Bekal Untuk Mereka

10 04 2007
Caraku mendidik anak-anakku mungkin tergolong tidak terlalu baik. Untuk mereka-mereka yang berperangai halus dan memiliki gambaran tentang sosok ibu yang katanya lemah lembut, aku pastilah tidak akan terhitung di dalamnya. Tanya saja kepada kedua kekasih kecilku itu betapa sebalnya aku jika melihat mereka menangis untuk sesuatu yang menurutku tidak perlu ada airmata. Bahkan untuk Rayi yang seringkali menjadikan tangisan sebagai senjata peluluh hati orangtuanya, akan kukatakan bahwa tidak akan ada harapan baginya untuk aku mengabulkan permintaannya dengan cara menangis, kecuali dia mau bicara dan berdiskusi denganku. Oh ya, mungkin itu karena mereka laki-laki semua. Tapi sebenarnya, hal itu juga kuterapkan kepada anak perempuan. Keponakan-keponakanku yang perempuan, akan mendapat sikap yang sama dariku jika mereka menangis untuk sesuatu yang tak perlu ditangisi. Akhirnya mereka belajar untuk tidak berlaku cengeng di hadapanku kecuali sangat terpaksa.

Untuk bacaan dan tontonan, aku hampir tidak menghalangi mereka kecuali untuk kategori sangat dewasa. Jika yang kami saksikan di tivi adalah adegan-adegan tak pantas dari sebuah sinetron yang makin tak bermutu, tempelengan atau intrik-intrik untuk menjatuhkan kawan, maka kami akan mendiskusikannya sambil sesekali tertawa. Jika si sulung meminta ijin untuk ikut membaca novel kami yang menurutnya ditulis secara baik, kami juga akan mengijinkan. Di dalam novel itu, kami tahu ditulis juga adegan percintaan yang belum bisa menjadi konsumsi anak seusia dia. Kami ingin tahu saja, apa reaksi dia. Dan ketika kami tanya tentang bab yang menuliskan adegan percintaan itu, dia akan dengan santainya menjawab, ” aku kan tidak harus membaca yang tidak perlu, jadi bagian itu bisa aku lewati…” Selebihnya, dia kini bahkan mulai menikmati buku atau novel berbau politik. Apakah semua ini berdampak buruk nantinya, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah betapa dunia ini berkembang cepat dan semakin keras dibandingkan masa kanak-kanakku. Dan aku ingin mempersiapkan mereka dalam menghadapi hidup yang tidak mudah ini lebih awal, karena saat ini apapun bisa terjadi pada kaum mereka. Tapi di balik kata-kata kerasku kutitipkan juga sebuah belaian untuk mereka, agar mereka tidak kehilangan hatinya dalam menghadapi kerasnya dunia ini.

Maka, aku menjadi sangat tertegun mendengar berita media yang menyebutkan adanya anak yang meninggal di dalam sekolahnya sendiri. Bukan…bukan kekerasan macam itu yang dibutuhkan oleh mereka. Anak-anak ini harus tangguh, tapi tidak menjadi kejam. Mereka harus siap dalam segala situasi, tapi jangan kehilangan rasa. Mereka harus mengerti bahwa kekerasan itu pasti ada, tapi bukan untuk orang yang punya kasih dan cinta. Maka pastilah anak-anak yang melakukan kekerasan pada temannya sendiri, memiliki lubang besar yang tak tertutup di dirinya. Lalu aku sebagai orangtua, menilik lagi….mungkin kesalahan terbesar ada pada orangtua. Karena orangtua berperan besar dalam pembentukan anak-anaknya. Dan menutupi lubang dalam diri mereka tidak cukup hanya dengan jeruji penjara. Karena mereka pasti tidak mengerti apa yang salah dengan sikap mereka.

Lalu aku menjadi takut sendiri. Karena aku juga tidak mengenal kelembutan maka tak ada kelembutan untuk kekasih kecilku. Tapi aku punya cinta untuk mereka, yang kuharapkan bisa mereka rasakan dan mereka gunakan untuk menutupi lubang dalam dirinya, andaikan ada mereka rasakan lubang itu. Sementara itu, hidup ini masih akan berjalan terus. Dan kekasih kecilku masih akan harus menempuh jauhnya belantara dunia dengan bekal yang mereka dapatkan dari rumah ini. Maka dengarlah ketika salah satu bekal itu disampaikan pagi tadi,
” Mas Ari sama Adek, nanti pulang sekolah lihat kemana saluran air yang sedang dibuat itu mengalir. Besok-besok kalau ada masalah disana, kalian harus tahu kemana mencari sumbernya….”


Aksi

Information

13 responses

10 04 2007
jeng njenthit

moco novel politik? weh..weh… hebat tenan pancen jagoanmu kuwi

10 04 2007
mei

hmm..aku mungkin akan menirumu jeng. kata Tidak untuk sebuah pernmintaan dengan rengekan.

11 04 2007
ken

sini klo masalah sekolah biasanya keracunan makanan.

wah wes upgrade bacaane novel
politik, aku gak usah diceritani yo tambah ngelu men gko 😀

11 04 2007
ken_yut

ken_yut iki mau, kepencet jeng

11 04 2007
endangwithnadina

*dena, yg pasti aku jadi tambah temen satu lagi buat diajakin nonton 24 kalo dah gitu….
*mei, habis…sebel aku kalo cengeng mei…
*kenny, iya taulah ini kenny…anakku itu emang seneng baca jeng…

12 04 2007
NiLA Obsidian

mmmm…boleh juga caramu mendidik jeng….mesti privat nih….

tulisannya bagus…..jeng!

13 04 2007
-FM-

memang harus begitu. anak-anak sekarang ini kan banyak yang ignorant. jarang aku temui anak2 yang observant, plus kritis. insya allah dengan bekal yang seperti ini, anak-anak bakal tumbuh dan menghadapi hidup dengan kesiapan penuh. amien.

13 04 2007
Innuendo

ponakanku yg umur 3 tahun, kalo tidur tanpa AC, nangis. trus kalo malam2x kebangun, harus digendong. kalo gak bakalan nangis. kasian gue liat emaknya. gara2x baby sitter yg dulu, selalu mujuk dia dg gendongan. mau ditolak, kok gak tega yak..hrs belajar tega neh ! mana kalo nangis tengah malam buta ; toloooonngg…

13 04 2007
endangwithnadina

*nila, makasih jeng….
*fm, insyaallah….mudah2an berhasil
*dian, halo say….itulah, mrk kan hrs belajar juga ngerti kerepotan org lain…

13 04 2007
angin-berbisik

yap, disini nih aku lom komen, hehehe kelewat, mbak, sepertinya mbak itu a great mother loh, anaknya cerdas2 semua, salutt

16 04 2007
Evy

Mas Ari sama Adek, ga usahsekolah di IPDN yaaa….

aku juga ga suka anak2 nangis mba, tapi menjadi kuat dan tidak cengeng ga perlu di gebukin sampe mati.. 😦

16 04 2007
endangwithnadina

*tia, aku dianugerahi anak yg luar biasa, yg mudah mengasuhnya…
*evy, iya tuh mbak….kok jadi ajang gagah2an ya…wah,anakku insyaallah gak masuk situ…

17 04 2007
joni

wah.. benar2 bekal untuk mereka, salut dengan jeng endang.. yg mendidik dengan cara tidak ‘memanjakan’ dan melatih bertanggung jawab.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: