Warisan Dalam Hati Ibu

4 05 2007
Apa yang kuwarisi dari ibuku? Wajah, kerasnya hati, beberapa sifat baik dan buruk. Yang tidak kuwarisi adalah indah rambutnya, kepandaiannya memasak yang turun hanya sebagian padaku, dan seleranya dalam menilai sesuatu. Soal selera ini memang agak repot. Maklum, setiap manusia berkembang tidak hanya dari faktor keturunan. Lingkungan pergaulan, pendidikan dan jauhnya wilayah yang dilangkahi, ikut menentukan. Dan ketika perbedaan ini muncul, sikap terbaik adalah menerima apa adanya. Hanya saja ketika perbedaan ini muncul di tengah hubungan ibu dan anak , apalagi jika menyangkut barang yang akan diwariskan, bisa cukup meresahkan hati.

Beberapa kali Ibuku sudah menyebutkan akan memberikan seperangkat barang berharga yang dicintainya sejak puluhan tahun itu untuk memenuhi rumahku. Dari kesemua kesempatan Ibu mengatakan itu, responku hanya diam berpikir. Atau sesekali aku menjawab dengan sehalus mungkin yang sebenarnya hanya alasanku untuk menolak menerima. Tapi kekerasan hati Ibu dan kecintaannya yang begitu besar padaku, membuat beliau tetap kukuh dengan niatnya itu. Tentu ini meresahkan aku. Apa yang ingin Ibu berikan padaku sangat berbeda dengan apa yang sudah kulukiskan dalam hati ini tentang angan-anganku. Alasan lainnya, ketidaksesuaian barang itu sendiri dengan tempat barunya nanti disini. Ide ini lalu timbul tenggelam sejalan waktu yang memang belum sampai pada detiknya, tapi tetap menjadi masalah laten bagiku. Sampai akhirnya detik itu semakin mendekat.

Aku tak pernah ingin melukai hati Ibu. Aku memiliki angan yang ingin sekali kuwujudkan tanpa cacat. Aku tak pernah ingin membohongi Ibu untuk sesuatu hal yang dia pasti akan melihat wujudnya. Dan jangan pernah ada kejutan mengecewakan untuknya. Sebuah catatan yang kutulis sendiri dalam hati.

Entah bagaimana, aku terbentuk menjadi perempuan yang cukup peka dalam soal hati namun kurang pandai berbasa basi. Dan ketika dua hal ini harus terjadi secara bersamaan, serasa di wajahku terpampang tembok besar yang menuliskan juklak untuk aku mengatakan apa adanya secara logis demi kesesuaian dan pemahaman. Cara ini juga yang akhirnya harus kutempuh untuk bicara pada Ibu tentang warisannya itu. Ada unsur perhitungan matematis dan bentangan peta permasalahan, ada curahan pikiran dan angan dan juga ada sisi hati yang harus kusentuh meski belaiannya pasti tak sehalus seharusnya. Laksana komandan teritorial saja mungkin.

Apa yang kemudian kulihat? Ibu menerima. Ibu memaklumi. Tapi bukan cuma itu yang ingin kulihat. Aku ingin tahu tak ada airmata milik Ibu untukku. Di hadapanku, memang tak ada. Semoga memang tidak mengalir jauh di dalamnya. Ada sedikit kecewa tersaput di wajahnya namun aliran kata-katanya yang tak tercekat menjadi penanda beliau tak terlalu terganggu. Tampaknya, Ibu justru sedang mempertimbangkan jalan keluar yang kutawarkan sebagai kompromi.

Babak berpendapat usai, pikiranku berjalan kembali. Bagaimana proses hidup manusia selalu mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya, hingga akhirnya membuat hidupnya menjadi kaya. Namun kekayaan itu pun bisa memberikan persoalan lain yang memungkinkannya untuk menjadi lebih kaya, atau lebih miskin, tergantung bagaimana dirinya sendiri mengolah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi yang kedua. Dan apapun yang terjadi, kubisikkan kata maaf untuk Ibu. Tak perlu alasan. Dan aku harus mencari cara untuk membuatnya benar-benar tersenyum.

Iklan

Aksi

Information

20 responses

4 05 2007
Hany

Hah, ya bgitu itu ya hubungan ibu-anak. Aku sendiri blum ngerasain spt itu, sementara waktu. Mungkin karena jarak.

4 05 2007
Putirenobaiak

tulisanmu selalu dalam ya ndang…aku terharu membaca kelembutan hubungan hati ibu-anak…

4 05 2007
Hedi

kalo kemampuan menari, warisan bukan, mbakyu? 😀

4 05 2007
toga

cinta memang kerap melahirkan dilema, tp dengan cinta pula, dilema ngga ada apa-apanya.

salam @};- kenal.

5 05 2007
Yunita Panther

Aku satu-satunya anak perempuan dalam keluarga… mamakku selalu bilang “aku berdoa untukmu tiap hari”… dan aku yakin itu benar dan pasti tidak pernah absen. oh….. bagaimana denganku ?

5 05 2007
Innuendo

ibumu galak juga gak ? lol

kayaknya aku neh yg sering bohong ama nyokap. kalo ditanyak ; si anu udah bayar utangnya ? aku jawab udah. pdhl belom

5 05 2007
Larasati

hubungan ibu anak seperti tersambung benang2 halus yg gak pernah bisa putus

5 05 2007
Pawang Buaya

waduh opo tah mbak hadiahnya ?? yo wes buat aku ajalah hihihihi *ngacir*

5 05 2007
angin-berbisik

pintarnya mbak endang membaca maksud ibunya mbak…ajarin aku mbak… kadang hatiku penuh dengan negative thinking tentang ibuku….:(

5 05 2007
ken_yut azah

kata sodaraku yg laen aku mewarisi wajah ibu, duh seneng banget tho jeng…masih bisa ngomong dari hati ke hati sama ibu

5 05 2007
wieda

wah susah yah untuk menolak pemberian ibu? saya blom pernah nolak seh…dan rasanya saya selalu dekat dengan ibu saya setiap saya memakai pemberiannya…kadang hanya saya pandangi saja saya bisa “menyentuh” kasih sayangnya…..

5 05 2007
DenaDena

kek no aku ae kene

6 05 2007
Muhammad Mufti

Rasanya sulit mempertemukan sesuatu yang berbeda apalagi bertentangan dengan jalan pikiran kita. Kalau hanya sekedar dipikir2 tanpa ada keputusan, itu lebih rumit lagi. Namun walau bagaimanapun semua pasti ada jalan keluarnya.

7 05 2007
endangwithnadina

*hany, sabar ya Han…
*meiy, aku gak sengaja mbikin dalam lo…
*hedi, katanya itu warisan bapak kok malah…
*toga,setuju banget….makasih ya udah mampir n komen..
*yunita, iya…bagaimana dgn aku juga?
*dian, hiii…pembohong….
*larasati, iya mbak…
*mak buaya, nanti yah kalo bisa dilempar…
*tia, drpd prasangka,mending tanya aja jeng..
*ken_yut, ya sering tuh ibuku tlp…
*wieda, yg ini susah aku terima wied…
*dena, mbayar….heheheh
*mufti, iya..pasti ada jalan keluar..

8 05 2007
venus

aduh, ndang…aku kangen ibuku…:(

8 05 2007
mei

superwoman dalam hidupku=)

9 05 2007
elly.s

ibuku wanita sempurna tapi penuh emosi…
dia tertawa terbahak2 bila ceria, dia menangis tersedu bila terluka dia akan berteriak bila marah…bahkan dia sering mencubit bila kami nakal…
Sekarang aku bagai foto copy ibuku..Tapi aku berusaha tidak mencubit…
Tapi kalo teriak…aku memang jagonya…

9 05 2007
Iman Brotoseno

tidak ada yang salah bagi seorang ibu, seburuk apapun..fdiu

9 05 2007
NiLA Obsidian

nice posting jeng…as always….

paling susah emang berbeda pendapat sama ibu yg kita cintai…takut bgt nyakitin ya….

berharap suatu saat nanti kita sebagai seorg ibu juga dpt menjd ibu yg bijak ya…

11 05 2007
endangwithnadina

*venus, telpon aja mbak…
*mei, sudut pandang seorang anak ya…
*elly, wah….sama dong…
*iman, selalu ada alasan untuk ibu..
*nila, mudah2an selalu bisa jadi tempat anak2 pulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: