Privasi, Dewa Penyendiri ….

23 05 2007
Semakin aku dewasa, semakin sering aku mendengar orang mengucapkan kata privasi. Entah kenapa dalam sekali dua kesempatan mendengar kata ini mengudara, aku merasa itu hanya sebuah alasan untuk orang itu menyendiri. Setidaknya secara non fisik tak ingin disentuh. Bukan aku tidak memahami kebutuhan untuk menikmati sendiri urusannya, toh aku kadang juga memerlukan itu. Hanya saja ada juga yang menurutku orang itu sekedar melarikan diri dari masalah dan tidak ingin membicarakannya. Atau mungkin dia jenis orang yang tidak biasa berbagi, sehingga lebih baik memendamnya sendiri di balik kata itu. Banyak kemungkinan yang apapun itu, harus diterima dan dimengerti.

Sungguh tidak pantas jika aku atau kita semua kemudian merasa kesal dengan penolakan orang untuk berbagi dan memasang palang privasi. Karena setiap orang pasti memiliki kebutuhan ini. Dan tentu juga tidak pernah menjadi pikiranku karena memahami benar bagaimana menghormati keadaan itu. Lalu apa yang membuatku merenung sekarang? Ya…itu tadi, karena ada kalanya aku melihat bahwa penempatannya terlalu tinggi sehingga sulit untuk dipahami. Misalnya, bila itu terjadi dalam kaitan keluarga besar.

Mungkin budaya Timur atau tepatnya Indonesia, secara kasar bisa dilihat sebagai budaya yang “ingin tahu saja urusan orang” atau “ingin ikut campur segala urusan”. Negatif dan positif saja memandangnya. Tapi dalam keluarga besar disini, bukan itu saja masalahnya. Jika menyangkut sebuah urusan yang selayaknya–dalam kacamataku, sekali lagi–menjadi berita gembira untuk seluruh keluarga, tidakkah lebih baik dibicarakan, disebarkan atau apalah namanya, pada seluruh anggota keluarga? Dalam kacamata budaya Indonesia, jika ada yang berniat tidak mengabarkan kepada seluruh anggota keluarga tentang berita pernikahan sejak awal misalnya, justru akan menimbulkan perasaan lain di hati anggota keluarga yang lain. Sedih, tersinggung, atau mungkin merasa tidak dianggap sebagai orang terdekat. Terlebih di hati orang tua. Dan satu-satunya alasan saat ini untuk tidak meributkan soal perasaan tersinggung itu adalah kondisi dimana keluarga mencoba memahami soal privasi orang yang bersangkutan. Meski…..dahi ini sampai sangat berkerut dalam usaha pemahaman ini. Inilah kondisi yang sedang kurenungkan.

Pada dasarnya, aku dan keluarga besarku mencoba memahami. Berusaha keras memahami. Tapi ketika ada pertanyaan yang ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan, entah kenapa aku seperti melihat tingkah laku selebriti di infotainment yang selalu membantah, padahal sebenarnya apa yang ditanyakan itu benar adanya. Ini sebuah keluarga, bukan paparazzi dan bukan orang lain. Mengapa tak dijawab saja dengan bijak, jika bukti-bukti pun sudah di depan mata. Atau setidaknya yang kami ingnkan, janganlah sesepuh keluarga itu pun turut dibiarkan memendam rasa dan tidak terlibat dalam kebahagiaan itu sejak awal. Jangan biarkan keluarga besar menjadi sama posisinya seperti orang-orang di luar sana.

Oh….mungkin kami memang kurang bijaksana. Menginginkan yang lebih dari porsi kami. Mungkin cinta kami terlalu merepotkan baginya. Tentu, …kami akan terus mencoba mengerti meski dia begitu berbeda dengan kami. Tapi kami tak akan kehilangan cinta kami padanya dan sungguh berharap dia bisa merasakan dan mencoba memahami rasa ini. Dan sebagai bukti rasa itu, apa pun porsi yang diberikan pada kami, akan kami terima dan lahap dengan sukacita, demi melihat senyum dan tawa di bibir dan hatimu….. Selamat Berbahagia, untukmu….


Aksi

Information

17 responses

23 05 2007
fitri mohan

mungkin dia punya pertimbangan yang hanya bisa dirasakan olehnya sendiri dan susah dimengerti orang lain. ada sih memang orang2 tipe kayak gini.

tapi, sayang sekali sih sebetulnya, apalagi katanya kabar bahagia ya. harusnya sih dibagi2 biar kebahagiaannya nular dan nyebar.

23 05 2007
TaTa

susah juga sih klo orang udah mengatas namakan “privasi” untuk melindungi dirinya sendiri… harusnya sih bisa lebih bijaksana untuk berbagi suatu cerita meski gk detail..blom lagi klo kita di kelilingi oleh keluarga besar yang terkadang ingin dilibatkan “lebih” ketika ada suatu masalah, harus lebih “tepo seliro” lagi tuh …

23 05 2007
Innuendo

napa loe, nek ? gak diundang ? hihihi…mungkin cuma ingin dinikmati berdua.

24 05 2007
hery

Mungkin sungkan atau takut mengganggu untuk mengabari jd diem2 aja hehehe

24 05 2007
DenaDena

manganmu akeh paling, magkane gak diundang hehehehe… wes ra sah nangis…

24 05 2007
JaF

ehm… jawaban Denadena kayaknya udah mewakili hehehehehehehehehe

Wis lah Ndang, tiap orang kan beda-beda. Mungkin itu cara hidupnya.. kalau cara dia dihargai, mungkin dia akan lebih menghargai kita… *guelagisoktuadotcom*

24 05 2007
venus

jarkan saja lah. mungkin dia lebih nyaman begitu, hehehe…

24 05 2007
endangwithnadina

* utk teman:
terimakasih semua dukungannya. Yg pasti, cintaku dan seluruh keluarga tetap ada dan akan terus ada utk mereka, akan tetap berdiri di samping mereka utk apapun yg dibutuhkan…

25 05 2007
joni

memang sifat orang beda2 jeng, ada yang tertutup ada yang lebih terbuka,

jadi, easy going aja menghadapi semuanya jeng. 😀

25 05 2007
Putirenobaiak

dlm budaya kita emang sulit mengerti privasi kalau mengenai hal yg melibatkan orang lain, eh ribet bgt sih 🙂

bagiku yg bersifat privacy hanyalah hal2 yg sgt pribadi atau hal2 yg aku ingin, hanya aku dan Tuhan yg tahu

25 05 2007
Larasati

emang yg gitu terkadang mengusik hati juga, kadang kita menganggap kawan baik ealah tenyata berita baikpun malas tuk berbagi. Rasane nggak dianggep…. pasti aja tersinggung.

26 05 2007
Muhammad Mufti

Privacy? rasanya hanya yang bersangkutan yang berhak untuk melibatkan orang lain menyangkut privacy dirinya itu.

26 05 2007
angin-berbisik

mbak, kita hargai aja deh privasi dia..walau dalam hati mungkin ada rasa kejengkelan,….tapi ya dido’akan saja 🙂

27 05 2007
kenny

sebetulnya tanpa disadari kita sendiripun pernah melakukan hal yg sama dgn alasan privacy (pengalaman pribadi 😀 )

28 05 2007
wieda

yah sebaiknya saling menghargai saja, jadi kan enteng…

31 05 2007
mei

lho…lho..sek to, ini tentang apa to??privacy atau kabar gembira???

19 10 2011
Moeyaung Bockss

privasi.. saling percaya dan saling meyakini… berbagi dan bersama.. itu yg dinamakn privasii dalm bersosialisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: