Menikmati Puasa

25 09 2007

Lokasi: Pasar Ramadhan,
Bendungan Hilir
Waktu : Saat rindu sensasi Ramadhan

Kerinduan yang kurasakan, mungkin menjadi kerinduan semua orang. Kerinduan dalam banyak dimensinya dan kerinduan pada banyak hal. Kerinduan yang tak dapat digapai karena hanya sebuah kenangan, atau kerinduan karena keinginan yang masih bisa dikejar. Tidak…..aku tidak berbicara tentang perasaan rindu mendalam yang lebih bersifat spiritual. Rindu semacam itu hanya bisa kuungkapkan di malam-malam dingin dan sepi menggigit nadi. Sedangkan aku kini hanya ingin mencari tawa. Dari angin yang cuma tipis dan mungkin juga tidak menyegarkan, tapi bisa membuat banyak orang merelakan diri untuk menjerumuskan diri ke dalamnya. Seperti angin sebuah pasar.

Aku bukan temanku, yang berkawan dengan segala tanah becek tak menggairahkan dari kelaziman definisi pasar. Memang, mungkin ada yang salah kumengerti dari ajaran ibuku tentang arti kata bersih. Terlalu ekstrem menjadi rasa jijik yang seharusnya mampu ditanggulangi seorang Ibu sepertiku. Biarlah, selama aku mampu menempuh cara lain untuk selalu menghindari yang kubenci itu. Apalagi jika sebenarnya disana, pasar itu, mampu memberikan kesenangan lain bagiku. Di sisi lain wajahnya untuk kutatap. Seperti wajahnya di bulan ini yang hanya datang setahun sekali.

Bertahun lalu, aku datang pada kembarannya di seberang lautan. Di pasar Mandonga, Kendari. Ah, sedikit bergeser mungkin, di muka sebuah masjid besar yang aku lupa namanya. Dengan tenda besar dan meja-meja ala bazar, menyajikan aneka warna, rupa dan rasa hidangan. Untuk orang-orang yang tak terlalu banyak makan seperti kami, ketertarikan memang lebih banyak pada tatapan mata. Lidah hanya mencecap sedikit. Selebihnya sensasi hanya pada sebuah momen . Gambarannya mulai kabur di kepalaku, dan membuatku ingin kembali mencari. Maka kudatangi lagi apa yang kurindu itu di Pasar Bendungan Hilir.

Tentu saja, Jakarta jauh lebih sesak dari Kendari. Dan anginnya di Pasar itu lebih tipis untuk singgah di sekeliling kulit dan hidung. Tapi gairahnya jauh lebih besar dan mengasyikkan. Apa yang cuma sering kusaksikan di berita ringan layar kaca, bisa kusentuh. Desakan bahu, injakan kaki dan berpuluh kata maaf saling susul tak henti. Belum lagi lengan mengempit dan membuka dompet yang kesekian kali tak juga membuat jera selain hanya tawa. Bubur kampiun, pastel, ongol-ongol, tempe mendoan, dan teman-temannya. Lemang Medan yang menggiurkan tapi meragukan untuk mampu disantap hingga ku masih menjadikannya sebuah sasaran tembak di masa depan. Dan hidangan ala India yang mulai merajai lidah Jakarta, roti canai kari kambing juga kebab. Oh……berapa sentimeter persegi luas lambung yang dibutuhkan untuk semua itu?

Cuma butuh satu akal sehat untuk mengalahkan ganasnya tatapan mata yang mampu ditampung sebuah lambung pada keindahan Pasar Ramadhan. Dan kesadaran waktu yang mendekat pada saat berbuka. Tetap saja akal sehatku hanya menang tipis. Karena ibuku toh sudah berjanji memanjakan lidah dengan lontong balapnya yang nikmat. Satu, dua, tiga…….berapa yang mampu kutanggung? Setengah ongol-ongol, sepotong mendoan, seseruput es campur dan setengah mangkok balap tanpa lontong. Jauh lebih banyak dari biasa dan mampu memenuhi perut hingga esok harinya, dialasi segelas susu saat sahur.

Manusia memang rakus. Seperti aku. Dan jelas tidak memenuhi sunnah Rasul untuk berhenti makan sebelum kenyang. Tapi mungkin ada pemakluman. Karena aku merindukan hiburan cantik macam itu. Sekadar untuk menambah pengalaman hidup dan nikmatnya bersyukur memiliki mata dan lidah yang berfungsi baik.

Iklan

Aksi

Information

20 responses

25 09 2007
Innuendo

nek, itu pics pasarnya ? aduh, bisa muntaber perutku yg gak kuat ini. *sambil ngitung berapa kali muntaber saat beli jajan di pinggir jalan berdebu

25 09 2007
TaTa

huaaaa klo udah ke pasar ramadhan..langsung lapar mata semua mau dibeli….

25 09 2007
kenny

aku klo ramadhan malah neg mau beli kue soale terlalu banyak pilihan mupeng jadinya 😀

25 09 2007
mata

weh… jadi ingat… bentar lagi kiriman parsel pasti bejibun. AHAHAHAAHAHA

itu juga salah satu berkah puasa ya jeung… 🙂 nikmatnyaaa

26 09 2007
DenaDena

fotone kok gak marai aku ngiler..

26 09 2007
danudoank

sesekali, barangkali, masih dalam batas toleransi alias wajar. tapi kalo tiap hari bisa2 dibilang kurang ajar, ops.:d

26 09 2007
Muhammad Mufti

Isi perut tak segedhe nafsu mbak. Maunya sih apa aja dimakan, masuk perut. Tapi ya itu tadi, baru sedikit aja dah berasa penuh. Kalo dipaksain juga bisa berabe nih…

26 09 2007
venus

halah ngeles. bilang aja laper, bwahahahakahakh….

26 09 2007
-Fitri Mohan-

gue kangen banget sama pasar benhil. hiks. apalagi tahu berontaknya yang deket salon dan tempat fitness larissa. duhhh, ngiler gue…

26 09 2007
Endang

*dian, itu gue ambil dr samping aja,…emang sih kalo gaktahan ya gak bisa…
*tata, seru Ta dempet2annya…
*kenny, aku kan jarang bgt …ini aja yg pertama kali kudatangi di Jkt
*mata, selamat menikmati parsel ya Ta..
*dena, aku kan gak bermaksud mbikin ngiler…..
*danu, bener tuh pak…hehehehe
*mufti, ho oh mas….itu aja aku beli gak terlalu banyak dan buat rame2…
*venus, huss ! menjatuhkan wibawaku aja sampeyan…hahahah
*fitri, gue baru sekali ini ke pasar ramadhan fit…yg sekali dulu di Kendari..

26 09 2007
angin-berbisik

mbak, titip lemang dong, boleh nggak? heheh di semarang gak ada yg jual lemang,…payah kali pasar ramadhan di semarang

26 09 2007
Mama Rafi

selama ramadhan ini aku malah ga pernah ke pasar 🙂

26 09 2007
amethys

jadi ingat sargede di kotagede Yogya…klo ramadhan jajanannya mbludak…dan mataku lebih besar dibandingin ama perutku….he he he..kangennnnnnnnnn

26 09 2007
isnuansa_maharani

enak kali ya Mbak, balap tanpa lontong 😛

26 09 2007
evi

pasar benhil memang seru klo ramadhan…tp drpd berdesak-desakkan aku pilih beli yg di dalam pasar aja, sama kok.

btw, tempe mendoan yg jualan dipojok msh ada ga…?
belum sempat mapir benhil nih… macetnya, ampun!!

26 09 2007
Endang

*tia, waah…aku juga blm pernah nyoba tuh, abis gede banget…kapan2 deh ya..
*mama rafi, hehehe…aku malah gak pernah terus…
*wieda, emang klo psr ramadhan ngangeni ya wied…
*isnuansa, pernah makan gak jeng? iya, aku cuma makan sayur sama daging aja tuh..
*evi, wah…aku kemarin beli mendoan tp gak tau tempatnya, suami yg beli ke ujung…

27 09 2007
aLe

wah, porsi segitu bisa2 aLe tambah naek berapa kilo neh 😀
boro2 segelas susu., huhu., nasi sesuap aja jarang dilakukan 😛
nasib., anak kost ^^b

27 09 2007
Ely Meyer

lontong balap ki koyo opo yo rupane? ^_^

27 09 2007
Putirenobaiak

lo ko aku jadi ngiler ndang..

iya pasar ramadhan kdg2 membuat kita lupa, masih ada yg nggak sanggup beli dan makan seadanya..

28 09 2007
Endang

*ale, itu cuma selingan dalam sebulan ini Le…
*ely, itu masakan jawa timur, isinya sayur sawi putih, daging sama lontong, pake kuah ama sambel petis.
*meiy, kan bisa dikasih atau diajak makan juga meiy…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: