Anak Ibu Tanpa Syarat

12 05 2007

Memiliki anak pintar, itu idaman. Tapi tidak menjadikannya lebih istimewa. Karena untuk seorang Ibu, setiap orang anaknya memiliki keistimewaan sendiri. Kalau pun memang salah satunya atau semuanya menunjukkan prestasi yang menonjol, semuanya adalah bonus nikmat yang tiada tara.

Anak sulungku, memang termasuk dalam kelas percepatan belajar. Bangga sudah pasti, dan sekali lagi menjadi sebuah bonus dalam hidupku. Tapi, prestasi itu juga belum tentu selamanya ada, jika anakku sendiri tidak konsekuen menjalaninya. Untuk itu, prestasinya tidak membuatnya lebih istimewa dibandingkan sang adik. Hanya saja kebanggaan dan gengsi memang melekat disana, di mata orang yang memandang sulungku. Tidak terkecuali, yang namanya gengsi ini juga begitu mudah dikenali oleh kekasih kecilku yang bungsu. Maka tidak heran kalau dia juga ingin merasakan pendar cahaya kebanggaan jika bisa terjaring dalam kelas percepatan untuk tingkat sekolah dasarnya. Ini kemauannya yang asli tanpa paksaan, rekayasa, atau permohonan orangtua. Berulangkali aku menanyakan keinginannya dan berulangkali aku memberikan gambaran beratnya menjalani hari-hari dalam kelas percepatan, tidak membuat si bungsu Rayi mundur. Semangatnya tetap menggebu, dan tercetus dari mulutnya keinginan untuk seperti sang kakak.

Tidak ada hal lain yang perlu dilakukan sebagai orangtua, selain mendukung keinginan positifnya dan mempersiapkan mentalnya untuk apapun yang mungkin akan dihadapi. Kenyataannya, dia tidak seberuntung Ari kakaknya. Atau entah apa namanya, yang pasti melalui tes yang diikuti, si bungsuku tidak berhasil masuk dalam program percepatan belajar itu. Buatku, hasilnya tentu tidak perlu dirisaukan, karena kestabilan proses belajar anak usia itu memang perlu dicermati. Yang lebih menjadi perhatianku adalah mentalnya dalam menerima keputusan ini.

Memang benar….kekasih kecilku itu langsung terbenam dalam pangkuanku. Dia menangis, dia kecewa. Tanpa dia banyak bicara, aku tahu dia merasa kalah. Aku tahu dia merasa gagal membuktikan bahwa dia cukup pandai seperti kakaknya. Tapi dia tidak tahu hatiku. Hati seorang Ibu yang tidak bisa diukur dengan angka IQ mana pun. Dia tidak harus menjadi jenius untuk tetap menjadi anakku. Dia tidak perlu bintang apapun untuk membuatnya tetap bercahaya dimataku. Bahkan dia dan kesedihannya karena merasa tidak mampu membuat orangtuanya bangga, justru menjadikannya laksana intan yang takkan habis kilaunya. Karena dalam sedihnya itu, hatinya begitu murni untuk memberikan cintanya pada kami. Hati Ibu mana yang meminta syarat untuk cinta yang begitu besar diberikan buah hatinya kepadanya.

Belaian tanganku ini tak akan pernah letih untuk mengusap kepala kekasih kecilku, semuanya. Tapi Rayi, belajarlah berlaku sebagai seorang lelaki sejati. Seorang yang tidak menumpahkan tangisnya lebih dari satu helaan napas. Seorang yang tidak akan jatuh untuk setiap sandungan, tapi justru membuat sandungan itu sebagai tolakan untuk berlari lebih kencang. Dan seorang yang tidak pernah takut untuk kesulitan apapun dan menghadapi dengan senyum.

” Untuk kekasih kecilku Rayi….tetaplah tersenyum dan bergembira. Sebentar lagi akan tiba ulang tahunmu…Ibu sudah memesan kue yang kau minta itu, sayang…..sebanyak yang kau mau ! “

*untuk tante Yuli……terima kasih sebelumnya ya…*

Aksi

Information

15 responses

12 05 2007
Muhammad Mufti

Anak adalah harapan orangtua. Sudah sepantasnya kalau orangtua memberikan motivasi agar ia maju terus dan sukses. Btw, kapan ultahnya nih, mau dong kue ultahnya…

12 05 2007
Hedi

Wah berarti mas sulung berbakat jadi pembalap tuh 😀

12 05 2007
-FM-

waduhhhh, ibu satu ini bener2 ibu sejati dah. 😀

12 05 2007
angin-berbisik

setuju ama mbak FM 🙂
go mother go!!

12 05 2007
kenny

ajari aku menjadi seorang ibu yg baek jeng…

12 05 2007
DenaDena

wah emak jempolan tenan hehehe

13 05 2007
Larasati

kapan aku bisa keibuan kayak gini..:)

13 05 2007
joni

keren emang ibu satu ini.

bahagianya yg jadi anaknya. 😀

14 05 2007
Innuendo

kakaknya iki dapat beasiswa masuk university. iki, meski diiming2x hadiah mobil kalo berhasil dpt beasiswa juga kayak kakaknya, tetap aja cuwek. terpacu juga enggaq. rayi yg masih kecil aja bisa sedih ya…iki ?? hueeegg

14 05 2007
mei

cinta yang tanpa syarat….

14 05 2007
Putirenobaiak

terharu aku bacanya ndang. km emang Ibu yg tooop. Orangtua hanya bisa membimbing, anak adalah milik dirinya sendiri, dan titipan Allah tentunya…

14 05 2007
endangwithnadina

*mufti, hehehe, nanti pake DHL ya?
*hedi, iya ya….hihihih
*fm, maksudnya cewek ibunya? hahahah
*tia, semangaaat…hehehe
*kenny, lah…sampeyan kan jg keibuan bgt…
*de, asal jempolnya jgn cantengan yaa…
*larasati, pasti udah lbh tau deh dari aku si mbak e ini…
*joni, aku jg bahagia punya anak gitu om…
*innuendo, iki? waaah….no komen deeh…hahahhaha
*mei, ingat ya mei?
*meiy, tp aku galak juga sih meiy…

15 05 2007
NiLA Obsidian

kompetisi kakak beradik itu wajar….seorang ibu yg sdh pasti tidak membutuhkan apapun kecuali atas nama kasih sayang lah yg wajib mengarahkan….
kompetisi jangan sampai mengarah pada saling sirik yg menyebabkan perang saudara sepanjang masa…..

*rasanya banyak contoh ya jeng?*

20 05 2007
venus trenyuh

*ikut meluk rayi*

ngopi sama tante yuk, rayi? sama precil2nya tante, hehehe…

20 05 2007
endangwithnadina

*nila, yg penting ngajarin kasih sayang satu sama lain jeng…memang byk contoh..
*venus, ibune sing ngacung duluankalo ngopi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: