Amat Dalam

29 09 2007
Sang Dewi memilih tempatnya sendiri, menyepi. Meski tak sedang berangin, tak mengapa baginya. Karena hatinya begitu penuh, karena sebuah cinta. Nikmat, terlalu nikmat rasanya, hingga menjadi begitu menyayat. Aneh, tapi amat sangat nyatanya. Karena pekat darah yang mengalir dari sayatan itu terasa manis. Dan dia cecap berulang kali.

Dia mengingat perjalanan cintanya, entah mengapa. Orang bilang unik, aneh, kadang lucu hingga tak mampu dipahami oleh mereka diluar. Satu yang begitu melekat dalam benak adalah ketika begitu sulitnya ayah ibunya menerima kenyataan kemana cintanya dia lekatkan. Banyak alasan dia dengar, tapi tak satupun yang mampu dia mengerti. Karena nafasnya telah meninggalkan catatan bahwa cinta tak pernah mudah. Tapi cinta sungguh maha luas untuk menerima semua beban, meski bukan satu-satunya. Dan itu membuatnya kuat hati menjalani segala dusta pada orang tuanya.

Cintanya terlalu tua untuknya, begitu dalam kacamata semua orang. Tapi tidak untuk sang Dewi sendiri. Caci, olok dan cemooh menjadi bagian dari udaranya. Tapi Dewi begitu yakin dengan hatinya, dibawa oleh suara nuraninya yang begitu terletak dalam. Datang dan pergi wajah muda dalam hari-harinya, sangat bisa dia nikmati. Bukan sekali dua dia mencari pengganti demi menyenangkan hati tua ibunya. Kesemuanya dia lihat secara fisik. Sampai akhirnya dia sadari apa yang dia cari secara fisik itu, juga mencari sosok yang dia cintai. Hanya secara fisik tapi semua adalah cermin wajah cintanya. Lalu bagaimana dia mampu berpaling pada lelaki lain. Jeratnya kuat mengikat hati.

Sepanjang hidupnya kemudian, yang Dewi lakukan adalah menyimak dan belajar. Lelakinya tak banyak memiliki huruf untuk diucapkan kepadanya. Tapi Dewi merasakan dengan hatinya. Dewi mencari cermin lagi untuk tahu bagaimana bicara benar sebagai perempuan. Dimana batas yang tak bisa dilampaui perempuan agar tak menyinggung kelelakian lelakinya. Dia mencari dengan keperempuanannya titik apa yang begitu menyentuh hati lelaki.

Semakin dia mencinta, semakin resah hatinya. Rasanya tak cukup apa yang dia miliki untuk diberikan. Dan begitu takutnya dia kehilangan dan tak punya lagi kesempatan untuk memberi. Ini yang menyayat. Dan sangat perih. Kata orang, jangan berikan hati perempuanmu terlalu banyak pada lelaki agar tidak hancur satu ketika. Tapi Dewi lebih senang menghadapi resiko hancur daripada membawa hati yang cuma sepotong. Dengan begitu dia merasa punya bakti. Jika ditanya apakah lelaki itu membawa cinta yang sama besarnya untuk Dewi, tak mungkin dia mampu jawab sendiri. Karena Dewi tak begitu menyimak tentang itu, tak peduli. Dan jika satu ketika itu datang, Dewi hanya ingin mengganti kulit hatinya yang tipis, dengan kepenuhan yang sama, dengan cinta yang pernah dia punya. Meski besar hati itu sudah menyusut untuk lelaki terdahulu.

Satu hal yang pasti, mengenang indahnya cinta, tak harus pada malam yang khusus……….

Iklan

Aksi

Information

18 responses

29 09 2007
Innuendo

fisik indah, cinta yg besar, uenak kali ye…tapi nobody’s perfect.

lagi mengenang cinta juga…tapi cinta yg laen hikhik

29 09 2007
venus

iya bener, sesuai sama judulnya, “amat dalam”.
dalem banget sampe ngos2an, huehehe…

ayo dooong sekali2 nulis yg lucu2, hiburlah para pembacamu ini. eh tapi yang lucu2 mah jatah gw yak 😀

ndang, bukber di ‘gerbang nusantara’, jalan alternatif cibubur hari ini. can you make it?

29 09 2007
aLe

selalu dalam dan dalam sekali
dan kedalaman cinta adalah terletak pada permata hati
*halah*

29 09 2007
Iman Brotoseno

dalem niy…but love wwill find a way, eventtually

29 09 2007
-Fitri Mohan-

kedalaman cinta memang rasanya indah. apalagi kalau berteman kesadaran akan sejarah (baik psikis maupun karakter) masing-masing pelaku cinta yang amat dalam ini.

30 09 2007
TaTa

lagi jatuh cintah ??? lagi?? sama sapa ?? pak uban ?? itu mah keharusan klo gk mo di bawa ke pak hakim dan pak jaksa *dangdut mode:on*

30 09 2007
DenaDena

idem venus, nulise ojo sing melo2 terus poo ndang. ben mrene aku mesti sendu hiks..

30 09 2007
ichal

makin dalem,, makin mateng!!!
makin bijak, makin dewasa!!!
semoga

1 10 2007
NiLA Obsidian

huehehehe…..dah lama ga soan…..eh bener2 ikutan ngosngosan kayak mboke V…..

jeng…semakin hari makin dalem aja kayaknya neh…(apa krn lagi puasa bu?)

mizz u

1 10 2007
venus

@ dena & nila: gw bukan sendu, tapi gak ngerti point-nya apa :))

jeng bauer, si Dewi yang di postingan yg ini teh Dewi yang mana? *sumpah bingung!*

1 10 2007
Innuendo

jeng venus, dewi itu kali….uum dewa dewi hikhik

atau lagunya titi dj ?

ngacir ah

1 10 2007
Endang

to all: mungkin memang tidak harus dimengerti, jika memang yg terbaik hanya bisa membaca, alhamdulillah jika menikmati. Karena jika dalam kepala dan hati seseorang begitu riuh dan berisiknya, saat itu yg dibutuhkan hanyalah menulis apa yg dirasakan. utk dena….maaf, bukan bermaksud sombong atau berkeras, tp saya menulis apa yg menjadi perhatian saya dengan gaya saya…tidak terima pesanan…heheheheh

1 10 2007
Mama Rafi

emang ga perlu mlm2 khusus ya mbak. tiap hari psti akan selalu ada kenangan2 yg indah 🙂

1 10 2007
angin-berbisik

hehehe dalam banget mbak tulisannya..aku sedemikian menghayati kata per kata yg kau tuangkan…hmmm sebegitu besarnya bakti seorang dewi ya kepada sang pencuri hati 😛

1 10 2007
Putirenobaiak

mengenang cinta nih yee…

emang amat dalam endang, merasakan kedalamannya, kadang tak bisa dg kata2…

1 10 2007
danudoank

cinta memang untuk dimiliki sendiri sama yang punya cinta. orang lain cuma bisa melihat dan berkomentar segala macem. mungkin spt melihat wanitanya cantik bgt eh cowonya gitu2 aja. atau sebaliknya. tak ada yg bisa mengartikan cinta selain yang mempunyai cinta itu. halah, sok tahu sekali sayah ini.

2 10 2007
mei

yupza…aku juga bacanya juga sampe ngos-ngosan mbak..tapi indah…

untuk part yang berikan hati sepenuhnya…aku gak berani, gak berani dengan resikonya..=)

2 10 2007
Ely Meyer

dewi murni? ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: