita ga boleh kliatan ngontrol gitu, dibilangin kita yg lebih pengalaman ga percoyo jeee…, kalau di larang takutanya malah sengaja, cenderung melawan… belajar persuasif. Mbak guru dimana to mbak?

20 03 2007
Ely

Amin.
Nggak mudah ya jadi orang tua.

20 03 2007
Djoko Santoso

yang lebih parah adalah kita tidak menyadari bahwa anak kita tumbuh, karena setiap hari kita bertemu, dan kita akan segera tersadarkan ketika mengetahui pemikiran-pemikiran dan pengetahuan anak kita yang telah berubah.

20 03 2007
angin-berbisik

mbak, dibuat buku aja mbak artikelnya, sungguh banyak faedahnya 🙂

21 03 2007
Innuendo

menurut aku sih ya gak bener juga menahan sakit hanya demi terlihat utuh dimata anak2x. ya, anak2x korban perceraian harus dikasi pengertian ama ortu yg bercerai.lagian, meski bercerai, khan bukan berarti gak punya ortu lagi. mempertahankan pernikahan yg kacau juga gak sehat buat anak2x.

gitcu..ganti

21 03 2007
endangwithnadina

*dena, nggak begitu juga seharusnya de….
*hany, amiiin…
*evy, hidup memang gak pernah mudah ya….guru? ah, terjebak omongannya dena nih…
*ely, apa yang mudah di dunia ini?
*joko, sadar itu butuh pemikiran lebih mendalam,bukan gitu mas?
*tia, wah…terlalu berlebihan kalau begitu…tulisan2 saya ada karena saya terlalu bodoh sebenarnya, dan begitu mengerti sesuatu baru ditulis…
*dian,…mmm….bukan itu lho maksud gue, jeng…

22 03 2007
hery

Semoga aku juga bisa menjadi ortu yang bijak, dunia penuh dengan proses pembelajaran, hanya orang kerdil yang mengaku kalau dirinya telah mampu dan menguasai semua apa yang ada, karena semakin kita mengetahui sesuatu maka semakin banyaklah hal yang kita tidak ketahui.

22 03 2007
Larasati

emang sukar menjadi orang tua bijak, tapi terkadang ketidak bijakan mereka sebenarnya bentuk dari kasih sayang ortu meski kadang2 bikin yg melihat en si anak menjadi gerah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: